Ada yang sudah familier dengan Trello?
Banyak yang belum yah? Ya, saya juga baru aja kenalan kok :)

Buat para penulis, punya daftar tumpukan draf nggak sih? Atau saya aja ya, yang suka numpuk draf? :))) Karena saya penulis konten kali ya. Yang bisa saja dalam sehari saya nulis beberapa artikel sekaligus, meski juga nggak selesai saat itu juga.

Kadang sering kejadian.
Nulis artikel A, tiba-tiba terlintas ide lain. Kadang untuk nangkep, kalau pas lagi pegang laptop, ya langsung saya buka lagi dasbor draf baru dan tulis. Biasanya sih hanya sekalimat, nggak sampai 8 kata. Pokoknya simpen dulu dalam bentuk draf.

Atau, kalau pas lagi nggak di depan laptop, tulis di notes. Makanya ke mana-mana bawa notes.

Well, now, I'm using Trello.


Baca juga: How to Build Your Idea Bank: Beberapa Tools untuk Menyimpan Ide Menulis yang Paling Efisien


Bank ide buat saya itu semacam primbon. Nggak bisa kalau nggak punya. Saya ada Feedly sebagai tempat buat ngumpulin web-web atau blogs yang kontennya se-niche dengan yang saya kerjain sehari-hari. Kalau ada artikel yang oke, langsung saya save.

Nah, kalau di Feedly, kalau numpuknya terlalu banyak ya susah dicari lagi. Karena untuk menggunakan fitur search, kita mesti upgrade akun dan bayar :))) So, secara periodik, saya harus mengumpulkan semua link yang saya simpan di Feedly, ke media lain.

Trello bisa sangat membantu, karena saya suka dengan sistem boards-nya.
I will tell you how.

Silakan buka Trello (https://trello.com) dulu ya.


Seperti biasa, kalau belum signup, silakan signup dulu ya.
Selanjutnya kamu akan melihat yang seperti ini di dalam Trello.


Nah, kita akan mengumpulkan ide-ide dalam boards.
Kalau saya sih, saya bikin berdasarkan project. Kamu bisa juga membuat boards berdasarkan kategori topik.

Untuk menambah board, kamu tinggal klik saja "Create new board ..."
Dan kemudian akan muncul seperti ini.

Tulis title board-nya sesuai keinginan, lalu klik Create.


Saya baru ada 3. Sebelumnya saya mencatat ide-ide ini di Evernote. Tapi setelah ketemu Trello, sepertinya next saya akan pakai Trello saja.

Kenapa?
Karena di Trello kita bisa bikin begini.


Yeees ... Trello bisa berfungsi sekaligus sebagai checklist ide mana yang baru sekadar ide, mana yang sedang dieksekusi, dan mana yang sudah tereksekusi dengan baik.

Untuk menambahkan ide, kita harus "Add a card..."



Langsung saja ditulis di area yang disediakan (dilingkari), kalau sudah klik "Add". Nantinya kamu pun bisa menambahkan hal-hal lain yang sekiranya bisa mendukung idemu itu. Bisa kamu sertakan link artikel yang menjadi bahan referensi, atau mungkin nemu foto atau image yang cocok untuk nanti dipakai, dan seterusnya.

Cara menambahkan deskripsi gampang juga.
Klik aja pada card-nya. Lalu akan muncul seperti ini.


Tuh, kalau di gambar di atas, saya menambahkan link yang menjadi referensi. Kamu juga bisa lho menambahkan deadline atau due date. Siapa tahu kan buat lomba, atau artikel pesanan yes?
Yah, silakan saja diklik-klik, dikepoin. Kita bisa nambah image, mention team member (kalau boards-nya dishare dengan orang lain), nambah emoji dan juga bisa add card lain.

Nah, kalau ide tulisannya sedang dieksekusi, kamu bisa drag and drop card-nya ke list yang berikutnya.


Kayak gini nih, misalnya.
Yang sudah dieksekusi dan selesai, bisa didrag and drop ke list berikutnya. Dan seterusnya.

Nah, jadi jelas deh mana yang sudah dikerjain mana yang belum. Jadi semacam checklist kan?

Di bagian pinggir kanan, ada "Show menu...". Di situ kita bisa setting-setting segala macam yang berkaitan dengan boards kita.

Mau share boards dengan orang lain? Bisa juga. Kita bisa add member di sini.

Nah. misalnya saja, saya mau share boards ide ini sama Ranny Afandi, ya tinggal saya invite aja dengan memasukkan emailnya ke situ.

Trello ini juga ada apps-nya di Android. Kalau di iOS ada nggak ya? Saya kurang tahu sih. Tapi kalau lihat kepopulerannya, kayaknya ya ada sih. Coba dicek aja yah, yang pake Apple punya :)

Nggak beda jauhlah tampilannya dengan di desktop
Pengoperasiannya juga nggak jauh beda. Cukup handy-lah untuk membantu kita menangkap ide-ide yang beterbangan.

Sebenarnya masih banyak sekali yang bisa kita lakukan di Trello, apalagi kalau bekerja dalam team. Seperti penggunaan label yang bisa menolong banget untuk memberi tanda-tanda khusus, seperti misal, jangan dilaunch dulu, butuh riset lebih lanjut atau apalah apalah.

Pernah lihat di ulasan beberapa blogger luar yang pakai, dan sudah kompleks banget mereka pakainya. Hahaha.

Tapi karena saya hanya untuk kerjaan personal, saya memang belum explore dan pakai semua fiturnya lebih lanjut.

Saya juga belum selesai nih, mindahin ide dari notes ke Trello ini. Hahaha. Maksudnya, biar ngumpul aja di satu tempat. Lagian di 2 hape, saya sudah install Trello semua. Jadi seharusnya bisa bikin saya lebih produktif lagi.

Trello ini nggak cuma bisa dipakai oleh orang-orang dengan load kerjaan tinggi, atau profesional. Tapi bisa juga oleh siapa pun.

Misalnya saja, kamu penulis novel. Kamu bisa pakai Trello untuk meng-organize semua elemen cerita per boards. Misalnya, kamu bikin satu boards untuk novel terbarumu, katakanlah judulnya "Cinta Kedua". Kamu bisa menyusun list mulai dari konsep, karakter, plot, twist, riset dan seterusnya.

Kalau kamu lihat cara Dee Lestari membangun plot, kan dia pakai sticky notes tuh. Nah, dengan Trello, kamu juga bisa melakukannya, secara digital. Bisa kamu bawa ke mana-mana, malah.

Atau buat ibu-ibu, juga bisa untuk ngumpulin resep masakan nih, Bu. Kategorisasikan dalam beberapa topik, misal menu sarapan, menu MPASI, menu makan siang, dan seterusnya.

Praktis banget kan, Bu?


Baca juga: How to Build Your Idea Bank: Memaksimalkan Feedly Sebagai Tempat Mengumpulkan Ide Menulis 


Yes, itu dia acara kenalan kita dengan Trello kali ini.
Masih banyak sih, tools untuk mengumpulkan serpihan-serpihan ide yang lain yang bisa kamu pakai. Iya, saya akan berusaha ulas semuanya di sini. Bukan untuk membuatmu bingung, tapi lebih ke memberikan alternatif saja. Bahwa banyak tools yang bisa kita pakai untuk mendukung kegiatan menulis dan blogging kita. Nantinya, kamu putuskan sendiri mana yang paling oke kamu pakai, karena satu orang sama yang lain kan bisa saja beda pilihannya.

Sehingga, nggak ada lagi keluhan, "Nggak punya ide menulis." ;)



Dalam satu workshop, di mana saya menjadi salah satu mentornya, pernah diadakan tantangan. Para pesertanya (yang kesemuanya kepengin menjadi penulis) ditantang untuk menulis artikel sepanjang minimal 800 kata dalam waktu seminggu.

And you know what, beberapa di antaranya ada yang mengeluh; kepanjangan, kecepetan deadline-nya, dan seterusnya.

Saya pun dipanggil oleh mbak moderator untuk menanggapi keluhan para peserta ini.

Saya hanya bilang begini, "800 kata, itu kalau saya, paling sejam. Sudah dengan riset."

Kelas berdengung. Protes pun terlayang lagi dari berbagai sudut. "Beda jam terbang!"

Saya ketawa.

Begitulah. Mindset kita.
Padahal saya cuma pengin direspon dengan, "Dia aja bisa 800 kata sejam, saya mestinya juga bisa." Tapi kok ya, nggak ada tuh yang ngomong gitu. Hahaha.

Saya penulis, betul. Kerjaan saya tiap hari menulis, iya. Makanya saya sudah terlatih.
Kamu, pengin nulis. Baru dikasih 800 kata seminggu, udah ngeluh. Gimana latihan lainnya?

Orang terlalu terbiasa untuk membenarkan posisi diri sendiri ketika merasa ditantang. Sebelum jabanin, sudah merasa nggak bisa dulu.

Iya, Mbak. Kamu kan sudah lama nulisnya. Saya mah apah atuh, baru mulai kemarin sore.
Lha, kalau kamu mau jadi penulis, dikasih tantangan, ngeluh. Njuk kudu piye? Ya udah, bikinlah tantanganmu sendiri!

Hahahaha. Mentornya galak.

Dalam menulis, apalagi kalau kepengin menjadi profesional, sempitnya waktu akan jadi konsumsi sehari-hari. Kalau penginnya menulis dengan waktu longgar, tanpa target, bagus, terus royalti atau fee bagus, coba deh. Ada nggak kerjaan kayak gitu? Kalau ada, saya juga mau.

Sejauh ini saya kerja buat klien, target jumlah tulisan itu selalu banyak, dan pasti ada batas waktu. Kalau kita nggak bisa kejar target jumlah atau molor setor ya bhay.

Ok, ini tulisan sebenarnya sudah pernah ditayangkan di blog Mas Dani Rachmat. Tapi, kemudian saya publish ulang dengan editing.

Saya pernah membaca cerita Angela Lauria, founder Author Incubator, yang juga seorang trainer kepenulisan untuk penulis-penulis pemula. Author Incubator sendiri merupakan wadah bagi para calon penulis buku untuk melatih keterampilan menulis, dan terutama agar lebih produktif menghasilkan karya dan lebih efektif dalam mengelola waktunya.

Angela berbagi tips soal bagaimana meningkatkan produktivitas kita dalam menulis. Memang tips ini khususnya untuk para penulis buku. Tapi bisa juga diterapkan untuk menulis apa pun juga, termasuk menulis blogpost ataupun untuk para content writer.


Tips menulis dengan cepat namun tetap berkualitas



1. Kenali pembacamu


Mungkin tips ini sudah terdengar klise banget.
Tapi, memang benar. Untuk bisa menghasilkan tulisan yang fokus dan tepat sasaran ya kita harus menentukan dulu kita mau menulis buat siapa.

Ya, pembaca memang harus kita bentuk sedari awal. Bukannya menulis, terus baru pasrah, nggak tahu siapa saja yang datang.

No. Cara itu salah sebenernya.
Untuk bisa menulis dengan fokus dan tepat sasaran, pembaca justru harus kamu definisikan sejak awal.

Contoh nih. Blog keuangan kayak punya Mas Dani Rachmat.
Pertanyaan yang mesti dijawab berkaitan dengan pembaca blog adalah tips keuangan buat siapa? Para first jobber, para esmud, investor? Atau untuk awam, misalnya buat emak-emak rempong (kayak saya)? Or for singles?

Untuk blog ini pun begitu.
Saya akan menulis untuk para blogger dan penulis konten pada umumnya. Penulis buku? Ya, bisa juga, tapi nggak jadi fokus utama. Blogger pun saya nggak narget blogger pemula. Saya menarget ke blogger yang sudah pengalaman, tapi pengin meningkatkan kualitas blog.

Kenapa sasaran saya begitu?
Ya, soalnya saya juga lagi belajar di situ. Kan blog ini ada buat catatan proses belajar saya. So, apa yang saya tulis di sini tuh, udah saya terapin.

Dengan mengenali pembacamu secara lebih detail, apalagi kamu bisa sekalian "menghadirkannya" atau mengimajinasikannya untuk hadir di depanmu saat kamu sedang menulis, maka seakan-akan kamu berbicara dengannya langsung. Informasi pun akan dengan cepat mengalir keluar.

Dengan membayangkan pembaca yang hadir langsung di depanmu, kamu nggak akan galau arah tulisan akan di-ke mana-kan, karena biasanya bisa langsung dengan cepat mengalir saja.

Itu yang namanya membuat persona membaca. Kapan-kapan kita akan bahas khusus.
(Kalau nggak lupa) *dikeplak*


2. Collect your ideas


Bank ide, mutlak kamu punya kalau kamu adalah seorang penulis konten yang harus membuat tulisan yang berbeda setiap harinya.

Mengapa bank ide ini penting?
Karena kalau kita duduk dan baru mikir mau nulis apaan, itu HANYA akan menghabiskan waktu.

Ada beberapa cara untuk mengumpulkan ide:

  • Kumpulkan sambil jalan, berarti kamu harus selalu siap membawa catatan kecil supaya bisa sewaktu-waktu menangkap ide yang tiba-tiba lewat, atau unduh beberapa aplikasi catatan dalam smartphone kamu. Bisa pakai Trello, Evernote, atau Google Drive. Apa punlah.
  • Sempatkan waktu untuk duduk dan brainstorming ide.

Sesuaikan mana yang paling nyaman untukmu.


3. Repurpose content


Nah, yang ini sering saya lakukan nih. Salah satu tips jitu menulis artikel dengan cepat adalah dengan me-repurpose tulisan lama. Atau rewrite.

Kalau saya menulis guest posting, maka itu berarti saya sudah "nabung" satu artikel buat blog ini. Beberapa tulisan juga sudah saya rewrite dan repurpose, dan kemudian saya tayangkan ulang di sini.

Saya kebetulan dulu juga pernah menulis untuk satu majalah online secara borongan. Tapi entah kenapa semua konten saya tersebut sekarang di-take down.

Ya, nggak masalah sih, yang penting invoice kan sudah cair ya. Muahahaha.

Artikel-artikel yang sudah di-take down itu kemudian saya rewrite, lalu voila! Dapat 60-an artikel secara instan deh. Yay! :)))

Iya, Angela juga melakukan hal yang sama untuk buku-buku yang sedang ditulis oleh penulis-penulis didikannya.


4. Buatlah waktu untuk menulis


Bukan meluangkan waktu, menyisihkan atau malah menyempatkan diri ya. Kamu seharusnya membuat waktu.

Meluangkan waktu berarti kamu akan menulis saat ada sisa waktu setelah kegiatan yang lain.
Menyisihkan waktu berarti juga sama, kalau ada waktu kamu akan menulis. Menyempatkan diri? Lebih parah lagi. Kalau nggak sempat ya nggak nulis.

Memangnya salah?
Ya enggak! Semua tergantung kebutuhanmu. Tapi, kalau memang kamu mau profesional menjadi penulis, maka saran saya sih buatlah waktu untuk menulis.

Membuat waktu berarti kamu memasukkan kegiatan menulis kamu dalam to do list atau agenda harian kamu.
Dengan membuat waktu menulis, maka kamu akan berusaha fokus terhadap tulisan kamu, dan mengenyahkan semua hal yang mungkin mengganggu.

Logikanya, kalau kamu lebih fokus, pastinya tulisan pun lebih cepat kelar.


5. Jalin network dengan orang-orang yang tepat


Angela meng-encourage para penulisnya satu sama lain agar saling berinteraksi, saling menularkan semangat menulis.

Dan, memang. Kalau kita ngumpulnya dengan orang-orang yang sama visinya, sama passion-nya, energi kita tuh nggak bakalan habis. Ide dan daya kreativitas kita akan adaaa aja.

Pun ilmu dan wawasan kita juga akan bertambah. Pokoknya saya mengamini banget soal positivity yang akan kita rasakan kalau kita deket-deket dengan orang-orang yang juga punya aura positif.

Biarkan saja kalau dibilang sok eksklusif karena pilih-pilih teman atau pilih-pilih komunitas untuk diikuti. Lakukan saja, demi kewarasan!


6. Pilih dan ikut kelas menulis


Mengikuti kelas menulis (yang kredibel) akan sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan menulis kita. Setidaknya, kita akan punya mentor yang akan memberitahu mana yang harus diperbaiki, yang juga pasti dengan senang hati akan mengingatkan kita untuk lebih fokus terhadap target kita sendiri.

Jangan sampai terjebak kelas nulis bodong, ya! Kelas-kelas yang cuma meminta bayaran tanpa memberikan nilai tambah buat kita.

Gimana caranya tahu kelasnya kelas bodong?
Gampang sebenernya.

Kalau materi kelas nulis tersebut bisa saya dapatkan dengan gratis hanya dengan googling, sedangkan saya harus bayar untuk mendapatkannya di kelas tersebut, maka kelas itu nggak layak untuk diikuti. Makanya kita harus tahu dulu materi apa yang akan diajarkan.

Lihat pemateri. Kalau pematerinya nggak lebih hebat dari saya, ya buat apa saya ikutan kan? Nggaaak, maaf ya, ini bukan belagu. Tapi logis dong. Kan saya mau belajar, ya pasti harus dari mereka yang punya kelebihan dibanding saya. Iya nggak sih?

Misalnya, kalau kelas menulis buku, apakah buku yang ditulis oleh sang pemateri jumlahnya sudah lebih banyak dari buku saya?

Bagaimana penjualannya, ini bisa dilihat dari banyak cara sih, salah satunya dengan melihat kepopulerannya di media sosial.

Atau kalau pelatihan menulis konten, ya apakah dia sudah berpengalaman lebih?
Ya pokoknya harus kepo maksimal dulu deh sama pematerinya.


7. Terbiasalah dengan tantangan


Yang terakhir ini sebenarnya nggak ada di tipsnya Angela sih. Saya tambahin sendiri.

Tapi, kamu setuju nggak? Apa pun itu, kalau ada tantangannya, pasti lebih exciting.
Betul?
Makanya, jangan komplen duluan kalau ada tantangan. Jabanin dulu, urusan belakang.
Mindsetnya itu loh.

Kalaupun nggak ada tantangan dari luar, kita juga bisa kok nantangin diri sendiri.
Kayak saya, misal, pernah narget tiap hari nulis 1 artikel. Pernah juga setiap weekend 8 artikel. Berubah-ubah terus.
Iya, soalnya saya juga pembosan.
Kalau tantangannya kayak gitu terus, lama-lama ya bosan.

Kalau udah gitu ya, bikin tantangan baru lagi. Hahaha.

Tantangan akan membuat kita terpacu untuk bisa do more, better.


Nah, itu dia cara meningkatkan skill menulis dan juga cara menulis dengan lebih cepat dan efisien ala Angela Lauria, sang founder Author Incubator.
Selanjutnya ya tergantung niat masing-masing sih.

Yah, kepenginan itu memang bisa saja banyak. Tinggal benar-benar niat apa enggak. Gitu aja sih.
Saya kadang juga masih ada rasa malas kok. Capek. Bosan. Jenuh. Endebre endebre. Wajarlah. Saya tetap menikmatinya meski lagi bosan.

Iya, maksudnya ya saya nikmati saja rasa bosan itu.

So, sampai ketemu di artikel selanjutnya ya :)





Hae!

Sorry, saya harus mengabaikan blog ini selama beberapa minggu. Semua karena kesibukan saya di dunia nyata.

(((dunia nyata)))

Kadang-kadang memang kita akhirnya harus memilih ya, untuk fokus dulu ke satu titik. Saya sih kemarin sudah mencoba untuk jangan sampai nggak update blog, tapi ternyata, malah jadi mengganggu konsentrasi saya untuk proyek yang lain dan lebih penting.

So, akhirnya saya meliburkan diri sejenak. Meski pekerjaan online yang lain sih teteup, karena memang soal komitmen sih.

Saya masih ada satu proyek penulisan buku yang sudah 6 bulan terkatung-katung. Hahaha. So yeah, gitu deh. Saya agak mengurangi intensitas kegiatan yang nggak perlu.

Ah, sungguh opening yang membosankan. Wkwkwkwk. Ya sudahlah.

So, mari kita ngomongin blogging lagi.
Lihat judulnya ya? Well, ini pastinya bukan karena Carolina Ratri rules the blogsphere ya. Tapi ... hummm ... apa ya? Just a little observation, perhaps. Toh akhir-akhir ini saya juga sudah makin jarang terlibat di kegiatan blogsphere yang meriah ini.

Tapi, dengan begitu, justru saya jadi kayak pihak luar yang bisa dibilang cukup objektif mengamati. Ciyeehhh.

Saya mau nanya.
Dulu, saat mau mulai ngeblog, apa saja sih yang dipersiapkan?

Nggak ada?
Langsung aja sign up di wordpress atau blogspot atau tumblr?

Sama dong kita. Toss dulu!

Tapi, ternyata itulah kekeliruan kita sebagai blogger pemula.
Saya menyebutnya sebagai "kekeliruan" instead of "kesalahan". Karena sebenarnya disebut salah, juga enggak terlalu salah juga sih. Hanya saja, kalau saja kita bisa memikirkannya lebih dahulu, barangkali kita akan bisa gain lebih banyak hal.


Baca juga: Checklist 17 Hal yang Harus Kamu Lakukan dan Pahami Kalau Mau Menjadi Blogger Serius


Ya, pada awalnya kita ngeblog secara impulsif saja. Tanpa mikir. Pokoknya saya pengin bikin blog, yang kayak Raditya Dika (kalau kamu fans-nya blog Raditya zaman dulu).
Kalau saya siapa ya, dulu yang meracuni saya akhirnya mendaftar ke wordpress? Kok saya lupa. LOL.

Oh well. Ya, itulah kekeliruan kita sebagai blogger pemula.

Seharusnya, kita nih mengerti dulu beberapa golden rules of blogging, kalau memang pengin  seperti yang saya amati dari para blogger luar yang lebih sukses dan lebih dulu profesional ketimbang kita.

Apa saja golden rules of blogging itu?



1. What is blogging all about?


Image via Mashable

Rules #1 harus selalu diingat, bahkan jika sekarang kamu sudah meraih sukses sebagai blogger.

Kita semua punya tujuan ngeblog kan? Apa tujuanmu ngeblog? Menuliskan progres tumbuh kembang anak? Menuliskan perjalanan-perjalananmu ke sudut-sudut dunia? Berbagi pengalaman sehari-hari?

Tujuan ngeblog satu blogger dengan yang lain berbeda. Masing-masing punya goals pula yang berbeda-beda. Kamu mungkin pengin dapat penghasilan dari blog. Mungkin kamu pengin mengedukasi netizen tentang suatu hal.

But whatever it is ...

Akhirnya, seiring waktu, kamu akan harus belajar dan menyadari, bahwa apa pun tujuan kamu ngeblog itu ternyata nggak terlalu penting. Kamu bisa saja punya 1001 cerita untuk ditulis.

Tapi pada akhirnya, kamu hanya akan tergantung pada pembaca.

Berapa banyak pembaca yang akan datang padamu? Berapa banyak pembaca yang meninggalkan komen di artikelmu? Berapa banyak pembaca yang ngeshare artikel kamu?

Pembaca, pembaca dan pembaca.

Pada akhirnya kamu akan sadar, bahwa audience's goals-lah yang akan menentukan kesuksesan blog kamu.

Apa tujuan pembaca datang ke blogmu?
Karena kamu minta datang? Nooo ... mau seberapa banyak kamu bisa minta orang datang? Sehari satu dua, mungkin bisa. Tapi kalau kemudian kamu lihat ada yang pamer pageview ribuan per hari, apa kamu nggak baper?

Uhuk.

Seneng kan, kalau banyak yang datang? Yes.
Seneng kan, kalau ditinggalin komen? Pasti.
Seneng kan, kalau tiba-tiba ada yang kirim email, dan bilang, bahwa kamu sudah menawarkan solusi pada masalah yang sedang mereka alami?

So, tujuan awal kita ngeblog itu nggak berarti lagi. Yang harus kamu pikirkan adalah tujuan pembaca saat mereka datang ke blog kamu.

Dengan sudah menentukan audience blog kita sedari awal, maka nantinya dengan mudah pula kamu akan membentuk pembaca loyal, dan "membangun komunitas" blogmu sendiri.

Dengan punya massa sendiri, wah ... pastinya akan lebih mudah untukmu meraih sukses kan?


2. Don't start all alone


Image via Writing With Hope

Kamu barangkali akan perlu bergabung dengan beberapa komunitas blogger besar, untuk networking, untuk kenalan dan gaul.

Kalau dulu, pas blogger masih belum banyak, hanya dengan mengandalkan blogwalking para blogger sudah saling terhubung satu dengan yang lain. Saya ngalamin banget nih, tahun 2006 - 2007 gimana hangatnya hubungan para blogger ini. Masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri, mampu stand out.

Apalagi kalau khas banget. Sebut saja Yessy Muchtar (masih ngeblog nggak ya, beliau ini?), Tikabanget, Chichi Utami, Chika Nadya, Om Nh Her (kalau yang ini masih ya, sampai sekarang).

Sekarang?
No, you can't start all alone.

Kamu akan perlu sparing partner, kamu perlu belajar dari para mastah, kamu perlu tahu blogger yang onoh dan yang enih.

Setidaknya, dengan tidak sendiri kamu akan mendapatkan:

  • Support, surround yourself with positive people and you will get the support you need. Support ini nggak bisa disepelekan lho. Saya sendiri punya beberapa orang teman dekat yang juga blogger. Dari mereka, saya mendapatkan support yang saya perlukan. Karena, terus terang, orang-orang di circle saya di dunia nyata nggak semua ngerti dengan yang saya kerjakan. So, saya mendapatkan semangat dan support hanya dari teman-teman dekat ini.
  • Feedback, yang sangat saya perlukan untuk memperbaiki kualitas konten. Saat mereka menanyakan sesuatu, atau mengoreksi bagian per bagian konten, semuanya itu saya catat. To be honest, saya juga nggak suka kritik. Tapi, saya berusaha memahami bagaimana rasanya menjadi pembaca. Para pemberi kritik adalah pembaca. Sehingga ya kalau saya mau pembaca suka dengan konten yang saya buat, mau nggak mau saya harus menerima kritik tersebut.
  • Knowledge, jelas bisa kita dapatkan dari orang lain. Saya sendiri banyak belajar dari orang, baik dari ilmu yang di-share (langsung atau tulisan), maupun dari kesalahan yang orang buat. Saya mencatat, wah, si A ini kok bikin kontennya begini ya. Kayaknya kurang pas. Kalau saya bikin begitu gimana ya? Orang akan suka bacanya nggak ya? Yes, saya mah sering banget gitu. Hahaha. Eksperimen. Dengan begitu, saya nambah pengetahuan. Oh yang begini orang suka, yang begitu kurang cocok. Dan seterusnya.
  • Kolaborasi, yang sekarang makin ngehits yes? Dengan kolaborasi, banyak keuntungan pula yang kamu dapatkan, di antaranya traffic exchange. Tukeran traffic. Tapi harus hati-hati. Sekarang saya lihat, di beberapa titik muncul kebosanan karena topiknya hampir seragam. Dengan orang yang sama, lama-lama juga trafficnya akan mentok. So, kalau mau kolaborasi pastikan untuk juga tetap kreatif. Guest blogging juga merupakan salah satu bentuk kolaborasi lho. Baca artikel saya soal guest blogging ini deh.


3. Optimize BOTH for readers and search engines


Image via The Next Web

Akhir-akhir ini saya benar-benar baru menyadari betapa saktinya Mbah Google mendatangkan pengunjung ke web.

Tadinya saya agak skeptis sih. Ya mungkin karena saya belum membuktikan sendiri. Ternyata setelah mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan serius, saya baru tahu deh betapa SEO ini nggak bisa diabaikan.

Skeptisnya saya beralasan sebenarnya. Karena saya sebelumnya hampir selalu menemukan konten gaje dengan keyword stuffing yang enggak banget. Sebel kan ya, nemu konten yang kayak gitu? Udah iklannya banyak, ternyata nggak ngasih info yang saya butuh, atau malah yang kentang. Padahal ada di daftar teratas Google loh.

Hingga sejak sekitar setahun belakangan, saya belajar untuk bisa optimasi both for my readers and for the search engine. Gampang? Iya, gampang banget! *sarcastic-detected*

Bahwa antara Google dan pembaca yang membutuhkan informasi itu saling berkaitan. Google bisa mendatangkan pembaca, sedangkan pembaca akan menentukan seberapa bagus posisi kita di Google. Iya nggak sih? CMIIW.

So, please. Banyak blogger terlalu abai pada SEO (yang kemudian baper saat ngeliat blogger lain PVnya banyak), sedangkan blogger yang lain lagi nggak peduli pada pembaca.

In my opinion, kita harus somewhere in the middle. Kita harus memperhatikan SEO, meski yang paling basic, namun jangan sampai melupakan user experience.

Ini harus sudah sejak awal ngeblog kita lakukan.
Oh well, saya pun memulai dengan yang salah saat memulai Rocking Mama. Tapi nggak ada kata terlambat. Rencana sih saya mau me-repurpose artikel-artikel awal agar lebih SEO friendly pelan-pelan.


4. Pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai setelah publish


Image via SalesQuants

Coba ya, buat yang sekarang sudah sering terima job review atau jenis monetizing blog yang lain, saya mau nanya. Pedoman apa yang kamu gunakan untuk mengukur suksesnya artikel kamu?

Pageview.
Jumlah share.
Jumlah komen.

Yes.
Dan kapankah semua itu kamu dapatkan?
Setelah artikel publish, yes?

Jadi, meski memang bagus enggaknya sebuah konten (sehingga mendatangkan traffic, share dan komen) itu sangat tergantung pada proses pembuatannya, tapi pekerjaan yang sesungguhnya dimulai tepat pada saat kamu pencet itu tombol 'publish'.

Content promotion, that's right. Itulah yang harus kamu lakukan. Bagaimanapun media sosiallah yang menjadi alatmu untuk mempromosikan konten. Memang sih, bisa saja kamu diemin aja itu konten setelah publish. Tinggal pasrah saja diindeks oleh Google.

Tapi, mungkin, mungkin lho ya, hasilnya akan lebih baik saat kamu juga mendukungnya dengan promosi konten. 

Saya pernah agak-agak skeptis dengan sharing di media sosial. Saya pernah malas share di medsos, karena saya anggap kurang efektif mendatangkan traffic ke portal sebelah. So, beberapa waktu yang lalu saya pernah sama sekali nggak pernah pegang medsos. Medsos saya serahkan pada internship yang memang direkrut khusus. Semakin lama, angka reaching dari medsos makin menurun dan menurun.

Saya pun penasaran lagi. Kok menurunnya drastis banget ya?
Kemudian, saya coba pegang medsos lagi. Dengan caption yang lebih catchy, ternyata masih lumayan juga tuh bawa traffic. Ya, meski nggak sebanyak yang dari organic search sih sekarang. Tapi lumayanlah, dapat puluhan klik dari sekian ratus reach. Mayan bangetlah pokoknya. Daripada nggak ada. Wkwkwk.

Saat kamu rada-rada desperate dengan traffic, maka satu visit pun akan berharga. Trust me.

Cara yang masih jarang dicoba untuk content promotion oleh para blogger di Indonesia adalah dengan membangun email list. 

Nah, ini nih golden rules selanjutnya.


5. Bangunlah komunitasmu sendiri


Image via LinkedIn

No, ini bukan berarti kamu harus membangun komunitas blogger macam Emak-emak Blogger atau Warung Blogger atau apalah itu. Artinya, seharusnya nih, sejak kamu mulai ngeblog, milikilah goal untuk mempunyai basis massa tertentu.

Wuih, macam ormas aja nih. Basis massa.

Tapi, bener loh, ini nggak bisa disepelein. Dengan menjadi influencer di antara massamu sendiri, maka kamu bisa membentuk komunitas dari blogmu sendiri.

Misalnya nih, Mbak Lusi Tris dengan tutorial DIY-nya. Kalau beliau mau mulai membangun email list-nya sekarang, bukan nggak mungkin nanti akan ada sekelompok ibu-ibu yang gemar DIY, yang rutin ngadain kopdar, yang rutin bikin bazaar online, misalnya. Dan lain-lain.


When you have a list of people that have given you their email address, you have an audience on demand. (Maikel Michiels, blogger of maikelmichiels.com)

Yeahhh.
Bayangkan, kamu punya sekelompok orang yang dengan sukarela menyerahkan alamat emailnya agar bisa update blog kamu secara otomatis. Mereka pasti nantinya juga nggak keberatan kamu kirimin promosi kan?

Bayangkan engagement yang bisa kamu bangun dengan mereka.
Saya punya beberapa member emailing list yang memberikan feedback atas newsletter yang saya kirimkan. Mereka bertanya beberapa hal tentang penulisan konten dan blogging. Dan, pastinya, saya nggak bisa mengabaikan mereka kan?

Dan, jika mereka puas dengan engagement yang kita lakukan, sudah pastilah mereka akan menjadi pembaca loyal.

Saya juga sedang membangun email list ini nih sekarang. Telat sih, tapi daripada enggak sama sekali. So, buat kamu yang nggak pengin ketinggalan update blog ini, jangan lupa subscribe di panel email list di atas sana yes? 

Dengan mendaftar newsletter, kamu akan mendapatkan bundling artikel blog selama sebulan PLUS beberapa artikel lain yang terpilih dari teman-teman blogger saya yang lain, yang pastinya membahas seputar penulisan konten dan tip-tip ngeblog lainnya.

Ohiya, saya juga akan bahas tentang Newsletter dan Email List ini nanti kapan-kapan.



Well, itu dia 5 golden rules of blogging yang harus kamu pahami dulu sejak awal kamu mulai ngeblog. Yah, meski mungkin baru kamu sadari sekarang sih itu nggak masalah juga kok. Nggak akan terlambat untuk memulai kapan saja.

Yossshh, itu aja dulu untuk sekarang. 
Kapan-kapan kita akan sambung dengan topik lainnya ya.