Disclaimer: tulisan ini pernah ditayangkan di web Kumpulan Emak Blogger. Ditayangkan kembali dengan beberapa modifikasi dan update.

Hae! Gimana kegiatan ngeblognya? Content creating-nya?
Makin ngehits yak?

So, saya cuma mau kasih checklist nih. Apa saja yang bisa kamu lakukan saat membuat konten, supaya lebih catchy, enak dibaca, interaktif dan menarik untuk dishare.

Bisa gitu ya? Ya, bisa dong.

Ini dia 10 hal yang mesti kita lakukan setiap kali membuat konten


1. Generate your idea

The root is in the idea.
Layak dibaca atau enggaknya kontenmu, berawal dari ide awal.

Dan, ingat, ide tetap ide. Sesederhana apa pun itu. Nggak ada ide yang buruk. Yang ada, eksekusi ide yang kurang maksimal.

Jadi, jangan pernah menyepelekan setiap ide yang melintas di kepala.

Ide mungkin bisa saja sama, tapi cara memrosesnya yang harus berbeda, sehingga akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Nah, pastikan ide kamu unik, supaya ‘kelihatan’ di antara artikel lain yang sejenis.

Soal mengolah ide, saya pernah nulis juga di blog ini. Bagaimana meng-generate common ideas menjadi satu tulisan yang menarik.

Sila dibaca kalau butuh yah.


2. Kembangkan judul


Siapa yang suka nulisnya sejam jadi, tapi mikirin judulnya seharian?
*ngacung*

Yah, gitu deh. Problem saya biasanya. Atau kalau nggak, sekali sesi nulis, ngganti judulnya puluhan kali. Wkwkwkwk. Nggak, itu nggak lebay. Beneran!

Tapi, nggak salah kok kalau kita riweuh banget mikirin judul. Malah harus. Judul itu merupakan bagian terpenting dalam sebuah tulisan.

Sempat ada yang nanya, "Apakah nggak mungkin memberikan kesempatan? Baca dulu gitu, tanpa terlalu tergantung pada judul?"

Well, kalau penulisnya saya kenal atau saya tahu kualitasnya, saya pribadi sih nggak mungkin klik tanpa melihat judul.

Memangnya, kalau mencari di Google, kamu nggak baca judul dulu gitu?

Saya sih selalu baca judul. Kalau menarik, ya saya klik. Kalau enggak, ya enggak. Sayang kuota dong ah. Meski ntar saya kena clickbait juga sih. Wkwkwkwkwk. Tapi yah, saya nggak bisa tuh kayaknya tanpa baca / merhatiin judul, langsung klik baca.

So, judul ini krusial. Apa yang ada dalam artikel, apa yang kamu janjikan pada pembaca setelah pembaca selesai membaca, ada pada judul.

Kalau kamu mengingkari janji, berarti kamu bukan merpati berarti itu clickbait.

Judul itu penting! Segitu pentingnya, sampai dipakai buat nipu. Iya nggak? *sarcasm detected*

Ohiya! Jangan lupa sematkan keyword artikelmu di judul juga ya.

Tentang membuat judul, saya pernah bahas secara lengkap di blog ini juga.

3. Opening artikel


Sama kayak judul, kalimat pertama dalam artikel akan menentukan "keselamatan" artikel kita untuk bisa dibaca oleh pembaca sampai akhir.

Jadi, pilihlah opening dengan hati-hati.

Jangan sampai kejadian, sampai ke paragrafi 3 belum juga muncul masalah yang akan dibahas. Kamu malah heboh cerita OOT.

Topik artikel dibahas sepanjang 100 kata, opening OOT-nya 500 kata sendiri. Yang sesuai sama judul cuma 200 kata terakhir, sedangkan 700 kata pertama, kamu bahas yang nggak ada hubungannya dengan yang kamu janjikan di judul.

Failed.
Clickbait.
Wkwkwkwk.

Jangan sampai kejadian, banyak pertanyaan muncul saat membaca inti artikelnya, yang malah nggak dibahas oleh penulis. Pada akhirnya, yang kayak gini ini malah menyisakan kejengkelan. Kentang bo'!

Opening haruslah tajam, mengikat, dan jangan terlalu panjang. Inti artikel harus detail dan mendalam.

Tentang membuat opening yang mengikat, sudah pernah dibahas di blog ini juga. Silakan kalau mau ngintip.


4. Outline / kerangka berpikir


Nah, karena inti artikel harus detail dan mendalam, maka kadang kita akan memerlukan beberapa alat bantu supaya tetap fokus pada masalah.

Saya sendiri, kalau topiknya agak berat atau rada-rada bukan bidang yang saya kuasai betul, maka sambil riset, saya akan membuat kerangka dulu.

Kalau seumpama nggak perlu ya nggak usah bikin.

Apa sih fungsinya outline?

  • Membantu kita menulis secara runut dan urut
  • Struktur tulisan lebih rapi
  • Bahasan nggak OOT dan mbleber ke mana-mana
  • Kalau sewaktu-waktu ditinggal padahal belum selesai, kita bisa dengan mudah melanjutkannya kembali.
Membuat outline atau kerangka bisa macam-macam, tergantung kenyamanan masing-masing. Saya sih biasanya minta bantuan pada rumus 5W 1H.

Saya juga sudah membahas mengenai membuat outline dengan 5W 1H ini. Boleh lo dibaca :)



5. Lakukan riset

Kadang kita memang memerlukan riset sebagai bahan pendukung tulisan.
Saya sih selalu. Soalnya artikel yang saya kerjakan yang memang yang mesti riset.

Buat kamu yang harus menulis kayak saya, carilah 2-3 artikel dengan topik yang sejenis sebagai bahan pendukung.

Sesepele apa pun topiknya, kita harus mencari komparasi atau perbandingan artikel lain yang pernah ada. Baca artikel-artikel tersebut, cari kekurangannya.

Nah, kita kemudian bisa melengkapinya di artikel yang kita tulis. Hal ini akan memberikan nilai tambah tersendiri dalam artikel kita.


6. Cek jumlah kata


Untuk bisa terindeks dengan cepat oleh Google, setidaknya artikel kita minimal harus sepanjang 700 kata. 1.000 kata itu lebih bagus.

Mau viral? Konon, menurut situs Hubspot.com, artikel viral rata-rata panjangnya 2.000 kata.
Banyak amat?!

Logikanya begini. Artikel yang panjang itu bahasannya akan lebih mendalam ketimbang artikel yang hanya 300 kata, misalnya. Dengan catatan, harus tetap fokus.

Kalau misal 2000 kata, OOT-nya 1500 kata sendiri ya, mending nggak usah maksain 2000 kata.

Tapi banyak juga ya, 2000 kata.
Well, gini aja deh. Saya sih nggak pernah menjadikan jumlah kata ini sebagai beban besar.
Dan untuk bisa menulis panjang itu bisa dilatih bertahap kok. Misalnya, kalau kebiasaan menulis 300 kata, coba sekarang 500 kata. Cari bahan tambahan, dan jangan lupa pakai kerangka kalau memang diperlukan supaya tetap fokus.

Setelah terbiasa menulis 500 kata, maka lanjutkan ke 1000 kata.
Keep in mind, mesti tetap fokus dan nggak boros kata ya.

Nanti, seiring waktu, kalau kita rajin nulis, pasti bisa lebih panjang dan lebih panjang lagi.


7. Tambahkan konten bonus



Ngeblog memang soal menulis. Untuk bisa ngeblog dengan konsisten, kita mesti mencintai dulu kegiatan menulisnya.

Kalau enggak, ya biasanya sih cuma semusim dua musim doang tuh ngeblognya. Ntar nggak ada ide, ya udah makin nggak nulis lagi.

Kalau sudah bisa menyajikan konten tertulis yang baik, nah, lanjutin ke tahap berikutnya. Yaitu bikin "konten bonus". Misalnya, infografis, video, podcast, komik, meme, dan sebangsanya.

Konten bonus ini kadang bisa bikin bonus share juga buat kita. So, ayo, belajar memperkaya konten. Pertama tambahin blog title image yang bagus, lalu kasih infografis. Dan seterusnya.


8. Jangan biarkan selesai begitu saja

Setelah artikel ditulis, jangan biarkan selesai begitu aja.

Saya sering baca nih, artikel selesai ya udah selesai gitu aja. Nggak pakai closing. Jadi, misal bahas gejala diare. 1, 2, 3, ... poin-poin. Habis poin 5 terus langsung udahan.

Lah?
Nggak pakai pamit. Hahahaha.
Nggak sopan ih. Wkwkwkwk.

Pamit atuh sama pembaca.

Kamu bisa kasih ruang untuk diskusi. Tanyakan pada pembaca blog, apa pendapat mereka? Apa masukan mereka? Apa mereka punya pengalaman yang sama? Atau berbeda? Minta mereka menuliskannya di kolom komen.

Kasih kesimpulan, jadi dari bahasan tadi apa saja yang kita dapat?

Atau minta mereka untuk menuliskan sharing ala mereka di blog masing-masing. Nanti terus di-round up.

Jadi, kalau opening adalah kesempatan buat hook pembaca agar mau baca sampai selesai, closing ini kesempatan buat engage.

Ya, masa mau diabaikan gitu aja sih? Sayang dong.


9. Buat blog title image yang menarik

80% orang akan lebih tertarik pada sesuatu yang bisa dilihatnya secara visual ketimbang yang tidak bisa dilihat secara visual.

Secara sekilas, mata orang akan scanning apa yang dilihatnya. Nah, yang mencolok pastinya akan menarik matanya secara otomatis untuk menatap lebih lama. Lalu, kalau dia membaca judul, dia akan tertarik dan penasaran. Selanjutnya bisa ditebak deh gimana.

Ada kok tool-tool gratis online yang bisa bantu kita membuat blog title image yang bagus. Saya pernah ngeround up.
Boleh lo, kalau mau dibaca-baca :)


10. Publish di saat ramai

Nah, ini sih sarannya Babang Neil Patel sih.
Untuk mendapatkan eksploitasi maksimal, publishlah di saat ramai.
Makanya perlu kita observasi masing-masing nih media sosial kita. Kira-kira peak time-nya di jam berapa di hari apa.

Tapi, sekarang saya sih nggak terlalu pakai patokan ini.
Saya lebih suka mengulang sharenya aja.

Publishnya boleh kapan saja, tapi share-nya di jam-jam ramai.
Kalau saya, biasanya yang ramai itu adalah di hari Senin atau Jumat dan Sabtu, dan pagi sekitar pukul 08.00 – 10.00. Makanya saya sering share di waktu-waktu tersebut.

Setiap orang punya peak time berbeda-beda. Jadi, amati punya sendiri-sendiri ya.
Nggak usah ngintip punya tetangga #apeu



Nah, semoga checklist di atas bisa bermanfaat ya. Silakan jika ada hal yang mau ditambahkan. Tulis saja di kolom komen!

Selamat menulis!


Beberapa waktu yang lalu, saya memang balik lagi ke Twitter, setelah beberapa lama saya bosan. Ternyata, makin rame ya?

Ckckckck.

Semua orang sudah jadi buzzer kayaknya (kecuali saya). Wkwkwkwk.

Tambah rame gitu, seharusnya sih kita makin berbahagia karena kita bisa kebanjiran info. Tapi kok, kadang terasa too much ya? Hehehe. Tanya kenapa.

Anyway, sudah tahu hashjacking belum?

Kalau menurut Urban Dictionary, hashjacking itu punya pengertian:
when somebody else “jacks” yours or someone else’s hashtag to promote their own social media page or product.

Hashjacking adalah kalau kita nebeng hashtag orang atau hashtag yang sedang trending topic, dengan tujuan agar kita bisa sedikit mencuri perhatian orang dalam arus hashtag yang sedang trending tersebut.

Nah, beberapa hari yang lalu memang saya menyadari adanya hashjacking ini di Twitter. Beberapa tweeps menggunakan hashtag yang sedang trending untuk mencoba mendapatkan traffic ke web/blog mereka.

Permasalahannya, yang membuat saya tertarik adalah kenapa orang tertarik untuk melakukan hashjacking?
Lebih spesifik lagi, seberapa efektifkah hashjacking ini untuk mendatangkan traffic ke blog kita (karena saya melihatnya sebagai kapasitas saya sebagai pengulik konten)?

Yawlaaa, kalau memang efektif, saya mau ganti strategi, ketimbang SEO yang rumit mending hashjacking aja. Wkwkwkwkwk.

Karena itu, saya mencoba menelusur berbagai sumber yang membahas soal hashjacking ini, dan saya pengin mencatatnya di sini.


Beberapa fakta yang saya jumpai soal hashjacking dalam penelusuran sumber-sumber di dunia  maya



1. Hashjacking nggak bisa asal comot



Salah satu praktik hashjacking hari ini.


Situs Export Tweet menjelaskan seperti ini.

Popular trending hashtags are the easiest way of gaining attention on Twitter without having to do much other than glancing to the left of Twitter feed where they are listed. Tailoring tweets so you can use them is an easy way of getting exposure. However, before selecting a Twitter, proper research needs to be done on why those hashtags are trending and how relevant are they to your brand. Though if done properly, hashjacking could boost your brand promotion exponentially.

Hashjacking bisa saja menjadi alat untuk mendapatkan exposure terhadap tweet kita. Namun, sebelum melakukan hashjacking, kita tetap mesti menelusur dulu asal mula hashtag yang akan kita pakai tersebut.

Untuk apa?

Saya pikir ya, untuk mencari relevansinya dengan campaign kita. Kalau nggak ada relevansinya gimana? Ya, kayak si penjual follower itu!

Menurutmu, gimana efek hashjacking terhadap si penjual follower itu? Akankah ia mendapatkan konversi yang ia inginkan?

Karena logikanya, ia melakukan sesuatu kan pasti ada tujuannya. Si penjual follower melakukan hashjacking kan buat jualan follower? Apakah ia akan mendapatkan pembeli?


2. Hashjacking efektif untuk suatu campaign (?)


Nah, ini lanjutan poin 1 memang. Saat kita melakukan hashjacking, pastinya karena kita pengin ikut dalam keramaian.

Saya nggak tahu sih, soalnya saya sendiri jarang merhatiin Trending Topic hashtag, kecuali emang saya lagi selow banget.

Tapi, konon katanya, kalau satu hashtag bisa sampai trending, itu berarti memang lagi anget banget dibicarakan oleh rangorang.

Dengan logika sederhana saja, kita lalu akan paham kenapa seseorang (atau banyak orang) melakukan hashjacking. Yep, dia berharap untuk bisa ikutan dalam arus, hingga bisa mencuri sedikit saja spotlight untuk dirinya sendiri.

Saya belum menemukan ada artikel yang mengulas mengenai efek hashjacking terhadap campaign tertentu.

Coba kalau kamu menemui ada akun yang melakukan hashjacking seperti akun penjual follower di atas. Akankah ia mendapatkan perhatian? Akankah ia ikutan ngetop? Akankah mencuri perhatian?

Yah, pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh si pemilik akun. Sedangkan saya sendiri, kalau lihat ada hashjacker kayak gini, melirik aja enggak tuh.

Kenapa? Karena ia menggunakan hashtag populer yang nggak ada relevansinya. Berapa banyak orang yang menelusuri hashtag #HariSantri2017 yang juga mencari follower?

I'm not sure.

Barangkali kalau ia menggunakan hashtag yang sesuai, #JualanFollower misalnya, ia mungkin malah lebih besar kemungkinannya untuk mendapatkan konversi atau feedback dari mereka yang memang mencari follower untuk dijual.



3. Hashjacking belum pernah terbukti bisa memberikan traffic ke blog/web



Karena kemarin ada blogger yang melakukan hashjacking, maka logikanya bener dong kalau saya kemudian penasaran.

Apakah dengan dia melakukan hashjacking, ngetweet dengan link plus hashjacking trending hashtag yang nggak ada hubungannya (atau yang dihubung-hubungin) dengan link yang disebar, apakah ia memang akan mendapatkan klik?

Well, Mbak Vicky Laurentina jumped in the conversation dan dengan jelas bilang begini.




Sebelumnya Mbak Vicky juga menjelaskan, bahwa beliau pernah melakukan hashjacking, dan memang bisa meningkatkan impression tweet-nya sih.Tapi, untuk mendatangkan traffic, enggak.

Saya pun juga tidak menemukan data, efektifnya hashjacking ini untuk mendatangkan traffic.

Neil Patel ataupun situs Hubspot, saya ubek-ubek, juga nggak pernah menyebutkan hashjacking sebagai salah satu jalan untuk menaikkan traffic di blog. Ya, dua itu aja sih yang saya ubek-ubek, karena so far berdua itu memang yang paling sering menyajikan data-data dalam analisis mereka soal traffic blog maupun website.

Kalau menggunakan trending hashtag sebagai jalan untuk menemukan ide menulis artikel di blog, iya, memang disebutkan di situs Get Focused on Marketing.

But not the way around; menggunakan hashjacking untuk mendatangkan traffic.

Nah, kamu sendiri gimana. Kalau lagi menelusuri trending topic, lalu ada yang melakukan hashjacking, apakah kamu akan klik linknya? #nanyaseriusan



4. Hashjacking merupakan salah satu sebab akun-akun Twitter di-suspend


Di banyak sumber, disebutkan bahwa salah satu penyebab akun Twitter seseorang di-suspend adalah karena akun tersebut terdeteksi spammy, alias sering spamming.

Dan hashjacking termasuk aktivitas spamming.

Salah satunya disebutkan oleh situs Kenya Buzz begini.

Spamming: The definition of spam evolves as Twitter responds to new tricks and tactics by spammers but Twitter behaviour currently considered as spam includes:
  • Tweeting more links than personal updates; made worse by sending the same links to several different users.
  • Following or unfollowing many users in a short period of time.
  • Repeatedly following and unfollowing people.
  • Sending large numbers of duplicate or unsolicited @replies or mentions.
  • Spam complaints filed against you.
  • Aggressively following, favouriting or retweeting tweets.
  • Being blocked by a large number of users.
  • Using or promoting third-parties that claim to get you more followers
  • Buying and selling account names, followers, retweets, favourites etc.
  • Hashjacking: This is posting updates using the hashtag for a trending topic to promote content completely unrelated to the topic.

Nah, jadi hati-hati ya, buat yang suka melakukan hashjacking. Itu termasuk aktivitas spamming. Sekali dua kali, ya masih okelah. Tapi kalau melakukannya secara agresif, bisa dideteksi sebagai spammer, dan itu akan berbahaya untuk akunmu sendiri.


5. Gunakanlah hashtag Twitter dengan baik dan benar


Banyak sumber menuliskan, bahwa menggunakan hashtag saat kita mempromosikan artikel blog itu memang recommended. Mengapa?


  • Bagus untuk branding kita, apalagi kalau hashtag yang dipilih itu sesuai dengan niche ataupun keywords blog/web kita.
  • Bagus untuk menelusuri tweet kita sendiri around the social media, apalagi kalau kita sudah jadi big influencer.
  • Bagus untuk menelusuri topik tertentu, apalagi kalau lagi kultwit. Bikin gampang ditemukan lagi, asal hashtag-nya juga unik. Jadi gampang kalau mau di-chirpstory juga.
Nah, lalu bagaimana penggunaan hashtag yang baik dan benar? Menurut situs CMS Social sih seperti ini:
  • Jangan menggunakan kata yang terlalu banyak dalam satu hashtag, misalnya #carrayangselalulemahlembutdansopantapiseenaknyasendiri. Ya ya ya. Memang sih unik, tapi kan genggeus. Ya, kalau buat lucu-lucuan sih serah deh. Tapi kalau untuk kerjaan dan terlihat profesional, big no no ya.
  • Saat akan menggunakan hashtag, terutama kalau kultwit, note para follower bahwa kamu akan menggunakan hashtag tertentu. Misalnya, kayak #MakminSpesialisMalam-nya Kumpulan Emak Blogger, dia bilang dulu kalau mau pakai hashtag #KEBounceRate pas lagi sharing soal Bounce Rate. Uhuk.
  • Don't over use hashtag. Masih menurut CMS Social, penggunaan hashtag di Facebook itu cukup satu aja. Kalau Twitter bisa lebih banyak, 3 - 5 masih okelah. Lebih dari itu, genggeus, cyin!
  • Only use hashtags that are relevant to your topic! Penting ya, ini!

Kemarin ada yang menunggangi hashtag #IbuSudahBisa untuk sebar link blog yang nggak ada hubungannya sama film Pengabdi Setan. Dan, aduh, maaf yah, Gaes! Itu sangat mengganggu saya yang lagi asyik ketawa-ketiwi liat meme-meme yang bertebaran. Wkwkwkwkwk.



However, meski hashjacking tidak direkomendasikan untuk dipakai saat kita campaign, namun ada beberapa jenis hashtag yang bisa banget di-hashjacking untuk keperluan promo. Dan, hashtag-hashtag ini memang jamaklah dipakai orang.

Ini beberapa jenis hashtag Twitter yang bisa kamu hashjacked:

  • Daily hashtag, seperti #MotivationMonday, #TransformationTuesday, #WomanCrushWednesday, #ThrowbackThursday, #FollowFriday (ini dulu ngehits banget nih, sekarang udah nggak ada lagi), #Caturday, #SelfieSunday. Kamu bisa menemukan banyak daily hashtag yang bisa kamu pakai di sini nih. Bisa dipakai di Instagram juga tuh.
    Catatan aja, please telusuri dulu juga hashtag-hashtag tersebut tentang apa, untuk mencari relevansinya dengan tweet kamu nantinya. Jangan asal comot juga, teteup.
  • Geographical atau hashtag lokasi, misalnya #Jakarta #Yogyakarta #Medan dan seterusnya. Konon sih, ini bagus buat promosi produk.
  • Our own name, alias nama kita sendiri. Katanya ini juga bagus buat branding diri kita.
  • Holiday hashtags, seperti #NewYear #IdulFitri #Natal2017 dan seterusnya
Nah, hashtag-hashtag tersebut begitu populernya hingga bisa dan jamak saja dipakai oleh siapa pun.

As a bonus, ada beberapa bahan bacaan bagus tentang bagaimana menggunakan hashtag untuk mempromosikan produk ataupun diri kita nih. Boleh dibaca-baca yah:

So what's the conclusion?
  1. No hashjacking, kecuali kamu merasa tweet/link blog kamu memang relevan dengan hashtag yang ada, dan kamu yakin artikel kamu memang bisa membantu orang-orang yang terlibat dalam trending hashtag tersebut.
  2. Gunakan hashtag dengan benar, karena risikonya besar kalau kamu terdeteksi sebagai spammer.
  3. Telusuri dulu bacaan-bacaan yang ada saat kamu mau mulai melakukan strategi baru atau cara tertentu untuk mempromosikan blog. Ada banyak cara memang, tapi nggak semua efektif dan baik dilakukan. Please, be smart.
Apa lagi ya?
Kayaknya itu aja sih.

Semoga catatan ini bermanfaat.
Jika ada sumber lain yang bisa menambah catatan saya, atau mungkin berpendapat lain, boleh lo ditulis di kolom komen. Jangan pelit berbagi ilmu yah. Dengan berbagi ilmu, kita masing-masing akan tambah pengetahuan loh!

Cheers!




Hei!
Ada yang suka mereview produk?

Correct me if I'm wrong. Tapi menurut saya sih, mereview produk nggak selalu berarti job review berbayar. Saya tahu, dulu (dan mungkin sampai sekarang) masih banyak blogger yang suka mereview produk tanpa dibayar, simply hanya karena alasan dia suka banget dengan produk tersebut atau justru malah kecewa banget dengan produk yang dipakainya.

Inget dulu ada cerita. Seorang blogger menulis review produk smartphone, dan ia mengulasnya dengan jujur. Dalam pemakaiannya, ia merasa kecewa. Sebabnya apa, saya lupa sih. Yang pasti, ia merasa kecewa akan produk smartphone yang dipakainya.

Lalu, apa? Ternyata pihak produsen smartphone menghubunginya, dan kemudian memintanya untuk menjadi beta tester dari produk-produk new release mereka! Whew!

Mau juga dong! #eh

Apa sih sebenarnya yang dimaksud dengan review produk itu?

Review produk adalah artikel yang kita tulis untuk membahas dan menceritakan segala hal mengenai produk tertentu, baik itu produk barang ataupun produk jasa.

Saya kira sih, review makanan dan review resto itu juga termasuk dalam kategori review produk.

Buat apa sih direview semuanya itu?
Tujuannya tentu saja adalah menyebarkan informasi, kalau nggak mau dibilang buat bujuk orang supaya beli produk yang kita review. Hehe. Bahasa halusnya, menyebarkan awareness. Halah.

Anyway, akhir-akhir ini artikel review produk makin berceceran di mana-mana. Kalau ada blogger share atau promosi artikel terbaru, mungkin bisa dibilang hampir separuhnya adalah review produk.

Ya, saya kadang juga kepo sih. Apalagi kalau produknya saya juga lagi nyari, atau saya punya sejenis hanya mereknya lain. Atau, simply karena selo aja :))) *dikeplak*

Lalu, apa kesan saya setelah membaca review-review tersebut? Ya, ada product review yang bisa bikin saya mupeng pengin ikutan beli, ada juga product review yang … yah … gitu doang.

Kadang dengan belagunya saya mikir, review produk kayak gini mah, nggak usah nyobain kita juga bisa nulis.

Wkwkwkwk. Iya, itu sih pikiran belagu saya.

Padahal, seharusnya dengan digandengnya kita sebagai reviewer produk, kita harus bisa sedikit memengaruhi pembaca blog kita untuk setuju, dan kemudian ikut membeli product yang kita review bukan? Apalagi kalau review produknya dibayar. Kita semacam merekomendasikan gitu deh ya.

Meski memang, akhirnya sih keputusan untuk ikutan beli apa enggak, itu terserah masing-masing ya.

Nah, terus gimana sih cara menulis review produk yang bisa menjual? Yang bisa memengaruhi orang untuk ikut menggunakan produk yang sedang dalam campaign, selain tentunya sebagai penyampai informasi?

Ah, seharusnya banyak blogger yang lebih jago daripada saya untuk bisa menuliskan tips membuat review produk yang menjual ini. Saya mah apah atuh. Juarang banget dapat job review ini juga sekarang mah. Udah nggak ada lagi yang mau saya review produknya kali. *drama dimulai*

Hahahaha.
Nggak sih. Simply karena saya lebih milih-milih sekarang. Milih-milih banget.

Anyway, iya, seharusnya ada yang nulis tips ini. Terutama para seleblog. Tapi, sayangnya, kok ya nggak ada yang nulis ya? Hahaha. Atau, saya yang kudet? Ya, kalau ada, boleh atuh, saya dikasih linknya di komen yah.
Biar saya tautkan di artikel ini, sebagai tambahan info gitu.

Makanya, ini akan saya tulis dengan bertolak dari kacamata saya sebagai pembaca review produk yang teman-teman tulis.

Bukankah pembaca menjadi pihak terpenting yang harus kita "puaskan" rasa ingin tahunya dengan tulisan kita di blog kan?

Maka, anggap saja saya sebagai pembaca review produk yang riwil ya.

Tips menulis review produk yang menarik


Image via LiveChat Partner Program

1. Product images and videos

Foto produk adalah yang terpenting!
Foto ini terdiri atas kenampakan menyeluruh, dan detail-detail spesifik yang ada.

Intinya, karena secara online orang nggak bisa melihat langsung, mengamati langsung dan menyentuh produk secara langsung, maka kita harus bisa mendeskripsikan produk melalui fotonya dengan baik dan detail.

Video? Kalau kamu mampu dan bisa bikin, ya akan makin bagus.
Dengan video, kamu tak cuma bisa menampakkan si produk secara detail, tapi kamu sekaligus bisa menguraikan fitur-fiturnya secara verbal langsung.


2. Deskripsi produk

Apa saja yang mesti ditulis pada deskripsi produk?


  1. Dimensi: tinggi, panjang, lebar, volume, dan sebagainya.
  2. Fitur apa saja yang ada dalam produk. Kosmetik, misalnya, sebutkan kandungannya apa saja. Smartphone dan barang elektronik, fiturnya apa saja. 
  3. Kemasan. Apakah oke, apakah kurang oke. Apakah rentan rusak, atau kuat. 
  4. Belinya di mana
  5. Keunggulan produk apa saja yang membandingkannya dengan yang lain. Oh iya ... hmmm, saya pernah lihat review produk A yang langsung dibandingkan dengan produk B dengan menyebut merek. Menurut saya, yang begini sih kurang etis. Kamu bisa dibilang melakukan black marketing terhadap produk pembanding. So, saran, nggak perlulah dibandingkan secara langsung, "face to face" gitu. Bacanya juga gengges. Pembaca itu pinter kok, nggak perlu dijelasin dengan perbandingan kayak begitu, asal kamu bisa mendeskripsikan keunggulan produk dengan baik, mereka juga akan ngerti bedanya di mana.
  6. Harapan kita akan produk tersebut sebelum kita memakainya.

Loh, yang terakhir itu, kok sebelum kita memakainya?
Ya, karena setiap pembeli itu selalu punya ekspektasi. Dengan semua yang tertera di label kemasan, atau mungkin kita pernah melihat iklannya di televisi, tentu kita punya satu harapan tentang produk tersebut. Yang kemudian kita coba.

3. Deskripsi pembeli


Deskripsi pembeli merupakan bagian yang menjelaskan siapa saja yang bisa menggunakan produk yang kita review tersebut.

Apakah dipakai oleh anak-anak, remaja, dewasa, atau lebih khusus lagi khusus ibu-ibu, usia demografi, bahkan bisa juga lebih detail misalnya ke strata sosial.

Misalnya nih, review produk obat-obatan. Pastinya ada klasifikasi usia yang boleh mengonsumsi, seperti misalnya obat tersebut bukan untuk anak-anak karena dosis anunya banyak. Kalau dikonsumsi anak nanti akan berakibat begini begitu.

Atau misalnya, kita mereview apps Android, ini buat konsumsi anak-anak karena merupakan permainan. Anak usia berapa? Apakah perlu pendampingan orangtua? Dan seterusnya.


4. Bukti


Ada 2 jenis bukti yang harus kita tampilkan dalam suatu review produk:


  1. Bukti bahwa kita menggunakannya.
    Ada foto yang menampakkan saat produk tersebut kita gunakan. Kita bisa tunjukkan cara menggunakannya. Step by step.
  2. Bukti hasil setelah kita menggunakan produk tersebut.
    Misalnya kalau smartphone, kita tunjukkan ternyata mengoperasikannya gampang banget, atau betapa banyak fiturnya yang useful. Kalau produk kecantikan, ya mungkin bisa diperlihatkan before and after-nya.

Sebuah job review produk akan terlihat abal-abal atau palsu saat tidak ada kedua bukti di atas.

Review produk yang tidak mendalam, tidak nampak adanya foto yang memperlihatkan bahwa barang tersebut bermanfaat, akan membuat pembaca akhirnya berpikir bahwa review produk tersebut hanya berdasarkan pesanan saja. 

Hanya sekadar iklan, based on payment, dan akhirnya kurang bisa dipercaya.

Makanya, setiap kali kita review produk ya kita harus coba produknya. Kalau nggak dikasih, ya beli. Kan, pada dasarnya review produk (baik dibayar atau tidak oleh si produsen) adalah berbagi pengalaman selama menggunakan produk tersebut. Makanya, yang di-share adalah pengalaman kita, bukan yang lain.


5. Call to Action

Nah, ini bisa jadi semacam kesimpulan dan closing untuk review produk yang sudah kita tulis, yaitu mengajak pembaca blog untuk ikut nyobain, atau ikutan review kalau ada yang udah nyobain juga.

Ajukan pertanyaan terbuka pada pembaca blog, agar memancing mereka untuk menulis komentar atau tanggapan. Saya pernah nulis soal ini dalam postingan tipe-tipe artikel yang mengundang banyak komen. 

Jangan lupa untuk mengapresiasi segala bentuk tanggapan. Balas komen mereka. Tapi nggak perlu baper kalau ada yang ninggal komen negatif.

Intinya, engage them!


Nah, sebenarnya masih ada satu hal lagi yang bisa kamu tulis juga dalam review produk kamu, tapi sepertinya ini masih terpengaruh sama sopan santun di negara kita yang agak mengharamkan mengulas kekurangan satu produk.

Lucu juga sih. Membandingkan dua produk secara langsung malah dilakukan, abis itu nulis kekurangan produk yang kita pakai malah dirasa haram. Wkwkwkwk.

Padahal kekurangan produk (yang bisa kita ulas secara positif) barangkali bisa jadi masukan untuk improvement si produsen. Ya, memang kita mesti bisa menulis kekurangan produk ini dengan baik. Memang ada seni tersendiri sih. Hehehe. Saya pun mengakui itu.

Tapi, coba ingat lagi cerita saya di awal tadi, tentang blogger yang kemudian menjadi beta tester produk smartphone. Iya, bisa kayak gitu kalau kita bisa menuliskannya dengan baik tuh.

Memang, nggak semua orang (baca: produsen) bisa menerima kritik dengan baik. Ada kemungkinan kita akan dianggap melakukan black marketing pada mereka, menjatuhkan branding mereka. So, kita bisa kok ambil jalan aman. Kita bisa sampaikan kekurangan produk pada brand-nya secara langsung dan private.

Yang saya tekankan lagi, akan lebih baik cantumkan informasi bahwa artikel tersebut merupakan review produk. Kamu bisa menambahkan disclaimer, misalnya seperti, "Artikel ini adalah review produk yang saya tulis dengan objektivitas yang bisa dipertanggungjawabkan.", atau sejenisnya.

Mengapa mesti begitu?
Ya, untuk menghindari pembaca mikir, "Ih, ujung-ujungnya iklan!"
Ya, rasanya nggak enak banget soalnya sih, kalau nggak dari awal tahu kalau itu adalah review atau pesan titipan. Hehehehe.

Saya concern dan kekeuh banget soal ini, terus terang.
Entah berapa kali saya menolak sponsored post, nggak cuma job review, hanya karena yang nawarin minta untuk nggak dicantumkan label "Review Produk" atau "Sponsored Post".
Yamonmaap. Semoga kita bisa bekerja sama di lain waktulah ya, dengan term & condition yang lebih ramah pembaca.

Pembaca saya yang paling utama soalnya.

Dan, please deh. Jangan pernah melakukan review produk bodong, yang kita nggak pernah nyobain produknya. Rasanya kok nggak fair ya, buat pembaca.

Iya nggak sih? Kalau ada apa-apa, kok ya rasanya ikut bertanggung jawab aja gitu. Hahaha.


"Ah, saya menikmati kok aktivitas ngeblog saya. Meski isinya curhatan semua."
"Wah, blog saya mah masih penuh dengan curhatan. Belum bisa nulis yang lain-lain."
"Memangnya blog curhat itu nggak bagus ya, Mbak?"


Berapa kali saya menemui pertanyaan seperti itu? Banyak kali.

Jadi gini lo, bro and sis.
Saya nggak pernah bilang blog curhat itu jelek. Blog curhat susah sukses. Blog curhat itu blog ala-ala.

Jujur aja, semua blogger pasti mengawali blognya sebagai tempat curhat. Wong tadinya juga disebut sebagai diari online kok. Saya juga gitu.

Bahkan sampai sekarang, tulisan saya di blog ini pun bisa dibilang curhat. Coba baca aja lagi beberapa (ini juga modus supaya nambah pageview sih. *diketapel*). Pasti ada nada curcolnya.

Ya biarin, emang saya juga mau curhat soal kegiatan nulis saya di sini. Apa yang saya hadapi, kesulitan seperti apa yang mesti saya cari solusinya, dan misal ketemu solusi, itu dia yang juga saya tulis di sini kan.

Cuma bedanya saja, saya membatasi curhat di soal kerjaan nulis aja. Saya nggak akan curhat soal pribadi di blog (lagi). Saya pernah dulu, dan bukannya membawa kebaikan dalam hidup saya, tapi justru bikin saya makin kelelep dalam kesulitan.

Jiah. Bahasanya. Campur aduk deh.

Lagipula, blog itu ranah pribadi masing-masing. Orang luar nggak bolehlah ikut campur atur-atur rumah orang.

Hanya saja, seiring waktu pendewasaan (etdah!), yang tadinya curhat menye-menye nggak jelas di blog, kenapa enggak menggeser arah topiknya dari curhat nggak penting itu jadi curhat berfaedah.

Gimana itu curhat berfaedah?
Ya, artinya banyak nilai kehidupan yang bisa dipelajari dari curhatnya itu. Ada hikmah, dan ada rasa syukur yang kemudian tersirat di sana.

Curhat yang begini ini orang demen.
Ngasih inspirasi.
Empowering.
Halah.

Jadi, curhat di blog boleh? Ya, bolehlah! Tapi kalau curhatnya curhat berfaedah, tentunya akan bikin orang terinspirasi untuk berbuat baik yang sama.

Coba sini kasih saya nama blogger, yang nulis curhat dan lalu viral. Asal curhatkah mereka? Enggak, pasti. Ada nilai-nilai yang ditawarkan di balik tulisan beratus-ratus kata itu.

Jadi, kamu mau nulis curhat? Boleh. Nih, saya kasih beberapa topik curhat berfaedah yang barangkali bisa kamu kembangkan menjadi tulisan curhat yang siapa tahu (kalau kamu bisa mengolahnya dengan baik) akan viral.

Ada 5 topik curhat berfaedah nih.


1. Tentang masa tersulit dalam hidup dan bagaimana melewatinya


Everyone loves drama. Right?
They demand, you supply.
Halah.

Wkwkwkwk.
Jualan drama memang paling laris. Orang suka baca yang sedih-sedih, lalu berakhir bahagia. Itu sudah polanya seperti itu. Mau true story, mau cerita fiksi, mau FTV, ya sama.

Cerita masa tersulit lalu melahirkan solusi melewatinya selalu bisa jadi inspirasi.

Kebanyakan memang akan dengan mudah menceritakan masalah hidupnya. Agar membuat ceritanya jadi lebih berfaedah, maka jangan lupa untuk menceritakan juga caramu melewatinya. Sehingga, mungkin nih mungkin, kalau ada yang punya permasalahan serupa, mereka pun bisa mengambil solusi yang sama denganmu.

Atau, setidaknya, mereka jadi berpikir kalau mereka nggak sendirian. Mereka bukan satu-satunya manusia yang punya permasalahan yang sama. Bisa jadi nanti akan terjadi tukar pikiran, yang akhirnya dua-dua sama-sama memetik manfaat.


2. Bagaimana satu peristiwa mengubah cara pikir kita, hanya karena melihat sisi yang berbeda


Setiap orang kan punya mindset sendiri-sendiri, asumsi terhadap sesuatu masing-masing. Tapi ada saatnya, mindset kita bisa berubah karena kita suatu kali--secara tak sengaja--melihatnya dari sudut pandang yang lain.

Misalnya nih.
Di Rocking Mama ada artikel yang berjudul Ketika Seseorang yang Konservatif dalam Agama Mengajarkan Saya tentang Bagaimana Menjadi Progresif ditulis oleh Putri Widi.

Cerita Widi di sana cukup menarik, dan akan menjadi curhat berfaedah. Bagaimana ia berubah pikiran mengenai satu hal, karena bertemu dengan seseorang dalam bus yang ditumpanginya.

Coba deh, baca yes. Bagus.

Kamu pasti juga pernah mengalaminya. Coba gali pengalamanmu itu secara mendalam, lalu tuliskan. Dengan sedikit emosi, bisa saja tulisanmu akan jadi viral.


3. Share about your career changing


Kadang dulu kita punya mimpi yang sangat berbeda dengan yang sekarang.
Misalnya nih.

Saya adalah seorang lulusan arsitektur. Pernah bekerja menjadi seorang marketing handicraft, desainer produk, hingga mengurus E-Marketing sebuah perusahan eksportir furniture. Lalu, tiba-tiba saja saya banting stir jadi penulis.

Saya sudah berapa kali menceritakannya pada beberapa orang. Mereka biasanya memang tertarik, bagaimana bisa saya membelok setajam itu. Hehehehe.

Kamu juga mengalami hal yang samakah?
Pernah bekerja di perusahaan inu, lalu resign dan mantap menjadi full time blogger?
Atau, simple aja. Buat ibu-ibu, yang akhirnya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya setelah sebelumnya menjadi wanita karier, juga menarik untuk diceritakan.


4. Pelajaran-pelajaran berharga dari mentor dalam hidupmu


Kebanyakan dari kita punya seseorang atau beberapa orang yang dianggap "guru" atau "penasihat". Saya menyebutnya sebagai mentor. Saya sendiri punya mentor menulis, mentor blogging, mentor hidup sehari-hari, dan banyak lagi. Meski saya ragu, kalau mereka tahu dan ngerasa saya jadikan mentor atau enggak. Hahaha.

Banyak dari mereka yang memberikan saya insight baru dalam menyikapi keadaan, entah mereka sadar atau tidak. Yang pasti, saya memang belajar dari banyak orang. Nggak mesti selalu ketemu sama mentornya. Saya juga punya mentor "maya", orang yang suka saya baca tulisannya karena penuh dengan ilmu baru via online.

Taruh saja soal blogging. Saya punya beberapa "mentor". Dari mereka saya belajar ini dan itu, yang kemudian saya coba aplikasikan.

Lalu setelah saya praktikkan, saya tulis di blog ini sebagai catatan. Bisa jadi catatan itu juga ditambah dengan pengembangan saya sendiri.

Kamu pasti juga sering curhat ke seseorang, barangkali. Lalu orang tersebut memberikan masukan atau saran. Dengan seizin beliaunya, kamu bisa menuliskannya di blog. Sebagai catatanmu sendiri, pun kalau ada orang lain yang butuh juga.

Dengan demikian, kamu pun sudah membantu orang lain menemukan solusi atas permasalahan yang mereka hadapi kan?


5. Who you were and who you are


Setiap orang pasti bertumbuh. Betul?

Misalnya saja, dulu kamu adalah seorang korban bullying. Dengan perjuanganmu, kamu kini telah menjadi blogger profesional sekaligus seorang influencer di media sosial.

Kisahmu ini perlu banget kamu bagikan, agar menginspirasi pembaca blog kamu.

Atau, dulu kamu pernah menjadi orang yang nggak percaya diri. Sekarang, kamu telah menjadi seorang public speaker.



So, intinya selipkanlah hikmah dan sudut pandang yang lain dalam curhatmu.

Dan satu lagi yang penting.

Please please please, hindarilah kalimat yang bernada menyalahkan orang lain dalam artikelmu. Siapa pun dia--sahabatmu, pasanganmu, anak-anakmu, orang tuamu, nenekmu, kakekmu, bahkan musuhmu. Meski memang mereka yang bersalah. 

Anggaplah begini, semua yang terjadi padamu adalah tanggung jawabmu sendiri.

Dengan tidak menyalahkan orang lain, maka artikel curhatmu pun akan lebih netral. Akan lebih berfokus pada perjuanganmu sendiri.

Tapi, kalau memang ada yang berjasa ya sebutkan dengan lantang namanya.


Tuh, sudah saya kasih 5 ide curhat berfaedah untuk blog kamu. Kalau seminggu satu artikel, berarti sudah 5 minggu.

Kamu bisa meneruskannya sendiri. Kamu pasti lebih kreatif daripada saya. Ide kamu pasti lebih bagus.

Jangan berhenti menulis.
Menulis curhat itu nggak pernah salah.
Yang penting, jadikanlah berfaedah. Sehingga orang lain makin suka juga dicurhatin.

Selamat nulis!


Minggu terakhir bulan September 2017 ini benar-benar luar biasa!
Ada 2 event workshop yang harus saya ikuti di minggu terakhir bulan September ini.
Di artikel yang sekarang, saya akan membuat catatan untuk event workshop yang pertama, yaitu Workshop Bank Indonesia Blogger dan Vlogger 2017, yang diadakan di Royal Hotel Ambarrukmo Yogyakarta.

Disclaimer: ini bukan reportase, bukan pula sponsored post.

Sekitar hari apa ya itu, Selasa kalau nggak salah, saya menerima pesan Mbak Indah Juli. Katanya, bakalan ada workshop blogger Bank Indonesia diadain di Jogja, dan akan diisi oleh Mbak Ainun Chomsun, inisiator Akademi Berbagi dan CerdasDigital.com. Mbak Indah bilang lagi, kalau workshop ini ada hubungannya dengan UMKM binaan BI.

Wait a minute.
Bank Indonesia? Ainun Chomsun? UMKM?

Weh!
It's a big thing!

Tapi, yaelah. Jamnya! Saya kan mesti jemput anak-anak!
Pikir punya pikir, saya pun mengatur ulang jadwal hari Kamis. Anak-anak saya minta untuk bolos ekskul :))) *Iya, sekali-sekali kita mesti egois. Asal jangan keseringan!*

Dan akhirnya, deal! Saya ikutan Mbak Indah mendampingi Mbak Ainun Chomsun dalam pelatihan menulis dan blogging tersebut, bareng Mbak Lusi juga.

Kamis tiba.
Sedari pagi saya sih sudah excited banget. Meski saya nggak punya persiapan apa-apa. Mendadak banget, bo'! Apalagi saya nanya Mbak Indah, mesti nyiapin apa, bawa laptop apa enggak, pun nanya rundown, nggak pernah dijawab dengan jelas sama Mbak Indah. Huahahaha. Blank abis!

Tapi ya sudahlah. Kalau Mbakin yang ngajak, ya saya manutlah. Wakakakk. Mbakin junjunganku!

Akhirnya ya berangkat saja. Meski blank, mesti ngapain.
Sampai di Royal Ambarrukmo Hotel, Mbak Indah dan Mbak Lusi sudah nunggu di lobi. Lah, padahal Mbak Lusi bilang bakalan telat dikit, malah udah sampe. Saya yang kepedean bakalan bisa datang cepet, malah datang paling belakang.

Dasar Carra! Blogger profesional macam apa? Wkwkwkwk.

Di sana sudah menunggu Mbak Ainun, dan dikenalkan pula pada Ibu Budiana Indrastuti, yang seorang kepala divisi publishing Media Indonesia.

Cuma satu kata: We o we!

Singkat kata, kami hanya dikasih brief sebentar oleh Mbak Ai dan Ibu Diana, lalu mulai deh ikutan acara.

Ternyata saya, Mbak Indah dan Mbak Lusi diminta untuk mentoring peserta satu per satu. Padahal ada berapa peserta ya, sekitar 70-an orang kayaknya.


Workshop Bank Indonesia Blogger dan Vlogger 2017 with Ainun Chomsun


Tapi, wow ... it's amazing!
Yang awalnya saya rada skeptis, karena saat saya tanya rundown acara pun ternyata nggak ada :))) Tapi setelah jalan, ya ampun! Bener-bener profesional!

Mbak Ai memberikan materi yang bernas, singkat dan jelas. Terus langsung memberikan pelatihan saat itu juga, kayak spontan aja gitu. Dan, semua peserta bisa aktif, bisa terjamah satu per satu.

Saya, Mbak Indah dan Mbak Lusi sampai harus bergerak lincah di antara meja-meja peserta untuk bisa menjangkau mereka satu per satu.

LUAR BIASA!

Selain harus membantu peserta workshop, saya pun mengamati cara Mbak Ainun melatih para peserta. Bagaimana caranya berinteraksi sembari memimpin pelatihan, bagaimana menyampaikan instruksi-instruksi, dan bagaimana mendorong peserta untuk mau mulai menulis.

Semua saya perhatikan sampai detail!
Dan, saya mencuri ilmu baru!


Kerjanya paruh waktu kedua. Paruh pertama mari selfie dulu!


1. Antara mentor dan mentee harus menemukan chemistry


Bahwa sebagai seorang mentor, kita harus nge-blend di antara peserta dan menghilangkan garis batas antara "pengajar" dan "yang diajarin". Dengan menjangkau satu per satu, membantu peserta workshop satu per satu, maka materi pun akan lebih nyantol.

Mbak Ainun nggak segan-segan untuk datang ke masing-masing laptop peserta untuk melihat langsung tulisan mereka. Satu per satu diperhatikan.


2. Para penulis baru hanya butuh semangat dan dorongan


Bahwa para penulis baru ini sebenarnya hanya butuh didorong dan disemangati, lalu diberi latihan yang pas, agar mereka bisa push theirselves over the limit.

Karena sejatinya, semua orang, kalau mau nih, bisa kok nulis. Hanya saja mereka antara nggak tahu mulai dari mana, takut tulisannya jelek, malu dilihat orang lain, takut dikritik, dan berbagai alasan lain yang sebenarnya nggak penting.

Mbak Ai sendiri menekankan, bahwa setiap orang yang bisa bercerita, pasti bisa menulis.

Bener juga kan? Kita kan sekadar menulis cerita masing-masing saja di blog.

3. Masukan adalah vitamin untuk tulisan


Saat peserta sudah mulai membuat artikel yang diminta, karena di akhir pelatihan bakalan ada lomba blog, kami--saya, Mbakin, Mbaklus, dan Ibu Diana--secara bergantian memberikan review dan masukan pada karya peserta.

Hooohhh, betapa exciting-nya mereka mendapatkan berbagai masukan dari kami. Satu orang dikasih masukan, ia akan langsung mencatat di buku. Iyes, langsung dicatat.

Beberapa bahkan langsung memperbaiki kesalahannya saat itu juga. Nggak ada deh itu, nanti-nanti. Atau, disave dulu, dipraktikkan besok kalau sempat. (Eh, itu mah, saya kalau lagi belajar sik).

Ada satu peserta yang sampai angkut laptop dan catatannya ke meja saya di belakang, hanya karena mau supaya saya lihat dulu tulisan dia sebelum dikumpulkan untuk direview bersama lo.

Saya terharu! Betapa mereka menghargai masukan dan kritik, dan betapa mereka langsung action untuk memperbaikinya.

They are the true learners!

Sorry, dari berbagai workshop dan talkshow event yang sudah saya hadiri sebagai narasumber, hanya sedikit saja dari peserta yang mau langsung belajar dan memperbaiki kesalahan seperti ini.


4. Materi yang dipresentasikan cukup singkat saja, yang penting: Sharing!


Saya perhatikan slide yang dibawa oleh Mbak Ai tampak sederhana banget. Bahkan ah ... nggak ada yang aneh-aneh atau apalah gitu (kayak kalau saya yang bikin. Wakakakak)

Tapi, Mbak Ai terus berbicara, bercerita, sharing secara verbal, bagaimana dia mulai ngeblog, hambatan apa saja yang dihadapi, dan sebagainya.

Bahasanya santai, sesekali bikin jokes. Pertanyaan peserta juga ditanggapi apa adanya.

Ibu Diana juga begitu. Saat harus ngasih review terhadap tulisan peserta satu per satu, Ibu Diana secara detail juga menjelaskan apa saja yang perlu diperbaiki. Yah, namanya juga editor, yang sudah tinggi pula jam terbangnya, hingga sekarang menjabat sebagai kepala divisi publishing Media Indonesia.

Masukannya pada peserta juga saya catat diam-diam. Buat apa? Ya, supaya tulisan saya lebih bagus lagilah, cyint!
Tiap hari harus nulis inih! Demi sesuap nasi dan segentong remahan Swarovski.


Me with Mbak Indah Juli, Mbak Lusi, Ibu Diana, dan Mbak Ainun Chomsun


Demikianlah.
Saya merasa beruntung banget bisa mengatur jadwal harian saya di hari Kamis itu.

Saya masih punya beberapa catatan dari event Workshop Menulis Indie Stletto Book x Diandra Creative, "Sukses Menjadi Penulis Indie".
Saya akan tulis segera di blog ini.