Selain Instagram, Facebook akhir-akhir ini juga berbenah. Apa saja yang dibenahi? Kamu bisa lihat di artikel sebelumnya.

Algoritma Facebook sekarang memang (semacam) sedang dikembalikan ke fitrahnya oleh tim Mark Zuckerberg, yaitu sebagai wadah untuk berinteraksi antar orang secara personal.

Media massa elektronik atau brand-brand semakin sedikit tempatnya untuk bisa berpromosi. Algoritma terbaru Facebook memang membuat para publisher ini harus berusaha ekstra untuk mendapatkan target audience yang sesuai. Ya, kalau mau gampang sih, mereka mesti merogoh kocek lebih dalam. Tapi itu pun juga nggak pasti mencapai target audience yang diharapkan, karena mereka mesti memperhitungkannya dengan saksama.

Nah, bagaimana dengan kita?

Kita sebenarnya adalah "pelanggan" yang disayang oleh Facebook.
Facebook melakukan pembenahan itu karena kita juga. Kita sedang berusaha dimanjakan oleh Facebook.

Masalahnya, ada di antara kita yang ternyata "menyalahgunakan" perlakuan baik Facebook, dan abusing term of service yang sudah ditetapkan. Di antaranya adalah spamming.

Ya, karena kita adalah blogger, dan merasa "wajib" untuk mempromosikan blog masing-masing demi mencapai pageview.

Sebagian blogger--saya yakin dengan pasti--nggak pernah baca term of service yang diberikan oleh Facebook soal spamming atau promosi, sehingga tanpa sadar mereka melanggar aturan-aturan yang sudah ada tersebut.

Hingga, awal tahun lalu, sebagian besar blogger mengeluh, bahwa mereka di-mark as spam sama blogger. Komen mereka ter-hide secara otomatis dan dianggap spam oleh Facebook. Mau posting di beranda juga sebagian bilang, susah.

Saya nggak tahu pasti, "dosa" apa saja yang mereka lakukan hingga "menerima hukuman" dari Facebook semacam itu. Karena term of service-nya itu banyak. Bisa saja dilanggar sedikit, bisa banyak, bisa semuanya. Lagian saya juga nggak bisa tahu dengan pasti, dosa masing-masing blogger ini apa saja kan?

Ya kali saya stalking satu per satu. Wk.

Seandainya setiap kali kita "datang" ke tempat baru itu kita pelajari dulu aturan-aturannya, apa yang boleh dilakukan atau tidak boleh dilakukan, pastilah kita akan aman-aman saja. Bagaimanapun, itu tempat punya orang. Bukan punya nenek kita sendiri. Jadi, aturan ya aturan. Harus dipatuhi.

Tapi ya gitu deh. Jarang yang mau membaca manual dulu, atau term & condition, atau yang semacamnya. Terus kalau sudah kena batunya, baru deh ngeluh.

Ya, alhamdulillah-nya, saya sampai sekarang masih selalu lolos dari "hukuman". Padahal saya juga cukup sering mempromosikan link ini itu. Mungkin karena saya punya tulisan di berbagai tempat, nggak cuma di blog pribadi saja, sehingga meski saya selalu promosikan tulisan saya, tapi sumber link-nya beda-beda :D

Ya mungkin juga gitu.
Atau, karena saya lebih banyak merusuh di beranda pribadi, bukan di grup, bukan di komen orang. Jadi ya, mungkin dianggapnya bebas aja deh, orang di beranda sendiri.

Entahlah.

Tapi, apa pun, coba deh disimak, beberapa cara promosi yang salah yang dilakukan oleh para blogger berikut ini, yang saya kumpulkan berdasarkan pengamatan.


9 Dosa pengguna Facebook yang paling sering dilakukan


1. Share dalam waktu yang bersamaan


Saya sering lihat, para blogger share satu artikel sekaligus, baik ke beranda sendiri, ke grup maupun nyebar link ke komen orang.

Kalau kita punya 20 grup blogger, ya kita akan share langsung ke 20 grup tersebut secara berturut-turut.

Atau, posting di akun Facebook pribadi, dan juga sekaligus ke Facebook Page, terus dari Facebook Page langsung disebar ke berbagai komunitas.

Yang kayak gini nih kelakuan spammer, bukan blogger.

What to do instead:
Jangan sebar langsung ke banyak tempat dalam waktu yang berurutan. Kamu bisa promosi blog dengan waktu yang diatur.

Misal, hari ini sebar link ke Kumpulan Emak Blogger, besok ke Warung Blogger, dan seterusnya.

"Malas laa, kalau bisa sebar link hari ini sekalian, besok sibuk soalnya."
Ya, diaturlah. Posting link paling berapa menit sih?

Atau kalau memang harus semua tersebar hari ini, beri jeda waktu yang cukup panjang. Satu jam, dua jam. Banyak sih yang bilang, interval 5 menit sebenarnya juga sudah cukup. Tapi ya, demi amannya, coba share dengan interval sejam dua jam.


2. Nyebar dengan caption yang persis


Kadang kita memang mau cepetnya aja kan? Nyebar link, ya pengantarnya kopas aja.
Bikin satu, lalu dikopi, share.
Untuk ke grup yang lain, tinggal paste, dan share.

Cepet!

Apalagi ada juga fasilitas Facebook yang memungkinkan kita menyebar langsung ke multiple group langsung sekali klik aja.

Nah, ini kesalahan nih.

What to do instead:
Cobalah untuk menulis caption atau pengantar share yang berbeda satu sama lain. Sesuaikan dengan target pembaca.

Jangan malas nulis caption.
Blogger kok malas muluk.


3. Konten nggak original


Sebagian dari kita masih mengambil gambar, misalnya, dari Google search. Meski sudah menyantumkan sumber, tapi kadang ini masih berisiko dianggap spam oleh Facebook.

Karena kalau gambar--terutama yang kita pergunakan sebagai featured image yang kemudian kalau dishare nongol menyertai link blog kita itu--sudah pernah dilaporkan sebagai spam ke Facebook, maka gambar tersebut akan masuk ke dalam database spammer Facebook.

Sehingga kalau kita share gambar yang sama, maka otomatis akan langsung dianggap spam juga oleh Facebook.

Nah, ini nih. Makanya penting ya, untuk tahu license sebuah gambar yang kita pakai di artikel blog. Kalau nggak bisa pakai gambar sendiri, pastikan gambar tersebut berlisensi CC0.

Berlisensi CC0 saja masih belum jaminan yakin aman kok.
Paling aman itu ya pakai gambar sendiri.

What to do instead:
Selalu gunakan gambar yang berlisensi bebas dipakai tanpa copyright. Kalau mau ambil di Google, pastikan kamu ambil yang Usage Rights-nya labelled for noncommercial use.

Atau ambil gambar-gambar yang ada di website penyedia image CC0. Saya punya banyak daftar website-nya. Silakan dilihat. Lalu usahakan untuk dimodifikasi. Misal, diedit lagi warnanya, ditambahin tulisan dan sebagainya. Pokoknya jangan polosan apa adanya.

Ini kalau kamu ambil dari sumber lain.

Atau, paling aman ya pakai gambar sendiri. Wislah, pasti aman.

Nah, ini juga catatan.

Bahwa konten di sini nggak cuma gambar ya. Tapi juga tulisan. So, kalau semisal kamu share link dari sumber lain, dan link tersebut sudah pernah dilaporkan sebagai spam, maka kamu pun akan dianggap spammer.

Jadi, be careful saat kamu share link dari mana pun.


4. Over tagging


Ini dulu sempat booming, terutama buat para pemilik online shop di Facebook.
Upload foto produk terbaru, lalu tag banyak orang di friendlist.

Sekarang, sudah nggak ada sih. Ya, setidaknya di saya. Nggak tahu yang lain. Masih adakah yang suka ngetag banyak orang begini?

Meski nggak dianggap spam oleh Facebook pun, saya sebenarnya merasa gengges kalau ditag di foto yang nggak ada hubungannya sama diri saya sendiri.

Behavior kayak gini jelas spamming.

What to do instead:
Pastikan kalau ngetag ya karena orang tersebut ada di dalam foto. Atau fotonya memang berhubungan langsung dengannya.

Misalnya, ada yang ngetag saya di buku Blogging: Have Fun and Get the Money. Nah, itu saya seneng banget. Hahaha.


5. Melanggar aturan-aturan lainnya


Ada beberapa behavior atau kelakuan pengguna Facebook yang melanggar aturan (kalau saya jabarkan jadi poin satu per satu, bakalan terlalu panjang sih. Jadi saya jadikan satu di poin terakhir ini aja.)

Maka, tolong pahami, bahwa beberapa kelakuan di bawah ini dilarang oleh Facebook.

  • Ikut menyebarkan artikel-artikel hoaks dan clickbaity.
    Facebook sudah punya database website mana saja yang punya konten tak berkualitas, yaitu website yang penuh berita hoaks, clickbaity, ujaran kebencian, dan berbagai macam jenis thin content lainnya.
    Dari mana mereka mendapatkan database ini?
    Ya, karena behavior kita juga. Kalau kita terlalu cepat mengunjungi satu website yang linknya disebar di Facebook, maka itu juga akan "direkam" bahwa kita nggak puas dengan isi konten website tersebut. Atau kalau kita pernah melaporkan satu link/akun sebagai spam, ya itu ikut menjadi bahan pertimbangan Facebook.
  • Memasukkan orang ke dalam suatu grup Facebook tanpa izin.
    Yes, ini juga akan menjadi pertimbangan Facebook untuk menganggapmu sebagai spammer. Indikasinya mudah, kalau orang yang kamu masukkan ke dalam grup tersebut langsung leave group, maka satu poin untukmu sebagai spammer.
    Jadi, sebelum memasukkan orang ke dalam suatu grup komunitas, pastikan kalau orang tersebut mau dan suka dicemplungkan ke dalam grup kamu ya.
  • Add friend banyak akun sekaligus.
    Yang kayak gini juga menjadi standar media sosial mana pun. Di Twitter dan Instagram pun juga sama. Kalau kamu follow akun lain dengan membabi buta, maka kamu bisa dianggap spammer.
    Karena ya wajar saja sih. Ini bukan perilaku normal. Facebook itu untuk menjalin silaturahmi antar teman. Kalau ujug-ujug add friend banyak, maka kemungkinan yang belum kenal pun di-add friend. Nah, ini mencurigakan intensinya.
  • Mempergunakan nama bisnis sebagai nama akun Facebook personal.
    Kalau bisnis, ya buatlah Facebook Page, bukan akun Facebook personal. Jadi, pastikan nama akun Facebook kamu adalah nama orang. Nggak boleh pakai nama bisnis ya.
    Misal, nama "Mary Bakery" gitu, nggak mungkin akan diperbolehkan oleh Facebook untuk menjadi nama akun personal.
  • Mempromosikan sesuatu di status orang.
    Nah, ini masih sering saya jumpai sekarang. Ya, kalau merekomendasikan sih beda ya, biasanya akan ada usaha untuk engaging dulu.
    In the other hand, spamming itu asal naruh statement bernada promosi di status orang (biasanya di komennya).
    Kadang di grup Rocking Mama Community juga suka nih ada yang gini. Nggak mau baca aturan grup, lalu nyepam. Nyepamnya di komen lagi. Sori ya, kelakuan kek gini tuh enggak banget.
What to do instead:
Ya udahlah. Nggak usah dilakuin :)))


So, yang mana saja nih yang masih kamu lakukan sampai sekarang?
Kalau masih ada, ya, barangkali sekarang kamu mesti mempertimbangkan untuk behaving a little. Bagaimanapun, kita numpang di lapak orang. Ya, bagusnya kita harus beretika juga dan mau mematuhi semua peraturan yang ada.

Yakin deh, bakalan lebih nyaman juga buat kita.



Beberapa hari yang lalu, Mas Febriyan Lukito ngepost status ini.




Nah, kamu termasuk #TimArtikelPanjang atau #TimArtikelPendek?

Saya sih termasuk #TimArtikelSedapetnya. Maksudnya, kalau memang perlunya pendek, ya saya akan nulis pendek. Tapi, kalau saya lihat perlu untuk menulis panjang, ya saya akan nulis panjang.

Tulisan pendek itu biasanya untuk memancing engagement, sedangkan tulisan panjang biasanya saya buat kalau memang sedang menganalisis atau menelaah sesuatu.

Tentang panjang pendek tulisan, sebenarnya saya sudah pernah bahas juga di blog ini. Silakan dibaca, buat yang belum baca. Seenggaknya biar paham, kapan artikel pendek itu diperlukan, dan kapan kita harus menulis secara mendalam (yang akibatnya tulisan jadi panjang).

Buat yang sudah baca, mau baca lagi, juga boleh kok. Ehe~

The point is, seperti yang ditulis oleh Mas Ryan. Jangan maksain, yang pendek jadi memanjang dengan menulis ablah-ablah yang nggak penting dan jadi bikin fokusnya ke mana-mana. Kalau memang nggak penting, ya sudahlah nggak usah ditulis.

Tapi, kalau memang kamu mesti nulis secara 5W 1H yang panjang, ya tulislah secara lengkap. Jangan mengentangi (dari kata dasar: kentang) pembaca *meminjam istilah Mas Dani Rachmat*.

But, then again ...


Yeah, it's hard, man!



Satu, dari kitanya sendiri yang nulis. Kamu betah nggak duduk sejam dua jam untuk cuma nulis doang? Itu pun nggak sekali jadi. Nggak bisa sekali duduk soalnya kalau tulisan panjang, biasanya mah. Mesti beberapa hari. Belum lagi ngelengkapin tetek bengek, pepotoan, vivideoan, dan lain sebagainya.

Dua, dari sisi pembaca. Bosan nggak kira-kira dibacanya itu tulisan panjang kamu?

Tulisan panjang memang melelahkan. Nggak semua bisa nulis panjang.
Saya pun nggak setiap kali bisa nulis panjang.

But, saat harus melakukannya, karena pengin menyajikan informasi lengkap, ya mau nggak mau kita mesti nulis artikel panjang.

Artikel yang panjang itu--katanya--lebih mudah keindex Google. Artikel panjang itu biasanya (kalau nggak mengada-ada) detail. Dan, saya percaya, segala sesuatu yang dikerjakan secara detail, itu biasanya hasilnya memuaskan.

Mau itu tulisan, atau gambar, atau apa pun deh. Kalau dikerjakan dan dipikirkan sampai ke detailnya, pasti hasilnya akan semakin mendekati sempurna.

Ini sudah dalil.

Tapi, jangan salah persepsi. Saya tidak sedang mengharuskan siapa pun untuk selalu menulis panjang.  Ingat, panjang tulisan tergantung pada tujuan tulisan itu dibuat.

Nah, untuk mereka yang kesulitan menulis panjang, ini ada beberapa panduan yang bisa dilakukan untuk menulis artikel panjang, means artikel 1.000 kata atau lebih.


Beberapa langkah membuat artikel panjang, detail dan informatif, tanpa membosankan.


1. Outline adalah koentji

Kunci pertama dalam menulis artikel panjang adalah adanya outline.

Tahu sendiri, outline itu berfungsi sebagai:

  • Alat brainstorming, dan bisa saja timbul ide baru saat menulis
  • Organize our thoughts yang akan dituangkan dalam artikel supaya lebih runtut
  • Memeriksa kesinambungan, antara pokok pikiran satu dengan yang berikutnya.
  • Memenuhi sebab akibat


Ah, nulis blog saja kok pakai outline!

Ya, kalau buat saya, outline itu merupakan tool. Alat. Kalau alat tersebut bisa menolong kita untuk menulis artikel yang terstruktur, rapi, dan bisa tuntas dalam membahas satu masalah, ya kenapa nggak dimanfaatkan?

Kalau memang bikin outline malah bikin ribet, ya nggak usah pakai. Pokoknya hasilnya gimana, gitu aja sih.

Ngeyel pakai outline, terus malah ribet sendiri dan akhirnya nggak jadi nulis. Itu berarti maksain. Atau, nggak pakai outline tapi terus tulisannya nggak fokus, ya berarti nggak bener juga.

So, di mana perlu aja. Dan, hanya penulis yang ngerti di mana perlunya. Peka ya.

So, kalau saya sih, tulisan panjang BIASANYA butuh outline, supaya tetap fokus dan bernas. Nggak perlu bagus-bagus juga, tapi yang penting semua poin yang mau ditulis itu ada. Kadang saya juga pakainya mindmap. Jadi, terserah juga mau gimana.

Kadang dari outline, langsung saya kembangkan jadi tulisan. Jadi langsung aja gitu. Terutama kalau bentuknya listicle. Biasanya dari outline per poin, saya kembangin, tambahin penjelasan per poin. Tambahkan penutup, lalu pembuka. Udah jadi.


2. Jangan terburu-buru

Artikel yang kentang biasanya adalah karena terburu-buru.

"Lah, udah nulis dari 2 jam yang lalu kok belum selesai ya. Ya udah deh, segini aja kali."

Terus udahan. Nggak pakai closing, nggak pakai conclusion. Nggak pakai pamit. Pembacanya langsung ditinggal pergi.

Nggak sopan!
Hahahaha.

Itu saya sih, kalau nemu tulisan. Udah panjang, eh ternyata kentang. Terus langsung ditinggal pula, nggak pakai dipamitin. :))

Makanya kalau saya pribadi, ngeblog seminggu sekali saja. Tapi saya usahakan pembahasan sampai in-depth.

Toh, saya punya waktu seminggu penuh buat mikirin ide tulisan kan? Walaupun eksekusinya ya kenyataannya cuma dikerjain 2 hari, misalnya. Wkwkwk.

Tapi itu salah satu jalan, supaya saya bisa benar-benar menggali lebih dalam.

Saya dulu sering terburu-buru. Rasanya, takut aja gitu. Kalau nggak selesai sekarang juga, takutnya besok udah nggak mood lagi.
Akhirnya cuma numpuk di draft.

Pasti banyak deh yang samaan gitu. Iya kan? Ngaku aja. Wkwkwk. Tapi, saya sendiri mikir. Kalau terburu-buru, jadinya artikelnya bakalan kerasa juga buru-burunya.

Maka kemudian, saya mencoba mengubah kebiasaan. Saya berusaha nggak buru-buru, dan menyelesaikan tulisan ini bisa sampai 2 - 3 hari.

Ya, kadang ya moodnya berubah. Ya enggak apa-apa sih. Selama ini di blog sendiri, kan bebas.
Kecuali kalau kamu ngerjain tulisan panjang pesanan orang, bukan di blog sendiri. Itu memang mesti dicari solusinya.

Kalau nulisnya makan waktu karena artikelnya memang in-depth, ya jadinya perlu banget yang namanya outline. Kalau sewaktu-waktu capek nulis, bisa kita lanjutkan kapan lagi, tanpa hilang fokus. Kita nggak akan lupa, kemarin sampai di mana. Mood akan tetap ada, sampai artikel selesai.

Pokoknya dinikmati prosesnya deh.


3. Pastikan openingnya cukup mengikat pembaca

Opening akan menentukan ‘keselamatan’ artikel kita. Ini sudah berkali-kali saya tulis dan omongkan kayaknya sih.

Coba cek dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini saat menulis opening:
  • Apakah permasalahan sudah langsung disebutkan di 100 kata pertama?
  • Apakah ada janji yang akan didapatkan oleh pembaca kalau mereka mau membaca artikel sampai selesai? 
  • Apakah kata-katanya cukup provokatif dan persuasif, yang mengajak atau membuat pembaca merasa harus menyelesaikan membaca?
  • Apakah opening kamu cukup lucu? Karena biasanya orang lebih tertarik pada hal-hal yang disampaikan dengan jenaka.
  • Atau, apakah opening cukup related to people? Menyebutkan hal-hal yang juga dialami oleh orang lain?

Gimana, sepertinya memenuhi 2 syarat di atas saja sudah cukup menarik. Mau ditambah supaya lebih engaging lagi? Boleh. Lebih bagus.


4. Apakah artikel sudah dalam format yang tepat?

Ada beberapa jenis format yang bisa kamu gunakan:

  • Artikel storytelling, yaitu artikel yang formatnya bercerita gitu. Nah, format ini lebih rentan untuk membosankan. Jadi, saran sih, kalau memang mau bikin artikel storytelling panjang, pecahlah dalam beberapa subjudul atau 'episode'. Dengan memecahnya, maka pembaca seperti diberi jeda di antar bagian. Apalagi kalau ada visual yang  menarik per subbab-nya. 
  • Artikel listicle, yaitu artikel yang berbentuk list atau daftar atau step-by-step. Kayak artikel ini, termasuknya listicle. Round up juga listicle. Itu lebih mudah ditulis sih buat saya, sepertinya buat dibaca juga nggak terlalu melelahkan. Karena terbagi ke dalam beberapa poin, maka nggak kerasa panjangnya karena ada semacam jeda di masing-masing perpindahan poin.


5. Berikan penjeda setiap 200 – 300 kata

Nah, karena dipecah dalam subbab atau per poin, maka harus ada penjeda di setiap bagiannya. Penjeda ini bisa berupa foto, image, gif, atau video. Atau bisa juga infografis.

Silakan berkreasi. Gimana supaya pembaca nggak bosan.

Namun, kadang, saya sendiri dengan pedenya juga nggak ngasih penjeda :))))


6. "Talk" to your reader


Yeah, talk to your readers.

Yes, talk to your readers. Bukan sekadar nulis doang. Apalagi hanya "pokoknya memenuhi utang nulis".

Kadang kita memang nggak kerasa ya. Nulis terus, mengeluarkan apa yang ada di pikiran kita sampai puas dan tuntas. Atau, pokoknya tugas sudah selesai. Pembaca mau ngerti apa enggak, bodo amat.

Pokoknya selesai. Abis ini bisa kirim invoice #eh

Lupa, kalau ada pembaca yang mesti diajak berinteraksi.

Iya apa iya? Hehehe. Hasilnya ya, kayak monolog. Apa ciri tulisan yang "melupakan" pembaca ini? Ada satu ciri paling kelihatan dari tulisan yang "melupakan" pembaca ini, yaitu tulisan yang menggurui, atau yang sok.

Biasanya sih, habis baca tulisan tersebut, kita bukan tercerahkan. Tapi malah makin mumet. Wkwkwk.

Coba deh. Setiap kali menulis, bayangkan ada pembaca blogmu sedang duduk di depan tempat kamu menulis, siap untuk diajak ngobrol. Tutup matamu sebentar, rasakan kehadirannya. Lalu mulailah menulis, seakan-akan kamu sedang berdialog dengannya.

Setelah jadi, coba dibaca ulang. Rasakan, ada bedanya nggak dengan kamu yang biasanya sekadar nulis apa yang kamu pikirkan, atau yang sekadar nulis apa yang di-brief-kan oleh klien.

Kasih tahu saya ya, nanti, kalau kamu rasa ada bedanya.


7. Pastikan kamu menggunakan kalimat dan paragraf yang pendek


Jika satu paragraf terdiri atas 10 baris atau lebih, saya lebih suka memecahnya dalam 2 paragraf. Kadang saya juga suka ada paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat atau satu kata. Biasanya sih karena ada maksud yang ingin ditekankan dalam paragraf satu kalimat tersebut.

Dengan menggunakan paragraf-paragraf pendek, rasanya kita akan lagi ngobrol (refers to step #6 above), alih-alih diceramahin.

Coba deh dirasain.

Lalu, yang penting lagi, kalimatmu juga harus pendek-pendek, sekitar 8 – 10 kata maksimal dalam satu kalimat. Setiap kalimat, akhiri tanda baca “titik” ya. Kalau koma, itu berarti kalimatnya belum selesai.

Apalagi kalau sampai ada lebih dari 2 koma dalam satu kalimat. Itu biasanya kalimatnya udah mbulet.

Fine, kalau kamu masih nggak bisa membedakan "di" yang sebagai kata depan, dan "di" yang merupakan awalan. Nulis "diluar" sama "di keluarkan" kebalik ... well ...


Serah lo deh!


Tapi, kalau penggunaan tanda titik dan koma saja kebolak-balik, well ... kayaknya kamu mesti belajar bahasa Indonesia aja dulu deh.

Seriusan ini.
Karena ini berhubungan dengan ketahanan pembaca untuk mau membaca sampai akhir.
Sepele, namun penting banget.


8. Cek ulang, variasi!


Yang sudah dibahas di satu bagian, jangan lagi diulang di bagian yang lain. Ini nih gunanya outline. Supaya kita nggak terlalu banyak mengulang apa yang sudah dibahas.

Nggak cuma bahasan yang diulang.
Saya sendiri memantangkan diri untuk mengulang kata yang sama dalam satu paragraf. Apalagi dalam satu kalimat.

Jangan sampai deh.

Ini hubungannya sama variasi.
Man, eue aja perlu variasi. Ini tulisan in-depth, udahlah panjang, masa nggak pakai variasi? Bosanlah!
*dikeplakin dari segala penjuru*

So, kamu bisa mengatasi variasi kata ini dengan:

  • Mencari sinonim katanya
  • Mengubah susunan kalimatnya
  • Mengubah struktur kalimatnya, dari pasif jadi aktif, misalnya.
Lalu baca kembali dengan bersuara, agar bisa merasakan apakah ada bagian yang berulang. Tempatkan dirimu sendiri sebagai pembaca.



9. Cek 5W 1H

What, who, when, where, why dan how, merupakan prinsip penulisan jurnalisme yang baik. 

Nggak ada salahnya juga prinsip tersebut kamu pakai dalam menulis artikel blog, terutama yang panjang. Cukup membantu juga sih kalau di saya.

  • What: topik apa yang akan dibahas?
  • Who: siapa subjeknya? Siapa objeknya?
  • When: kapan permasalahan topik akan timbul, misalnya. Atau kapan kejadian berlangsung?
  • Where: di mana sering terjadi atau kejadiannya di mana? Deskripsikan.
  • Why: alasan-alasan yang dapat menimbulkan satu peristiwa yang terjadi.
  • How: bagaimana cara mengatasinya permasalahan?

Dengan memenuhi prinsip tersebut, diharapkan sih artikel kita bisa tuntas dalam membahas suatu topik. Meski dalam storytelling pun, prinsip ini akan baik juga kalau dipakai. Tinggal nanti luwesnya saja.



Nah, satu catatan penting ya.
Kita nggak bisa dengan mudah mengubah kebiasaan. Kalau biasanya hanya bisa menulis 300 kata, ya nggak perlu maksain langsung bisa nulis 2000 kata.

Mulai saja secara bertahap, dari 500 ke 600 kata, lalu jadi 800 kata. Nanti lama-lama pasti bisa deh ke 1.000 kata lebih.

Saya juga gitu kok. Pertama saya juga nulis ngos-ngosan banget ke 700 kata. Lama-lama bisa nulis 30.000 kata, alias nulis buku. *dikeplakin lagi*

Well, menyajikan informasi yang lengkap dan detail, serta bermanfaat bagi pembaca, sepertinya itu adalah yang menjadi tujuan dari setiap tulisan yang ada kan?

Adalah hak pembaca untuk mendapatkan semua informasi tersebut secara lengkap. Maka, kita harus memenuhinya, dan mereka pun akan datang lagi dengan ikhlas dan senang hati.

Semoga langkah-langkah menulis artikel panjang informatif tapi nggak membosankan di atas bermanfaat ya. Kalau ada tambahan, boleh ditulis aja di kolom komen.

Nanti akan saya tambahkan.

Happy writing and blogging, everyone!