Hae!
Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram, terus ada pertanyaan yang mampir, "Kalau bikin warna setipe itu pakai apa ya, biar konsisten?"

Jadi bikin saya teride untuk ngumpulin beberapa style feed Instagram deh jadinya. Hehehe.
Mungkin ini juga bukan bahasan baru juga sih, banyak artikel yang juga sudah membahas hal yang sama. Tapi enggak apa-apa juga. Saya mau bikin versi saya sendiri.

So, beberapa lama mengamati, ada beberapa style feed Instagram yang sering saya temui. Semoga dengan dikumpulin begini, bisa kasih kamu ide pengin nata feed Instagram kamu dengan cara yang mana. Yang pasti, temukan style kamu sendiri, yang ada di sini sekadar jadi inspirasi. 

Aturannya apa sih, biar feed Instagram bagus, hingga mengundang banyak followers atau like?

Jawaban saya: nggak ada aturan.

Ada yang bilang mesti terang, clean.
Nggak juga, banyak juga yang pakai dark mood dan followersnya banyak.

Ada yang bilang, ini lagi ngehitsnya flatlay.
Nggak mesti juga. Banyak kok yang nggak pake flatlay dan melejit.

Ada yang bilang, pakai deh warna-warna selebgram. You know, yang cokelat-cokelat rada vintage gitu. Banyak yang ngelike nanti.
No, there's no guarantee at all.

Semua adalah masalah selera. Dan sense of art itu nggak ada yang salah atau yang benar kek gimana. Setiap orang bisa dan boleh punya preferensi sendiri-sendiri.

Bagaimanapun, kalau saya amati ya--jika ada yang ngefollow baru (kalau bukan temen sendiri), biasanya mereka akan melihat dulu SATU postinganmu di Explore. Tertarik dengan fotomu--mungkin karena kontennya yang kuat, atau style-nya yang sesuai seleranya--baru mereka lihat ke profil Instagram. Nah, baru di feed Instagram, kalau kamu memang menjanjikan kualitas yang sama dengan yang muncul di Explore, baru deh mereka follow.

Saya sendiri punya kriteria follow sendiri, dan justru bukan karena style feed Instagram. Tapi konten secara keseluruhan, saya butuhin atau enggak. Saya pribadi nggak pernah mewajibkan untuk saling follow dengan teman, malahan. Nggak mutualan nggak berarti nggak teman, kan?

So, saya emang woles sih. Hahaha.

Anyway, mari kita lihat inspirasi feed Instagram berikut ini, siapa tahu bisa bikin kamu keidean pengin ngestyle yang mana.



15 Style Feed Instagram yang Bisa Jadi Inspirasi Ide


1. Garis di tengah



Feed Instagram ini biasanya bisa kamu buat dengan menaruh quote berfont warna hitam di atas background putih.

Bagus ya, rapi. Kekurangannya adalah kamu mesti posting 3 foto sekaligus, biar posisinya tetap ada garis putih di tengah itu. Kalau mau hapus 1 foto, maka kamu mesti juga hapus ketiganya.



2. Style per baris




Nah, style yang ini hampir sama sih dengan yang garis di tengah di atas. Kita akan tergantung banget dengan modul 3x3-nya Instagram.

Istilahnya, hanya untuk mereka yang niat bener-bener konsisten sih malahan :))

Saya pakai style feed Instagram ini untuk Stiletto Book dan Stiletto Indie Book. 


3. Tiles theme



Kalau saya bilang sih, ini style papan catur :))

Saya juga pake style ini untuk IG @info.rumah.dijual. Followernya belum banyak sih. Silakan lo, yang lagi butuh rumah di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya, difollow.

*selalu ada celah*

Menurut saya, ini ya masih mending ketimbang yang pake modul grid 3x3 di atas. Kalau ada foto yang mau dihapus, tinggal hapus juga foto sesudah atau sebelumnya. Feed pun sudah kembali rapi seperti semula.


4. Rainbow theme



Well, can you beat them?
Sudah pakai grid 3x3, masih pakai "aturan" warna juga. GILINGANlah ya.

Paling niat, tapi kalau discroll feed-nya juga emang beneran bagus sik. Tinggal kamu aja nih yang mesti pinter milih foto, lalu diplanning dulu pake feed planner. 

Oh ya. Kapan-kapan bahas berbagai Instagram feed planner deh. Di sini nanti saya mau bahas satu yang saya pakai. Tapi masih banyak juga tool lainnya. Next ya.


5. Puzzle theme



Yhaaa ... yang ini mah nyembah emang, sayanya.
Saya ada pakai sedikit efek puzzle ini di Instagram Stiletto Book. Tapi cuma sebaris doang juga sih. Ini mah nyebrang ke mana-mana. Hahaha. Perlu planning yang luar biasa.

Satu hal yang sering jadi kesalahan para Instagrammer kalau pake style feed Instagram ini.
Mereka sering nggak memikirkan, gimana kenampakan 1 buah foto saat melintas di timeline followernya. Karena apa? Karena puzzle-nya nggak bisa berdiri sendiri-sendiri sebagai foto mandiri.

Maksudnya gimana sih?


Kek gini misal. Nah, itu kalau nggak dilihat secara utuh di Feed kita, kan nggak keliatan barangnya apaan. Misal lewat di timeline, cuma sepotong-sepotong.

Kadang ya memang bikin penasaran. Ha tapi kalau sudahlah ga jelas--atau malah putih kosongan aja--lewat, dan terlalu banyak, ya aduh ... saya pribadi sih mending unfol aja. Atau maksimal saya mute deh. Apalagi ga ada faedahnya buat follower. Hahaha.

Style feed puzzle ini memang tricky. Silakan saja pakai, tapi sebisa mungkin pastikan setiap foto yang diposting itu bisa dilihat sebagai foto yang mandiri. Jadi lewat di timeline itu, jelas gitu. Terus setelah dilihat di feed, ohhh ... ini maksudnya.


5. Border theme







Nah, kalau yang ini, saya pribadi suka. Karena biasanya memang jadi benar-benar rapi dan clean deh, looks-nya.

Style ini lebih mudah sih, nggak perlu nurutin pola. Mau posting berapa aja, kapan aja, ga masalah. Mau dihapus juga nggak ngerepotin.

Ada yang putih seperti di atas. Ada pula yang dark borders seperti di bawahnya. Yang mana pun oke sih. Rapi.

Tapi, ada juga yang mixed border nih. Seperti ini.


Jadi mixed antara landscape dan portrait. Keren jug akan? Lucuk.


6. Rectangles



Yang ini juga mudah bikinnya.
Pastikan aja ratio aspectnya sama semua, lalu taruh di background putih. Ini feed yang tidak terlalu merepotkan :))


7. Same filter theme



Pakai Preview App Filter A8 dan C3.



Pakai Preview App Filter J3 dan F1

Nah, ini yang kemarin ditanyain yah? Biar bisa konsisten warna senada senuansa itu pakai apa?

Saya sekarang pakai Preview App. Ada beberapa filter yang disediakan di apps ini. (Cuma memang saya enggak pakai filter-filteran sih, cuma memanfaatkan untuk content planning). Nah, pilih saja salah satu filter yang kamu suka, lalu pakai filter itu terus untuk semua foto kamu.

Ini sebenarnya di setiap aplikasi editing foto tuh selalu ada. Biasanya ya namanya filter ini. Kita tinggal pilih aja. Di Snapseed juga ada. Ada juga yang pakai VSCO atau Lightroom, bukan Preview App. Bahkan di Instagramnya sendiri juga ada kan? Kita bisa pilih banyak lo! Semua filternya udah kamu keluarin belum?

Well, pankapan kita bahas khusus soal filtering ini deh ya. Walah. Jadi keidean banyak deh.

Di Lightroom namanya Preset, kadang malah ada yang jual preset-preset hasil kreasi mereka, lalu kita bisa beli, dan nanti ditambahin aja ke apps-nya. Itu kalau di Lightroom. Dan keknya preset lepasan ini cuma bisa di Lightroom ya. Di apps lain kok saya belum pernah liat. Ga tahu deh, silakan inform saya kalau ada update yah.


8. Bright Theme




Nah, style feed Instagram white background ini saya pakai di akun pribadi @carra.artworks. Nggak selalu putih sih memang. Tapi saya usahakan dominasi warna putih.

Style ini juga cenderung selalu rapi dan clean. Mau penataan komposisi berantakan juga nggak terlalu kentara, asal warna putihnya dominan.

Ini juga nggak harus selalu putih, tapi asal warnanya secara keseluruhan terang. Kalaupun ada abu-abu, hitam, ungu tua, asal nggak mendominasi, ya oke aja.



9. Dark theme



Yang ini kebalikan dari bright. Yep, banyak yang bilang, kalau cerah akan lebih mengundang untuk difollow.

Menurut saya sih enggak juga ya?
Dark theme juga menarik kok.

Kalau punya feed Instagram punya temen yang juga ber-style dark yang saya suka itu punya Ranny Afandi.

Cakep kan? Jangan keterusan scrolling ya. Ntar laper. #eh


10. Black and white theme




Yang ini juga menurut saya tingkat kesulitannya tinggi. Karena nggak semua orang bisa bikin foto black and white secara estetis. Godaannya jelas, kalau nggak kreatif bakalan monoton, dan akhirnya bikin bosan.

Sebaiknya pertimbangkan bener-bener kalau mau pakai style ini sih. Saran aja.


11. Colorful




Nah, kalau menurutmu, dengan pakai tone warna yang seragam itu membosankan, maka jangan merasa berdosa untuk membuat feed Instagram kamu lebih berwarna. Make it vibrant! Bikin yang colorful sekalian!

Cantik juga kan?


12. Monotheme




Yang jenggot itu sesuatu sekali yekan? :)) Ngekek pas pertama kali liatnya. Tapi kreatif banget!
Yang teh juga ya? Keren bats.

Saya sih sering juga menemukan ini di akun-akun bookstagrammer. Objek yang difoto dominasinya sama: buku.


13. Flatlay



Foto-foto flatlay tahu kan ya?
Yes, begitulah dominasi dalam style feed Instagram ini.

Saya juga menerapkan style ini di akun @carra.artworks. Kebanyakan flatlay karena memang pamer bullet journal dan sketchbook. Hahaha. Style ini memang cocok buat foto-foto objek benda mati sih. Dari beauty stuff sampai masakan. Gampang banget styling-nya juga. Makanya banyak yang pakai.


14. Doodles




Yang ini juga lucu yah? Ditambahin doodle-doodle gitu di fotonya. Tapi saya nggak tahu nih, bikinnya pakai apa :)) Ada yang tahu?

Lucu banget tapi. Saya juga pengin ngulik jadi beginian.


15. Color splash




Style feed Instagram yang ini juga bagus banget. Jadi ini antara grayscale dan colors gitu. Untuk objek-objek tertentu, warnanya dinaikin, sedangkan objek lain diturunin.

Kapan-kapan saya posting tutorialnya deh.


Laaaah ... Jadinya kok banyak lagi ini PRnya, hanya dari tulisan ini aja? Hahaha.
Lama-lama blog ini jadi khusus bahas pernak-pernik Instagram juga nih. Wakakak.

Hokeh. Itu dia 15 style feed Instagram yang sering saya lihat. Kamu pakai style yang mana? Males pakai style ya? Ya enggak apa-apa juga. Nggak ada yang mewajibkan juga sih.

Your Instagram, your rules.
Nggak ada yang bisa dan boleh mengaturmu sebagai pemilik akunmu sendiri yes?

Tapi, siapa tahu jadi terinspirasi setelah lihat 15 style di atas, yekan?
Yang penting lakukanlah dengan bahagia!

Do's and Dont's dalam Mengelola Akun Instagram Jika Kamu Pengin Memonetisasinya


Ada yang belum pernah punya akun di Instagram?

Keknya hampir semua orang zaman now pasti sudah punya akun Instagram ya. Walaupun nanti dalam perjalanannya, akhirnya males, menyerah, atau nggak keurus, yah ... itu sih hak masing-masing. Tapi minimal, pasti punyalah akun.

Buat yang akhirnya menyerah, yasudahlah. Mungkin kebahagiaannya tidak terletak di Instagram :D Tapi buat para bloger, biasanya Instagram menjadi salah satu media sosial yang oke untuk membangun citra--alias pencitraan, alias branding--dirinya sendiri. Banyak yang menjadikan Instagram sebagai portfolio, ajang pamer karya masing-masing, selain juga menerima kerja sama dengan pihak lain.

Dan ya, memang, di zaman marketing 4.0 ini semua yang tradisional sekarang menjadi digital, begitu pun untuk karier dan job. Prinsipnya sebenarnya sama aja sih, antara marketing bisnis dan marketing diri kamu sendiri sebagai bloger. Pan blog juga bisa dianggap sebagai bisnis. Uhuk.

Nah, buat kamu yang pengin mengelola Instagram kamu secara profesional, berikut adalah do's dan dont's-nya yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, dan juga atas pengalaman pribadi mengelola beberapa akun bisnis. Barangkali beberapa di antaranya sudah sering kamu baca atau dengar tipnya dari mereka yang lebih ahli. Tapi nggak ada salahnya saya ulang juga, just for a reminder.

Btw, barangkali ada yang bertanya-tanya pula. Ngapain Carra sok-sokan kasih tip mengelola akun Instagram? Follower baru 3000+ pun.

Yah, saya kira, pengalaman saya mengelola--let's see--ummm ... kurang lebih 9 akun bisnis milik orang bisalah dicatat pelajarannya yah. Tapi, saya juga open kok kalau ada yang mau nambahin tip mah. Nanti boleh ditulis di kolom komen.


Mau Mengelola Akun Instagram secara Profesional? Berikut do's and dont's-nya!

Do's!

1. Konsisten

Menggunakan media sosial, terutama Instagram secara profesional memang akan sangat membutuhkan konsistensi.

Konsistensi ini meliputi konsistensi kualitas, style, dan konsistensi waktu juga.

Kalau kamu sering baca-baca tip mengelola Instagram yang ada, barangkali kamu akan sering menemukan banyak yang menyarankan untuk membuat gaya feed yang konsisten. Ada yang pakai pola-pola, ada juga yang pakai tone warna, dan sebagainya.

Saran ini memang bener sih. Tadinya saya sendiri nggak terlalu percaya. Saya pikir, ah ribet amat sik. Tapi ya, kalau dilogika ya emang bener. Sesuatu yang dengan serius kamu lakukan, buahnya pasti tak akan mengkhianati. Ahzek.

Instagram tone monochromatic neutrals. Via Pinterest.


Style dan tone warna yang konsisten bisa menjadi kesempatan kita untuk membuat suatu ciri khas. Let's see. Pernah liat akun Instagramnya Janine Intansari kan? Dia punya feed Instagram yang pinkish--tone-nya merah muda. Dan itu jadi ciri khasnya.

Tone-nya Kelsey Simone beda lagi. Jeff Mindell punya tone Instagram yang colorful, dengan warna-warna vibrant. Ah, jadi ide nih. Pankapan kita kumpulin deh berbagai tone Instagram ya.

Buat ciri khas unik yang menarik secara visual. Nggak harus "seragam" secara visual juga kok. Yang penting, harus menarik. Nah, yang namanya menarik ini memang abstrak. Dan subjektif banget. Memang ini butuh waktu dan usaha observasi terus menerus dari kamu, sebagai content creator. Terus coba, cari yang terbaik. Jangan menyerah.

So, coba yang belum konsisten, dibikin konsisten (dan persisten). Buat jadwal, pakai aplikasi semacam UN UM, atau Planoly, buat bikin content plan. Postinglah seminggu 3 kali, jika kamu sulit memenuhi posting tiap hari. Asal waktunya teratur, pasti akan dapat efek yang bagus juga kok.


2. Olah bio

Di Instagram, ada fitur untuk pasang link di bagian bio. Manfaatkan fitur ini sebaik-baiknya, terutama kalau kamu punya blog, website, atau halaman di marketplace.

Saat ada produk atau postingan baru kamu bisa taruh link di bagian bio untuk memudahkan follower untuk mengakses blog, situs, ataupun lapakmu.

Selain link, profil di bio itu juga sangat menentukan. Saya pernah lo, dapat job karena si klien mencari "penulis konten" di Instagram, dan akhirnya nongollah akun saya. Hehehe.

Jadi, isi bio jangan asal ya. Saya pernah nulis sedikit tip tentang mengoptimasi profil Instagram di web Kumpulan Emak Blogger. Bolehlah disimak yah :) Siapa tahu ada yang belum dilakukan.


3. Jaga engagement

So, pasti saran yang ini juga sudah klise banget. Ada di mana-mana, tapi memang nih saya sendiri aja sering lupa kok :)) Kebiasaan, abis posting langsung tinggal ngerjain yang lain. Terus lupa. Tengok lagi kalau mau posting lagi. Udah telat, Mak! Madingnya udah terbit. #eh

Maksudnya, seharusnya sih dipantengin dulu setelah posting. Kalau ada komen, ya dibalas. Kalau enggak ada? Ya udah, enggak apa-apa, nggak usah baperlah. Hahaha.

Kalau mau sih, seharusnya kita memang yang harus memancing follower untuk bisa komen. Misalnya, kasih pertanyaan, atau minta mereka gantian sharing.

Ini juga reminder buat diri saya sendiri. Ya maklum, kadang ya ga sempet monitor. Bisa posting tiap hari aja udah syukur yah. Hahaha. Soalnya juga, pekerja kek saya ini mau nggak mau mesti menjaga eksistensi. Kenapa? Ya kalau enggak, job-nya menjauh, cyint!

Itu dia yang susah. Kadang merasa susah membagi waktu, tapi harus. Karena pundi-pundinya dari situ. Dilema banget emang. Huhuhu. Lebih seneng di belakang layar, tapi harus jaga eksistensi.
Beurad, bok!
*kemudian curhat*

Sekarang saya juga selalu ingetin diri sendiri, untuk sesekali skrol linimasa. Terus bagi-bagi jempol dan komen. Sesekali follow (dan unfollow #eh) akun lain, biar keliatan aktif.

Ya intinya, jangan cuma posting doang deh.


4. Bikin list hashtag

Nah, ini nih. Yang keempat ini, baru saya lakukan sekarang--baik untuk akun bisnis maupun akun pribadi.

Sudah tahu kan, bahwa ada hashtag terlarang? Yaitu beberapa hashtag atau tagar yang di-ban oleh Instagram. Saya juga udah nulis mengenai hal ini di web KEB.

Hal ini tuh bikin saya jadi observe lebih dalam mengenai hashtag. Akhirnya (tanpa sengaja) saya jadi punya list yang berisi beberapa hashtag yang safe, sekaligus yang potensial memberi ekspos. Saya cenderung untuk nggak memilih tagar yang terlalu populer, yang jumlah public postsnya sampe jutaan. Ya ada sih, tapi paling saya taruh satu dua aja. Tagar lainnya, saya lebih memilih tagar yang public postsnya hanya puluhan sampai ratusan ribu aja. Bahkan beberapa saja pakai yang ribuan doang.

Konon, ini span time-nya jadi lebih lama. Terbukti sih, postingan-postingan lama masih sering aja dapat like, padahal sudah berapa minggu yang lalu gitu.

Kebetulan saya juga pakai aplikasi Preview untuk bikin content plan, jadi bisa saya kumpulin sekalian tagarnya di situ. Jadi tinggal apply aja kalau lagi bikin caption.

Lumayan menyingkat waktu. Hehehe. Ini saya terapkan terutama di akun bisnis yang saya pegang sih. Akun pribadi barusan mulai pakai cara ini juga. So yeah, masih harus diobservasi sih.


5. Berbagi cerita

Saya tuh kadang penasaran, orang-orang Instagram nih asal nyekrol dan like aja, ataukah mereka juga baca caption?

Saya pernah polling ini di salah satu akun Instagram yang saya kelola. Ternyata #TimBacaCaption itu banyak juga ya. Atau mungkin yang #TimSkrolFoto pada malu mengakui? Hahaha. Entahlah.

Tapi hasil polling waktu itu tuh, #TimBacaCaption ada lebih banyak deh.

Dan memang sih, yang captionnya pake cerita itu so far kok ya yang ngelike dan ngomen juga cenderung banyak. Apalagi kalau ceritanya menyentuh atau yang bisa "menggerakkan". You know what I mean kan?

So, saya sendiri sih nggak selalu menargetkan untuk selalu punya cerita kalau di akun pribadi, pun di akun bisnis. Mau cerita apa, wong saya nggak pernah ada drama yang bisa dibagikan kok.

Hidupku lurus-lurus wae soale, gaes. Wqwqwq. Nggak ada yang antimainstream, nggak pernah dekat dengan orang toxic untuk bisa dighibahin; orangtua baik banget (dan biar Tuhan saja yang tahu betapa baiknya mereka), keluarga saya semua baik-baik saja. Mantan enggak punya selain yang sekarang jadi suami. Selingkuhan? Heleh. Malah nambahi repot.
Hahahaha.

Membosankan! Yenggak? *sarcasm detected*

Tapi adalah sekali waktu ya diusahakan ada cerita. Meski ya jadinya cerita tentang diri sendiri (meski begah juga sih rasanya). Ha tapi nggak ada yang lain jeh!
Kalau di akun bisnis, saya harus lebih banyak ngulik konten yang nonjualan. Jadilah saya punya list jenis konten yang saya gilir kemunculannya.

Ah, pekerja konten ini memang mesti nggak boleh berhenti mikir ya. Hahaha. Siapa yang bilang, pekerja konten itu "cuma gitu aja" kerjanya? Sini, boleh ikuti my daily routine deh.

Eh, jadi ide. Menarik nggak ya, kalau saya bikin cerita daily routine pekerja konten? Hahaha. Ada yang mau liat enggak sih?

So, sebenarnya ada banyak yang bisa diceritain. Kapan hari saya cerita soal ruang kerja, saya cerita soal statistik blog, dan beberapa behind the scene. Ternyata tanggapannya juga lumayan. Apalagi yang saya share di IG Story. Banyak banget yang lantas komen dan nanggapi via japri.

Seneng saya. Hehehe.

So, ke depan, semoga lebih banyak cerita bisa saya share lagi deh.


6. Analisis

Instagram Insights. Via Buffer.

Nah, sekali waktu, buat kamu yang sudah memindahkan akun Instagram pribadi ke akun bisnis, bisa deh melakukan evaluasi dan analisis terhadap akunmu sendiri.

Ada bagian Insight yang bisa kamu liat yah. Coba lihat, postingan mana saja yang mendapatkan banyak likes atau komen. Lalu analisislah, kira-kira apa yang membuatnya dapat likes atau komen banyak.

Temuanmu bisa menjadi formulamu untuk melakukan hal yang sama lagi ke depannya. Ujilah "teori"-mu ini beberapa kali, sampai kamu menemukan formula melejitkan postingan ala kamu sendiri.

Kalau kamu bisa menemukannya, wah ... udah deh. Siap-siap jadi selebgram yah :D hehehe.



Dont's

1. Terlalu banyak posting

Oke, meskipun kamu perlu membuat postingan secara konsisten, tapi sebaiknya hindari terlalu banyak juga sih.

Apalagi kalau sama semua sampai berapa akun. Ini biasanya terjadi kalau kita dapat job ya. Kadang dikasih brief dengan foto ataupun caption yang sudah jadi, tinggal posting. Nah, ini mesti hati-hati nih. Yang kayak gini, bisa banget disemprit sama Instagram.

Soal hashtag aja kadang saya ubah-ubah susunannya, meski hashtag yang dipakai itu sama. Hal ini untuk menghindari caption yang sama persis.

Ada beberapa kali kemarin saya dengar kasus, para Instagrammer mengeluh nggak bisa posting ataupun nggak bisa nulis caption. Saya sih menduga, hal ini berkaitan dengan perilaku kita juga. Saya amati, yang pernah mengalami error-error ini adalah mereka yang sering menerima job di Instagram. Ya, saya nggak mau menghakimi atau gimana sih ya? Mungkin juga observasi saya kurang jauh dan mendalam.

Tapi, ada baiknya berhati-hati jika menerima job. Pastikan tidak ada term & condition Instagram yang dilanggar.


2. Menggunakan bot

Beberapa akun Instagram memanfaatkan bantuan bot untuk membuat komentar otomatis dan mendapatkan pengikut.

Kalau kamu memang mau main Instagram secara profesional and long term, sebaiknya hindari praktik ini. Akan lebih baik jika kamu main Instagram dengan cara senatural mungkin.

Kalau kamu main safe, percaya deh. Mau Instagram mengubah peraturan ataupun algoritme kek apa pun, kamu nggak akan kena efek yang terlalu gimana-gimana.


3. Beli follower

Fake Instagram followers. Via Quora.

Yah, namanya juga usaha. Beli follower juga usaha pan?
Iyalah. Nunggu follower banyak secara natural mah lama. Keburu pengin dapat penghasilan inih.

Wqwqwq.
Well, it's your choice.
Tapi, saya sarankan sih, jangan.

Karena apa yang didapatkan secara instan, biasanya juga enggak bertahan lama. Begitu juga follower. Lagian, keliatan atuh kalau follower fake semua. Hahaha.
Kalau saya sih--terus terang--ya malu, kalau ketahuan. Semacam mempertaruhkan harga diri :)) Pun, dikira kali ahensi bodoh banget kali, sampai nggak bisa tahu kalau followernya fake semua? Hahaha.

Ya, tapi kembali lagi. Ini pilihan.

"Aku beli follower, dan jobku banyak tuh!"

Ya, silakan. Pilihan.



Nah, itu dia 9 (6 dos dan 3 dont's) hal dalam mengelola akun Instagram secara profesional. Semua balik lagi ke pemilik akun--yaitu kamu--sebagai content creator.

Menurut saya, it's all about creativity.
Kamu-kamu yang kreatif pastilah bertahan lebih lama--meski jalannya juga barangkali lebih panjang--ketimbang mereka yang hanya mengandalkan sensasi dan semua yang instan-instan.
You will get the value.

Jangan pernah meragukan dirimu sendiri deh pokoknya.

Well, sekian artikel yang sangat panjang ini :)) semoga bermanfaat.


Hae, Gaes! Lagi di tengah-tengah saya me-rewrite buku Sukses Membangun Toko Online, yang dulu pernah diterbitkan Stiletto Book tahun 2014. Terus, lagi ngabsen, produk-produk apa saja sih yang sekarang bisa di-bisnisonline-kan?

Letsee. Mulai dari makanan, baju, pernak-pernik, aksesori, alat-alat hobi, sampai komoditi besar seperti tempat tinggal alias hunian pun sekarang bisa dijual secara online.

Nggak heran sih. Menurut data rilisan wearesocial, tahun 2019 ini, diproyeksikan jumlah pengguna internet di negara kita bakalan menembus 175 juta orang atau sekitar 65,3% dari total jumlah keseluruhan. Penetrasi internet pun meningkat sekitar 13% dari waktu sebelumnya.

Hal ini menjadi bukti internet tak lagi sekadar kebutuhan tersier, tetapi sudah bergeser ke posisi kebutuhan utama. Coba sekarang siapa yang lebih panik kalau kehabisan kuota ketimbang kehabisan uang di dompet? Hahaha. Saya! Cashless sih masih bisa pakai kartu debit, atau Gopay, atau OVO. Kalau kehabisan kuota? Beugh. Mati gaya bok! :)))

Internet memang dapat membantu kita untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam hal pencarian informasi hingga berbelanja semua kebutuhan.

Makanya sekarang tuh kayak udah lifestyle aja gitu buat rangorang untuk punya "hidup kedua" di internet. Yenggak? Kayaknya setiap orang tuh sekarang selalu punya virtual life, selain real life. Bukan nggak mungkin juga, nanti lama kelamaan, setiap orang bakalan punya bisnis online-nya masing-masing.

Dan di virtual life ini juga termasuk kegiatan jual beli. Karena itu, muncullah berbagai macam situs jual beli untuk berbagai barang, misalnya situs buat beli baju bahkan sampai laman jual beli rumah. Dan nggak cuma dijual di situs aja, banyak juga yang memanfaatkan media sosial sebagai lapak bisnis jual beli rumah ini lo.

Karena perkembangan yang luar biasa inilah, makanya saya diuber-uber lagi untuk naskah bukunya. Hahaha. Doain aja lancar lagi yah.

Nah, kembali lagi ke bisnis online.
Kalau bisnis online yang lain--yang kecil-kecil semacam crafting atau aksesori--gitu sih sebenarnya sudah cukup common prosesnya ya. Pembeli pesan, transfer, penjual kirim. Tapi khusus untuk kegiatan jual beli rumah online ini memang butuh proses yang spesial, kalau menurut saya. Setidaknya, pada proses transaksinya memang lebih ribet, yekan?

Tapi perkembangan sekarang ini menarik. Biasanya kan setelah melakukan pencarian secara online, calon pembeli akan melakukan survei langsung. Menariknya, beberapa tahun lalu hanya sekitar 20 sampai 30% orang saja yang mencari rumah dijual dengan memanfaatkan internet. Tapi kini, sekitar 95% orang sudah beralih ke cara online. 

Yes, gaes, you read it right! 90% transaksi jual beli rumah sekarang dilakukan secara online! So, jelas kan ya, bagaimana peluangnya sektor ini di beberapa tahun mendatang? Pastinya kondisi tersebut sebenarnya memberi banyak keuntungan juga bagi para sales serta agent properti online. 

Memang, apa saja sih keuntungan yang bisa diraih dengan jual rumah online?

Inilah 3 keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan jual rumah lewat online

1. Lebih hemat biaya

Jika dulu memasarkan rumah dijual secara konvensional butuh cetak brosur yang banyak agar bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli, kini dengan cara jual rumah online kamu hanya perlu mengupload iklan di satu situs, lalu iklannya sudah bisa dilihat oleh jutaan pasang mata. Belum lagi kalau didukung dengan promosi media sosial yang bisa edan-edanan itu.

Ditambah, memasang iklan di situs jual beli rumah biasanya tidak berbayar alias gratis! Jauh lebih hemat biaya bukan daripada harus cetak brosur yang pada akhirnya juga akan dibuang oleh orang, yekan?


2. Teknologi virtual reality

Tak hanya biaya 0 Rupiah, seiring dengan kemajuan zaman maka pertumbuhan teknologi juga kian masif.

Salah satunya produk dari pertumbuhan teknologi yang bisa diterapkan buat jual beli rumah ialah teknologi virtual reality, yang memungkinkan orang untuk secara virtual merasakan bagaimana atmosfer serta keadaan lingkungan sekitar rumah dijual yang bakal dibeli.

Jadi calon pembeli bisa menilai apakah iklan jual beli rumah itu memang sesuai serta cocok dengan pencarian serta kebutuhan plus bujet calon buyer.


3. Bisa dipantau secara real time

Dulu, saat menggunakan brosur kamu tidak tahu seberapa banyak orang yang membaca atau malah langsung membuang sesaat setelah mereka menerima lembaran tersebut. Berbeda dengan jual rumah online, kamu bisa terus memantau berapa banyak orang yang sudah melihat, sudah klik serta tertarik dengan penawaran.

Buyer pun dapat langsung meminta kamu buat mengirimi info lebih banyak apabila mereka memang merasa butuh.



Nah. Jadi, gimana? Tertarik nggak untuk mencoba jual rumah lewat online? 

Saya sendiri sekarang juga lagi merintis bisnis di bidang ini lo, joinan sama keluarga. Doain lancar yah. Amin!


Sudah bikin konten tertulis yang cetar? Sudah juga bikin konten visual yang apik; image-image yang bercerita juga video yang keren? Sudah cukup? Hmmm. Mungkin belum. Mau cobain bikin konten interaktif?

Yang kek apa tuh, konten interaktif?
Konten interaktif itu adalah konten yang membuat pembaca langsung terlibat gitu. Misalnya polling, kuis, dan sebagainya itu loh.

Bisa emang?
Bisa banget.

Yes, konten interaktif termasuk salah satu konten yang bisa banget menarik perhatian target audience, dan bisa "memaksa" mereka untuk tinggal lebih lama di blog kita. Nah, ini nih yang bisa menurunkan angka Bounce Rate.

Sudah tahu kan, kecenderungan perilaku para pembaca online? Mereka itu kalau mau baca, nggak mau lama-lama, maunya cepet, tapi fully informed, langsung tersolusikan tanpa perlu baca lama-lama.

Ya, kek gitulah, karakter pembaca online.

Nah, konten interaktif ini bisa jadi salah satu cara untuk "memaksa" mereka untuk tinggal lebih lama.

Meski konten interaktif ini menjadi salah satu jenis konten "primadona" lantaran bisa menarik pembaca, tapi teteup ya, sifatnya suplemen alias tambahan saja. Konten utama kita tetap pada tulisan. Jadi, jangan sampai, posting cuma berupa embed polling tanpa ba bi bu. Kita mesti berpikir secara keseluruhan. Beri konten irresistible berupa tulisan, tambahkan konten visualnya, terus tambahin lagi konten interaktif. 

Sejujurnya saya juga belum pernah coba sendiri nih, konten-konten interaktif ini. Tapi kemarin sempat saya kumpulkan pas saya masih mengasuh portal mamah-mamah muda itu, demi untuk menambah kekayaan jenis konten yang disajikan. Tapi ya gitu deh, nggak sempat dipakai.

Hokeh, sebelum saya sedih lagi :)) mari balik ke topik yah.

Jadi, ketimbang sourcenya terbuang percuma karena hanya ngendon di Trello saya, maka mendingan kan saya share aja di sini. Siapa tahu ada yang mau cobain di blog. Nanti kalau benar ada yang cobain, boleh colek saya dan kasih pendapatnya ya. Saya kan kepo. Hehehe. Nanti entah saya tambahin di sini, atau bikin artikel baru lagi, kita lihat saja. Ok?

Ok. Dan, ini dia.

3 Jenis Konten Interaktif yang Bisa Ditambahkan di Blog

1. Polling



Mau bikin polling di dalem blog kamu? Bisa nih, pakai ini. Easypolls

Cara menambahkan Easypolls juga gampang banget.
Buat akun, masukkan pertanyaan-pertanyaanmu, beri beberapa opsi, dan pilih desain serta warna. Udah, itu aja!

Kalau sudah lengkap semua, kamu akan bisa lihat kode yang bisa disematkan. Jajak pendapat yang kamu buat dapat disematkan di salah satu halaman artikel di blog kamu, atau kamu dapat menautkan ke homepage.

Easypolls gratis untuk digunakan, tetapi halaman utama polling akan menampilkan iklan banner di bagian bawah. Nggak apa-apalah. Nggak terlalu mengganggu juga.


2. Online quiz


Ada yang suka ikut online quiz lucu-lucuan itu enggak sih? Kek yang sering ada di Buzzfeed, atau situs-situs sebangsanya. Yang kek, "Which Spice Girl Are You?", atau "How Minnesotan Are You?", "How Much Do You Know about Tacos?" gitu loh.

Ngerti kan?

Kamu juga bisa bikin loh.

Ada beberapa tools sih yang direkomendasikan. Salah satunya, Qzzr. Gampang banget nih, bikin pertanyaan-pertanyaannya, desainnya juga oke. Bahkan kamu dapat menambahkan gambar bekgron sendiri, ataupun nambahin gambar untuk setiap opsi multiple choice.

Nah, dulu saat saya masih ngurusin portal mamah muda itu, Qzzr ini memang ada opsi free account. Sehingga saya pernah coba, meski belum diaplikasikan ke situsnya.

Tapi sekarang sudah enggak ada produk gratisan lagi. Jadi berbayar. Tapi kita bisa free trial 14 hari. Ya, kalau sekali doang bisa sih. Hahaha. Cukup itu mah 14 hari buat kuis. Wqwqwq. Habis itu, ga usah dipakai lagi. *dikeplak, ngajarin nggak bener*

Tapi ada kok tool quiz maker lain yang free. Salah satunya Flexiquiz. Hanya saja, keknya Flexiquiz ini enggak bisa embed di blog. Paling-paling kita bisa bikin kuisnya di TKP, lalu sematkan tautan di artikel. Jadi, kurang okelah kalau buat Bounce Rate yak.

Well, coba deh nanti saya riset lagi (dan mungkin juga nyobain) tools quiz maker yang lain.
Will be updated upon nanti yah.


3. Kalkulator Online



Mungkin kamu pernah nyobain kayak kalkulator simulasi KPR, atau kalkulator kalender cina yang online gitu?

Nah, ini nih tools-nya.

Kamu bisa pakai Calculoid.

Dengan Calculoid, kamu dapat membuat halaman kalkulator khusus yang dapat memproses banyak titik input untuk menghasilkan hasil. Kamu dapat, misalnya, menunjukkan kepada pelanggan berapa banyak uang yang mereka hemat untuk beralih ke pencahayaan LED berdasarkan jumlah perlengkapan, tagihan daya bulanan, dan jam mereka menyalakan lampu.

Ya pokoknya kek Excell deh, asal kita sudah punya rumusnya, maka akan mudah untuk dibikin deh kalkulatornya.

Nah, untuk pakai Calculoid ini memang ada akun gratisannya, tapi ya gitu deh terbatas banget. Kalau yang berbayar, bisa langsung disetting untuk menerima online payment, yang gratisan enggak. Bisa dieksplor lebih jauh di bagian Pricing yah.

Oh iya, dan soal currency. Sepertinya saya baru liat euro sama dollar aja. Nggak liat rupiah dalam opsinya. Boleh dicek aja deh, kalau ada yang mau coba yah.

Next, kalau ada alternative to Calculoid, dan saya sudah coba, saya akan update lagi.



Yep, internet adalah tempat yang pada dasarnya interaktif. Mengapa menjadikan kontenmu hanya satu arah? Sepertinya, di era berikutnya, konten interaktif bakalan lebih berkembang. Tools-nya saya kira juga akan bertambah. Kita lihat saja.

Konten interaktif dapat membawa lebih banyak nilai tambah kepada audiens dan strategi konten. Kamu dapat menggunakannya untuk memulai dialog, mengenal pembaca blogmu secara lebih dekat, sambil menghibur mereka dan memberi informasi. Keren kan?

So, apakah kamu sudah siap bereksperimen dengan konten interaktif dalam blog kamu?