• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Saat seseorang mulai memutuskan untuk menulis blog, pasti berangkat dari pikiran “saya mau nulis apa yang saya rasakan”. Iya nggak?

Saya juga gitu. Tapi, kemudian pengin tahu nggak sih, apa yang sebenarnya dilakukan oleh para blogger yang lebih senior itu, bagaimana cara mereka lebih sukses menjaring pembaca?

Mengapa blog kita nggak berkembang seperti para blogger senior itu? Apakah kita melakukan kesalahan dalam menulis blog?


Yes, ternyata ada lho beberapa kesalahan yang sering kita lakukan, bahkan tanpa kita sadari. Mau tahu nggak apa aja?

1. Blogging for myself

Saat ngeblog all we have to do is write, write, and write. Salahkah? Enggak. Saya tak menemukan kesalahan pada pola pikir ini, dan saya pun melakukannya. I just write, write, and write. Tapi ternyata ada kesalahan lain yang menyertai pola pikir tersebut.

Banyak blogger yang berpikir, “Saya ngeblog ya buat diri sendiri. Nggak peduli orang baca apa enggak.” Dan apa yang ditulis? Hanya yang dirasakan dan diketahui. Hasilnya? Blog menjadi tempat sampah. It’s ok aja sih sebenarnya menjadi tempat sampah. Bukankah menulis itu merupakan katarsis? Merupakan cara untuk meluapkan emosi yang terpendam?

Namun ternyata ada lho cara meluapkan emosi  dengan benar dan tidak egois, yaitu bagaimana mencari solusi atas permasalahan pribadi tersebut. Caranya?

Curhatlah seperti biasa. Tapi nggak berhenti di situ, usahakan untuk mencari solusi dulu sebelum postingan terpublish. Kalau belum ketemu, ya jangan dipublish dulu curhatannya. Jadi, pembaca blog tak hanya membaca curhatan nggak penting, tapi juga tahu alternatif solusi yang ditawarkan.

So, begitu mulai ngeblog, jangan berpikir bahwa kita ngeblog untuk kita baca sendiri, karena akan selalu ada orang lain yang membaca. Alangkah baiknya jika kita juga memberikan solusi dan inspirasi bukan, buat pembaca tersebut?

Hingga kemudian akhirnya kita bisa mengembangkan topik blog, dari hanya curhatan ke tutorial desain, tutorial photoshop, tutorial blogging sampai nampilin portfolio. Itu semua bisa berangkat dari niat “cuma curhat” lho. Tadinya mau curhat, “Aduh, saya patah hati.”, tapi kemudian yang muncul adalah “7 cara keren buat ngelupain mantan”. Nah loh, bukankah berbagi hal-hal yang positif itu lebih baik? :D


2. Terburu-buru publish

Saya banget nih :))

Iya, saya bukan termasuk orang yang sabar. Segalanya terbiasa saya lakukan dengan cepat, beberapa di antaranya saya lakukan secara multitasking supaya kelar bareng Hahaha. Di satu sisi, tentu saja bagus. Saya bisa kerja dengan efisien. Ada 24 jam dalam sehari dan saya bisa melakukan banyak hal.

Tapi, di sisi lain? Yang namanya terburu-buru pasti hasilnya kurang maksimal. Sahih? Termasuk urusan menulis artikel di blog.

Dulu sih saya pernah melakukan one day one post, dan saya lakukan semuanya dengan terburu-buru. Hasilnya? Iya sih, cukup ngatrol performa blog di Alexa. Lha terus? Lha terus saya ya nggak puas. Ini apa sih, kayak ginian doang ditulis. Ini apa sih, nggak penting banget.

Lalu apa yang harus dilakukan supaya postingan nggak terkesan buru-buru? Ubah kebiasaan. Dari main publish, jadi penimbun draf.

Lhaaa, apa keuntungannya menimbun draf? Keuntungannya ya, kita bisa memoles-molesnya sampai maksimal hingga benar-benar layak published.

Sebelum published, sempatkan diri juga untuk mengedit ulang agar tulisan lebih rapi dan enak dibaca, juga agar tak terlalu terdengar emosional. Kan kadang kalau kita nulis curhatan lagi sedih, misal, pasti deh kerasa banget di tulisan. Emo dan mellow maksimal. Nah, yang kayak gini jadi nggak bagus juga sih efeknya. Bikin kita jadi kayak drama queen. Hahaha.

So, endapkan dulu tulisan sebelum dipublish. Take your time.


3. Lebih fokus ke “muka” ketimbang “otak”

Oh yes, dulu sebagai pemula, saya juga menghias blog saya se-alay mungkin. Saya bikin animasi-animasi di sana sini. Saya bikin cursornya kelap kelip. Saya pasang musik. Saya pasang jam analog. De el el de es be.

Salahkah? Salah! :))

Loading blog jadi berat, bo’!

Mendingan maksimalkan dengan mengurangi fokus ke “muka” tapi lebih mempertajam “otak”. Jadi, akan lebih baik blog tampil minimalis, tapi perbaiki isinya.

Belajar menulis dengan baik, usahakan untuk menulis konten-konten yang bermanfaat, dan kemudian wajibkan diri sendiri meng-update minimal seminggu dua kali.

Untuk membantu performa blog, pasanglah plugins-plugins yang memang penting untuk blog berbayar terutama WP. Untuk blog gratisan, pastikan sidebar berisi hal-hal yang memang penting. Sisanya, musik, animasi, dst, lepaskan saja dari blog.


4. Nggak ada waktu untuk blogwalking

Nah, ini nih. Kadang saya masih melakukan kesalahan yang satu ini nih sampai sekarang. Makanya saya punya Feedly buat bantu saya blogwalking.

Mengapa saya minta bantuan Feedly? Karena kadang saya udah blogwalking, eh ternyata blog tujuan nggak update :D Itu salah satu faktor mengapa saya malas blogwalking. Namanya kuota internet musti dihemat. Iya nggak sih? Makanya saya lihat dulu di feedreader baru kalau memang artikel menarik dan update, saya baru kunjungi.

Ehtapi, kadang kalau sudah bisa dibaca di Feedly ya saya baca di Feedly aja sih, kecuali kalau terus mau komen. Tapi, saya jarang juga komen. *dikeplak*

Blogwalking sudah dipercaya sejak ratusan tahun yang lalu mampu menjaga tali silaturahmi para blogger. Instead of medsos-an, yang dulu belum marak, para blogger melakukan blogwalking.

Makanya wajar aja gitu ditemukan, satu artikel blog bisa sampai ratusan komen, dan komennya itu kayak chatting :D: Saling berbalas gitu. Keren beud deh.

Yampun, saya kangen the old styled blogging ini .___.

Nah itulah beberapa kesalahan umum yang dilakukan oleh blogger. Masih ada beberapa lagi, kalau mau didaftar sih sejauh pengamatan saya.

Tapi, ya sudahlah yah, hak masing-masing saja. Saya pun masih melakukan banyak kesalahan sejak saya mulai ngeblog lebih dari 10 tahun yang lalu.

Yang penting, kita bisa mengambil pelajaran atau enggak.
Semoga artikel ini bermanfaat ya. Percayalah, ini bukanlah merupakan usaha untuk menghakimi siapa pun. Saling mengingatkan saja, karena saya sendiri penuh dengan dosah.

Share
Tweet
Pin
Share
4 comments


Tulisan ini pernah ditayangkan di blog Kumpulan Emak Blogger.

Apakah kamu salah satu dari mereka yang berpendapat bahwa kreativitas merupakan bakat dan hanya dianugerahkan hanya pada beberapa orang dan bukan pada diri kamu sendiri?

Kalau iya, coba pikirkan lagi.

Saya adalah salah satu yang berpikir kalau kreativitas itu bisa dilatih dan dimunculkan.

Hal yang membuat beberapa orang nampak lebih kreatif daripada yang lain adalah bahwa mereka, yang nampaknya lebih kreatif itu, telah memelihara kreativitas mereka dengan baik. Bahkan sudah
diteliti juga lho, para ahli mengatakan bahwa kreativitas adalah keterampilan yang bisa dipelajari.

Dan sebagaimana jenis keterampilan yang lain, kalau ingin mendapatkan hasil belajar yang baik, ya kita harus kerja keras dan tak pernah berhenti berusaha.

Practice makes perfect.

Begitu pun soal kreativitas ini. Kalau kita nggak melatihnya setiap hari, ya percuma saja.  Dan, seperti biasanya juga, ada hal-hal yang membuat kita membunuh kreativitas kita sendiri, atau setidaknya menghambat kita untuk berpikir kreatif.

Yes, sepertinya 5 hal berikut ini, yang sering kita lakukan setiap hari baik sadar ataupun enggak, bisa membunuh kreativitas kita sendiri. Jika kamu masih saja melakukannya, atau merasakannya, sebaiknya mulai dikurangi sedikit demi sedikit sejak sekarang.


5 Kebiasaan Buruk Perusak Kreativitas


1. Menilai diri sendiri terlalu cepat

Untuk menjadi kreatif, kita memang harus bisa membiarkan diri untuk dapat menghasilkan ide-ide dan berinovasi dengan bebas. Tapi, sering kali yang kejadian nih kita justru menghambat diri kita sendiri dengan penilaian-penilaian (terhadap diri sendiri) yang terlalu cepat.

Self-judging aja gitu.

Misalnya nih, sering nggak sih merasa nggak pede dengan ide sendiri? Mau menulis artikel, belum juga ditulis sudah mikir, “Ih, kok gini amat bahasannya ya? Kan udah banyak yang bahas. Bakalan ada yang baca nggak nih?”

Atau pengin nulis buat lomba, mikirnya, “Ih, tapi idenya kok gini doang? Duh.”

Begitulah. Kalau kita menilai ide-ide kita terlalu dini dalam berproses kreatif, kita pasti kemudian kurang keras berusaha, dan akhirnya hasilnya juga nggak akan maksimal. Begitu juga sebaliknya. Kalau kita kepedean, itu juga nggak memberikan hasil yang baik.

Misalnya nih, mau ikut lomba blogging, terus pede abis deh sama ide diri sendiri. Lalu meremehkan tulisan orang lain. Terus, pas kalah, baper deh. Hehehe.

So, harus bagaimana dong?

Ya, biarkan saja ide-ide mengalir apa adanya. Jangan dinilai dulu. Jangan self-judgement dulu. Olah, dan proses ide tersebut hingga tereksekusi dengan baik.

Biarkan penilaian nanti datang pada akhir proses.


2. Malas bereksplorasi

Kadang saat sedang mengeksplorasi ide, kita malas menggali ide lebih dalam lagi.
Misalnya nih. Mau ikut lomba blogging. Sudah merasa mendapatkan ide yang bagus. Sudah pula dieksekusi. Lalu, cepat puas.

“Udah ah. Segini aja udah oke kok.”

Setelah pemenang diumumkan, takjub sendiri, karena lihat pemenangnya gila-gilaan eksekusinya.

Nah loh. Yang kemarin merasa sudah puas siapa ya? Hehehe.

Termasuk di dalamnya adalah keberanian untuk breaking the rules. Maksudnya sih, bukannya melanggar ketentuan atau etika juga sih.

Gampangnya ilustrasinya begini.

Tahu Eka Kurniawan? Jika penulis-penulis lain mungkin tidak akan memakai diksi-diksi yang tak pantas, Eka Kurniawan dengan bebasnya menggunakan kata-kata yang katanya melanggar norma itu dalam bukunya yang berjudul Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas.

Ada yang belum baca buku Eka Kurniawan yang ini? Well, kalau memang mau membacanya, saya sarankan sih bebaskan diri dulu dari berbagai ikatan norma kesusilaan yang berlaku di masyarakat kita, maka pasti akan bisa menikmati dan bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh Eka Kurniawan di situ.

Kreativitas butuh ruang eksplorasi yang luas, butuh kesempatan untuk dikembangkan, dan butuh keberanian untuk mengambil risiko.


3. Takut gagal

Sebenarnya wajar sih kalau takut gagal. Gagal itu sakhit!
Tapi, kita enggak akan bisa tahu langkah yang lebih bener kalau enggak gagal duluan.

Jika tujuan kita dalam hidup hanya untuk menghindari kegagalan dan kesalahan, maka mendingan bobok aja deh. Nggak usah ngapa-ngapain.

Karena, seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kreativitas berarti berani mengambil risiko, dan mau menjelajahi segala kemungkinan dan peluang yang ada.

Ide bagus itu datang setelah berbagai kesalahan, kegagalan dan kebodohan kita lakukan. Percaya deh.

Tahu kan, berapa kali Thomas Alva Edison harus melakukan percobaan sebelum bisa menemukan lampu pijar?


4. Membandingkan diri dengan orang lain.

Ketika kita selalu saja membandingkan diri dengan orang lain, maka bisa dibilang kita tengah merampok diri sendiri dari proses kreativitas yang barangkali sedang kita lakukan.

Duh, si onoh itu kok enak ya, jalan-jalan terus ke luar negeri.
Ih, si anu itu kok bisa ya, datang ke event terus. Aku kok susah amat mau keluar rumah sebentar aja?

Hayo, siapa yang suka ngiri gitu?
Sini. Gandengan. Soalnya saya juga gitu.

Lah? Tapi iya. Saya juga dulu suka mikir begitu. Jujur deh. Ngiri, baper endebre endebre, itu sudah pernah saya rasakan.

Tapi, saya nggak mau bikin diri sendiri susah. Pasti ada jalan lain, saya pasti bisa melakukan sesuatu yang bisa bermanfaat bagi sesama saya, juga buat diri saya sendiri.

So, ketimbang cuma ngeliatin orang lain (yang aslinya saja kita juga nggak tahu, karena kita cuma melihat mereka dari media sosial atau dari kejauhan saja), lebih baik saya gunakan waktu saya untuk berproses kreatif ala saya sendiri. Saya tetapkan standar kreativitas saya sendiri, saya melakukan hal-hal yang bikin saya bahagia, dan akhirnya bisa berhenti sama sekali membandingkan diri dengan orang lain.

I make my own path and be consistent.

Kita kan nggak perlu sama dengan orang lain. We can be ourself, yang berbeda dan punya peran tersendiri di mana pun kita berada.


5. Nggak tahan kritik

Feedback itu selalu baik bagi diri kita. Tapi, feedback itu memang ada dua macam: kritik dan cela. Nah, keduanya punya batas tipis yang sama memang ya. Hehehe.

Saya pernah bahas mengenai beda kritik dan cela di blog ini. Sila ditengokin, kalau minat.

Memang susah, untuk bisa legowo terhadap kritik. Enggak semua orang bisa. Saya pun. Tapi sebenarnya hal ini bisa diatasi kok.

Meski bapernya bukan kepalang, kita bisa coba untuk mencari dan menggali lebih jauh, apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh si pengritik. Kalau kitanya bisa nangkep maksudnya, nah, coba aja di-rephrase sendiri saja kata-katanya hingga menjadi kalimat yang lebih bisa kita terima dan akhirnya bisa menjadi catatan perbaikan diri kita selanjutnya.

Kalau nggak nangkep maksudnya apa? Ya sudah, barangkali memang frekuensinya beda. Hahaha.
Take it easy. No baper.

Kita semua membutuhkan seseorang yang bisa memberi masukan; dari situlah kemudian kita bisa memperbaiki yang bisa diperbaiki. Takut kritik berarti kita takut bertumbuh.


So, kreatif bukan berarti melulu soal seni. Kreativitas adalah suatu keterampilan menyelesaikan masalah, dan menemukan solusi yang tidak atau belum dipikirkan oleh orang lain.

So, jika kamu  pengin kreatif, maka peliharalah kreativitas kamu. Cobalah untuk berpikir sedikit di luar comfort zone, jangan biarkan diri sendiri menghambat proses kreatif kita.

Segera hentikan kebiasaan buruk yang merusak kreativitasmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Zaman sekarang, marketing harus hadir dalam berbagai format. Dan video adalah salah satu format terfavorit. Coba deh, sekarang, mana ada brand atau bisnis yang enggak memanfaatkan konten video ini? Lama kelamaan, blogging juga sama saja. Enggak cukup dengan tulisan doang. Sekarang saja, banyak kok teman blogger yang sudah mulai melengkapi kontennya dengan vlog atau podcast.

Makin canggih deh pokoknya ya.

Tapi ... Menyematkan video itu quite something. Tricky.

Ya udah, tinggal unggah aja ke blog gitu doang kan?

Errr ... no. Kita butuh tempat khusus di dunia maya untuk menyimpannya. Karena file video itu pastilah gede. Satu video--dengan resolusi yang bagus--biasanya akan butuh size bergigabytes. Beberapa kali saya unggah video punya klien itu minimal adalah 1 GB dengan play time 10 menitan, dengan resolusi tinggi.

Sekarang, berapa kapasitas server blogmu?

Unggah video langsung ke hosting server itu bakalan makan tempat. Ini alasan pertama. Alasan kedua, bandwidth. Kalau ada yang bilang, "Kok enggak sewa hosting yang unlimited aja? Kan banyak yang harga murah sekarang."

I tell ya, baby. THERE'S NO SUCH UNLIMITED SPACE.
Enggak ada itu unlimited bandwidth. Apalagi tambah kata MURAH.

Kalau ada, boleh info saya ya, disertai detail spesifikasinya. Boleh email aja ke mommycarra@yahoo.com, boleh kasih penawaran dan pricelist sekalian. Ntar saya pindahin deh semua hosting blog yang saya urus ke situ.

Anyway ....

Mau pasang video yang resolusinya kecil aja, biar ngirit tempat? Bakalan blur, nggak enaklah ditonton.

Lalu gimandong? Ya, mesti pakai hosting video tersendiri.

Selama ini pake apa? Youtube-lah ya. Kek orang-orang.
Tapi ada lo, ternyata situs hosting video lain yang bisa juga kita manfaatkan buat nitip video buat ditayangin di blog ataupun situs lainnya.

Mari kita lihat.

10 Situs Hosting Video Terbaik


1. Youtube




Of course, saya mau bahas Youtube dulu yang pertama. Di mana lagi, yekan?

Youtube adalah media sosial berbasis sharing video terbesar yang bisa kita pakai sekarang ini. Manalah gratis lagi. Bahkan, kalau memenuhi kriteria tertentu, kamu malahan bisa dapat penghasilan dari video-video yang kamu unggah.

Dan, menurut Youtube stats sendiri, sekarang ini video yang diupload setiap harinya kalau ditotal bisa sampai 300 jam panjangnya.

So, well yeah, karena gratis ini, makanya kamu enggak bisa ad free ya. Customization-nya juga terbatas. Maksimum file adalah 128 GB, atau 12 jam video. Mudah embed-nya ke blog ataupun web, dan sudah pasti terpercayalah ya.


2. Facebook



Facebook merupakan platform oke lainnya yang bisa dimanfaatkan buat nitip video. Yah, udah tahu dan familier pake sih pastinya.

Keunggulan lain sih, bisa sekalian pamer juga di Facebook-nya sendiri, selain bisa embed ke web atau blog.

Facebook bisa menampung video sepanjang maksimal 240 menit, atau maksimum sebesar 4 GB. Memang enggak sebesar Youtube, tapi lumayanlah ya. Bisa live streaming juga. Tapi resolusinya juga terbatas, maksimal hanya 720p aja.


3. Vimeo



Situs hosting video ketiga yang oke adalah Vimeo. Pertanyaannya: sekarang Vimeo masih diblokkah oleh pemerintah? (ketahuan males ngecek) Kalau iya, well, mesti pake VPN sih ngaksesnya. The bad news is--kalau masih diblok--pemirsa videomu juga mesti pake VPN liatnya, meski sudah embed ke blog atau situs lain.

Yah. Indonesia.

Vimeo menawarkan basic plan yang gratisan, juga ada Plus Plan, Pro Plan, Business Plan, dan Premium Plan. Cencunyah dengan fasilitas dan fitur masing-masing.

Buat yang gratisan kamu bisa unggah video sampai maksimal 500MB setiap minggunya. Plan tertinggi, Premium Plan, punya storage sebesar 7 TB.

Vimeo juga dilengkapi dengan beberapa marketing tools yang cukup useful, misalnya seperti user friendly dashboard, video analytics, dan seterusnya.


4. Periscope




Agak berbeda dengan situs-situs hosting video sebelumnya, Periscope hanya memungkinkan kita untuk merekam secara live, tapi enggak bisa upload video yang sudah pre-recorded. Live streaming yang kita lakukan bisa disimpan, dan ditonton oleh mereka yang barangkali ketinggalan live-nya.

Sangat user friendly. Ada live chat, supaya terjadi komunikasi dua arah selama live streaming. Bisa dicoba kalau misal kamu mau bikin semacam webinar gitu.

Tapi ingat ya, videonya hanya disimpan selama 24 jam aja. Jadi kayak Stories gitu.


5. DailyMotion




Pasti belum terlalu familier ya dengan situs hosting video satu ini? Padahal DailyMotion ini bisa dibilang pemain cukup lama di area hosting video lo.

Beberapa orang yang suka memanfaatkan DailyMotion ini bilang, dasbornya adalah yang paling simpel dari semua platform. Meski demikian, file sizenya terbatas juga sih. Maksimal file size 2GB saja, atau 60 menit doang, walaupun storage dan bandwidthnya unlimited.

Tapi video-video di DailyMotion ini bisa dimonetasi kalau mau. Juga tersedia fasilitas embed, supaya bisa dipasang di blog ataupun situs kita.


6. Wistia


Wistia ini juga sepertinya belum populer di sini. Saya sendiri juga belum pernah coba, tapi konon, Wistia punya tools marketing yang paling lengkap. Jadi memang paling cocok nih buat naruh video-video bisnis. Wistia terintegrasi degan Marketo, WordPress, Mailchimp, dan sebagainya.

Wistia menawarkan akun gratisan (dengan fitur terbatas pastinya), dan akun berbayar (yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita). However, kalau mau pakai Wistia, perlu juga mempertimbangkan mengenai besaran file, karena bandwidthnya ada batasan.


7. Sproutvideo




Sproutvideo enggak menyediakan akun gratisan, tapi kalau memang butuh situs hosting video berfitur lengkap, barangkali kamu bisa mempertimbangkan Sproutvideo ini.

Sproutvideo menyediakan space sebesar 500 GB, dengan bandwidth 500 GB juga. Kalau kurang, kita bisa nambah sebesar $0.08 per giganya.


8. Jetpack



Yes, Jetpack is not just a WordPress plugins. Jetpack menyediakan akun gratis, ataupun berbayar: Personal Plan, Premium Plan, dan Professional Plan.

Enggak cuma menyediakan ruang buat nitipin video, Jetpack juga memberikan banyak tools yang bisa kita pakai untuk meningkatkan performa situs ataupun blog kita.

Ya, kali kalau kamu punya blog atau situs berplatform Wordpress, Jetpack ini bisa dicoba, karena memang didesain dengan baik untuk digunakan di WordPress.


9. Brightcove



Brightcove juga merupakan salah satu situs hosting video premium yang bisa dicoba juga. Enggak ada akun gratisan ya. Semua berbayar, but memang dia ini targetnya adalah para high quality player di video.

Kamu bisa sekaligus ngedit video di Brightcove, jadi emang enggak cuma tempat buat nyimpen doang. Juga tersedia fasilitas live streaming, bahkan kamu bisa membuat interactive video juga di sini. Customized abis deh pokoknya.


10. Vidyard



Seperti Brightcove, Vidyard menyasar bisnis, para marketing professional, dan high quality video player, sehingga ia menawarkan fitur-fitur yang lebih. Ada sih akun gratisannya, tapi yah you knowlah, pasti fiturnya paling terbatas.

Vidyard supports 4K video dan immersive 360-degree videos. Juga tersedia fasilitas live streaming, unlimited storage and bandwidth, juga ada fitur-fitur interactive videos.

Bisa dicoba ;)


Nah, banyak kan pilihannya? Tinggal kebutuhanmu aja nih, kek gimana.

Selamat memilih!
Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Setuju nggak, kalau kita bilang bahwa untuk tetap survive di segala bidang itu tergantung pada kemampuan kita untuk tetap kreatif? Meski kita nggak kerja di bidang industri kreatif pun, kita harus tetap kreatif. Meski kita bukan termasuk di dalam divisi kreatif pun dalam struktur sebuah perusahaan, kita juga harus kreatif.

Kalau enggak?

Ya, barangkali kita akan jadi seperti robot. Harus diprogram untuk melakukan sesuatu, dan sudah. Padahal, mungkin dengan menjadi kreatif, kita bisa lebih baik lagi dalam menyelesaikan tugas-tugas kita lho.

Sebenarnya, apa sih arti kreatif itu?

Kreatif menurut saya adalah proses manusia untuk menemukan cara sehingga bisa memecahkan satu persoalan atau masalah dengan berhasil guna dan berdaya guna.

Kreatif bukan berarti harus selalu menemukan hal yang baru lho, tapi kalau saya bilang sih, lebih ke ‘berhasil memecahkan masalah yang timbul apa enggak dengan tepat’. Kayak di desain misalnya, desain yang baik nggak melulu soal bagus apa enggak, tapi berhasil memecahkan permasalahan yang terjadi apa enggak.

Dan, ini nggak cuma berhenti di desain, tapi di semua aspek kehidupan kita. Sebagai orangtua? Ya, kita harus kreatif dalam mendidik anak. Sebagai entrepreneur? Ya, harus kreatif membaca peluang mengembangkan bisnis. Sebagai karyawan? Ya, harus kreatif mengembangkan diri dan menyelesaikan tugas kita.


Lalu, bagaimana cara agar bisa menjadi dan tetap kreatif? Ada 7 cara.

1. Bawa buku catatan

Mengapa?

Karena ide bisa datang di mana pun. Nggak harus berwujud buku juga sih, kita bisa mencatat ide-ide yang tiba-tiba muncul itu di hape, smartphone atau gadget kamu. Pilihlah yang paling nyaman kita gunakan.


2. Bernyanyi di kamar mandi

Yep, nyanyilah dengan keras di kamar mandi, kemudian berimprovisasilah. Sing like noone hears you. Ganti liriknya, ganti nadanya. Hahaha.

Bukan, intinya sebenarnya bukan pada kegiatan menyanyinya sih. Tapi lebih pada ‘berimprovisasi’.

Kadang kita menghadapi hal-hal yang di luar rencana atau di luar kendali kita, dan cara kita mengatasinya adalah dengan berimprovisasi. Dan tahu nggak sih, proses inilah justru yang menjadi inti dari ‘kreatif’. Yep, improvisasi.

Dengan menyanyi di kamar mandi, dan mengganti lirik dan nadanya bisa melatih kamu untuk berimprovisasi. Mengapa menyanyi? Di kamar mandi lagi. Karena yah, banyak lho yang punya hobi nyanyi di kamar mandi. Haha. Kamu juga?

Kalau suka menggambar, kita juga bisa menjadikan aktivitas menggambar sebagai latihan improvisasi. Temukan latihan versi kita sendiri, dan mulai berimprovisasi.


3. Surround yourself with creative people

Yes, lingkungan sudah pasti dapat memengaruhi. Jadi, pastikan kita berada di lingkungan yang tepat.

Pengin kreatif? Ya, berkumpullah bersama orang-orang kreatif. Please, no drama. Kemudian ajaklah mereka berkolaborasi, minta feedback atas karya kita atau hasil yang sudah kita peroleh sebelumnya.

Percayalah, kritik dan saran tak sesadis kedengarannya. Kita selalu bisa mengambil manfaat dari kritik dan saran, sepedas apa pun itu.


4. Let yourself make mistakes

Kita belajar dari kesalahan. Setuju? Asal nggak salah terus aja. Kalau masih saja jatuh ke lubang yang sama, ya sama aja bohong, kita nggak belajar berarti.

So, lihat kesempatan, ambil risiko. Orang-orang yang sukses itu barangkali untung sama ruginya juga 50-50 kok. Hanya kemudian mereka memperhitungkan keuntungannya untuk kemudian bisa menutup kerugiannya.


5. Stop trying to be someone else

Yang satu ini gampang-gampang susah ya. Saya sendiri kalau lihat orang lain sukses terus pengin jadi kayak orang itu. Hahaha.

Tapi kita bisa belajar. Belajar dengan mengamati orang tersebut, kemudian caranya yang kita ambil, dan sesuaikan dengan kondisi kita. Jangan juga terlalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Just be you.


6. Bersihkan area kerja

Area kerja yang bersih dan rapi akan membuat pikiran juga tenang dan jernih lo. Coba aja.

Barangkali kita adalah tipe orang yang kalau kerja semua tumplek brek di atas meja. Ya nggak apa-apa juga. Tapi setelahnya, harus segera beresin. Sehingga pas besoknya kita mau bekerja lagi, pikiran nggak kusut duluan lihat meja kerja yang berantakan.

Barangkali hal ini akan sulit buat beberapa orang, tapi bisa kok dicoba. Nggak ada salahnya kan mengubah kebiasaan menjadi lebih baik?


7. Have fun and finish it!

Yes, yang penting kita harus fun saat melakukannya, dan kemudian selesaikan yang sudah kita mulai.

Apa artinya menjadi kreatif, kalau nggak ada yang selesai. Iya nggak? Apa artinya menjadi kreatif, kalau kita nggak sambil senang-senang ngerjainnya. Setuju kan?

Bangun suasana yang menyenangkan, saat sudah terlalu jenuh just get away for awhile. Piknik! Lalu kembali lagi untuk menyelesaikan hal yang sudah dimulai tersebut.


Semoga saran-saran di atas bisa bermanfaat ya.
Salam kreatif!
Share
Tweet
Pin
Share
2 comments


Ternyata masih banyak yang enggak tahu atau belum kenal sama meta search description ini. Padahal ini adalah salah satu elemen terpenting dalam SEO.

Meta description ini sering juga disebut snippet, atau excerpt.


Posisinya memang berada di luar konten, tapi meta search description ini bisa merupakan “wajah kedua” setelah judul yang akan menentukan apakah artikel kita akan menarik orang untuk baca atau enggak.

Ia bahkan juga ikut menentukan sampai di mana artikel kita akan merangkak naik di hasil pencarian Google.


Mari kita kenalan lebih jauh dengan meta search description


Apa Itu Meta Search Description?

Untuk bisa lebih paham mengenai meta search description, kita perlu tahu dulu tentang meta tags.

Meta tags adalah elemen HTML di mana ada tertulis informasi mengenai blog atau web pada search engine dan pada pengunjung web yang datang dari hasil pencarian.

Meta tags ini ada 2, yaitu title tag dan meta description.

Title tag adalah judul, meta description adalah rangkuman singkat mengenai isi artikel yang biasanya muncul di bawah judul, ketika hasil pencarian pada search engine didapatkan.
 





Meta description ini juga akan muncul dengan jelas saat kita share artikel kita di media sosial, di Facebook dan Twitter utamanya.





See? Meta description ini bisa dibilang semacam summary, kesimpulan yang supersingkat mengenai isi artikel secara keseluruhan. Dari sini, pembaca bisa berekspektasi akan apa yang bisa mereka dapatkan dari sebuah artikel hanya dengan membaca meta description ini.

Meta search description ini sebenarnya tidak menjadi ranking signal yang utama untuk penyusunan algoritme Google. Ini menurut Google sendiri ya.

But then again, user experience adalah koentji dalam algoritme Google. Meta description merupakan salah satu elemen dalam user experience, demi menarik pembaca blog lebih banyak dan membuat mereka mau datang untuk membaca.

Jadi, ya tetap penting.

Kalau meta description-nya ngaco, bisa jadi orang ya jadi kurang tertarik untuk datang dan membaca artikel kita. Apalagi kalau apa yang ada di meta search description berbeda dengan isi artikelnya. Sama halnya kayak judul, ya orang jadi merasa tertipu sehingga menghasilkan user experience yang buruk.

Clickbait.


Cara Setting Meta Description


Jadi, bagaimana cara setting meta search description ini?

Bisa beda-beda, tergantung platformnya. Saya akan kasih lihat letaknya di 2 platform yang paling banyak dipakai aja ya, yaitu di Blogspot dan WordPress.

Blogspot

Sebelumnya, pastikan kamu meng-enable setting meta description yang ada di bagian Setting > Search Preferences. Kalau ini masih dalam kondisi Disable, maka kamu enggak akan bisa melakukan setting meta search description pada setiap artikel yang kamu tulis.




Kalau setting di General ini sudah enable, maka kamu akan bisa menemukan si meta search description ini berada di samping kanan kotak tulisnya.

Kayak gini.



Nah, isikan summary singkat di dalam kotaknya. Jangan terlalu panjang ya. Dan ingat, harus mengandung keywords.


Wordpress

Untuk WordPress self-hosted, jika teman-teman sudah punya Yoast SEO, maka posisi si meta description ini ada di bagian bawah kotak tulis. Biasanya ada tulisan “Snippet” di sana.

Seperti ini.


Kalau pakai Rank Math SEO, juga sudah disediakan.



Nah, kalau kamu enggak pasang plugins atau kebetulan ngeblog di WordPress gratisan, meta description bisa diisikan di bagian Excerpt.



Cara menulis meta search description yang deskriptif, bisa menggambarkan isi artikel dan menarik

1. Keywords

Pastikan ada keywords utama dalam meta search description tersebut. Google biasanya menebalkan kata-kata yang mengandung keywords dalam hasil pencariannya.




2. Seberapa panjang bagusnya?

Well, lagi-lagi sih, enggak ada angka pasti. Karena Google juga enggak pernah bahas mengenai meta description ini secara gamblang dan terbuka.

Yang pasti, kalau kepanjangan nanti juga akan diputus sama Google. Ada yang bilang sekitar 140-an karakter. Jadi ya jumlah karakternya kayak tweet lama, sebelum jadi 280 sekarang.

Lebih baik gini aja, biar aman. Jangan kepanjangan, dan usahakan keywords sudah ada di bagian depan kalimat.

Kalau kamu pakai WordPress self-hosted atau yang berbayar, dan sudah ada plugins SEO-nya biasanya sih sudah ada parameter yang bisa dipakai. Kalau kependekan ya merah, kalau kepanjangan ya hijau.


3. Meta search description sebagai iklan utama


Ini yang perlu diingat betul ya.

Meta search description ini kurang lebih fungsinya kek iklan bagi artikel kita. Jadi, pikirkanlah kalimat menarik yang bisa bikin orang penasaran, sekaligus memberikan kesimpulan supersingkat tentang artikelnya

Di sinilah kemampuan copywriting kita diuji


Itu dia sekilas tentang meta search description, bagian kecil dari konten yang ternyata punya peranan besar.

Semoga bermanfaat artikelnya ya.
Share
Tweet
Pin
Share
3 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose