Panduan Menulis Artikel di Media Online untuk Para Penulis Profesional Wanna Be

Well, menulis untuk dimuat di blog sendiri itu gampang. Apalagi kalau kamu sudah punya mindset, ...



Well, menulis untuk dimuat di blog sendiri itu gampang. Apalagi kalau kamu sudah punya mindset, "Blog blog gue sendiri, nggak peduli orang mau baca apa enggak." Nah, ya, berarti harga mati. Nggak ada yang salah sebenarnya dengan jargon itu. Tapi ya gitu, mau  teori nulis apa pun ya rontok semua deh kalau sudah kena jargon begitu mah. Hihihi. You can be as selfish as possible-lah di blog yeuh.

However, kalau kemudian kamu mulai pengin menulis untuk konsumsi orang lain, kayak misal kamu terus pengin menulis untuk dimuat di media lain baik itu online maupun offline, perkaranya jadi beda. Karena mau nggak mau, kemudian kamu harus memikirkan pembaca. Ya, nggak mungkinlah kamu bisa seegois kalau di blog. Meski mungkin tetap saja kamu membawa rasa personal di dalam tulisanmu itu, tapi tetep kan, nggak bisa sepersonal di blog.

Dan bikin tulisan atau artikel non fiksi yang enak dibaca orang lain, memang ada trik tersendiri. Karena, coba lihat, ada berapa juta tulisan dihasilkan oleh media online setiap harinya? Makanya tulisan kita harus sekreatif mungkin supaya menarik pembaca.

Lalu gimana caranya bisa menghasilkan tulisan kreatif agar bisa dimuat di media online? Iya, kita akan ngomong di ranah media online aja deh ya. Eikeh ngertinya di situ aja, bo'. Kalau yang media offline, ya kali kurang lebih sama juga sih.

Sebelumnya simak dulu apa "kata orang" mengenai creative writing ini.

Creative writing is writing that expresses the writer's thoughts and feelings in an imaginative, often uniqe, and poetic way. ~ sil.org

The primary goal of the creative nonfiction writer is to communicate information, just like a reporter, but to shape it in a way that reads like fiction. ~ Wikipedia

Nah, there you go.

Mungkin tadinya kita mengira, creative writing itu hanya bisa diterapkan untuk tulisan-tulisan fiksi. You know, proses kreatif sering dikaitkannya kan dengan daya imajinasi. Padahal ... hmmm ... tahu nggak sih, bahwa menulis nonfiksi seperti artikel-artikel di media online itu pun kita juga memerlukan daya imajinasi yang kuat. Memang sih, kalau menulis artikel nonfiksi seperti itu kita akan membutuhkan banyak data dan fakta. Tapi kalau cuma datar, lempeng, tanpa ada campur tangan proses kreativitas di dalamnya, saya sendiri kok nggak yakin bisa menarik.

So, apa saja yang harus kamu perhatiin untuk bisa menulis artikel nonfiksi untuk media online, yang sekarang makin bertumbuh dan berkembang? Yah, supaya kamu nggak cuma nyaman di blog sendiri saja, because ... tahu nggak sih apa yang bisa membatasi diri kita sebenarnya? Yes, comfort zone.

Tips Menulis di Media Online

 

 

1. Perfect title 


Justru judul adalah hal penting pertama yang harus kita perhatikan (meski judul bisa kita bikin belakangan, itu masalah metode untuk menemukan judul yang pas saja). Ibarat manusia, judul itu wajah kita, sedangkan isi adalah personality.

Judul harus representative, interesting, langsung memperlihatkan masalah dan solusi apa yang dijanjikan pada pembaca setelah mereka selesai membaca artikel kita.

Untuk membuat judul yang menarik dan provocative, saya punya formula seperti ini.


Trigger word misalnya "langkah", "panduan", "tips", "cerita", atau bisa juga diisi dengan angka. Adjective adalah kata sifat (yang juga harus provocative dan harus memberikan efek positif) misalnya "cepat", "mudah", "sukses", "ngehits", "gaul" dan sebagainya. Keyword adalah kata kunci dalam artikel kamu, atau inti topiknya. Misalnya "mendapatkan jodoh", "menikah muda", "parenting" dan seterusnya. Promise adalah janji yang kamu tawarkan pada pembaca setelah mereka selesai membaca artikel kamu.

Nah, kemudian masalah susunan saja sih. Kalau mau lebih SEO friendly, keyword taruh di depan. Sesekali ubah menjadi kalimat tanya, atau kalimat ajakan. Atau bisa juga berupa peringatan.


2. Opening that 'bang!'


Hal kedua yang "menentukan" nasib tulisanmu, apakah akan terus dibaca atau ditinggalkan, adalah opening. Bahkan first line-nya.

Raditya Dika di suatu workshop pernah bilang, sebagai seorang penulis kreatif kita harus tahu trik menciptakan visualisasi di benak pembaca, dan bikin kalimat awal yang menarik.

Gimana cara bikin kalimat pembuka yang nge-hook pembaca ini?
Ehiya. Saya pernah tulis di blog ini juga. Tentang menulis 100 kata pertama. Silakan dibaca kembali. Hahaha ... ga usah ijk tulis ulang yeuh.

3. 5W 1H


Teori 5W 1H, yaitu who, what, where, when, why, and how merupakan teori menulis jurnalistik yang sudah menjadi pakem menulis para jurnalis. Kalau dilihat-lihat ya rada basi sih ini tipsnya. Tapi justru malah harus selalu diingatkan, karena kita sering lupa.

Teori 5W 1H bisa membantu kita membuat tulisan yang nggak kentang, yang ketemu ujung pangkalnya, ada hubungan sebab akibat, lebih runtut, nggak ada info yang ketinggalan, dan menghindarkan artikel kita jadi kentang. Kenceng tanggung. Bikin pembaca kesel.


4. Berefek visual


Ilustrasi, foto, layout, elemen desain dan tipografi, adalah beberapa hal yang bisa bikin tulisan kita berbicara lebih banyak, lebih informatif lagi dan terlihat lebih exciting.

Untuk menambahkan image-image, ada banyak website penyedia free images. Saya pernah mengumpulkannya di blog ini juga. Silakan diintip.

Untuk infografis, barangkali kamu bisa mencari ide di Infographic Archive, sebuah website yang isinya infografis doang. Coba teliti dan amati, informasi apa saja yang harus ada dalam sebuah infografis. Meski sekarang sudah zaman vlog, tapi infografis tetap menjadi salah satu penarik visual yang utama. Karena cenderung lebih ringan ketimbang video.

Yang terakhir, yang bisa kamu masukkan untuk menambah efek visual adalah gambar bergerak video atau animasi .gif dan yang lainnya.
Meski secara SEO, image animasi .gif nggak begitu disarankan karena terlalu berat, tapi animasi .gif memberikan daya efek emosi yang cukup nampol, kalau pendapat saya sih. Jadi bolehlah sesekali dipakai. Asal jangan kebanyakan.


5. Write for your reader!


Seperti yang saya sebutkan di atas, you can't simply forget your readers kalau kamu mau menulis di media online.

Cari tahu persona pembaca media online yang kamu targetin. Biasanya sih terlihat dari gaya bahasanya. Apa yang harus kamu perhatikan?

  • Jenis kelamin target pembaca media online tersebut, cewek atau cowok, atau universal
  • Demografi umur. Biasanya tersegmennya: teen 15 - 18 tahun, 18 - 23 tahun, 24 - 35 tahun, above 35.
  • Lalu perhatikan kategorisasi yang ada dalam media online tersebut. Hal ini akan membuatmu bisa mengira-ira, mau nulis topik apa, dan media online tersebut paling concern soal apa.
Next, kalau kamu sudah mendapatkan bayangan pembaca media online tersebut, then you have to think like them, talk the way they do, sebutkan hal-hal yang ngehits di kalangan mereka (termasuk semua istilah kekiniannya), lalu link your writing to who they think is cool (istilahnya, melibatkan influencer gitu deh).

Misalnya nih, lagi ngehits soal drama Korea. Coba sebutkan salah satu nama aktor drakor dalam artikel yang kemudian dihubungkan dengan topiknya. Atau lagi pada ribut soal Brad Pitt dan Angelina Jolie, ya sebutkan nama mereka di awal tulisan as opening. Nama orang terkenal akan menarik perhatian.


6. Personal thoughts


Meski menulis di  media online, namun nggak berarti kamu sama sekali nggak boleh meneteskan (?) sedikit cita rasa personalmu di dalam artikelnya. Kalau saya sebagai pembaca, dan juga kadang berperan sebagai editor, malah suka kalau ada cita rasa personal dalam sebuah artikel di media online.

Mengapa?
Soalnya dengan begitu, saya bisa dibuat percaya akan apa yang ditulis. Saya percaya tulisannya useful karena mungkin sudah dicoba sendiri oleh penulisnya (kalau artikelnya berbentuk tips). Saya percaya, tulisannya faktual dan benar-benar terjadi karena dialami sendiri oleh penulisnya. Saya percaya, tulisan tersebut nggak omdo alias omong doang, yang mungkin saja dia membuatnya dengan kopas sana kopas sini dari internet. (meski sebenernya ya memang kopas sana sini kemudian diparafrase sih, tapi kalau ada rasa personal, pasti hasilnya juga lebih baik).

So, olah berbagai data yang sudah kamu dapatkan dengan pengalaman atau opini pribadi sebagai penulis. Use witty thoughts yang jujur dan berdasar. Hal tersebut akan menjadi ciri khas yang membedakan tulisan kita dengan barangkali jutaan tulisan lain.


7.  Keep learning


Kalau tulisan kamu sudah berhasil diterbitkan, next thing yang harus kamu lakukan adalah mempelajari kembali tulisan kamu, dan mengenali kekurangannya di mana. Catat kekuranganmu, untuk diperbaiki pada kesempatan menulis berikutnya.

Syukur-syukur kalau media online tempat kamu menulis ada editornya yang bisa bantu memperbaiki tulisan, sehingga kamu bisa membandingkan tulisan yang sudah lolos editing dengan tulisan awal kamu. Kamu bisa tahu letak kekuranganmu di mana. Apa yang diubah oleh editor, itu pasti adalah hal yang menjadi kelemahan kamu. Catat, dan cari tahu bagaimana mengatasinya.

Di situ kamu sudah belajar menulis secara otodidak.

Pelajari beberapa teknik menulis yang baik, misalnya bagaimana bikin outline yang baik sehingga menghasilkan tulisan yang runtut dan lengkap informasinya, menentukan sudut pandang, menentukan "gaya bicara", dan lain sebagainya.



Nah, as a bonus, berikut ada infografis tentang menulis konten yang menarik dari Infographic Archive.
Sok, dicermati yah.


Tips Menulis Artikel yang menarik di media online ala Andrew M. Warner



Dan, yang terpenting dari semuanya adalah keep writing! Jangan berhenti menulis. Terus menulis, setiap hari, setiap waktu! Practice makes perfect.
Makin banyak menulis, kamu akan makin peka menangkap momen yang bisa menjadi ide topik tulisan.
Makin banyak menulis, kamu nggak kerasa sudah memperbaiki tulisan kamu.
Perluas "daerah jajahan" menulismu ke beberapa media online, untuk menguji kemampuan. Jangan puas berada dalam comfort zone kamu sendiri.

Selamat menulis!

You Might Also Like

21 comments

  1. Mkasih mbak , tulisannya mantab tenan...

    ReplyDelete
  2. Tips ini bantu banget. Setelah dua artikel saya keangkut ke rockingmama. Saya belajar untuk nulis lebih panjang lagi dan detail. Ketahuan deh kalau napas saya pendek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi. Ayo, Mbak, latihan pernapasan.
      *Ini ngomongin nulis apa bela diri yak*

      Delete
  3. Makasih banget mbak tulisannya. Saya jadi bisa belajar menulis di dengan postingan ini

    ReplyDelete
  4. Opening that 'bang!' en buat judul itu yang paling bikin eikeh terseok-seok ^_^
    Tulung, tuluuuung!!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Sama kok. Nulis isinya 1 jam. Mikir judul 1 hari, mikir opening 1/2 hari. :D

      Delete
  5. sangat membantu Mbak makasih sudah diingatkan ����

    ReplyDelete
  6. JUDUL! Setelah mulai rajin ngeblog dan tahu ada makhluk bernama SEO, ternyata ada prinsip yang berbeda dalam penulisan judul artikel blog dan judul buku. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh! Dikunjungi Mbak Eno *cium tangan*
      Kalau judul buku gimana, Mbak? Share dong :D Atau udah ada di blognya ya?

      Delete
  7. Wah buat judul ada rumusnya nih. Aku mesti banyak belajar membuat judul yang yahud ... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha. Just a formula. Penerapannya balik ke kreativitas masing-masing ;)

      Delete
  8. Mantep banget mbak tulisannya. Butuh belajar nih bikin artikel yang menarik dibaca
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuk, belajar bareng ;) Selamat nulis!

      Delete

Silakan masukkan link blog Anda dalam kotak ID yang sudah disediakan.
Semua komen yang berisi link hidup, will go straight to spam.

Search This Blog