Setelah kemarin saya mengganti Yoast SEO di blog Wordpress self hosted saya dengan Rank Math, makin keliatan deh bahwa optimasi image ini punya poin yang cukup gede dalam optimasi mesin pencari--alias SEO.

Kalau hal ini diabaikan, poinnya turunnya lumayan banget.

So, kali ini mau sharing soal optimasi image, apa saja langkahnya dan apa saja yang mesti diketahui serta diperhatikan saat kita ngulik image untuk blog atau web pada umumnya.


Tentang Optimasi Image

Jadi, menurut State of Web report yang ada di httparchive, image--yang bisa berupa foto, infografis, atau apa pun itu--takes up more than half dari keseluruhan "berat" halaman web.

Yes, lebih dari setengahnya. Ini yang harus dicatat.

Makanya, kalau kita lagi ngetes page speed, baik itu yang pakai tools-nya Google, atau pakai Pingdom, atau tool lainnya, kalau web kita ternyata lola selalu akhirnya dikasih saran, untuk me-reduce size images dengan cara mengompresnya.

Ya, kamu tahu sendirilah, bahwa loading time itu ngaruh banget dalam SEO, karena berperan dalam user experience. Kalau visitor datang ke web atau blog kita, dan ternyata blognya lola cuma karena imagenya yang berat, ya ...



Kenapa?

  1. Menunggu itu berat, gaes. Seberat rindu.
  2. Ya loading image itu kan pake kuota juga ya, cyint. Apa kabar para fakir kuota sobat misqueen, huh?
  3. Hosting web atau blog kamu sendiri nih, bakalan cepet habis kalau itu image gede-gede. Kalau habis, kamu mesti upgrade space yang mana makin gede makin mehong! Padahal duit setoran Adsense belum bisa ditarik pan? #eh


So ya gitu deh.
Jangan abaikan soal compressing image ini ya.

Jadi, mari kita lihat apa saja yang perlu diperhatikan ya, gaes.


5 Hal yang Perlu Kamu Tahu untuk Optimasi Image dalam rangka Memperingan Loading Blog

1. JPEG/JPG vs PNG vs GIF

Kamu kenal berapa tipe file image?

Sebenarnya tipe file image ini ada buanyak banget! Hanya saja, masing-masing ada ada peruntukannya sendiri-sendiri. Ada yang dipake buat nyetak dalam bentuk hard copy, ada yang dipake para desainer grafis lantaran resolusinya yang tinggi, ada yang cocok untuk keperluan online (termasuk di dalamnya blog) karena ukurannya kecil sehingga lebih ringan.

Mari kita kenalan dengan beberapa tipe file image yang sering dipake di dunia online. Ini penting, supaya kamu tahu bedanya, sehingga kamu tahu mana yang seharusnya dipakai.

  • JPEG/JPG: tipe file image ini yang paling banyak atau populer. Range kualitasnya cukup lebar secara teknis, mulai dari low qualities (biasanua sih paling minim resolusi 72dpi untuk diupload) hingga yang high qualities (batas maksimal biasanya 300 dpi). Tipe file ini adalah yang paling sempurna untuk "dikonsumsi" secara online.
  • PNG: tipe file image ini lebih "berat" ketimbang JPEG atau JPG. Biasanya dipakai karena butuh background transparan yang memang disupport oleh tipe file ini. Yang pakai tipe file ini biasanya adalah logo atau header. Nah, untuk foto sebaiknya hindari penggunaan tipe file ini. Karena bakalan berat beud. Untuk infografis juga demikian. Pokoknya kalau nggak butuh bekgron transparan, jangan pakai tipe file ini ya.
  • GIF: tipe file ini biasanya dipakai buat animasi-animasi kecil. Biasanya sih meme-meme itu deh. Sudah pada tahulah pasti. Biasanya GIF ini juga lebih berat ketimbang JPEG, karena ya si animasi itu. Makanya, kalau mau pakai GIF ya nggak usah kebanyakanlah di satu postingan. Satu dua aja udah cukup. Itu juga pilih yang ukurannya kecil aja.



2. CMYK vs RGB

CMYK adalah singkatan dari cyan, magenta, yellow, and key (black), pigmen yang digunakan dalam cartridge tinta untuk membentuk spektrum full color. Dalam produk cetak, kombinasi keempat warna ini membantu membentuk gambar yang lebih berkualitas yang mempunyai spektrum warna yang kompleks.

Tapi, komputer punya "standar" berbeda dengan mesin cetak. Komputer menganut mazhab RGB, yang merupakan kependekan dari red, green, and blue--yang merupakan spektrum warna yang ideal untuk dilihat di screen.

Setiap piksel gambar di layar komputer atau ponsel kamu merupakan sumber cahaya, dan memproyeksikan kombinasi warna primer untuk membentuk berkas cahaya terakhir. Singkatnya, RGB inilah yang seharusnya menjadi tipe spektrum warna untuk optimasi gambar online.

Supaya lebih jelas, coba perhatikan gambar berikut.



Yang kanan, adalah spektrum warna CMYK--yang biasa dipakai di mesin cetak. Sedangkan yang kiri adalah spektrum warna RGB--untuk konsumsi monitor laptop dan ponsel. Beda banget kan? Padahal kalau yang CMYK nanti dicetak, hasilnya kurang lebih sama dengan yang RGB.

Saya bilang kurang lebih, karena ya bisa sama persis bisa enggak. Tergantung settingan, baik settingan mesin cetak maupun settingan monitor. Bahkan satu merek monitor bisa saja berbeda penampakan dengan settingan merek monitor yang lain, meski parameternya disamain.

Rumit ya? Iya, makanya sering ada perbedaan kalau kita lagi bikin artwork yang akan dicetak--buku termasuk--begitu dicetak, loh, warnanya kok beda? Ya itu dia penyebabnya.

Nah, ini malah jadi melebar ke soal cetak mencetak deh :)) Tapi enggak apa-apa, biar tahu dasarnya yah.

Jadi intinya, pastikan spektrum warna yang digunakan adalah RGB. Biasanya sih settingan kamera sudah sama dengan settingan monitor laptop dan ponsel, jadi nggak perlu diulik lagi. Cuma nanti kalau misal kamu menemukan ada perbedaan warna seperti di atas, kamu tahu. Oh, mungkin ini pakai spektrum warna CMYK.

FYI, karena lebih kompleks spektrumnya, sudah pasti CMYK akan lebih berat loading-nya.

Lanjut!


3. Resize sesuai lebar frame

Nah, kebanyakan pasti pada nggak pernah tahu berapa ukuran image yang paling pas untuk blog masing-masing kan ya? Sehingga akhirnya image yang dipakai tuh adalah yang punya ukuran gede, biar aman. Nggak pecah-pecah.

Ini nggak salah sih.
Tapi perlu kamu tahu juga, bahwa seberapa pun lebar image yang dipakai akan secara otomatis diperkecil oleh platform blog. Jadi buat apa pakai image yang terlalu besar? Mubazir, dan malah bikin blog kamu tambah berat.

Nah, yang jadi pertanyaan adalah, "Buat image di blog itu pasnya ukurannya berapa sih?"
Pertanyaan ini sering banget saya dapatkan.

Terus terang, saya enggak tahu.
Karena, setiap blog itu punya ukuran pasnya sendiri-sendiri tergantung template yang dipakai.

Lha, kalau gitu gimana cara tau ukuran pasnya?
Ada beberapa cara:

Cara 1. Pakai Photoshop

Kalau kamu terbiasa pakai Photoshop, kamu bisa pencet tombol print screen yang ada di keyboard laptop atau PC, lalu buka PS > New ...



Nanti kan akan kebuka popup untuk bikin artwork baru. OK. Saat sudah ada new file-nya, lalu ctrl V. Maka yang kamu print screen tadi akan terkopas di file PSD yang baru itu.

Krop-lah sesuai frame lebar tulisan. Kalau sudah baru deh diliat berapa ukurannya di Image Size.







Cara 2. Pakai Addon di browser

Ada Addon di Mozilla Firefox yang namanya Measure-It. Tambahkan ke browser Mozilla Firefox kamu. Seharusnya sih, di Chrome juga ada, karena addons ini cukup populer. Silakan cari di webstore-nya ya. Addon ini gratis.






Nah, ambil aja berarti ukuran 730 px untuk lebar. Untuk tingginya biasanya menyesuaikan sih. Saya biasanya pakai 4:3. Jadi untuk 730 px, tingginya untuk perbandingan itu berarti sekitar 500 px. Ini maksimal. Lebih pendek sih oke juga. Kalau tinggi, nggak usah dipermasalahkan pada intinya.

Jadi, yang dipakai satuan ukurannya adalah pixel ya, bukan centimeter. Inget nih. Karena kita akan pakai di monitor, bukan jadi produk cetak. Jadi ukuran standarnya pakai pixel.

So, berapa pun image yang akan dipakai, pastikan lebarnya 730 px. Ini di blog saya ini. Blog kamu beda lagi. Silakan diukur lebar frame kontennya, tidak termasuk sidebar ya. Supaya pas.

Kalau sudah diukur, selanjutnya kan gampang dijadikan standar.


4. Kompres supaya lebih ringkas lagi

Apanya yang ringkas? Ya, data file image-nya.
Dengan dikompres, data-data yang nggak terpakai akan disingkirkan. Sehingga file image kamu akan lebih ramping lagi.

Kalau di Wordpress ada pluginsnya. Ada beberapa sih, di antaranya WP Smush, EWWW Image Optimizer, CW Image Optimizer, dan lain-lain.

Kalau nggak mau nambah plugins, atau buat kamu yang ngeblog di Blogspot, bisa pakai TinyPNG.


5. Lengkapi SEO Onpage

Yang terakhir, jangan lupa lengkapi SEO Onpage. Meliputi:
  • Ganti nama file yang sesuai dengan keywords artikel.
  • Lengkapi alt image attributes, isi dengan keywords utama
  • Lengkapi dengan kredit jika kamu ambil dari source lain.



Gitu deh, langkah-langkah optimasi image agar nggak bikin blog kita berat.
Nah, kalau ukuran images untuk digunakan di media sosial sih, saya pernah kasih di blog ini. Silakan dilihat kalau ada yang kelewat.

Rumit ya?
Iya, siapa bilang ngeblog gampang? :))


Ada yang tertarik menerjuni profesi sebagai penulis konten?

Kalau ada, well, artikel ini bukan saya tulis untuk menakut-nakuti ya. Hanya saja saya mau share apa saja yang pernah saya alami sejak kira-kira 8 tahun yang lalu mulai merintis profesi penulis lepas.

Menulis menjadi "pekerjaan" saya tahun 2010, saat saya sedang butuh duit banget. Ya, saya kerja kantoran sih. Tapi kala itu saya benar-benar berada di situasi yang sangat sulit. Dan, all I can do is writing. Saya sudah mencoba jualan, dagang ini itu, nggak ada yang berhasil.

Maka, menulis menjadi alternatif terakhir saya. Padahal saya tahu, dan sering dengar, bahwa profesi penulis itu nggak bisa buat hidup.

Tapi ternyata perjalanan membawa saya ke arah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dibuka dengan tawaran untuk menjadi salah satu buzzer untuk platform mamah-mamah muda, yang websitenya dikelola oleh satu merek susu formula anak. Saya bertugas menulis konten berupa artikel dan menjadi buzzer dengan KPI memasukkan traffic ke website tersebut sebanyak-banyaknya.

Saya masih cupu, hingga saya melakukan satu kesalahan. Maka, kontrak saya diputus. Memang saya yang salah. Tapi dari job tersebut, terbuka beberapa kesempatan lain. Saya merasakan dibayar dengan fee yang macem-macem banget, mulai dari Rp5.000/artikel sampai jutaan per artikel.

Hah? Menerima job nulis seharga 5rebu?

Iya. Percayalah, seberapa pun harga tulisan saya, semua saya syukuri. Selalu ada yang bisa saya dapatkan dari menulis. Karena itu pula, saya mencoba tak pernah menghujat para penulis yang main ambil aja job-job yang berharga murah. Karena, ya siapa tahu kondisinya?

Saat sulit, duit 5rebu itu berharga banget, cyint. Percaya deh. Apalagi saat yang bisa kita lakukan itu cuma nulis.

Anyway.
Semua job menulis yang saya dapatkan akhirnya sambung menyambung, hingga sekarang. Rasanya rezeki itu tak pernah putus, dan kesemuanya dari hasil saya menulis konten.

Mulai dari mengisi blog pariwisata yang dibayar dolar, ngisi artikel di web beberapa penerbit buku--sampai dikirimi beberapa buku untuk saya baca dan saya ulas--sampai kemudian saya dipercaya untuk mengelola portal untuk pembaca mamah-mamah muda. Hingga sekarang dipercaya mengelola konten web kesehatan milik salah satu universitas tertua di Indonesia, dan yang akan datang: mengisi konten untuk website dan media sosial sebuah perusahaan perencanaan keuangan.

Ternyata tahun ini sudah tahun ke-8 saya mengklaim diri saya sendiri sebagai penulis konten.

Menjadi penulis konten jangan dibayangkan yang enak-enak saja. Yang saya sebutkan di atas, memang adalah hasil yang didapat. Tapi saat menjalaninya, nggak ada yang tahu betapa saya jumpalitan untuk memenuhi target.

Memangnya, apa saja yang sih yang dikerjakan? Well, ya banyak sih. Karena rata-rata, target harian saya adalah menulis dan mengolah sedikitnya 5 artikel, masih belum termasuk konten media sosial.


Dan inilah beberapa hal yang harus saya lakukan setiap hari, sejak saya menekuni profesi saya sebagai penulis konten.


1. Rajin baca

Nggak ada orang yang benar-benar menguasai semua topik. Begitu juga saya. Tapi, sebagai penulis konten--apalagi kalau saya harus "mewakili" citra web klien--maka saya harus bisa seolah-olah saya menguasai topik yang dibahas dalam web tersebut.

Contoh. Saya sedang menangani konten web kesehatan--yang harapannya bisa menyusul kesuksesan Alodokter dan HelloSehat. Tapi tahu apa saya soal kesehatan? Palingan ya bisanya cuma ngasih artikel tentang jenis-jenis olahraga yang bisa dilakukan di rumah.

Tapi untuk web ini, saya nggak bisa cuma ngasih artikel jenis portal kayak gitu kan? Makanya mesti banyak baca.

Saat kita sudah memutuskan untuk menjadi seorang pekerja penulis konten komersial dan profesional, kita mau nggak mau mesti bisa belajar segala hal dengan cepat. Para penyewa jasa penulis konten itu kan nggak akan pilih-pilih topik yang sesuai dengan keahlian kita kan? Mereka akan pesan konten yang mereka butuhkan.

So, mau menjadi seorang penulis yang sukses? Maka harus rajin membaca. Harus rajin memperluas wawasan. Harus serba tahu. Mungkin harus tahu dari mulai gosip artis sampai soal politik.

Percaya deh, jika kita memilih-milih topik yang ingin kita tulis, maka kita akan kalah bersaing dengan yang lain.


2. Belajar berbagai gaya dan teknik penulisan

Ada beberapa gaya penulisan yang minimal harus kita pahami, jika ingin menjadi seorang penulis konten profesional dan komersial:

  • News writing: gaya menulis untuk berita aktual
  • Copywriting: gaya menulis untuk iklan atau advertorial
  • Personal writing: yang ini kayak di blog kurang lebih. Jadi ada rasa personal si penulis. Mungkin ada pengalaman atau opini pribadi penulis yang juga diungkapkan. Nah, ini dipelajari saat kita harus menjadi ghost writer bagi orang lain.
  • In-depth writing: biasanya ini untuk menganalisis suatu masalah atau topik secara mendalam, ada data, ada penjabaran masalah, penyebab, sampai solusi.

Bagaimana caranya mempelajari semua gaya menulis itu? Praktik dan latihan terus.

Saat sedang membaca sesuatu, amati gaya penulisannya. Catat hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulisnya. Lalu, praktikkan di blog.

Makanya saya ternak blog :)) Buat latihan.


3. Nggak boleh males riset

Untuk menulis satu topik, hanya bereferensikan satu artikel saja nggak cukup. Kita harus banget mencari banyak referensi lain untuk bisa mendukung tulisan kita.

Saya sendiri biasanya akan mencari 3 - 5 artikel lain sebagai bahan riset. Kadang kejadian juga sih, sudah baca 3 artikel, tiba-tiba saja angle penulisan jadi berubah gara-gara ada hal yang ditemukan saat riset tersebut.

Selain baca, kalau memang ada yang bisa ditanyai, ya mesti berani nanya.

Sering juga sih, udah niat nulis, riset sana sini, bingung, pusing. Terus mandeg. Writer’s block.

Biasa banget mah itu. Jangan tanya deh gimana cara saya mengatasinya. Karena tergantung penyebab writer’s block-nya juga.


4. Harus bisa menyesuaikan diri dengan cepat

Saat kita menulis di blog, bisa saja kita suka-suka. Mau nulis alay juga terserah saja.

Tapi, ketika kita menjadi seorang penulis konten, kita harus bisa menulis sesuai dengan pesanan. Mau pakai bahasa gaulkah? Atau bahasa formal? Harus sesuai EBI-kah? Bahasa SEO friendly pun beda lagi. Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine.

Jadi, kita memang harus bisa fleksibel, menyesuaikan diri dengan pesanan klien. Harus mau berubah-ubah “kepribadian” dalam menulis.


5. Belajar setiap hari

Zaman sekarang, seorang penulis konten nggak cuma nulis doang.

Kita mesti pinter-pinter menyisipkan kata kunci seperti yang diminta oleh klien. Atau harus bisa mewakili “suara” si brand-nya, jika kita diminta untuk copywriting produk brand tersebut. Atau harus tahu ke mana mencari data, jika kita diminta menulis in-depth article mengenai satu masalah.

Syukur-syukur bisa bikin infografis juga.

Nah, kalau mau ke arah konten media sosial lebih banyak lagi yang mesti diulik. Mulai dari foto, bikin banner, video, endebre endebre ... Hvft. Mesti update terus deh, apa yang lagi rame. Terus coba bikin juga. FOMO banget dah kalau jadi pembuat konten di medsos mah. Hahaha. Hedeeehhh ....
*curcol yang kebablasan*


6. Siap bekerja rata-rata 15 jam setiap hari

Jadi, berapa rata-rata jam kerja orang kantoran? 7 jam atau 8 jam. Terakhir saya dengar, standarnya 40 jam/minggu. Ini standar dari pemerintah,

Tapi pekerjaan seorang freelancer--utamanya seorang penulis konten--itu beda. Nggak seperti kebanyakan pekerja kantoran, target seorang freelancer itu lebih ketat. Sama-sama mendapatkan target, kalau perusahaan biasanya targetnya bisa dibagi dalam tim. Kalau freelancer, target ditanggung sendiri. Risiko juga ditanggung sendiri.

Begitu pun seorang penulis konten.

Ingat cerita saya yang menerima job nulis 5000/artikel di atas ya? Tapi itu kan hanya 1 artikel sehari. Rerata penulis konten profesional bisa menulis 7 - 10 artikel setiap hari. Jadi, bisa dihitung kan ya? Kalau dalam sebulan pengeluarannya 2 juta, misal. Berapa banyak ia harus menerima job?

Ya lepas dari kualitas tulisannya sih. Namanya kepepet, kita nggak bisa begitu saja menyalahkan orang. Tapi, biasanya sih yang terjadi, begitu jam terbangnya tinggi, seorang penulis konten juga bisa sedikit-sedikit menaikkan fee-nya.

Jadi, ketimbang menghujat para penulis yang rela menulis dengan harga murah, mbokyao, ditolongin, gimana caranya biar dapat jam terbang yang semakin tinggi ;)
Lagian, yang kita anggap recehan, bisa jadi rezeki nomplok buat orang lain lo ;)

So, memang. Harus rela bekerja keras. Nerima job juga nggak bisa cuma 1 jenis job doang. Mesti nerima kerja paketan :))


Nah, itu dia beberapa hal yang harus selalu saya lakukan setiap hari sebagai penulis konten.

Masih berminat menjadi seorang penulis konten? Good luck then. Harus siap untuk selalu kerja keras ya, karena kalau cuma setengah-setengah, ya sama saja dengan pekerjaan lain. Nggak bisa buat hidup. Hehehe.


Sore itu, kami ber-30++ diajak ke Tebing Breksi. Katanya sih di situlah lokasi kami akan belajar membuat film.

Hmmm. Menarique. Tebing Breksi ini tadinya merupakan lokasi tambang batu alam. Sekarang Tebing Breksi merupakan salah satu objek wisata paling hits dan instagrammable. Lokasinya ada di wilayah Kabupaten Sleman, lebih tepatnya di desa Sambirejo, Prambanan. Iya, memang Tebing Breksi ini berada di dekat Candi Prambanan dan Candi Boko.


Mari Kita ke Tebing Breksi


Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi, kami diminta untuk segera membuat film ala kami sendiri--dengan berbekal pengetahuan yang nggak ada. Hahaha. Lahiya, sebagian besar kan memang bloger, dan sepertinya sih pada umumnya bloger itu biasanya mereka belajar membuat sesuatu secara otodidak. Cuma dari hasil liat, amati, terus ulik sendiri.

Iya nggak sih? Atau, saya aja yang gitu? :))

Anyway, singkat cerita, saya punya kelompok untuk membuat film ala-ala ini. Sama Mbak Indah Juli, Mbak Siti Hairul, dan Mbak Arry Wastuti.

Singkat cerita lagi, inilah film kami. :))




Jadi, postingan kali ini OOT 😂 Nggak bisa deh nggak diposting ini mah. Kemarin kita sempat ke Tebing Breksi, di hari kedua event Sapa Sahabat Keluarga @sahabatkeluargakemdikbud Oleh mentor kami, @ibalibam, kami pun diminta utk bikin video dengan tema BEBAS. So, tanpa ada ilmu apa pun, Mamak yg bisanya cuma bikin video sketsa ini pun menawarkan konsep ke timnya. Ndilalah kok ya diterima. Embuh karena memang pada suka, ataukah Mbak @indahjuli Mbak @arrywastuti sama Mbak @siti_hairul ini cuma manut aja biar si Mamak diem ga ngomel gitu. Bahaha. Dan, jadilah video ini. Semua dibikin di tempat, saat itu juga. Termasuk editing. Makanya noise and goncangan tangan juga warbiyasak. Tapi Mamak ga bisa berenti nontonnya. Selalu ngekek 😂😂😂 On blog soon: how to write essay and how to make a movie! #sapasahabatkeluargayogya #sapasahabatkeluarga #sahabatkeluarga #kemendikbud #keluargahebat #keluargaterlibat
A post shared by Carolina Ratri's (@carra.artworks) on

Ngeliat hasilnya, saya langsung bisa melihat banyak beud permasalahan:
  • Tangan saya yang tremor langsung aja keliatan :)) Kameranya berguncang-guncang bak kena tsunami. Apalagi di scene terakhir. Harusnya itu saya pake foto aja kek opening.
  • Angin yang menderu-deru ganas menutup suara para talents cantik yang sudah berusaha keras tampil keren di video.
Sampai di sini, saya sudah ngedrop. Jiwa perfeksionis saya menggeliat, terluka. Halah.

Tapi lantaran sudah kecapekan (dan lapar), saya teruskan saja eksekusi videonya. Ternyata, teman-teman setim saya nggak masalah. Iya, mereka tau audionya geblek, pengambilan gambarnya bapuk.

Tapi ya sudahlah. Malah bisa dijadikan bahasan kali besok kalau pas dievaluasi. Kita mungkin bisa mendapatkan trik-trik baru malahan kan? *minta dipukpuk*


Bagaimana sih Cara Membuat Film?

Keesokan harinya, barulah kami mendapatkan teori membuat film yang beneran oleh Muhamad Iqbal, sang manajer produksi di Film Maker Muslim. Nah, kalau kamu pernah nonton film pendek Cinta Subuh, ya inilah mereka yang bikin :))

So, buat kamu yang pengin juga membuat film atau video sebagai pendukung blog, atau sebagai konten di media sosial, saya akan kasih oleh-oleh sedikit nih. Lanjutan oleh-oleh dari Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga soal menulis esai yang lalu.

Catatan berikut ini hanya secara garis besar saja, karena proses pembuatan film itu *jelas* rumit. Tapi, ya kek kita belajar SEO-lah. Mulailah dari tahapan yang paling gampang dulu. Seiring waktu, kita tambah pengetahuan dan mulai meningkatkan skill, coba untuk membuat film kita lebih baik lagi. Betul nggak?

So, berikut adalah tahapan yang harus kamu lalui untuk membuat film (yang bagus)


Muhamad Iqbal - Manajer Produksi sekaligus Marketing Film Maker Muslim.

1. Persiapan - Brainstorming ide

Semua memang berawal dari ide. Mau bikin apa pun, akarnya selalu dari ide. Jadi, pastikan kamu punya ide yang layak dieksekusi dulu. Nggak harus selalu bagus dan cetar sih. Misal pun idenya biasa aja, kalau kamu eksekusinya bagus,  hasilnya nggak akan bohong.

Tapi, sembari mengolah idemu, coba tanyakan dulu beberapa pertanyaan berikut. Karena ini ternyata penting banget, dan bisa memengaruhi pengambilan keputusan ide seperti apa yang akan dieksekusi. Pertanyaannya adalah:
  • Untuk apa sih film kamu ini mau dibikin?
  • Pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton?
  • Siapa yang akan menonton?
  • Bagaimana cara menyampaikan agar pesannya sampai ke penonton?
Well, pertanyaannya kurang lebih sama sih dengan kalau kita mau menulis artikel kan ya? Ini bakalan menentukan banget bagaimana presentasi kita nantinya.

Kalau ide sudah ada, dan sudah bisa menjawab semua pertanyaan di atas, langsung ke langkah kedua.


2. Budgeting

Well, ya yang ini beda sih dengan menulis artikel mah. Sepertinya ini juga bakalan beda bagi bloger juga sih. Budgeting yang dikasih sama Iqbal ini keknya lebih ke para pembuat film profesional.

Tapi ya enggak masalahlah. Siapa tahu kamu-kamu juga pengin menjadi pembuat film pro kan, kek Film Maker Muslim?

So, dari mana bujet untuk membuat film ini bisa didapatkan?

  • Patungan antara para kru. Nah, ini bisa banget emang buat memulai. Patungan, punyanya berapa, dikumpulin. Hahaha. Anak kos banget kalau mau makan gofood yah? :P
  • Donatur, barangkali orang tua mau kasih donasi?
  • Investor
  • Sponsor, yang ini nggak melulu berupa uang. Bisa juga peralatan, wardrobe, atau mungkin katering?
  • Tiket pre-sale. Tapi kalau yang ini keknya kita mesti udah gede dulu sih ya, terus bikin acara nobar gitu. Mesti istimewa sih.
Nah, kenapa mesti ada budgeting di awal produksi? Karena biasanya akan ada biaya-biaya untuk membuat film, di antaranya untuk:
  • Makan. Kalau nggak mau ada biaya makan, ya syutingnya jangan pas makan siang. Yakali.
  • Operasional
  • Fee kru dan talents. Kalau mau ngirit di bagian ini ya, krunya sendiri aja terus talentsnya anak-anak sendiri juga. *dasar mamak pengeksploitasi anak di bawah umur!*
  • Sewa alat, kalau kita nggak punya alat syuting yang memenuhi syarat. Eh tapi Cinta Subuh itu aja syutingnya pake kamera Canon EOS (serinya lupa, kemarin dikasih tahu juga). Ya mungkin kalau mesti ada tambahan lighting ya. Kalau mau ngirit ya, syutingnya siang aja sih. Hahaha.
  • Lokasi. Nah, ini misal kalau kita mau syuting di Tebing Breksi kan ada tiket masuk tuh. Nah, itu dimasukkan juga ke budgeting. Ssst, kadang di lokasi kita juga ada jatah preman lo, jangan salah. Yah, Indonesia gitu. Selalu ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
  • Art, makeup, dan wardrobe. Ini jelas harus dibikin bujetnya ya. Apalagi kalau butuh yang khusus.

3. Pra Produksi

Nah, tadi sih kita sudah melalui tahapan persiapan memang. Tapi saat akan produksi kita juga butuh proses lagi nih. Prosesnya meliputi:
  • Pembuatan skenario. Well, penulisan skenario memang berbeda dengan menulis artikel biasa yah. Jadi, kalau mau dikerjain sendiri, ya mesti belajar dulu teorinya nih.
  • Casting, untuk memilih talents yang akan berperan dalam film kita.
  • Reading, pembacaan skenario oleh para talents, kandidat tokoh film.
  • Cek lokasi, agar kita bisa merencanakan shot list atau storyboard dengan baik.
  • Persiapan art, wardrobe, alat, kru, dan lain sebagainya.
  • Bikin shot list atau story board. Kadang syuting juga nggak dilakukan sesuai urutan yang ada di skenario. Misalnya nih, ada beberapa adegan yang mesti disyut malam, tapi nggak berurutan. Kita bisa ambil gambar sekalian dalam satu malam, baru nanti diedit. Nah, merencanakan syuting ini nih yang rada rumit sih. Kita mesti menguasai bener itu skenario.

4. Syuting

Dan, tibalah kita pada tahapan yang paling exciting :)) Syuting!

Nah, sebagai pemula, kita memang mesti banyak belajar dulu soal shot type, camera angle, dan juga the rule of third. Kenapa? Karena ketiganya inilah yang akan menentukan komposisi sinematografi film kita.

Misalnya soal shot type nih. Ada beberapa shot type yang dikenal di dunia film, misalnya extreme long shot, full shot, close up, sampai extreme close up. Kita harus bisa mengenali kapan masing-masing shot type ini dipakai.

Kenapa begitu?
Well, pictures talk. Masing-masing shot type ini punya fungsi dan makna masing-masing. Contohnya, extreme long shot biasanya untuk menampilkan suasana dan setting lokasi yang memang ingin ditonjolkan. Sedangkan, close up biasanya untuk menonjolkan emosi tokoh film.

Nah, ini nggak boleh kebalik-balik. Fatal bangeudlah kalau sampai kebalik. Emosi nggak akan sampai ke penonton, dan bisa jadi pesannya juga nggak bakalan tersampaikan.


Gayanya udah meyakinkan belom? Foto by Fuji Rahman Nugroho


Jadi, memang nih, kalau mau bikin sesuatu itu ya kita mesti banyak-banyak ngumpulin referensi dulu. Kalau mau membuat film, ya banyakin nonton film, biar tahu seluk beluknya. Nggak cuma nonton doang, tapi amati setiap detailnya hingga ke teknisnya. 

Btw, selama presentasi, Iqbal ini banyak menampilkan contoh dari film-film MCU :)) Sepertinya dese penggemar neh. Tapi ya nggak salah sih. Kalau untuk referensi pembuatan film, film-film MCU ya megang banget. Kalau soal plot cerita sih yahhh ... ya gitu deh. Hahaha *dirajam para penggemar MCU*

Balik lagi ke laptop.
Setelah proses pengambilan gambar selesai, seterusnya yang harus dilakukan adalah editing. Nggak cuma "menata" video-video hasil syuting, tapi di sini juga termasuk dubbing (misalnya untuk mengatasi deru angin menggebu yang masuk ke dalam video hasil syuting kek punya saya itu), penambahan musik scoring, sound mixing, dan lain sebagainya.

Oh kemarin sih Iqbal kasih rekomendasi aplikasi video editing yang gampang, tapi saya lupa nyatet apa aja. Tapi saya ada nih daftar aplikasi editing video yang sudah pernah saya cobain. Boleh diliat-liat, kalau belum pernah nyimak yah. Mayan bisa jadi referensi. Selanjutnya, boleh dicoba-coba sendiri.


5. Publish!

Ada banyak pilihan media publishing untuk video atau film kamu:
  • Media sosial, seperti Instagram atau Youtube
  • Ikutkan ke festival film
  • Direct to DVD
Sepertinya yang paling oke untuk saat ini adalah media sosial ya, baik itu Instagram ataupun Youtube. Kalau Instagram, ya palingan cuma bisa semenit doang.

Youtube sih terutama yang paling oke.


Kesimpulan

Jadi apa kesimpulan kita?
Bikin film itu susah.
Hahaha.

Tapi saya lantas berpikir--soalnya saya sering diomelin sama Daeng Min-nya Seenema.id lantaran suka kasih rating busuk ke film nggak mutu--apakah ini berarti sebagai penonton kita mesti "berbaik hati" kalau ngasih rating?

Saya jawab, tentu saja enggak.
Susah membuat film, bukan berarti lantas menjadi excuse untuk membuat film yang enggak layak ditonton.

If you know what I mean.

Jiaaah. Sudah 1600 kata lagi :)) Saya emang suka bablas kalau nulis yah.
Tapi, dengan demikian, utang oleh-oleh saya lunas ya, dari lokasi Workshop Content Creaton Sapa Sahabat Keluarga di Hotel Jayakarta kemarin.

Terima kasih buat semuanya yang sudah mengundang saya, yang sudah berinteraksi dengan saya selama workshop, terutama para pemateri yang warbiyasak! *standing ovation*

Sampai ketemu di konten-konten yang lain! :))