Aplikasi Android Edit Video Terbaik


Hai! Kemarenan kebetulan saya nih lagi ngumpulin beberapa aplikasi Android yang bisa saya pakai untuk Instagram feed, Instagram Stories, pun video untuk berbagai keperluan, termasuk di Youtube.

Buat apa saya ngumpulin dan sampe instal semuanya? Ya buat kerjaanlah bok. Buat apa lagi sih?

Kalau kerjaan kek saya gini mau ga mau mesti update terus sama tools kalau nggak mau kerjaan saya terancam :P Seriyusanlah ini. Wqwqwq.

So, buat kamu yang juga suka ngulik video untuk diposting media sosial--atau seenggaknya kamu terpaksa ngulik video, kek saya--berikut ini ada beberapa aplikasi Android editing video yang paling handy menurut saya dengan fungsi masing-masing.

Cekidot yah!



7 Aplikasi Android Editing Video Terbaik


1. Magisto


Aplikasi Android Edit Video - Magisto

Untuk mengedit video di Magisto ini kamu hanya perlu 3 langkah simpel aja: pilih style video yang kamu pengin, pilih foto atau video yang pengin kamu masukkan, lalu pilih musik backsound-nya.

Gampang banget! Dan stylingnya cukup beragam. Kalau mau fasilitas lebih, coba upgrade aja ke Professional. Konon sih nggak mahal. Kamu bisa bikin video yang lebih panjang lagi.


2. Microsoft Hyperlapse

Aplikasi Android Edit Video - Hyperlapse

Microsoft Hyperlapse ini salah satu yang masih saya pakai terus sampai sekarang, terutama kalau saya lagi bikin video sketsa.

Keunggulannya apa, sampai saya suka banget sama Hyperlapse ini? Karena aplikasi Android ini bisa speed up video sampai 32x. Jadi video 3 - 4 menit bisa dipersingkat jadi sekian belas detik aja. Cocok banget buat bikin video proses gambar.

So, barangkali kamu mau memfilmkan prosesnya sunset? Pake ini deh. Cakep banget pasti.

Ada watermark-nya? Ada kreditnya, tapi mereka taruh di beberapa detik terakhir, yang bisa kamu trim dengan aplikasi Android lain. Hehehe.


3. FilmoraGo

Aplikasi Android Edit Video FilmoraGo
Tadinya bernama Wondershare Video Editor, sekarang jadi FilmoraGo. Filmora ini juga ada software-nya yang kompatibel untuk Windows dan Mac. Tapi saya sendiri juga belum pernah cobain.

Easy Mode-nya gampang banget dipakai bahkan oleh kamu yang masih gaptek. Tinggal drag and drop aja video-video yang mau dikompilasi, edit-edit sana-sini, pakai theme yang pas, lalu tambahin musiknya.

Untuk yang gratisan, ada watermark-nya ya. Kalau mau ngilangin watermark Filmora, ya beli deh apps-nya. Nggak mahal ini.


4. PicPlayPost

Aplikasi Android Edit Video - PicPlayPost
Kadang kita memang hanya butuh ngedit video aja kan ya? Nggak perlu collage, atau splicing. Nah, pake PicPlayPost akan lebih mudah. Kamu bisa nge-trim, speed up, tambah musik dan filter. Jadi deh.

Aplikasi Android ini memang basic, tapi malah justru serbaguna banget. Kamu juga bisa menambahkan background kalau mau.


5. WeVideo

Aplikasi Android Edit Video WeVideo
WeVideo ini punya beberapa fitur unggulan dibanding yang lain, seperti edit audio, koleksi music legal yang bahkan bisa digunakan untuk tujuan komersil, dan resolusi video yang dihasilkan bisa maksimal sampai 4K.

WeVideo punya cloud-storage sebesar 10GB yang bisa kamu isi secara free. Selain itu, yang versi free juga ada watermark-nya. Jadi kalau kamu pengin ngilangin watermark, atau menambah cloud storage ya kamu mesti langganan berbayar.

Aplikasi ini juga tersedia versi software desktopnya. Ada yang gratis ada yang berbayar juga. Kalau tertarik, bisa cek di sebelah sini.



6. Adobe Premiere Clip

Aplikasi Android Edit Video Adobe Premiere Clip
Nah, yang satu ini juga free. Tapi kualitasnya hampir setara dengan Adobe Premiere Pro yang berbayar untuk desktop.

Cara kerjanya hampir sama dengan Magisto. Trim, drag and drop, satu atau lebih video atau foto, lalu kita bisa memilih audio backsound yang pas, dari koleksi Adobe atau punya kita sendiri. Lalu edit deh videonya sebebas mungkin setelah dilakukan sync audio. Kamu juga bisa mengatur brightness atau lighting, menambah speed atau menguranginya, lalu bisa langsung share ke Facebook, Twitter, atau bahkan Youtube.

Handy banget!


7. VideoShow

Aplikasi Android Edit Video VideoShow

Nah, yang satu ini masih terus saya pakai, selain Hyperlapse. Ini hampir sama sih dengan VivaVideo. Cuma Slideshow-nya lebih user friendly, at least buat saya.

Theme-nya juga banyak, musiknya pun. Dan semua legal, boleh dipakai bebas.

Untuk VideoShow, saya kemarin berani beli aplikasi Androidnya. Kalau nggak salah, cuma Rp40.000 dan bisa kita pakai seumur hidup bebas watermark, plus koleksi theme yang lebih banyak itu. Memuaskan deh so far.




So, itu dia 7 aplikasi Android editing video yang sudah saya cobain so far.

Hmmm, barangkali ada yang mau nanya, "Kok anu nggak masuk?" Atau, "Kok inu nggak ada?"
Yah, jawabannya gampang. Cuma berarti 2 aja: aplikasi anu nggak masuk karena memang menurut saya nggak oke. Atau, aplikasi inu nggak ada di dalam daftar karena saya belum cobain.

Jadi, silakan direkomendasikan di komen kalau ada yang lain ya! :D
Have fun!





Creative Common. Ada yang belum pernah dengar?

Saya sempat melemparkan pertanyaan dan polling ini di Facebook dan Twitter. Berikut hasilnya.





Jawaban yang tak terlalu jauh berbeda ada di Twitter, hanya saja ini yang merasa tahu nggak mau bilang apa itu Creative Common :))

Bagaimana dengan kamu, yang lagi baca artikel ini? Tahu nggak sih apa itu Creative Common?

Apa itu Creative Common?

Jangan bingung dengan creative license ya.
Creative Common dan Creative License adalah dua hal yang berbeda, meski berhubungan erat.

Creative Common adalah sebuah organisasi atau lembaga nonprofit yang memungkinkan para kreator memberi label ataupun keterangan pada karya mereka masing-masing, apakah boleh digunakan kembali atau dimodifikasi kembali oleh orang lain.

Creative Common ini dibentuk sebagai bentuk alternatif dari hukum hak cipta yang lebih ketat dan rumit. Kalau yang namanya hukum itu kan sangat restricted dilengkapi dengan berbagai ancaman, tanpa ada informasi yang seperti apa yang disebut melanggar hak cipta itu. Atau, seperti apa yang namanya melanggar hak cipta itu.

Nah, lebih detail mengenai organisasi Creative Common ini bisa dilihat langsung di webnya ya.

Nah, Creative Common meng-cover lack yang ada ini, dengan menerbitkan beberapa macem label Creative License, dengan kriteria masing-masing.

Jadi, bisa diibaratkan, kalau Creative Common ini adalah MUI, sedangkan sertifikat halalnya adalah Creative License.


Beberapa jenis Creative License


Nah, beberapa jenis Creative License ini bisa dilihat di sebelah sini sebenarnya. Tapi saya mau coba sarikan dalam bahasa Indonesia. Biar saya selalu ingat, dan siapa tahu ada juga yang butuh yes?

Jika kita pengin menggunakan Creative License untuk segala karya digital yang sudah kamu hasilkan, maka pastikan dulu kita mengerti betul jenis-jenis license yang ada, kriteria dan restriction apa saja yang menyertainya. Soalnya macam-macam banget memang, dan masing-masing tuh ada kegunaannya sendiri-sendiri.

Ya sudahlah, ayo kita lihat ya. Mohon koreksinya kalau ada yang salah, Kakak!

1. Attribution

Jenis license pertama ini adalah license yang paling longgar sepertinya. Dengan lisensi ini, kita memperbolehkan orang lain untuk mendistribusikan ulang, memodifikasi, dan membuat karya baru berdasarkan karya kita tersebut, dengan menyebutkan kita sebagai sumbernya. Bahkan untuk kepentingan komersial.


2. ShareAlike

Ini hampir sama dengan Attribution di atas. Bedanya kita mengizinkan orang lain untuk juga mendaftarkan karya barunya (yang dibuat berdasarkan karya kita) dengan license yang sama. Harus sama-sama ShareAlike, gitu maksudnya.

Seluruh karya turunan dari karya berlisensi ShareAlike ini bisa digunakan untuk kepentingan komersial.

Jenis lisensi kedua ini dipakai oleh Wikipedia, dan juga seluruh karya turunan yang diambil dari karya asli dari Wikipedia.


3. NoDerivs

Lisensi ini merupakan singkatan dari "No Derivative Works", artinya kita memperbolehkan karya kita disebarluaskan untuk kepentingan komersial dan nonkomersial, selama karya tersebut nggak diubah sama sekali. Plus pemberian kredit pada kita, sebagai penciptanya.


4. NonCommercial

Lisensi NonCommercial kita gunakan kalau kita ingin mengizinkan orang lain untuk mempergunakan dan memodifikasi karya kita untuk kepentingan nonkomersial.

Nah, perlu diperhatikan nih. Kepentingan nonkomersial ini batasannya sampai apa? Situs Hubspot menjelaskan, bahwa kita harus berhati-hati dengan lisensi ini.

Meski kita adalah seorang personal blogger, tapi kalau kita menggunakan karya berlisensi NonCommercial dalam proyek konten kita yang kemudian mendatangkan keuntungan berupa uang bagi kita, maka hal itu disebut sebagai komersial.

Jadi, sebaiknya sih, untuk blog yang dimonetasi jangan gunakan karya-karya digital berlisensi NonCommercial ini.


5. NonCommercial-ShareAlike

Nah, ini gabungan antara lisensi NonCommercial dan ShareAlike. Jadi kita memperbolehkan orang lain untuk menggunakan karya kita, selama untuk tujuan komersial, dan mematenkan karya baru (yang dibuat berdasarkan karya kita) tersebut dengan lisensi yang sama.


6. NonCommercial-NoDerivs

Sama nih, gabungan antara NonCommercial dan NoDerivs. Kita memperbolehkan orang untuk menyebarluaskan karya kita, selama untuk kepentingan nonkomersial. Tapi karya kita nggak boleh dimodifikasi.

Saat orang lain pengin mempergunakan karya kita--taruhlah di blog mereka gitu--maka mereka harus memberikan kredit pada kita, sebagai pemegang hak cipta, dan juga di mana ia menemukan karya kita tersebut.


7. CC0

CC0 merupakan lisensi yang memungkinkan bagi para pemegang hak cipta untuk melepaskan hak terhadap karya mereka dan memberikan karyanya sebagai public domain.

Bisa dibilang, lisensi ini berfungsi untuk memberikan nilai bebas dari hak cipta pada suatu karya, yang berarti orang-orang boleh mempergunakannya semau mereka--mau dimodifikasi, dibuat ulang, diubah bentuknya, diolah apa pun elemennya--dengan bebas.

Nah, tentang public domain sendiri, bisa dilihat dan dipelajari secara detail di Wikipedia.


So, itu dia artinya Creative Common ya, yaitu satu organisasi yang bisa melindungi karya digitalmu. Jadi, kalau mau pakai karya digital orang, jangan sembarangan comot lagi ya. Lihat dulu lisensi yang mungkin menyertainya.

Nah, kalau kamu mau melabeli karya-karya digitalmu dengan lisensi dari Creative Common, kamu bisa lihat detailnya di web CC ya.

Kalau diminta untuk menyebutkan sumber, pastinya jangan ditulis "Sumber: Google", karena bukan Google yang bikin karya digital tersebut. Juga Pinterest. Bukan Pinterest yang bikin karya digital tersebut. Ada orang lain yang bikin, dan orang inilah pemegang hak ciptanya. Google dan Pinterest hanya memberikan data yang kita minta.

Saya sendiri kadang ya masih kepleset dalam penggunaan karya digital orang lain. Maafkan, percayalah, saya sangat concern mengenai hal ini. Jadi, jika memang saya menemukan fakta bahwa saya melanggar hak cipta orang, maka saya akan berusaha memperbaiki kesalahan saya.

Yuk, jadi kreator karya digital yang pintar!


Saya suka geregetan kalau sudah soal pemanfaatan media sosial sebagai salah satu alat PR, alias public relation, dan juga marketing yang kurang dimaksimalkan.

Ya, mungkin karena tiap hari saya ngulik kek ginian sih ya. Hahaha. Bawaan penasaran mulu sama media sosial tuh--apa pun! Soalnya saya lihat crowd-nya memang potensial banget buat "disisipin iklan", hanya saja memang tricky lantaran kita mesti smooth masuknya. Biar ga genggeus. Rangorang nggak kerasa kalau disodorin iklan, gitu.

Hahaha. Rumit emang, pikiran orang marketing nih.

Sering lihat juga, beberapa teman mencoba bisnis, tapi masih belum bisa memanfaatkan media sosial ini dengan baik sebagai ujung tombak bisnisnya.

Apa indikasinya? Misalnya, Instagram. Feed Instagramnya cuma berisi foto jualan doang, yang enggak ada indah-indahnya sama sekali. 100% isi jualan doang, dan bukan foto-foto yang enak dipandang. Captionnya juga cuma spesifikasi barang dagangan, meliputi ukuran, warna, dan hal-hal teknis lain yang cukup menjemukan, dan nggak triggering orang untuk pengin beli. Yang beli ya yang butuh aja. Padahal kita butuh memengaruhi orang yang sebenarnya nggak butuh tapi terus mau beli. Bener nggak?

Tapi, Mak, "enak dipandang" itu kan selera banget. Mungkin si pemilik akun merasa itu sudah indah.

Hmmm, kalau ada yang berpendapat seperti itu, ya yahhh ... bisa jadi sih. Memang selera, tapi coba deh. Cobain trik berikut, siapa tahu bisa lebih mendongkrak penjualan.

Kan, enggak ada salahnya ada sedikit trik dicobain kan ya? Kalau memang oke, ya lanjut. Kalau enggak, ya udah nggak usah dipakai lagi. Cari yang lain yang lebih cocok. Karena treatment marketing itu memang sangat tergantung dengan sifat bisnis dan barang-barang yang dijualbelikan kok. Nggak ada yang harga mati. Kitanya aja yang mesti pinter menyesuaikan.

Tapi, yaqin deh, trik-trik berikut ini sudah saya terapkan dan terbukti bawa hasil. Mungkin bisa nggak dalam waktu cepat, tapi bisa ada efek yang cukup signifikan.



Cara Memanfaatkan Media Sosial dengan Lebih Efektif untuk Mempromosikan Bisnis



1. Kumpulkan Aset dan Keunggulan Produk

Ini harus dilakukan pertama kali.
Kenapa? Kan kita jualan produk, maka kita akan sangat tergantung pada keunggulannya. Coba cari (kalau memang sebelumnya nggak tahu keunggulan produk sendiri--meski rada aneh juga sih kalau jualan tapi nggak tahu keunggulan produk sendiri. Ehe~), kumpulkan dan catat, apa yang ingin ditonjolkan dari produk kita untuk diinformasikan pada (calon) pelanggan.

Bahannyakah? Proses pembuatannyakah? Detailnya yang unikkah? Atau service after selling yang oke?

Buatlah daftar selengkap mungkin. Daftar ini nanti akan menjadi amunisi saat kita bergerak untuk mendapatkan atau memrospek pelanggan.

Setelah daftarnya lengkap, sekarang buat daftar target customer dan audience. Ini nanti akan menentukan bagaimana ‘suara’ dalam setiap konten media sosial kita.

Kalau perlu petakan juga demografinya, mulai dari rentang umur, variasi pekerjaan, tinggal di mana (kota besar, kota kecil, rural). Kalau perlu, petakan juga income mereka.

Di sini, kita sudah menentukan persona calon customer dan audience. Dengan persona ini, kita nanti akan lebih mudah memasarkan produk.


2. Klaim Nama Bisnis di Semua Media Sosial

Nah, ini yang namanya awal nge-branding.
Kita mesti klaim semua nama bisnis kita di media-media sosial. Just name it, Twitter, Facebook, Facebook Page, Google+, LinkedIn, Instagram, Pinterest, Line@, Snapchat, Foursquare, dan seterusnya.

Mengapa mesti begini?
Ya, supaya nama bisnis kita itu benar-benar hanya menjadi punya kita sendiri. Lengkapi semua dengan foto profil yang memperlihatkan profil bisnis kita, misalnya logonya, atau foto apalah yang bisa mendefinisikan bisnis kita. Tapi hati-hati jika menampilkan foto produk sebagai foto profil ya, ada kemungkinan akan tampak kurang kuat saja image-nya. Akan lebih baik, kalau yang dipasang adalah logo bisnis.

Kalau kita sampai bisa mendapatkan semua media sosial atas nama bisnis kita yang sama, well, we’re lucky. Tapi, kalau ternyata sudah ada yang ambil, maka segera cari alternatifnya. Pastikan saja nggak terlalu jauh dengan nama bisnis aslinya.


3. Manage with Tools

Iya, saya tahu, bahwa kita semua cukup sibuk untuk mengurusi semua akun media sosial yang sudah ada ini.

Kabar baiknya, tak perlu semua dipakai kok. Ada beberapa yang asal sudah diklaim saja namanya, dan biarkan saja nonaktif. Lebih baik kita fokus pada 2-3 media sosial saja, dan boost sampai pol.

Misalnya, rencanakan untuk memanfaatkan Facebook dan Instagram lebih dulu.

Bagaimana dengan Twitter? Well, kalau untuk saya, Twitter itu rada susah untuk jualan produk riil ya :)) Soalnya isinya sobat misqueen semua. Hahahaha. Tapi kalau semisal kamu punya bisnis yang cocok disuarakan via Twitter, kamu bisa menambahkannya dalam daftar media sosial yang harus digarap. Semua memang harus disesuaikan dengan bisnis masing-masing.

Kalau saya sih, biasanya mengelola akun-akun media sosial ini dengan memanfaatkan fitur dan tools yang sudah ada.

Misalnya, saya manfaatkan IFTTT untuk membuat postingan otomatis dari Instagram langsung share ke Facebook Page dan Twitter. Jadi begitu post di Instagram, kita nggak perlu lagi Share to Other Apps. Habis posting di IG, ya udah tinggalin saja, ntar IFTTT yang akan posting langsung ke Facebook Page dan Twitter.

Soalnya saya sendiri kadang lupa atau nggak sempat, bok, buat sekadar mencet tombol Share to Other Apps juga X)) Habis posting di satu akun, langsung tinggal dulu untuk posting juga di akun lain. Terus nanti setelah 1 - 2 jam balik lagi untuk liat feedback. Udah, lupa mau share.
Dengan IFTTT ini saya cukup terbantu.


4. Posting untuk Promosi

Untuk skedul harian, jam berapanya enggak ada yang pasti karena semua tergantung audience masing-masing. Jadi, luangkan waktu untuk mengamati timeline media sosial kamu ya. Waktu ramainya kapan, yang paling sering ditanggapi konten apa, dan seterusnya.

Ada yang bilang, untuk Twitter jumlah konten ideal adalah 10 tweet sehari, Facebook 2 status per hari, Google+ satu kali sehari, Instagram dua kali sehari, dan kalau kita punya blog pribadi, setidaknya bahasan mengenai bisnis atau produk kamu harus muncul di blog setidaknya 2 kali sebulan.

Kalau bisnis kita punya blog sendiri, usahakan untuk selalu update minimal dua kali dalam satu minggu. Jangan lupa ditaut-tautkan ke laman-laman produk ya untuk keyword yang sudah ditentukan.



5. Konten, Konten, Konten!

Nah, sekarang mulai mencari konten yang cocok untuk disebarkan pada para calon customer / follower.

Perlu banget untuk diingat, mindset bahwa media sosial kita hanya boleh/bisa diisi oleh konten promosi dari bisnis online kita saja, itu adalah salah. Justru kita mesti juga menambah dengan konten-konten yang lain.

Ada aturan sharing konten di Facebook yang tersebar di antara para digital marketers, yaitu 70-20-10.

70% konten kamu harus merupakan konten yang bisa memberikan nilai tambah bagi audience kamu, misalnya tips, quotes, surveys, tapi pastikan harus benar-benar relevan ya. 20% konten kamu seharusnya merupakan konten dari source lain yang kira-kira bisa menarik audience. Nah, baru deh 10%-nya adalah konten promosional dari bisnis kamu, misalnya update saat ada barang baru, informasi kalau ada sale atau giveaway, dan seterusnya.

Kayaknya ini bagus juga untuk diterapkan di Instagram.

Jadi, pastikan kita punya konten dulu sebelum mulai berburu followers ya. Mulailah sharing sebelum kita punya followers. Biarin aja nggak ada yang nonton sekarang, tapi kita harus memberi calon follower alasan untuk mau follow atau like.


Nah, itu dia 5 trik awal memanfaatkan media sosial untuk bisnis. Untuk selanjutnya, kita juga harus mulai networking dengan pebisnis lainnya, juga rajin untuk upgrade dan update skill dan pengetahuan setiap waktu.

Karena pertumbuhan teknologi memang sangat pesat. Meleng sedikit saja, maka pasti kita akan ketinggalan banyak. Nyesel kemudian deh.
Semoga sukses ya!