Beberapa kali saya berkesempatan untuk sharing seputar dunia blogging dengan teman-teman, kadang ya offline, online via Facebook Group, dan yang paling sering akhir-akhir ini, melalui WA group.

Dengan background peserta yang memang merupakan blogger pemula, saya lihat pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan memang berbeda-beda, tapi ada beberapa yang selalu ada dan mampir ke saya.

Nah, barangkali saja, ada blogger pemula yang juga nyasar ke sini, dan masih pula punya pertanyaan-pertanyaan ini di benak masing-masing *tsah*, saya akan tuliskan beberapa FAQ yang paling sering saya temui disampaikan dalam kulwap atau sharing saya seputar dunia ngeblog.

Ada 10 pertanyaan yang sering ditanyakan pada saya seputar ngeblog oleh para blogger pemula.

(Nanti kalau ada lagi, akan saya update yah)


1. Bagaimana cara mulai ngeblog?

Nah, ini kadang juga bikin saya mikir buat jawab. Karena saya selalu menjawab berdasarkan pengalaman, maka sontak saya lalu berusaha mengingat, iya, gimana sih dulu saya mulainya? Hahahaha.

Kayaknya cuma langsung bikin, terus langsung nulis deh. Entah nulis apa. Semacam, selamat pagi! Semoga hari ini menyenangkan. Gitu doang kayaknya. Hahaha.

Well, untuk teman-teman blogger pemula, saya sarankan untuk mulai ngeblog mengenai hal yang disuka.

Sukanya apa? Hobinya apa? Minatnya apa? Coba, tuliskan bagaimana dulu bisa sampai suka hobi itu, atau minat tersebut.

Biasanya kalau orang sudah bahas hal yang disukai ya bakalan nerocos kan?

Ya begitu juga dengan ngeblog. 

Jadi, agar ngeblog jadi menyenangkan ya isilah dengan hal yang menyenangkan.

Ada sih blogger yang mulai ngeblog karena sebagai tempat sampah alias curhat atau pelampiasan emosi negatif. Ada. Tapi, nggak yakin saya, kalau dia bisa bertahan lama. Atau blognya bisa melejit.


2. Dari mana saya bisa cari ide untuk tulisan di blog?

Ide tulisan itu bisa datang dari mana saja kok, bahkan dari yang terdekat. Yes, rumah. Dari kegiatan kita sehari-hari, cerita tentang orang-orang yang kita sayangi, atau cerita soal mimpi-mimpi kita, harapan-harapan kita. Semua akan menarik untuk ditulis.

Mungkin sebulan dua bulan akan bingung sih biasa. Tapi, jangan menyerah sama kebingungan itu. Coba terus. Setiap lihat sesuatu, coba tanyakan pada diri sendiri, bisa dibikin tulisan apa nih?

Saya juga pernah nulis soal cara brainstorming yang bisa menghasilkan 100 ide tulisan lebih lho. Coba deh, disimak yah. Siapa tahu bisa bantu.

Semakin kita banyak menulis, ide itu bukan semakin habis kok. Justru ide akan semakin banyak. Kita semakin peka menangkap sesuatu yang bisa jadi ide menulis.

Saya dulu memaksakan diri untuk menulis setiap hari, demi melatih kepekaan ini. Ya, puji Tuhan sekarang, kalau mau disuruh nulis setiap hari sih pasti ada saja yang bisa saya tulis. Hehehe.


Ide bisa datang dari mana saja. Tingkatkan kepekaanmu.


3. Platform blog apa yang paling bagus?

Sebenarnya ada banyak platform blog gratisan yang bisa kita manfaatkan, tapi yang paling populer di Indonesia itu kalau nggak Wordpress, ya Blogspot.

Di antara Wordpress dan Blogspot masing-masing ada penggemar fanatiknya sendiri-sendiri.
Saya sudah mencoba dua-duanya, dan akhirnya saya memutuskan, saya lebih cenderung ke Blogspot.

Wordpress, bagi sebagian orang, dasbornya lebih user-friendly karena lebih WYSWYG (What you see is what you get). Sedangkan blogspot, untuk beberapa settingan mesti ngulik XML-nya sedikit.

Plugin Wordpress juga banyak banget (terutama untuk yang self hosted), dan plugin-plugin tersebut sangat oke banget membantu kita agar meningkatkan performa blog. Sedangkan Blogspot nggak punya plugin apa pun. Kalau mau nambahin apa-apa, ya mesti ngulik coding.

Namun, sewa ruang untuk Wordpress itu jauh lebih mahal ketimbang Blogspot. Jadi memang mesti menyiapkan dana lebih banyak, jika mau pakai Wordpress untuk domain sendiri. Sedangkan, Blogspot hostingnya gratis, kita hanya perlu membeli nama domain saja.

Untuk security, sebenarnya nggak ada yang lebih daripada yang lain. Tapi, pengalaman saya pakai Wordpress, saya kebobolan di security. Padahal setiap bulan sudah saya scan virus cpanelnya, kok ya kebobolan.

Tuh, kan, sedih lagi.

Nah, tapi kalau kamu memang yakin mau pakai Wordpress self-hosted, itu juga bagus. Mengingat memang fitur Wordpress cukup lengkap buat membantu performa blog kamu. Untuk membuat blog dengan Wordpress, kamu bisa lihat tutorial lengkapnya di sini. Ada tuh, from A to Z. Tinggal diikutin step by step, kamu pasti bisa pasang sendiri.

So, mau Blogspot atau Wordpress, itu kembali ke selera dan kebutuhan.
Kalau kamu kayak saya, yang lebih suka nulis ketimbang maintenance blog, mendingan Blogspot.


4. Bagaimana agar blog saya dibaca dan dikunjungi banyak orang?

Well ... Hmmmm. Saya sebenarnya suka jengah kalau ditanya seperti ini oleh para (calon) blogger (pemula).

Kenapa? Karena saya sendiri nggak menjadikan angka jumlah kunjungan ke blog sebagai objektif kegiatan ngeblog saya.

Saya nggak peduli sama statistik. Jadi, mungkin jawaban saya ini nggak begitu valid.

Tapi saya bisa katakan, bahwa ngeblog itu ibarat lari marathon, alih-alih sprint 100 meter. Ngeblog itu kerjaan bulanan, tahunan, bukan kerjaan semenit semalam.

Untuk bisa dikunjungi dan dibaca banyak orang, kita memang akan perlu effort yang banyak. Kalau postingan saja baru satu atau dua, ya, pasti pembacanya juga berbanding lurus.

Ada beberapa hal yang bisa sarankan untuk bisa mendapatkan pembaca banyak:
  1. Be stand out. Jadilah antimainstream. Unik. Temukan dulu keunikan blogmu, lalu jadikan keunikan itu sebagai branding.
  2. Bergabunglah ke komunitas-komunitas blogger. Ada banyak ya sekarang; Kumpulan Emak Blogger, Warung Blogger, Blogger Perempuan, Food Blogger Indonesia ... belum lagi yang per regional. Banyak deh. Coba disearch aja. Carilah yang sesuai dengan niche blog atau topik yang dibahas dalam blog kamu.
  3. Berteman dengan blogger-blogger dalam komunitas tersebut.
  4. Main media sosial. Share apa yang kamu tahu. Berbagilah ilmu dan informasi.
  5. Blogwalking, main ke blog teman-teman. Sembari memperkenalkan diri.
  6. Belajar SEO pelan-pelan. SEO basic saja sudah cukup kok sebenarnya untuk bisa melejitkan blog kamu di search engine. Sehingga meski nanti kamu sudah nggak sempat blogwalking atau nggak sempat medsosan lagi, kamu akan tetap dapat pembaca.
Memang butuh effort banyak kalau kamu baru mulai ngeblog dan pengin blog kamu segera dibaca banyak orang. Para blogger yang suka pamer PV itu, mereka sudah memulainya bertahun-tahun yang lalu. So, sudah pasti pembacanya sudah banyak.

Yang pasti, harus sabar ya. Itu yang terpenting.


5. Bagaimana caranya supaya bisa konsisten ngeblog?

Nah, ini kemarin baru saya tulis untuk web Kumpulan Emak Blogger, tips untuk konsisten ngeblog. Sewaktu artikel ini ditulis sih belum tayang. Hahaha. *jorokin Makmin*

Ada beberapa cara untuk bisa konsisten ngeblog seperti yang saya tulis di sana:
  1. Enjoy the process. Ini pentingnya kita menghargai proses. Kalau kita menikmati setiap prosesnya, pasti deh, kita pun akan konsisten mengelola blog kita. Namun, kalau kita hanya pengin serba cepat dan serba instan, pasti deh akan lebih banyak putus asanya ketimbang semangatnya.
  2. Temukan "irama" terbaik. Kapan sih kamu paling bisa menulis tanpa gangguan? Temukan momen itu, lalu menulislah saat momen itu tiba. Hanya menulis ya. Bukan untuk yang lain.
  3. Mulai dari yang kecil. Kalau kita tiba-tiba punya target gede ya pasti itu nggak realistis namanya. Cobalah dari yang kecil. Misal update blog menulis artikel 300 kata seminggu sekali. Terus nanti dilihat, kalau irama ini udah pas, coba deh ditambah intensitasnya. 500 kata 2 kali seminggu, misalnya? 
  4. Pilih sparing partner. Saya sendiri selalu semangat kalau ada sparing partner-nya. Saat ini saya punya satu orang blogger panutan yang saya ikuti terus update-nya. Saat dia update blog, saya pun biasanya semangat juga. "Lah, dia udah update. Saya belum!"
  5. Keep your mind, eyes and ears open. Ini nih yang saya bahas di pertanyaan no. 2 di atas. Semakin sering kita nulis, maka semakin peka kita. 

Mau monetize? Bikin modal dulu.


6. Saya pengin punya penghasilan dari blog. Bagaimana caranya?

Nah, ini juga kayak pertanyaan no. 4 tadi. Saya biasanya langsung jengah juga menjawabnya. Alasannya sama, karena saya nggak pernah menganggap blog sebagai sumber penghasilan.

Kalau kamu mau menjadikan blog sebagai sumber penghasilan, maka Adsense dan berbagai afiliasi itu saya rekomendasikan. Mending baca saja artikel punya Mas Febriyan Lukito ini deh, tentang berbagai jenis monetisasi blog. Lebih lengkap kan? Beliau pun lebih pengalaman soal ini ketimbang saya.

Saya pribadi dulu punya penghasilan dari blog dalam bentuk job review. Namun, sekarang sudah sangat jauh berkurang.


7. Gimana caranya ya, supaya tampilan blog saya bisa keren?

Define: keren.
Hahaha.

Keren itu seperti apa sih? Penuh warna? Bling-bling?
Yah, ini kan masalah persepsi ya? Kerennya saya belum tentu keren di kamu.

Tapi yang pasti, ada beberapa syarat tampilan blog yang enak dibaca dan nyaman di mata:
  1. Navigasi jelas, ini berarti letak kategorinya kelihatan, label-labelnya jelas, ada kotak search-nya dan seterusnya.
  2. Font gelap di atas background terang. Putih di atas hitam, lebih preferable pada umumnya. So, akan lebih baik, kalau di bagian tulisan di blog itu backgroundnya putih polos yah. Akan lebih ramah di mata.
  3. Font besarnya cukupan, pokoknya kalau dibaca nggak mesti sampai memicingkan mata deh.
Nah, soal layout desain blog saya pernah bahas juga di blog ini, bagaimana cara memilih template yang oke untuk blog kamu. Sila disimak. Sepertinya sih sudah lengkap. Kalau ada tambahan, boleh tambahin di kolom komen yah.


8. Ide tulisan dicatat di mana supaya gampang dilihat kembali?

Saya menggunakan 2 tools, yaitu Trello dan Evernotes.

Untuk Trello, saya pernah bahas di blog ini juga, How to Build Your Idea Bank: Trello. Bisa dibaca yah.

Untuk Evernotes, saya belum bikin artikelnya :D

Selain 2 tools itu, ada beberapa tools lain yang juga bisa bantu kamu untuk mengorganisasi ide-ide tulisan.  Bisa dibaca yah. Sepertinya juga sudah lengkap.

Daaan ... masih ada satu tool lagi yang bisa banget bantu kamu menulis dan menyimpan ide menulis kamu, dan sudah terbukti keampuhannya! Yaitu, tulis di buku catatan. Iya, buku catatan konvensional. Hahaha.

Jangan dianggap remeh loh. Saya saja sampai sekarang masih mengandalkan agenda dan buku notes ini kok. Selalu saya bawa ke mana-mana loh.


9. Kalau satu artikel sudah published, terus apa yang harus saya lakukan berikutnya?

Promosi dong!
Ibarat punya toko, jangan cuma menunggu pembeli datang. Tapi coba deh, sebar brosur, cegat pembeli di pintu masuk mall, lalu kalau perlu tuntun masuk ke tokomu.

Saya tadinya selalu percaya, bahwa setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri-sendiri. Tapi, saya nggak mau nunggu ada pembaca datang. Mau sampai kapan datangnya? Proses mendatangkan pembaca memang nggak instan, nggak bisa cepet. Tapi kalau saya cuma nunggu pembaca datang sendiri, ya, mau sampai kapan?

Promosikan:
  1. Lewat media sosial
  2. Lewat diskusi-diskusi dengan topik yang sesuai, jadi nggak spamming doang
  3. Gabung di komunitas
Yang pasti, ya harus gaul. Hahaha.
Doh, padahal saya sendiri sekarang kurang gaul. Ngomong emang gampang! Pffft!


10. Is it ok ada berbagai topik dalam satu blog, atau sebaiknya dipisahin saja?

Hmmm, saya bukannya bilang kalau blog gado-gado itu nggak bagus, atau salah. Nggak ada yang salah dan benar di blogging. Semua tergantung bloggernya.

Tapi, kalau lebih fokus tentunya akan lebih baik.

Saya sendiri punya 5 blog dengan niche khusus masing-masing. Mengapa saya memisahkannya? Alasan-alasan mengapa saya memisahkan blog per niche saya tulis juga di blog ini. Boleh kalau mau dibaca.

Kalau kamu mau jadikan dalam satu blog juga nggak masalah sih, asal kategorisasimu rapi dan terstruktur. Ada kok caranya, supaya kategorisasi artikel di blog kita bisa rapi.
Kalau kategorisasi rapi, maka navigasi pun akan bagus. Dan ini akan membuat user experience yang baik bagi pembaca.

Blog yang topiknya bercampur baur punya beberapa kerugian:
  1. Kurang bisa membentuk pembaca loyal
  2. Kurang bisa kuat mendukung personal branding kamu, sehingga kamu nggak akan bisa stand out di antara jutaan blogger lain.
  3. Pembaca pun bisa saja meragukan kompetensi kamu.



Nah, itu dia 10 pertanyaan yang sering banget ditanyakan pada saya saat sedang sharing atau mengisi materi presentasi seputar dunia blogging.

Saya tahu, saya sendiri belum seberapa. Tapi semua jawaban itu benar-benar saya berikan berdasarkan pengalaman saya ngeblog selama 10 tahun belakangan. 

Terima kasih buat semua yang sudah mengundang saya ya. Saya seneng banget kalau diminta sharing begini. Karena, saya yakin, saat saya sharing, saat itu juga saya dapat ilmu baru.

Saya juga masih terus belajar, karena beuh ... dunia ngeblog itu ya, perkembangannya warbiyasahhhh!

Sampai ketemu di sharing-sharing yang lain ya!




Sesekali mau freestyle writing ah.
Jadi begini.
Saya sempat bahas soal kebaperan penulis yang dikasih kritik beberapa waktu yang lalu.

Dalam postingan tersebut, saya sih menggarisbawahi, bahwa kritik merupakan salah satu "media" kita untuk belajar, meningkatkan kualitas diri sendiri.

Antikritik akan bikin kita rugi sendiri. Dari mana kita tahu kelemahan diri kita sendiri, kalau kita nggak mendengarkan masukan dari orang lain?

However, kalau selalu ngedengerin orang lain, apalagi melakukan suatu hal agar orang lain senang, itu juga nggak bagus buat kesehatan diri kita sendiri.

Karena itu, kita mesti tahu juga batasannya. Kapan kita bisa mendengarkan, dan kapan kita cuek saja dan maju terus. Termasuk soal kritik seperti apa yang bisa kita terima, dan kritik mana yang di-prek-in saja.

Saya sih sudah cukup kenyang dikasih kritik sama orang, dari yang halus sampai yang to the point dan bikin saya mutung (meski nggak lama). Dan seiring waktu pula, saya juga sering kasih pendapat dan masukan untuk orang lain.

Istilahnya, saya take dan give. Saling memperbaiki, sehingga terjalin mutualisme dengan teman-teman sesama penulis.

Dan, bener, memberikan masukan memang nggak bisa asal njeplak.
Salah-salah, kita memang terjebak di "lo kasih kritik, belum tentu lo sendiri juga jago" itu tadi.
Iyes, kita jadi sok tahu. Merasa lebih tahu ketimbang yang dikasih masukan dan pendapat.

Di komunitas Monday Flashfiction, saya berlatih memberikan masukan dengan objektif. Karena di komunitas tersebut, sesama member memang disarankan untuk saling ngasih masukan dan saling belajar satu sama lain. Di sana nggak ada yang lebih pinter, lebih senior, lebih bodoh atau lebih junior. Semua sama.

Saya berlatih, baik itu latihan menulis ataupun latihan ngasih masukan, dengan objektif di sana. Apalagi saat ada event MFF Idol, di mana para kontestan saling berebut perhatian dengan flashfiction-flashfiction yang dibuatnya. Saya sudah 3 kali jadi panelis di MFF Idol, yang membuat saya harus kerja keras memberikan masukan yang objektif. Karena apa? Karena saya nggak tahu penulisnya siapa.

Iya, soalnya sistemnya blind scoring. Host mengirimkan karya flashfiction kontestan pada saya untuk dikasih score dan komen tanpa nama penulis. Jadi, saya nggak tahu yang ini punya siapa, yang inu punya siapa.

Makanya, saya bisa sebebas-bebasnya ngasih komen.

Dan, berapa yang baper? Banyak ternyata. Hahahaha. Ya maap.

Anyway, kembali lagi ke urusan ngasih masukan.

Saya pernah main ke blog Mbak Okke Sepatumerah (yang sekarang sudah ganti blog). Di sana, beliau ... (((beliau))) ... membahas tentang kritik dan cela yang bedanya hanya setipis kertas.

Kurang lebih, begini isinya. Saya kutipkan bebas karena saya masih ingat betul apa isinya, meski mungkin kalimatnya ngga persis.

Nyela adalah ketika kau mematahkan semangat orang dengan kata-katamu. Ngritik adalah ketika kau meyakinkan orang lain bahwa ia bisa melakukannya dengan lebih baik.
Antara ‘Ih, jelek banget sih ini?’ dengan ‘Ini masih bisa disempurnakan lagi.’ beda dong ya?
Nyela ketika kau ‘menyerang’ seseorang, ngritik adalah ketika kau fokus pada pekerjaannya, bukan pada dia secara personal.
Nyela ketika kau cuma bilang hal-hal buruk tanpa solusi. Ngritik, kau datang dengan solusi.
Nyela adalah ketika kau impoten menempatkan dirimu di posisi orang yang bersangkutan; kau lakukan di depan umum, kau bandingkan dirinya dengan orang lain. Ngritik adalah ketika kau bisa berempati, membayangkan apa rasanya berada di posisinya.
Nyela adalah ketika kau lupa (secara subjektif) bahwa ada hal-hal baik juga yang pernah dilakukan seseorang (karena keburu sebel misalnya). Ngritik adalah ketika kau dengan objektif melihat bahwa ada kualitas baik juga dari dirinya dan tanpa ragu mengemukakan  hal tersebut.
Tapi yang paling penting adalah, ngritik itu karena kau peduli pada seseorang dan ingin ia menjadi lebih baik lagi. Kalau nyela? Ya gitu deh.

Nah, dari kutipan di atas keliatan nggak, beda antara kritik dan celaan?
Kalo saya sih jelas :)

Kemudian saya ingat lagi, suatu kali timeline twitter saya rame. Ternyata, saat itu memang lagi ada "keramaian" alias twitwar.

Ada seseorang sedang mengkritisi (ngakunya sih begitu) karya seorang sastrawan terkenal yang menjadi penulis idola.

Akhirnya, karena kepo, saya pun nonton timeline, stalking sana sini, sembari menyeruput kopi instan, dan memamah camilan saya.

Ngakunya sih, dia mengkritisi hasil karya si sastrawan tersebut. Tapi menurut sebagian tweeps, kata-kata yang dipakainya kasar dan inappropriate.

Yah, saya sih enjoy aja nonton war. Lagi selo sih.

Namun, coba lihat kembali, terutama bagian "Ngritik adalah kamu datang dengan solusi."
Oke, kalau menurutnya, jelek atau nggak bener, coba deh, tunjukkan yang mana yang kurang bagus, lalu berilah alternatif solusi.

Saya sendiri kadang masih nggak bisa tuh kasih solusi. Kadang baca sebuah buku, saya nggak suka, tapi saya juga nggak tahu nggak sukanya kenapa. Kalau udah begitu, saya akhirnya memutuskan, bahwa buku tersebut nggak masuk selera saya.

Lalu, bisakah saya memberi kritikan kalau sebuah buku nggak masuk selera saya? Saya bilang, NGGAK  BISA.

Karena mau digimana-gimanain, tetap aja akhirnya saya bilang itu buku jelek. Jalan ceritanya aneh, plotnya garing, nggak jelas de es be de es be.

Kalau mau dipaksa suruh ngasih kritik gimana? Kadang soalnya gitu. Diminta ngereview buku, tapi bukunya not my kind of cup of tea. Ya, gimana ya. Akhirnya ya, sebatas pelaksanaan tugas.
Karena, kalau sudah masalah selera, itu susah.

Nah, kembali lagi pada si kritikus-wanna-be tadi.
Jika sampai terlontarnya adalah kalimat "Tadinya gue kira buku ini keren. Ternyata membosankan sampai bikin ketiduran. Bukan sekadar membosankan sih. Ini buku jelek. Gaya bahasanya. Permainan plotnya. Jalan ceritanya.", lalu menurutmu gimana? Ada solusi?

Saat orang-orang mempertanyakan kritik-kritiknya ini, lantas orang-orang tersebut dituduh menyerang. Katanya, kalau setiap orang yang berbeda pendapat lalu diserang, apa bedanya dengan orang-orang yang nggak move on pas pemilu kemarin?

Oh, please deh. Hellowwww?!

Kenapa sih nggak datang saja dengan solusi kalau memang bukan nyela? Kenapa nggak ngasih alternatif baiknya gimana, kalau memang bukan hanya karena selera?

Saya mah sering juga terjebak antara niat mencela dan mengritik ini.
Coba lihat kasus si mbak penulis Sepen Elepen.
Yang begitu antikritik, hingga ngeblok sejumlah orang yang memberikan kritik atau memberikan review jelek terhadap film yang dibuat berdasarkan novel yang ditulisnya itu.

Saya jelas bukan penggemar beliau.
Dan, ini jelas soal selera.
Maka, haruskah saya ngritik atau review terhadap filmnya? Enggak mau. Lha, kan jelas saya nggak suka. Ntar saya jadi negatif mulu reviewnya, dan itu berarti nggak netral.

Tapi, misal saat saya membaca buku, dan saya bisa lihat plus minusnya, nah ... di situ saya merasa netral dan bisa kasih review yang objektif.

Kritikus makanan memang bukan koki, tapi dia biasanya punya ilmu tentang kuliner. Tahu gizi, tahu ingredients, tahu pengolahan. Saat mengkritisi, dia akan ngasih alasan ini itu, dan dia biasanya akan kasih solusi. Kalo cuma bisa bilang enak apa nggak enak, saya juga bisa.

Kritikus buku (yang bener) biasanya juga mengerti ilmu menulis. Mereka akan datang dengan solusi, mengapa begini mengapa begitu, dan harusnya diapain. Kalo cuma bisa bilang buku jelek apa bagus, saya juga bisa.

Kritikus-kritikus yang bereputasi, PASTI punya ilmu. Nggak semua penikmat makanan pinggir jalan bisa tahu-tahu diangkat menjadi kritikus makanan. Coba liat acara-acara kuliner di televisi. Yang mana yang datang dengan solusi, yang mana yang cuma bilang enak doang? Keliatan kan bedanya?

However, masukan dari orang awam itu juga nggak bisa diabaikan. Malah justru harus diperhatikan. Mengapa? Karena, kalau di sini konteksnya tentang tulisan, mereka membaca sebagai diri mereka sendiri. Saat mereka memberi masukan, itu adalah mereka sedang berbagi hal yang mereka rasakan.
Ini penting diperhatikan oleh penulis, yang merupakan "produsen" tulisan yang mereka baca. Agar apa? Ya, pastinya, supaya next time kita memproduksi tulisan lagi, tulisan kita bisa lebih bagus, lebih oke, lebih bisa dinikmati.

So, inti dari tulisan ini apa?
Well, stop memberikan kritik kalau itu ada indikasi soal selera, if you can't make it objectively. Karena hasilnya ya hanya akan nyela bukan kritik.

Jadi, kalau suatu kali kamu minta masukan saya soal sesuatu, tapi saya nolak, barangkali itu ada hubungannya sama selera. Hahahaha.

Well, selamat menjalani hari ini, gaes. Semoga harimu menyenangkan :)


Kamu suka dikritik?
Enggak?

Sama!

Iya, saya juga nggak suka dikritik.
Siapa sih yang mau ditunjuk-tunjukin kesalahannya? Apalagi di depan umum. Wuih, harga diri jatuh banget dah! Apalagi untuk sesuatu yang seharusnya kita expert.

Jangankan kalau kita sudah expert.
Lha wong lagi belajar, lagi mempelajari lho ya, dikasih masukan aja bawaannya esmosi kok.

Diem dulu napa? Lagi belajar nih!

Well, saya pernah baca, bahwa orang yang baru belajar sedikit itu biasanya sudah merasa "besar". Semakin banyak ia menyerap ilmu, maka semakin "kecil" ia merasa.
Ah, saya lupa baca itu di mana. Nanti kalau ketemu lagi, saya update yak.

Kita memang masih belajar, dan terus belajar mengenai segala sesuatu. Apa pun itu. Especially soal menulis, dan ngeblog (karena saya membahas creative writing dan blogging di sini, bukan bahas cara melahirkan anak, yes?)

Nggak ada yang bisa mengukur, seberapa tinggi ilmu menulis itu. Apalagi dunia blogging. Setiap hari bisa saja muncul ilmu baru. Ada pengetahuan baru.

Saat kamu puas dengan pengetahuan yang kamu miliki, dan nggak mau update, ya saat itu pula kamu baru saja memproklamirkan diri sebagai orang yang nggak mau maju.

Dari mana kita belajar?
Banyak cara.
Salah satunya dari kritik yang dikasih oleh orang lain.

Wih, serem. Dikritik. Ditunjukin salahnya di mana. Nggak mau ih.
Fine. Nggak apa-apa juga kok antikritik, asal nggak lantas ngeblok orang berjamaah yes. Nanti kayak mbaknya penulis sepen elepen. Kamu yang rugi sendiri.

Saya bisa sejauh ini dalam menulis karena kritik.(Emang udah sejauh apa sih saya? Yah, sudah sejauh Jakarta - Depoklah ya. Belum sampai Jakarta - Raja Ampat.)

So far, saya hanya 2 kali ikut kelas menulis. Yang pertama, menulis fiksi karena bujukan sekelompok orang, dan saya lihat pematerinya lumayan oke. Tapi kemudian saya kecewa. Jauh dari pengharapan deh. Saya nggak dapet apa-apa.
Kelas kedua, masih kelas menulis fiksi. Kali ini gratis, saya berhasil masuk melalui semacam audisi. Tapi ternyata bubar juga. Pematerinya tiba-tiba ngambek gara-gara putus cinta. Wakakakak. Ya Allah.

Habis itu, udahlah. Saya memutuskan untuk belajar sendiri. Dari baca buku, baca artikel, baca karya orang yang kemudian saya remake, dan terutama, saya belajar dari kritik.

Yes, kritik. Komentar pedas dari teman-teman saya yang baik hati.

Di masa-masa awal saya menulis, saya cukup kenyang dengan kritik. Apalagi nulis flashfiction. Wah, rasanya deg-degan banget kalau blog fiksi saya itu habis dikunjungi sama Mbak Latree Manohara :))) Mbak Latree itu kalau kasih kritikan levelnya 20, bo.

Flashfiction saya juga pernah dijadikan contoh salah oleh Mas Aulia Muhammad, seorang pemred (kalau nggak salah ya) koran di Jawa Tengah. Catet ya, dijadikan contoh salah, dan lalu difloorkan untuk dibaca oleh member Monday Flashfiction yang lain. Hahahaha. Ya ampun. Iya, malu saya mah.

Saya punya komunitas menulis di Monday Flashfiction, dan dari awal, saya memang membiasakan saling mengritik di Monday Flashfiction. Sesama member, boleh saling kasih masukan. Kalau pas lagi ada event MFF Idol, wahhh ... jangan ditanya deh. Bisa tanya Uda Sulung, Edmalia, Pakdok Aulia atau siapa pun yang pernah ikutan MFF Idol, gimana tuh rasanya dibantai karyanya?

Sakit iya. Tapi belajar, itu yang penting. Lalu, jangan mengulangi kesalahan yang sama, itu prinsipnya.

Tahu kan peribahasa, semut di seberang lautan nampak, gajah di depan mata tak nampak?
Ya begitulah juga dengan para penulis. Kita yang nulis, bisa jadi nggak menemukan "gajah" pada karya kita. Tapi orang lain barangkali bisa melihat "semut" itu. Mereka datang, dan menunjukkan "semut" itu untuk kita. Untuk kita perbaiki.

So, begitulah cara saya meng-handle kritik. Saya manfaatkan mata orang lain untuk melihat "gajah" yang tak nampak oleh saya. Di situ saya bisa belajar, dan menjadi lebih baik lagi.

Nah, terus gimana ya caranya menghandle kritik terhadap tulisan kita tanpa baper dan lalu mutung, hingga kita bisa mengambil manfaat dari kritik tersebut, dan memacu diri kita menjadi lebih baik lagi?

Begini caranya.

Get your critics to success



6 Langkah Meng-handle Kritik Like A Champ Tanpa Baper


1. Stop your first reaction


Apa yang pertama kali kamu rasakan saat kamu mendapatkan kritik dan masukan dari orang lain?

Emosi.
Emosi yang seperti apa?
Sebel? Marah? Malu? Sedih? Wajar. 

But stop right there!

Jangan pernah lantas diikuti dengan usaha defensif, berusaha mengeluarkan argumen ini itu untuk membenarkan diri sendiri? Terus bilang, "Lo ngritik gue, emangnya lo sendiri udah pinter?", atau, "Tukang kritik itu biasanya sendirinya juga bego."

Kalau lantas diikuti dengan kalimat defensif seperti itu, that means you're not mature enough to socialize, sweety. Mending sembunyi dan tinggal aja di gua. Tulis-tulis sendiri, baca-baca sendiri.

Perasaan yang muncul pertama kali di atas sebelumnya itu wajar. Tapi berhentilah sampai di situ. Jangan lantas bereaksi. Try not to react at all!

Dengan berhenti sejenak itu, kamu akan bisa menginstruksikan otak untuk menganalisis situasi. Napasmu akan kembali teratur, dan kamu pun bisa berpikir dengan jernih lagi.

Kalau ini terjadi di dunia maya, maka tutup sebentar blogmu, atau tulisanmu yang dikritik itu. Biarkan ia juga bernapas dulu. Bikin kopi atau teh, lalu nikmati hidupmu barang semenit dua menit.


2. Remember the benefits of getting feedback


Saat sedang minum kopi atau teh itu, pikirkanlah dan ingat-ingat, apa saja keuntunganmu saat mendapatkan feedback (termasuk kritik).

People pay you attention? Yes. Ada orang yang memperhatikanmu.
To improve your skills? Definitely!
Untuk memperbaiki karyamu? Jelas!
Agar karyamu bisa dinikmati oleh lebih banyak orang? Hu um.

Dengan semua benefits itu, pastinya (kalau saya pribadi sih) mau banget dong dapet ya. Saya mau orang memperhatikan saya, saya mau lebih pinter lagi nulis, saya juga pengin tulisan saya bagus, bisa dinikmati banyak orang.

Supaya begitu gimana?
Ya, terus diimprove.
Salah satunya dengan kritik. Karena kritik itu datang langsung dari orang yang menjadi "customer" kita, pembaca kita. Bener nggak logikanya?

So, alih-alih saya menganggap pemberi kritik sebagai orang sok pintar, saya lebih baik menganggap mereka sebagai "pelanggan" yang memberi perhatian.



3. Cerna lebih dalam


Tapi, memang tak semua kritik bisa kita adopsi. Memang, saya akui, ada beberapa kritik yang kurang cocok untuk kita dengarkan dan adopsi. If you know what I mean. Karena memang hanya ada batasan yang sangat tipis antara kritik dan cela.

So, karena pikiran kita sudah bekerja "normal" lagi, maka seharusnya kita bisa menganalisis, mana kritik yang bisa didengarkan atau diadopsi, dan mana yang tidak.

Baca atau dengarkan dengan saksama, apa maksud si pemberi kritik. Ingat, "semut di seberang lautan nampak, gajah di depan mata tak nampak". Pergunakanlah "mata" si pemberi kritik untuk menunjukkan di mana letak "gajah" yang tak terlihat oleh kita.


How to handle critics


4. Ucapkan terima kasih


Yes, apa pun yang sudah diberikan pada kita, kita tetap harus mengucapkan terima kasih bukan? (Meski nggak ikhlas. Huahahaha)

Tapi, somehow, ucapan terima kasih ini cukup manjur untuk menekan emosi negatif yang bisa memicu reaksi defensif di atas tadi lho.

Apalagi kalau kamu bisa mengucapkannya sambil tersenyum, atau menyertakan emoticon senyum.

Jadi, sebelum bereaksi, ucapkanlah terima kasih dulu. Jangan lupa senyum manisnya ya.


5. Bertanya untuk bisa mendapatkan lebih banyak


Kalau perlu, ulangilah kalimat kritik tersebut.
Misalnya nih, kamu diberi masukan mengenai cara menganalisis satu masalah di mana kamu harus melakukan riset tentang satu hal. Maka ulangilah, "Oh, jadi saya harus melakukan riset lagi tentang anu ini ya?"

Nah, kemudian kalau memang kamu belum tahu, tanyakan lagi, misalnya nih, ke mana riset bisa dilakukan?

Bangun dialog dengan pemberi kritik. Si pemberi kritik pun pasti akan dengan senang hati berbagi ilmunya dengan kamu. Dan kamu pun sukses "mencuri" ilmu.

Misal pun kamu dikasihnya celaan, dan bukannya kritik, kamu juga tetap bisa kok menanyakannya dengan sopan.

"Ini ceritanya apa sih? Nggak jelas!"
"Oh, kurang jelas ya? Jadi, sebaiknya gimana ya?"

Nah, kalau sudah ditanya baik-baik gitu, yang ngasih kritik nggak jawab lagi, ya berarti itu PR kamu untuk memperjelas cerita. Barangkali memang pesanmu belum tersampaikan dengan baik. Belajar lagi.

Tapi so far sih, biasanya kalau memang si pemberi kritik itu ikhlas ngasih masukan, ia pun akan terbuka pada dialog. Kalau ia terus "lari", biasanya sih saya anggap beliaunya nggak serius ngasih kritik (cenderung pengin kasih celaan aja). Jadi, saya juga nggak anggap serius juga. Hahaha. Gampang kan?

After all, it's hard to please everyone, right? Tapi, kalau memang ada kesempatan untuk memperbaiki diri, ya kalau saya pribadi sih, saya akan ambil kesempatan itu.


6. Perbaiki lain waktu


Yang sudah salah ya sudahlah. Kalau saya sih gitu. Tulisan saya yang kurang oke biasanya ya tetap saya biarkan apa adanya. Plus dengan kritik yang menyertainya.

Percaya deh, suatu saat nanti akan berguna banget saat kita buka lagi.

Kalau sudah berhasil mendapatkan masukan dari si pemberi kritik, maka hal tersebut akan saya catat baik-baik, ingat betul, dan kemudian akan saya perbaiki di lain tulisan.

Dengan demikian, improve tulisan saya pun terlihat.



Kritik kadang memang menjadi satu-satunya jalan bagi kita untuk mengetahui kelemahan kita, sehingga kita bisa memperbaikinya. Semoga dengan handling yang tepat, kritik pun bisa kita manfaatkan untuk meng-improve diri kita.

Dengan cara meng-handle kritik di atas, semoga kita nggak cuma berhenti menjadi penulis medioker. *lirik Mas Dani Rachmat* Hahaha.

Keep writing, everyone! Jangan cuma sembunyi di gua. Terima kritik dengan lapang dada!




Hai!
Sebelumnya, saya sekeluarga mengucapkan Selamat Idulfitri ya. Kalau saya pernah salah, atau mungkin saya terlalu sering menyakiti melalui tulisan maupun lisan, saya minta maaf yaaaa.

Anyway, sudah pada balik dari liburan?
Kalau anak-anak sih baru pada mulai masuk sekolah 2 minggu lagi.

Dan, blog ini pun baru saya update sekarang. Berapa lama? 3 minggu ya? Bwahahaha. Iya, lagi nggak mood nulis di blog sih. Maafkan. Saya masih manusia. Wkwkwkwk.

Nah, as a (re)start, saya akan bahas soal tipe-tipe konten yang bi(a)sa diadopsi sebagai blog post di umumnya blog. Well, kamu pun mungkin sudah sering menggunakan beberapa tipe konten ini dalam blog post kamu. Tapi barangkali ada yang belum.

So, mungkin kamu bisa mengadopsi lagi supaya blog kamu lebih beragam, dan nggak ngebosenin.


19 jenis dan tipe konten untuk blog post


1. Tutorial dan How-to


Tutorial dan How-to adalah jenis konten yang isinya step by step untuk melakukan sesuatu. Well, setiap orang adalah seorang beginner in one time, dan kamu pasti juga bisa berbagi mengenai cara untuk melakukan sesuatu.

Bagaimana menulis artikel yang baik
Bagaimana membuat vlog yang bagus
Bagaimana mengecat rumah untuk ibu rumah tangga
Bagaimana mendidik anak untuk berbuat jujur

...

Resep sepertinya juga masuk ke bagian ini ya.
Artikel-artikel di blog ini juga banyak banget yang termasuk how-to.
Buat saya pribadi, artikel how-to memang menjadi artikel yang paling gampang dibuat sih. Tinggal berpedoman pada pengalaman saja.

Dan juga, sepertinya artikel how-to juga paling banyak dicari di Google.


2. Liputan


Liputan ini tipe konten yang paling banyak saya temui akhir-akhir ini yes? Apalagi sekarang blogger sudah dianggap hampir sama dengan posisi jurnalis pada umumnya.

Liputan ini bisa jadi liputan acara, baik yang itu event blogger atau yang nonblogger.
Kalau kamu mau menulis soal acara pernikahan temanmu pun itu juga termasuk liputan. :)))


3. Opini


Yah, karena blog pada awalnya (biasanya) tumbuh dari diari online. Bisa jadi yang ditulis adalah mengenai pemikiran-pemikiran subjektif kamu.

Namanya opini memang subjektif. Dan memang kadang opini ini (saking subjektifnya) jadi mengundang kontroversi.

Wajar. Yes, itu wajar banget.
Kalau saya pribadi sih, malah biasanya excited kalau ada yang nulis opini yang berbeda dengan pemikiran saya. Jadi kesempatan untuk memahami lebih jauh.

Sayangnya ya gitu deh, pertumbuhan dunia media sosial sekarang. Ada yang berbeda opini justru dibully.

Syedih.

Anyway. Balik lagi ke tipe konten saja dah.


4. Checklist


Ini mungkin hampir sama dengan how-to atau listicle sih ya. Tapi somehow tetep beda sih.

Checklist mudik bareng balita, apa saja yang mesti disiapkan? Pakaian, diaper, MPASI, ... dll.
Checklist ngeblog sukses: domain dan judul blog sudah oke? Bagaimana dengan layoutnya, sudah nyaman di mata? Bagaimana dengan persiapan konten, apakah kamu sudah punya rencana dan voice ala kamu sendiri? ... dll.
Checklist mau menikah. Apa yang harus disiapkan? Desain undangan, daftar tamu, dekorasi, katering ... dll
Checklist ... apa lagi ya?


5. Listicle


Listicle itu list-article. Artikel dalam bentuk list.
Artikel 19 Jenis dan Tipe Konten ini juga termasuk listicle. Saya juga paling sering bikin listicle. Paling gampang juga soalnya, dan nggak perlu bertele-tele, tapi bisa berpeluang jadi long form article.


Contoh infografis yang keren. Image via The Visual Communication Guy


6. Infografis


Yes, kita bisa bikin infografis dan berdiri sendiri sebagai blog post.
Di blog post di luar saya sering menemukan satu blog post yang memang hanya terdiri atas satu infografis saja, dan itu lengkap banget.

Di sini kayaknya belum pernah sih saya lihat. Mungkin saya aja yang kudet sih.


7. Studi kasus


Tipe konten studi kasus ini tipe konten yang bagus banget untuk membangun portfolio kita sendiri lho. Dengan menulis artikel studi kasus, kita bisa "showing off" ketrampilan, pengetahuan dan keahlian kita yang barangkali jadi nilai plus kita.

Ini pastinya akan berpengaruh baik untuk branding kita sendiri.

Saya pernah beberapa kali bikin artikel studi kasus ini.


8. Profil


Profil adalah artikel yang membahas mengenai seseorang yang cukup inspiratif buat kita.
Kalau sekarang sih teman-teman blogger sering membahas profil blogger lain ya. Ini bagus juga untuk networking.


9. Interview


Interview ini juga bagus banget lho efeknya ke blog kita. Apalagi kalau kita bisa nginterview influencer. Waw!

Saya cuma pernah nginterview Meira Anastasia. Saya coba "melamar" untuk interview Jennifer Bachdim, Mbak Nuniek Tirta, Retno Hening, Ayang Cempaka ... tapi semua gagal.

Memang rada gampang-gampang susah sih.
Apalagi kalau kita cuma bisa nginterview secara online. Kalau bisa ketemu, dan kamu tipe yang bisa "memaksa" mungkin peluangnya besar untuk bisa nginterview.

Tapi kalau enggak ... cuma bisa tergantung pada "kebaikan hati" si narsum. Hehehe. Bersedia dan ada waktu nggak untuk diinterview.

Sampai di sini, saya appreciate banget pada Meira Anastasia. So humble, dan mau lho jawab pertanyaan via email. Top dah.


10. Review


Ini bisa review buku, film, gadget, restoran, lokasi wisata ... anything deh!
Tipe konten ini juga paling banyak dicari di Google. Karena setiap orang butuh informasi  atau referensi ebih dulu jika mereka pengin nyoba sesuatu yang baru, semisal mau nyobain resto baru atau mau nonton film.


Infografis how to make a vlog. Image via Become a Blogger


11. Video blogs


Yah, video blogs atau vlog memang lagi ngehits sekarang.
Para blogger sudah mulai menambahkan konten video dalam blog postnya. Seru banget memang.


12. Kuis dan Giveaway


Buat seru-seruan, bagus juga lho ngadain kuis dan giveaway kecil-kecilan di blog. Hadiahnya nggak perlu yang mahal-mahal kok kayaknya. Yang penting fun.

Lumayan juga buat nambah traffic nih :D


13. Surveys dan polling


Nah, saya sebenarnya mau nulis tentang "menulis blog dengan mendengarkan audience". Salah satu caranya adalah dengan mengadakan survey dan polling ini.

Artikel tipe ini bagus juga untuk sekadar mencari tahu opini orang pada umumnya untuk satu masalah tertentu.

Kalau saya sih biasanya cukup sering survey atau polling di Facebook. Saat saya sudah mendapatkan hasil survey dan polling, saya lantas mengikutinya dengan opini pribadi atau lantas membahas masalah terkaitnya.

Misalnya kayak saya bahas soal mencari sekolah baru buat anak. Saya sempat buka survey dulu di Facebook, mengenai kriteria sekolah yang bagus menurut para ibu. Setelah ada jawaban, kriteria-kriteria tersebut saya round up ke dalam artikel, yang kemudian pastinya saya tambah dengan opini dan hasil riset saya sendiri.


14. Slideshare dan presentasi


Saya sudah beberapa kali nih bikin slideshare.
Untuk bisa membuat Slideshare dan presentasi ini nggak perlu gimana-gimana sih. Postingan semacam checklist mudik saja sebenarnya juga bisa dibikin Slideshare yang menarik.

Tergantung kreativitas kamu aja ;)


15. Guest bloggers


Saya sebenarnya seneng banget kalau ada yang mau nulis guest blogger di blog ini. Tapi, sayangnya sekarang makin jarang ada yang mau.

Saya sendiri juga lagi nggak sempat sih nulis guest blogging. Pengin nulis buat blog Mbak Isnuansa sebenarnya. Hehehe.

Moga-moga secepatnya.




16. Surat


Di Rocking Mama, saya sempat membuat beberapa kali artikel berbentuk surat ini.
Di antaranya, Tentang Selmadena Aquilla dan Jodoh yang Dipilihnya (Sepucuk Surat untuk Anakku).

View-nya lumayan juga. Cuma kalau surat ini, kamu mesti lebih ekstra untuk melibatkan emosi pembaca. Kalau emosi pembaca bisa kamu rangkul, biasanya bakalan ngehits.


17. Storytelling


Curhatan, cerita seputar liburan, atau fiksi, masuk ke dalam tipe artikel ini.
Ini sebenarnya artikel yang paling mudah sih. Tapi berpeluang paling besar untuk membuat bosan.

Kamu mesti hati-hati kalau menggunakan tipe ini.
Ya, memang gampang-gampang susah sih.
Atau mungkin cuma saya aja ya? Hmmmm.


18. Round up dan Kurasi


Ini juga tipe artikel favorit saya banget. Hahaha.
Tinggal temukan source-source yang tepat, lalu jadikan satu dalam satu artikel.

Sebelumnya, saya teratur bikin Posts of the Month di blog ini. Berisi tentang round up artikel teman-teman blogger yang membahas seputar tips blogging, tips menulis dan tips bermedia sosial.

Di Rocking Mama, model ini juga primadona banget deh. Hehehe. Soalnya cepet nulisnya. Buat pembaca juga oke, karena biasanya topiknya ringan dan yang menghibur saja.


19. Repurposing Old Post


Artikel-artikel lama kita juga bisa di-update lho.

Saya sekarang sedang me-repurpose artikel-artikel lama di Rocking Mama. Terutama sih untuk menyesuaikan dengan standar penulisan yang sekarang, plus menambahkan berbagai elemen SEO.

Hasilnya?
Beberapa artikel lama yang di-repurpose, yang tadinya di bawah 1.000 PV, tahu-tahu melejit lho PVnya.

Misalnya saja artikel punya Ranny yang judulnya Ini Dia 7 Objek Wisata di Solo yang Paling Populer dan Murah Meriah, tadinya mungkin hanya seribu berapa gitu. Setelah saya repurpose, ternyata bisa nembus ke 10.4 K lho PV-nya.

Lumayan banget kan?



Nah, di antara 19 tipe konten yang cocok untuk blog post di atas, manakah yang sudah sering kamu adopsi, dan mana yang belum pernah kamu coba untuk tulis?

Well, ada bagusnya juga kamu nyobain nulis yang belum pernah kamu coba itu. Siapa tahu pembaca kamu suka, dan banyak nyari kan? :)

Selamat nulis!