• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Kadang iri, iya nggak sih? Blogger lain pada bisa dapetin job keren-keren karena DA/PA-nya tinggi. Yang sebelah sana lagi tuh, bisa jadi influencer karena punya follower banyak.

Terus, coba lihat. Barusan ada yang unggah screenshoot Google Analytics-nya. Ckckck. Pageviewnya 20.000 per hari bok!

Kok bisa ya?

Dia kok bisa? Saya kok ga bisa? Kenapa?Saya rajin blogwalking. Saya hadir di tiap event dan acara, bikin liputan juga (meski 2 bulan setelahnya). Saya juga selalu ikutan absen, kalau lagi ada job di-floor di grup/komunitas pasar bajer. Saya juga rajin update blog.
Tapi kok, segini aja ya?Pageview di bawah 100 setiap hari. DA malah anjlok. Belum lagi spam scorenya ... hedeh! Nggak usah nanya Alexa juga deh! Ndut bener.
Ada apa dengan blog saya?

Well, sebenarnya saya bisa jawab.
Bukan blognya yang bermasalah.
Mungkin kamulah sebagai blogger, yang bermasalah.

Mari kita lihat.
Saya bukannya menghakimi ya, tapi sejauh sependek pengamatan, kebiasaan buruk ini masih saja saya temui di antara teman-teman blogger saya.

Sedi akutu kalau liat!


Mengapa kita berakhir hanya menjadi blogger medioker?


1. Mudah salah paham


Inget banget pas masalah outbound link beberapa waktu yang lalu. Banyak sekali yang dm atau japri saya, dan menanyakan hal-hal seperti:

"Mbak, ada yang nawarin job nih. Aku mesti pasang 3 link keluar. Kira-kira berbahaya nggak ya?"
"Mbak, aku mau posting artikel nih di blog. Tapi mesti kasih link ke blog lain, jumlahnya 11 link. Kira-kira gimana ya?"
Atau sering juga saya menjumpai kalimat seperti:

"Ih, kasih link keluar? Wani piro? Kalau bayar ya, aku mau. Kalau enggak, nggak mau ah! Rugi di kita dong." 

Sejujurnya, saya sedih liatnya. Berarti banyak teman yang belum paham cara kerja sebuah outbound link, atau external link, ataupun link keluar dari blog kita.

Karena kalau memang paham betul mengenai external link, nggak akan ada pertanyaan seperti di atas, pun nggak akan ada pernyataan "wani piro?" itu.

Hingga kemudian berbuah ke ketakutan untuk memberi link dofollow pada rujukan, tapi justru dengan senang hati memberikan link pada mereka yang mau membayar.

Inilah "hasil" dari kesalahpahaman. Kenapa bisa sampai salah paham? Bisa banyak sebab. Mungkin karena kurang mau menggali lebih dalam mengenai satu dua hal yang belum dipahami. Mungkin juga nggak menemukan sumber yang bisa dipercaya.

Atau ... mungkin karena poin kedua berikut.



2. Suka menelan mentah


Kadang kita memang sudah berusaha untuk mencari tahu. Lalu, menemukan sumber.
Tapi sayangnya, kita terbiasa menelan mentah saja apa yang diberikan oleh orang lain.

Terlalu terbiasa "disuapi". If you know what I mean.

Artikel dari Mas Febriyan Lukito ini menjelaskan maksud saya.
Saat kita disodori informasi, atau tip dan trik blogging--karena kita berbicara soal ngeblog--oleh orang yang kita "anggap" lebih pinter dan lebih tahu, kita pun jadi terlalu penurut. Nggak mau nanya, kenapa begini kenapa begitu pada mereka.
Padahal orang pinter itu bisa saja salah lo.

Akhirnya, informasi salahlah yang kita terima.
Sudahlah infonya salah, dilakuin, terus difanatikin lagi.

Ya ampun. Sedi akutu liatnya. :(

Salah satu hal yang mesti diupdate soal SEO--misalnya ya--adalah soal tulisan harus dibold sana sini. Juga ngasih link ke artikel itu sendiri.

You know what, sekarang bold font tulisan itu sudah nggak masuk ke trik SEO lagi. Tahu nggak sih? Nggak ada tuh, yang nangkring-nangkring di posisi pertama Google search ada yang di-bold-bold tulisannya. 

Juga yang dikasih link ke tulisan itu sendiri itu, buat apa ya?
Orang sekarang malah pada jengkel kalau ngeklik akhirnya balik ke artikel itu lagi.

SEO zaman now itu fokusnya user experience.
Bukan lagi search engine experience. Dilogika aja deh. Dengan di-bold, bisa kasih pengalaman baik apa untuk user? Mana yang di-bold bukan bagian yang penting lagi.

Logikanya gimana?

Dulu memang, trik ini bisa jadi cukup efektif boost peringkat di Google. Tapi algoritma Google itu selalu berubah. Update dong!



3. Nggak pernah praktik


Ini juga lucu.
Saya sering liat, ada banyak orang berebutan ikut kelas menulis, kelas ini itu, kelas SEO, kelas viral content ... apalah apalah.

Pokoknya rajin banget deh ngumpulin teori.
Tapi teori tinggal teori.

Dipraktikkan enggak tuh?
Enggak.

"Iya, kemarin aku ikutan kelas X, Mbak.""Oh ya? Keren dong. Berarti udah tahu dong, cara nulis artikel yang menarik.""Hehe. Iya begitulah, Mbak."

Setelah dibaca tulisannya yang terbaru, ya ampun. Masih gini aja. Banyak kalimat nggak nyambung. Nggak fokus pula, ini ngomongin apa.
Terus tahu-tahu, habis. Lah, bahas apa sih ini?

Yahhh. Saya nggak tahu juga sih permasalahannya ada di mana.

"Wih, kemarin si Y ikutan kelas fotografi lo!""Oh ya? Keren dong! Gurunya kan si anu yang fotonya emang cakep-cakep.""Iya!"

Setelah dilihat update Instagramnya, lah ... masih muka doang se-frame tanpa ada indah-indahnya sama sekali.
Ya ampun :(

Terus buat apa ikut kelas ini onoh, padahal sudah bayar pun?
Nggak tahu saya juga :(



4. Kebanyakan alasan


"Aduh, pusing ah, SEO."

Iya, SEO memang rumit. Tapi bukan berarti nggak bisa dipelajari pelan-pelan kok.

"Aduh, nggak bisalah kalau ngerjain tulisan sehari harus jadi. Saya orangnya perfeksionis soalnya."

Yah, memang. Ada karakter yang dibanggakan, tapi sebenarnya nggak banget. Kayak menjadi seorang perfeksionis ini, misalnya.
Bagus sih jadi perfeksionis. Artinya, ia pasti akan memastikan bahwa hasil kerjanya bagus dan perfect. Tapi sayangnya, perfeksionis kerap juga menjadi "kambing hitam", padahal sebenarnya yang dilakukan adalah "procrastinating". Menunda..

Menjadi seorang perfeksionis itu akan bagus jika memang lantas bisa menghasilkan karya yang bagus. Tapi jangan lupa, bahwa unsur "kecepatan" itu juga ada dalam syarat "karya yang bagus".
Kalau dengan menjadi perfeksionis itu membuat kita jadi lambat, kayaknya sih jangan dipiara perfeksionisnya yang kayak gitu.

Hanya jadi alasan aja tuh.

Dan, masih banyak lagi alasan lain yang saya dengar, setiap kali saya lagi mentoring blogger.

"Ya, soalnya saya memang masih sesukanya sih, Mbak, ngeblognya. Kan katanya ngeblog jangan dijadikan beban."

Please catat ya. 
"Jangan dijadikan beban" dengan "mengerjakannya dengan serius" itu beda. 

Lagian, ngeblog masih sesukanya, kok minta DA/PA tinggi sih? Ya, kalau ngerjainnya sesukanya ya DA/PA juga sesuka-suka merekalah :))))
Duh, maaf ya, saya selalu ketawa kalau ada yang ngasih alasan beginian, setiap kali saya kasih tip dan trik menaikkan DA/PA ataupun menaikkan pageview.

Sungguh, jawaban seperti ini tuh bukan jawaban seorang blogger serius.
Kalau nggak serius ya, udah deh. Nggak usah berharap blognya melejit juga.

Ingat.
No pain no gain.



5. Nggak fokus


Biasanya kalau sudah ada keseriusan, lantas ada fokus yang mengikuti. Dan kemudian ada konsistensi juga yang akan datang kemudian. 

Ini sudah dalil.

Coba lihat diri kita sendiri di tengah keriuhan blogsphere ini. Mau apa kita dengan topik yang nyampur aduk seperti ini?

Mau dikenal sebagai blogger apa?
Mau dikenal sebagai lifestyle blogger yang sukses?
Sukses di apanya?

Bahkan seorang blogger yang sudah memutuskan niche untuk blognya pun masih harus mencari keunikannya sendiri untuk difokusin kok agar bisa stand out.

Lalu, apa yang mau kita "jual" dari blog kita yang nggak ada fokusnya itu?

Silakan ditanyakan pada diri sendiri, lalu dijawab sendiri ya?
Karena "pengin dikenal sebagai blogger apa" ini adalah kunci melejitnya kita sebagai blogger, dan blog kita juga. Ini adalah objektif jangka panjang, untuk memecahkan kotak medioker ini.


* * *

Ya, begitulah.
Kadang kitalah yang membatasi diri kita sendiri untuk berkembang, hingga akhirnya, saat melihat ada orang lain yang lebih sukses dan berhasil, bikin kita bertanya-tanya.

Kok dia bisa gitu ya? Kok saya nggak bisa?

Bisa kok. Bisa. Semua orang bisa sesukses apa pun yang mereka mau, asalkan jangan membatasi diri sendiri. Batasan itu jangan dirancukan dengan FOKUS ya.

"Yah, Mbak. Nggak apa-apa deh, saya jadi blogger medioker juga. Bisanya cuma segini soalnya."

Listen to yourself! Baru saja kamu membuat batasan untuk dirimu sendiri kan?
Dan, kamu lebih memilih menjadi blogger medioker? Fine, itu pilihan masing-masing kok.
Tapi juga jangan nanya, kenapa blog saya segini-segini aja?

Atau, mungkin blog isn't really your thing.
Berhenti aja ngeblog, cari kegiatan lain yang lebih menyenangkan. Banyak kok! Bahkan lebih menjanjikan!

Buka usaha laundry, misalnya.
Share
Tweet
Pin
Share
68 comments



Selain Instagram, Facebook akhir-akhir ini juga berbenah. Apa saja yang dibenahi? Kamu bisa lihat di artikel sebelumnya.

Algoritma Facebook sekarang memang (semacam) sedang dikembalikan ke fitrahnya oleh tim Mark Zuckerberg, yaitu sebagai wadah untuk berinteraksi antar orang secara personal.

Media massa elektronik atau brand-brand semakin sedikit tempatnya untuk bisa berpromosi. Algoritma terbaru Facebook memang membuat para publisher ini harus berusaha ekstra untuk mendapatkan target audience yang sesuai. Ya, kalau mau gampang sih, mereka mesti merogoh kocek lebih dalam. Tapi itu pun juga nggak pasti mencapai target audience yang diharapkan, karena mereka mesti memperhitungkannya dengan saksama.

Nah, bagaimana dengan kita?

Kita sebenarnya adalah "pelanggan" yang disayang oleh Facebook.
Facebook melakukan pembenahan itu karena kita juga. Kita sedang berusaha dimanjakan oleh Facebook.

Masalahnya, ada di antara kita yang ternyata "menyalahgunakan" perlakuan baik Facebook, dan abusing term of service yang sudah ditetapkan. Di antaranya adalah spamming.

Ya, karena kita adalah blogger, dan merasa "wajib" untuk mempromosikan blog masing-masing demi mencapai pageview.

Sebagian blogger--saya yakin dengan pasti--nggak pernah baca term of service yang diberikan oleh Facebook soal spamming atau promosi, sehingga tanpa sadar mereka melanggar aturan-aturan yang sudah ada tersebut.

Hingga, awal tahun lalu, sebagian besar blogger mengeluh, bahwa mereka di-mark as spam sama blogger. Komen mereka ter-hide secara otomatis dan dianggap spam oleh Facebook. Mau posting di beranda juga sebagian bilang, susah.

Saya nggak tahu pasti, "dosa" apa saja yang mereka lakukan hingga "menerima hukuman" dari Facebook semacam itu. Karena term of service-nya itu banyak. Bisa saja dilanggar sedikit, bisa banyak, bisa semuanya. Lagian saya juga nggak bisa tahu dengan pasti, dosa masing-masing blogger ini apa saja kan?

Ya kali saya stalking satu per satu. Wk.

Seandainya setiap kali kita "datang" ke tempat baru itu kita pelajari dulu aturan-aturannya, apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, pastilah kita akan aman-aman saja. Bagaimanapun, itu tempat punya orang. Bukan punya nenek kita sendiri. Jadi, aturan ya aturan. Harus dipatuhi.

Tapi ya gitu deh. Jarang yang mau membaca manual dulu, atau term & condition, atau yang semacamnya. Terus kalau sudah kena batunya, baru deh ngeluh.

Ya, alhamdulillah-nya, saya sampai sekarang masih selalu lolos dari "hukuman". Padahal saya juga cukup sering mempromosikan link ini itu. Mungkin karena saya punya tulisan di berbagai tempat, nggak cuma di blog pribadi saja, sehingga meski saya selalu promosikan tulisan saya, tapi sumber link-nya beda-beda :D

Ya mungkin juga gitu.
Atau, karena saya lebih banyak merusuh di beranda pribadi, bukan di grup, bukan di komen orang. Jadi ya, mungkin dianggapnya bebas aja deh, orang di beranda sendiri.

Entahlah.

Tapi, apa pun, coba deh disimak, beberapa cara promosi yang salah yang dilakukan oleh para blogger berikut ini, yang saya kumpulkan berdasarkan pengamatan.


9 Dosa pengguna Facebook yang paling sering dilakukan


1. Share dalam waktu yang bersamaan


Saya sering lihat, para blogger share satu artikel sekaligus, baik ke beranda sendiri, ke grup maupun nyebar link ke komen orang.

Kalau kita punya 20 grup blogger, ya kita akan share langsung ke 20 grup tersebut secara berturut-turut.

Atau, posting di akun Facebook pribadi, dan juga sekaligus ke Facebook Page, terus dari Facebook Page langsung disebar ke berbagai komunitas.

Yang kayak gini nih kelakuan spammer, bukan blogger.

What to do instead:
Jangan sebar langsung ke banyak tempat dalam waktu yang berurutan. Kamu bisa promosi blog dengan waktu yang diatur.

Misal, hari ini sebar link ke Kumpulan Emak Blogger, besok ke Warung Blogger, dan seterusnya.

"Malas laa, kalau bisa sebar link hari ini sekalian, besok sibuk soalnya."
Ya, diaturlah. Posting link paling berapa menit sih?

Atau kalau memang harus semua tersebar hari ini, beri jeda waktu yang cukup panjang. Satu jam, dua jam. Banyak sih yang bilang, interval 5 menit sebenarnya juga sudah cukup. Tapi ya, demi amannya, coba share dengan interval sejam dua jam.


2. Nyebar dengan caption yang persis


Kadang kita memang mau cepetnya aja kan? Nyebar link, ya pengantarnya kopas aja.
Bikin satu, lalu dikopi, share.
Untuk ke grup yang lain, tinggal paste, dan share.

Cepet!

Apalagi ada juga fasilitas Facebook yang memungkinkan kita menyebar langsung ke multiple group langsung sekali klik aja.

Nah, ini kesalahan nih.

What to do instead:
Cobalah untuk menulis caption atau pengantar share yang berbeda satu sama lain. Sesuaikan dengan target pembaca.

Jangan malas nulis caption.
Blogger kok malas muluk.


3. Konten nggak original


Sebagian dari kita masih mengambil gambar, misalnya, dari Google search. Meski sudah menyantumkan sumber, tapi kadang ini masih berisiko dianggap spam oleh Facebook.

Karena kalau gambar--terutama yang kita pergunakan sebagai featured image yang kemudian kalau dishare nongol menyertai link blog kita itu--sudah pernah dilaporkan sebagai spam ke Facebook, maka gambar tersebut akan masuk ke dalam database spammer Facebook.

Sehingga kalau kita share gambar yang sama, maka otomatis akan langsung dianggap spam juga oleh Facebook.

Nah, ini nih. Makanya penting ya, untuk tahu license sebuah gambar yang kita pakai di artikel blog. Kalau nggak bisa pakai gambar sendiri, pastikan gambar tersebut berlisensi CC0.

Berlisensi CC0 saja masih belum jaminan yakin aman kok.
Paling aman itu ya pakai gambar sendiri.

What to do instead:
Selalu gunakan gambar yang berlisensi bebas dipakai tanpa copyright. Kalau mau ambil di Google, pastikan kamu ambil yang Usage Rights-nya labelled for noncommercial use.

Atau ambil gambar-gambar yang ada di website penyedia image CC0. Saya punya banyak daftar website-nya. Silakan dilihat. Lalu usahakan untuk dimodifikasi. Misal, diedit lagi warnanya, ditambahin tulisan dan sebagainya. Pokoknya jangan polosan apa adanya.

Ini kalau kamu ambil dari sumber lain.

Atau, paling aman ya pakai gambar sendiri. Wislah, pasti aman.

Nah, ini juga catatan.

Bahwa konten di sini nggak cuma gambar ya. Tapi juga tulisan. So, kalau semisal kamu share link dari sumber lain, dan link tersebut sudah pernah dilaporkan sebagai spam, maka kamu pun akan dianggap spammer.

Jadi, be careful saat kamu share link dari mana pun.


4. Over tagging


Ini dulu sempat booming, terutama buat para pemilik online shop di Facebook.
Upload foto produk terbaru, lalu tag banyak orang di friendlist.

Sekarang, sudah nggak ada sih. Ya, setidaknya di saya. Nggak tahu yang lain. Masih adakah yang suka ngetag banyak orang begini?

Meski nggak dianggap spam oleh Facebook pun, saya sebenarnya merasa gengges kalau ditag di foto yang nggak ada hubungannya sama diri saya sendiri.

Behavior kayak gini jelas spamming.

What to do instead:
Pastikan kalau ngetag ya karena orang tersebut ada di dalam foto. Atau fotonya memang berhubungan langsung dengannya.

Misalnya, ada yang ngetag saya di buku Blogging: Have Fun and Get the Money. Nah, itu saya seneng banget. Hahaha.


5. Melanggar aturan-aturan lainnya


Ada beberapa behavior atau kelakuan pengguna Facebook yang melanggar aturan (kalau saya jabarkan jadi poin satu per satu, bakalan terlalu panjang sih. Jadi saya jadikan satu di poin terakhir ini aja.)

Maka, tolong pahami, bahwa beberapa kelakuan di bawah ini dilarang oleh Facebook.

  • Ikut menyebarkan artikel-artikel hoaks dan clickbaity.
    Facebook sudah punya database website mana saja yang punya konten tak berkualitas, yaitu website yang penuh berita hoaks, clickbaity, ujaran kebencian, dan berbagai macam jenis thin content lainnya.
    Dari mana mereka mendapatkan database ini?
    Ya, karena behavior kita juga. Kalau kita terlalu cepat mengunjungi satu website yang linknya disebar di Facebook, maka itu juga akan "direkam" bahwa kita nggak puas dengan isi konten website tersebut. Atau kalau kita pernah melaporkan satu link/akun sebagai spam, ya itu ikut menjadi bahan pertimbangan Facebook.
  • Memasukkan orang ke dalam suatu grup Facebook tanpa izin.
    Yes, ini juga akan menjadi pertimbangan Facebook untuk menganggapmu sebagai spammer. Indikasinya mudah, kalau orang yang kamu masukkan ke dalam grup tersebut langsung leave group, maka satu poin untukmu sebagai spammer.
    Jadi, sebelum memasukkan orang ke dalam suatu grup komunitas, pastikan kalau orang tersebut mau dan suka dicemplungkan ke dalam grup kamu ya.
  • Add friend banyak akun sekaligus.
    Yang kayak gini juga menjadi standar media sosial mana pun. Di Twitter dan Instagram pun juga sama. Kalau kamu follow akun lain dengan membabi buta, maka kamu bisa dianggap spammer.
    Karena ya wajar saja sih. Ini bukan perilaku normal. Facebook itu untuk menjalin silaturahmi antar teman. Kalau ujug-ujug add friend banyak, maka kemungkinan yang belum kenal pun di-add friend. Nah, ini mencurigakan intensinya.
  • Mempergunakan nama bisnis sebagai nama akun Facebook personal.
    Kalau bisnis, ya buatlah Facebook Page, bukan akun Facebook personal. Jadi, pastikan nama akun Facebook kamu adalah nama orang. Nggak boleh pakai nama bisnis ya.
    Misal, nama "Mary Bakery" gitu, nggak mungkin akan diperbolehkan oleh Facebook untuk menjadi nama akun personal.
  • Mempromosikan sesuatu di status orang.
    Nah, ini masih sering saya jumpai sekarang. Ya, kalau merekomendasikan sih beda ya, biasanya akan ada usaha untuk engaging dulu.
    In the other hand, spamming itu asal naruh statement bernada promosi di status orang (biasanya di komennya).
    Kadang di grup Rocking Mama Community juga suka nih ada yang gini. Nggak mau baca aturan grup, lalu nyepam. Nyepamnya di komen lagi. Sori ya, kelakuan kek gini tuh enggak banget.
What to do instead:
Ya udahlah. Nggak usah dilakuin :)))


So, yang mana saja nih yang masih kamu lakukan sampai sekarang?
Kalau masih ada, ya, barangkali sekarang kamu mesti mempertimbangkan untuk behaving a little. Bagaimanapun, kita numpang di lapak orang. Ya, bagusnya kita harus beretika juga dan mau mematuhi semua peraturan yang ada.

Yakin deh, bakalan lebih nyaman juga buat kita.
Share
Tweet
Pin
Share
12 comments



Beberapa hari yang lalu, Mas Febriyan Lukito ngepost status ini.




Nah, kamu termasuk #TimArtikelPanjang atau #TimArtikelPendek?

Saya sih termasuk #TimArtikelSedapetnya. Maksudnya, kalau memang perlunya pendek, ya saya akan nulis pendek. Tapi, kalau saya lihat perlu untuk menulis panjang, ya saya akan nulis panjang.

Tulisan pendek itu biasanya untuk memancing engagement, sedangkan tulisan panjang biasanya saya buat kalau memang sedang menganalisis atau menelaah sesuatu.

Tentang panjang pendek tulisan, sebenarnya saya sudah pernah bahas juga di blog ini. Silakan dibaca, buat yang belum baca. Seenggaknya biar paham, kapan artikel pendek itu diperlukan, dan kapan kita harus menulis secara mendalam (yang akibatnya tulisan jadi panjang).

Buat yang sudah baca, mau baca lagi, juga boleh kok. Ehe~

The point is, seperti yang ditulis oleh Mas Ryan. Jangan maksain, yang pendek jadi memanjang dengan menulis ablah-ablah yang nggak penting dan jadi bikin fokusnya ke mana-mana. Kalau memang nggak penting, ya sudahlah nggak usah ditulis.

Tapi, kalau memang kamu mesti nulis secara 5W 1H yang panjang, ya tulislah secara lengkap. Jangan mengentangi (dari kata dasar: kentang) pembaca *meminjam istilah Mas Dani Rachmat*.

But, then again ...


Yeah, it's hard, man!



Satu, dari kitanya sendiri yang nulis. Kamu betah nggak duduk sejam dua jam untuk cuma nulis doang? Itu pun nggak sekali jadi. Nggak bisa sekali duduk soalnya kalau tulisan panjang, biasanya mah. Mesti beberapa hari. Belum lagi ngelengkapin tetek bengek, pepotoan, vivideoan, dan lain sebagainya.

Dua, dari sisi pembaca. Bosan nggak kira-kira dibacanya itu tulisan panjang kamu?

Tulisan panjang memang melelahkan. Nggak semua bisa nulis panjang.
Saya pun nggak setiap kali bisa nulis panjang.

But, saat harus melakukannya, karena pengin menyajikan informasi lengkap, ya mau nggak mau kita mesti nulis artikel panjang.

Artikel yang panjang itu--katanya--lebih mudah keindex Google. Artikel panjang itu biasanya (kalau nggak mengada-ada) detail. Dan, saya percaya, segala sesuatu yang dikerjakan secara detail, itu biasanya hasilnya memuaskan.

Mau itu tulisan, atau gambar, atau apa pun deh. Kalau dikerjakan dan dipikirkan sampai ke detailnya, pasti hasilnya akan semakin mendekati sempurna.

Ini sudah dalil.

Tapi, jangan salah persepsi. Saya tidak sedang mengharuskan siapa pun untuk selalu menulis panjang.  Ingat, panjang tulisan tergantung pada tujuan tulisan itu dibuat.

Nah, untuk mereka yang kesulitan menulis panjang, ini ada beberapa panduan yang bisa dilakukan untuk menulis artikel panjang, means artikel 1.000 kata atau lebih.


Beberapa langkah membuat artikel panjang, detail dan informatif, tanpa membosankan.


1. Outline adalah koentji

Kunci pertama dalam menulis artikel panjang adalah adanya outline.

Tahu sendiri, outline itu berfungsi sebagai:

  • Alat brainstorming, dan bisa saja timbul ide baru saat menulis
  • Organize our thoughts yang akan dituangkan dalam artikel supaya lebih runtut
  • Memeriksa kesinambungan, antara pokok pikiran satu dengan yang berikutnya.
  • Memenuhi sebab akibat


Ah, nulis blog saja kok pakai outline!

Ya, kalau buat saya, outline itu merupakan tool. Alat. Kalau alat tersebut bisa menolong kita untuk menulis artikel yang terstruktur, rapi, dan bisa tuntas dalam membahas satu masalah, ya kenapa nggak dimanfaatkan?

Kalau memang bikin outline malah bikin ribet, ya nggak usah pakai. Pokoknya hasilnya gimana, gitu aja sih.

Ngeyel pakai outline, terus malah ribet sendiri dan akhirnya nggak jadi nulis. Itu berarti maksain. Atau, nggak pakai outline tapi terus tulisannya nggak fokus, ya berarti nggak bener juga.

So, di mana perlu aja. Dan, hanya penulis yang ngerti di mana perlunya. Peka ya.

So, kalau saya sih, tulisan panjang BIASANYA butuh outline, supaya tetap fokus dan bernas. Nggak perlu bagus-bagus juga, tapi yang penting semua poin yang mau ditulis itu ada. Kadang saya juga pakainya mindmap. Jadi, terserah juga mau gimana.

Kadang dari outline, langsung saya kembangkan jadi tulisan. Jadi langsung aja gitu. Terutama kalau bentuknya listicle. Biasanya dari outline per poin, saya kembangin, tambahin penjelasan per poin. Tambahkan penutup, lalu pembuka. Udah jadi.


2. Jangan terburu-buru

Artikel yang kentang biasanya adalah karena terburu-buru.

"Lah, udah nulis dari 2 jam yang lalu kok belum selesai ya. Ya udah deh, segini aja kali."

Terus udahan. Nggak pakai closing, nggak pakai conclusion. Nggak pakai pamit. Pembacanya langsung ditinggal pergi.

Nggak sopan!
Hahahaha.

Itu saya sih, kalau nemu tulisan. Udah panjang, eh ternyata kentang. Terus langsung ditinggal pula, nggak pakai dipamitin. :))

Makanya kalau saya pribadi, ngeblog seminggu sekali saja. Tapi saya usahakan pembahasan sampai in-depth.

Toh, saya punya waktu seminggu penuh buat mikirin ide tulisan kan? Walaupun eksekusinya ya kenyataannya cuma dikerjain 2 hari, misalnya. Wkwkwk.

Tapi itu salah satu jalan, supaya saya bisa benar-benar menggali lebih dalam.

Saya dulu sering terburu-buru. Rasanya, takut aja gitu. Kalau nggak selesai sekarang juga, takutnya besok udah nggak mood lagi.
Akhirnya cuma numpuk di draft.

Pasti banyak deh yang samaan gitu. Iya kan? Ngaku aja. Wkwkwk. Tapi, saya sendiri mikir. Kalau terburu-buru, jadinya artikelnya bakalan kerasa juga buru-burunya.

Maka kemudian, saya mencoba mengubah kebiasaan. Saya berusaha nggak buru-buru, dan menyelesaikan tulisan ini bisa sampai 2 - 3 hari.

Ya, kadang ya moodnya berubah. Ya enggak apa-apa sih. Selama ini di blog sendiri, kan bebas.
Kecuali kalau kamu ngerjain tulisan panjang pesanan orang, bukan di blog sendiri. Itu memang mesti dicari solusinya.

Kalau nulisnya makan waktu karena artikelnya memang in-depth, ya jadinya perlu banget yang namanya outline. Kalau sewaktu-waktu capek nulis, bisa kita lanjutkan kapan lagi, tanpa hilang fokus. Kita nggak akan lupa, kemarin sampai di mana. Mood akan tetap ada, sampai artikel selesai.

Pokoknya dinikmati prosesnya deh.


3. Pastikan openingnya cukup mengikat pembaca

Opening akan menentukan ‘keselamatan’ artikel kita. Ini sudah berkali-kali saya tulis dan omongkan kayaknya sih.

Coba cek dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini saat menulis opening:
  • Apakah permasalahan sudah langsung disebutkan di 100 kata pertama?
  • Apakah ada janji yang akan didapatkan oleh pembaca kalau mereka mau membaca artikel sampai selesai? 
  • Apakah kata-katanya cukup provokatif dan persuasif, yang mengajak atau membuat pembaca merasa harus menyelesaikan membaca?
  • Apakah opening kamu cukup lucu? Karena biasanya orang lebih tertarik pada hal-hal yang disampaikan dengan jenaka.
  • Atau, apakah opening cukup related to people? Menyebutkan hal-hal yang juga dialami oleh orang lain?

Gimana, sepertinya memenuhi 2 syarat di atas saja sudah cukup menarik. Mau ditambah supaya lebih engaging lagi? Boleh. Lebih bagus.


4. Apakah artikel sudah dalam format yang tepat?

Ada beberapa jenis format yang bisa kamu gunakan:

  • Artikel storytelling, yaitu artikel yang formatnya bercerita gitu. Nah, format ini lebih rentan untuk membosankan. Jadi, saran sih, kalau memang mau bikin artikel storytelling panjang, pecahlah dalam beberapa subjudul atau 'episode'. Dengan memecahnya, maka pembaca seperti diberi jeda di antar bagian. Apalagi kalau ada visual yang  menarik per subbab-nya. 
  • Artikel listicle, yaitu artikel yang berbentuk list atau daftar atau step-by-step. Kayak artikel ini, termasuknya listicle. Round up juga listicle. Itu lebih mudah ditulis sih buat saya, sepertinya buat dibaca juga nggak terlalu melelahkan. Karena terbagi ke dalam beberapa poin, maka nggak kerasa panjangnya karena ada semacam jeda di masing-masing perpindahan poin.


5. Berikan penjeda setiap 200 – 300 kata

Nah, karena dipecah dalam subbab atau per poin, maka harus ada penjeda di setiap bagiannya. Penjeda ini bisa berupa foto, image, gif, atau video. Atau bisa juga infografis.

Silakan berkreasi. Gimana supaya pembaca nggak bosan.

Namun, kadang, saya sendiri dengan pedenya juga nggak ngasih penjeda :))))


6. "Talk" to your reader


Yeah, talk to your readers.

Yes, talk to your readers. Bukan sekadar nulis doang. Apalagi hanya "pokoknya memenuhi utang nulis".

Kadang kita memang nggak kerasa ya. Nulis terus, mengeluarkan apa yang ada di pikiran kita sampai puas dan tuntas. Atau, pokoknya tugas sudah selesai. Pembaca mau ngerti apa enggak, bodo amat.

Pokoknya selesai. Abis ini bisa kirim invoice #eh

Lupa, kalau ada pembaca yang mesti diajak berinteraksi.

Iya apa iya? Hehehe. Hasilnya ya, kayak monolog. Apa ciri tulisan yang "melupakan" pembaca ini? Ada satu ciri paling kelihatan dari tulisan yang "melupakan" pembaca ini, yaitu tulisan yang menggurui, atau yang sok.

Biasanya sih, habis baca tulisan tersebut, kita bukan tercerahkan. Tapi malah makin mumet. Wkwkwk.

Coba deh. Setiap kali menulis, bayangkan ada pembaca blogmu sedang duduk di depan tempat kamu menulis, siap untuk diajak ngobrol. Tutup matamu sebentar, rasakan kehadirannya. Lalu mulailah menulis, seakan-akan kamu sedang berdialog dengannya.

Setelah jadi, coba dibaca ulang. Rasakan, ada bedanya nggak dengan kamu yang biasanya sekadar nulis apa yang kamu pikirkan, atau yang sekadar nulis apa yang di-brief-kan oleh klien.

Kasih tahu saya ya, nanti, kalau kamu rasa ada bedanya.


7. Pastikan kamu menggunakan kalimat dan paragraf yang pendek


Jika satu paragraf terdiri atas 10 baris atau lebih, saya lebih suka memecahnya dalam 2 paragraf. Kadang saya juga suka ada paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat atau satu kata. Biasanya sih karena ada maksud yang ingin ditekankan dalam paragraf satu kalimat tersebut.

Dengan menggunakan paragraf-paragraf pendek, rasanya kita akan lagi ngobrol (refers to step #6 above), alih-alih diceramahin.

Coba deh dirasain.

Lalu, yang penting lagi, kalimatmu juga harus pendek-pendek, sekitar 8 – 10 kata maksimal dalam satu kalimat. Setiap kalimat, akhiri tanda baca “titik” ya. Kalau koma, itu berarti kalimatnya belum selesai.

Apalagi kalau sampai ada lebih dari 2 koma dalam satu kalimat. Itu biasanya kalimatnya udah mbulet.

Fine, kalau kamu masih nggak bisa membedakan "di" yang sebagai kata depan, dan "di" yang merupakan awalan. Nulis "diluar" sama "di keluarkan" kebalik ... well ...


Serah lo deh!


Tapi, kalau penggunaan tanda titik dan koma saja kebolak-balik, well ... kayaknya kamu mesti belajar bahasa Indonesia aja dulu deh.

Seriusan ini.
Karena ini berhubungan dengan ketahanan pembaca untuk mau membaca sampai akhir.
Sepele, namun penting banget.


8. Cek ulang, variasi!


Yang sudah dibahas di satu bagian, jangan lagi diulang di bagian yang lain. Ini nih gunanya outline. Supaya kita nggak terlalu banyak mengulang apa yang sudah dibahas.

Nggak cuma bahasan yang diulang.
Saya sendiri memantangkan diri untuk mengulang kata yang sama dalam satu paragraf. Apalagi dalam satu kalimat.

Jangan sampai deh.

Ini hubungannya sama variasi.
Man, eue aja perlu variasi. Ini tulisan in-depth, udahlah panjang, masa nggak pakai variasi? Bosanlah!
*dikeplakin dari segala penjuru*

So, kamu bisa mengatasi variasi kata ini dengan:

  • Mencari sinonim katanya
  • Mengubah susunan kalimatnya
  • Mengubah struktur kalimatnya, dari pasif jadi aktif, misalnya.
Lalu baca kembali dengan bersuara, agar bisa merasakan apakah ada bagian yang berulang. Tempatkan dirimu sendiri sebagai pembaca.



9. Cek 5W 1H

What, who, when, where, why dan how, merupakan prinsip penulisan jurnalisme yang baik. 

Nggak ada salahnya juga prinsip tersebut kamu pakai dalam menulis artikel blog, terutama yang panjang. Cukup membantu juga sih kalau di saya.

  • What: topik apa yang akan dibahas?
  • Who: siapa subjeknya? Siapa objeknya?
  • When: kapan permasalahan topik akan timbul, misalnya. Atau kapan kejadian berlangsung?
  • Where: di mana sering terjadi atau kejadiannya di mana? Deskripsikan.
  • Why: alasan-alasan yang dapat menimbulkan satu peristiwa yang terjadi.
  • How: bagaimana cara mengatasinya permasalahan?

Dengan memenuhi prinsip tersebut, diharapkan sih artikel kita bisa tuntas dalam membahas suatu topik. Meski dalam storytelling pun, prinsip ini akan baik juga kalau dipakai. Tinggal nanti luwesnya saja.



Nah, satu catatan penting ya.
Kita nggak bisa dengan mudah mengubah kebiasaan. Kalau biasanya hanya bisa menulis 300 kata, ya nggak perlu maksain langsung bisa nulis 2000 kata.

Mulai saja secara bertahap, dari 500 ke 600 kata, lalu jadi 800 kata. Nanti lama-lama pasti bisa deh ke 1.000 kata lebih.

Saya juga gitu kok. Pertama saya juga nulis ngos-ngosan banget ke 700 kata. Lama-lama bisa nulis 30.000 kata, alias nulis buku. *dikeplakin lagi*

Well, menyajikan informasi yang lengkap dan detail, serta bermanfaat bagi pembaca, sepertinya itu adalah yang menjadi tujuan dari setiap tulisan yang ada kan?

Adalah hak pembaca untuk mendapatkan semua informasi tersebut secara lengkap. Maka, kita harus memenuhinya, dan mereka pun akan datang lagi dengan ikhlas dan senang hati.

Semoga langkah-langkah menulis artikel panjang informatif tapi nggak membosankan di atas bermanfaat ya. Kalau ada tambahan, boleh ditulis aja di kolom komen.

Nanti akan saya tambahkan.

Happy writing and blogging, everyone!
Share
Tweet
Pin
Share
18 comments


DISCLAIMER:
Monmaap sebelumnya. Postingan ini mungkin akan terdengar (terbaca) sedikit narsis dan sombong. Tapi, percayalah, saya nggak bermaksud begitu. Pada akhir artikel nanti, saya harap kamu bisa menyimpulkan bahwa, kalau saya bisa, maka kamu pun bisa melakukannya. Karena saya juga orang biasa. Kamu--saya percaya--juga orang biasa. Apa yang saya lakukan, seharusnya bisa juga dilakukan oleh semua orang.

Dalam beberapa kali workshop, saya sering ditanya, "Mbak, berapa banyak Mbak Carra bisa menghasilkan tulisan dalam sehari?"

Di workshop Asyiknya Menulis Nonfiksi bareng Stiletto Book yang lalu juga ada yang nanya, "Mbak Carra kan ngedit. Terus kalau editan mungkin nggak memenuhi jumlah kuota, Mbak Carra kan harus nutup. Gimana caranya membagi waktu antara editing dan menulis tersebut?"

Dan kemudian, ada komen di artikel yang lalu. Bertanya juga, "Time managementnya gimana siih mbaa caraa kok bisa nulis banyak banget?"

Kalau ada yang nanya langsung secara personal, biasanya sih saya cuma cengengesan. Atau malah mengalihkan topik ke hal lain.

Kenapa? Karena saya jengah sebenarnya ditanya seperti itu. Kek nyombong :))) Pada akhirnya, kalau saya jawab pun, si penanya selalu berakhir dengan tatapan nggak percaya :)))) Saya males dan nggak tahu mesti nanggapin bagaimana. Hahaha. Maafkan.

Tapi kalau di forum, ya terpaksa saya jawab.

Saya sehari ngedit 4-5 artikel. Kalau kuota kurang, maka saya mesti menutup dengan artikel yang saya tulis sendiri. Kadang saya nulis berdasar trending, kadang saya keluarin saja tabungan artikel saya. FYI, saya punya bank artikel yang saat ini sih sudah mencapai 170-an artikel.

Wuah, banyak!!!
Iya. Karena saya dulu bekerja keras "nabung". Sekarang tinggal saya keluarin saja satu per satu, sambil nulis lagi tapi sudah nggak seheboh dulu.

Dulu, saya menargetkan diri saya sendiri untuk menulis 10 artikel per minggu untuk simpanan darurat.

Nah, kan? Pasti sekarang muncul pertanyaan, 10 artikel per minggu? Kok bisa?
Iya, bisa. Pakai strategi dong. Wkwkwk.
Bahkan saya pernah menghasilkan 20 tulisan seminggu :))

Begini cara saya menghasilkan banyak tulisan dalam seminggu

Image via BrainyQuote

1. Sugesti diri


Saya mensugesti diri saya sendiri. Setiap kali saya merasa malas, saya akan daraskan mantra ini.

Ciyeh ... (((daraskan))) ...

"Saya adalah penulis. Saya mau hidup dari menulis. Maka, saya harus menulis setiap hari. Seperti halnya yang jualan angkringan di sana itu. Dia jualan setiap hari, supaya makan. Juga para penyapu jalan, mereka harus nyapu di jalan supaya bisa makan. Saya mau bekerja sebagai penulis, maka saya pun harus menulis setiap hari. Seperti halnya orang kantoran yang kerja setiap hari."

Mantra itu terbukti manjur buat diri saya sendiri. Karena mantra itu, maka saya pun bisa membuat waktu untuk bekerja setiap hari. Bekerja dengan menulis.

Di situlah mungkin bedanya.
Ada yang menulis hanya sebagai pengisi waktu luang. Salahkah itu?
Enggak. Nggak salah sama sekali.
Tapi, ya, beda dengan mereka yang menjadikan menulis sebagai pekerjaan. Saya termasuk dalam "golongan" ini. Saya tanamkan disiplin diri, dan sugesti bahwa kalau saya nggak nulis, maka saya nggak makan.

Temukanlah mantramu sendiri, untuk mensugesti dirimu sendiri agar bisa membuat waktu untuk menulis.


2. Jangan anggap beban


Saat sudah percaya, bahwa pekerjaan saya adalah penulis, maka kemudian jangan jadikan hal tersebut sebagai beban.

Confucius bilang, choose a job you love, and you will never have to work a day in your life.

Maka demikianlah. Saya sudah memilih pekerjaan yang saya sukai. Maka, saya pun tak menganggapnya sebagai beban.

Harap bedakan dengan "menganggap sebagai beban" dan "bekerja dengan serius".

Saya tak pernah menganggap ngeblog dan menulis sebagai beban, tapi saya sangat serius melakukannya.

Maka kemudian saya pun selalu menikmati setiap proses yang harus saya lalui saat akan menghasilkan tulisan. Tulisan apa pun itu; tulisan di blog, tulisan di media lain; pun tulisan di buku.

Hidup saya itu memang merely about tulisan :)))))



3. Bangun mental penulis


Dari menikmati proses, maka kita pun bisa membangun yang namanya "mental penulis".

Kamu mesti simak cerita Darren Rowse mengenai Mental Blogging. Coba saya capture-kan yah.

Cerita Darren Rowse, founder Problogger.com

Saya baru nyadar kalau yang kayak gitu yang dinamakan Mental Blogging.

Saya juga sering begini. Misalnya nih, yang barusan kemarin.
Jumat siang, saya diminta oleh Bu Pimred penerbitan di mana saya kerja untuk membuat satu tulisan untuk dimasukkan ke dalam naskah buku yang sedang disusunnya. Kebetulan bukunya tentang entrepreneurship. Saya diminta untuk menuliskan pengalaman saya, gimana dari full timer sekarang jadi bekerja dari rumah.

Saya sih menyanggupinya. Apa sih yang enggak buat Bu Pimred, yekan? Uhuk.
Saat saya pulang, sambil nyetir, otak saya otomatis langsung bekerja. Menyusun gambaran tulisan yang akan saya buat tersebut. Saya menyimpannya di otak--kadang dalam kasus lainnya, kalau perlu saya tulis di hape atau notes, ya saya tulis dulu. Minggir dululah kalau lagi nyetir :))

Kadang ya agak gimana gitu. Ngapa-ngapain kok yang dipikir kerjaan. Tapi, ya kalau sudah baca cerita Darren Rowse di atas, kamu pasti tahu deh gimana kondisinya. Karena saya juga persis kek gitu.

Jadi, setiap saat--terutama kalau ada kesempatan buat melamun--secara otomatis otak selalu ke sana. Kadang liat apa di jalan, langsung tersusun juga--secara otomatis--semacam outline bayangan di otak.

Jadi, saat saya bisa menghasilkan 20 tulisan dalam seminggu itu, saya sebenarnya sudah punya tabungan outline matang yang tinggal saya kembangkan saja. Udah tinggal setengah jalan.


4. Petakan prioritas


Tentu saja setiap orang punya prioritas berbeda-beda.
Ndilalah, saya punya keluarga yang selow. Makanan buat mereka nggak terlalu neko-neko. Saya juga nggak terlalu into ke soal masak-memasak. Ndilalah lagi, sekitaran rumah itu banyak warung, yang jualan lauk rumahan. Yang harganya Rp3.000 untuk satu jenis sayur, dan bisa saya pakai makan buat sehari! Malah jauh lebih hemat ketimbang saya beli bahan buat masak. :))) Kadang saya jemput sekolah juga sekalian mampir beli lauk.

Saya nggak wajib masak setiap hari. Tentu saja ada alasannya kenapa kebiasaan kami begini. Dan, mau judge saya ibu nggak bertanggung jawab karena nggak suka masak? Silakan. Saya nggak perlu menjelaskan kan? :))) Nggak relevan. Pokoknya gitu deh.

Saya tahu bahwa mungkin di keluarga lain kondisi ini akan sangat berbeda. Maka, kamu harus bisa mengenali prioritas apa sajakah itu, dan kemudian memetakannya.

Kompromikan dengan keluarga. Capai kesepakatan.

Saya sendiri, kalau lagi ada kondisi tertentu yang harus diprioritaskan ya sama sekali nggak pegang laptop. Tentu saja, pekerjaan sudah saya bereskan sebelumnya. Lalu saya izin sama klien, bahwa saya akan off selama beberapa waktu.

Hanya kita sendiri yang tahu seberapa penting sebuah prioritas, dan kita sendiri juga yang bisa memilah, mana yang harus didahulukan.

Think strategic.

Begitu juga dengan ngeblog.
Coba petakan apa saja kegiatan dalam ngeblog. Misalnya, mesti blogwalking, mesti promosi di media sosial, mesti foto, mesti maintenance, dan seterusnya. Petakan masing-masing kegiatan ini dalam seminggu. Pecah dalam prioritas-prioritas kecil dalam seminggu, misal.
Senin waktunya blogwalking, Selasa buat growing your social media, Rabu buat cari inspirasi, dan seterusnya.

Kamu juga boleh mengurangi prioritas kegiatan ngeblog sesuai kebutuhanmu lo. Misalkan nih, ada yang nggak memprioritaskan blogwalking, tapi memprioritaskan promosi blog. Maka, ia pun minta teman-temannya untuk datang ke blog, tapi ia sendiri jarang bw. #eh

Ya, itu contoh aja sih. Wkwkwkwk.

Salah nggak sih kek gitu? Ya, pada prinsipnya sih nggak salah. Hahaha. Kan prioritas. Hanya saja secara etika yang gimana gituh ya. Hahaha. *ngakak di pojokan*

Ketangkep kan gambarannya?
The point is, make your priorities!


Damn! :)))) - Image via Quote Master


5. Manajemen ide


Bank artikel saya yang sudah ratusan tersebut adalah "buah" dari bank ide saya yang juga sudah banyak.

Menurut saya, kekuatan seorang penulis terletak pada manajemen ide. Saat kita baru mikirin ide pas sudah duduk dan buka laptop siap untuk menulis, itu sebenarnya sudah TELAT.

Ide itu seharusnya berupa daftar atau list, yang bisa kita telusuri setiap kali mau menulis. Terus bisa langsung dieksekusi saat itu juga.

Untuk jadi produktif menulis, bank ide harus kuat.
Coba lihat di artikel tentang beberapa tools yang bisa kamu gunakan untuk menyimpan ide menulis atau untuk bookmarking ini.

Ini hanya salah satu cara untuk membangun idea bank. Ada banyak cara, dan saya sering bahas di blog ini. Search aja: how to build your idea bank.

---

Nah, selain 5 cara di atas, jangan lupa untuk istirahat. Saya ngerasain banget nih, waktu dulu saya pernah kerja secara barbar.

Pada dasarnya, saya itu memang workaholic. Saya orangnya rela mengurangi tidur demi kerjaan beres dan melampaui target. Tapi nggak pernah rela mengurangi makan atas nama diet #eh
Maka, sehari saya paling pol tidur cuma 3-4 jam. Kek gitu terus bertahun-tahun.

Tapi ternyata itu merusak kesehatan, sodara-sodara!

*Orang udah pada tahu kali, Ra. Elunya aja yang bebal.*

Maka, saya pun mengubah ritme. Puji Tuhan. Waktu masih barbar itu, saya sering sakit, sekarang sudah lebih baik. Nggak kumat ini itu. Itu karena saya menambah jam istirahat saya, jadi 8 jam sehari.

Ternyata mengurangi tidur itu nggak sehat!

Yaeyalah.
*kena toyoran dari berbagai penjuru*

Jadi, istirahat itu juga harus dimasukkan dalam jadwal sehari bekerja. Istirahat cukup terpenuhi, ternyata produktivitas juga berbanding lurus.

Well, I'm still working on it sih, untuk menjaga kesehatan. Karena makin sehat kita, makin produktif pula kita jadinya.
Yang masih PR banget adalah menemukan waktu buat olahraga nih.

Huffft!

So, itu dia beberapa hal strategic yang bikin saya bisa menghasilkan tulisan yang banyak dalam seminggu.
So far saya masih tetap bisa menghasilkan antara 15 - 20 artikel dalam seminggu. Sebenarnya, di luar sana, banyak penulis yang bisa menulis lebih dari 20 artikel dalam seminggu. Sering saya lihat, target menulis 5-7 artikel/hari. Berarti kalau dihitung, berapa tuh dalam seminggu? Lepas dari kualitas lo ya.

Makanya, sebenarnya saya ini masih B aja. Belum luar biasa. Itu juga tergantung panjang pendek, kesiapan materi, tingkat kesulitan, dan mood juga! :)))

Iya, segitu itu saya masih kadang karena nggak mood. Masih sama kan? Masih moody.

So, kalau saya bisa, kamu pasti juga bisa ;)

Keep writing!


Share
Tweet
Pin
Share
22 comments


Hae!

Salah satu resolusi saya di awal tahun 2018 ini adalah memperbanyak lagi area menulis saya. So, ini dia beberapa media yang menjadi penampung tulisan random saya.

Find me there ya!

6 Website dan media online yang menampung tulisan saya secara rutin


1. Rocking Mama


Tulisan-tulisan saya di Rocking Mama
Sejak akhir tahun 2016, saya sudah mulai nimbun tulisan di sini. Sekarang sudah ada 400 tulisan lebih di sana.

Mostly ya tulisannya adalah tulisan emak-emak, ngomongin segala macem, dari mulai yang remeh-remeh sampai ngomongin pelecehan seksual.

Yuk, gabung nulis bareng saya di sana :) Simply berbagi tentang apa saja.



2. Medium

Tulisan-tulisan saya di Medium

Saya juga nulis di Medium, semacam platform kayak Tumbler gitu deh. Tadinya di sana cuma buat repost tulisan yang di blog ini.
Tapi mulai tahun ini, saya akan rutin menulis di sana. Mungkin nggak bisa setiap minggu sih, kayaknya mau selang-seling aja sama nulis di blog ini.

Mostly mau saya isi dengan tulisan seputar creative writing juga. Cuma di sana "tone"-nya emang sengaja saya bikin beda dikit. Ehe~

Silakan mampir juga.



3. Bicara Perempuan

Blog / media terbaru

Tahun 2018 ini saya juga bikin blog / media baru. Gara-garanya saya juga sering nulis tetek bengek tentang perempuan, tapi yang nggak masuk ke demografi Rocking Mama.

Tadinya mau saya masukin ke UC Media. Tapi saya nggak punya pengalaman bagus di sana. Jadi, saya kapok, nggak nulis lagi. Hehehe. Males.

Karena ada beberapa topik dan ide yang sudah ada, ya sayang kalau nggak dieksekusi. Jadilah saya bikin Bicara Perempuan ini.

Rencananya sih, nanti setahun-setahun lagi semoga sudah bisa saya Adsense-kan. Ehe. Mayan buat jajan. Wish me luck!

Ohiya, kalau ada yang mau gabung sama saya nulis di BiPer dipersilakan lo! Cek ke laman Kontribusi ya untuk lebih jelasnya.

Mayan buat latihan nulis kan?
Untuk sekarang PVnya masih sekitar 60-80 PV per hari sih. Doain bisa saya boost secepatnya.


4. Masyarakat Sehat


Me as "penerjemah" di Masyarakat Sehat

Ini adalah salah satu web "anak" saya juga, besutan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat  dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada.

Saya nggak nulis sebenarnya di sini. Lebih ke ngedit. Tulisannya--mostly--tadinya dikirim oleh mahasiswa Kedokteran dan Keperawatan. Terus karena gaya bahasanya masih akademis banget, maka saya bantuin supaya lebih gaul.

Kalau enggak, ya saya ngetranskrip dari video yang ada di Channel INAHEALTHTV di Youtube. Dari video jadi tulisan reportase, gitu.

Tapi sejak bulan ini, Masyarakat Sehat juga menerima kiriman tulisan dari publik. Kalau kamu mau, silakan aja langsung kirim yes? Ada kompensasi lo, untuk tulisan yang dimuat.




5. Stiletto Book


Tulisan-tulisan saya di Stiletto Book
Sebenarnya sih semua Stiletto Girls semacam diminta untuk mengisi web Stiletto Book ini, tapi yah, so far saya yang paling banyak :)))

Isinya ya seputar buku, penulisan dan penerbitan sih.


6. Kumpulan Emak Blogger

Tulisan-tulisan saya di web Kumpulan Emak Blogger

Entah sejak kapan saya jadi kontributor di web KEB. Mungkin pas saya masih Makmin Gambar ya? Lupa :))

Tapi terus saya mundur dari jajaran makmin, tapi saya tetap iseng nulis di sini. Tentu saja karena ada pamrihnya :)) Supaya saya dapat backlink. Huahaha. Jadilah saya sebulan sekali submit tulisan, meski kadang ya pake ditagih-tagih sama Orin. Pfffttt.

Tapi, sejak Oktober 2017--kalau nggak salah--saya rutin ngubrak-abrik Twitter Kumpulan Emak Blogger setiap Senin dan Rabu sore. Dari kultwit, saya kumpulinlah jadi artikel :D
Jadi, praktis, saya bisa setor beberapa kali sebulan sekarang.

Thanks to Makte Sary Melati yang bissssaaaaa aja kasih saya PR dan bahasan. Wkwkwkwk *cipok basah*

Tulisannya ya apa lagi kalau bukan seputar ngeblog dan nyosmed. Yaaaa, saya bisanya itu sih! Saya nggak mungkin kasih resep kek Mak Lianny-lah! Hahaha.

**


Itu dia 6 web yang rutin nampung tulisan saya. Masih ada beberapa tulisan tersebar sih, tapi either saya sudah nggak kirim lagi sekarang, atau ya cuma sekali dua kali.

Kenapa sih saya repot-repot menulis di tempat lain selain blog sendiri? Kan lebih enak nulis di blog sendiri kan? Bisa suka-suka nulisnya!

Lah! Justru itu!
Kalau kita hanya bisa nulis suka-suka mah, semua orang juga bisa. Karena tantangan menulis buat saya adalah menyesuaikan diri dengan maunya orang lain, orang yang butuh, orang yang mau baca. 

Kalau di blog sendiri--entah ya kalau yang lain--kalau saya jadi cepet puas aja gitu. Cepat songongnya juga hahaha. Auk ah. Gitu deh pokoknya yang saya rasain.

Lagian, saya makin malas juga ngulik blog :))) Mesti mobile! Meski https! Dan lalu, yang bakalan datang juga, mesti amp!
Kalau saya nulis di media online lain, saya nggak perlu mikirin itu. Saya merely CUMA NULIS. Cuma mikirin KONTEN! Nggak usah mikirin tetek bengek malesin yang nyita waktu itu :))) Nggak kuat saya, beneran.

Terus, malas ngulik blog kok bikin Bicara Perempuan?
Iya, itu objektifnya beda soalnya. Ehe~ Kalau kemudian saya nemu media lain yang lebih cocok untuk konten-konten Bicara Perempuan, dan bisa menguntungkan saya, ya bisa saja saya pindahin lagi.

So, saya masih mau nambah media lagi buat nampung semua sampah otak yang saya punya. Target selanjutnya Hipwee dan Kumparan. Iyahhh, yang gampang dulu deh. Hahaha.

(((Gampang))) *dijitak*
Soalnya kalau ke Mojok, saya cukup nyadar diri sih. Saya belum 'seunik' itu. Gaya saya belum cocok di Mojok, meski berharap juga sih, next saya juga mau nyoba.

Dibayar enggak tuh di Hipwee sama Kumparan?
Nope.
Simply karena saya memang pengin memperluas kotak menulis saya.

Semoga tahun depan terus bisa nulis in English, dan kirim ke ProBlogger :P
Share
Tweet
Pin
Share
8 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose