10 Checklist untuk Membuat Konten yang Readable, Likable, dan Sharable



Disclaimer: tulisan ini pernah ditayangkan di web Kumpulan Emak Blogger. Ditayangkan kembali dengan beberapa modifikasi dan update.

Hae! Gimana kegiatan ngeblognya? Content creating-nya?
Makin ngehits yak?

So, saya cuma mau kasih checklist nih. Apa saja yang bisa kamu lakukan saat membuat konten, supaya lebih catchy, enak dibaca, interaktif dan menarik untuk dishare.

Bisa gitu ya? Ya, bisa dong.

Ini dia 10 hal yang mesti kita lakukan setiap kali membuat konten


1. Generate your idea

The root is in the idea.
Layak dibaca atau enggaknya kontenmu, berawal dari ide awal.

Dan, ingat, ide tetap ide. Sesederhana apa pun itu. Nggak ada ide yang buruk. Yang ada, eksekusi ide yang kurang maksimal.

Jadi, jangan pernah menyepelekan setiap ide yang melintas di kepala.

Ide mungkin bisa saja sama, tapi cara memrosesnya yang harus berbeda, sehingga akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Nah, pastikan ide Emaks unik, supaya ‘kelihatan’ di antara artikel lain yang sejenis.

Soal mengolah ide, saya pernah nulis juga di blog ini. Bagaimana meng-generate common ideas menjadi satu tulisan yang menarik.

Sila dibaca kalau butuh yah.


2. Kembangkan judul


Siapa yang suka nulisnya sejam jadi, tapi mikirin judulnya seharian?
*ngacung*

Yah, gitu deh. Problem saya biasanya. Atau kalau nggak, sekali sesi nulis, ngganti judulnya puluhan kali. Wkwkwkwk. Nggak, itu nggak lebay. Beneran!

Tapi, nggak salah kok kalau kita riweuh banget mikirin judul. Malah harus. Judul itu merupakan bagian terpenting dalam sebuah tulisan.

Sempat ada yang nanya, "Apakah nggak mungkin memberikan kesempatan? Baca dulu gitu, tanpa terlalu tergantung pada judul?"

Well, kalau penulisnya saya kenal atau saya tahu kualitasnya, saya pribadi sih nggak mungkin klik tanpa melihat judul.

Memangnya, kalau mencari di Google, kamu nggak baca judul dulu gitu?

Saya sih selalu baca judul. Kalau menarik, ya saya klik. Kalau enggak, ya enggak. Sayang kuota dong ah. Meski ntar saya kena clickbait juga sih. Wkwkwkwkwk. Tapi yah, saya nggak bisa tuh kayaknya tanpa baca / merhatiin judul, langsung klik baca.

So, judul ini krusial. Apa yang ada dalam artikel, apa yang kamu janjikan pada pembaca setelah pembaca selesai membaca, ada pada judul.

Kalau kamu mengingkari janji, berarti kamu bukan merpati berarti itu clickbait.

Judul itu penting! Segitu pentingnya, sampai dipakai buat nipu. Iya nggak? *sarcasm detected*

Ohiya! Jangan lupa sematkan keyword artikelmu di judul juga ya.

Tentang membuat judul, saya pernah bahas secara lengkap di blog ini juga.

3. Opening artikel


Sama kayak judul, kalimat pertama dalam artikel akan menentukan "keselamatan" artikel kita untuk bisa dibaca oleh pembaca sampai akhir.

Jadi, pilihlah opening dengan hati-hati.

Jangan sampai kejadian, sampai ke paragrafi 3 belum juga muncul masalah yang akan dibahas. Kamu malah heboh cerita OOT.

Topik artikel dibahas sepanjang 100 kata, opening OOT-nya 500 kata sendiri. Yang sesuai sama judul cuma 200 kata terakhir, sedangkan 700 kata pertama, kamu bahas yang nggak ada hubungannya dengan yang kamu janjikan di judul.

Failed.
Clickbait.
Wkwkwkwk.

Jangan sampai kejadian, banyak pertanyaan muncul saat membaca inti artikelnya, yang malah nggak dibahas oleh penulis. Pada akhirnya, yang kayak gini ini malah menyisakan kejengkelan. Kentang bo'!

Opening haruslah tajam, mengikat, dan jangan terlalu panjang. Inti artikel harus detail dan mendalam.

Tentang membuat opening yang mengikat, sudah pernah dibahas di blog ini juga. Silakan kalau mau ngintip.


4. Outline / kerangka berpikir


Nah, karena inti artikel harus detail dan mendalam, maka kadang kita akan memerlukan beberapa alat bantu supaya tetap fokus pada masalah.

Saya sendiri, kalau topiknya agak berat atau rada-rada bukan bidang yang saya kuasai betul, maka sambil riset, saya akan membuat kerangka dulu.

Kalau seumpama nggak perlu ya nggak usah bikin.

Apa sih fungsinya outline?

  • Membantu kita menulis secara runut dan urut
  • Struktur tulisan lebih rapi
  • Bahasan nggak OOT dan mbleber ke mana-mana
  • Kalau sewaktu-waktu ditinggal padahal belum selesai, kita bisa dengan mudah melanjutkannya kembali.
Membuat outline atau kerangka bisa macam-macam, tergantung kenyamanan masing-masing. Saya sih biasanya minta bantuan pada rumus 5W 1H.

Saya juga sudah membahas mengenai membuat outline dengan 5W 1H ini. Boleh lo dibaca :)



5. Lakukan riset

Kadang kita memang memerlukan riset sebagai bahan pendukung tulisan.
Saya sih selalu. Soalnya artikel yang saya kerjakan yang memang yang mesti riset.

Buat kamu yang harus menulis kayak saya, carilah 2-3 artikel dengan topik yang sejenis sebagai bahan pendukung.

Sesepele apa pun topiknya, kita harus mencari komparasi atau perbandingan artikel lain yang pernah ada. Baca artikel-artikel tersebut, cari kekurangannya.

Nah, kita kemudian bisa melengkapinya di artikel yang kita tulis. Hal ini akan memberikan nilai tambah tersendiri dalam artikel kita.


6. Cek jumlah kata


Untuk bisa terindeks dengan cepat oleh Google, setidaknya artikel kita minimal harus sepanjang 700 kata. 1.000 kata itu lebih bagus.

Mau viral? Konon, menurut situs Hubspot.com, artikel viral rata-rata panjangnya 2.000 kata.
Banyak amat?!

Logikanya begini. Artikel yang panjang itu bahasannya akan lebih mendalam ketimbang artikel yang hanya 300 kata, misalnya. Dengan catatan, harus tetap fokus.

Kalau misal 2000 kata, OOT-nya 1500 kata sendiri ya, mending nggak usah maksain 2000 kata.

Tapi banyak juga ya, 2000 kata.
Well, gini aja deh. Saya sih nggak pernah menjadikan jumlah kata ini sebagai beban besar.
Dan untuk bisa menulis panjang itu bisa dilatih bertahap kok. Misalnya, kalau kebiasaan menulis 300 kata, coba sekarang 500 kata. Cari bahan tambahan, dan jangan lupa pakai kerangka kalau memang diperlukan supaya tetap fokus.

Setelah terbiasa menulis 500 kata, maka lanjutkan ke 1000 kata.
Keep in mind, mesti tetap fokus dan nggak boros kata ya.

Nanti, seiring waktu, kalau kita rajin nulis, pasti bisa lebih panjang dan lebih panjang lagi.


7. Tambahkan konten bonus



Ngeblog memang soal menulis. Untuk bisa ngeblog dengan konsisten, kita mesti mencintai dulu kegiatan menulisnya.

Kalau enggak, ya biasanya sih cuma semusim dua musim doang tuh ngeblognya. Ntar nggak ada ide, ya udah makin nggak nulis lagi.

Kalau sudah bisa menyajikan konten tertulis yang baik, nah, lanjutin ke tahap berikutnya. Yaitu bikin "konten bonus". Misalnya, infografis, video, podcast, komik, meme, dan sebangsanya.

Konten bonus ini kadang bisa bikin bonus share juga buat kita. So, ayo, belajar memperkaya konten. Pertama tambahin blog title image yang bagus, lalu kasih infografis. Dan seterusnya.


8. Jangan biarkan selesai begitu saja

Setelah artikel ditulis, jangan biarkan selesai begitu aja.

Saya sering baca nih, artikel selesai ya udah selesai gitu aja. Nggak pakai closing. Jadi, misal bahas gejala diare. 1, 2, 3, ... poin-poin. Habis poin 5 terus langsung udahan.

Lah?
Nggak pakai pamit. Hahahaha.
Nggak sopan ih. Wkwkwkwk.

Pamit atuh sama pembaca.

Kamu bisa kasih ruang untuk diskusi. Tanyakan pada pembaca blog, apa pendapat mereka? Apa masukan mereka? Apa mereka punya pengalaman yang sama? Atau berbeda? Minta mereka menuliskannya di kolom komen.

Kasih kesimpulan, jadi dari bahasan tadi apa saja yang kita dapat?

Atau minta mereka untuk menuliskan sharing ala mereka di blog masing-masing. Nanti terus di-round up.

Jadi, kalau opening adalah kesempatan buat hook pembaca agar mau baca sampai selesai, closing ini kesempatan buat engage.

Ya, masa mau diabaikan gitu aja sih? Sayang dong.


9. Buat blog title image yang menarik

80% orang akan lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihatnya secara visual ketimbang yang tidak bisa dilihat secara visual.

Secara sekilas, mata orang akan scanning apa yang dilihatnya. Nah, yang mencolok pastinya akan menarik matanya secara otomatis untuk menatap lebih lama. Lalu, kalau dia membaca judul, dia akan tertarik dan penasaran. Selanjutnya bisa ditebak deh gimana.

Ada kok tool-tool gratis online yang bisa bantu kita membuat blog title image yang bagus. Saya pernah ngeround up.
Boleh lo, kalau mau dibaca-baca :)


10. Publish di saat ramai

Nah, ini sih sarannya Babang Neil Patel sih.
Untuk mendapatkan eksploitasi maksimal, publishlah di saat ramai.
Makanya perlu kita observasi masing-masing nih media sosial kita. Kira-kira peak time-nya di jam berapa di hari apa.

Tapi, sekarang saya sih nggak terlalu pakai patokan ini.
Saya lebih suka mengulang sharenya aja.

Publishnya boleh kapan saja, tapi share-nya di jam-jam ramai.
Kalau saya, biasanya yang ramai itu adalah di hari Senin atau Jumat dan Sabtu, dan pagi sekitar pukul 08.00 – 10.00. Makanya saya sering share di waktu-waktu tersebut.

Setiap orang punya peak time berbeda-beda. Jadi, amati punya sendiri-sendiri ya.
Nggak usah ngintip punya tetangga #apeu



Nah, semoga checklist di atas bisa bermanfaat ya. Silakan jika ada hal yang mau ditambahkan. Tulis saja di kolom komen!

Selamat menulis!

5 comments:

Novarina DW said...

Aku masih harus belajar manjangin artikelku yang kebanyakan sekitar 300an kata hehe. Semoga setelah baca postingan mbak Carra ini, aku jadi makin terpacu buat jadi lebih baik nulisnya, postingan blognya juga. Aamiin ^^

Sara Neyrhiza said...

Entah mengapa saya tidak suka nulis panjang. Sama seperti ketika menjadi pembaca. Memang preferensi.
Kecuali kalo lagi pas ikut lomba..:)
Thanks sudah berbagi mbak Cara

Carolina Ratri said...

Nulis pendek juga oke, tapi kalau nanggung ya males juga dibaca.
Kasih closing juga lebih bagus ;)

Winda Carmelita said...

Nomor 2 soal judul itu kelemahanku banget Mbak, dalam segala lini, mau menulis artikel ataupun lagu. Akhirnya kalau lagu, judul laguku cuma 1 kata yang seringkali gak nyambung dengan semua liriknya :))

inayah said...

nah itu dia, judul ya yang paling riweuh menurutku. mau sensasional takut lebay. mau biasa aja, takut gda yang klik ahahha

Instagram