Akhir-akhir ini, beberapa platform media sosial berbenah.

Yang pertama adalah Instagram, dan kemudian Facebook. And then, Youtube.

Somehow, katanya, ini dilakukan demi meningkatkan kepuasan 'pelanggan', namun dampaknya agak tak enak juga terutama buat mereka yang memanfaatkan kedua media tersebut untuk ngiklan. Bakalan mesti nambah effort untuk sekadar terlihat oleh target pasar.

*sigh*

Dari penelusuran berbagai sumber, saya akhirnya punya beberapa catatan. Dan, seperti biasa. Mending saya tulis di sini. Karena oret-oretan saya akan hilang seiring buku notesnya juga habis. He.

Mari kita mulai dari Instagram. Facebook akan menyusul kemudian. Well, hopefully. *lalu dikeplak*
Youtube? Enggak. Soalnya saya nggak main Youtube :P


Beberapa Perubahan Algoritma Instagram



Mungkin belum banyak yang tahu, bahwa selama ini kalau ada perubahan algoritma, pihak Instagram akan mengumumkannya di blog mereka. Tapi, akhir-akhir ini udah nggak lagi. Mereka hanya ngupdate Help Center, and that's it.

Maka, mari kita lihat.

1. Algoritma / Post exposure


So, saat kamu post sesuatu di Instagram, maka post tersebut paling banter hanya bisa terlihat oleh 10% dari follower kamu. 

Jika dari 10% itu memberikan respon terhadap post yang baru saja kamu share, maka hal tersebut akan meningkatkan peluang post kamu untuk diperlihatkan pada 90% lainnya.

Yes, respon adalah hal terpenting di media sosial. So, jangan cuma jadi penonton.

Sumber yang lain ada yang menyebutkan, bahwa yang paling krusial adalah respon yang diberikan oleh follower kurang dari 1 jam setelah satu post dishare. Dalam 60 menit itu, "mesin" Instagram akan menganalisis, apakah post tersebut layak untuk disharekan lebih pada yang lain.


Instagram pods akan mengakibatkan shadow ban

Apa itu Instagram pods?

Pod dalam term "Instagram Pod" ini diambil dari kata pod yang berarti "a family of dolphins who live together in harmony and support one another."

Yeah, get the picture now?

Dalam praktik buzzing atau endorsement di Instagram, banyak buzzer/Instagrammers yang berkelompok yang kemudian saling ngasih komen, likes etc, untuk tujuan saling nge-boost engagement.

Well, Instagram kayaknya aware akan hal ini for some reason, dan memberlakukan shadow ban.

Apa itu shadow ban?

Shadow ban Instagram adalah saat post kita nggak nongol di explore. Jadi ya meski udah dikasih hashtag bejibun, nggak akan keliatan sama non follower. Keliatan sama follower doang.

Apa yang bisa menyebabkan shadow ban? Banyak. Beberapa di antaranya adalah penggunaan bots, beli follower, hashtag abusing, post caption dan/atau hashtag yang sama banyak kali, menggunakan forbidden hashtag (misalnya yang berhubungan dengan pornografi), dan seterusnya.

Kamu bisa baca penjelasan yang lebih jelas dan detail tentang shadow ban Instagram di sini.

So, apakah kamu sedang dalam proyek buzzing/endorsing lalu rasanya engagement kok menurun secara tiba-tiba? Hashtagnya error? Atau tiba-tiba kamu nggak bisa post? Mungkin kamu kena yang namanya shadow ban ini.



2. Engagement


Engagement, and no other than engagement.

Instagram kini benar-benar mendasarkan algoritma pada engagement. So, mulai sekarang, kalau kamu pengin mendapatkan angka engagement yang bagus, maka RESPONLAH KOMEN kurang dari 60 menit.

Lebih dari itu, engagement-nya kurang.

Engagement kamu turun, maka post kamu akan makin under-expose. Makin tenggelam.


No more rooms for bots! So don't sound like one.

Yeah, Instagram juga penuh dengan spammer bot. Tahu nggak yang kayak gimana?

Itu, yang suka komen "Nice post", atau "Great pic!". Saat kamu merespon para bots ini, itu tidak dihitung sebagai engagement. Pun buat kamu yang hanya ngomen dengan cuma 2 kata kayak gitu, juga akan dianggap sebagai bot oleh Instagram.

Lalu gimana dong?

Well, try to make a comment yang terdiri atas 4 kata atau lebih.


Instagram stories lebih banyak dikasih panggung.

Ini salah satu alasan kenapa sekarang saya juga bikin Instagra stories :)) Karena Instagram stories helps you pop up more. Stories being promoted based on engagement rather than recency.

Akun pertama yang muncul di timeline kamu di Instagram adalah mereka yang punya engagement besar dengan akun kamu. So, give people reason to see you first, dengan membuat stories yang menarik ya.


3. Caption


Caption is merely about hashtag.

Don't over abuse. Meski sebenarnya jumlah hashtag yang diperbolehkan adalah 30 hashtag, tapi sebaiknya jangan overuse.

Overuse = spammy. Spammy = shadow ban.

Logikanya gitu.
Jadi, berapa banyak hashtag yang paling ideal untuk dipergunakan dalam satu post? Nggak tahu juga. Tapi banyak yang bilang, menggunakan 5 hashtag itu paling optimal.

Dan, jangan pakai hashtag yang sama persis untuk beberapa postingan berturut-turut. Coba untuk mengeksplor lagi,

Oh, dan yang baru lagi: hashtag yang ditulis di kolom komen tak lagi muncul di search result ya. Jadi, tulislah hashtag di caption, bukan di kolom komen. Sering liat olshop-olshop nulis hashtag banyakbet di kolom komen.
Udah nggak guna sekarang. Malah bisa kena mark as spam.

Another big one, jangan mengedit caption dalam waktu 24 jam pertama setelah diposting!
*damn!* Karena akan mengurangi peluang to be seen. Jadi, sebelum pencet tombol "Share", benar-benar mesti dicek ulang tuh ya captionnya. Jangan ngedit sebelum 24 jam.

Pun jangan menghapus satu post, dan kemudian me-repost-nya.
Bah, padahal ini sedang saya lakuin sekarang nih. Demi menata feed supaya lebih rapi. Kerjaan perfeksionis gini nih.

Demi feed tertata dari bawah sampai atas, sampai ngerepost foto-foto lama. Wkwkwkwk. Ternyata, yang kayak gini nih "terancam" hukuman yang sama dengan spamming.
Meh.

Baiklah kalau begitu. Mending digambar ulang.


4. New Features


Ohiya. Yang terbaru, di Instagram mulai sekarang kita bisa follow hashtag. Ini useful banget buat yang kayak saya, yang memang hanya mantengin interest tertentu saja di Instagram.

Katanya, our profile might be favored if we are following hashtags. So, coba follow hashtag yang sesuai dengan minat kamu deh.


Nah, itu dia beberapa update algoritma Instagram yang mulai berlaku Januari 2018 ini.

Sampai kapan itu berlaku? Atau berubah lagi?
Hanya Instagram dan Tuhan yang tahu.

Segitu dulu untuk update Instagram. Semoga saya bisa segera lanjut ke Facebook ya.


===== UPDATE! ======

So, hari ini saya membaca artikel dari Lauryn Hock ini, mengenai pematahan beberapa teori di atas, juga mengenai apa yang sesungguhnya terjadi di dalam kantor Instagram dan Facebook, dan apa yang sebenarnya dipikirkan oleh orang-orang di sana.

Beberapa hal di atas dibilang hanya mitos belaka.

Saya pribadi nggak tahu sih sebenarnya apakah punya Lauryn ini valid, karena dari mana sumbernya ia mendapatkan data tersebut, juga nggak disebutkan. Apakah ia mendapatkannya dari "orang dalam" apa gimana, entahlah. :)))

Tapi, bolehlah dibaca, sebagai bekal ilmu juga ya.
Thanks to Mas Ryan yang sudah share mengenai artikel ini di Facebook.

So, kesimpulan terakhir dari saya sih, mari kita enjoy aja dalam menggunakan Instagram, Facebook dll. Asal kita menggunakannya secara natural dan baik-baik saja, maka ya pasti there's nothing to be afraid of.

Yekan?


Beberapa hari yang lalu, saya dicurhatin seorang teman. Sebut saja Mawar. Dia bilang, dia sudah nggak betah lagi kerja di kantornya. Dia merasa nggak berkembang, dan gerah dengan berbagai intrik kantor.

Mendengarnya berkeluh kesah, tak pelak membuat pikiran saya melayang kembali ke beberapa tahun yang lalu. Mungkin sekitaran tahun 2012-2013, saat saya masih bekerja di sebuah kantor industri kreatif--spesifik lagi yang bergerak di trading dan interior design--di kota tempat saya tinggal.

Sebenarnya, saya nggak ada permasalahan dengan pekerjaan saya di sana. Setiap hari saya bisa saja menghadapi hal baru. Gara-garanya ya memang saya mesti selalu berpikir kreatif, ditambah lagi Pak Bos yang juga super kreatif. Pagi bilang A, sore langsung berubah B. Besoknya balik lagi ke A, lalu siangnya jadi C. Huahahaha. Tapi ya emang gitu sih, dan saya asyik aja ngadepinnya meski kadang ya kelimpungan. Hihihihi.

Tapi ternyata ada satu dua hal yang membuat saya harus memutuskan untuk resign dari sana. Padahal sebenarnya saya itu bukan orang yang gampang mengajukan resign. Saya malas menghadapi dan harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Hal itu membuat saya untuk mengajukan permintaan menjadi part timer saja.

Setelah resign dari kantor tersebut, saya pun bekerja di Stiletto Book. Dari part timer, lalu jadi full timer lagi. Ternyata, setelah satu tahun, saya juga merasa mentok lagi. Ditambah kondisi keluarga yang nggak memungkinkan, maka saya pun memberanikan diri untuk meminta jadi freelancer saja. Untung Bu Bos juga setuju. Kayaknya si beliau juga tahu kalau saya merasa gerah kalau dikurung dalam ruangan. Hahaha.

So, sejak 2015, saya pun resmi menjadi pekerja lepas.

Memutuskan untuk menjadi freelancer itu nggak mudah lo. Apalagi kalau mengingat, tadinya kita punya bayaran yang lumayan.

So, mau resign dari kerja dan pengin jadi freelancer aja? Ini modalmu!

1. Tabungan yang cukup


Ternyata, tabungan itu punya peran penting begitu kita memutuskan untuk freelancing.

Apa pentingnya?

Satu, hari-hari freelancing itu penuh ketidakpastian, bro, sis. Sebulan kadang full, sebulan nganggur. Tergantung jenis pekerjaan freelancingnya juga sih.

Yang pasti, belum tentu kamu akan mendapat uang gajian rutin. Bulanan.
Makanya, tabungan itu penting. Bahkan sejak awal kita mulai memutuskan untuk freelance, kita mesti punya tabungan yang cukup buat hidup.

Dua, kadang pekerjaan freelance itu juga butuh modal. Tergantung jenis pekerjaan juga sih. Misal, saya sebagai content writer, nggak cukup cuma baca-baca media online. Saya pun langganan tabloid dan majalah.

So, kalau kamu pas masih kantoran hidupnya boros banget, misal untuk makan aja kamu ngabisin 6 juta rupiah kek mbak selebtwit yang onoh, yang lantas bikin kamu nggak punya duit tabungan yang cukup, sebaiknya pikir-pikir lagi deh mau freelancing.

Mau jadi freelancer, kudu siap hidup prihatin dan rajin menabung.


2. Sudah punya klien


Hal kedua yang mesti dipikirin adalah "pasar".
Akan lebih baik buat kamu kalau saat kamu memutuskan resign dan jadi freelancer, kamu sudah punya klien duluan.

Means, saat kamu masih ngantor, seharusnya kamu sudah mulai merintis bisnis freelancing kamu. Sudah mulai punya side job.

Minimal, kamu seharusnya sudah tahu, ke mana mesti memasarkan jasamu.
Misalnya, kamu sudah gabung di Behance, atau sudah jadi member Freelancer.com.

Jadi, kalau kamu baru mikirin, mau kerja apa sebagai freelancer setelah kamu resign dari kerja kantoran, kayaknya kok udah telat.



3. Dukungan dari orang-orang terdekat


Buat yang udah nikah, jangan lupa mendiskusikannya dengan soulmate. Kalau yang belum ya, minta dukungan dari keluarga lainnya.

Orang-orang terdekatmu itu nantinya bisa jadi klien-klienmu yang pertama lo. Tentu saja tergantung bidang kerja freelancing kamu ya.



4. Peralatan kerja yang cukup mumpuni


Misal kayak mau jadi editor lepas. Nggak mungkin kamu ngedit pakai handphone. Kalau nulis, mungkin masih bisa. Pas ngedit, ya bisa juga sih. Tapi haduh, saya kok nggak bisa ngebayangin tuh, ngedit pakai hape.

Adakah yang pekerjaan editor lepas, dan ngerjainnya dengan handphone?

Sepertinya minimal mesti punya netbook.
Dan harga netbook kan juga nggak murah.

Buat para ilustrator, spek laptopnya beda lagi. Graphic designer, lebih lagi. Dan semua itu ada harganya juga.

Kalau kerja kantoran, fasilitas akan disediakan kantor. Kalau kurang mumpuni, ya tinggal request. Meski kadang setelah dikasih ternyata speknya tetap seadanya.



5. Kepercayaan diri


Saya dulu juga masih dalam kondisi nggak pede pas mulai. Sehingga saya mengakalinya dengan menjadikan bos saya sebagai klien. Hahaha.

Seandainya udah punya kepercayaan diri, saya pasti bisa langsung lepas gitu aja.

Ya, sampai sekarang, saya pun freelancingnya masih yang setengah sih. Ngurusin klien tetap. Nggak benar-benar yang lepas per proyek. Bukan karena nggak pede kalau sekarang mah. Tapi jodoh aja.

Seorang freelancer mesti siap untuk networking kapan pun. Makanya mesti punya modal kepercayaan diri yang tinggi. Selain juga punya portfolio yang meyakinkan.

Ah ya, portfolio.
Kamu juga harus menyiapkan portfolio ya. Dalam bentuk apa pun.



Nah, mau resign sekarang dan mantap jadi freelancer?

Semangat ya!


Hae!
Akhirnya update juga ini blog. Huahahaha.

Ya ampun. Lama juga ya saya liburnya. Ya, emang perlu sih sekali-sekali membebaskan diri kan? Lagipula, ini juga jadi resolusi saya tahun ini sih.

Eh, bentar. Saya emang mau ngomongin soal rencana tahun 2018, tapi saya pengin ngeround up dulu 7 artikel yang tayang tahun 2017 dan yang banyak dibaca oleh teman-teman selama setahun kemarin. Saya rangkum berdasarkan data Google Analytics.


7 Artikel terbaik CarolinaRatri.com di tahun 2017


1. Bagaimana Cara Membuat Judul yang Menarik? - Telaah Judul 7 Artikel Terviral Hipwee



Buat saya, nulis artikel (yang enak dibaca dan disukai oleh orang banyak) itu gampang-gampang susah, dan menjadi seni tersendiri.

Dan, buat saya, kesempatan pertama dan terbesar artikel itu akan dibaca dan disuka oleh pembaca adalah pada judul. Sudah beberapa kali saya eksperimen dengan berbagai formula judul, baik saya sebagai penulis maupun saya sebagai pembaca. Hingga akhirnya, saya berkesimpulan, saya nggak bisa main-main dengan judul. Begitu judulnya nggak menarik, maka bhay!


2. The 5 Golden Rules of Blogging - Tip Blogging Pemula yang Mesti Selalu Kamu Ingat Sejak Mulai Ngeblog


Pada awalnya kita ngeblog secara impulsif saja. Tanpa mikir. Pokoknya saya pengin bikin blog, yang kayak Raditya Dika (kalau kamu fans-nya blog Raditya zaman dulu).
Kalau saya siapa ya, dulu yang meracuni saya akhirnya mendaftar ke wordpress? Kok saya lupa. LOL.

Oh well. Ya, itulah kekeliruan kita sebagai blogger pemula.

Seharusnya, kita nih mengerti dulu beberapa golden rules of blogging, kalau memang pengin  seperti yang saya amati dari para blogger luar yang lebih sukses dan lebih dulu profesional ketimbang kita.


3. Tips Sukses Ngeblog ala Beberapa Master Blogger Luar Negeri



Rasa-rasanya ngeblog sejauh ini kok ya gitu-gitu saja ya hasilnya? Pageview stagnan di angka segitu. Apalagi unique visitor, tak pernah bertambah. Kolom komentar sepi. Job review? Beugh, boro-boro. Ikutan lomba juga nggak pernah menang.

Ya, paling ramenya kalau udah minta dikunjungi dan diminta komen #eh wkwkwkwk.

Apa yang salah ya? Kurangkah kemampuan blogging kita?

Hmmm ... nggak juga sih. Mungkin bukan kurang mampu, tapi kurang maksimal saja. Lospokus, seharusnya yang harus dipentingkan adalah meningkatkan kualitas konten, ini malah sibuk ngasih blink blink nggak penting sana sini.


4. Mau Blog Tumbuh Optimal? Coba Cermati Beberapa Statistik Blogging Ini Deh!


Jalan-jalan ke banyak blog, saya sering mendapatkan banyak sekali statistik dan data yang menarik. Semisal, survei-survei yang telah membuktikan, bahwa kalau kita melakukan ini maka traffic naik sekian persen. Atau, sekian persen blog yang menerapkan teknik A, ternyata ranked highly di Google.

Sering nggak baca artikel-artikel yang menyebutkan data seperti itu?
Kalau kamu sering bw ke luar, iya, bakalan sering kamu lihat.

So, I intrigued untuk menjadikannya satu. Barangkali bisa jadi pegangan atau inspirasi kita kalau mau nulis artikel di blog yes? Nggak ada salahnya juga ikutan kan? Siapa tahu hasilnya juga baik.


5. 5 Ide Curhat Berfaedah untuk Ditulis di Blog



Curhat di blog emang boleh? Ya, bolehlah! Tapi kalau curhatnya curhat berfaedah, tentunya akan bikin orang terinspirasi untuk berbuat baik yang sama.

Coba sini kasih saya nama blogger, yang nulis curhat dan lalu viral. Asal curhatkah mereka? Enggak, pasti. Ada nilai-nilai yang ditawarkan di balik tulisan beratus-ratus kata itu.

Jadi, kamu mau nulis curhat? Boleh. Nih, saya kasih beberapa topik curhat berfaedah yang barangkali bisa kamu kembangkan menjadi tulisan curhat yang siapa tahu (kalau kamu bisa mengolahnya dengan baik) akan viral.


6. Idea Mining: Google Trends dan Cara Memanfaatkannya Sebagai Tambang Ide



Buat yang pengin nulis based on trend (para content creator, dan blogger juga kalau mau) dan masih buta soal Google Trends, dalam artikel ini saya tuliskan beberapa hal soal Google Trends yang bisa kita manfaatkan untuk mencari ide tulisan hingga menembak keywords.


7. FAQ - Pertanyaan Seputar Blogging yang Sering DItanyakan oleh Para Blogger Pemula



Beberapa kali saya berkesempatan untuk sharing seputar dunia blogging dengan teman-teman, kadang ya offline, online via Facebook Group, dan yang paling sering akhir-akhir ini, melalui WA group.

Dengan background peserta yang memang merupakan blogger pemula, saya lihat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan memang berbeda-beda, tapi ada beberapa yang selalu ada dan mampir ke saya.

Nah, barangkali saja, ada blogger pemula yang juga nyasar ke sini, dan masih pula punya pertanyaan-pertanyaan ini di benak masing-masing *tsah*, saya akan tuliskan beberapa FAQ yang paling sering saya temui disampaikan dalam kulwap atau sharing saya seputar dunia ngeblog.


Nah, itu dia beberapa artikel di CarolinaRatri.com dengan jumlah pembaca terbanyak.


Ada beberapa hal menarik yang saya catat dalam aktivitas ngeblog saya sepanjang tahun 2017 kemarin


1. Penurunan kuantitas


Saya hanya bisa menulis 54 artikel saja selama 2017 kemarin, secara kuantitas turun dari tahun 2016 yang berhasil menayangkan 89 artikel. 

Tapi, memang saya tidak mengejar kuantitas sih sejak awal saya punya resolusi tahun 2017. Bisa teratur update seminggu sekali, itu sudah cukup.


2. Mostly diakses dari mobile


6 dari 7 artikel terbaik di atas adalah yang beralamat mobile. So, makin yakin deh saya, bahwa mobile web itu penting.

Blog kamu sudah mobile friendly belum?


3. Peningkatan Traffic


Meski kuantitas jumlah artikel ter-publish menurun, tapi ternyata traffic meningkat. Nggak terlalu signifikan sih, tapi ya nambahlah, sekitar 25%.

Means, goal saya cukup berhasil, yaitu menyediakan artikel yang tepat bagi para pembaca segmented yang memang benar-benar membutuhkan informasi yang saya punya.

So, tujuan saya berbagi sudah cukup tercapai.
Puji Tuhan :)



And, what will be in 2018?


Ada beberapa niatan sih untuk saya lakukan di tahun 2018 ini. Saya belum berani merincikan, karena semua masih berupa planning yang belum tereksekusi.

But, a few yang saya sudah benar-benar niatkan:

1. Giving up as a blogger


Eits. Sebentar. Ini bukannya saya mau berhenti ngeblog. Saya masih ngeblog kok, tapi saya bukan blogger. Saya hanya punya blog, yang akan saya update saat saya ada hal yang perlu saya catat di sini.

Semoga sih masih bisa seminggu sekali. Tapi kalaupun enggak, ya, yang penting saya masih akan sesekali nengokin blog ini, terutama. Masih akan sharing juga kok. Tenang aja.

Saya hanya tidak akan membatasi diri di blog pribadi. Istilahnya, saya mau memperluas kotak saya lagi. Menyebarkan tulisan lebih luas lagi ke mana-mana. Saya nggak mau dibatasi blog.

Sehingga, dengan demikian, mungkin saya akan semakin menarik diri dari event, dalam kapasitas saya sebagai blogger.

I'll see you dalam kapasitas saya sebagai seorang marketing person yang sedang networking dengan para blogger :))))



2. I will be more into content creating


Saya sih nggak akan berhenti memproduksi konten tahun 2018 ini. Ada beberapa proyek berjalan dengan saya yang bertanggung jawab di bagian content. 

Tapi niat besar saya, saya ingin memperkaya lagi. Banyak deh niatan saya belajar ini itu. Makanya, saya mungkin juga akan hiatus dulu sebagai speaker, narasumber dan mentor selama tahun 2018. Yah, yang 27 Januari besok mungkin jadi the last one.

Saya rasakan, semua ilmu saya sudah saya share dalam berbagai kesempatan. Sekarang tinggal dikit, jadi saya perlu upgrade lagi. Sehingga saya butuh waktu untuk diam dan belajar dulu.

Saya akan kembali dengan ilmu baru tentang content creation. Hopefully.


3. Menambah panjang portfolio


Dengan mengembalikan tujuan untuk meningkatkan kualitas diri sendiri, maka saya ingin menambah panjang portfolio.

Untuk portfolio tulisan, saya harus bisa menerbitkan 1 buku nonfiksi mayor lagi tahun ini, dan 1 buku fiksi indie. Sedangkan untuk portfolio sketsa, saya belum tahu gimana caranya. Tapi saya pengiiin deh, dapat proyek ngilutrasi buku lagi.

Semoga dapat deh, tahun ini.


4. Mengembangkan bisnis


Plus saya lagi niat mengembangkan bisnis brand Rocking Mama. Ada beberapa strategi bisnis yang sudah saya ajukan untuk Rocking Mama, dan siap untuk dieksekusi.

So, saya mau fokus dulu di bagian ini, dan barangkali akan sedikit menyedot tenaga juga sih. Makanya, ada beberapa hal yang mesti saya geser prioritasnya, di antaranya ngeblog.




Nah, itu dia beberapa niatan besar saya tahun ini. Semoga diaminkan semesta :))) Tahun lalu, saya juga tulis niatan besar saya--meski tidak di blog--dan, Puji Tuhan, semua tercapai.
Saya jadi percaya akan harapan yang dituliskan itu biasanya juga jadi motivasi kita untuk mewujudkannya.

Iya nggak sih?

Selamat menjalani tahun 2018 yang lebih baik ya.