Nggak perlu marah, apalagi terus ngebully. Lakukan langkah-langkah ini.


Ah, dunia internet yang nampak sunyi, namun sejatinya riuh. Berbagai drama dan kejahatan terjadi, selayaknya dunia senyata-nyatanya.

Dan drama serta kejahatan yang sedari dulu sampai sekarang nggak pernah surut kehebohannya adalah kejahatan pencurian karya, atau pencurian konten (untuk konteks di dunia maya).

Saya sebenarnya mengamini, bahwa selama proses kreativitas itu ada, maka hal semacam kejahatan pencurian hak kekayaan intelektual aka pencurian hak cipta aka pencurian karya ini selalu akan ada. Banyak orang yang entah nggak peduli atau nggak tahu, bahwa mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri itu adalah kejahatan. Apalagi di dunia maya, yang semua bebas tersedia.

Saya sendiri, sudahlah, nggak tahu berapa banyak harus berurusan dengan para pencuri karya ini. Dulu fiksi saya juga pernah nongol di blog lain, lalu cerita-cerita anak saya di Blog Dongeng Anak juga tiba-tiba nongol di banyak tempat (saya pernah cerita ini di blog lama yang almarhum itu), kemudian ada beberapa tulisan di Rocking Mama juga saya lihat nongol di Fanpage Facebook embuh.
Cuma barangkali saya memang nggak pernah sampai nyetatus atau nulis lagi tentang pencurian-pencurian ini sekarang. I have enough, dan saya sadar sepenuhnya bahwa yang kayak gini nggak akan berakhir. Saya malas menghabiskan tenaga untuk mengejar si pencuri. Buat saya itu exhausting, dan justru malah membuat saya nggak move on dan baper terus.

Jadi, mendingan saya gunakan rage (kemarahan) saya untuk membuat karya lain yang lebih bagus dan lebih bagus lagi. Biasanya kan, kalau penulis lagi galau atau emosi kan malah bisa menghasilkan tulisan yang bagus kan? Ya, itu. Saya pakai aja rage-nya. Hihihi.

Anyway.
Meski saya sekarang woles banget, tapi saya pernah melakukan beberapa hal berkaitan dengan pencurian karya di dunia maya ini. Barangkali kamu membutuhkannya kalau sewaktu-waktu mengalami hal yang sama.

Apa yang Harus Dipahami Lebih Dulu?

 

Kamu harus memahami hal-hal ini dulu sebelum melangkah lebih jauh




Ada yang harus kita pahami lebih dulu mengenai semua hal yang ada di internet dan juga mengenai hak cipta yang berlaku atas segala macam informasi dan materi yang ada. Apa saja?


1. Internet bukan bak sampah


Just because you can access all information free on the Internet, it does not mean it's free to take. Apa pun itu. Mau tulisan, informasi ini itu, meme, foto, infografis ... ya semuanya.

Internet bukan bak sampah, di mana semua yang ada itu adalah hasil 'buangan' dari orang lain karena mereka nggak pakai, dan kamu bisa ambil dan pakai sesukamu. Apa yang dilempar ke Internet, bukan barang-barang bekas yang nggak ada harganya, dan kamu bisa bak seorang pemulung langsung ambil dan jual.

No.

Semua yang ada di Internet itu ada yang punya. Dan, logikanya gampang saja kan seterusnya, bahwa kalau kamu ambil tentunya harus minta izin dulu sama yang punya.


Meski, kalau kamu sempat baca artikel saya tentang website-website yang menyediakan free images CC0, yang foto-fotonya bisa kamu ambil tanpa harus kasih kredit, tetep, ada yang punya. Bedanya, images itu sudah diletakkan di sana oleh si empunya materi dan memang direlakan untuk digunakan semau kita. Jadi ibaratnya, kamu mengambil dari wadah yang sudah disediakan. And then, it's free. Walaupun free, ada baiknya sesekali kamu 'beliin kopi' buat si pembuat image, tentu akan baik sekali bukan?


Baca juga: 11+ Situs Penyedia Free Images CC0 Kesayangan Saya

 

2. Materi tanpa keterangan mengenai hak cipta, tidak berarti free to use


Sering kan ya, kita lihat nggak ada keterangan boleh dipake bebas ataukah harus minta izin pada yang punya materi?

Iyalah, banyak. Kamu punya blog, pasti nggak ada kan disclaimer, bahwa materi yang kamu tulis atau kamu unggah ke blog kamu kan? Ih, saya juga nggak ada disclaimer kayak gitu. Hahaha.

Tapi, please note, bahwa apa pun yang ada di Internet yang nggak ada keterangan mengenai hak cipta, berarti free to use. Balik lagi ke poin pertama di atas.
Internet bukan bak sampah.

3. Saya menggunakannya bukan untuk keperluan komersial, so is it ok?


No.
Well, memang sih kita menggunakannya hanya untuk di blog, buat sharing nggak diperjualbelikan. Tapi itu nggak membuat materi tersebut dengan bebas juga bisa kita ambil seenaknya.

Memang sih, biasanya ada aturan lebih strict buat commercial use. Kalaupun berbayar, biasanya juga bayarnya lebih mahal. Kita kan cuma pake buat sharing aja di blog. Buat tujuan baik kan? Masa enggak boleh?

Nggak boleh.

4. Google bukanlah penyedia stock photos


Sering saya temui, saat seseorang dikonfrontir mengenai foto yang dipakainya yang diambil sembarangan, jawabannya adalah, "Foto itu saya temukan di Google."

Yailah. Apa juga bisa kita temukan di Google, Mbak, Mz. Dan itu bukan berarti dengan bebas kita pakai. Google bukan penyedia stock foto-foto, apalagi foto gratis. Pada akhirnya ada kok statement Google pada akhir search-nya yang nge-klaim bahwa mungkin properti yang kita ambil itu copyrighted.

Menemukan materi di Google bukan berarti kayak menemukan harta karun. Google kan hanya mengumpulkan saja materi-materi yang sesuai dengan info yang ingin kita cari. Google BUKAN pemilik materi tersebut.
Mau tahu siapa pemiliknya? Bisa ikuti link yang tersedia.

5. I get it free, so I also can use it for free


Waini. Ya sami mawon.
Sama saja ini sama yang sudah-sudah di atas deh, penjelasannya.

Mendapatkannya secara gratis, bukan berarti bisa menggunakannya secara bebas. Termasuk ikutan workshop gratisan, bukan berarti juga dengan semena-mena menggunakan materi workshop tersebut dengan bebas. Lihat apakah materinya for internal use only? Atau ada disclaimer lain? Materi workshop gratis, di-compile, lha kok terus dijual. Aaaak. Sakhittt!

Ya, pokoknya kita harus bijak. Misalnya sudah ada disclaimer bahwa materi yang kamu gunakan itu free to use, sebaiknya tetap ada pertanggungjawaban yang menyertainya.
Ok?


Baiklah. Kalau begitu, kalau sudah paham nih mengenai serba serbi materi online, dan kamu menemukan konten kamu tiba-tiba nongol di tempat lain tanpa seizin dan sepengetahuan kamu, lalu apa yang harus kamu lakukan?



Steps you can do

Lakukan langkah-langkah ini tidak dengan emosi ya!


1. Cari kontak si pemilik web atau blog pengambil konten


Biasanya selalu ada keterangan nama pemilik atau kontak di sebuah web atau blog. Coba kamu telusuri antara lain di:
  • Laman Kontak
  • Laman About Me
  • Laman Credit atau kru
  • Footer
  • Sidebar
  • Author badge, ini biasanya ada di bagian akhir dari postingan, kayak di blog ini noh, di sana di bagian bawah.
  • Email link, cari link yang ada keterangannya "mailto: ..."
Kalau nggak ketemu juga, kamu bisa minta bantuan ke Whois Domain Tools di whois.domaintools.com.

Buat nyari data pemilik web atau blog

Caranya, tinggal kamu masukkan saja URL web atau blog yang pengin kamu lihat datanya. Nanti akan kelihatan deh, data web tersebut terdaftar atas nama siapa, juga ada emailnya. Bahkan alamatnya.

Memang banyak sih web yang anonymous. Tapi seenggaknya kita berusaha cari tahu kan ya?

2. Kontak si pemilik web atau blog


Yang pertama harus kita ingat, bahwa kita jangan sampai berperilaku yang sama jahatnya dengan si pengambil konten ini. Kita harus tetap profesional, dan perlihatkan bahwa kita juga punya etika meski kita adalah pihak yang benar dan dia yang salah. So, JANGAN SAMPAI NGEBULLY.

Nggak perlu sampai bergotong royong mengerahkan massa untuk menyerang si pengambil konten. Bullying, dalam bentuk apa pun dan tujuan apa pun, itu nggak bener. Meski, kalaupun akhirnya dia dibully, pastikan BUKAN kita yang mengajak orang-orang untuk ngebully. Kadang memang everything is out of control kalau yang seperti ini terjadi di dunia maya ya. Tiba-tiba saja bola salju menggelinding begitu kencang, tanpa bisa dihentikan. Yah, kalau sudah gitu sih ... *kedik bahu*


Baca juga:  Cyber Bullying is a Habit 


Akan lebih baik jika kita menghubungi si pengambil konten tersebut via japri. Email dengan sopan, dan pastikan poin-poin ini ada dalam email kamu:
  • Informasikan konten yang diambil, akan lebih baik jika kamu menyertakan konten asli dari kamu (jangan lupa tanggalnya harus kelihatan ya), dan konten yang ada di dia yang diambil dari kamu (sertakan tanggalnya juga)
  • Pintalah credit link atau namamu atau apa pun yang menyebutkan bahwa kamu pemegang asli materi konten tersebut ditambahkan dalam kontennya.
  • Pastikan kalimat-kalimat kamu bernada terbuka akan dialog ya. Jangan bernada mengancam, jangan bernada emosional. Tetap tenang, dan berikan dia kesempatan untuk menjawab.
Nah, kalau sudah kamu kirimkan email biasanya sih ada dua kemungkinan:
  • Dia sadar penuh bahwa sebenarnya dia nggak boleh ngambil konten orang sembarangan tapi ngeles.
  • Dia nggak tahu bahwa ngambil konten orang tanpa izin itu ilegal, dan kemudian ngeles dengan beberapa alasan yang sudah saya sebutkan di paling atas sana.

3. Kumpulkan bukti

  • Screen capture semua konten yang dia ambil, dan jangan lupa screen capture konten kamu juga yang dia ambil itu ya. Lalu buat perbandingan.
  • Simpan semua bukti dialog dan korespondensi dengan si pengambil konten yang sudah kamu lakukan. Jika ada tanggal-tanggal dan bisa kamu urutkan sesuai kronologi kejadian sih akan lebih baik.
  • Temukan saksi pendukung, yaitu teman-teman kamu yang bisa menyatakan bahwa konten kamu asli dan lebih dulu published ketimbang si pengambil konten.


4.  Report!


Nah, kalau dia keukeuh bin ngeyel, kamu pun bisa meminta takedown.

Kalau kebetulan blog atau web dia ada di wordpress.com, which means dia ngeblog di wordpress gratisan, wordpress sendiri menyebutkan secara jelas dalam Term & Condition-nya.

By making Content available, you represent and warrant that:
... the downloading, copying and use of the Content will not infringe the proprietary rights, including but not limited to the copyright, patent, trademark or trade secret rights, of any third party…

Jadi, pada prinsipnya, kamu bisa melaporkannya pada Wordpress.
Begitu juga di Blogspot. Saya pernah juga minta takedown ke blogspot, karena kebetulan blog si pengambil konten ada di blogspot gratisan. Dan, responnya cukup cepat. Lebih cepat dari perkiraan saya. Kira-kira dua atau tiga hari setelah saya report, Blogspot sudah menghapus artikel kopas di blog si pengambil konten.

Mengenai pelaporan dan penghapusan konten dari Blogspot kamu bisa akses di sini, sedangkan Wordpress di sini.
Kamu juga bisa meminta ban dari Search Engine. Kalau yang ini, mendingan kamu baca sendiri di sini ya. Langsung saja ke source-nya, biar jelas.


Nah, lalu kalau sudah 'mengatasi' si pengambil konten, sekarang kita harus menambah proteksi terhadap konten kita ya, tentunya. Ada beberapa langkah yang bisa kita ambil. Yahhhh, bukan untuk menyetop sama sekali *karena ini jelas GA MUNGKIN* tapi setidaknya meminimalisir kemungkinan dikopas.



Langkah-Langkah untuk Mencegah Konten Kita Diambil

Cegah sedari kita mulai publish.

1. Signature


Untuk foto atau image atau infografis, jangan lupa untuk menambahkan signature. Mau watermark ataukah sekadar signature di satu bagian dari foto atau image, it's enough. Jangan sampai juga mengganggu pemandangan ya. Karena kadang kalau peletakannya nggak tepat, itu kok ya bikin kelilipan.

Untuk watermark, kamu bisa menggunakan Photoscape atau Photoshop. Untuk tutorialnya bisa kamu lihat di sini. Sama saja sebenarnya prinsip mau pakai Photoscape atau Photoshop.
Kalau nggak punya Photoscape atau Photoshop, kamu bisa bikin via PicMonkey atau Pixlr atau Canva atau BeFunky. Hmm, kapan-kapan deh saya bikin tutorialnya ya.

2. Tambahkan script anti kopas


Kalau di Wordpress self hosted, ada plugin namanya WP Copyright Pro. Kalau sudah diinstal, dia bisa membantu kamu mencegah pencurian konten dengan cara disable klik kanan dan juga sorotnya.

Mas Febriyan Lukito pernah bahas lengkap mengenai anti kopas di Wordpress self hosted. Ada di sebelah sini ya.

Kalau di blogspot, ada script HTML khususnya. Sila digugling aja ya, banyak tutorialnya.

3. State your policy


Nah, ini nih. Barangkali kamu perlu menambahkan semacam disclaimer atau warning, bisa kamu taruh di laman About Me, atau di sidebar juga bisa.

Kalau kamu tidak memperbolehkan pengambilan kontenmu sama sekali, state it out.
Kalau kamu memperbolehkan diambil tapi dengan izin, state it out.
Kalau kamu memperbolehkan kontenmu free to take dan free to use, state it out.

Saya juga belum sempat menambahkan ini di laman About Me. Semoga segera bisa saya tambahkan ya :)

4. Ikhlas


Waini. Jangan ketawa dulu ya.
Jadi begini, toh nothing’s new under the sun, dan apa pun yang sudah kita publish ya, akan jadi milik publik. Jadi ketika mau mencet tombol publish, tekankan pada diri sendiri bahwa kita ikhlas mem-publish karya kita itu.

Karena, seperti yang sudah saya sebutkan di awal, yang seperti nggak akan bisa hilang musnah selama masih ada proses kreativitas. Daripada ngomel sana ngomel sini nggak berenti-berenti karena karyanya dikopas, maksudnya, yaaa ngomel sih boleh-boleh aja. Namanya juga menumpahkan kekesalan. Gimana nggak kesel, kita yang mikir, orang lain yang dapet kerennya. Iya kan?

Tapiiii, bentar aja. Nggak usah lama-lama. Mendingan, dipake aja itu rage power-nya menjadi karya lain yang lebih dahsyat. Berkarya lagi, menulis lagi, foto-foto lagi, dengan lebih bagus! Dikopi lagi, bikin lagi yang lain yang lebih bagus! Dikopi lagi? Yaa, bikin lagi! Gitu terus. (as I write here)


Who agree with me?


Dan ingat. Jika kamu sebal dan jengkel karena ulah orang lain yang mengambil konten sembarangan, maka kamu juga jangan melakukan hal yang sama.

Nah, apakah kamu punya pengalaman konten kamu diambil orang tanpa izin atau tanpa sepengetahuan kamu? Gimana rasanya? Dan, apa yang kamu lakukan?
Cerita dong!
Karena pekerjaannya yang 'free', apakah kemudian penampilan juga jadi ikut 'free'?


Mentang-mentang bekerja di rumah, lalu kita bisa seenaknya pakai baju? Ah, nggak ada janji ketemuan sama klien ini, mandinya ntar aja dan boleh dong pakai piyama seharian.
Ya emang sih, sebagai seorang freelancer, kantor kita adalah di mana laptop kita berada. Mau di meja makan, di kamar tidur, di dapur ... atau kalau saya, kadang juga berarti nulis di food court mal atau nulis di taman.

Namanya juga FREElancer, ya kita bebas mau menyelesaikan tugas kita kayak gimana juga. Termasuk mau pakai baju kayak gimana pun.

Well, sebenarnya itulah kesalahan kita.

Berdandanlah meski seharian hanya di rumah

Barangkali karena toh nggak akan ketemu siapa-siapa seharian, makanya kita pikir ya nyantai aja sih. Apalagi emak-emak kayak saya. Selain kerja, juga kadang diselingi main sama anak-anak, siapkan makanan buat mereka. Bahkan di tengah-tengah kerja, juga harus ganti galon air mineral. Kebayang kan, kalau bajunya nggak nyantai? Bakalan bikin mood nggak enak juga.

Namun menjadi freelancer, nggak lantas membuat kita bisa seenaknya juga sih. You know what, bahwa sebenarnya mood kerja kita juga dipengaruhi oleh apa yang kita kenakan lho. Coba aja deh, buktikan. Satu hari, kamu cobalah nggak mandi dan pakailah daster atau piyama seharian. Lalu lain hari, cobalah mandi sepagi kamu bisa dan kenakan pakaian yang pantas selayaknya orang yang bekerja. Ya kamu nggak perlu pakai A skirt dan blazer kayak orang kantoran gitu juga sih. Tapi minimal, kenakan baju dan bawahan yang layak meski santai. Misalnya, kalau perempuan ya, jeans legging dipadu dengan blouse longgar yang santai motif bunga-bunga yang nggak gerah dipakai.

Coba deh, rasakan beda mood-nya.

So, sarannya ya harus punya beberapa baju yang pantas namun santai untuk dipakai selama bekerja hanya di rumah. Favorit saya adalah celana legging ¾ dan blus yang panjangnya melebihi pantat dari bahan yang adem. Atau celana aladin juga enak banget. Kalau mendadak perlu keluar, juga ngga bingung. Lagian kadang kalau buat pekerja freelance yang nge-remote perlu juga sesekali skype-an sama klien. Masa iya, klien mau di’suguhi’ baju daster?

Sesuaikan dengan klien

Selain itu, sebagai freelancer, kita harus belajar untuk menyesuaikan diri secara cepat, terutama dalam hal penampilan, dengan klien. Jika kamu bekerja untuk klien perusahaan, maka saat harus meeting atau ketemuan, kenakanlah pakaian yang formal. Kalau klien kamu adalah perusahaan start-up, di mana dress-code-nya lebih nyantai seperti jeans dan T-shirt, ya sesuaikan saja.
Emang penting banget bagi kita untuk bisa nge-blend dengan klien ya.

Lho, jadi harus punya banyak baju dong? Hmmm, iya, mau nggak mau seorang freelancer memang akan memerlukan lebih banyak style penampilan ketimbang pekerja lain, karena ya itu tadi, kita bekerja secara bebas pada siapa saja.

Nah, makanya kayak saya gini bakalan selalu mantengin kali-kali ada online shop yang lagi sale. Iya, jadinya ya, jangan salahkan emak-emak yang suka banget sama diskonan ya. Soalnya ya itu, keperluan lebih banyak ketimbang uangnya. LOL. Jadi harus pinter-pinter spending-nya.

Sale, memang lantas jadi momen yang ditunggu. Dan, kapan itu ada sale? Sale itu juga musiman. Sekarang sudah menjelang Ramadan dan Lebaran kan? Iyes, musim sale sebentar lagi tiba!

Dimulai oleh Lazada nih, Gaes!

Ramadhan Festival di Lazada! Yippie! Diskonan!

Dari tanggal 1 Juni hingga 11 Juli 2016, Lazada ngadain Ramadhan Festival, di mana produk-produknya akan didiskon hingga 80%.

Yep, 80%!

Memang sih kalau dilihat-lihat, produk fashion yang didiskon merupakan fashion muslim, tapi ada banyak juga tuh yang bisa jadi pilihan buat nambah koleksi pakaian ala freelancer kita. Kayak yang ini misalnya.

Diskon 65%, Gaes!


Can you see the price? Uwow!

Ya, gitu deh. Lagian, saya sudah beberapa kali belanja di Lazada Indonesia, dan belum pernah dikecewakan. Semoga enggak pernah ya. Hehe. Momen sale kayak gini, nggak akan saya lewatkan demi bisa upgrade penampilan saya, apalagi kalau bisa menambah produktivitas kerja.

So, ayo siapkan ATM-nya sekarang, sisihkan bujet. Biar bisa belanja dengan smart pas sale-nya udah dimulai.


Ayo, persiapkan mulai sekarang!

Menjadi freelancer itu sedap-sedap ngeri.


Lho kok gitu? Iya, terutama terkait sama pendapatan. Yah, sebenarnya sih saya seharusnya nggak usah khawatirlah ya. Kebutuhan sehari-hari bisa dibilang sudah dipenuhi sama suami. Cukupnya sih cukup. Ah, manusia ya. Mau dikasih berapa pun, ya bilangnya nggak cukup. Hahaha. Iya nggak sih? :)) Tapi ... saya bilang, cukup kok. Namanya hidup, kalau berlebihan juga nggak asyik kan? Nah, kalau dari suami cukup, lalu memang bisa dibilang pendapatan saya sebagai freelancer itu sekadar buat “jajan”, dan keperluan-keperluan darurat. Saya sama suami sendiri juga bersepakat untuk menabung masing-masing. Berapa? Terserah masing-masing juga. Bahkan bisa dibilang saling nggak ngasih tahu, biar surprise nanti kalau pas mau pecahin celengan. Hihihi.

Anyway ...
Namanya orang, selalu ada saja keperluannya. Pada akhirnya, kondisi darurat selalu menjadi alasan mengapa uang tabungan akhirnya kepakai. Lha terus? Padahal saya nabung itu buat bekal pensiun. Apalagi suami juga karyawan swasta. Kami harus membuat dana pensiun ala kami sendiri. Nah, kalau suami pendapatan bisa teratur, lha saya? Kadang sebulan nggak dapat job sama sekali, kadang ya lumayan ramai sampai-sampai nolak *eaaaa* karena takut keteteran.

Lalu, gimana saya bisa mengelola pendapatan yang nggak teratur itu hingga bisa memenuhi kuota? Eh, kok kuota sih. Apa ya namanya? Alokasi dana apa ya? Beugh, jangan diketawain ya. Saya dulu paling anti sama mata pelajaran ekonomi, apalagi akuntansi. Ya intinya, saya pengin bikin dana pensiun, tapi masih bisa jajan-jajan lucu sama anak-anak saya, plus beliin mereka mainan, baju, buku dan lain-lain.

Dan kemudian ... pucuk dicinta ulam tiba. *tsah* Saya pun datang ke acara edukasi oleh Manulife Indonesia bertajuk “Investasi. Reksa Dana Manulife” di Dixie Cafe pada akhir April lalu (iya, iya, ini memang postingan yang paling telat dari yang tertelat dah. Jangan omelin saya ya.) Ah, begitu mencerahkannya acara ini bagi seorang freelancer macam saya. Padahal saya datangnya telat lho. Huhuhu. Maafkeun.

Sebenarnya berapa banyak sih kita harus saving untuk dana pensiun nanti?

80% untuk keperluan hidup, 20% ditabung

Tentunya, berapa banyak yang harus ditabung itu tergantung akan keperluan kita saat sudah pensiun nanti. Catatan, saya dan suami sendiri sudah punya asuransi untuk kesehatan dan juga pendidikan. Jadi memang tinggal pensiun saja nih yang belum ada.

Dan maunya, saat pensiun nanti, meski fisik sudah nggak produktif tapi penginnya sih ya tetap bisa menjalani kehidupan yang seperti sekarang. Lalu, mau gimana lagi selain ‘makan’ dari uang tabungan? Makanya pemilihan jenis investasi sebagai tabungan itu sangatlah penting.

Jadi, berapa sih standarnya kita nabung, supaya pada saat pensiun nanti kita bisa memenuhi standar gaya hidup selayaknya yang kita jalani sekarang ini?

Well, dari hasil riset sana sini, ternyata kebanyakan pakar finansial menyarankan, secara kasar kita hanya boleh mempergunakan 80% dari pendapatan kita untuk biaya hidup. Lha, 20%-nya? Ditabung, demi masa depan yang lebih terjamin. Lebih khusus lagi, demi masa pensiun yang indah. Tapi tabungan biasa itu sebenarnya malah bikin kita ‘kehilangan uang’ secara diam-diam. Kenapa? Ada pajak, ada biaya administrasi. Padahal bunga nggak seberapa. Kalau uang kita nggak memenuhi saldo tertentu, bisa jadi uang bukannya safe di tabungan bank, malah jadinya berkurang. Nggak jadi nabung, yang ada ‘ngasih makan’ bank. Havft. Nggak jadi saving 20% dong jadinya ya.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan?

Kita harus cari cara menabung yang lain. Kita bisa saja investasi dengan emas, properti dan lain sebagainya. Tapi, karena nilainya besar. Risiko pasti juga lebih besar. Jadi?
Ternyata jawabannya ada pada Reksa Dana.

Mengapa Reksa Dana?

 

Beberapa keunggulan Reksa Dana dibandingkan jenis investasi lain


Karena Reksa Dana mempunyai keuntungan antara lain:
  1. Lebih aman, karena dikelola oleh manajer investasi dan diadministrasi oleh bank kustodian yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Sebentar, apa itu manajer investasi dan bank kustodian? Manajer investasi, kalau secara sederhana bisa diartikan sebagai perusahaan pengelola si saham reksa dana yang kita beli, dalam hal ini adalah Manulife. Sedangkan, bank kustodian adalah bank umum yang bertanggung jawab untuk menyimpan dan menjaga portofolio efek dalam Reksa Dana.
  2. Lebih mudah. Dengan Reksa Dana, investor tidak perlu sibuk mengelola setiap investasi yang dimilikinya. Ada manajer investasi yang bertugas mengelola portofolio investor.
  3. Lebih terjangkau. Sementara investasi lain memerlukan puluhan atau ratusan juta, investasi di Reksa Dana Manulife bisa dimulai dari Rp100.000,-. Yep, that’s right. You read it right. Cuma butuh Rp 100.000 di awal, dan kamu bisa menambahnya kapan pun kamu mau.
  4. Hasil investasi Reksa Dana tidak dipotong pajak. Yaaa, jadi ‘gaji’ yang diterima nanti tetap utuh, saudara-saudara.
  5. Dapat dicairkan kapan saja. Jika kamu menginginkan dicairkan, kamu tinggal mengajukan permintaan pencairan hari ini sebelum pukul 13.00, maka besok pagi dana kamu sudah akan masuk ke rekening bank kamu. Nggak rumit, nggak belibet deh.
Lalu apa nggak ada risiko sama sekali?

Hmmm, semua investasi pastilah punya risiko masing-masing ya. Risiko terbesar dari Reksa Dana adalah saat nilai investasi anjlok. Sebabnya? Ada banyak sih. Ah, ini mah urusan yang berwenang ya soal sebab musababnya nih. Tapi, sependek yang saya tahu, anjloknya nilai investasi ini bisa sedikit dikurangi kerugiannya kok. Saya pernah baca artikel di salah satu portal web kesayangan saya *eheum* yang kebetulan di salah satu artikelnya membahas mengenai keuangan keluarga.

Bahwa risiko nilai investasi anjlok ini bisa diatasi dengan yang namanya averaging down, atau meminimalisir kerugian. Contohnya begini, kita beli saham reksa dana senilai Rp 100.000 dan kita mendapatkan 100 lembar.  Berarti kan satu lembarnya, saham tersebut senilai Rp 1.000 ya. Kalau harga turun ke Rp 900, jangan langsung dilepas. Tapi kita justru harus membeli lagi, katakanlah 100 lembar lagi. Berarti harga sahamnya jadi Rp 90.000 kan? Nah, dengan jumlah saham 200 lembar, kita punya nilai nominal Rp 190.000. Nah berarti harga belinya jadi Rp 950. Ya, rugi sih karena tadinya kita kan beli dengan harga Rp 1.000, tapi juga nggak rugi terlalu banyak kayak kalau kita jual seharga Rp 900.

Hahaha. Semoga bener nih ya, logikanya. Sebagaimana yang pernah diterangkan oleh Mas Dani Rachmat di artikel yang ini.

So? Risikonya bisa dibilang saaaangat minimal. Yang penting, jangan panik dulu saat nilainya anjlok. Segera hubungi manajer investasi dan kemudian konsultasi saja. Kalau bisa diminimalisir kerugiannya, tanpa harus melepas, lebih baik tetaplah berinvestasi seperti semula.

Lalu, mengapa harus Reksa Dana Manulife?


Karena, Manulife punya #klikMAMI.

#klikMAMI ada untuk memudahkan


“#klikMAMI adalah situs transaksi online Reksa Dana Manulife yang dapat Anda akses dari mana pun dan kapan pun Anda inginkan.”
Begitu Manulife menjelaskan.

And, you know what? Ternyata ada data yang menyebutkan, bahwa dari 200 juta penduduk Indonesia, yang mau berinvestasi Reksa Dana hanya sekitar 200 ribu saja. Kenapa? Karena ribet! Investor musti datang ke kantor manajer investasinya, berkonsultasi berjam-jam, kemudian belum prosedur pencairan dana yang juga lama dan belibet. Padahal, sebenarnya investasi Reksa Dana ini termasuk investasi yang paling mudah lho, apalagi sekarang nggak butuh dana yang terlalu banyak kan?

Pilih produk yang kamu minati dan paling menguntungkan untukmu

Karena itu #klikMAMI ada.

#klikMAMI ini dapat diakses melalui berbagai device, termasuk PC, tablet, telepon pintar selama bisa nyambung ke internet. Hanya dengan mengakses #klikMAMI doang, kita sudah bisa membuka rekening investasi Reksa Dana Manulife.


Mudah diakses dari mana saja!


Ada form aplikasinya di sana, segera isi saja. Yang diperlukan cuma KTP dan nomor handphone yang masih aktif. Segera setelah terdaftar sebagai investor Reksa Dana Manulife, kita sudah bisa mulai bertransaksi, mau melakukan pembelian, pengalihan ataupun pencairan. Kita juga bisa memonitor transaksi, memperbarui data, juga ngeliat perkembangan Reksa Dana Manulife.

Kita bisa melakukannya sambil jegang (angkat kaki ala angkringan) di rumah, sambil lagi nunggu ketemuan sama klien, atau sambil nongkrong-nongkrong ngemil tahu bulat yang digoreng dadakan. Nggak perlu datang ke kantor Manulife!

As easy as a click!

Merencanakan Masa Depan Sudah Tak Menakutkan Lagi

Masa depan, here I come!

Masa depan itu menakutkan. Simply karena kita nggak tahu apa yang bisa terjadi di masa mendatang. Makanya, kita harus sudah bersiap sejak #sekarangaja. Dan ternyata, sudah masa depan nggak ada kejelasan, merencanakannya pun kadang terasa begitu menakutkan. Gimana enggak? Ini yang dipertaruhkan adalah masa depan, Gaes! Kalau kita salah perencanaan, imbasnya bisa sangat besar buat hidup kita. Bener nggak?

Makanya, ayo mulai pilih investasimu sejak sekarang. Mumpung masih pada produktif dan muda. We never know what happens tomorrow kan?


Jangan percaya kalau ada yang bilang begini tentang ngeblog ya!

"Ngeblog aja, ntar kamu bisa dapat uang."

Hmmm ... Saya sempat melihat komen atas status yang  mengatakan begitu. Dan sumpah, jemari saya gatelll banget buat menimpali komen tersebut. :)) Setengah idup rasanya menahan diri! Hahaha.

Setelah melalui beberapa pengamatan dan pemikiran mendalam *halagh* kemudian, saya pikir-pikir lagi, ternyata ada beberapa hoax mengenai blogging yang sering saya dengar sekilas dua kilas di sekitar saya. Terutama sih biasanya dikatakan oleh seorang blogger untuk meracuni orang lain (yang belum ngeblog) untuk ikutan bikin blog.

Sebenarnya saya pernah menulis kurang lebih mengenai permasalahan yang sama di web Kumpulan Emak Blogger beberapa waktu yang lalu.

Tapi, ternyata masih ada beberapa hal lain yang belum tercakup di dalamnya.
So, buat kamu-kamu yang pengin mulai ngeblog, dan mendengar kalimat atau ucapan atau ajakan seperti ini, percayalah, ini hoax adanya!

1. "Blogging itu murah kok, gampang pun!"


Please deh ...


Blogging murah?
Blogging gampang?
Hmmm ...

Let's say.
Memang sih, ada domain gratisan yang bisa dipakai. Tapi setelah itu?
Butuh smartphone buat mendukung, yah minimal yang bisa ambil foto dengan bagus? Needless to say if there is mirrorless it will be priceless, huh?
Butuh laptop untuk nulis? Yang tadinya nulis cukup pakai handphone, lalu ngebayangin kalau pakai laptop pasti lebih enak ya?
Terus, diundang ke acara blogger? Harus naik CL, terus disambung Transjakarta, terus disambung gojek?

Belum lagi kuotanya, cyin ....

Blogging gampang?
Pertama cukuplah dengan template bawaan blogspot atau wordpress. Tapi lho, kok blog orang lain kok bagus sih? Kok bisa begini sih? Begitu sih? Caranya gimana? Googling ah.
Setelah googling, coba ah. ARGH! Kok ga bisa?! Apanya yang salah?

Pertama kali, memang kamu akan bilang "Nggak kok, gini aja cukuplah. Kan cuma buat diary-diary-an."
Yeah yeah yeah ... let's see in ... maybe 6 months?

2. "Ngeblog aja, biar bisa dapat uang banyak. Juga bisa jalan-jalan ke mana-mana."

 

Wah? Dapat uang banyak? Asyik banget!


Wahhh ... enaknya ya, ngeblog! Diem di rumah, nulis, terus uang mengucur dengan sendirinya. Plus bisa jalan-jalan ke mana-mana! Oh iya, jangan lupa gudibek berbagai acara yang bisa saja isinya smartphone versi terbaru!

Terus, mulai deh ngeblog. Pengin dapat uang juga. Pengin jalan-jalan. Pengin dapat smartphone gratis!
...
Enam bulan berlalu.
Kok nggak ada duit? Katanya nulis doang dapat duit?
Kok nggak ada yang ngasih tiket gratis jalan-jalan?
Kok nggak ada smartphone?

Oh! Katanya kalau adsense, bisa deh kita dapat dolar.
Satu bulan kemudian ...
Kok ditolak lagi ditolak lagi sih, permohonan adsense-nya?!
Ihhh!

I'm telling you, kalau kamu memulai ngeblog karena alasan supaya dapat uang (dengan cepat dan banyak dan mudah), lebih baik urungkan saja niatmu.
Dan, kalau ada yang bilang begitu padamu, bilang saja, "Pret!"

3. "Ngeblog kan tinggal nulis doang! Gampang!"

 

Ahahaha ... haha ... haha ... ha. Pfft!


Iya, gampang kok!
Lima menit juga selesai itu tulisan tentang parenting, tentang wisata kuliner, tentang review produk kecantikan, juga tentang tekno-tekno itu! Belum lagi yang fashion. Wu, gampang! Tinggal poto-poto doang. Upload selesai!
Gampang!
Pffft!

4. "Pembaca itu akan datang sendiri!"

 

Datang sendiri? Riiiight ...!

Datang sendiri?
Tell me, bagaimana mereka bisa tahu, kalau kita nulis tentang mimpi kita, tentang jatuh cintanya kita, tentang drama-drama kita?
Like, mereka akan begitu saja nyasar?
Memangnya blog kita langsung bisa ditemukan gitu, di antara jutaan blog yang lain, kalau kita nggak pernah memperkenalkan blog kita? Kalau kita nggak melakukan ini itu supaya blog kita dikenal?

5. "Update tiap hari aja, ntar bisa nambah pageview kok!"

 

Eh .. Ya ampun. Marlon Brando ganteng banget mudanya yah! *lah, captionnya lospokus*

Yea right. Kenapa mereka harus datang ke blog kita, kalau tulisan kita meaningless, pointless, story-less?
No, seringnya kita update blog tidak berbanding lurus dengan pageview, literally.
Pageview berbanding lurus dengan kualitas tulisan kita, itu baru bener.
Pageview berbanding lurus dengan manfaat yang kita berikan pada pembaca, itu baru bener.
Mau seminggu sekali, mau setiap hari, kalau tulisan kita nggak penting, ya tetep aja nggak penting. Sesekali mungkin orang akan datang, barangkali karena mereka "nyasar". Ya, peluang itu memang selalu ada. But, menaikkan pageview?
Hmmmm ...

Iya, bisa. Tapi postinglah artikel yang nggak ngasal.

6. "Ide itu akan datang dengan sendirinya."



Tring!

Ide itu macam harta karun. Kalau nggak dicari, dia akan makin lama aja nongolnya.
Sekali ini mungkin emang bisa datang dalam lima menit, yang berikutnya mungkin lima jam. Berikutnya lagi mungkin lima hari.
No, ide itu tukang PHP. Kadang udah datang aja, suka tiba-tiba pergi nggak pamit.

So, ide datang dengan sendirinya? Memangnya jelangkung? Datang tak dijemput, pulang tak diantar?
Ketimbang diPHPin, kalau saya, mendingan gerak duluan.

7. "Ikutan workshop blogging banyak-banyak! Ntar blog kita akan langsung melejit."

 

Hahaha. Becanda aja sih, kelakuan.

Wow! Asyik banget kalau beneran bisa gitu!
 But, sorry, folks! Datang ke banyak workshop, ikutan banyak pelatihan nulis, baca tips-tips ini itu sehari 1.000 artikel, nggak akan ada gunanya, kalau nggak kita praktikkan. Karena apa? Karena segala macam tips dan trik itu juga bersifat relatif. Yang dikasih oleh pemateri belum tentu cocok kita terapkan pada diri kita sendiri. Kita tetap harus nyobain, dan kemudian memilah mana yang bisa kita pakai dan mana yang enggak.
Hasil juga beda-beda, Gaes! Ada faktor X yang ikut memengaruhi setiap proses pembelajaran. Tahu sendiri kan, anak-anak sekolah itu juga nggak ada yang sama hasil belajarnya. Ya, kecuali kalau mereka semua nyontek!
So, kalau pakar A bilang A, belum tentu hasil terapan kamu akan A juga. Bisa B, C, dan kemungkinan 23 alfabet lainnya.


Nah, ada yang mau nambahin lagi, hal hoax apa saja yang sering didengar seputar blogging?
Dan, please ya, jangan boongin orang dengan ucapan-ucapan di atas.
Artikel ini pernah tayang di www.RedCarra.com

Kadang tanpa sadar, kita telah melakukan cyber bullying pada seseorang. Bijaklah!


Beberapa waktu yang lalu entah karena apa, tiba-tiba saja saya menelusuri mengenai pengertian cyber bullying. Lupa sih saya, apa pemicunya. Yang pasti, agar mempersingkat cerita juga, pokoknya langsung membawa saya ke wikipedia.
Dan menurut wikipedia, pengertian cyber bullying adalah sebagai berikut.

Cyber bullying adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet. Cyber bullying adalah kejadian manakala seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.

Cyber bullying dianggap valid bila pelaku dan korban berusia di bawah 18 tahun dan secara hukum belum dianggap dewasa. Bila salah satu pihak yang terlibat (atau keduanya) sudah berusia di atas 18 tahun, maka kasus yang terjadi akan dikategorikan sebagai cyber crime atau cyber stalking (sering juga disebut cyber harassment).

Ada yang aneh nggak dalam pengertian tersebut?

Saya, terus terang merasa aneh pada kalimat ini: segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui dunia cyber atau internet.

Jadi hanya berlaku untuk anak dan remaja? Padahal sering saya lihat orang dewasa juga melakukannya. Orang dewasa seusia anak-anak kuliahan, anak-anak kantoran, bahkan emak-emak kayak saya.

Image via Pittsburgh Public Schools


Karena saya nggak puas, maka saya kembali menelusuri. Lalu bertemulah saya dengan web ini. Dan di sana ternyata lengkap dibahas mengenai cyber bullying ini, dan lumayanlah memuaskan rasa ingin tahu saya. Nah, saya mau sedikit menuliskan kembali deh ya, apa yang dimaksud dengan cyber bullying menurut infopsikologi tersebut. Supaya bisa jadi catatan dan pengingat diri saya sendiri.

Cyber bullying adalah perlakuan kasar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, menggunakan bantuan alat elektronik yang dilakukan berulang dan terus menerus pada target yang kesulitan membela diri. Singkatnya, cyber bullying adalah bullying yang dilakukan melalui bantuan internet atau telepon seluler berikut peranti-perantinya secara berulang-ulang dan terus menerus.

Image via tes(dot)com


Lalu apa saja yang bisa dikategorikan sebagai cyber bullying? Berikut akan saya tulis beberapa saja ya, yang sering saya lihat di sekitar saya aja (sebenarnya semua juga sering saya lihat, tapi saya lagi pengin bahas yang di bawah ini aja sih :) )

  • Menyebarkan gosip, berita bohong, atau menebarkan intimidasi, ancaman, kebencian melalui status, pesan singkat, komen dan lain sebagainya dengan media internet atau ponsel.
  • Para pencuri identitas online, para hacker yang mengambil akun facebook, twitter, email, instagram dan lain sebagainya untuk tujuan jahat.
  • Meneruskan (forward) atau membagikan (share) gambar atau foto pribadi orang lain tanpa izin, membagikan informasi pribadi orang lain ke publik juga tanpa izin.

Dan lain-lain. Kamu bisa lihat sendiri di blog infopsikologi ya :)

Dari situ saya lalu merenung, dan menanyakan hal-hal ini pada diri sendiri.

Apakah pernah karena satu perkara, saya lalu 'menyerang' orang?


Pernah. Dulu waktu masih 'belum terlalu bijaksana', saya pernah membully plagiat. Saya arahkan beberapa teman lain untuk ikut menyerang dia. Saya tahu plagiat memang bentuk lain dari cyber crime, pelakunya juga jahat. Tapi apakah saya lantas membuat diri saya lebih baik dengan membullynya begitu? Yang saya lakukan malah membuat diri saya sendiri sama dengannya.

Ah. Saya sebenarnya punya cerita banyak mengenai plagiarism ini. Sudah kenyang rasanya terlibat kasus seperti ini. Sebut saja, desain saya yang pernah dicuri oleh mantan bos saya, atau dongeng-dongeng di situs dongenganak.com yang diangkut ke beberapa situs nggak bertanggung jawab, juga ada artikel di Rocking Mama yang saya temukan di akun media sosial lain, baik yang menyebutkan sumber ataupun tidak.

Yang jadi bahan pelajaran saya berikutnya adalah menegur atau bicara tanpa tendensi bully, lalu ikhlaskan. Jika memang pelaku tersebut melakukan lagi, berarti itu memang mental. And that's not our problem, right? Itu menjadikannya bukan derita kita. Tapi derita dia sebagai plagiat.

Apakah pernah saya mengambil foto orang tanpa izin, lalu membagikannya di media sosial sebagai bahan ejekan atau candaan?

Image via blog Kaspersky

Sependek yang saya ingat, belum pernah. Maafkan, kalau ternyata ada yang saya jailin gitu ya. Ingatkan saya, untuk tak melakukannya lagi. Seingat saya, saya hanya pernah membuat meme dari Christina Aguilera, dan dari fotonya Misae ibunya Sinchan. Sepertinya saya juga tak pernah men-share foto teman-teman tanpa izin, seperti misalnya foto teman dari WA, saya share ke facebook atau gimanalah. Saya sendiri nggak pernah suka foto saya dijadikan meme, makanya saya juga menghindari untuk melakukannya.

Tentang meme ini, beberapa waktu yang lalu seorang selebtwit saya lihat sedang pamer hasil temuannya di akun Twitter pribadinya.

Ceritanya sih, dia penasaran dengan salah satu model meme lalu mencoba menelusurinya. Saat si selebtwit mulai memberi tautan ke akun google si model meme, saat itulah saya mulai mengernyitkan muka. Buat apa coba? Apalagi kemudian makin liar tak terkendali. Tiba-tiba saja ada foto keluarga si model meme, dengan istri dan anaknya. OMG! Saya tak bisa tidak membayangkan perasaan si model meme. Kira-kira rela nggak tuh, keluarganya dibawa-bawa dan dijadikan bahan tertawaan?

Kalau berkilah, "Ah, dia juga seneng kan jadi terkenal." Memangnya semua orang mau gitu jadi terkenal, tapi karena jadi bahan candaan? #Menurutngana

Waktu itu saya langsung ngetweet.


Ada beberapa tanggapan yang masuk. Tapi yang paling jleb adalah tanggapan dari Mbak Lusi Tris.

Bener banget! Saya ingat pernah baca tulisan Mbak Lusi mengenai pentingnya mem-blur wajah orang yang terambil kamera candid yang akan kita posting di blog. Kesannya semacam, ih aturan banget, bikin nggak bisa berekspresi dengan bebas. Tapi, sebelum berkomentar begitu, ada baiknya juga kita bertanya pada diri sendiri, apakah foto candid yang kita buat itu tak berarti mengekang kebebasan orang lain juga, tak mengganggu privasi orang lain juga?

Nanti kalau kejadian kayak di berita ini gimana?

Anak Ruben Onsu 'dijual' via Instagram


Saya mikirnya nggak hanya berhenti di foto anak-anak saya doang. Tapi juga barangkali ada foto anak-anak lain yang pernah ketangkep kamera saya, saya unggah tanpa maksud jahat, tiba-tiba diambil orang tak bertanggung jawab? Semenyesal apa saya kalau kayak gitu?

Cyberbullying is a habit


Mau nggak mau, kita memang harus hati-hati. Hati-hati nggak hanya siapa tahu kita bisa jadi korban. Hati-hati juga supaya kita nggak menjadi pelaku. Kadang kita juga jadi terjebak jadi ikutan ngebully lho.

Contoh nih.

Pernah saya ditanya oleh seorang teman lagi. "Yang benar Perancis atau Prancis penulisannya?" Saya jawab, "Kalau di kantor saya kerja, masih memakai Prancis. Konon, ini masih jadi polemik yang mana yang benar. Jadi Prancis dan Perancis masih sama-sama bisa digunakan." Lalu si teman komen lagi, "Soalnya kalau di grup traveling, pada bilang yang bener Perancis. Kalau pakai Prancis bisa dibully."

Lalu saya cuma ketawa. Well, karena bully is a habit. Itu jawaban saya pada si teman yang langsung juga ikut tertawa.
Padahal kalau mau dibahas, di beberapa situs rujukannya masih 'Prancis', konon di KBBI versi buku yang betul juga masih 'Prancis'.

Sadarkah kita, bahwa ngebully itu semacam membawa perasaan super pada diri kita sendiri? Semacam "Gue ini lebih baik dari orang lain.". Semacam afirmasi, bahwa aku ini hebat. Coba deh dirasakan. Bener nggak kesimpulan saya? Saya mah bukan orang psikologi, tapi I'm a good observant. Lagipula, saya juga sering kok merasakan itu. Dan saya rasa, manusiawi banget.

Sehingga begitu ada kesempatan kita bisa terlihat lebih baik, maka kesempatan itu lantas kita pergunakan sebaik-baiknya. Termasuk dengan cara ikutan membully segala sesuatu yang sebenarnya kita tak tahu akar permasalahannya.

Hati-hati juga curhat di media sosial. Media sosial memang sangat membantu menyebarkan informasi, tapi bisa berarti pisau bermata dua *tsah*. Maunya curhat atau komplain karena kepuasan kita sebagai pelanggan tidak bisa dilayani dengan optimal, misalnya, malah berbuntut nggak enak. Apalagi kalau terus dibully, dihujat dan sebagainya. Apalagi kalau terus curhatan kita discreenshoot dan disebarluaskan dengan tidak bertanggung jawab. Dan seperti yag sudah saya bilang di atas, hati-hati jangan sampai kita juga menjadi pelaku bully. Hati-hati klik tombol 'share', bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas screenshoot dan lain sebagainya.

Karena bagaimanapun, insting manusia itu 'menguasai'. Saat dia berhasil 'menguasai' yang lain, dia akan puas.

Saya bukan sedang memulai sebuah kampanye anti cyberbullying atau apa sih. Hanya saja, saya pengin ngajak supaya kita semua berhati-hati. Jangan menjadi korban, dan jangan sampai menjadi pelaku. Tolong ingatkan saya ya, kalau ada yang melihat saya lagi ngebully orang. :) Saling mengingatkan.

Image via Wikipedia

Hati-hati, (cyber) bullying is a habit.

BookReview Contest - Blogging: Have Fun and Get the Money


Halo, semua :)

Saya datang membawa hadiah buat kamu-kamu yang sudah membeli dan membaca buku saya yang kedua, Blogging: Have Fun and Get the Money nih!


Blogging: Have Fun and Get the Money

 

Cara Ikutan BookReview Contest Blogging: Have Fun and Get the Money

  1. Tulis review kamu mengenai buku Blogging: Have Fun and Get the Money ini di media sosial. Ha? Di media sosial? Iya, kamu bisa post book review kamu di media sosial mana pun yang kamu punya; Facebook status, Facebook notes, Twitter dalam bentuk twitpic atau tweet berseri, Instagram, Blog, Goodreads ... Anywhere!
  2. Nggak ada batasan jumlah kata, ataupun cakupan review. Kamu boleh bebas menuliskan kesan-kesanmu terhadap buku ini. Bahkan, semakin kreatif kamu memberikan review maka semakin besar pula peluang kamu untuk menang. Jangan kaku-kaku banget kayak mau dimuat di koran. Make it fun!
  3. Sertakan foto buku Blogging: Have Fun and Get the Money dalam reviewmu, ya. Boleh foto bukunya aja atau fotomu sedang bersama buku ini. Jangan lupa, rules-nya juga sama. Makin kreatif fotonya, makin besar pula peluang kamu untuk menang
  4. Follow/Like akun penerbit: [klik] Twitter/Facebook/Instagram Stiletto Book (pilih salah satu sesuai media yang kamu pakai)
  5. Follow/Like akun penulis: [klik] Twitter/Facebook/Instagram Carolina Ratri (pilih salah satu sesuai media yang kamu pakai)
  6. Follow/Like akun sponsor: [klik] Facebook/Instagram Toko Saladin (pilih salah satu sesuai media yang kamu pakai)
  7. Tag/mention saya dan Stiletto Book ya. Sertakan hashtag #BloggingHaveFun.
  8. Tulis link review kamu di kolom komen, supaya nggak tercecer.
  9. Book Review Contest ini berlangsung dari tanggal 12 April - 12 Mei 2016. Pemenang akan diumumkan tanggal 22 Mei 2016.


----------------------------- UPDATED! -------------------------------



Hai!
Sudah nungguin siapa pemenang BookReview Contest inikah?

Setelah jalan-jalan ke satu per satu review yang sudah dituliskan, saya banyak mendapatkan masukan sekaligus feedback dari teman-teman lho. Mau tahu apa saja hasil saya selama jalan-jalan kemarin?
Boleh deh, saya kasih secara singkat ya :)

  1. "Mengapa buku ini baru hadir  sekarang? Nggak dari dulu-dulu?"
    Hahaha. Bahkan saya mengerjakan buku ini selama satu tahun. Mengapa? Karena saya masih merasa kurang pengetahuan mengenai printilan-printilan ngeblog, meski saya sudah ngeblog selama kurang lebih 10 tahun. Banyak hal yang harus diriset, harus ditanyakan dulu pada yang lebih ahli, banyak yang harus dipertimbangkan perlu atau enggak ditulis dalam buku. Saya nggak pengin buku ini 'menyesatkan'. Pada akhirnya saya sampai di kesimpulan, ngeblog itu dunia yang keras, kawan! :))
  2. "Ngeblog nggak harus menghasilkan uang."
    Iya, ada yang menanggapinya dengan sepenggal kalimat di atas. Dan saya mengamininya. Siapa yang mengharuskan? Buku saya pun rasanya juga enggak mengharuskan.
  3. "Saya masih suka menulis gado-gado, nggak berniche."
    Meski dalam buku saya sarankan untuk lebih spesifik dan fokus dengan niche dengan berbagai pertimbangan dan keuntungannya, lifestyle blog tetaplah menjadi salah satu niche blog yang banyak dicari oleh brand jika kamu mau memonetize blog kamu. Yang penting kategorisasi harus jelas dan rapi, dan target pembaca kamu juga jelas. Blog saya almarhum, www.RedCarra.com, juga berniche lifestyle. Advertiser yang tertarik mengajak kerja sama umumnya menyukai target pembaca saya, yang mayoritas adalah perempuan dan ibu muda. So, keep the lifestyle ya, asal yakin di situ.
  4. "Nggak ada tutorial mempercantik blog, nambah widget, dan pernak pernik blog lainnya dalam buku ini."
    Betul, dan ini memang sengaja. Buku ini sedari awal pengin saya tujukan pada mereka yang sudah punya blog dan mau mengoptimalkannya. Saya anggap segala macam teknik mempercantik blog bisa kamu temukan dengan sangat mudah di internet juga sudah banyak dibahas di buku-buku tutorial ngeblog lainnya., dan saya nggak perlu merangkumnya lagi di sini. Penginnya sih, para blogger lebih fokus pada kegiatan ngeblog itu sendiri dengan meningkatkan kualitas tulisan mereka.
  5. "Nggak ada pembahasan mendalam mengenai Adsense di buku ini."
    Ah, bahkan pembahasan mengenai adsense pada akhir buku ini merupakan tambahan yang disarankan oleh editor. Saya sendiri nggak main di Adsense, lagipula, saya sudah sering menjumpai buku-buku membahas khusus mengenai Adsense. SEO dan Adsense saya kira adalah dua topik yang kalau dijabarkan mendalam, akan membutuhkan ruang satu buku sendiri ya :)) Jadi, yang saya tulis dalam buku ini memang hanya hal yang paling mendasar saja, sependek pengetahuan saya.
  6. "Kok blognya masih ditulis www.redcarra.com? Padahal sudah ganti ke www.carolinaratri.com."
    Hahaha. Iya, saat buku ini masuk ke proses cetak, blog saya almarhumah itu masih bisa diakses dan ditulisin. Begitu buku ini launched, ternyata udah matik. Huhuhuhu. Nggak mungkin kan ngulangin proses cetak cuma buat ngeganti alamat blog. Duh, jadi sedih lagi deh. T__T Hiks.
Oke, udah ah, prolognya. Panjang amat. Kalau ada pertanyaan yang belum saya jawab atau ada yang belum saya tanggapi, please please feel free untuk colek saya di mana pun ya. Twitter, Facebook, email, semua bisa kok :) Dan, saya janji akan segera respon. Tentu saja kalau saya lagi online ya. Hihihi.

Dan, setelah melalui pergulatan batin, review-review inilah yang saya pilih menjadi pemenang BookReview Contest ini.

Pemenang 1

Kaus Blogging: Have Fun and Get the Money (pilih model cowok/cewek), 1 kain batik, 1 jam dinding kayu, paket buku Stiletto Book (judul sesuai ketersediaan)

Rahayu Pawitri

Pemenang 2

1 kaus Blogging: Have Fun and Get the Money (pilih model cowok/cewek), 1 kain batik, paket buku Stiletto Book (judul sesuai ketersediaan)

Uniek Kaswarganti
Semua Yang Penting dari Blogging

Pemenang 3


1 kaus Blogging: Have Fun and Get the Money (pilih model cowok/cewek), 1 pashmina, paket buku Stiletto Book (judul sesuai ketersediaan)

Komang Ayu Kumaradewi aka Mandewi
Blogging: Have Fun and Get The Money

Ketiga pemenang, selain telah mengikuti semua persyaratan yang ada dengan lengkap, masing-masing juga mempunyai keunggulan. Yaitu, mereview buku ini dengan cara yang asyik, menambahkan konten yang menarik, dan juga bahkan ada yang ngasih lihat bahwa sudah mempraktikkan apa yang saya tulis di buku.

Karena itu, selamat!
Saya tunggu data dirinya (nama, alamat dengan kodepos, no HP yang masih berlaku, dan model (cewek/cowok) serta ukuran kaus yang dimau) di email mommycarra@yahoo.com, untuk pemrosesan hadiahnya ya.
Keputusan juri nggak bisa diganggu gugat ya ;)

Untuk teman-teman lain yang belum beruntung kali ini, saya ucapkan terima kasih juga atas keikutsertaannya ya. Means a lot to me, saya jadi punya banyak masukan, feedback, dan juga PR untuk mengembangkan diri saya lebih luas lagi. Feel free to contact me kalau pengin berdiskusi ya :)

BookReview Contest Blogging: Have Fun and Get the Money ini didukung sepenuhnya oleh Toko Saladin dan Stiletto Book. Thank you so much! Muah!
Toko Saladin. Shop and be happy!

Be Smart and Sexy with Stiletto Book!

Keep blogging, everyone!

Uji nyalimu dengan menulis di media lain!



Menulis di blog sendiri?
Banyak banget keuntungannya. Kita bebas berekspresi, kita bebas mau menulis apa saja semau kita. Mau liat sebagaimana bagus tulisan kita? Coba ikutan lomba, atau giveaway, yang memaksa kita untuk menulis sesuai 'aturan'. Kalau menang, berarti ada kemungkinan tulisan kita sudah lumayan bagus.

Saya sendiri saat menulis di blog pribadi menggunakan indikator komen dan sharing untuk mencari tahu, apakah tulisan saya sudah cukup bagus dalam artian bisa menjawab permasalahan dan bermanfaat untuk orang lain atau belum.

Tapi ... indikator seperti ini juga nggak selalu bisa dijadikan patokan. Selain itu, masa nggak kepengin mencoba sesuatu yang baru?
Pengin nantangin diri sendiri untuk menulis bagi pembaca yang jangkauannya lebih luas?
Pengin sedikit keluar dari zona nyaman?
Pengin lebih terkenal?

Nah, kalau gitu, coba menulis untuk website lain!
Kalau di luar sudah banyak sekali website, blog atau UGC yang menyediakan tempat bagi para penulis untuk menjadi penulis tamu, atau guest writer, atau guest blogger.
Sebentar, UGC?
Apa itu UGC?

UGC adalah singkatan dari User Generated Content. Adalah website-website yang kontennya diisi oleh para user, biasanya sih terdiri atas banyak user. Kalau di Indonesia contohnya adalah Kompasiana.
Blog itu sebenernya juga termasuk UGC sih, terutama yang masih gratisan macam wordpress, blogspot atau tumblr. Tapi pada akhirnya kan blog ada yang berdomain sendiri dan kemudian dikelola oleh perseorangan ya. Jadi yang kayak gitu, jadinya nggak termasuk UGC lagi.
Social media itu sebenarnya juga bisa dikatakan sebagai UGC.

Nah, di Indonesia memang belum banyak UGC yang benar-benar user friendly, dengan ada editor dan bisa memberikan keuntungan bagi kontributornya, misalnya jangkauan pembaca yang luas, fee kompensasi meski nggak banyak, tulisan diedit oleh tim editor internal hingga kita bisa belajar menulis lebih baik.

Tapi, kalau kamu mau coba a bit stepping out of your comfort zone aka blog, kamu bisa mencoba menulis di 8 situs berbasis UGC rekomendasi saya ini.

1. Boomee.co



Boomee.co

Kalau saya lihat-lihat, ini target pembacanya adalah young adult. Antara 18 - 35 tahunlah ya. Image-image-nya kayaknya unik, kemungkinan mereka punya desainer sendiri untuk membuat segala macam meme dan image.

Kalau soal audience, nggak kelihatan sih view per artikelnya. Meski di Fanpage, sudah di-like oleh 20ribu orang, tapi engagement-nya rendah. Tapi boleh juga kalau mau dicoba :)

2. Hipwee


Hipwee.com
Nah, untuk saat ini, Hipwee paling megang traffic UGC di Indonesia ya kayaknya. Ini karena target audience-nya adalah para millenials hingga Gen-X nyambung semua. Untuk kepopuleran, well, bisa dilihat nih dari top shared article di Hipwee ini.

Most shared article dengan 416.143 shares
Scoop topiknya luas banget, tapi ya kayaknya yang harus sesuai dengan anak muda ya.
Sayangnya, kabarnya sekarang artikel ter-publish tanpa terfilter oleh editor lagi. Jadi, masalah tata tulis, ya sudahlah ya.

3. Rocking Mama


RockingMama.id
Nah, kalau ini ... anu ...
Ya pokoknya yang satu ini target audience-nya buat emak-emak muda usia 23 - 40 tahun. Penulisnya sih bebas, boleh mas-mas, om-om, bapak-bapak, adek-adek, embak-embak, tante-tante, eyang-eyang. Bebas. Asal topik dan gaya bahasanya ditujukan buat para mahmud aka mamah muda.

Berada di bawah management Zetta Media, UGC ini juga punya editor, seperti UGC yang lain, yang menjaga kualitas tulisan agar tetap prima dan tetap enak dibaca meski pakai bahasa gaul sehari-hari. Editornya nggak galak kok, malah cenderung nggak tegaan. Tapi ya jangan disalahartikan ya. #eaaaa

Untuk pageview sih, masih kalah ketimbang portal Zetta yang lain, yang punya range target audience yang lebih luas. Tapi yah, bisa dibilang berkembang. Jadi, kalau pengin punya pembaca lebih luas dan juga tulisan yang diedit menjadi bagus, ya silakan uji nyali dengan mengirimkan tulisan ke Rocking Mama :)
*sruput es teh dulu biar nggak awkward*

4. Zetta Media Portals: Trivia, Ributrukun, Virala, Moola, Kamantara dan lain-lain


Trivia.id
Nah, ini nih 'kakak-kakak'nya Rocking Mama.
Sebenarnya kita 10 bersaudara ya. Tapi yang sementara ini yang ngehits ya dua ini; Trivia.id dan Ributrukun.com

Trivia hampir sama dengan Hipwee, baik target audience maupun topiknya. Nah, kalau Ributrukun itu bisa dibilang hampir mirip sama Rocking Mama, karena ngomongin soal keluarga juga iya, mirip ke Kamantara yang sama-sama portal Zetta dan ngomongin soal self wellness juga bisa (meski nggak sedalem Kamantara).
Pageview-nya? Udah jutaan dua-duanya.

Silakan uji nyali menulismu di sana ya. Dan dapatkan 'ketenaran'mu. Halah.

Ributrukun.com
 Selain Trivia dan Ributrukun, juga ada Virala.id (UGC khusus industri kreatif), Kamantara (self wellness), Moola (keuangan), Rula (untuk cewek-cewek), LevelUp (bisnis), Bagaya (portal khusus cowok) dan Bola Media (khusus berita sepakbola).
Silakan kepoin satu-satu :) Semua menerima kontribusi tulisan dari umum dengan topik masing-masing.

5. Medium


Medium.com
Awalnya saya kira Medium ini UGC berbahasa Inggris, sampai kemudian saya lihat salah seorang teman penulis share artikel yang dia tulis di Medium, yang menggunakan bahasa Indonesia. Barulah saya ngeh, ternyata bisa juga kita nulis dalam bahasa Indonesia di UGC ini. Jadi, saya baru aja sign up kemarin, dan belum banyak bereksplorasi.

Kalau dilihat-lihat, boleh juga kalau dijadikan tempat untuk backlink ke blog kita.

6. Katanium


katanium.com
Yang ini termasuk baru nih. Mungkin usianya baru beberapa bulan. Konon, situs ini diciptakan sebagai tempat interaksi para blogger Indonesia. Kita boleh mengisinya dengan artikel baru, maupun memfungsikannya untuk perujuk traffic ke blog kita.

Lumayan kan?

7. Mojok.co


Mojok.co
Nah, kalau suka topik bahasan yang serius, satir, sinis dan agak nakal, kamu bisa nyoba nulis di Mojok.co. Ini UGC dikelola oleh timnya Puthut EA.
Pageviewnya sih belum sebombastis UGC yang lain ya, tapi Mojok punya 'masyarakat' sendiri yang sangat loyal, kalau saya amati. Lingkarannya juga cukup distinctive, unik.
Nggak seperti UGC yang di atas, Mojok menawarkan honorarium untuk setiap artikel yang lolos dan dimuat. Karena itu pastinya filternya lebih ketat.

Cocok banget buat uji nyali kan? :D

8. Basabasi


Basabasi.co
Nah, kalau kamu punya passion di dunia sastra yang sebenar-benarnya, kamu bisa gabung ke basabasi.co. Di sana ada ruang bebas untuk nulis cerpen, puisi, cerber, review buku sastra dan sebagainya.
Kalau tulisan kamu lolos, seperti Mojok.co, basabasi.co akan memberi kamu honorarium yang cukup lumayan.


Nah, itu dia situs-situs UGC yang bisa banget kamu coba, untuk mengasah keterampilan menulismu, uji nyali apakah tulisan kamu sudah benar-benar bagus atau barangkali perlu diperbaiki.

Kamu menulis di blog pribadi sih oke, tapi sampai seberapa jauh sih kamu bisa menjangkau pembaca? Pasti terbatas. Kalau kamu pengin expanding your audience, menulis di situs lain adalah salah satu cara yang sangat efektif, meski nggak dibayar. Apalagi kalau kemudian kamu diizinkan untuk menautkan blog kamu di situs tersebut. Kalaupun enggak, minimal, nama kamu akan dibaca oleh orang. That's branding.

Kebanyakan sih udah mikir duitnya duluan, jadi entah sadar apa enggak, hal itu membuatnya kerdil dalam berpikir.
Think about something you will gain more. Duit akan datang kemudian kalau nama kamu sudah dikenal, kalau kamu sudah punya portfolio. Barangkali kemudian kamu akan ditawari oleh brand-brand besar untuk mengisi situsnya karena salah satu stafnya baca artikel kamu di suatu tempat yang selain blogmu.

Tapi, nggak usah ngoyo juga. Sesuaikan semua dengan irama kita masing-masing. Sambil mengasah kemampuan, kita juga menambah wawasan. Juga networking.

Yuk, tingkatkan value diri sendiri dengan menulis dan terus menulis!
Karena komen selalu menjadi 'indikator' kesuksesan kita menulis artikel

Artikel berikut adalah artikel yang saya tulis berdasarkan pengamatan saya pada blog sekitar saya. Kalau blog saya yang ini sih, komen masih agak berbanding lurus dengan gencarnya saya share link dan promosi konten. Jadi, orang-orang masih jarang datang karena mereka memang pembaca setia blog ini, ataupun karena mereka menemukannya di SERP. Lagipula komen rata-rata di blog ini juga baru sekitar 20 komen aja setiap artikelnya. Kalah jauhhhhh sama para seleblog :)

Tapi justru itulah yang memacu saya untuk mengamati, dan ini adalah catatan pengamatan saya. Semoga saya bisa mempraktikkannya satu per satu, supaya lebih bisa menarik banyak komen.

Mengapa komen artikel itu penting?
Well, nggak perlu dimungkiri lagi sih ya, bahwa komen selalu menjadi 'indikator' kesuksesan kita menulis artikel, baik di blog sendiri maupun kalau kita menulis untuk web atau blog lain. Meski sebenarnya juga bukan merupakan indikator mutlak sih, karena saya lihat banyak juga artikel lain yang benar-benar bagus tapi nggak mengundang komen, but people do search the information. Orang-orang datang, mengambil informasi yang bermanfaat, lalu pergi lagi tanpa meninggalkan komen.

Buat saya pribadi, komen adalah satu bentuk perhatian yang diberikan oleh pembaca atau si pengambil informasi. Dan perhatian tersebut akan memicu kita untuk menulis lebih baik. Betul nggak?
Nggak jarang juga, para ahensi brand itu ngelihat interaksi di blog kita, sebelum akhirnya memutuskan apakah kita layak untuk diajak kerja sama.

Nah, terus gimana ya, bisa mendapatkan komen yang banyak? Kadang kita udah gencar memromosikan artikel yang sudah kita buat. Berharap mendapatkan pageviews, tentu saja, dan bonus dikasih komen. Tapi kok tetep aja komennya dikit amat? Padahal sudah dipromosikan ke mana-mana.

Well, dari pengamatan saya, ada beberapa tipe artikel blog yang sangat potensial mengundang komen.

1. Artikel yang gampang dikomenin


Eits, jangan meremehkan dulu.
Syarat pertama agar dapat banyak komen adalah artikel harus gampang dikomenin. Orang harus dengan mudah menemukan di mana dia harus komen kalau dia memang ingin meninggalkan komen kan? Lha, kalau kolom komennya aja disembunyiin, terus kita musti petak umpet gitu komennya?

Captcha itu juga menyulitkan bagi beberapa orang. Kadang huruf captcha-nya juga nggak jelas, udah gitu musti nungguin muncul gambar-gambar untuk dicocokkan. Kadang si pengunjung nggak punya kuota dan waktu yang banyak buat printil-printil tersebut.

Menggunakan third party juga nggak terlalu memudahkan pengunjung untuk komen. Misalnya, pake facebook comment plugin. Iya sih, maksudnya bagus, biar yang komen juga langsung share di wall facebook mereka kan? :) Well, menurut saya pribadi sih, nggak semua orang suka membagikan apa yang dibacanya di beranda facebook. It's kind of privacy thingy. Ada juga lho, yang nggak suka facebook-an. Membuat komen dengan facebook comment plugin akan memaksa mereka untuk login ke facebook kan? Dan itu akan membuat mereka memilih untuk nggak komen, dengan alasan yang mereka sendiri yang tahu.

Disqus, dan juga komen via Google+, itu juga kurang bersahabat. Disqus karena 'memaksa' kita untuk bikin akun di Disqus. Google+ juga begitu. Jadi susah kalau seumpama nggak punya akun Disqus atau Google+.

2. Artikel yang punya konten yang bagus


Aih, abstrak dan klise banget nih yang ini.
Yang kayak apa itu artikel dengan konten yang bagus? Well, ada beberapa petunjuk sih di artikel saya yang ini.

Paling gampang untuk mengecek apakah artikel kita worth to comment adalah dengan bertanya pada diri sendiri right after we finish the article.
Kira-kira, kalau aku baca artikel seperti ini, aku bakalan tertarik untuk komen nggak ya?
Jawablah, dengan menyingkirkan kemungkinan, bahwa "iya, aku akan komen, demi sopan santun" atau "iya, aku akan komen, karena kemarin aku udah dikomenin sama si penulis". Tapi lebih ke, "iya, aku akan komen karena aku punya pengalaman yang sama/berbeda", misalnya. Atau "iya, aku akan komen, karena aku baru tahu informasi ini dan aku pengin berterima kasih pada si penulis". Atau "iya, aku akan komen karena aku punya informasi tambahan yang barangkali bisa ditambahkan".

Keliatan kan, bedanya? Pssst, tolong jangan baper dulu. Memberi komen atas nama sopan santun itu sih bagus banget. Tapi mengapa saya nggak merekomendasikan pertanyaan tersebut untuk ditanyakan pada diri sendiri dalam hal ini? Ya, karena dorongan itu nggak murni dari dalam diri sendiri. Tapi lepas dari itu, silakan aja sih, mau ngomen yang kayak gimana juga :)) Ini kan untuk menguji aja kan, apakah kita mau ngomenin artikel tersebut karena memang menarik.

3. Artikel yang relevan dengan pembaca


Artikel yang menuliskan pengalaman atau hal-hal yang sering dijumpai oleh banyak orang, pasti lebih mengundang komen. Apalagi kalau di akhir artikel ditambah dengan pertanyaan terbuka untuk memancing pembacanya untuk berbagi pengalaman. Wih, pasti deh, banyak komennya.

Misalnya, saya dulu di blog Redcarra.com, pernah menulis tentang saya yang mengalami pelecehan seksual. Sampai dengan blog itu akhirnya matik, artikel tersebut paling banyak dikomenin. Dan, yang komen, adalah mereka-mereka yang juga mengalami pelecehan seksual tapi nggak berani bersuara. Bener-bener bikin miris. Setiap kali saya baca komen baru di artikel tersebut, rasanya hati saya teriris. Dan saya yakin, banyak pula yang merasakan hal yang sama saat membacanya. Pada akhirnya memang cerita saya tersebut saya sediakan bagi mereka yang pengin curhat mengenai pelecehan seksual yang dialami tapi nggak berani menceritakannya. Semoga dengan bercerita di artikel tersebut, ada sedikit kelegaan yang menyelusup ya. Meski sama sekali nggak mengatasi masalah sih :-|

Nah, tentang pertanyaan terbuka di akhir artikel nih. Menurut beberapa ahli, ada dua jenis pertanyaan; yaitu pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup. Hmmm, contoh langsung aja deh.

Pertanyaan tertutup:
Kamu suka travelling?
Jawaban "Ya" atau "Tidak", and that's it.
Apa warna favoritmu?
Jawaban: merah, biru, hijau. And that's it.
Punya hewan peliharaan apa di rumah?
Jawaban: kucing, anjing, burung. And that's it.

Pertanyaan terbuka:
Kalau kamu, gimana sih cara kamu merencanakan liburan? 
Jawabannya: biasanya sih aku akan nyari dulu saran-saran di TripAdvisor, lalu kumpulin info-info penginapan, objek wisatanya. Baru sortir lagi, mana yang cukup murah. Bla bla bla. (panjang)
Menurutmu, lebih baik pilih warna merah atau biru ya untuk kamarku ini?
Jawaban: Biru lebih baik, soalnya ... bla bla bla.
Kalau kamu, apa yang paling susah soal memelihara binatang di rumah ini?
Jawaban: Kandangnya. Karena rumah agak sempit, jadinya ... bla bla bla.

Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan "ya", "tidak", atau jawaban langsung yang lain, yang cukup pendek dan sudah jelas.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang menuntut jawaban dan penjelasan lain, misalnya tips, atau alasannya.

Kalau di Wordpress sih, kita bisa tahu ya kalau kita udah ninggalin komen di blog lain, terus si pemilik blog nge-reply. Hingga kemudian bisa terjadi diskusi yang berkepanjangan. Sayangnya di blogspot nggak bisa. It will be great kalau kita bisa diskusi seperti ini. Untuk bisa memancing komen lebih banyak lagi, berinteraksilah dalam komen. Saya sendiri selalu berusaha menjawab setiap komen yang masuk :)

4. Artikel yang kontroversial


Haha. Yang ini sudah tahulah ya, yang kayak gimana.
Barusan juga rame soal artikel dari seorang travel blogger tentang pelabelan diri para blogger. Heh, saya sih nggak kenal sama travel blogger tersebut, tapi karena cukup rame dibahas di sana sini, ya akhirnya saya kepo. Baca sekilas, dan ... yahhh ... dia tentunya mendapatkan pageviews yang banyak, plus viral, PLUS komen yang banyak juga pastinya yah.

Artikel saya yang ada di Rocking Mama ini juga dibilang kontroversial.

Most viewed article di Rocking Mama


Waktu nulisnya sih ya, saya nggak ada alasan khusus. Tadinya sih rencananya kemudian akan ada semacam opposite attack-nya, macam "Jangan Pernah Katakan Hal Ini pada Ibu Bekerja". Tapi setelah melihat 'kengerian' viral dan komennya, saya malah jadi mati gaya :)) Artikel ini 'hanya' mendapatkan 70 komen di webnya, tidak termasuk replies. Yang terjadi di fanpage ternyata lebih lagi :))

Hampir 2M reached, 4.600 share, di-Like oleh 42K, 177 komen

Sampai dengan saat ini, saya masih belum bisa mematahkan rekornya :)) Bangke.
Meski mungkin terbantu karena di-boost berbayar, tapi artikel lain yang di-boost juga nggak segini amat.

Artikel kontroversial begini juga punya peluang besar untuk viral.

5. Artikel yang memberi informasi baru atau yang lagi ngetrend


Saat ada informasi baru atau yang lagi ngehits, biasanya akan membuat orang 'kebelet' untuk komen. Apalagi kalau informasi baru tersebut ternyata mematahkan informasi lama yang selama ini diamini oleh banyak orang.

Contoh, adalah heboh pas ada update peringkat DA/PA blog tempo hari. Yang kemudian diserbu adalah artikel-artikel tutorial bagaimana meningkatkan DA/PA dengan cepat. Juga soal dofollow-nofollow kemarin. Yang bisa ngasih informasi mengenai dofollow/nofollow kemudian diserbu dengan komen.

Seperti halnya artikel kontroversial, artikel yang 'riding the news' atau 'riding the trend' kayak gini, selain potensial mengundang komen, juga potensial untuk viral.

6. Artikel yang ditulis dengan passion


Ngakuin nggak, kalau kita akan lebih semangat menulis kalau kita menulis sebuah artikel yang sesuai dengan minat kita. Dan itu kerasa juga sampai ke pembaca lho.

Misalnya kayak saya nih. Gampang banget deh ketahuannya :)) Beberapa artikel bisa saya rasakan begitu mudah saya tulis, 1 - 2 jam selesai bahkan dengan image dan infografis yang bagus.
Ada beberapa artikel yang susyahhh banget buat diselesaikan. Tapi karena sudah kadung janji, atau sudah dipesan, ya harus dipaksakan untuk ditulis.
Pada akhirnya keliatan deh hasilnya kayak gimana. Padahal, konon katanya, penulis itu harus bisa menekan egonya.Tapi, ya balik lagi deh. Artikel adalah sebuah karya. Dan itu menuntut seni tersendiri untuk bisa menghasilkan karya yang bisa dinikmati. Kadang kita suka menulis satu topik tertentu, tapi karena memang topiknya kurang diminati orang akhirnya juga kurang sukses. Mau nulis artikel aktual atau nulis fiksi, menurut saya sih, sama-sama butuh seni sendiri-sendiri.
Tapi kenyataan bahwa minat dan mood penulis sangat berpengaruh pada karya, itu jelas nggak bisa diingkari.

7. Artikel yang dipublish di saat yang tepat


Saya kasih liat hasil survey dari Copyblogger ya.

Grafik via Copyblogger.com


Menurut Copyblogger.com, artikel yang dipublish saat weekdays tend to get more views, meanwhile artikel yang dipublish saat weekend tend to get more comments. Mungkin ini dikarenakan orang-orang punya waktu luang lebih banyak, sehingga mereka nggak buru-buru menutup artikel setelah mereka membacanya. Karena selo, akhirnya mereka pun ninggalin komen. Sedangkan kalau pas weekdays, mereka hanya sekadar membutuhkan informasi-informasi saja. Setelah mereka dapat informasi yang mereka butuhkan, ya mereka langsung capcus pergi karena masih pada sibuk sama kerjaan.
Hmmm.

Dan kemudian, coba lihat survey Copyblogger yang ini juga.

Grafik via Copyblogger.com



Komen paling banyak adalah pada artikel yang dipost di pagi hari, yaitu sekitar pukul 08.00 - 09.00. Mungkin ini karena orang-orang belum full bekerja ya. Jadi masih selo kasih komen di mana-mana.

Nah, mau coba? :D


Well, bagaimana dengan blog jurnal ini?
Komen terbanyak di blog ini adalah komen pada artikel 7 Kesalahan Umum yang Sering Dilakukan oleh Kita Saat Membuat Laman About Me. Mungkin yang dibahas bukan hal yang baru banget juga, tapi banyak yang meremehkan hingga nggak memperhatikan mengenai About Me ini, sehingga banyak yang baru nyadar bahwa laman About Me ini cukup penting bagi seorang blogger.
Dari komen-komen yang ada, kebanyakan sih merasa laman About Me-nya masih belum tergarap dengan baik, beberapa bahkan belum punya About Me.

Kalau kamu, artikel apa yang paling banyak dikomenin so far? Dan, menurutmu, mengapa artikel tersebut banyak dikomen?
Share ya! Coba kita lihat bareng-bareng.
Mungkin kamu bisa menemukan beberapa hal yang bisa kamu pergunakan lagi untuk membuat artikelmu yang berikutnya juga banyak dikasih komen.