• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Hae! Judulnya sudah cukup bombastis belom? Wqwqwq. Secara gitu ya, Canva sudah jadi aplikasi sejuta umat. Hahaha.

Yaa, enggak apa sih. Gak masalah kalau kelen juga pakai Canva. Templatenya emang sudah mencukupi kok. Tapi kadang, kalau semua orang udah pakai apps yang sama, jadinya ya, pasaran :))

Saya pribadi udah mulai nih, bosen liatnya. Lha gimana enggak? Saya bikin buat klien 1, eh sebentar saya liat juga desainya yang sama di tempat lain. Yah, jadi berasa nggak eksklusif lagi. Meski template Canva tetap bisa diulik supaya personal, but still ... kadang ya pengin cari yang lain.

Apalagi yang sehari-harinya desainer buat digital marketing.

Repot? Enggaklah.
Demi desain yang eksklusif, tampak mahal. Yekan?

So, ini ada 10 template untuk postingan Instagram yang barangkali kamu bisa coba juga--kalau kamu bosen sama template-template yang ada di Canva. Nguliknya bisa pakai Photoshop, Illustrator, atau Sketch. Ada desain yang untuk postingan feed, ada juga yang untuk Stories. Silakan dicermati masing-masing ya.


10 Template Instagram buat yang NGGAK puas cuma pake Canva

1. Fashion



Template ini cocok buat postingan fashion-fashion gitu deh. Tapi misal pun untuk produk lain juga oke. Buat showcasing produk baru, atau sale.

2. Thank you



Nah, ini template buat kalau akun kita udah mencapai target tertentu, kan suka terus diucapin terima kasih kan ya?

Template ini bisa kamu pakai.

3. Free Social Media Templates Pack



Ini juga cocok untuk promosi produk, event, atau jenis-jenis promosi yang lain. Bentuknya vector ya, jadi sangat artsy sih kalau saya bilang.


4. Free Valentines Banner Templates



Nah, ini buat postingan hari Valentine. Pinkies-pinkies gitu, gemesh.


5. Instagram Stories Template



Template IG Stories ini didesain oleh Maria Brilkova. Style-nya retro-retro gitu. Cocok juga untuk promosi-promosi.


6. Lush: 24 Instagram Templates



Di sini ada 24 templates yang bisa kamu unduh dengan percuma. Tapi mesti subscribe kalau mau download yah.

Nggak usah khawatir, kamu bisa membatalkan subsciption kamu kapan aja kok. Pokoke dapetin templates-nya! :))


7. Lala Puzzle Instagram Templates



Nah, ini nih. Buat kamu yang pengin bawa desain penampilan feed Instagram kamu to the next level. Pakai pola grid is so yesterday!

Coba pakai puzzle!

Nih, tinggal diganti-ganti fotonya sama kata-katanya aja nih. Sok, unduh!


8. Tanska: free Instagram templates collection



Suka banget sama soft shades-nya. Ini cocok buat showcasing product ya, biar enggak sekadar kolase doang gitu. Kek gini dilihat kan lebih cantik, yekan?

Selain buat feed, dalam pack-nya juga ada template untuk Instagram Stories.

9. Pride Social Media Pack – Vol.1



Paketnya ini lebih macem-macem. Ya, kek template-template Canvalah ya. Kamu juga bebas banget mau ganti warna, ganti font, lalala lilili.


10. InstaMask Free Sample



Yang ini desainnya pake masking gitu. Keren bats!
Pasti akan banyak dapet likes deh kalau pakai ini nih.


Nah, gimana, gaes?

Keknya udah banyak kan ya? Nanti pankapan saya kumpulin lagilah ya. Biar nambah koleksi saya juga.

So, have fun designing!
Share
Tweet
Pin
Share
12 comments




Sudah lazimlah ya, kalau ada pemilik atau pengelola bisnis online juga menggunakan konten visual untuk mempromosikan bisnis mereka. Di dunia yang sudah "dirasuki" oleh teknologi canggih semacam sekarang, kayaknya enggak ada bisnis yang enggak menggunakan internet. Dan, konten yang menarik secara visual akan lebih menggaet orang yang melihatnya.

Hal ini karena manusia memang lebih mudah mencerna informasi secara visual. Coba simak infografis dari The Next Scoop ini deh.

Sumber: The Next Scoop

Makanya kan, materi iklan itu kebanyakan terdiri atas visual. Iya, banyak orang memang yang membuat konten visual untuk membantu pemasaran bisnis onlinenya.

Bagaimana dengan bisnis online-mu?

Tapi bikin konten visual enggak sekadar kasih gambar-gambar doang. Di dalamnya, harus ada konsep. Konsep yang bisa membuat orang menengok, dan kemudian "terpaksa" memperhatikan isi pesan dalam kontenmu, dan kemudian mereka akan melakukan aksi. Aksi apa? Ya, membeli produk atau apa pun yang kamu sedang tawarkan.

Prinsipnya kan memang satu doang.
Bikin orang mau beli.


So, supaya konten visualmu lebih menarik dan efektif, simak 10 tip penting yang harus diperhatikan

1. Kreatif

Yah, tip pertama ini memang begitu mudah diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan.
Kek janjinya mantan. #ehgimana

Well, enggak bisa banyak yang bisa saya sarankan sih, di tip pertama ini. Di sini memang butuh ketajaman rasa dan juga waktu yang selow untuk eksplorasi lebih.

Tsah.
Udah kedengeran sok iyes belum?

Untuk bisa membuat konten visual yang kreatif, kamu hanya harus gunakan imajinasimu. Konten yang kreatif dan beda akan bisa menarik audiens dengan mudah. Di sini akan perlu kepekaanmu untuk menangkap apa-apa yang sekarang sedang disukai oleh orang-orang.

Jangan meniru konten-konten lain yang pernah dibuat. Kalau kamu membuat sesuatu yang baru dan beda, maka orang lain akan lebih mudah mengingatnya.

Ide kreatif bisa didaptkan dari mana saja. Yang penting, kamu bisa menarik audiens dengan memberikan inspirasi baru.


2. Sesuaikan isi konten dengan kebutuhan calon pelanggan

Konten visual yang kamu buat harus sesuai dengan kebutuhan calon pelangganmu.

Ini hubungannya dengan rencana bisnis online-nya juga sih. Semoga kamu sudah punya rencana bisnis yang matang sebelumnya ya. Semoga bisnismu dibangun berdasarkan kebutuhan calon pelanggan, bukan sekadar "karena saya pengin bisnis ini".

Maksudnya gimana ya? Coba baca artikel di QM Financial ini saja ya. Saya mah enggak terlalu berkompeten di sini, mending baca dari mereka yang lebih ahli.

Jadi, mari kita anggap bisnis online kamu sudah punya rencana bisnis yang matang, dengan menjawab kebutuhan calon pelangganmu.

Maka, agar bisa menyampaikan misi bisnismu, kamu juga harus punya konsep konten visual yang selaras dengan rencana bisnismu itu.

Misalnya, kamu berjualan baju plus size, untuk menjawab kebutuhan para wanita yang punya bodi plus size. Maka, konsep konten visualmu juga harus bertolak dari kebutuhan tersebut.


3. Buat kepo

Kalau kamu langsung menyebarkan poster utama via media sosial, besar kemungkinannya orang akan hanya melihat sekilas. Orang tidak akan terlalu tertarik untuk melihatnya. Efeknya tentu kurang bagus.

Kamu bisa menggunakan teknik khusus untuk menarik perhatian orang. Caranya bisa dengan memberikan petunjuk tersembunyi sebelum poster utama keluar. Misalnya, kamu membuat postingan berisi satu atau dua kalimat yang menunjukkan bahwa akan ada sesuatu yang menarik. Orang yang melihatnya pasti akan jadi penasaran dan menunggu munculnya poster utama.

Contoh aja deh.

Misalnya, untuk konten Instagram nih ya. Buatlah satu seri konten yang nantinya bisa kamu posting secara multiple.

Algoritme Instagram kan sekarang aturannya, kalau ada multiple post lewat di beranda dengan foto pertama belum kita like, nanti beberapa jam kemudian akan lewat lagi dengan slide foto kedua yang kelihatan.

Jadi, ini harus dimanfaatkan.

Buatlah posting dalam bentuk multiple post. Taruhlah, foto pertama dan kedua baru teaser, semacam ngasih pertanyaan-pertanyaan yang bikin orang kepo. Barulah di foto ketiga, nongol penampakan produk kita.

Dengan demikian, orang jadi beberapa kali "terganggu" kan? Jika foto pertama dan kedua cukup menggelitik, pasti deh foto ketiga akan mendapatkan perhatian.

Tinggal gimana kita meramu kontennya aja kan?


4. Berinteraksi dengan follower

Nggak cuma berpromosi melalui konten visual yang kamu sebar doang, kamu juga harus memberi kesempatan audiens untuk bisa berinteraksi langsung denganmu.

Kalau perlu, buatlah agar konten yang kamu pasang bisa disebar oleh follower lewat media sosialnya masing-masing.

Di sinilah perlunya kita juga memposting konten lain selain jualan. Bahkan porsi konten non jualan (atau jualan tapi tipis-tipis banget) ini diusahakan harus lebih besar ketimbang konten jualannya.

Aktiflah membalas komentar-komentar yang ada. Hal ini akan membuat orang lain juga tertarik, sehingga mereka semakin intens berinteraksi denganmu sebagai pemilik atau pengelola bisnis online tersebut.


5. Perfect timing

Di marketing, timing ini pegang peranan penting. Salah timing atau salah momen bisa menyebabkan materi kontenmu akan tertimbun oleh konten yang lain. Atau yang lebih parah, menimbulkan backlash--semacam bullying yang malah balik menyerang kita.

Contoh ya. Pernah saya menyiapkan konten yang mengulas tentang Papua. Namun, ternyata saat itu, Papua sedang dilanda kerusuhan. Maka, dengan terpaksa, konten tentang Papua itu harus dipending, demi menghindari hal-hal yang mungkin tak diinginkan terjadi.

Ini memang erat kaitannya dengan citra. Jadi, sesuaikan dengan citra bisnis online kamu ya.

So, pastikan kamu menayangkan kontenmu di waktu yang tepat.

Nah, soal publishnya, kamu bisa post kontenmu di waktu saat orang-orang banyak membuat media sosial. Misalnya di jam istirahat siang atau sore hari. Kalau dipost di tengah malam, ya pastinya akan lebih sedikit orang yang lihat.


6. Temukan ciri khas

Supaya orang lebih mengenal tentang bisnismu, ada baiknya kamu menentukan ciri khas atau image yang ingin kamu bangun. Misalnya, kalau warna khas brandmu adalah hijau, kamu bisa membuat konten visual yang bernuansa hijau.

Semua video, foto, dan poster yang kamu buat sebaiknya memiliki tema tertentu yang unik. Di sini kamu harus dapat mengembangkan image yang kamu punya.

Untuk apa? Ya supaya pelanggan dan calon pelanggan bisa lebih mengenal merek bisnis dan produkmu.

Yes, ini ada kaitannya dengan branding.
Well, in fact, sedari tadi kita ngomongin branding mulu sih.


7. Konsisten

Konsistensi juga merupakan hal yang penting. Seperti yang sudah disebutkan, kontenmu sebaiknya memiliki ciri khas sendiri. Ciri khas ini harus konsisten kamu masukkan di setiap konten yang kamu buat.

Ya kalau enggak konsisten, ya bakalan susah diingat sih. Gitu aja prinsipnya.

Jadi, begitu kamu menemukan "bahasa" yang pas, gaya yang pas, maka pertahankan, dan jadikan sebagai ciri khas. Tampilkan ciri khas ini di setiap konten visual yang kamu buat.


8. Libatkan follower yang sudah ada untuk menjaring follower baru

Maksudnya gimana dah?

Terkadang, promosi yang dilakukan antarteman lebih efektif daripada promosi yang dilakukan pemilik brand. Di sini, kamu harus bisa membuat agar follower yang sudah ada sekarang itu mau membantumu untuk ikutan menyebarkan konten visual yang sudah kamu buat.

Metode ini terbukti cukup efektif.

Ini banyak dilakukan oleh brand besar. Coca Cola pernah menerapkan trik ini. Mereka meminta follower untuk membuat konten kreatif sendiri menggunakan tagar #ShareaCoke. Dari situ, mereka bisa mendapatkan tambahan exposure, hingga follower pun bertambah 25 juta orang.

Hebat, ya. Tanpa mengeluarkan banyak biaya dan tenaga, mereka bisa mendapatkan hasil yang luar biasa.

Kamu juga bisa. Misalnya, buatlah giveaway atau kontes, yang meminta follower untuk ikut menyebarkan poster mengenai bisnismu. Uliklah sesuatu yang unik dan menarik, agar banyak yang tertarik ikutan. Lalu, pastinya, sediakan hadiah kecil yang juga menarik.


9. Menjaga kualitas

Kualitas konten visual yang berupa gambar dan video menunjukkan bahwa brand bisnis onlinemu profesional dan memiliki standar kualitas yang bagus.

Jangan gunakan foto beresolusi rendah untuk dipajang di media sosial. Yes, you would get judged for whatever you publish on social media nowadays.

Zaman sekarang, kamera handphone juga sudah sangat bagus. Jadi, tak ada alasan lagi nggak punya foto bagus karena nggak punya kamera khusus.


10. Manfaatkan sebanyak mungkin media

Zaman sekarang, banyak sekali media sosial yang digemari orang. Setiap orang memiliki media sosial kesukaannya masing-masing. Kadang mereka bisa punya akun dua atau lebih, bahkan.

So, ada baiknya juga jika kamu mempublish konten visual di berbagai media sosial. Hal ini bertujuan untuk menarik lebih banyak orang.

Kamu juga bisa share kembali kontenmu setelah beberapa waktu. Tambahkan emoji atau teks supaya interaksi kamu dengan follower lebih terasa.


Nah, itu dia 10 tip untuk membuat konten visual yang menarik, sekaligus bikin strategi tipis-tipis untuk marketing bisnis online-mu.

Yang pasti, selalulah berpikir, bahwa bisnis online-mu ada lantaran ingin membantu orang-orang tertentu dengan masalah mereka. Jadikanlah ini sebagai titik tolak untuk mengambil langkah apa pun terkait bisnismu.

Semoga bermanfaat ya.
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments


Disclaimer: tulisan ini pernah dimuat sebagai guest post di blog Ranny Afandi.

Apa sih yang bisa membuat sebuah konten itu menjadi begitu menarik dan unik, sehingga worth to read and worth to share?

Konten yang menarik dan unik--menurut saya nih--adalah konten blog yang dibuat secara akurat berdasarkan fakta dan data, original, dan ditulis sedemikian rupa untuk memenuhi kebutuhan pembaca (termasuk syukur-syukur bisa memberikan solusi atas masalah pembaca).

Yes, ini adalah jenis konten yang mampu memancing pembacanya untuk memberikan komentar, mau ikutan sharing, dan kemudian mau untuk ikut ngeshare juga agar orang lain juga dapat ikut merasakan manfaatnya.

Konten yang kek gini tuh, tanpa kita terlalu gembar-gembor, tanpa perlu kita minta-minta, akan banyak orang datang untuk baca. Dan, tanpa kita minta pula, mereka dengan senang hati akan ikut ngeshare konten kita sehingga orang lain (yang mungkin berada di luar sirkel kita) bisa ikut baca juga.

Sesuatu banget deh, kalau bisa menulis sampai kek gini. Iya nggak?

Well, berikut ini ada 5 langkah yang bisa kamu lakukan agar bisa menghasilkan konten yang worth to read and worth to share ini


1. Be yourself: Controversial, why not?

Kadang kita terlalu terbius dengan hal-hal yang sedang ngetrend dan dibicarakan oleh banyak orang. Yah, memang nggak ada salahnya sih nulis soal yang lagi ngehits-ngehits kayak gitu.

Yang salah adalah saat kamu menuliskan hal yang sama, dari angle yang biasa aja, yang sama dengan yang juga dibahas oleh orang lain.

Come on, sebenarnya setiap dari kita itu unik kan? Mengapa kamu tak menulis mengenai apa pendapatmu sendiri? Mengenai pikiranmu sendiri? Kemaslah opini kamu, perkuat dengan data dan fakta.

Unpopular opinion? Why not? We need a lot of different insights jika memang pengin belajar dan menambah wawasan.

Kontroversial? Nggak masalah. Selama kamu punya dasar pemikiran yang kuat dan jelas.

Mengenai kontroversi ini, kamu juga harus memahami, bahwa kontroversial itu tidak sama dengan ‘being offensive’. Menulis hal yang kontroversial bukan berarti harus menyerang pihak lain. Selain itu, jangan menulis hal yang kamu nggak pahami. Pastikan kamu paham betul titik persoalannya, baru deh nulis.

Itu yang namanya menulis konten kontroversial. Dan itu nggak masalah.


2. SEO is a must, but quality is the most important thing!

SEO, jelas, itu harus! Bagaimanapun meski kamu menulis konten yang sebagus apa pun, gimana bisa dibaca orang kalau nggak terindeks di Google? Media sosial saja, mungkin nggak cukup.

Namun, nangkring di pejwan tanpa memberikan informasi berharga apa pun pada pembaca, itu juga sama saja bohong. Mungkin kontenmu memang berada di peringkat paling tinggi. Tapi kalau pembacamu merasa tidak menemukan jawaban dalam konten kamu, ya mereka akan pergi.

Boro-boro mau lihat artikel yang lain, mungkin dia juga cuma tinggal beberapa detik saja di blog kamu. Bounce rate jadi tinggi deh.

So, kualitas konten dan optimasi harus seiring sejalan.

Apalagi dengan update Google baru-baru ini. Ada EAT, dan sekarang BERT.

Sudah tahu BERT belum?

Saya sudah berniat pengin bahas BERT sih, tapi sementara masih mengamati situasi, gimana naik turunnya traffic seenggaknya sebulanan, dan gimana reaksi para webmaster. Semoga segera bisa saya tulis. Sementara, baca artikel Moz dulu.

Kek saya paling iyes aja sih. Wqwqwq.


3. Kualitas, kualitas dan kualitas

Setiap kali kamu akan publish konten blog kamu, pastikan beberapa hal berikut sudah benar.

Akurasi

Yang pertama, konten kamu tersebut harus berdasarkan data yang akurat. Kamu menuliskannya berdasarkan pengalaman pribadi? Jujurkah kamu saat menuliskannya? Jika kamu mendapatkan data konten kamu dari sumber yang lain, apakah sumber tersebut bisa dipercaya? Sudah dicek bukan hoax kan? Sudah cantumkan sumber?

Enak dibaca?

Yang kedua, cek typo, ejaan, dan juga tata bahasanya. Membaca konten tulisan yang kebanyakan typo, itu ibaratnya mata kita kelilipan melulu. Apalagi kalau sampai harus menebak-nebak maksud si penulis.

Jangan sampai pembaca bertanya-tanya, ini nulis apa sih?

Atau sampai mereka berpikiran, "So what?" lantaran saking enggak jelasnya maksud kita apa.

Duh, please deh. Baca sekali lagi sebelum kamu publish. Pastikan semua rapi dan bersih dari typo.

It's ok kok kalau gaya nulis kamu enggak sesuai dengan KBBI, enggak baku, dan sebagainya. Bukankah itu yang jadi salah satu keunggulan blog? Gayanya personal? Kalau terlalu baku ya jadi kaku juga. Tetep enggak enak dibaca.

Tapi, sebaiknya bedakan sama typo. Atau kalimat yang enggak nyambung.

Coba deh dirasain. Beneran, enggak enak dibaca. Belum lagi ada risiko gagal paham. Gimana mau ngeshare orang sendirinya aja gak paham yang ditulis itu maksudnya apaan?


4. Kenali pembacamu

Karakter pembaca memang berbeda-beda. Ada yang suka membaca artikel singkat namun padat, ada juga yang suka artikel yang membahas satu topik secara mendalam dan detail. Beberapa yang lain suka kalau membaca konten dengan konten visual yang banyak, sedangkan yang lain lagi suka membaca teks saja (soalnya mungkin konten visual bikin boros kuota #eh)

Nah, pastikan kamu tahu karakter pembacamu ya. Juga sesuaikan bahwa mereka adalah orang-orang yang mempunyai tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Gaya bahasa, cara kamu bercerita, juga topik yang kamu tulis sangat berpengaruh pada karakter pembaca yang akan datang ke blog kamu.


5. Pastikan konten kamu bermanfaat

Mau nulis curhatan? Siapa bilang nggak boleh? Boleh bangetlah! Banyak juga kan, blogger yang menulis curhatan dan kemudian jadi viral?

Ya itulah. Karena--meski curhatan--tapi tulisannya bermanfaat. Apa manfaatnya? Ya biasanya sih tulisan curhatan itu relatable ke banyak orang lain. Banyak orang merasakan atau mengalami hal yang sama. Jadi berasa ada temen gitu. Akhirnya karena merasa "ada temen" lalu dishare deh.

Kadang ya ada rasa "pembenaran diri" sih emang. Hahaha.

Salahkah? Ya, enggak dong.

Lepas dari topik bahasannya, kan pokoknya share-able. Iya nggak?

Makanya, pastikan saat pembaca kamu datang dan membacanya, ada manfaat yang akan dia dapatkan. 

Ya kayak di atas itu. Mungkin dia kemudian bisa ikutan curhat? Mungkin kemudian dia bisa mengambil pelajaran dari curhatan kamu? Mungkin dia kemudian bisa sharing karena dia punya pengalaman dan insight berbeda?

Pembaca blog kamu adalah mereka yang peduli akan apa yang kamu tulis, mencari informasi yang mereka butuhkan, atau sekadar mencari hiburan dari tulisan kamu.

Jadi, berikan apa yang mereka butuhkan. Jika mereka merasa kebutuhannya terpenuhi, maka tak perlu kamu undang pun, mereka akan balik lagi ke blog kamu.


Nah, gimana nih? Tentunya hal-hal tersebut di atas sudah kamu lakukan kan di blog kamu? Belum? Maka, sekarang saatnya kamu harus mulai melakukannya. Supaya blog kamu makin ngehits dan melejit.

Mau menambahkan tips lain? Yuk, cus tulis di kolom komen ya.
Happy blogging!

Share
Tweet
Pin
Share
6 comments


Disclaimer: Ini postingan curhatan dan mungkin akan sedikit nyinyir. Tapi, semoga pesan saya tersampaikan dengan baik.

Sepertinya semua orang kepengin jadi penulis buku. Tapi, tidak semua orang punya kemampuan yang cukup untuk itu.

Bukan, maksudnya sih bukan humblebrag atau mau toxic positivity. Wqwqwq.

Tapi itulah yang saya rasakan belakangan ini. Apalagi ngintipin hasil audisi menulis nonfiksi tempo hari.

Aslinya sih saya gemes banget.
Kondisinya tuh, sebagai bagian dari penerbit buku, saya tahu betapa susahnya berburu naskah yang layak ditaruhin investasi, diedarkan ke toko buku, dan dibaca oleh banyak orang.

Yes, people. Menerbitkan buku adalah investasi bagi penerbit, dan pastinya, penulis juga. So, tanamkan ini dalam pikiranmu, ketika kamu berniat untuk mengirimkan naskah ke penerbit untuk diterbitkan secara mayor.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan: ongkos jasa ngedit, ongkos jasa layout, ongkos cetak, ongkos marketing, dan pastinya ongkos buat nulis.

Jadi, come on! Kirimkan hanya naskah-naskah yang layak terbit dong!

Eikeh udah nahan banget untuk tetap sopan, enggak menyebut sebagai naskah sampah. Tapi ya begitu kondisinya, gimandong? Sedih akutu! Padahal kamu tahu, berapa banyak naskah yang masuk ke meja redaksi setiap bulannya? Puluhan hingga ratusan.

Dan kadang, enggak ada satu pun yang layak!

Kenapa kebanyakan naskah buku enggak lolos untuk diterbitkan?

  • Genrenya enggak masuk niche penerbit. Come on, kamu harus cari tahu naskah seperti apa yang dicari oleh penerbit, kalau kamu pengin memperbesar peluang naskahmu diterima. Jangan ngirim naskah puisi ke penerbit yang enggak pernah nerbitin buku puisi. BUAT APA? Please deh, do your homework! Kepoinlah itu penerbit yang kamu incar! Termasuk kepoin gimana caranya kirim naskah, alamat email redaksi dan printilan lainnya. Masa kek gini aja nanya sih? (eh tapi kalau enggak nanya, ntar mimin medsos penerbitnya juga nganggur sik!)
  • Topiknya sudah banyak ditulis. Oke, mungkin ini bisa jadi adalah topik populer, yang orang banyak nyari atau suka baca. Tapi, kamu harus menambahkan sesuatu yang lain yang bisa bikin bukumu bakalan stand out di rak buku dong! Kalau kamu nulis sama dengan yang orang lain tulis, ya buat apa diterbitin lagi? Ingat, persaingan. Kamu sebagai penulis mesti banget memikirkan strategi untuk bersaing dengan penulis lain.
  • Tata tulisnya berantakan. Ini loh, yang kadang bikin gemes. Pada halu apa gimana, entahlah. Belajar nulis yang bener dululah. Masa penulis buku enggak bisa bedain penggunaan tanda koma dan tanda titik? Jangan bilang, kan ada editor ya! Keplak nih.
  • Penulis narsis. Bikin buku tentang kisah hidupnya sendiri. Lah, sekarang coba dilihat lagi ya, dirimu itu apakah seseorang yang pernah dipanggil oleh Andy F Noya, sehingga setiap orang harus membaca kisah hidupmu? Tapi sebenarnya, yang kek gini bisa diatasin sih. Caranya, dengan menambahkan tip atau trik, jadi enggak asal curhat doang. Nulis biografi, tapi sendirinya baru terkenal setingkat RT, ya gimana penerbit buku mau naruh investasi?

Hanya punya keinginan saja itu nggak cukup.

Kalau benar-benar berniat menjadi penulis, maka kamu harus punya setidaknya beberapa kebiasaan ini:

  • Mau menulis setiap hari. Penulis ya menulis setiap hari, seperti halnya penjual tahu ya jualan tahu setiap hari. Ketekunanmu menulis akan berbuah kamu semakin peka terhadap tulisan sendiri. Kamu akan bisa merasakan ketika tulisanmu jelek, dan mana yang perlu diperbaiki.
  • Rajin juga membaca. Membaca menutrisi otak penulis, seperti halnya gizi untuk tubuh. Makin bagus nutrisinya, keluarannya juga makin bagus.
  • Bergaul dengan orang-orang yang punya passion yang sama. Karena creativity itu contagious. Kreativitas itu menular. Jadi, pastikan ada di dekat orang-orang yang punya good vibes.
  • Kritis terhadap diri sendiri, jangan jatuh cinta sama tulisan sendiri.

Lalu, apa yang harus diperhatikan saat menulis:

  • Keep your mind open, bahwa nggak setiap orang sepemikiran dengan kita sebagai penulis. Dengan demikian, kita akan terbuka pada diskusi dan kritik. Jangan antikritik dan selalu self-defense kalau ada orang yang memberi kritik, bahkan cela sekalipun. Jangan kek sesembak Sepen Elepen. Please deh.
  • Jangan merasa yang paling tahu, karena sejatinya kita tidak pernah serbatahu. Begitu pun sebagai penulis. Sehingga tulisannya nggak “keminter”. Selalu cek dan ricek fakta, kroscek sana sini dalam menyusun tulisan. Check every side of the story.
  • 5W 1H: who, what, where, when, why, and how harus dijaga porsinya dengan baik. Supaya tulisannya enggak kentang alias nanggung.
  • Tidak semua pembaca “berbicara” dengan bahasa yang sama. Sehingga lihat-lihat target pembaca juga. Jangan sampai malah salah paham, karena tulisan kita kurang bisa dimengerti dengan baik.
  • Write drunk, edit sober. Jangan lupa swasunting. Tulisan berantakan, bikin pusing yang baca. Please, belajar PUEBI. Meski kemudian kamu tetap mempergunakan bahasa santuy, tapi seenggaknya jika kamu punya pengetahuan yang paling basic ini, kamu akan bisa mempergunakannya dengan benar.
 Oke, semoga omelan pendek saya ini enggak terlalu kasar sih. Tapi bener deh. Saya gemes banget.

Ini loh, ada penerbit yang berburu naskah buku, dan open terhadap penulis pemula. Enggak melulu ngejar so-called-penulis viral atau mereka yang berfollower banyak. Seharusnya ini bisa jadi kesempatan buat teman-teman (calon) penulis yang bercita-cita jadi penulis buku.

Tapi ya mbok yao, bekali diri dengan cukup. Jangan halu, dan tetaplah belajar.

Sekian.
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments


Tanggal 20 bulan September lalu, dua website yang saya kelola tiba-tiba enggak bisa diakses, gara-gara kehabisan kuota bandwidth. Kalau diakses, ada tulisan "509 Bandwidth Limit Exceeded" gitu.

Yha! Hari gini, masa kehabisan bandwidth. Paniklah saya.

Tapi kehabisan bandwidth ini ternyata nyata. Padahal baru tanggal 20. Berarti kurang lebih 10 hari dong, websitenya enggak bisa diakses. Aduh! Padahal website bisnis, buat jualan. Macem mana enggak bisa diakses.

Pemakaian bandwidth bulan September. Itu padahal baru tanggal 20, udah habis aja.


Meski saya pengin rasanya nangis kejer, tapi sebagai seorang profesional (yang dianggep) pinter, saya harus tetap tenang. Langsung deh saya berburu cara menghemat bandwidth ke sini sana sono. Cuma saat itu ya cuma bisa diem bae, lantaran buka laman admin aja kagak bisa, Esmeralda.

Jadi semua tip yang ada saya kumpulin dulu--sambil berusaha merayu si Bubos siapa tahu mau ngupgrade layanan hosting, biar enggak pusing-pusing lagi.

Jadi ada beberapa hal sih terkait kondisi website-nya waktu itu (yang sebagian saya tahu, menjadi penyebab kenapa bandwidth cepat habis):

  • Satu hosting, dipakai untuk dua domain. Salah satu domain (kita sebut saja domain A) bakalan punya kategori dan produk yang bejibun, dan beraktivitas tinggi. Domain yang satunya (domain B) masih so-so-lah. Saya sebenarnya punya strategi konten yang berbeda untuk keduanya, lantaran memang pasarnya berbeda, agar dua-duanya bisa tampil bareng di halaman muda Google. 
  • Saya sempat salah (atau lupa) instruksi terhadap admin domain A--yang bakalan punya produk bejibun untuk ditampilkan--untuk meresize dan mengoptimasi foto-foto agar besarnya di bawah 100kb. Belio ngupload gambar-gambar dengan ukuran mega, pemirsa. 1 MB, ada yang sampai 2 MB. *Ya kan, eikeh pikir beginian sudah pada taulah ya. Masa masih dijelasin lagi sih? Tapi ternyata beneran, ada yang belum tahu* Hiks.
  • Masing-masing website pakai plugins yang boros bandwidth, yaitu WooCommerce, dan beberapa printilan tambahannya. Ya, secara memang merupakan situs katalog, bukan blog biasa aja.
  • Paket hosting websitenya "cuma" punya spek kapasitas bandwidth 100 gb dan memory 1 gb sahaja. Seharusnya, sih menurut hemat saya, itu cukup. Apalagi ini baru di awal. Bisa dibilang domain A aja belum saya apa-apain selain diisi gambar-gambar gede sama sang admin -__-"
Pas saya menghubungi perusahaan penyedia hostingnya, enggak ada jawaban laen yang bisa mereka kasih selain harus mengupgrade layanan.

Meh. Saya merasa, kok gini aja sarannya terus. Jualan aja terus. Enggak kasih alternatif solusi apa kek. ZBL.

Ya, kalau ditanya, mampu kok ngupgrade layanan mah. Gampang. Perusahaan sedang berkembang baik gini. Tapi, yaelah. Gitu doang mah ... cemen amat. Ga cerdas. Awokawokawokawokawok. --emang susah ya mau ngekek ala gen Z.

Maka, seperti yang udah disebutin di atas, saya coba cari sendiri cara buat menghemat bandwidth. Tapi beberapa yang saya temukan di awal adalah cara dan tip yang saya enggak mudeng, pemirsa. Apalah cek javascript, encoding gzip ... Yawlah. Embuh. Saya nggak ngerti.

Emak-emak ini cuma sok-sokan (pura-pura) pinter aja soalnya. Disuruh baca artikel pemrograman, mana ngerti dah.

So, saya hanya bisa melakukan beberapa hal yang saya paham doang, kayak gini.


7 Langkah Menekan Pemakaian Bandwidth Website


1. Blokir spam bots

Nah, kita nih bisa cek aktivitas nananini segala macem di website kita di AWStats ini. Jujur ya, saya baru tahu. LOL.

AWStats ini bisa diakses melalui CPanel, biasanya di bagian Metrics. Bareng metrics lainnya, bisa cek bandwidth juga di bagian Metrics ini.




Itu, kalau dilihat di bulan Oktober, saya berhasil menaikkan visit (menurut versi hosting, bisa jadi beda sama punya Google Analytics), tetapi bisa menekan pemakaian bandwidth cukup signifikan.

Nah, di AWStats ini, kalau diskrol ke bawah, kita bisa lihat aktivitas spiders--atau para robot perayap dari mesin pencari.


Nah, coba dilihat daftar paling atas itu. Ada yang ngabisin 2 GB sendiri kan?

Memang, menurut beberapa sumber yang saya baca, spider atau robot perayap ini bisa ngabisin bandwidth. Parahnya lagi, si robot perayap yang ngabisin bandwidth ini justru bukan dari Google. Tapi embuh, dari mana enggak jelas. Kadang malah robot spamming.

Nah, ini yang harus diatasi.

Saya sih menemukan di beberapa tip, bahwa ini sebenarnya bisa diatasi dengan memblokir spam bots itu dengan .htaccess.

NAH, INI YANG SAYA KAGAK PAHAM. Huhuhu. Sedih.

Jadi, monmaap, langkah ini memang saya masukin di pertama, karena seharusnya ini saya lakukan di awal. Tapi saya enggak mudeng. Udah cari dan baca caranya, saya juga enggak berani ngulik.

So, silakan yang tau dan bisa melakukannya, lakuin ini yang pertama kali dulu deh untuk menekan pemakaian bandwidth.

Tapi, ada juga sumber lain yang bilang, bad bots ini bisa juga diblokir dengan bantuan plugins Blackhole Bad Bots. Saya belum coba juga, karena saya masih merasa perlu untuk mencari referensi lain lagi.

Kalau ada yang mau coba, silakan. Pastikan aja jangan sampe ngeblokir Google bots ya.

Saya udah memasukkan ini ke list PR saya. Semoga segera ada waktu buat mempelajarinya pelan-pelan.


2. Cek plugins

Nah, buat yang pake WP self hosted ini pasti familierlah dengan plugins ya. Well, plugins ini juga menambah beban server hosting lo. Terutama beberapa plugins, yang memang bikin boros bandwidth menurut beberapa sumber.

Ada beberapa sih, terutama plugins yang fungsinya untuk chatting, commerce, statistik, sitemap, related posts, random posts, dan popular posts.

Yaitu:

  • Jetpack
  • Sumo
  • WooCommerce
  • Wordfence
  • Broken Link Checker
  • Contact Form 7
  • Disqus Comment System
  • NextGEN Gallery
  • SEO Auto Links & Related Posts
  • Yet Another Related Post Plugin
... dan beberapa plugins lain, yang pokoknya fungsinya di atas.

Nah, kebetulan banget di dua website saya itu ada plugins WooCommerce (meski fungsi commerce-nya didisable, tapi katalognya harus pakai Woo), Sumo, dan Wordfence. Plus satu lagi plugins untuk fungsi chat WhatsApp. Ini enggak masuk ke dalam daftar di atas, tapi karena fungsinya chat jadi saya simpulkan, plugins ini pasti juga berat.

Dan keempatnya enggak mungkin saya lepas, karena bisa memengaruhi sistem websitenya. Yang lain-lain, yang kira-kira berat dan enggak butuh banget langsung deh saya lepas.

Nah, untuk mengetahui bagian mana dari website kita yang berat, kita bisa minta bantuan GT Metrix--ya meskipun sebenarnya sebagai page load test dia kurang akurat lantaran dia ngeceknya dari Kanada sana. Tapi bisalah kita pakai data sebagai ancer-ancer aja.

Buka GTMetrix.com. Terus coba test website kita kek biasanya. Nah, saat report-nya sudah ada, coba skrol ke bawah, nanti akan ketemu panel seperti ini, pilih Waterfall.




Nah, itu bisa diliat deh, apa aja yang timeline-nya gede. Misalnya, bisa diliat itu woocommerce butuh waktu 5 ms untuk loading. Makin ke bawah makin kelihatan deh, mana aja yang lambat loadingnya. Itulah yang bermasalah.

Sebenarnya di website yang saya kelola ini masih oke, karena pluginsnya sepertinya enggak ada yang sampai disebut 2 kali. Tapi semisal ada, nah berarti kita harus mencari plugins lain yang lebih ringan.

So kesimpulannya gimana nih, di bagian plugins ini?

  • Hindarkan penggunaan plugins yang enggak efektif dan efisien.
  • Kalau ada 2-3 plugins yang bisa digantikan oleh 1 plugins, maka ganti saja ke yang 1 plugins.
  • Kalau ada plugins yang tidak terlalu urgent, mending dilepas saja. Lalu dihapus. Jangan nyimpen plugins yang enggak dipakai di dalam web.
  • Sebisa mungkin hindari plugins yang mesti external request, misalnya seperti Google Fonts, Gravatar, bahkan Adsense. Di website yang saya kelola itu kebetulan enggak ada Adsense. Gravatar langsung saya matikan. Tapi Google Fonts enggak bisa, karena built-in sama template. Jadi, ya sudahlah.



3. Pakai plugins cache systems

Nah, yang ini juga rekomendasi beberapa orang sih.
Plugin cache bekerja dengan cara menghasilkan halaman static html dari wordpress , sehingga website dapat diakses dengan cepat tanpa perlu lagi melakukan processing php dan lain-lain yang memerlukan akses langsung ke database.
Sumber: wpjava

Ada beberapa plugins cache yang bisa ditemukan di WP,  tapi mana yang paling baik digunakan? Well, relatif sih.

Sebenarnya banyak yang merekomendasikan WP Rocket, karena fiturnya paling lengkap. Tapi saya cek kok enggak ada WP Rocket. Ada sih Lazy Load doang, enggak yang lengkap WP Rocket.

So, saya memutuskan untuk tetap menggunakan WP Fastest Cache.
Sementara fungsi WP Rocket lain, saya penuhi dengan WP Optimize.


4. Pakai WP Optimize

Mungkin ya, cukup pakai WP Optimize sih tanpa WP Fastest Cache, karena di WP Optimize ada juga fungsi cache-nya. Tetapi fungsi cache di WP Optimize ini bisa di-disable kok, kalau misal dobel sama WP Fastest Cache. Jadi, saya pakai dua-duanya di sini.

Jadi, diapain aja nih WP Optimize?

Optimasi database


Tinggal centang aja semua deh. Kek post revisions gitu, enggak usah disimpen. Buat apa? Trashed posts juga langsung buang aja semua. Begitu juga dengan komen spam dan yang dibuang.

Buanglah mantan pada tempatnya.

Jadi, as dummies, enggak usah ribet, langsung centang lalu klik "Run optimization".


Optimasi image


Nah, settingan untuk optimasi image-nya saya atur begini.
Pas baru pasang kemarin, itu yang uncompressed images itu ada ratusan. Lalu saya select all, dan klik Compressed the selected images aja.

Sekarang semua image sudah terkompres dengan baik.

Nah, untuk bahas image, mari kita ke langkah selanjutnya.

WP Optimize ini harus dicek secara berkala ya, lalu hapus-hapus secara rutin file-file yang sudah nggak kepakai. Kalau di rumah nyata aja kita mesti bebersih dan disarankan untuk jangan suka nyimpen sampah, maka demikian juga di rumah maya kita.

5. Optimasi gambar dengan TinyPNG

Jadi, image memang merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan saat kita mau bikin konten di website ya. Jangan pernah lebih dari 100 KB. Kalau terpaksaaaa banget, ya maksimal 200 KB. Tapi, usahakanlah selalu untuk di bawah 100.

Jangan pernah ngunggah image yang bersatuan mega. Karena kita mau kasih image itu di laman web ya, Esmeralda. BUKAN BALIHO. Jadi, cukup pakai file yang kecil aja.

Udah harus diresize sesuai frame website/blog kita, pun harus dikompres lagi.

Sebenarnya dengan WP Optimize di atas, dengan settingan "automatically compress newly-added images" itu aja, sudah cukup. Tapi, website yang saya kelola ini ke depannya akan buanyak sekali menampilkan gambar produk.

So, saya enggak berani ambil risiko lagi. Sehingga, sebelum diunggah ke website, setiap foto/image harus diresize sesuai kebutuhan, dikompres dengan TinyPNG, baru kemudian diunggah ke web.

Rempong ya, cyint. Ya biarin. Tapi terbukti kok, bandwidthnya ngirit banget sekarang.


6. Setting ulang Wordfence

Nah, Wordfence memang lumayan "makan" bandwidth, tapi bisa kok disetting ulang. Misalkan kamu pake plugins ini juga ya.

Langsung aja ke bagian All Option-nya. Lalu coba ulik hal-hal yang sekiranya enggak perlu, misalnya opsi-opsi untuk kirim-kirim email bisa dikurangi.

Terutama di bagian Rate Limiting.


Nah, ikurin aja sesuai dengan gambar di atas, di bagian Rate Limiting.

Lalu, ke bagian-bagian berikut juga:
  • Do not “enable live traffic view”
  • Do not “enable automatic scheduled scans”
  • Do not “enable email summary”
  • Enable “use low resource scanning”
  • Decrease “limit the number of issues sent in the scan results email” to 500
  • Do not enable “updates needed (plugin, theme, or core)”
  • Increase “update interval in seconds (2 is default)” to 10-15 seconds
  • Decrease “how much memory should Wordfence request when scanning” to 100MB
  • Enable “delete Wordfence tables and data on deactivation”

7. Disable hotlink

Yang terakhir, pastikan kamu disable hotlink.

Kadang ada orang yang mau pakai foto kita, terus males download dan upload ulang. Enakeun langsung semat gambar via URL, yang URLnya ada di website kita (karena gambarnya ada di website kita).

Nah, kalau yang ambil gambar ini trafficnya gede, mau enggak mau bandwidth kita juga tersedot.
Makanya penting untuk menonaktifkan hotlink.




Caranya bisa ke CPanel, lalu cek ke bagian Security, klik Hotlink Protection. Lalu enable Hotlink Protection-nya.


Nah, itu dia beberapa langkah yang kemarin saya lakukan untuk menekan dan menghemat bandwidth hosting website.

Sebenarnya masih ada yang bisa diulik lagi sih, menurut artikel dari Online Media Masters ini. Tapi saya sudah lakukan 7 hal di atas, dan Puji Tuhan, bandwidth sudah terkendali.


See? Yang Oktober itu sampai dengan tanggal 27, baru 53 GB sahaja. Bandingkan dengan September yang baru sampai tanggal 20 udah 98 GB.

Wqwqwq.

Lumayan banget kan?

Demikian tip ini ditulis, biar kalau kejadian lagi sama saya, saya enggak lupa langkah-langkahnya :))
Semoga juga bisa membantu teman-teman yang punya masalah yang sama.
Share
Tweet
Pin
Share
4 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose