Outline, menurut beberapa orang mastah menulis, merupakan alat wajib saat kita mau menulis. Outline bisa membuat tulisan kita jadi fokus dan rapi.

Saya sendiri juga mengamini kok kalau outline ini juga helpful banget, terutama kalau kita mau nulis agak panjang dengan topik yang di luar keahlian kita. Wah, harus banget nih.

Di bagian lain dari blog ini, saya pernah menulis tentang outline dan bagaimana mengembangkannya, dengan menggunakan rumus 5W 1H. Silakan kalau mau dibaca-baca yah.

Tapi, sering juga sih kejadian. Ah, malas amat pakai outline. Langsung tulis saja dah.
Kalau kayak gini mah, ya saya langsung tulis saja. Nah, terusnya, rumus 5W 1H-nya saya pakai untuk ngecek keruntutan cerita saya atau kelengkapan informasi yang saya tulis.

Kurang lebih sih kayak yang pernah saya lakukan saat menelaah tulisan Mbak Shanty Dewi Arifin di sini nih.

Memang outline ini sekadar tool. Kalau dirasa perlu, ya pakai. Enggak perlu, ya jangan dijadikan beban. Kalau saya sih intinya gitu.

Tapi, kalau tanpa outline, gimana caranya supaya kita nulisnya bisa tetap rapi, fokus, runtut dan mengalir ya? Meski nanti mungkin di akhir kita tetep cek juga dengan rumus 5W 1 H.


Langkah-langkah menulis artikel tanpa outline tapi tetap rapi, fokus dan mengalir


1.Tentukan topik yang fokus

Ini penting ya. Sedari awal kita harus sudah tahu, tulisan kita fokusnya di topik apa.

Misalnya nih, mau nulis tentang teknik menulis.
Lah, itu masih kurang fokus. Teknik menulis apa? Teknik menulis artikel.
Nah, sudah lebih fokus, tapi masih tetep kurang. Teknik menulis artikel yang gimana? Teknik menulis artikel dengan cepat.

Ha! Ini sudah lebih fokus lagi.
Mau difokusin lagi? Bisa.

Seenggaknya 6 - 10 kata mungkin sudah cukuplah.
Kalau sudah, jadikan ini sebagai judul sementara. Karena sudah pasti ada kalimat topik di situ, berarti keyword sudah masuk. Tinggal poles aja agar lebih menarik nanti.


2. Tentukan poin-poin besar yang ingin disampaikan

Selanjutnya, biasanya sih kalau saya nih, artikel yang dengan cepat bisa saya tulis tanpa outline adalah yang model listicle. Yang berpoin-poin gini. Jadi lebih ke jenis artikel how-to.

Kalau yang storytelling sih tetap bisa juga dibikin per poin, terus nanti poinnya akan menjadi subheading. Menulis storytelling dengan menggunakan subheading atau subjudul, ini juga akan memudahkan pembaca untuk scanning dulu sebelum mereka membaca keseluruhan cerita. Bikin mata nggak mudah lelah juga, plus bikin kita gampang juga nulisnya. Mau masukin internal link juga lebih mudah.

Nah, misal artikel ini.
Pas bikin, saya pun merumuskan poin-poinnya lebih dulu, yaitu:

  • topik
  • tentukan per poin
  • kembangkan masing-masing
  • closing
  • beri opening
  • cari/bikin gambar pendukung
  • self editing
  • basic SEO
  • tulis ulang judul



3. Kembangkan masing-masing

Kalau poinnya sudah lengkap semua, bisa langsung kembangkan deh. Untuk artikel how-to begini, langsung saja tambahkan keterangan masing-masing poinnya.

Saya biasanya sih memang nggak terlalu panjang per poinnya, atau per sub bahasannya. 5-6 kalimat itu sudah cukup, kalau poinnya ada 7. Kadang juga kurang, kalau poinnya sendiri sudah banyak. Lebih kalau poinnya kurang dari 7.

Ya, patokan total jumlah kata aja. Disesuaikan. Kalau 7 poin dengan 5-6 kalimat itu, ntar kalau sudah jadi juga biasanya sudah 700 kata minimal.


4. Akhiri dengan closing: kesimpulan dan call to action

Kalau per poin sudah terisi semua dengan lengkap, maka lanjutkan ke closing atau penutup.

Saya pribadi menilai, kesimpulan pada akhir tulisan itu penting. Semacam summary atau bottom line gitu. Atau, intisari dari yang sudah kita baca.

Misalnya, Emaks lagi nulis review produk. Nah, penting nih dikasih kesimpulan, jadi apa keunggulan produk tersebut, dan tambahkan call to action. Misalnya, ajakan untuk nyobain.


5. Tambahkan opening yang mengikat

Setelah closing sudah selesai, scroll kembali ke atas.
Nah, sekarang kita udah tahu kan, cakupan bahasan apa saja yang ditulis. Udah tahu apa yang ingin disampaikan kan? Sudah jelas pula apa misi kita.

Coba lihat lagi, barangkali ada hal-hal unik yang sudah ditulis dan dibahas, sesuatu yang beda atau yang belum pernah dibahas oleh orang lain.

Nah, cakupan bahasan, misi atau tujuan nulis, dan hal yang belum pernah dibahas itu mesti ditulis di bagian pembuka sebagai hook tulisan.

Terutama kalau ada hal yang belum pernah dibahas di web/blog lain nih. Mengapa? Karena semua keunggulan tersebut bisa membuat pembaca betah baca sampai selesai.

Misalnya artikel ini aja nih.

Poin terbesarnya adalah kadang kita malas bikin outline, tapi pengin bikin tulisan yang bagus.
Nah, ini harus saya tulis dan jelaskan di awal sebagai hook tulisan.

Yes, hook your readers pada 100 kata pertama, dengan menyebutkan keunggulan artikel dan mengapa mereka harus membaca sampai akhir.


6. Tambahkan konten  bonus

Selanjutnya, garnishing.

Pada titik-titik jenuh tertentu, tambahkan image. Atau mungkin mesti nambahin infografis. Atau sudah ada video yang siap ditambahkan juga.



7. Self edit/proof reading

Yep, ini penting.
Jangan lupa self editing. 

Kembali scroll dari atas, dan baca sekali lagi.

Apakah ada informasi yang kurang? Atau malah kelebihan? Ada bahasan yang melebar ke kanan dan ke kiri? Atau ada kata-kata yang kurang pantas? Ada typo?

Kalau mau, boleh dicek dengan 5W 1H. Jangan sampai ada info yang terlewat.


8. Check for on page SEO

Kalau sudah jadi artikel, cek On-Page SEO adalah hal selanjutnya yang harus dicermati. Apa saja yang perlu diperhatikan?


  1. Meta description: konon, ini sekarang yang paling penting di algoritma Google terbaru. Pastikan ada keyword di sini ya. menurut Hubspot, idealnya meta description ini terdiri atas 150 – 160 karakter. Meta description inilah yang akan muncul di search result Google kalau ada yang gugling.
  2. Hierarki artikel, gunakan H2, H3, H4 dan seterusnya untuk per poin atau per sub bahasan akan lebih baik.
  3. Internal link, tambahkan jika perlu. Perhatikan keywords yang ingin ditautkan dengan artikel lain ya.
  4. Alt text, nama file gambar, pastikan terisi semua dengan keyword.


9. Ulik ulang judul

Nah, semua sudah beres, kita bisa balik lagi ke judul.

Untuk menentukan judul ini memang perlu banyak latihan dan corat-coret. Kadang nulis artikelnya satu jam selesai, mikirin judul bisa seharian sendiri.

Di blog ini, saya pernah bahas tip bikin judul viral, juga ada artikel menelaah judul artikel-artikel viral Hipwee.

Boleh dilihat lagi, lalu coba ditiru deh cara bikin judulnya.


Baca juga: Meningkatkan Skill dan Produktivitas Menulis - Cepat Tapi Tetap Berkualitas


Memang ada banyak metode untuk bisa menulis dengan baik, sehingga menghasilkan artikel yang bagus, informatif dan insightful.

Tinggal kitanya aja nih, rajin latihan nulis apa enggak. Pilih saja yang paling cocok untuk kita yang mana, karena tiap orang punya kenyamanan sendiri-sendiri.

Selamat nulis!



Salah satu rahasia kekuatan seorang penulis adalah riset.

Mau nulis apa saja, kalau risetnya kuat, ya bisa saja ditulis--bahkan kalau topiknya kurang kita kuasai sekalipun.

Tapi, saya akan membatasi penulisan artikel populer saja ya di sini, misal untuk blog atau portal yang sifatnya fun dan ringan. Kalau untuk penulisan disertasi, tesis, whatever yang berat, yah, mungkin ini nggak cocok. Silakan cari tip di tempat lain :)))

So far, kamu ke mana saja kalau melakukan riset untuk artikel blog kamu?
Googling?

Ya, itu sih memang hal pertama yang selalu kita lakukan kan? Nanya ke Mbah Google, karena blio itu mahatahu.

Tapi, tahu nggak sih, ternyata ada banyak sekali situs-situs yang bisa banget kita manfaatkan saat riset. Bukan, bukan Googling sih, meski beberapa di antaranya memang milik Google tapi lebih spesifik lagi.

Sebagian sih sudah saya cobain, sebagian lagi belum tapi direkomendasikan oleh banyak mastah blogger luar. So, barangkali kamu mau coba duluan juga yes?
Kalau udah coba, boleh kasih tahu saya ya pengalamannya. Boleh ditulis juga di blogmu, nanti saya tautkan ke artikel ini.


4 Sumber riset online untuk tulisan



1. Google Scholar

Interface Google Scholar


Saya coba nyari dengan kata kunci "kesehatan wanita", yang keluar semua sumber terpercaya. Boleh dipakai, jangan lupa sebutkan sumber ya.


Yang satu ini adalah mesin pencari milik Google juga, tapi agak beda.
Mesin pencari ini adalah untuk mencari berbagai dokumen dan literatur ilmiah secara menyeluruh di banyak disiplin dan sumber. Termasuk di dalanya ada artikel, tesis, buku, abstraksi dan pendapat pengadilan, dari penerbit akademis, masyarakat profesional, repositori online, universitas dan situs web lainnya.

Kalau mau ambil sumber terpercaya ya nyarinya di sini. Yang muncul nggak sekadar tulisan di portal abal-abal, tapi bisa jadi hasil penelitian para profesor di beberapa universitas.



2. Google Trend




Yang ini beberapa dari kita pasti sudah familier ya, bahkan sudah sering kali pakai. Saya pun lebih banyak jalan-jalan ke sini ketimbang situs lain, karena saya lebih banyak nulis artikel populer.

Tentang Google Trend, saya sudah pernah nulis secara lengkap di blog ini. Silakan dibaca saja yah. Nggak perlu saya jelaskan ulang di sini.



3. HARO





Nah, yang satu ini belum saya coba sih. Tapi direkomendasikan oleh salah satu situs referensi saya, Social Media Today.

HARO (Help Reporter Out) memberi kesempatan pada para jurnalis dan blogger untuk mengakses database sumber untuk tulisan mereka, dan menawarkan liputan media yang terpercaya kepada akademisi secara daily basis.

“Writing an article, but don’t have the perfect source? Submit a posting with Help A Reporter Out and responses will begin flowing into your email box. Looking to become the front page of Time? Use the HARO emails to help other reporters out with their next big story.” — Social Media Today

Menurut Social Media Today sih, ada layanan gratisnya kok (meski mungkin aksesibilitasnya agak terbatas), dan juga ada yang berbayar.



4. Wolfram|Alpha




Nah, ini semacam ensiklopedia online. Lagi-lagi in english ya :P
Kalau kamu mengira Google udah yang paling pintar, coba yang satu ini deh :)))) Segala macam ada, dari mulai sejarah sampai matematika, dari mulai film sampai reaksi kimia. Hahaha.

Saya sih belum pernah memanfaatkannya secara maksimal. Cuma saya bookmark aja. Kali-kali ntar mesti bantuin anak-anak ngerjain PR kimia or fisika or math. #eh



Itu dia beberapa situs yang bisa kita manfaatkan untuk melakukan riset, selain tentunya dengan browsing melalui Google Search.


Anyway, ada beberapa tips untuk riset ala saya nih.


1. Cek dan ricek


Saat kita menemukan satu fakta, ada baiknya kita kroscek sekaligus ke beberapa source. Mungkin 2 atau 3 sumber sekaligus, lalu di-compare.

Saya biasanya sih membuka sekaligus 2 atau 3 artikel pendukung saat menulis satu artikel. Kalau ada pernyataan atau fakta yang sama, maka saya bisa menyimpulkan kalau fakta tersebut benar adanya.

Kalau ada perbedaan, maka saya pun mencari data/artikel pendukung yang lain.

Intinya, pakai metode overlap. Kalau faktanya overlap satu sama lain, berarti it's trustworthy enough.


2. Perhatikan kredibilitas situsnya


Ini paling penting ya, karena ada situs yang memang rada ngawur kalau bikin artikel. Kayak Tribun or Detikcom gitu, maap ya. Nggak bisa saya percaya sepenuhnya.

Kalau seumpama soal kesehatan, ya saya biasanya ngecek ke Alodokter, atau HelloSehat.
Atau, biasanya sih saya lebih ke majalah online, seperti misalnya ke parenting.co.id untuk topik parenting, atau Ayahbunda. Kalau fashion, saya ke Elle atau Marie Claire.

Jadi semisal Googling, ya situs-situs yang masuk daftar A itu yang saya prioritaskan untuk dicek. Meski yang muncul di page one nomor 1 itu Tribun atau Detikcom, tapi saya tetep biasanya ke daftar A dulu.


3. Temukan ahlinya


Tip riset paling oke sih ya bisa menemukan sumbernya langsung.
Misalnya, saya mau nulis soal online shop, ya langsung deh kumpulkan teman-teman yang punya online shop, lalu minta interview.

So, kalau punya teman-teman tuh ya dibikin database coba, siapa yang bisa ditanyai apa :))) That's what friends are for, kan ya? Hahaha.

Kalau belum punya teman dokter, coba cari.
Begitu juga pengacara, MUA, pakar keuangan, ... pokoknya dibanyakin deh. Hahaha..

Jadi penulis itu memang penting banget buat berteman dengan semua kalangan, karena semua orang bisa jadi sumber tulisan.



4. Buku tetap jadi sumber terbaik


Mau riset ke mana-mana, kok ya kalau saya nih tetap menganggap buku sebagai sumber pengetahuan dan ilmu terbaik.

Ya, soalnya di buku juga jelas sumbernya dari mana saja. Bisa dicek dan ditelusur. Sepertinya semua bisa dipertanggungjawabkan gitu kalau buku mah.

So, kalau mau bahas topik tertentu, ya berburulah buku dengan topik tersebut.
Zaman sekarang buku juga nggak mesti beli mahal kok (meski kalau bisa beli sih bagus banget). Kita bisa pinjam di iJak, iPusnas, iKaltim dan seterusnya.

Terus kalau pengin punya dan mau yang murah aja, ya beli aja ebook-nya di Google Play Book.
Penting, jangan beli buku bajakan ya. Termasuk ebook bajakan, yang dijual 5000 dapat 4 buku itu.

Masih mending pinjam aja deh. Tapi kalau kamu minta kopi ebook dari teman kamu, yang lalu dikirimin PDF-nya itu juga diragukan orisinalitasnya juga.


Jadi penulis itu memang semacam belajar tiada akhir. Setiap kali menemui topik baru, mau nggak mau ya kita mesti mempelajarinya. Kalau kamu bukan pembelajar yang baik dan detail, ya sepertinya juga susah untuk jadi penulis yang baik dan tangguh.

Nah, kalau ada tambahan sumber atau tips melakukan riset untuk tulisan, boleh ditambahkan di kolom komen yah!

Selamat nulis!


Barangkali hampir semua blogger Indonesia memulai "karier" ngeblognya dengan menulis segala hal tentang kehidupan sehari-hari.

Diary online, gitu kan ya, fungsi blog pada awalnya?

Seiring waktu, akhirnya banyak yang pengin ngeblog secara lebih serius dengan menyasar ke audience tertentu, ataupun pengin secara spesifik membahas topik tertentu. Sementara yang lain masih bertahan di blog ala diary online-nya. Either way, nggak ada yang lebih buruk atau lebih baik sih, sebenarnya.

However, para mastah blog luar negeri memang menyarankan, jika kita pengin bisa meraih penghasilan yang lumayan dari ngeblog, ya kita mesti lebih fokus ke satu atau dua topik saja di blog kita.

Dari segi branding, hal ini juga menguntungkan, karena kita akan lebih mudah dikenali dari topik-topik yang kita pilih. Alih-alih menyebut diri sendiri sebagai, "Saya, bloger.", kamu bisa menyebut diri sendiri dengan, "Saya blogger anu." Atau, "Saya bloger yang membahas tentang anu".

Mempunyai topik blog yang fokus juga menolong kita untuk lebih fokus dalam  menulis dan bercerita, pun lebih kreatif.

Yah, pokoknya tahulah ya, bahwa ada beberapa keuntungan blog berniche.

Tapi memilih topik atau niche blog ini memang gampang-gampang susah. Maklum, manusia. Banyak maunya, penginnya juga semua dipamerin dikeluarkan di blog.

Sebenarnya kuncinya cuma satu, yaitu MINAT.


Mengapa kita harus memilih topik/niche blog yang cocok untuk kita?


Sebelumnya, saya sudah pernah menulis soal mengapa saya memisahkan niche blog saya. Boleh dibaca lagi :)

Topik blog kamu akan menjadi pedoman untuk semua hal yang akan kamu tulis di blog, termasuk juga kalau kamu mau bikin podcast atau video di blog kamu.

Dan, ini mungkin jadi masalah tersendiri ya. Biasanya sih ketakutan atau kekhawatirannya adalah, gimana kalau nanti kita akan kehabisan ide bahasan dalam topik yang sudah kita putuskan itu.

Wajar sih, semua kekhawatiran itu muncul.

Saya jadi ingat cerita seseorang. Tentang orang lain yang ngeblog dan sebenarnya sudah bagus sih memilih satu topik untuk blognya, yaitu finance. Tapi, makin ke sini, si blogger ini makin jarang ngeblog. Ditanya, jawabannya, "Finance itu cuma gitu-gitu doang sih. Aku bingung mau bahas apa lagi."

Well, padahal setahu saya itu finance itu bisa banyaaak banget bahasannya. Finance keluarga, untuk first jobber, untuk anak, untuk pensiun, belum lagi bisa juga bahas investasi dan asuransi.

Bahkan finance itu bisa dikait-kaitkan dengan topik  yang lain juga. Mau ngomongin pernikahan Kahiyang-Bobby juga bisa tuh dikaitkan sama finance.

Kecuali kalau kita memang nggak punya keahlian di finance itu, maka kebuntuan ide bisa saja terjadi. Kayak kalau kita milih topik traveling, tapi kita nggak afford untuk selalu jalan-jalan (karena jalan-jalan itu juga butuh biaya, cyin. Sedangkan prioritas orang bisa saja berbeda). Atau nggak selalu bisa cuti untuk bepergian (biasanya sih karena kerjaan).

Nah, itu sudah pasti deh. Buntu.

Milih topik mau bikin food blog, tapi kitanya sendiri nggak suka masak, pun nggak punya duit buat kulineran. Ya, pasti berenti deh ngeblognya.

Itu berarti sebenarnya nggak cocok topik blognya. Semacam, kamu memaksakan diri. Pengin keren kayak travel blogger yang lain, tapi nggak nyadar diri kalau nggak mampu.

Nah, supaya nggak sampai buntu ide, makanya penting untuk bisa memilih topik blog niche kita.


Langkah memilih topik/niche blog yang cocok


Imave via Clio


1. Buat daftar semua topik 


Tuliskan semua topik yang kira-kira akan membuatmu enjoy ngeblog.
Catatan, jangan mencoba untuk mempersempitnya sekarang. Itu nanti saja.

Topik ini adalah topik-topik yang menarik minatmu, hal yang kamu sukai, yang kalau kamu diajak ngobrol tuh nggak ada habisnya bahan yang bisa kamu omongkan.

Nah, untuk menolongmu brainstorming, berikut beberapa pertanyaan yang mungkin bisa kamu jawab:

  • Ketika masih kecil, apa yang biasa kamu kerjakan untuk menghabiskan waktu, meski tak disuruh atau diminta?
  • Apa hobi kamu?
  • Bagaimana cara menghabiskan waktu luang kamu sekarang?
  • Apa topik yang bisa kamu jalani berjam-jam jika dibiarkan saja?
  • Pelajaran apa yang paling kamu nikmati di sekolah menengah atau perguruan tinggi?
  • Apa yang kamu suka baca dan pelajari?
  • Jika kamu bisa melakukan satu hal seumur hidup kamu tanpa memandang gaji, apa yang akan kamu lakukan?

2. Jika kamu diminta untuk mendalaminya, topik apa yang akan kamu pilih?


Mengapa pertanyaan ini menjadi salah satu pertanyaan yang bisa ditanyakan jika ingin memilih topik blog?
Ya, karena blog bisa menjadi catatan online kamu saat sedang mempelajarinya.

Saya dulu memutuskan untuk menulis seputar content writing dan blogging ya karena saya harus mendalami soal penulisan konten gara-gara saya diserahi Rocking Mama.

Kamu juga bisa melakukan hal yang sama.

Misalnya, kamu tertarik banget untuk mempelajari marketing. Maka di sinilah kamu bisa menuliskan artikel-artikel seputar marketing, sesuai dengan proses pembelajaranmu.

Mau mendalami parenting, supaya kamu bisa lebih ahli menangani anak-anak. Ini juga bisa banget. Belajar parenting di blog/web lain, lalu diterapkan. Oh, ternyata penerapanku begini, dan hasilnya begitu. Catat deh.
Syukur-syukur kamu lantas muncul bahasan lain yang bisa dibagikan juga pada blogger parenting lain.

Yang seperti ini nanti ada hubungannya dengan keahlian, atau expertise. Saat kamu bisa memilih satu atau dua keahlian, maka blog kamu nanti bisa menjadi semacam portfolio untukmu.

Dengan membuat blog yang sesuai keahlian, kamu bisa menggunakan blog kamu sebagai CV.
Next-nya, kamu akan bisa membawa blog kamu ke level lanjut, dengan memonetize-nya. Monetizing-nya pun nggak main-main. Kamu bisa jualan ebook, bisa main Adsense, bahkan kalau keahlianmu semakin terasah, kamu bisa jadi pembicara atau narasumber.

Tentunya ini adalah tujuan blog jangka panjang ya, bukan lagi bikin blog sekadar untuk senang-senang atau gaya-gayaan, sekadar biar kekinian disebut bloger.

Situs ConvertKit punya diagram begini untuk hubungan antara expertise, minat dan audience blog.

Image via ConvertKit



Akan selalu ada pembaca yang mencari, memanfaatkan dan menghargai berbagai topik, apa pun itu. Apalagi kalau kamu memang bisa menuliskannya secara mendalam dan lengkap. 

So, no need to worry-lah ya. 

Karena itu, mari fokus pada minat dan keahlian kamu terlebih dulu saja. 


Menuliskan topik blog yang sesuai dengan minat kita itu penting


Image via True Money Maker


Jangan memilih topik hanya karena topik tersebut trending. Lagi ngehits travel blog, kamu pun memilihnya sebagai topik blog. Tapi, sebenarnya kamu sulit buat traveling. Ada banyak hambatan untuk traveling.

Kecuali kalau kamu memang selalu bisa mengatasi semua kesulitan yang muncul, maka bisa dibilang traveling adalah passion-mu. Itu beda soal. Passion akan membuatmu mencari akal terus, gimana caranya kamu bisa melakukan hal yang sangat kamu suka.

Tapi, kalau hambatan itu membuatmu menyerah, maka itu bukan passion.

Jangan menulis hal yang bukan passion, meski itu lagi ngetrend. It won't work. Kamu akan sering mengalami writer's block.

Stay with your own interest, apa pun topik kekinian yang sedang digemari oleh orang banyak.  Pembaca blog itu cerdas dan bisa tahu kalau kontenmu dipaksain. Jadi,tetaplah membahas topik yang kamu minati, apa pun trendingnya musim ini.

Well, the corollary, of course, kalau kamu punya topik yang mulai populer. Itu yang namanya cucok!



Keahlian adalah salah satu aset paling berharga sebagai seorang blogger


Image via Diplomatic Courier

Semakin banyak kamu tahu tentang sebuah topik,maka semakin besar peluangmu untuk bisa menuliskannya di blog. 

Tapi, seandainya kamu merasa kurang ahli terhadap satu hal, itu sebenarnya tetap saja bisa kamu jadikan topik blog KALAU kamu memang benar-benar punya minat besar di situ.

Yes, memang MINAT-lah yang menjadi koentji.
Meski kurang ahli, tapi kalau minat besar, then go for it. 

Ke depannya, saat kamu belajar mengenai topik tersebut, maka makin banyak pula yang bisa kamu bagikan. 


Nah, sebagai pelengkap, berikut ada beberapa topik blog yang populer di dunia, menurut State of Blogging Industry Report milik ConvertKit.

Image via ConvertKit

Tentu saja ada ratusan topik potensial lainnya yang bisa kamu pakai untuk blog kamu, tapi setidaknya list di atas bisa jadi starting point untuk membantumu mulai.

Terus, gimana nih, kalau sudah milih topik/niche blog?


Begini langkah untuk bisa fokus pada topik/niche blog yang kamu pilih



1. Be yourself


Blog is all about personality dan uniqueness of the blogger.
Jadi, jangan pernah ubah "aturan" ini. Be yourself.

It's a blog! Bukan portal. Bukan web komersial. Bukan pula web perusahaan atau brand.
It's a blog. Your personal blog.

So, you gotta be the personality of your blog.

Mungkin saja kamu memilih topik yang sama dengan yang dipilih oleh seleblog lain. Lalu, haruskah kamu merasa "kalah"? Don't!

Nggak ada blog yang bisa dibandingkan, karena blog adalah unik. Seperti pemiliknya.


2. Be more specific


Setelah kamu memilih topik/niche blog kamu, maka pertanyaan yang lantas muncul kemudian adalah, "Lebih khusus lagi, apa yang ingin saya sampaikan tentang topik ini?" 

Tujuan pertanyaan ini adalah mencari kemungkinan yang bisa membedakan blog kamu dari jutaan blog lain yang berniche sama.

Saya dulu juga menanyakan pertanyaan ini saat memulai blog ini.
Saya mau menulis soal menulis, karena saya sedang mendalami teknik menulis. Lalu, be more specific, menulis yang seperti apa? Karena menulis itu kan banyak; menulis buku, menulis cerpen, menulis surat lamaran kerja. Wkwkwk.

So, I came up with content writing. Karena saya lihat, belum banyak yang menjelajah area ini. Mau nulis soal tutorial blog, sudah banyak. Bahkan secara teknis, saya juga kalah. Tapi, saya masih bisa menulis teknik ngeblog, tapi saya tulis dari angle content writing-nya.

And here I am. Setiap weekend nulis di blog ini. :)))

Kalau kamu memilih topik food sebagai topik utama blog, maka ayo spesifikkan. Makanan apa? Segala macam camilan? Bento? Review resto?

Meski spesifik, kamu tetap bisa membahas topik lain kok. Jangan khawatir. Asal kamu menulisnya dari angle topik/niche blog kamu.


3. Buat kategorisasi


So, kamu sudah memilih topik dan juga sudah membuat spesifikasi. Sekarang, kamu sudah lihat daftar topiknya sudah cukup panjang?

Ayo bikin kategorisasi.

Kategorisasi ini penting untuk memberi struktur navigasi di blog kamu. Semakin kategori blog ini terdefinisi dengan baik, maka semakin jelas pula fokus topik blog kamu. 

Misalnya, jika kamu mau bikin blog berniche homemade food. Kamu bisa mem-break down-nya menjadi beberapa kategori:
  • Snack recipes
  • Main course recipes
  • Tips
  • Dan, mungkin sesekali kamu bisa mereview tempat-tempat makan yang menyediakan menu rumahan.
Snack recipes bisa dipisahkan lagi menjadi resep camilan manis, resep camilan gurih, resep camilan anak, dan seterusnya. Main course bisa dipisahkan berdasar dominasi bahan atau bahan utama, misalnya.

Dengan topik dan kategori yang jelas, kamu akan bisa menghasilkan lebih banyak ide posting blog, dan akan membantu pembaca blogmu untuk menemukan apa yang mereka butuhkan dengan cepat pula.

Semakin jelas kategorisasi blog, akan semakin menarik lo. Didukung navigasi yang jelas dan internal links yang rapi, bisa jadi blog kamu akan menjadi blog rujukan dengan reputasi yang nggak bisa ditandingi. 



So, are you ready to choose your blog topic now?


Image via Online Income Teacher

Memilih topik blog yang cocok menjadi langkah pertama dalam perjalanan blogging kamu. 

Dengan mengidentifikasi apa yang kamu sukai untuk menciptakan konten, kamu akan cenderung setia pada perjalanan blogging kamu. Siapa sih yang bakalan bosen membahas hal yang paling disukai?

Saya pribadi sih nggak bakalan bosen ngomongin soal menulis. Adaaa aja yang bisa saya omongin kan?

Nah, kalau kamu sudah siap membawa blog kamu ke level yang lebih tinggi, ayo, mulailah bikin daftar semua ide topik blog. Lalu, setelah itu, persempit dengan spesifik. Dan kemudian, break down!

Kalau kamu punya pertanyaan lebih lanjut mengenai pemilihan niche blog, taruh saja di komentar ya. Pun kalau kamu punya tambahan atau tips lain.

I would be glad to discuss with you!


Hai! Apa kabar?
Iya, tiba-tiba saja saya muncul di tengah minggu ya?
Hehehe. Nggak papa, sekali-sekali nongol di tengah minggu dan nulis apa saja yang pengin saya tulis. Nulis tentang kontennya tetep di akhir minggu kok.

Btw, apa sih arti kepercayaan diri buatmu?

Buat saya, kepercayaan diri itu kayak jelangkung.

Datang sewaktu-waktu, lalu tiba-tiba saja bisa wush wush wush ... langsung pergi saat itu juga. Yah, kali memang dasarnya moody juga sih.

Dan memang banyak banget tuh yang memengaruhi kepercayaan diri.
Bisa bajunya. Kalau salah kostum, dikiiit saja, coba deh. Pasti kita jadi nggak pede kan?
Bisa rambutnya. Kalau lagi lepek habis, tapi lagi males keramas. Itu juga bikin nggak pede abis. Hahaha. Yang kayak saya gini, palingan tekuk ke atas, jepit deh.

Terus, sepatu juga.
Kalau sepatu nggak nyaman dipakai, bikin sakit kaki, wah ... jalan pun males. Mau pedenya gimana?

Puji Tuhan sih, ketemu sama merek sepatu yang satu ini.

Saya pernah cerita, punya sepatu The Warna ini yang Anjani Tosca kan? Saya punya lagi yang baru sekarang.

Bukan, bukan karena yang Anjani itu udah jebol. Malah masih bagusss banget, enak dipakai terusss.
Tapi pengin punya yang rada formalan dikit lagi.

Saya udah bhay beneran sama high heels. Udah deh, kayaknya nggak mau pake lagi. High heels cuma saya pakai kalau pas pergi sama si hubby. Soalnya dese mah tingginya 175, saya 150. Wakakakakk. Jeder abis.
Kalau pakai high heels, saya bisa nyusul dikitlah yah.

Tapi kalau lagi nggak sama hubby, saya mendingan flat shoes aja dah.
Nggak mau lagi kaki saya tersiksa.

Masa jalan sambil meringis nahan sakit?
Anggunnya di mana?
Pedenya di mana?

(((Anggun)))
Anggun di Asian Got Talent, Mak!



Anyway ...
Jadi, saya punya The Warna lagi deh. Mahadewi Cream.
Style-nya agak formal sedikit ketimbang Anjani.

Pikir saya, kalau ada undangan formal nganterin Eyang Mami, atau ke gereja, pakai Mahadewi ini kan cakeup dan bisa bikin pede.
Anjani tugasnya ke kantor sama jalan ke mal.

Kan, seperti Tante Coco Chanel bilang, perempuan bersepatu bagus itu nggak akan nampak jelek. Yekan?

Punya dua sepatu dengan kegunaan masing-masing deh sekarang sayanya.




Buat jalan nggak pakai meringis. Bahkan nih ya, kalau sepatu baru kebiasaan saya langsung tempel hansaplast di bagian belakang pergelangan kaki, demi menghindari lecet. Sama The Warna nggak perlu sama sekali!

Meski kuat  nih bagian belakangnya, tapi nggak bikin lecet lo!

Biasanya juga, punya sepatu baru saya juga langsung berentiin tukang sol sepatu keliling, buat nguatin solnya. Sejak punya Anjani, saya coba nggak usah ngesolin lagi deh. Ternyata, masih oke sampai sekarang.




So, kalau Anjani bisa seawet dan sekeren itu, Mahadewi ini pasti juga oqhe.

Yay!
Ada yang mau ngajakin saya meetup?
Yuk!



"Kok blogku traffic-nya menyedihkan gini ya?"

Suka bertanya-tanya gitu nggak?

Yang kemudian diikuti dengan, "Blogger yang itu pageview-nya kok bisa bagus, padahal kayaknya dia juga woles banget ngeblognya? Nggak sampai promo sana sini, minta sedekah PV or komen. Tapi dia kok bisa, aku kok enggak?"

Jengjeng!

Yah, mungkin salah satu, salah dua, atau salah tujuh penyebabnya ada di sini.


7 Kemungkinan penyebab traffic blog kamu nggak bagus


1. Artikelmu nggak read-worthy enough


Uhhh, that hurts.
Ya, karena dengan kata lain, artikelmu jelek.

Wkwkwkwk.
Yeah, it hurts, but it's reality.

Jelek, itu relatif. Bener banget.
Tapi ada "jelek" yang terdefinisikan, apalagi kalau soal tulisan.

Biasanya "artikel yang jelek" itu bisa berarti:

  • Mungkin kamu belum bisa menyusun kalimat dengan baik. 
  • Mungkin kalimatmu terlalu mbulet atau rumit supaya kamu terlihat pintar.
  • Mungkin kamu tak menyajikan cerita secara runtut dan jelas
  • Mungkin artikelmu terlalu kentang. Nanggung. Orang baca juga komennya, "So what?" Atau, "Lah, gini aja?"
  • Mungkin juga artikelmu sudah banyak dibahas orang lain, dan nggak ada yang baru yang bisa disajikan.
Ya, memang definisi "artikel yang jelek" itu bisa lebih dari 5 poin di atas.

Dan, gimana caranya tahu kalau artikel kita jelek?

Well, orang komen juga mesti sopan, jadi susah juga mau minta pendapat jujur. Bilang apa adanya, dibilang haters. Wkwkwkwk. 

Ngasih masukan or kritikan juga nggak mesti dianggap bermaksud baik kok.

Jadi, gimana dong?

Ya, berarti lihat saja dari statistik. Kalau nggak ada yang baca, nggak ada yang betah baca, ya kemungkinan sih 5 alasan di atas tuh yang jadi penyebabnya.

Seorang penulis mesti tahu dan bisa menilai diri sendiri. Apakah tulisannya sudah bagus apa belum. Nggak semua harus ditunjukkan secara eksplisit, ini harus begini ini harus begitu.

So far, saya sendiri juga selalu trial and error.
Oh, kalau saya nulisnya dengan gaya begini banyak yang suka. Oh, kalau saya nulisnya dengan cara itu, orang nggak suka.

Juga mengamati sekitar.
Oh, blogger yang itu disuka orang karena gayanya begini. Kira-kira kalau aku adopsi gayanya, cocok enggak ya?

Itu yang namanya self-taught.



2. Kamu nggak menulis yang dicari oleh banyak orang


Artikel-artikel dan informasi di dunia maya itu kurang lebih kayak hukum ekonomi. Saat banyak demand datang, maka saat itu pula supply dibutuhkan. Kalau kamu menyediakan supply yang nggak banyak demand-nya, ya gimana supply-mu akan laku?

Bener nggak logikanya?

Kalau kamu hanya menulis apa yang kamu mau saja, ya nggak ada yang ngelarang juga. Tapi kalau nggak banyak yang sama maunya sama kamu ya, gimana orang mau datang dan baca?

Iya, sesimpel itu. Itu basic knowledge SEO bangetlah.

Katanya, setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.
Saya dulu percaya banget dengan kalimat itu. Semacam ngeyem-yemi diri sendiri. (bahasa Indonesia ngeyem-yemi tuh apaan coba?). Semacam pukpuk diri sendiri, supaya tetap semangat nulis.

Tapi kalau cuma berhenti di situ, ya monmaap nih ya, kamu nggak akan berkembang.

Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri.
Pertanyaannya: sampai kapan?

Blogger lain udah go internesyenel, kamu masih jalan di tempat.

Don't wait for your readers to come!
Cari pembacamu, ajak mereka datang!
Sediakan yang pengin mereka baca!

That's how it works.


3. Kamu malas mikirin SEO


SEO memang rumit. Saya juga setuju.

"Saya sudah nerapin SEO. Tapi, trafficnya kok nggak nambah juga ya?"
"Berapa lama udah belajar dan nerapin SEO?"
"Udah sebulan."

Yassalam.
Saya sendiri belajar SEO selama 2 tahun, setahun nerapin SEO, baru deh kerasa hasilnya.
Hampir 2 tahun, baru naik secara signifikan.

"Ya, habisnya SEO itu pusing."
Yaiyalah, kalau gampang mah ... nenek-nenek juga bisa.
Kalau semua orang bisa SEO, content writer yang terampil SEO nggak akan dibayar mahal.
Wkwkwk.

"Ah, saya malas belajar SEO. Mau promosi via media sosial aja. Kan ada yang namanya SMM, Mbak."

Yaa enggak apa-apa.
Tapi, sampai seberapa kuat mau promosi di medsos? Semua dicolekin. Semua dimintai sedekah klik dan komen? Tapi pas balik dimintai klik dan komen, nggak pernah mau kasih? Ya sekali dua kali, jarang-jarang, masih okelah ya. Tapi kalau tiap kali  minta sedekah, ya yang dimintain juga ... nggak tahu juga sih. Hahaha.

Saya sih capek. Atau, mungkin saya nggak berbakat minta sedekah sih. Huahahaha. *ditampol*
Saya pribadi mendingan bersusah-susah belajar, tapi enak kemudian.


4. Kurang promosi


Tapi, meski sudah nerapin SEO, promosi di media sosial juga perlu dilakuin. Lha, memang saya bukannya anti promosi di medsos. Malah harus tuh, kita promosikan di medsos.

Blog ini malah justru dapat main traffic dari medsos. Saya dapat pembaca loyal juga dari medsos. Ejieeee...

Cuma, saya mengajak kamu semua untuk lebih elegan aja promosinya. Ya, melalui medsos juga melalui SEO.

"Tapi, Mbak, saya sudah share link di medsos, tapi kok nggak banyak juga yang datang ya?"
"Berapa kali setiap artikel kamu share di medsos?"
"Sekali."

Beugh.
Cuma sekali ya gimana pada tahu?

Sekali disebar kali baru 10 orang yang liat, yang klik 1 orang.
Promosi artikel di medsos mesti dilakukan secara simultan, terus menerus. Apalagi kalau topik artikelmu masuk ke jenis evergreen. Mesti dishare berulang, dan dirotasi.

Saya suka share artikel-artikel lama di blog ini lagi di Facebook or Twitter.
Dengan asumsi, barangkali banyak yang belum lihat share-nya kapan hari. Atau saya punya teman baru di Facebook, yang juga belum lihat tulisan saya itu.

Jadi saya rotasi.
Kebetulan artikel di sini sudah 100 artikel lebih. Jadi saya rotasi aja, setiap 2 hari sekali share artikel lama.

Dan setiap kali, selalu ada tuh yang datang, dan selalu nambah komen.


5. Judul, meta description dan opening artikel kamu nggak menarik


Nah, saat kamu share itu artikel di medsos, maka judul dan meta description (juga featured image) akan menentukan, apakah orang akan tertarik untuk ngeklik atau enggak.

Begitu juga saat artikelmu nongol di Google Search Result. Judulmu akan menentukan, apakah artikel kamu akan diklik atau enggak.

Begitu orang ngeklik, lalu mereka tiba di blog kita, maka openinglah yang akan membuat mereka memutuskan untuk lanjut membaca atau enggak.

Setelah opening kamu bisa nge-hook mereka, maka mereka akan scanning through your article. Kalau memang bisa memuaskan keingintahuan mereka, maka mereka pun akan membaca ulang dengan lebih saksama.

Yes, behaviornya memang seperti itu.

"Apakah nggak mungkin, kasih kesempatan dulu. Baca dulu deh, tanpa lihat judul!"

Nggak mungkin.
Emang ada yang ngeklik karena nggak lihat judul?
Bukannya karena judul begitu menentukan, hingga kemudian ada clickbait kan?


6. Kamu malas update/upgrade diri kamu


Trend juga merambah ke dunia tulis menulis.
Gaya menulis zaman old akhirnya ya berkembang hingga seperti yang bisa kamu lihat di zaman now.

Teknologi berkembang.
Trend juga datang dan pergi.

Zaman dulu mungkin memang banyak blogger menjadikan blog sebagai diary online. Mereka sekadar bercerita kehidupan sehari-hari diri sendiri, untuk mencatat hal-hal kecil yang mereka alami.

Zaman now, mungkin yang seperti itu sudah nggak cukup lagi.

Zaman old tulisan saja sudah cukup di blog. Namanya ngeblog, ya nulis.
Sekarang enggak. Kita mesti ada foto, ada video endebre endebre.

So, seleksi alam bekerja.
Yang menawarkan sesuatu yang lebih dari yang lain, pasti akan lebih laku. Itu sudah pasti.

Jadi, kita mesti--mau nggak mau--harus selalu upgrade diri.
Yang nggak mau bergerak maju, ya ketinggalan sama yang lain yang lebih banyak tawarannya.

Traffic blog kamu nggak bagus?
Ya, mungkin karena blog kamu terlalu monoton. Gitu-gitu aja, nggak ada perkembangan dari zaman ke zaman.

Kamu malas belajar dan malah update skill ngeblog.

"Ah, saya mah gini aja deh."
Ya sudah, berarti traffic blog kamu juga gitu aja.

Case closed.
Hahahaha.


7. Kamu kurang membahas yang lagi trending


Konten yang berjenis evergreen memang bagus. Karena bakalan terus dikunjungi orang yang mencari informasi yang sama.

Konten evergreen ini misalnya artikel-artikel panduan untuk beginner soal apa pun, atau artikel-artikel how to.

Tapi kalau hanya bertahan di zona nyaman konten evergreen, konten kita juga jadi kurang variatif. Kamu perlu update perhosipan atau berita-berita yang sedang hangat dibicarakan.

Metode riding the waves begini akan cukup lumayan mendatangkan traffic. Kamu hanya perlu mengamati momen saja.

Asal elegan ya.
Buatlah sudut pandang yang lain daripada yang lain tentang trending topic yang lagi happening. Nggak perlu kontroversial sih, cukup yang unik saja.



Nah, jadi yang mana nih yang kira-kira jadi penyebab kurangnya traffic di blogmu?

Tapi, ingat. Traffic blog yang nggak banyak itu nggak selalu buruk lo.
Jika kamu punya blog dengan super niche, bisa saja memang traffic blog kamu tidak sebesar teman-teman blogger yang lain. Dan ini sama sekali nggak buruk.

Kayak blog saya ini, pasti nggak seberapa dibanding blog yang lain. Tapi itu karena saya punya niche khusus.

Kalau mau ngebandingin ya, bandingkanlah dengan blog yang se-niche. Sama blognya Neil Patel, misalnya. Beugh. Wkwkwkwwk.

Well, apa pun penyebabnya, semoga kamu tetap enjoy your blogging activities.
Ngebloglah dengan bahagia.