Kemarin ngobrol sama Mbak Indah, sama Mbak Lusi, soal topik blog. Konon kata beliau-beliau yang tak pernah bosen kasih masukan ke saya itu, saya kurang bahas hal-hal yang level beginner di blog ini. Kebanyakan level advanced-nya.

Mari ketawa dulu. :)))

Bukannya sombong, ga perlu humblebrag. Tapi blog ini adalah catatan belajar saya. Jadi kalau ada postingan baru, sudah pasti bisa dibilang, bahwa itu adalah hal yang baru saja saya pahami, baru saja saya temukan, baru saja saya jumpai dalam keseharian kerjaan saya. Hahahaha. Jadi, ya begitulah.

Tapi, karena saya ini adik mereka yang baik, maka ya saya selalu mau dengarkanlah itu saran-saran mereka. Jadi, saya mau tanya, teman-teman yang datang ke blog saya yang sederhana ini dan ikutan baca, kira-kira bahasan apa yang pengin dibaca di sini?

Ya, pastinya yang seputar ngeblog ya, dan, mind you, saya nggak terlalu bahas teknis sih. Tapi kayaknya kalau tutorial teknis mah, banyak yah di google. Hahaha.

Ya tapi, kasih ide saya aja deh, mau bahas apa yah :D

Sementara itu, kemarin dalam postingan soal Google Analytics, Mak Lianny nanya soal pihak ketiga yang mau ikut ngeliat halaman Google Analytics kita.
Emang bisa?

Bisa. Dan, biasanya ini dipandang lebih praktis buat mereka yang mau mantau langsung. Biasanya lagi, ini akan dilakukan jika ada post berbayar di blog kamu. Ketimbang mereka bolak balik nanya update traffic, mendingan kasih aja mereka "kunci" buat masuk sendiri.

Kuncinya ya bukan password pastinya. Tapi mereka ditambahkan ke halaman admin Google Analytics. Ya, kurang lebih kayak nambahin admin ke Facebook Fanpage atau ke grup WA gitu deh. Tapi bisa dibikin nggak full role-nya. Cukup bisa membaca dan menganalisis saja.

Caranya gimana?

Cara share akun Google Analytics dengan pihak ketiga



1. Sign in ke Google Analytics kamu
2. Klik ke blog yang akan kamu bagi analytics-nya.





3. Lalu ke bagian Admin
4. Di bagian All Web Site Data, ada User Management. Klik






5. Maka kamu akan masuk ke bagian di mana kamu bisa menambahkan email pihak ketiga ke akun Google Analytics kamu. Pastikan emailnya gmail ya.
6. Di samping kotak email, ada pilihan role buat akses baru. Pilihlah yang Read & Analyze.
7. Tick bagian "Notify this user by email" supaya pihak ketiga yang kamu tambahkan itu tahu bahwa mereka sudah bisa mengakses Google Analytics kamu.
8. Lalu klik 'Add', dan selesai

Gampang kan?
Gampang!

Hehehehe.
So, sudah ada ide mau pada ditulisin apa?
Sok, ditulis di kolom komen yah. Semoga bisa saya penuhi satu per satu :)


Well, menulis untuk dimuat di blog sendiri itu gampang. Apalagi kalau kamu sudah punya mindset, "Blog blog gue sendiri, nggak peduli orang mau baca apa enggak." Nah, ya, berarti harga mati. Nggak ada yang salah sebenarnya dengan jargon itu. Tapi ya gitu, mau  teori nulis apa pun ya rontok semua deh kalau sudah kena jargon begitu mah. Hihihi. You can be as selfish as possible-lah di blog yeuh.

However, kalau kemudian kamu mulai pengin menulis untuk konsumsi orang lain, kayak misal kamu terus pengin menulis untuk dimuat di media lain baik itu online maupun offline, perkaranya jadi beda. Karena mau nggak mau, kemudian kamu harus memikirkan pembaca. Ya, nggak mungkinlah kamu bisa seegois kalau di blog. Meski mungkin tetap saja kamu membawa rasa personal di dalam tulisanmu itu, tapi tetep kan, nggak bisa sepersonal di blog.

Dan bikin tulisan atau artikel non fiksi yang enak dibaca orang lain, memang ada trik tersendiri. Karena, coba lihat, ada berapa juta tulisan dihasilkan oleh media online setiap harinya? Makanya tulisan kita harus sekreatif mungkin supaya menarik pembaca.

Lalu gimana caranya bisa menghasilkan tulisan kreatif agar bisa dimuat di media online? Iya, kita akan ngomong di ranah media online aja deh ya. Eikeh ngertinya di situ aja, bo'. Kalau yang media offline, ya kali kurang lebih sama juga sih.

Sebelumnya simak dulu apa "kata orang" mengenai creative writing ini.

Creative writing is writing that expresses the writer's thoughts and feelings in an imaginative, often uniqe, and poetic way. ~ sil.org

The primary goal of the creative nonfiction writer is to communicate information, just like a reporter, but to shape it in a way that reads like fiction. ~ Wikipedia

Nah, there you go.

Mungkin tadinya kita mengira, creative writing itu hanya bisa diterapkan untuk tulisan-tulisan fiksi. You know, proses kreatif sering dikaitkannya kan dengan daya imajinasi. Padahal ... hmmm ... tahu nggak sih, bahwa menulis nonfiksi seperti artikel-artikel di media online itu pun kita juga memerlukan daya imajinasi yang kuat. Memang sih, kalau menulis artikel nonfiksi seperti itu kita akan membutuhkan banyak data dan fakta. Tapi kalau cuma datar, lempeng, tanpa ada campur tangan proses kreativitas di dalamnya, saya sendiri kok nggak yakin bisa menarik.

So, apa saja yang harus kamu perhatiin untuk bisa menulis artikel nonfiksi untuk media online, yang sekarang makin bertumbuh dan berkembang? Yah, supaya kamu nggak cuma nyaman di blog sendiri saja, because ... tahu nggak sih apa yang bisa membatasi diri kita sebenarnya? Yes, comfort zone.

Tips Menulis di Media Online

 

 

1. Perfect title 


Justru judul adalah hal penting pertama yang harus kita perhatikan (meski judul bisa kita bikin belakangan, itu masalah metode untuk menemukan judul yang pas saja). Ibarat manusia, judul itu wajah kita, sedangkan isi adalah personality.

Judul harus representative, interesting, langsung memperlihatkan masalah dan solusi apa yang dijanjikan pada pembaca setelah mereka selesai membaca artikel kita.

Untuk membuat judul yang menarik dan provocative, saya punya formula seperti ini.


Trigger word misalnya "langkah", "panduan", "tips", "cerita", atau bisa juga diisi dengan angka. Adjective adalah kata sifat (yang juga harus provocative dan harus memberikan efek positif) misalnya "cepat", "mudah", "sukses", "ngehits", "gaul" dan sebagainya. Keyword adalah kata kunci dalam artikel kamu, atau inti topiknya. Misalnya "mendapatkan jodoh", "menikah muda", "parenting" dan seterusnya. Promise adalah janji yang kamu tawarkan pada pembaca setelah mereka selesai membaca artikel kamu.

Nah, kemudian masalah susunan saja sih. Kalau mau lebih SEO friendly, keyword taruh di depan. Sesekali ubah menjadi kalimat tanya, atau kalimat ajakan. Atau bisa juga berupa peringatan.


2. Opening that 'bang!'


Hal kedua yang "menentukan" nasib tulisanmu, apakah akan terus dibaca atau ditinggalkan, adalah opening. Bahkan first line-nya.

Raditya Dika di suatu workshop pernah bilang, sebagai seorang penulis kreatif kita harus tahu trik menciptakan visualisasi di benak pembaca, dan bikin kalimat awal yang menarik.

Gimana cara bikin kalimat pembuka yang nge-hook pembaca ini?
Ehiya. Saya pernah tulis di blog ini juga. Tentang menulis 100 kata pertama. Silakan dibaca kembali. Hahaha ... ga usah ijk tulis ulang yeuh.

3. 5W 1H


Teori 5W 1H, yaitu who, what, where, when, why, and how merupakan teori menulis jurnalistik yang sudah menjadi pakem menulis para jurnalis. Kalau dilihat-lihat ya rada basi sih ini tipsnya. Tapi justru malah harus selalu diingatkan, karena kita sering lupa.

Teori 5W 1H bisa membantu kita membuat tulisan yang nggak kentang, yang ketemu ujung pangkalnya, ada hubungan sebab akibat, lebih runtut, nggak ada info yang ketinggalan, dan menghindarkan artikel kita jadi kentang. Kenceng tanggung. Bikin pembaca kesel.


4. Berefek visual


Ilustrasi, foto, layout, elemen desain dan tipografi, adalah beberapa hal yang bisa bikin tulisan kita berbicara lebih banyak, lebih informatif lagi dan terlihat lebih exciting.

Untuk menambahkan image-image, ada banyak website penyedia free images. Saya pernah mengumpulkannya di blog ini juga. Silakan diintip.

Untuk infografis, barangkali kamu bisa mencari ide di Infographic Archive, sebuah website yang isinya infografis doang. Coba teliti dan amati, informasi apa saja yang harus ada dalam sebuah infografis. Meski sekarang sudah zaman vlog, tapi infografis tetap menjadi salah satu penarik visual yang utama. Karena cenderung lebih ringan ketimbang video.

Yang terakhir, yang bisa kamu masukkan untuk menambah efek visual adalah gambar bergerak video atau animasi .gif dan yang lainnya.
Meski secara SEO, image animasi .gif nggak begitu disarankan karena terlalu berat, tapi animasi .gif memberikan daya efek emosi yang cukup nampol, kalau pendapat saya sih. Jadi bolehlah sesekali dipakai. Asal jangan kebanyakan.


5. Write for your reader!


Seperti yang saya sebutkan di atas, you can't simply forget your readers kalau kamu mau menulis di media online.

Cari tahu persona pembaca media online yang kamu targetin. Biasanya sih terlihat dari gaya bahasanya. Apa yang harus kamu perhatikan?

  • Jenis kelamin target pembaca media online tersebut, cewek atau cowok, atau universal
  • Demografi umur. Biasanya tersegmennya: teen 15 - 18 tahun, 18 - 23 tahun, 24 - 35 tahun, above 35.
  • Lalu perhatikan kategorisasi yang ada dalam media online tersebut. Hal ini akan membuatmu bisa mengira-ira, mau nulis topik apa, dan media online tersebut paling concern soal apa.
Next, kalau kamu sudah mendapatkan bayangan pembaca media online tersebut, then you have to think like them, talk the way they do, sebutkan hal-hal yang ngehits di kalangan mereka (termasuk semua istilah kekiniannya), lalu link your writing to who they think is cool (istilahnya, melibatkan influencer gitu deh).

Misalnya nih, lagi ngehits soal drama Korea. Coba sebutkan salah satu nama aktor drakor dalam artikel yang kemudian dihubungkan dengan topiknya. Atau lagi pada ribut soal Brad Pitt dan Angelina Jolie, ya sebutkan nama mereka di awal tulisan as opening. Nama orang terkenal akan menarik perhatian.


6. Personal thoughts


Meski menulis di  media online, namun nggak berarti kamu sama sekali nggak boleh meneteskan (?) sedikit cita rasa personalmu di dalam artikelnya. Kalau saya sebagai pembaca, dan juga kadang berperan sebagai editor, malah suka kalau ada cita rasa personal dalam sebuah artikel di media online.

Mengapa?
Soalnya dengan begitu, saya bisa dibuat percaya akan apa yang ditulis. Saya percaya tulisannya useful karena mungkin sudah dicoba sendiri oleh penulisnya (kalau artikelnya berbentuk tips). Saya percaya, tulisannya faktual dan benar-benar terjadi karena dialami sendiri oleh penulisnya. Saya percaya, tulisan tersebut nggak omdo alias omong doang, yang mungkin saja dia membuatnya dengan kopas sana kopas sini dari internet. (meski sebenernya ya memang kopas sana sini kemudian diparafrase sih, tapi kalau ada rasa personal, pasti hasilnya juga lebih baik).

So, olah berbagai data yang sudah kamu dapatkan dengan pengalaman atau opini pribadi sebagai penulis. Use witty thoughts yang jujur dan berdasar. Hal tersebut akan menjadi ciri khas yang membedakan tulisan kita dengan barangkali jutaan tulisan lain.


7.  Keep learning


Kalau tulisan kamu sudah berhasil diterbitkan, next thing yang harus kamu lakukan adalah mempelajari kembali tulisan kamu, dan mengenali kekurangannya di mana. Catat kekuranganmu, untuk diperbaiki pada kesempatan menulis berikutnya.

Syukur-syukur kalau media online tempat kamu menulis ada editornya yang bisa bantu memperbaiki tulisan, sehingga kamu bisa membandingkan tulisan yang sudah lolos editing dengan tulisan awal kamu. Kamu bisa tahu letak kekuranganmu di mana. Apa yang diubah oleh editor, itu pasti adalah hal yang menjadi kelemahan kamu. Catat, dan cari tahu bagaimana mengatasinya.

Di situ kamu sudah belajar menulis secara otodidak.

Pelajari beberapa teknik menulis yang baik, misalnya bagaimana bikin outline yang baik sehingga menghasilkan tulisan yang runtut dan lengkap informasinya, menentukan sudut pandang, menentukan "gaya bicara", dan lain sebagainya.



Nah, as a bonus, berikut ada infografis tentang menulis konten yang menarik dari Infographic Archive.
Sok, dicermati yah.


Tips Menulis Artikel yang menarik di media online ala Andrew M. Warner



Dan, yang terpenting dari semuanya adalah keep writing! Jangan berhenti menulis. Terus menulis, setiap hari, setiap waktu! Practice makes perfect.
Makin banyak menulis, kamu akan makin peka menangkap momen yang bisa menjadi ide topik tulisan.
Makin banyak menulis, kamu nggak kerasa sudah memperbaiki tulisan kamu.
Perluas "daerah jajahan" menulismu ke beberapa media online, untuk menguji kemampuan. Jangan puas berada dalam comfort zone kamu sendiri.

Selamat menulis!


Sebenarnya sudah akan menulis tentang basic Google Analytics ini sejak lama. Apa daya, minggu ini emosi naik turun luar biasa. Havft. Jadilah baru sekarang ketulis.

Sooo ... Jadi begini, bapak ibu rekan blogger sekalian. *tarik napas*

Saya sering mendapat pertanyaan, gimana cara membuat laporan Google Analytics? Gimana cara masang Google Analytics? Gimana cara baca Google Analytics? ... dan yang terbaru kemarin, "Kok Google Analytics gue datar terus di bawah ya?" *lirik yang bersangkutan, semoga hari ini sudah ada pageview masuk. Nggak usah kaget ya, kalau PV-nya tinggi. Karena blog njenengan emang tinggi traffic-nya. Bahahahaha.* *dikeplak*

Saya pikir, seharusnya hal-hal begini dengan gampang sudah bisa ditemukan di seantero jagad dunia maya. Tapi kok ya, so far, ketemunya paling cuma postingan 200 kata, terus disuruh lanjut ke postingan lain. Hampir semua kae gitu. Hahaha. Entahlah. Lagipula pada teknis amat yak. Hal-hal yang paling mendasarnya malah nggak ada yang bahas.

Ya sudahlah. Ketimbang kebanyakan intro, mending langsung saja deh.
Kalau kamu mulai ngeblog, seharusnya sih kamu mulai kenalan dengan Google Analytics juga. Saya akan menjelaskannya secara 5W 1H (meski nggak terlalu urut) ya, biar jelas ujung pangkalnya.

Cara Mengerti, Melihat, dan Memanfaatkan Google Analytics untuk Blog

Apa itu Google Analytics?


Google Analytics adalah ... apa ya? Ah, nyontek Wikipedia aja deh. *dikeplak lagi sama pembaca* Lha, kan daripada saya mumet mikirin kata-katanya. Wakakakak. Untuk menghemat waktu aja nih. (Padahal Wikipedia juga nggak lengkap)

Google Analytics adalah layanan gratis dari Google yang menampilkan statistik pengunjung sebuah situs web. ~ Wikipedia

Nah, ya begitulah sederhananya. Sebagai blogger, apalagi professional-wanna-be, ya kamu harus tahu statistik pengunjung. Karena statistik pengunjung itu bisa memberimu gambaran, apakah blog kamu disukai? Apakah blog kamu banyak dicari? Apakah blog kamu memuat informasi yang diperlukan? Topik apa saja yang bisa kamu bahas? Ya, memang banyak sekali data blog yang bisa kita amati dan kumpulkan dari Google Analytics, yang kemudian bisa kita olah untuk meningkatkan kualitas artikel kita.

Siapa saja sih yang bisa memanfaatkan data Google Analytics ini?


Ya, pasti kita sendirilah, si blogger pemilik blog yang bersangkutan, yang bisa memanfaatkan Google Analytics. Seperti yang sudah ditulis di atas deh, kita bisa memanfaatkan data-data Google Analytics, untuk melihat pengunjung blog kita banyak baca di artikel apa, kapan, mengakses melalui apa dan seterusnya. Catat angka-angka tertinggi, karena berarti di situlah letak interest pembaca blog kita. Selanjutnya kamu bisa menambah artikel seputar topik yang punya angka tertinggi tersebut.

Pihak lain yang bisa memanfaatkan data Google Analytics adalah klien kita yang sudah bekerja sama dengan kita untuk satu artikel berbayar. Biasanya mereka memang akan meminta data Google Analytics. Ada kalanya, klien akan minta diperbolehkan untuk akses laman Google Analytics kamu, demi memudahkan monitoring mereka.
Dibolehin enggak?
Ya, terserah masing-masing blogger sih. Kalau saya, mendingan enggak. Lebih baik saya kasih saja laporannya, sembari saya belajar buat baca statistik kan? Lagian bikin laporan gampang kok. Mau harian? Ya ayo aja :))

Mengapa Google Analytics itu Perlu?


Iya, kenapa harus Google Analytics sih? Kan tiap platform blog sudah dilengkapi dengan statistik masing-masing. Wordpress ada, blogspot pun ada. Kan bisa pakai statistik bawaan itu saja. Nggak repot, nggak usah nginstall, ... bahkan kalau yang di blogspot dan sudah pasang Google Analytics pun akhirnya juga menyadari, bahwa statistik bawaan blog itu pageview-nya lebih tinggi ketimbang pageview yang ditunjukkan oleh Google Analytics.

Jadi, kalau buat bragging dan bluffing, lebih cocok pakai statistik bawaan blog kan ya? Huahahaha.

Iyalah, orang berbagai spam bots sama kunjungan diri sendiri juga ikut dihitung di statistik bawaan blog itu. Jadi, kalau kita mengunjungi blog kita sendiri 1.000x sehari, ya diitunglah itu 1.000 pageview. Begitu juga spam bots. Ada berapa banyak spam bots di dunia maya. Entahlah. Nggak ada yang berani memastikan. Yang pasti, BANYAK BINGGO!
Wordpress sih masih nggak akan menghitung kunjungan pemilik blog, tapi blogspot ngitung. Jadi kalau mau lihat statistik real-nya, saran nih ya, jangan lihat dari statistik bawaan blog.

Lihatlah di Google Analytics.

Bedanya emang jauh?
Bisa sangat jauh sekali. Kadang kita udah seneng aja tuh liat statistik satu postingan di blog sudah sampai 1.000 view. Eh, setelah dicek ke Google Analytics, cuma 130 PV. Ya, gaes, itu bisa terjadi, Gaes. Apalagi kalau yang mengunjungi blog adalah kamu sendiri sebanyak  870 kali.

Itulah juga kenapa para ahensi yang lagi ada kerja sama dengan kita, selalu minta laporan Google Analytics alih-alih statistik bawaan blog.

Lagipula, laporan Google Analytics lebih mudah digrab dan didownload ketimbang statistik bawaan blog. Pasti lebih enak buat para ahensi untuk collect-nya yah. Memudahkan klien itu kan bagus kan ya? Iya.

Di mana bisa mendapatkan Google Analytics ini?


Nggak jauh-jauh, cukup sign in ke sini nih. Kamu akan segera mendapatkan akun Google Analytics kamu sendiri.

Interface homepage web Google Analytics
Nah, buat kamu yang baru mau sign up di Google Analytics, cara sign up-nya ada banyak tutorialnya di mana-mana. Saya nggak akan bahas lagi, soalnya ntar kelamaan :)) Atau beli buku saya saja, Blogging: Have Fun and Get the Money yak!
(Yailah, malah promosi di tengah-tengah artikel pun. Najong abis!)
*ya, namanya juga usaha, cyin!*

Nggak, soalnya di sana sudah lengkap ya, dibahas cara sign up Google Analytics. Dan sudah ada pula cara membaca dan cara bikin laporan. Yang sekarang saya tulis adalah yang belum tercakup di sana saja, dan yah, bolehlah ulang beberapa hal nanti yang sekiranya perlu.

Mari balik lagi ke Google Analytics.
Sampai mana tadi?

Nah, kalau kamu sudah sign up sih, seharusnya yang selanjutnya harus kamu lakukan adalah memasang tracking code Google Analytics di blog kamu.

Google Analytics - Langsung aja menuju panel Admin, lalu cari Tracking Info, buka Tracking Code.

Nah, ada beberapa metode menginstallnya.

Google Analytics - 2 cara menginstall Google Analytics: 1. melalui Tracking ID; 2. melalui Website Tracking. Kalau sudah salah satu dipakai, yang lain nggak perlu.
Nah, kalau dengan menggunakan Tracking ID ini jauh lebih mudah buat kita-kita yang males urusan sama script HTML.
Buat yang blognya blogspot, gampang banget. Cari di bagian Setting > Other, scroll ke bawah, nanti kamu akan menemukan bagian Google Analytics. Tinggal kopasin saja Tracking ID pada tempatnya.

Google Analytics - Tracking ID-nya dikopasin di situ ya!
Nah, kalau di Wordpress yang gratisan, saya dengar-dengar sih sudah bisa juga install Google Analytics ya. Mas Febriyan Lukito udah pernah selintas bahas di Facebook deh kayaknya. Moga-moga dese ada waktu buat nulis tutorialnya ya :P Soalnya saya sudah lama nggak buka Wordpress lagi.

Untuk yang menggunakan wordpress self-hosted, bisa dengan mengopas Website Tracking ke Editor template-nya. Caranya, setelah kopas Website Tracking Google Analytics, lalu cari tag <Head>, dan paste tepat di bawahnya.
Kalau nggak, add plugins baru yang memungkinkan kamu memasang Tracking ID-nya langsung.

Biasanya sih nggak langsung terekam ya pageview-nya. Tunggu 24 jam, kadang kurang sih.

Update: Ada informasi dari Mas Febriyan Lukito, bahwa nunggunya 2 x 24 jam, karena report akan ada di H-2. Demikian.

Kapan kita harus mengakses Google Analytics ini?


Ya, kapan pun diperlukan. Kalau saya sih, terutama kalau ada yang minta, sudah pasti saya harus ngecek.
Atau kalau saya lagi kepo dengan satu topik tertentu, nggak puas dengan statistik bawaan blog, ya saya lalu ngecek. Suka-suka kita saja, di mana perlu.

Bagaimana cara membaca data Google Analytics?


Yah, kalau satu per satu dijelasin, bakalan panjang nggak abis-abis. So, saya mau kasih lihat aja beberapa hal yang mendasar saja ya. Yang lain, silakan dieksplor sendiri.

Yang pertama, di halaman Home-nya, kamu akan melihat tampilan begini, kalau Google Analytics kamu sudah terpasang dengan benar.

Google Analytics - pada halaman Home
Secara default, kita akan melihat Sessions, Avg. Session Duration, Bounce Rate, dan Goal Convertion Rate. Yang biasanya saya perhatikan adalah Bounce Rate.

Bounce Rate merupakan angka persentase yang didapat dari lamanya waktu berkunjung orang di blog kita dan kemudian pergi. Persentasenya kalau makin tinggi berarti makin jelek performa blog kita. Di atas 50% itu jelek.

Nah, klik untuk masuk ke Audience Overview.
Ng, saya pakai Audience Overview punya orang aja yah :))

Google Analytics - Begini kira-kira tampilan dalam Audience Overview
 Lengkap kan, datanya? Coba diklik-klik saja noh, yang bisa diklik ya.
Btw, saya baru saja enabling reports untuk Demographics and Interest Reports. Hahaha. Telat. Biarin deh. Saya penasaran aja sih. Dugaan saya ya, demografi pasti nggak jauh-jauh dari emak-emaklah.

So far, jujur, saya sendiri baru ngoprek Google Analytics kalau disuruh laporan sama klien. Dan itu saya lakukan dengan langsung menuju ke bagian Behavior > Site Content > All Pages, lalu saya search artikel yang saya cari.
Begitu ketemu artikelnya, saya klik, lalu langsung export to PDF aja, and save.

Google Analytics - Untuk membuat laporan, sudah ada tersedia menu di bagian atas > Export

Nah, nanti yang dikirimkan ke klien ya yang PDF itu.

Gampang kan? Lebih detail lagi, kamu bisa baca di buku Blogging: Have Fun and Get the Money-lah ya. Wkwkwkwk.

Terus ...
Apa lagi ya?

Nggak rumit kan?
Jangan takut duluan sama statistik yeuh. Hihihi.

Itu aja sih kayaknya, yang mendasar banget. Dan yang biasanya dibutuhin.
Etapi kalau ada salah informasi di penjabaran di atas, atau ada yang missed, please feel free untuk mengoreksi yah. Saya juga lagi belajar menggauli Google Analytics ini kok. So, it will be awesome mendapat pelajaran baru dari kamu.

Sudah ah.
Mau tidur.
Bhay!


Disclaimer: tulisan ini pernah muncul di web Kumpulan Emak Blogger, dengan beberapa editing dan update.

Hai! Ada yang belum medsos-an?

Media sosial sekarang sudah jadi hal yang nggak terpisahkan dari hidup. Coba deh kita lihat di sekeliling kita. Coba hitung, berapa orang yang asyik sendiri sama smartphone yang lagi menampakkan laman Facebook, atau Twitter, atau Path, atau Instagram. Coba juga lihat diri kita sendiri, berapa banyak kita punya akun medsos? Facebook, Twitter, Instagram, Path, Pinterest, Line, Snapchat, Bigo, ... wah. Makin banyak aja ya medsos yang bermunculan.

Suka atau enggak, media sosial telah mengubah cara kita berinteraksi dengan orang-orang. Di mana pun. Bahkan di rumah, yang seharusnya menjadi tempat orang-orang berbagi kehangatan.
Dan, saking bebasnya dipergunakan (apalagi atas nama kebebasan berekspresi dan beropini), tak banyak pula yang berpikir panjang mengenai efek yang bisa ditimbulkan dari sebuah status ataupun tweet.

Hei, ini akun kan akun gue. Bukan akun lo. Suka-suka gue dong, mau posting apa, mau nyetatus apa.

Hmmmm ...  Iyakah, apakah hanya diri sendiri saja yang boleh nyetatus dan bebas berpendapat? *elus jenggot* Terus, nanti kalau ada masalah, baru deh nyesel.

“Why meeeeee?” *drama*

Nyadar nggak sih? Tulisan yang disebarkan atas nama kebebasan berekspresi dan beropini ini kadang *atau malah sering banget?* disalahgunakan, disalahpahami, dan lalu menyakiti orang lain?

Ada beberapa pertanyaan penting yang barangkali bisa kita tanyakan pada diri sendiri, sebelum kita pencet tombol “Post”, “Publish”, “Tweet” or whatever di media sosial, untuk menghindari masalah yang bisa terjadi kemudian.

Pertanyaan agar Kita Lebih Bijaksana Menggunakan Media Sosial

1. Apakah kita bisa mengatakan hal yang sama di hadapan orang di dunia nyata?

Maksudnya begini, Orang sebenarnya dianugerahi dengan perasaan rikuh, nggak enak, dan nggak tega itu sebenarnya for good reasons. Percaya apa enggak? Perasaan-perasaan tersebut muncul seakan sebagai filter terhadap apa yang akan kita lakukan atau katakan pada orang lain.

Mengapa ini tak kita berlakukan juga dalam bermedia sosial?

Kalau ternyata yang kita post di media sosial itu nggak mungkin kita katakan langsung pada orang di dunia nyata, berarti sebenarnya kita sudah tahu, bahwa itu nggak pantas dikatakan. Jadi ya jangan post juga di media sosial.

Just don’t write anything that you wouldn’t say it to people’s face!

Ada kalanya, kita menulis status menyindir orang lain, karena kita merasa nggak “berani” menyampaikannya pada mereka. Nggak berani ngomong langsung, tapi malah nulis status yang bisa dibaca oleh banyak orang lain?

Hmmm, ada yang missed nggak sih di situ?

Orang lebih mudah menulis komentar atau nyetatus ketimbang mengatakannya secara langsung. Orang jauh lebih berani saat mereka online, dan mereka sering berkomentar dengan emosional tanpa berpikir mengenai rasa sakit mungkin akan timbul pada diri orang lain.

So, sebelum posting, ada baiknya kita pikirkan lebih dulu, apakah kita bisa mengatakan sesuatu itu di depan orang? Apakah hal tersebut hal yang baik? Apakah konstruktif? Apakah akan menyakiti orang lain?


Baca juga: Inilah 5 Tipe Toxic People yang dengan Senang Hati Saya Hindari di Media Sosial 

2. Apakah saya rela dan mau, postingan saya atau konten saya atau status saya atau tweet saya itu berada di dunia maya selamanya?

Artinya begini. Meski dunianya disebut dunia maya, tapi jejak-jejaknya nyata.

Begitu kita posting sesuatu, maka selamanya sesuatu itu menjadi bagian dari internet. Dan internet, itu bukanlah dunia yang sepi. Internet itu adalah dunia yang nyata, meski kita tak bisa melihat orang-orang yang hidup di dalamnya secara langsung.

Foto-foto kita di Facebook? Bisakah dihitung berapa banyak orang yang sudah melihatnya?

500 orang, karena saya punya 500 teman di Facebook friendlist saya. 

Oh ya? Barangkali salah satu dari mereka mengakses Facebook melalui warnet. Dan sadarkah kita, bahwa setiap laman yang sudah diakses itu selalu menyimpan cookies dan cache dalam laptop dan juga IP address-nya? Gimana kalau ada orang yang mempergunakan cookie itu untuk masuk ke dalam Facebook teman kita, dan mengakses Facebook kita?

Itu bukan nakut-nakutin lho. Hanya menawarkan sesuatu yang barangkali nggak pernah kita pikirkan, tapi ternyata berakibat buruk. Do you really think about it?

Jadi, sekarang coba hitung lagi berapa banyak yang lihat foto kita? Foto anak-anak kita? Siapa yang bisa jamin, kalau data diri kita itu nggak dipergunakan dengan tidak bertanggung jawab, kalau kita sendiri juga nggak bertanggung jawab dalam menggunakannya?

Jejak digital itu nyata!


Baca juga: Apa yang Harus Kamu Lakukan Jika Konten Kamu Dicuri Oleh Orang Lain 


3. Relakah saya, jika apa yang saya punya itu menjadi milik publik?

Aish. Pertanyaan sok selebritis pun. Hahaha. Bukannya gitu sih. But, this is the real point.
Konten yang kita unggah dengan settingan public maka ya akan menjadi milik publik, bisa dipergunakan oleh siapa saja.

Mau nggak boleh? Gimana caranya nggak bolehin? Ditulisin di captionnya?

“Foto ini nggak boleh di-save atau diunduh ya! Property pribadi!” 

Terus? Jamin gitu, orang yang “jahat” mau baca caption-nya? Ikutan kuis aja pada suka males baca peraturannya kok #eh *ini curcol* *abaikan*

Foto di-watermark? Watermark gampang diilangin, cuma butuh 5 menit buat hapus watermark yang diletakkan di tengah dan dalam ukuran yang besar. Postingan udah diprotect, nggak bisa disorot dan diklik kanan, tapi tetep bisa kok di-screenshoot. Orang kalau udah punya maksud nggak baik, entah kenapa, jadinya lebih kreatif dari kita loh :D *curcol lagi*

Jadi, sebelum pencet tombol “Post”, “Publish”, “Tweet” atau whatever, tanyakan pada diri sendiri dulu. Ini akan jadi milik publik, relakah aku? *tsah* Hihihi.

Jadi inget. Beberapa waktu yang lalu, Mbak Okke Sepatumerah sempat menulis di blognya, mengenai para artis delusional. Soal kalau zaman dulu yang suka cerita keseharian itu adalah artis-artis, sekarang mah mendadak banyak artis media sosial. Bahkan jadinya lebih terkenal ketimbang para artis yang nongol di tivi ya. Sebut saja siapa ya, Awkarin, misalnya? :P

Well, saya juga nih. Gegayaan beneur. Sok-sokan membagi cerita kehidupan pribadi, tapi habis itu mencak-mencak waktu fotonya nangkring di “rumah” orang. Dulu yang gitu kan artis ya, yang posternya suka kita tempel di dinding kamar. #eaaaa #anak90an


Ya gitu deh. Ribet emang kalau sudah ngomongin soal gawul di media sosial. Belum lagi ini itu yang suka bikin kita jadi baperan, jadi insecure. #eaaaa Tapi tenang, nggak usah semuanya dianggap terlalu serius. Nyantai aja, nikmati kayak kita menikmati hidup *tsah*

Selamat bermedia sosial dengan bijak ya! *dadah-dadah*



Saya pernah ditanya, "Mak, bikin sticky post di blogspot gimana toh?"

Apa sih sticky post?
Itu lho, semacam pinned post di Twitter, yang bikin artikel tertentu nangkring terus di bagian atas blog kita.

Kalau di Wordpress sih udah ada optionnya ya, gampang. Tinggal tick aja.

Nah, kalau di blogspot pegimana yak? Nggak ada optionnya pan?


Bisa!
Caranya dengan ngakalin tanggal post-nya.

Begini.

Cara Membuat Sticky Post di Blogspot


1. Buka postingan yang akan dibikin jadi sticky post



2. Lihat di bagian sidebar ada Published On. 



Ini sebaiknya postingannya sudah dipublish dulu ya. Setelah dipublish, baru bisa diedit tanggalnya. Karena kalau belum dipublish tapi sudah diatur tanggalnya, nanti jadinya scheduled post, bukan sticky post.
Jadi publish post dulu, baru diedit tanggalnya.


3. Set tanggalnya




Mau sampai kapan post itu mau di atas, maka setlah di tanggal yang dimaksud. Maksudnya gini, saya mau bikin postingan ini ada di atas, misalnya, sampai tanggal 5 Oktober. Maka, disetlah seakan-akan dipublish tanggal 5 Oktober. Boleh set juga jamnya.

Kalau tanggal sudah set, klik tombol Done. Trus Update



4. Sticky post sudah jadi



Dia udah jadi sticky post yang bakalan ada di atas sampe tanggal 5 Oktober. Bisa dilihat di tanggal postingannya.


Jadi Sticky Post ini biasanya diperlukan kalo lagi ada review berbayar, ada giveaway atau ada informasi penting apa pun yang ingin dibagikan pada pengunjung blog. Pengunjung blog yang datang ke homepage, akan melihat sticky post ini pertama kali. Semacam headline, gitu deh.

Kalau ada cara lain, silakan dishare di komen ya :)

Semoga bermanfaat.
Olahlah ide sampai matang!


Kemarin sempat ngobrol bareng Mbak Indah Juli dan juga Mbak Lusi Tris, tentang keidean. Pun akhirnya distatusin oleh Mbak Indah :D


Apa itu keidean?
Jadi gini lho.
Sebagai seorang penulis (eikeh nggak nyebut blogger saja ya, karena ini adalah hal yang sangat wajar terjadi pada para penulis, dan pada pekerja kreatif lain juga sebenarnya), adalah wajar ketika kita melihat atau membaca atau mengalami suatu hal dan kemudian mendapatkan ide tulisan. Siapa sih yang nggak pernah terinspirasi oleh hal lain saat nulis atau saat sedang dalam proses kreatif?

Saya mah SERING BANGET!
Artikel ini nih, salah satunya. Idenya ya dari obrolan kapan hari sama MbakIn dan MbakLus. Kebetulan juga saya suka banget mengamati (tapi ogah ikutan ramai) hal-hal yang terjadi di dunia maya, khususnya di blogosphere. Jadilah memang banyak artikel yang keidean dari apa yang sering saya jumpai. Ada yang dari pertanyaan orang, ada yang dari komen orang ... sampai juga ada yang dari artikel orang lain.

Buat saya, itu adalah hal yang sangat wajar. Sangat sangat wajar, hingga kadang saya sendiri juga (berusaha keras untuk) merasa wajar saat saya menemukan artikel lain yang agak-agak mirip dengan tulisan saya. Nggak cuma sekali dua kali saya menemukannya, dari mungkin hanya mirip ide sampai yang plek tiplek (eh ini mah bukan mirip lagi ya :P ). Dari yang hanya sekitar 20 - 30% sampai yang 100% (eits, ini juga bukan mirip lagi deh).

Saya kembali mengingatkan pada diri sendiri, bahwa there's nothing new under the sun. Lagipula yang saya rasakan kemudian saya bahas dalam suatu artikel itu juga kan bisa saja dialami oleh orang lain. Toh, saya juga sering membahas dan menulis hal-hal yang pernah ditulis oleh siapa pun.

So, saya menyuntikkan pikiran positif pada diri saya sendiri, bahwa barangkali artikel yang mirip-mirip punya saya atau ide dasarnya sama persis (meski sebelumnya saya belum pernah lihat di mana pun) itu dipunyai si penulisnya gara-gara melihat banyak hal juga. Lagian, namanya ide dasar kan memang nggak boleh diklaim. Susah juga kan ya?

Taruhlah salah satu kasus ya. Suatu hari saya menulis artikel mengenai dosa-dosa parenting yang sering dilakukan oleh para ibu. Ide dasar artikel itu saya dapatkan dari artikel orang lain yang sedang menghujat orangtuanya sendiri. Pendapat saya, every mom has their own battle, dan kita nggak berhak mengadilinya, meski kita anak dan mungkin menjadi 'korban' orangtua kita masing-masing. Dan kemudian ada beberapa artikel lain yang terdengar mirip setelahnya.


There's nothing new under the sun!


Lalu apakah saya klaim bahwa artikel lain tersebut nyontek ide saya? Nggak bisa. Meski dalam hati saya mengernyit, tapi ya sudahlah. Kalau dikit-dikit klaim ide, kok ya jadinya berat banget hidup lo, Nak.

Karena pada akhirnya saya juga berhasil untuk memberi sugesti pada diri saya sendiri, bahwa saya menulis artikel itu juga karena terpicu oleh artikel lain. Saya menyebutnya sebagai trigger. Dan yang namanya trigger itu, sudah umum ada di dunia kreatif, yang kemudian diolah secara kreatif oleh para pekerja kreatif hingga menjadi produk kreatif yang lain. *kreatif-ception*

Wajar kan? Wajar!

Yang perlu digarisbawahin di sini adalah "diolah secara kreatif".

Pernah dengar the most quotable quotes dari Picasso, bahwa "good artists copy, great artists steal"? Itu juga berlaku di dunia kepenulisan, termasuk dunia blogging.

Baca juga: Masih Kekurangan Ide? 30 Ide Blogpost Buat Sebulan Ini Bisa Kamu Pakai! 

Artinya kurang lebih begini, kalau dalam kasus keidean tulisan ini.
Kalau terinspirasi, ngambil lalu kita tuangkan lagi tanpa ada unsur kreativitas pada akhirnya hasil karyamu itu ya hanya berakhir pada hasil kopas. Entah itu kopas tulisan, atau kopas ide. Kopas tulisan jelas itu kriminal. Kopas ide? Masih ada di area abu-abu. Mau diklaim, kok ya tulisannya beda. Kalau dikonfrontir, si kopaser juga bisa ngeles. Ide kan bisa saja sama kalau dilogika. Iya kan? Mau didiemin aja, kita yakin banget bahwa itu ide kita for some reasons.

Lalu gimana?

Saya juga nggak bisa jawab dengan tepat juga. Selain khawatir salah menginformasikan, saya sendiri juga masih sering keidean dari tulisan atau artikel lain. Memangnya saya bisa yakin 100% kalau semua ide tulisan saya itu semuanya original dari otak saya sendiri? Enggak tuh. Selalu ada, meskipun hanya sedikit banget, inspirasi dari yang lain. Lebih precised lagi, dari artikel lain.

Tapi, saya bisa yakinkan, bahwa saya telah mengolahnya, memasaknya kembali, hingga menjadi satu 'masakan' baru. How?

Saya melakukan cara-cara seperti ini.

Jangan terburu-buru saat sedang berproses kreatif!

  1. Baca artikel trigger sampai selesai. Pahami secara mendalam, terutama jika artikelnya berbahasa asing. Pastikan nggak ada yang missed. Pokoknya kita harus sampai benar-benar paham, maksud tulisannya apa, pesannya apa, dan end goal-nya apa. 
  2. Catat poin-poin terpenting yang bisa ditemukan dalam artikel trigger tersebut. Buatlah dalam kalimat atau frasa yang singkat. Jangan terlalu panjang. Hanya 5 - 6 kata dalam satu frasa pun sudah cukup. Poin-poin inilah yang menjadi outline awal artikel baru saya. 
  3. Tutup artikel trigger, jangan pernah dibuka atau dibaca lagi. Lebih bagus lagi, kalau outline awal yang tadi kita susun berdasarkan artikel trigger kita endapkan dulu beberapa hari. 
  4. Pikirkan apakah outline yang tadi sudah kita bikin bisa dikembangkan lagi, based on pengalaman kita. 
  5. Di sini proses memasak ulang kita dimulai. Ada yang perlu tambahkan? Tambahkan. Ada yang diganti? Ganti. Ada yang dikurangi? Kurangi. Proses ini cukup panjang, nggak cukup kalau hanya 10 menit. Anggaplah kita sedang menulis artikel yang benar-benar baru. 
  6. Lakukan riset dengan membaca lagi 2 - 3 artikel dengan topik yang sama. Tambahkan lagi, atau kurangi yang perlu. 
  7. Outline sudah lengkap? Let's cook! Dengan cara demikian, kemungkinan besar sih, artikel yang kita hasilkan bebas plagiarisme meski punya topik yang sama dengan artikel trigger. 
  8. Jangan lupa cek ke http://smallseotools.com/plagiarism-checker/ untuk melihat apakah benar-benar orisinal. Nilai standar orisinal yang baik adalah antara 90 - 100%.
 Percayalah, meski ide dasarnya sama, tapi rasa yang muncul nantinya pasti akan berbeda.

Neil Patel sendiri pernah bilang begini.


Quote by Neil Patel, junjunganku.

Lihat apa yang dibuat oleh 'kompetitor'-mu, dan perbaikilah apa yang kurang. Tulis kontenmu dengan lebih detail, lebih actionable, lalu bungkus dengan desain yang lebih cantik.

Ada yang mau mendebatnya?

Saya enggak. Karena saya sudah membuktikannya, and it works! Tapi, pastikan kita masak kontennya hingga benar-benar matang! Jangan sampai ada yang masih mentah. Jangan sampai masih ada kalimat-kalimat yang mirip. Bahkan sediksi-diksinya pun harus beda! Karena setiap orang punya cara masak sendiri-sendiri. Kalau kita masaknya sudah dengan cara kita sendiri, ya masa' sih hasilnya masih nggak ala kita kan?
Kalau hasil tulisannya masih terdengar seperti punya orang lain, berarti ada yang salah dengan cara masak kita.

Baca juga: 4 Cara Brainstorming yang Dapat Menghasilkan 100 Ide Artikel dalam Waktu Singkat 

Apa yang saya tulis di atas saya tujukan bagi para creative content cook yang mendapatkan ide dari cook yang lain. Don't lower yourself dengan menjadi seorang kopaser ide mentah-mentah. Kamu kan orang yang kreatif, kalau sudah mau mengaku menjadi seorang penulis ataupun blogger.

Lalu bagaimana dengan para creative content cook yang merasa idenya diambil oleh cook yang lain?
*kedik bahu* Kembali lagi pada kalian. Kalau memang nggak ikhlas, silakan saja dikonfrontir. Semua kan bisa diukur dengan keikhlasan. Bagaimana agar membuat kita terbebas dari rasa nggak enak itu kan?

Kalau saya pribadi sih, ketimbang mikirin ide yang diambil orang, hambok buat mikir ide lain lagi yang bisa saya eksekusi jadi konten yang lebih bagus. 
Ketimbang ngitungin berapa banyak ide saya yang diambil sama yang lain, mendingan ngitungin ada berapa ide baru lagi yang bisa saya jadikan karya yang lebih baru lagi. 
Mendingan piknik, terus berlatih brainstorming dan menggali ide. Siapa tahu dapat ide original yang kemudian ngehits, lalu diambil sama orang. Karena, somehow, saat ide dasar tulisan saya diambil sama yang lain itu, juga ada rasa kebanggaan tersendiri kok. Saya bisa jadi trendsetter. Bahahaha.

Iya, itu saya sih.
Nggak tahu Mas Anang.
Halah.