Oke, saya lagi males menganalisis, pun malas ngulik draf, jadi mari kita bagi-bagi aplikasi dan tools online saja. :)) Demi terpenuhinya postingan baru di setiap Senin, yes? Wqwqwq, *dikeplak*

Jadi, buat kamu-kamu yang biasanya pake Canva atau Snapseed buat ulik-ulik konten buat diposting di Instagram Stories ... nggak bosen, cyint?

Ya kali-kali kamu adalah tipe kek saya, yang nggak suka pakai yang sudah dipakai oleh sejuta umat, ini ada beberapa aplikasi yang bisa kamu cobain untuk membuat konten Instagram Stories yang beda dengan para Instagrammer lain.

Kenapa mesti beda?
Karena menjadi unik adalah koentji. Yes? Yes!


5 Aplikasi untuk membuat Instagram Stories yang syantiiik!


1. InShot



Suka sebal nggak dengan ratio image buat diposting di Instagram Stories? Meski sekarang ya kita bisa saja posting foto format landscape, tapi kadang ya pengin juga bisa penuh full selayar gitu fotonya, ye kan? Kepotongnya ya sesuai sama mau kita.

Apalagi kalau mau unggah video.
Cemana bisa ngecrop video?

Ternyata ini bisa dilakukan dengan aplikasi handphone satu ini.
InShot bisa ngecrop video kamu ke ratio 9:16 yang pas buat diposting di Instagram Stories. Caranya kamu tinggal impor aja video kamu ke aplikasi ini, terus pilih deh formatnya. Kalau seumpama ada sisa space, kamu bisa pilih fillernya mau diapain, mau pakai warna solid atau gradient.

Dengan aplikasi ini kamu bisa menambahkan GIF, emoji, juga banyak filter yang bisa kamu cobain semua.

Aplikasi ini tersedia di Android dan iOS.


2. Microsoft HyperLapse



Nah, kalau kamu mau coba bikin Instagram Stories dengan video timelapse, aplikasi ini bisa dicobain nih.

Dengan aplikasi ini, kamu bisa ngeshoot video timelapse secara lebih stabil dan smooth. Videonya bisa sampai sepanjang 20 menit pun.

Selain bisa merekam video, kamu juga bisa mengimpor video biasa ke sini untuk diubah jadi video timelapse. Keren kan? Kamu bisa pilih kecepatan 1x sampai 32x. Tapi pastikan kamu ngerekamnya dalam posisi tegak atau handphone kamu dalam posisi berdiri ya.


3. CutStory



Nah, kalau kamu merasa 15 detik video Instagram Stories itu terlalu cepat, kamu bisa minta bantuan ke aplikasi ini nih.

Meski ya memang sekarang Instagram Stories bisa sih ngerekam lebih dari 15 detik, yang kemudian otomatis nyambung ke Stories kedua, ketiga dan seterusnya. Iya kan? Tapi mungkin nih, kamu pengin ada bagian yang dihilangkan, atau diedit ulang.

Aplikasi ini akan memotong-motong video utuh kamu menjadi 15 detikan yang sesuai dengan mau kamu.

Nggak cuma buat motong 15 detikan, aplikasi ini juga bisa motong video 60 detikan, yang pas buat Instagram post.

Sayangnya, aplikasi ini cuma buat iOS ya. Di Android belum ada. Semoga segera ada.


4. PicPlayPost




Mau pengin bikin collage yang cakep untuk dipost di Instagram Stories? Bisa nih, dengan aplikasi ini, kamu bisa bikin collage foto atau video dengan format vertikal nih.

Mau foto yang dibikin clip, atau kumpulan clip jadi video Instagram Stories. Kamu bisa menambahkan GIF dan musik juga dengan aplikasi ini.

Aplikasi ini bisa kamu download gratis di PlayStore dan AppStore, meski untuk bisa memakai beberapa fitur lainnya, kamu mesti purchase in-app. Dan, kalau kamu mau menghilangkan watermark, kamu bisa membeli aplikasinya. Nggak mahal kok ;)


5. Easil



Nah, yang satu ini bukan aplikasi handphone sih, tapi web based. Ya, hampir seperti Canva, Easil  menyediakan berbagai template Instagram Stories yang bisa kamu pilih sesuai keinginan.

Kamu bisa menggunakan Easil secara gratis. Tapi seperti halnya Canva, kamu hanya diperbolehkan memakai template-template yang memang disediakan untuk free account. Kalau kamu pengin mengakses template-template lebih banyak, ada 2 jenis akun berbayar yang ditawarkan, yaitu Edge dan Plus.

Kalau kamu terbiasa dengan Canva, pasti kamu juga bisa mengoperasikan Easil dengan mudah.
Lumayan beda sih template-nya dibanding Canva. So, kamu bisa yakin kalau hasil ulikanmu akan berbeda dengan sejuta umat lain yang pakai Canva. Hahaha.


Nah, itu dia 5 aplikasi yang bisa kamu gunakan untuk membuat Instagram Stories yang syantik. Selamat berkreasi ya!




Suatu hari, ada pesan WhatsApp mampir ke handphone saya.

Her: "Hai, Mbak Carra! Mbak, saya lagi di Jogja lo! Ketemuan yuk!"
Me: "Wah, iyakah? Sampai kapan?"
Her: "Iya, Mbak, saya lagi ada acara di hotel X (menyebutkan salah satu nama hotel ternama di Jogja). Sampai besok sih, Mbak."
Me: "Ya udah, mau ketemuan di mana?"
Her: "Di mal Y (menyebutkan nama mal yang berdampingan dengan hotelnya) saja ya."
Me: "Oke."
Her: "Mbak, aku pengin banget deh buku Blogging-nya. Dibawain dong, Mbak!"
Me: "Siap!"

So, agak sorean itu, saya pun ketemu dengan Her. Tentu saja saya bawakan buku Blogging: Have Fun and Get the Money (kamu sudah punya belum? Coba deh, beli kalau belum punya #selaluadacelahuntukpromosi) itu. Ada yang mau beli, ya masa enggak saya bawain kan?

Singkat cerita, saya ketemuan dengan Her. Obrol sana obrol sini, basa sana basi sini. Sungguh pertemuan yang berfaedah.

Bukunya?
Tentu saja saya sodorkan.

Tapi ...
Sampai akhir ketemuan, tidak ada ganti ongkos cetak dan nulis buku yang seharusnya saya terima.
Hahahaha.
HAHAHAHAHA.

Yep, nggak ada.
Apa iya, saya mesti nagih menadahkan tangan, sembari bilang, "Eh, mana uang bukunya?"

YHA KHALI.

Saya pun pulang.
Berusaha ikhlas.

Yah, begitulah. Saya kira, orang umumnya sudah tahu, bahwa butuh banyak usaha untuk menulis sebuah buku--buku apa pun itu. Sudah sering saya baca status-status ataupun mendengarkan keluh kesah para penulis buku yang sedih karena teman-temannya--yang katanya dekat, akrab, dan mendukung profesinya sebagai penulis buku--yang meminta buku secara gratis.

Tapi saya yakin. Penulis sebesar Dee Lestari dan Tere Liye pun sekali dua kali barangkali juga masih mengalami hal seperti ini. Apalagi penulis anonoh macam saya.

Ya, akhirnya saya cuma bisa tersenyum kecut.
Seandainya, si Her tadi dengan terang-terangan minta gratis, tentu saja saya bisa ngeles. Tapi saya merasa kek dikibulin sih. *sigh* Di situ sedihnya saya.
Bahkan sebenarnya peristiwa itu sudah luama sekali. Tapi, ya sampai sekarang saya nggak bisa melupakannya. Dendam? Nggak juga. Saya sudah mengikhlaskan buku itu. Toh, kalau dari segi materi, sudah ketutup semua kok dari royalti.
Tapi, bukan di situ masalahnya.

Saya merasa tidak dihargai.

Saya pribadi nggak pernah memaksa teman-teman saya untuk membeli buku saya. Kalau ada yang butuh, ya pasti kok mau beli. Kalau enggak, ya, saya juga nyadar. Buku itu ada di tingkat prioritas keberapa sih dari orang-orang? Kalau ada sisa uang jajan, ya mungkin bisa beli buku. Tapi kalau ada yang lain yang lebih diminati atau diperlukan, ya prioritas buku akan turun lagi.

Cuma ya, nggak gitu juga mainnya.



Puji Tuhan, yang kayak Her di atas itu ya cuma segelintir. Untuk kasus buku Blogging, ya cuma satu orang ini aja sih. Tapi entah kenapa, nusuk amat ya, bok. :)))

Saya juga suka memberikan buku saya secara gratis pada orang-orang tertentu. Tapi itu pastinya beda kasus dengan yang di atas. Saya memberi karena saya memang mau memberi. Bukan dipaksa untuk memberi.

So, saya cuma mau kasih beberapa tip nih.

Jika kamu punya teman seorang penulis, dan kamu nggak bisa ikutan beli bukunya--entah karena apa pun penyebabnya--kamu tetap bisa kok men-support teman penulis kamu itu TANPA HARUS MEMBELI bukunya, tapi juga nggak minta gratis.

Begini caranya.

5 Cara untuk men-support teman penulis buku


1. Bersedia diajak diskusi


Misalnya temanmu itu masih dalam proses menulis, maka coba tanyakan kabarnya. Kabar bukunya, terutama.

Biasanya sih penulis memang butuh masukan yang nggak menggurui. Hanya sekadar pandangan dari kita yang suka baca buku.


2. Tawarkan diri untuk menjadi first reader


Tawarkan dirimu sendiri untuk menjadi first reader.
Kalau drafnya masih mentah ya cobalah untuk memberi beberapa komentar atau catatan. Akan lebih bagus lagi kalau bisa kasih saran.

Tapi kalaupun enggak, yang berupa komen pun akan sangat berharga. Misalnya, untuk novel nih, "Karakter tokoh A menurutku tuh begini begini ya, orangnya?"

Kalau kita bisa tepat mendeskripsikannya seperti bayangan penulis, maka itu berarti dia sudah oke dalam penggambarannya. Kalau meleset, berarti dia jadi punya catatan apa yang perlu diperbaiki.

Untuk nonfiksi, kita bisa bantuin untuk melihat bagian mana yang perlu penjelasan lebih lanjut.


3. Ikut promosi


Nah, meski nggak bisa beli bukunya, kamu bisa men-support si penulis buku--teman kamu itu--dengan cara ikut mempromosikan bukunya.

Gimana caranya?

Ya, bisa saja. Misal, share saja covernya--biasanya di website penerbit ada tuh dipajang covernya. Bisa kamu save as kan, terus posting deh di media sosial kamu. Kalau kebetulan kamu ikutan baca drafnya sebelum diterbitkan, kamu bisa juga cerita bagaimana kesanmu saat baca pertama dulu.

Kamu punya akun Goodreads? Nah, berikan rating deh bukunya di sana. Nggak harus beli ini kan? Hahaha. Kasih aja rating bagus. Wqwqwq.

Atau kamu kasih saja cerita tentang temanmu itu.

Kalau ada teman sirkelmu yang tertarik dan pas dengan kebutuhannya, kan bisa jadi dapat info. Kamu nggak beli, tapi kamu ikut ngejualin juga kan?

Kamu nggak rugi, dan juga nggak ngeluarin ongkos kan?
Teman penulismu pasti juga seneng kamu promosikan.

Seandainya kamu ada waktu, kamu bisa kunjungi toko buku di kotamu. Coba cek deh, apakah buku teman kamu itu sudah ada di rak buku. Kalau sudah ada, foto, lalu kirimkan pada temanmu. Atau, langsung saja posting di media sosialmu, dan tag deh penulisnya.

Biasanya seorang penulis akan seneng banget kalau ada yang nginfoin bahwa bukunya ada di toko buku tertentu.


4. Ikut hadir di event bukunya


Mungkin teman kamu itu punya acara untuk mempromosikan bukunya? Kamu juga bisa ikut meramaikan.

Kalau kamu nggak bisa bantu-bantu di persiapan, kamu bisa, misalnya, ikut nyebarin banner promo acaranya. Colek teman-teman lain yang mungkin tertarik ikut.

Dan, kamu sendiri usahakan juga datang ke acaranya, entah itu acara bedah buku atau talkshow atau book signing.



5. Semangati penulis


Kalau penulis amatir--kayak saya gini--apalagi yang nulis bukunya baru buku pertama, ya pokoknya belum setenar atau seproduktif Tere Liye, Indah Hanaco dkk, maka biasanya si penulis akan secara perlahan tenggelam dalam euforia buku pertamanya tersebut.

Selanjutnya entah deh, bisa menulis lagi apa enggak.

Karena itu, coba deh, semangati si penulis, supaya segera bikin buku lagi setelah buku yang terdahulu sudah terbit. Coba tanyakan, apakah ia punya niat untuk menulis buku apa lagi, ada ide seru apa, dan seterusnya.




See?
Banyak kok yang bisa kita lakukan untuk kasih support ke teman penulis buku, tanpa harus membeli bukunya--meskipun kalau kamu mau membeli sih akan sangat baik adanya.

Saya sendiri selalu berusaha membeli buku-buku yang ditulis oleh teman-teman saya meski banyak dari mereka nggak balik beli buku saya. Ikhlas saya mah :)) Sesuatu, gitu. Kita belajar apa pun dari hidup kan ya? Hahaha.

Dengan cara demikian, saya mencoba untuk ikut andil menghidupkan dunia buku, yang saya cintai ini.

So, btw, sudah pada beli buku Blogging: Have Fun and Get The Money belum? Tinggal dikit stoknya di gudang penerbit ini.

#teteup


Untuk sukses, biasanya kita hanya butuh satu hal saja. Yaitu, konsistensi.

Setuju nggak sampai sini? Harus setuju! Kalau ga setuju, silakan cabut dari blog saya! #hloh Wqwqwq. Becanda. Jan terlalu serius, nanti cepat matik.

Termasuk soal ngeblog. Konsisten menjadi kata kunci kalau kita mau meraih sukses sebagai seorang bloger propesyenel.

Tapi, ternyata, susah juga ya untuk konsisten itu. Kenapa coba?

Mungkin--mungkin lo ya!--karena ngeblog selalu menjadi kegiatan sampingan. Bukan menjadi yang utama.

Coba saja lihat. Misal, para ibu rumah tangga.
Ibu rumah tangga yang ngeblog pasti akan menulis di blog setelah pekerjaan utamanya selesai. Bener nggak? Lalu, yang kerja sebagai karyawan?  Mereka juga akan update blog saat pekerjaan utamanya juga sudah beres.

Yang freelancer--kayak Mamak Carra yang baik hati dan nggak sombong ini? Ya, sama juga. Ngeblognya kalau kerjaan lain sudah beres. Atau seenggaknya, di antara deadline. Jadi ada 3-4 deadline, ngerjainnya setelah deadline 1-2 selesai, ngeblog dulu. Terus lanjut ke deadline selanjutnya. Akibatnya? Ya, gini. Seminggu sekali doang kan, ngeblognya?

Iya, teratur kepublish. Tapi setengah mati juga manage-nya. Wakakakak.

Nah, bener kan jadinya? Kalau jadi kegiatan sampingan pasti deh akan banyak peluang untuk disingkirkan sejenak.

Padahal ya, konsistensi ngeblog ini nggak cuma soal konsisten waktu lo. Tapi juga soal konsisten topik yang dibahas.

Ya, nggak salah. Kebanyakan, ngeblog ini memang jadi aktivitas hobi. Kalau hobi ya pastinya jangan sampai mengganggu aktivitas utama. Aktivitas utama itu berkaitan erat dengan kelangsungan hidup, apa jadinya kalau terbengkalai? Bisa-bisa dipecat kita sebagai ibu, atau sebagai karyawan kan?

Berarti ya udah, ngeblog sesempatnya aja dong gitu?
Yaaa, terserah juga. Sesempatnya ya boleh. Ngeblog itu bebas kok. Cuma ya ingat, hasil itu nggak mengingkari usaha.
Kapan kita sesempatnya melakukan, ya hasilnya juga sesempatnya aja ada.
Kita sesempatnya ngeblog, ya traffic blog juga sesempatnya saja.

As simple as that.
Hahaha.

Nggak mau?
Penginnya ya traffic kenceng yah?
Kalau gitu ya, mesti konsisten.

Tapi, gimana caranya supaya ngeblog tetap fun, jalan terus, tapi nggak pake ganggu aktivitas utama?

Ada kok caranya.

Cara konsisten ngeblog tanpa mengganggu kewajiban




1. Enjoy the ride


Yap, yang pertama kali harus kita lakukan adalah menikmati prosesnya.

Ngeblog itu bisa dianalogikan sebagai lari marathon, alih-alih lari sprint 100 meter.
Untuk bisa menghasilkan blog yang mumpuni, kita harus mengerjakan konten-kontennya dengan serius, lalu mem-backup-nya dengan aktivitas di media sosial juga. Lalu kita pun harus menata layout sedemikian rupa supaya nyaman di mata, dan seterusnya.

Semua itu bukanlah kerjaan semalam.
So, kalau dari awal kita nggak enjoy the process, kita hanya pengin blog kita langsung banyak pengunjung, langsung dikomen banyak pun langsung femes, ya nggak akan mungkin bisa. Di tengah-tengahnya kita pasti lebih banyak putus asanya ketimbang semangatnya.

Karena membangun blog yang mumpuni, yang dikunjungi orang banyak, yang dibaca orang banyak, itu bukan kerjaan semenit dua menit. Tapi butuh effort berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Let’s enjoy it then. Nikmati setiap proses kita menulis. Kita bertumbuh bersama blog kita.


2. Temukan irama terbaik


Saya adalah morning person. Sebelumnya, saya adalah night owl. Suka ngalong.

Tapi, demi irama hidup yang lebih baik--dan juga demi kesehatan--saya mengubah kebiasaan melek malam menjadi melek pagi. Saya tidur lebih cepat, tapi bangun juga lebih awal.
Saya pun lebih produktif dan lebih konsisten melakukan aktivitas saya dengan irama yang baru ini.

Setiap orang punya irama hidup masing-masing. Setiap orang punya waktu produktifnya sendiri-sendiri. Jadi, temukanlah dan buatlah waktu terbaik untuk ngeblog, demi konsistensi ngeblog yang lebih baik.
Hanya kita sendiri yang bisa menentukan ini ya. Dan, akan berbeda dengan orang lain.

Jadi, nggak perlu banding-bandingkan kondisi kita dengan yang lain.


3. Mulailah dari kecil


Segala hal itu selalu mulai dari yang kecil, yang kemudian semakin meningkat seiring waktu. Begitu juga dengan ngeblog.

Karena ngeblog sama saja dengan lari marathon, then we have to start small.

Pertama, mulai dari ngeblog seminggu sekali dengan panjang artikel 300 kata saja. Lalu coba dilihat dan dievaluasi setelah beberapa lama.

Do you enjoy it? Apakah sudah nyaman dengan irama “kecil” seperti itu?

Kalau sudah, maka cobalah untuk sedikit step out of the comfort zone.

Mungkin mencoba untuk menambah jumlah kata dan meningkatkan intensitas menulis. Targetnya ditambah, menulis 500 kata dengan 2 kali update seminggu.

Sekali dua kali tiga kali gagal, tak masalah. Asal niat kuat, pasti kita selalu bisa memotivasi diri untuk bisa mencapai target kecil kita itu.

Kalau target tercapai, jangan lupa kasih reward diri sendiri. Penting buanget tuh!


4. Pilih sirkel yang bisa mendukungmu


Biasanya orang akan lebih semangat kalau punya sparing partner.
Jadi, coba temukan beberapa orang sahabat sesama blogger yang passion-nya sama, mindset-nya sama, dan punya visi yang sama juga.

Mengapa harus sama semua?

Penting nih, karena mereka akan menjadi "bahan bakar" semangat ngeblog kamu. Kalau kamu berbeda pandangan saja, atau dalam kata lain nggak cocok, ya nggak bakalan jalan deh. Yaqinlah sumpah. Kita pengin lancar ngeblog, bukan cuma buat war ini itu kan?

Jadi, pilihlah partner yang benar-benar bisa membuat kegiatan ngeblog kamu semakin semangat. Boleh satu, dua, atau beberapa orang sekaligus.

Jadikanlah mereka sebagai objektif kegiatan ngeblog kita.


5. Keep your mind (and ears, and eyes) open


Dengan semakin seringnya kita menulis, maka kita pun makin peka dalam “menangkap momen”. Apa saja bisa kita jadikan tulisan.

Karena itu, agar tetap dan selalu konsisten dalam ngeblog, selalu buka pikiran, mata dan telinga. Jadilah pengamat yang baik, karena bahan tulisan sejatinya nggak pernah jauh-jauh dari kita kok.
Saat kita sudah peka, maka kita pun nggak akan kehabisan ide dan inspirasi untuk terus maju dalam ngeblog.



Itu dia sedikit tip untuk bisa konsisten ngeblog.

Memang ngomong doang mah gampang. Praktiknya susah. Iya, saya tahu kok. Tapi beberapa trik di atas sudah saya coba terapkan, dan cukup ampuh bikin saya konsisten ngeblog.

Selamat nulis ya. Semangat!