Ejaan berada pada tingkat terendah dalam keterampilan berbahasa. Jadi, segera kuasai ejaan agar bisa naik kelas.

Begitu kata Ivan Lanin.
Ada yang belum tahu Ivan Lanin?
Silakan googling, atau follow aja Twitternya di @ivanlanin.

Ejaan dalam bahasa Indonesia memang merupakan hal yang paling mendasar dan harus kamu pelajari kalau kamu mau menjadi penulis. Penulis apa pun; panduan, fiksi, nonfiksi, artikel panjang pendek.

Ibaratnya, ejaan itu semacam undang-undang dasar.

Yang kemudian memengaruhi teknik penulisan berikutnya.

Wuih. Semoga analoginya bener. Wkwkwkwk.

Tapi, sayangnya, banyak yang menyepelekan. Tanda titik, koma, hubung, huruf kapital, ini itu, banyak yang ketuker-tuker. Padahal ini bisa banget memengaruhi isi pesan yang akan disampaikan oleh penulis.

Saya sendiri, mungkin pernah ada yang notice, pernah bilang atau menulis, kalau konten itu nggak sekadar tanda baca dan ejaan yang benar. Tapi lebih dari itu.

Saya bukannya mengentengkan peran ejaan. Bukan.

Maksud saya dengan pernyataan tersebut adalah karena saya kira para penulis ini ide saja masih kurang digali. Pun kalau sudah ada ide bagus, ternyata eksekusinya nggemesin banget. Nggemesin dalam arti yang kurang oke ya :P

Kalau ide dan pesan yang akan disampaikan saja nggak jelas, gimana mau mikirin ejaan?
Yang ada makin puyeng.

Makanya di Rocking Mama Writing Lab, saya juga masih belum intens ngingetin tanda baca dan ejaan. Tapi, di Monday Flashfiction, saya selalu bawel soal ejaan ini :))))

Tapi para penulis Rocking Mama tampaknya sudah ada yang makin matang dalam mengeksekusi ide menulis, sehingga ada beberapa yang mulai saya push untuk belajar Ejaan Bahasa Indonesia yang benar.

Caranya gimana?
Ya, saya minta download Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (dulu disebut EYD, Ejaan yang Disempurnakan) versi PDF. Kamu juga bisa download kalau pengin belajar, yes?

Selain itu, juga saya bantu dengan kasih lihat tweet-tweetnya Ivan Lanin yang di Twitter, yang juga mau saya lampirkan juga di sini. Karena mau saya simpen sendiri kok ya sayang. Siapa tahu ada yang pengin naik kelas.

Tenang. Saya pun juga masih suka salah memperlakukan para tanda baca, kata baku dan sebagainya ini. Saya juga mau naik kelas.

Jadi, siapa pun yang mau ikutan belajar, yuk yuk, belajar bareng!













Saya sudah cek ke PUEBI versi PDF, semua tanda baca sudah dibuat summary-nya seperti di atas.
Itu belum huruf kapital, huruf tebal, kata berimbuhan dan seterusnya ya.

Yassssshhh. PR-nya masih banyak buat kamu yang mau belajar menulis dengan benar.
Masih bilang, nulis itu pekerjaan gampang?
Dan, please deh, jangan bilang, toh ada editor!
Tabok nih!



Untuk melengkapi, ada juga 4 buku penyuluhan bahasa Indonesia versi PDF seperti di atas yang bisa kamu unduh secara bebas.

Yuk, manfaatin yah, yang gratis-gratis ini!
Mau naik kelas kan?

So, sepertinya saya mau menambah satu kategori lagi dalam blog ini, untuk mengumpulkan catatan-catatan saya belajar keterampilan berbahasa yang benar. Soalnya, saya lihat, makin ke sini catatan belajar saya soal teknik berbahasa ini kok juga makin banyak ya. :-/

Oke, itu aja dulu.
Sampai ketemu lagi di pembahasan soal keterampilan berbahasa berikutnya ya.


Well, kali ini saya mau bahas soal penerbitan buku ah. Sekali-sekali boleh ya, sekadar berbagi juga hal yang saya tahu dari kerjaan saya sehari-hari. Barangkali juga, ada yang sekarang lagi mau nerbitin buku secara indie :)

Saya sudah menulis 25 buku.
4 buku di antaranya adalah buku yang memuat ilustrasi saya di dalamnya. 15 buku di antaranya adalah buku antologi. Dan, 18 dari 25 buku tersebut adalah buku indie, terbit secara mandiri.

Dengan jumlah yang segitu, plus sekarang kantor penerbitan tempat saya kerja juga ikut merambah dunia buku indie, maka saya anggap, saya lumayan cukup tahu soal penerbitan indie. Well, masih belum seberapa memang. But I'm on process.

Beberapa kali saya menjumpai masalah soal penerbitan indie, terutama yang melibatkan para penulis baru yang mimpi-mimpinya masih begitu tinggi dan liar, dengan harapan yang begitu membuncah plus imajinasi yang kelewat mewah.

Well, saya dulu juga begitu, saat memulainya.
Saya punya angan menjadi penulis super hebat seperti Ika Natassa, Dee Lestari atau siapa pun yang pernah mulai usahanya dari menulis buku dan menerbitkannya secara indie dan kini meraih kesuksesan yang luar biasa.

Ditambah dengan bacaan-bacaan artikel pemotivasi penulis indie, terutama dari media online luar negeri, yang mencekoki saya dan memberi gambaran, betapa menulis indie itu adalah 'pekerjaan yang wah!'.

Namun, seiring waktu, saya pun belajar. Bahwa ada realita di depan mata yang nggak seindah angan.
Nggak, saya bukannya mau mematahkan semangat para penulis buku indie yang sedang berusaha meraih mimpi. Tapi, saya sekadar menyajikan beberapa fakta yang harus kamu hadapi, yang pengin sukses sebagai penulis melalui jalur indie.

Coba baca juga artikel saya soal beda penerbitan mayor dan penerbitan indie ini ya, sebelum kamu lanjut.

Beberapa fakta mengenai penerbitan indie yang harus kamu tahu



Tidak salah memang kalau kita punya mimpi. Tapi bagaimanapun, kita mesti realistis, dan jangan berharap terlalu tinggi. Karena kalau harapannya terlalu tinggi, you would hurt yourself.

1. Tanyakan motivasimu sendiri


Saya pernah terlalu pengin punya buku sendiri. Hingga kemudian, dengan cepat saya berusaha menyelesaikannya. Kebetulan buku pertama saya itu adalah kumpulan flashfiction, yang saya anggap cerita-cerita di dalamnya sudah super banget (waktu itu). Pokoknya keren abis, pikir saya.

Sekarang?
Saya rada malu bacanya :)))) *tutup muka*
Ya ampun. Kayak gini loh, saking penginnya saya punya buku! Hingga saya melupakan banyak hal. Saya waktu itu sadar, bahwa flashfiction memang kurang laku diterbitkan oleh penerbit mayor, maka saya pun beralih ke indie.

So, buat para penulis newbie.
Apa motivasimu pengin menerbitkan buku secara indie?
Pengin punya buku? Iyalah, itu pasti alasan utamanya. Tapi, please, jangan tergesa-gesa. Jangan hanya karena 'pengin buru-buru punya buku'.

Sungguh, kamu bisa menyesal nanti.


2. Target pasar harus kamu kuasai


Kalau penerbit mayor, biasanya mereka sudah punya pasar sendiri. Apalagi yang sudah bertahun-tahun berdiri. Mereka sudah berjuang keras untuk membangun massanya.

Bagaimana dengan kamu?
Berapa banyak temanmu?
Berapa banyak followermu?
Berapa banyak komunitas yang kamu ikuti?
Berapa banyak pembaca blogmu (kalau kamu punya blog)?
Berapa luas pergaulanmu?

Karena, target pasar penulis indie merely terbatas pada teman-temanmu sendiri, saudaramu, keluargamu. Circle-mu.

Itu saja, kamu mesti sadar juga. Bahwa nggak semua temanmu akan membeli bukumu.
Kadang, saat kamu sedang promosi bukumu, mereka akan kasih tanggapan luar biasa. Mereka kasih jempol, likes, dan komen dengan antusias.

"Keren, gan!"
"Super!"
"Hebat! Selamat ya!"

Tapi, apakah mereka akan membeli?
Belum tentu.
Bisa saja mereka malah minta gratis.

Pahit ya? Iya.

Bisa jadi mereka hanya sekadar menyemangatimu, memberikan pujian, atau basa-basi. Tapi, buat beli bukumu, ya itu tergantung isi dompet mereka atau kebutuhan mereka.

Nggak ada yang bisa tahu kan?

So far, saya sudah mengamati. Buku yang dikerjakan keroyokan memang punya peluang laku lebih banyak, karena semua penulis yang terlibat akan jadi marketing. Dan karena circle-nya bisa berbeda-beda, itu berarti bisa sedikit mendongkrak penjualan.

Penjualan novel kolab saya sama Orin jauh lebih baik ketimbang penjualan buku kumpulan flashfiction saya, Penyihir-Penyihir di Manik Mataku. Jelas. Orin kan punya circle sendiri, saya juga punya circle sendiri. Meski kadang ya teman Orin teman saya juga. Tapi yang kenalan sendiri-sendiri lebih banyak. Sehingga kami bisa berbagi deh.

Lalu, apakah nggak mungkin ada pembeli buku dari luar circle penulis?
Ya, ada. Tapi berapa persen, saya nggak bisa memastikan. Buku mayor tertolong karena kan masuk ke jaringan toko buku, baik offline or online, pun dijual dalam versi ebook. Buku indie? Mostly nggak beredar di toko buku, offline maupun online. Yang jualan ya penulisnya sendiri. Dan, penerbitnya, kalau memang penerbitnya menyediakan marketing. Ada juga yang enggak.

Tapi, bukankah penerbit akan membantu promosi?
Iya dong. Itu juga kewajiban mereka. Ikut mempromosikan bukumu. Ya jelas! Kalau bukumu banyak yang beli, mereka juga seneng kok. Beneran. Yakinlah, mereka berusaha semaksimal mungkin. Tapi, sebenarnya, marketing buku indie bisa dibilang sebagian besar tergantung pada si penulis. Dari semua pembeli bukumu, bisa dibilang pembeli yang didapatkan oleh penerbit itu hanya sekitar 10%-nya.

3. Butuh modal


Jika di penerbitan mayor, kamu tinggal menunggu DP royalti dan royaltinya sendiri setelah akan atau selesai diterbitkan, maka di penerbitan indie, kamu mesti punya modal dulu.

Ada beberapa penerbit indie yang memang mensyaratkan jumlah tertentu, tapi kayak nulisbuku.com kamu hanya perlu membeli proof cetak aja untuk meng-go live-kan bukumu di website mereka.
Berapa harga proof cetaknya?
Sesuai dengan harga buku yang bisa kamu tentukan sendiri.

Di Stiletto Indie Book, misalnya, ada paket-paket dengan harga tertentu yang ditawarkan, yang bisa dipilih sesuai bujet kita. Di dalamnya ada berbagai fasilitas, seperti sudah termasuk jasa proofreading juga ada bukti terbit.

Yang mana yang lebih bagus?
Ya, masing-masing ada plus minusnya. Sesuaikan saja dengan kebutuhanmu.

Di nulisbuku, misalnya, memang kamu hanya perlu 'membeli' proof cetak saja. Tapi mereka juga menyediakan jasa penyediaan ISBN, juga ada biaya marketing yang bisa kamu minta dengan tambahan biaya.

Di penerbit indie yang lain, mungkin kamu harus membayar lebih mahal, tapi misalnya, sudah termasuk ISBN, promosi, bukti terbit, juga beberapa hal lainnya.

Jadi, memang kamu mesti mempertimbangkan baik-baik, mau diterbitkan di mana bukumu itu.


Image via Xterra Web


4. Baca Term & Condition atau MoU dengan saksama


Inilah yang selalu menjadi kesalahan kita. Malas baca.
Ya gitu deh. Pengin jadi penulis sukses, tapi enggan membaca. So typical hm?

Padahal Term & Condition atau MoU itu penting. Di situ akan ada berbagai aturan penerbit yang harus kamu pahami dan patuhi.

Kok harus dipatuhi penulis?
Ya iyalah, that's how it works.

Setiap penerbit kan punya aturan sendiri-sendiri. Meski kita penulis adalah customer, ya kita wajiblah mengikuti peraturan dan memahami kondisi penerbit. Kalau nggak cocok gimana? Ya, nggak papa. Bisa nego kok, atau kalau mentok ya, pindah penerbit aja :)))

Ya, kalau ada beberapa dalam poin di Term & Condition atau MoU itu dirasakan merugikanmu, kamu bisa kok menanyakannya pada pihak penerbit. Tanyakan dengan baik-baik, lalu ceritakan kondisimu dengan sebenar-benarnya.

Ingat ya, semua bisa kok dibicarakan baik-baik. Nggak perlu nyolot, apalagi pakai saling mengancam. Nay nay nay.

Membaca Term & Condition atau MoU dengan saksama ini penting, agar kita tahu lebih jelas di awal. Akan lebih baik memperjelas semuanya di awal, ketimbang ngomel belakangan.

Perhatikan beberapa hal yang seharusnya ada dalam Term & Condition atau MoU:
  • Perhitungan royalti
  • Berapa lama proses penerbitan
  • Apa saja fasilitas yang kamu dapatkan
  • Bagaimana sistem pelaporan penjualannya
  • Bagaiman prosedur pembelian
 Pokoknya, perhatikan dengan saksama dan segera tanyakan jika ada yang tidak kamu mengerti.


5. Perhatikan desain bukumu


So, saya mau sedikit cerita pengalaman saya sebagai seorang pembaca dan penimbun buku.

Tahu kan, kalau di bagian belakang buku itu ada sinopsis, atau yang sering disebut blurb? Saat saya datang ke toko buku, atau lihat-lihat buku di toko online, atau lagi mantengin promosi buku di media sosial penerbit, sering banget saya menemui blurb yang nggak bisa menggambarkan isi buku dengan baik.

Blurb hanya diisi dengan kalimat-kalimat indah, penggalan atau kutipan buku, atau endorsement yang kurang menggambarkan isi buku secara jelas.

Bagaimana orang bisa tertarik membeli kalau nggak bisa membayangkan bukunya seperti apa.

Juga perhatikan desain covernya juga. Really. Ini sangat penting. Jika kamu nggak bisa menceritakan 'isi' bukumu melalui blurb, maka kamu bisa melakukannya melalui cover.

Saya akui, bikin blurb itu susah. Banget. Saya sendiri juga melakukan kesalahan yang sama sebenernya. Menulis blurb yang kurang representatif.

So, saya sarankan, jangan sampai kamu melakukan kesalahan yang sama.


6. Royalti


Tentang royalti ini cukup sensitif ya, soalnya ini masalah uang. Uang memang selalu jadi hal paling bikin riweuh deh di mana-mana.

Jadi, tanyakan sejelas-jelasnya di awal mengenai royalti ini.

Berapa persen yang kamu dapatkan?
Berapa harga bukumu?
Kapan royalti akan diberikan, dan bagaimana prosedurnya?

Itu adalah 3 pertanyaan yang harus bisa terjawab terkait royalti buku. Pahami penjelasan dari penerbit ya. Tanyakan dan konfirmasikan ulang, jika kamu nggak ngerti.

Mendingan dilabeli penulis banyak nanya ketimbang kita nggak jelas deh. Pihak penerbit pasti mau kok menjelaskan dengan sabar dan sampai kita benar-benar puas dengan penjelasan mereka.



Yang penting, jangan sungkan untuk bertanya dan mengomunikasikan apa maumu pada penerbit.

Kadang komunikasi ini memang susah sih. Namanya juga berurusan sama banyak pihak ya. Jangankan penulis sama penerbit. Suami istri loh, kadang ya nggak nyambung. *curhat, Mak?*

So, sebelum kamu terjebak euforia karena bisa menerbitkan bukumu sendiri, sebaiknya kamu memang harus paham dan tahu dulu faktanya.

And, just remember, di balik admin kontak penerbit indie, itu adalah orang-orang biasa yang suka bikin salah juga. Sampai di batas tertentu, kamu harus memakluminya.

Semoga nggak menyurutkan semangatmu dalam menulis dan menerbitkan bukumu sendiri ya. Tulisan ini bukan ditulis dalam kapasitas saya sebagai karyawan di sebuah penerbitan. Sekadar berbagi aja sih, apa yang pernah saya lakukan sebagai seorang penulis yang, somehow, saya lebih nemu kepuasan saat buku saya terbit secara indie. Karena ya, itu buku akhirnya gue banget gitu.

Saya menerbitkan buku indie biasanya karena alasan:

  1. Pengin jadiin satu tulisan saya, sebagai dokumentasi gitu.
  2. Kebanyakan buku indie saya (terutama yang antologi) itu royaltinya malah justru didonasikan. Jadi tujuan saya memang untuk berdonasi.
  3. Sebagai portfolio
Pelajaran yang saya dapatkan selama beberapa tahun ini sering menerbitkan indie adalah kalau menerbitkan buku indie demi mendapatkan uang (apalagi yang banyak) ... well ... kamu harus seistimewa Dee Lestari atau Ika Natassa.

Kalau cuma kayak saya gini ya ... lebih besar pasak daripada tiang sih. Wakakakk.

Nah, semua hal di atas memang perlu kamu tahu dulu, sebelum kamu mulai memutuskan untuk menerbitkan buku secara indie. So you can "play" along, semua berjalan lancar.
Kamu jelas dengan kondisi penerbit, dan penerbit juga tahu apa maumu :)

Semoga bermanfaat.

Selamat nulis! Semangat!

Review sepatu The Warna Indonesia


Etdah! Judulnya. *ngakak*

Tapi beneran loh. Kombinasi profesi sebagai freelancer dan karakter introvert itu sebenarnya awkward. Setidaknya buat saya.

Apalagi ditambah dengan koleksi baju di dalam lemari yang hanya kaus hitam, kaus hitam, dan kaus hitam. Lalu di rak sepatu hanya ada sneakers, sepatu teplek Croc KW dan sandal jepit.

Persoalan muncul ketika kamu harus ketemu dengan orang penting. Entah itu klien, atau kamu mesti hadir di event. Katakanlah, event blogger.

Yang cuma punya kaus hitam, kayak saya, pasti beneran deh mikir keras. Mau pake apa?

Soalnya ya gimana ya. Saya lagi berusaha mengadopsi gaya fashionnya Mark Zuckerberg sih, yang selemari isinya kaus warna abu-abu misty semua. Wakakakak.

Semoga ketularan kaya dan suksesnya gitu. Amennn! *aminin dong*

Tapi, cuma punya kaus hitam dan celana jeans, serta nggak betah dandan terlalu lama seharusnya nggak bikin kita nggak bisa tampil stylish.

In fact, saya cuma harus menambahkan 3 items ini saja, supaya penampilan tetap oke (minimal nggak terlalu kasual kalau ketemu sama orang penting atau datang ke event), dan tetep bisa pakai kaus hitam.

Mau tahu?

Kamu hanya harus "berinvestasi" pada ...

Sepatu!


Ke kantor Zetta Media. Untung pakai sneakers. Pakai sandal gunung dilarang masuk, cyin!

Nah!
Sebenarnya sih saya biasa juga pakai sneakers kalau ketemu sama orang penting or ke event.

Tapi kadang, kok ya kalau pas lagi pakai celana legging, jadi terlalu 'keliatan' nyantainya. Saya mesti akalin dengan mengenakan sepatu yang agak 'cewek' tapi tetep santai. High heels? No way!

Pas!
Kemarin saya baru aja nemu satu merek sepatu keren di Instagram. Haha!

Punya sepatu yang warnanya matching sama tas laptop itu satisfying banget! - Sepatu by The Warna Indonesia


The Warna, sepatu etnik masa kini!
Ya emang gitu tagline-nya. Dan modelnya emang kekinian banget kan?

Anjani Tosca - The Warna Indonesia, Sepatu Etnik Masa Kini


Kebetulan saya punya yang Anjani Tosca ini. Bahannya batik Cirebon yang dipadu dengan denim. Yeah, looks fit buat pemakai jeans kayak saya kan?

Coba saya kasih lihat per bagiannya ya.

Motif batik Cirebon yang dipadu denim - The Warna Indonesia

Pas banget di kaki, dan nyaman dengan solnya yang keset. Nggak licin. - The Warna Indonesia


Saya sudah coba pakai ke kantor selama dua minggu kemarin. Oh boy!
 
Jadi, kantor saya itu kan dua lantai, dengan tangga antara lantai bawah sama lantai atas itu agak horor karena curam gitu. Orang krucil saya ta' ajak ikut, pas turunnya itu dia pakai duduk dulu di tangga teratas, baru kakinya turun satu per satu gitu. Ya, karena saking rada curam dan juga sempit.

Bayangin kalau saya pakai high heels di situ. Wkwkwkwk.
Udah badan udah berat, ransel berat isi laptop dan printilan, plus sepatu yang licin. Beugh!

The Warna Indonesia


Tapi bareng The Warna sih, karena solnya keset, saya bahkan bisa naik turun tangga dengan langkah cepat nggak takut kepleset or apa.

Buat jalan di mal, sambil nunggu janji meeting sama orang penting juga oke kan?
Buat nongkrong di kafe sambil minum dan ngobrol ngomongin project juga nggak malu-maluin kan?

Okelah pokoknya ya :D
I'm happy bisa menemukan sepatu ini.
Enelan deh.

What?
Kamu juga mau?

Bisa, bisa.
Karena saya baik hati, ini saya kasih kontak CS Sepatu The Warna yes. Via WhatsApp : 0815  1750 9265. Nah kalau mau lihat-lihat koleksinya dulu, bisa juga. Sila langsung capcus ke akun Instagram The Warna atau bisa juga ke Facebook-nya.

Ragu-ragu beli sepatu online?
Nggak usah khawatir kalau The Warna mah. Kalau size kurang cocok, selalu bisa ditukar! Kapan pun tidak ada batas waktu (dengan syarat sepatu masih dalam keadaan baik, dan belum dipakai keluar rumah).
Apabila size yang diinginkan tidak tersedia, bisa langsung chat dengan Customer Service, untuk di cek ketersediaannya di warehouse The Warna.

Nah ya. Nggak usah takut makanya.
Sok, langsung hubungi CS-nya yah.

Bilang sama Adminnya ya. Rekomendasi saya. #hlah
(biar saya dapat komisi)
*dicekek*


Dan, sebagai balancing untuk sepatu, kamu sepertinya juga perlu untuk investasi di ...


Outer!

Outer bitu yang saya pakai ke acara ulang tahun KEB ke-5 yang lalu. Foto taken by Yayang *halah*


Saya setidaknya punya 4 outer untuk melapisi kaus hitam saya.
1 biji cardigan dari kaus warna biru - abu-abu, 1 outer dominasi biru, 1 outer batik dominasi merah marun, dan 1 kemeja lengan panjang (yang lengannya lebih sering saya gulung kalau pas dipakai)

Katakanlah, saya harus ketemu dengan seseorang di mal (biasanya dipilih karena paling gampang). Maka saya berangkat aja pakai kaus hitam, kayak kebanyakan orang main di mal. Pas waktunya ketemu, saya tinggal pakai outer. Rasanya sudah jadi 'lebih sopan' dan nggak awkward lagi. Begitu selesai meeting, outer pun saya lepas, dan saya kembali jadi perempuan berkaus biasa yang nggak terlalu menarik perhatian lagi.

Outer bisa banget jadi 'kamuflase', bikin diri saya sendiri pede.
Saya rencana sih mau nambah lagi macam outer-nya. Sesuatu yang berwarna ... hitam lagi. Alah. Hitam lagi hitam lagi yak :)))



Selain sepatu dan outer, kamu juga sepertinya perlu menambahkan ...


The right accessories!


Plus aksesoris etnik!


Sudah pakai outer keren, sepatu etnik kekinian, sekarang kita ke aksesoris.

Bukan kebetulan, I'm really in love in ethnic accessories too!
Dulu pernah sih hampir buka lapak online buat jualan aksesoris etnik begini, dengan bahan kayu dan manik-manik.

Tapi nggak jadi, karena source-nya kurang memadai.

Dan dulu udah sempat borong, maksudnya buat modal buka lapak dulu. Tapi karena nggak jadi, ya udah dipakai sendiri.

Tinggal disesuaikan aja, mau pakai yang mana.
Sesuaikan dengan kondisi, siapa yang mau ditemui, dan mood, pastinya. Ehe~


See?

Saya mau berangkat ke kantor

Saya cukup pede, nggak perlu dandan berlebihan. Mau dibilang kasual ya kasual. Dibilang sopan ya sopan.

Habis dari kantor terus langsung janjian sama orang lain? Kalau teman sendiri ya, udah langsung capcus. Kalau semisal mau ketemu orang penting? Ya tinggal lapisin deh pakai outer (yang selalu ada satu yang saya simpan di mobil).

Praktis!


Salah satu tools keren yang ternyata belum saya maksimalkan penggunaannya adalah Evernote. Makanya, tool ini akan saya bahas sekarang, sekalian saya cari tahu lebih banyak lagi, soal apa yang bisa dilakukan oleh tool satu ini.

Evernote saya pakai untuk mencatat berbagai ide dan referensi untuk pekerjaan menulis saya. Dan, so far, Evernote memang oqhe banget bertugas sebagai asisten pribadi :)))

Tapi, seperti saya bilang tadi, ternyata itu pun belum maksimal saya manfaatkan.

So, buat kamu yang juga sedang kerepotan mengorganisir ide dan segala macam catatan penting, ayo, kita kenalan lebih jauh dengan Evernote bareng saya.

Disclaimer: Artikel ini bukan paid post. Jadi apa yang saya tulis adalah murni pengalaman dan beberapa catatan hasil baca sana sini :D


Why Evernote?


Evernote adalah tool untuk meningkatkan produktivitas, terutama sih kalau buat saya, ya, buat nulis. Mengapa harus Evernote? Kan banyak apps lain juga? Kayak saya, saya juga pakai Trello. Kenapa mesti ada Evernote juga?

Well, saya pakai Trello dan Evernote masing-masing untuk fungsi yang berbeda.
Trello saya pakai untuk bantuan realtime.
Sedangkan, Evernote saya pakai untuk bantuan bookmarking, setelah saya saring dari Feedly.

Nggak usah bingung yah, mengapa saya harus banyak pakai catatan. SAYA PELUPA AKUT. Dan catatan saya memang banyak sekali. Jadi, karena saya belum kuat nggaji PA, maka saya harus menggunakan aplikasi-aplikasi ini buat kerja.

Wakakakak. (((PA))) ... Pret!

So, saya menganggapnya sebagai salah satu tool yang membantu tugas harian. Mau difungsikan sebagai apa, well, itu bisa dilihat dari apa saja yang bisa dilakukannya untuk kita.

Jadi, mendingan mari kita lihat langsung, fitur-fitur apa saja yang ada dalam Evernote.


Kenalan dengan Interface Evernote



Go to Evernote web. Kalau belum punya akun, kamu bisa langsung sign up. Kamu juga bisa mendownload aplikasinya di laptop, selain ada juga aplikasinya di Android. Seharusnya sih ada juga di iPhone, karena ini aplikasi yang sangat populer.

Dengan instal, pastinya aksesmu akan lebih baik dan cepat ketimbang mesti buka browser yes?

Dan, mari kita kenalan dengan interface aplikasinya.


Ini yang versi desktop ya. Terdiri atas:


1. Panel untuk membuka notes baru di dalam notebooks, sync, dan upgrade. 

Kalau mau bikin notes baru, tinggal klik aja New Notes. Dan akan nongol seperti ini.




 Kamu bisa langsung tulis saja catatan kamu di situ.


2. Panel untuk quick access notes yang penting. 

Langsung drag and drop aja di situ. Jadi tiap kali mau akses notes tertentu yang kamu anggap penting, kamu bisa langsung klik saja di situ, nggak perlu nyari dalam notebooks.

Ya, kalau di browser itu sama fungsinya dengan bookmark bar ya.

3. Panel untuk mencari notes dan pilihan view.

4. Panel untuk editing notes.

Fungsinya sama kayak di Word-lah ya. Kamu pasti sudah tahu simbol apa untuk apa.

5. Panel untuk option.

Ada add reminder, presentasi, untuk dishare ke orang lain, print, dan lain sebagainya. Kamu bisa lihat sendiri yes?

6. Tempat buat menuliskan catatan

Nah, ini area untuk menuliskan catatan.

7. Notes

Di sini kamu bisa melihat notes-notes yang kamu buat per notebooks-nya. Jadi kalau boleh diibaratkan, notebooks adalah bukunya sedangkan notes adalah kertas-kertas di dalamnya. Jadi notes adalah file-filenya, sedangkan yang disebut notebooks adalah foldernya.

Jelas, yes?

8. Main notes navigation

Di situ ada nama-nama notebooks, juga notes di dalamnya. Juga tags.


Nah, udah kenalan dengan interface, sekarang kita lihat beberapa hal yang bisa kamu lakukan dengan Evernote ya.


Evernote's most important hacks


1. Keyboard Shortcuts


Keyboard shortcuts bisa sangat membantu kita untuk bekerja lebih cepat, yes? Jadi ini dia beberapa keyboard shortcuts untuk Evernote.

Control + N (Windows) or Command + N (Mac): Create a new note
Control + Shift + N (Windows) or Command + Shift + N (Mac): Create a new notebook
Command + Control + N (Mac only): Create a new note from the menu bar using the Evernote Helper menubar app, even if the Evernote app isn't open. (You could also access the Helper app by clicking on Evernote's icon in the menubar.)
F6 (Windows) or Command + Control + E (Mac): Search in Evernote
Control + F (Windows) or Command + F (Mac): Search in your current note
Alt + Shift + T (Windows) or Command + Shift + T (Mac): Search tags or jump to a tag
Command + Control + N (Mac only): Move a note to a different notebook
Command + ' (Mac only): Add tags to a note
Control + Shift + T (Windows) or Command + Shift + T (Mac): Insert a to-do checkbox
Control + Shift + U (Windows) or Command + Shift + U (Mac): Insert a bulleted list
Control + Shift + D (Windows) or Command + Shift + D (Mac): Insert today's date


2. Add Evernote Web Clipper


Kalau kamu pengguna Pocket, maka kamu pasti akan segera familier dengan fiturnya yang satu ini.
Iyes, ini adalah sarana bookmarking langsung ke web-web yang kamu kunjungi. Iya, ini seperti tool Bookmark di browser, tapi langsung disimpan di Evernote-nya.

Coba lihat soal Web Clipper ini di video berikut ini ya.




Kamu bisa install Evernote Web Clipper ini sebagai extension atau Addon di browser kamu, dari Firefox, Chrome, Opera, bahkan Internet Explorer (ada yang masih pakai?)

Begitu kamu sudah instal, maka kalau mau bookmarking artikel atau web apa pun yang penting, sudah gampang bangetlah ya.




Format bookmarkingnya pun bisa kamu sesuaikan; article (artikelnya doang, kan kadang web juga banyak lain-lainnya kan ya. Kalau mau simpen artikelnya doang, bisa pilih yang opsi ini), atau simplified articles (easier to read), full page (simpan sehalaman penuh), bookmark (ini biasanya untuk save for later), dan bahkan kamu bisa langsung screenshoot juga lho.

Praktis banget kan?

Nih, hasil screenshoot-nya yang ada di Evernote saya, dalam bentuk image.


Kalau mau lihat file jpg-nya, biasanya sih tersimpan di C:\Users\user\Evernote\Databases\Attachments di laptop atau PC kamu. Just find it.


3. Sharing notes



Sharing notes or notebooks


Nah, praktisnya lagi, kita bisa langsung share notes atau notebooks yang sudah kita buat dengan orang lain. Ya, persis kayak Google Drive.

Jadi, cucok bangetlah ya, buat tim yang bekerja secara remote.
Tinggal share-share aja dokumen-dokumennya kan?

Cara ngeshare-nya, klik kanan pada nama Notebooks yang ada di Panel 8 di gambar interface di atas, lalu pilih Share Notebook ...

Kalau mau share notes doang sih juga bisa. Klik aja di panel no. 5 di gambar interface di atas, lalu pilih Share.


4. Work chat


Seperti halnya Trello yang juga ada fasilitas chatting-nya, di Google Drive kan juga ada, di Evernote juga bisa lho. Cuma kalau di versi desktop, kok saya masih belum nemu di mana.

Tapi kalau di versi Android sih ada.

Evernote versi Android

See? Ada Work Chat di sana. Cuma saya belum sempat nyobain, soalnya memang belum sempat berkolaborasi menggunakan Evernote.

Tapi, kayaknya sih sebentar lagi bakalan pakai sih. Ehe~


5. Bikin presentasi, tambahkan reminder, tags


Iya, Evernote juga bisa buat bikin presentasi. Tapi saya masih gagal bikinnya. Nggak tahu kenapa, pas saya buka Evernote presentation-nya, tiba-tiba saja terus nge-hang. Beberapa kali saya coba, tetep aja nge-hang.

Entahlah, mungkin laptop saya sudah benar-benar lelah. *elus-elus*

Kalau kamu bikin semacam to do list atau agenda dengan Evernote ini, kamu juga bisa menambahkan reminder dalam notes. Caranya cukup gampang kok.

Buka notes-nya, lalu klik panel Option (panel no. 5 pada gambar interface di atas), lalu pilih Reminder.

Atau mau pakai tags? Bisa juga, langsung tulis saja di atas panel no. 4 gambar interface di atas itu. Kelihatan kan ya?

Pokoknya gini, mau seberapa banyak catatan kamu, asal kamu rapi notebooks, notes dan tags-nya maka semuanya juga akan rapi, kamu akan gampang menemukan catatan-catatanmu kembali.


6. Merge notes


Kadang kita bikin notes yang hampir mirip atau malah sama, karena lupa atau entah-kenapa. Nah, dua notes ini dengan mudah kamu satukan, jadi nggak perlu nyalin ulang.



Caranya adalah dengan merge notes.

Cukup pilih dua atau lebih notes yang berbeda itu, klik sembari pencet Ctrl ya, maka kemudian akan otomatis muncul opsi. Pilih Merge.


7. Bikin Table of Content dan nge-link dari satu notes ke notes yang lain


Nah, ajaibnya, kamu juga bisa bikin buku dengan Evernote ini.
Kamu bikin per bab-nya dalam notes, dan kemudian bikin Table of Contents-nya. Ha!

Caranya juga gampang banget.
Pilih beberapa notes yang akan dibikin Table of Contents, dan kemudian akan muncul opsi yang sama kalau kamu mau Merge Notes seperti di hacks #6 di atas.

Kali ini pilih Create Table of Contents.
Dan tada!



Nah, kalau kamu mau kasih link ke notes yang sudah kamu bikin juga bisa lho. Klik di notes-nya, lalu klik kanan. Nanti akan muncul itu window popup. Pilih Copy Note Link.



Well. Sepertinya itu saja fitur-fitur dasar dari Evernote yang bisa kita manfaatkan untuk mendukung aktivitas menulis kita.

Sebenarnya, masih ada beberapa fitur lagi yang bisa kita manfaatkan dari Evernote ini, tapi ada yang mesti upgrade membership dulu. Atau yang yah ... sepertinya belum perlu kita gunakan dalam aktivitas menulis, jadi nggak saya bahas.

So far saya memang terbantu banget dengan Evernote, untuk menyimpan semua link dan catatan online saya. Setelah saya simpan di Evernote, baru kemudian saya eksekusi satu per satu dengan bantuan Trello sebagai bahan monitoring-nya.

Dari Evernote inilah, saya bisa mengumpulkan dan mengorganisir banyak sekali trigger articles buat para penulis Rocking Mama. Hehe. Nggak bakalan habis :P

Tool yang keren untuk membuat sebuah ideas bank, don't you think? :)

Sampai ketemu lagi di artikel berikutnya ya!