• Home
  • About
  • Daftar Isi
  • Konten Kreatif
    • Penulisan Konten
    • Penulisan Buku
    • Kebahasaan
    • Visual
  • Internet
    • Blogging
    • Marketing
    • User
    • WordPress
  • Media Sosial
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
  • Stories
    • My Stories
    • Featured
    • Freelancer
  • Guest Posts
Diberdayakan oleh Blogger.
facebook twitter instagram pinterest Email

Carolina Ratri



Ngerasa nggak, kalau akhir-akhir medsos makin berasa kurang nyaman? Twitter, WhatsApp, terutama Facebook. Enggak ya? Ya, mungkin saya aja sih.

Makin gerah. Makin nggak nyaman.
Terusnya, gimana? Males buka Facebook?

Jangan!
Kenapa nggak dibikin Facebook-nya lebih bermanfaat? Bisa kasih motivasi menulis, kasih kamu berita yang cakep-cakep, tulisan yang oke-oke, yang memang layak untuk kamu simak.

Gimana cara? Nge-unfriend? Enggak, sampai detik ini, saya nggak pernah meng-unfriend siapa pun. Kalau di-unfriend sih iya. Wakakakak. Eh, tapi itu jujur. Beneran. Kalau di-unfriend saya udah beberapa kali. Nggak tahu sih kenapa. Ada yang saya tanya, kenapa, tapi nggak dijawab. Yahhh, ya sudahlah ya. Dalam hati saya meminta maaf kalau salah. Sungguh, saya nggak pernah sengaja.

Yasud. Nggak mau bahas itu.
Tapi, bagaimana cara 'menyulap' Facebook menjadi feed yang bisa mendukung hobimu, pekerjaanmu, atau apa pun yang kamu minati. Bahkan, kalau kamu memang suka hujatan ya, itu juga bisa kok kamu tampilin semua di beranda Facebookmu. Hahaha. Nggak, ya kasarannya sih gitu :P

Kamu cuma perlu tahu beberapa Facebook hacks yang penting.
Eh, sebentar. Sebelumnya kamu mesti paham dulu soal algoritma Facebook ya.


Mengenal algoritma dasar Facebook



Jadi begini, Facebook memang punya algoritmanya sendiri. Seperti apa, ya itu dirahasiakan sih. Tapi kurang lebih bisa kita amati sebenarnya.

Pada prinsipnya, sepemahaman saya nih ya, kalau meleset mohon dikoreksi, algoritma Facebook hanya akan menyediakan informasi dari teman, Facebook Page ataupun lainnya yang memang sudah berinteraksi dengan kita, yaitu jenis post/status/thread yang pernah kita komen, share, ataupun like.

So, kalau kamu sering nge-like quote-quote motivasi, ya yang kayak gitulah yang disuguhkan oleh Facebook ke news feed kita pertama kali. Kalau kamu sering ngeshare tips-tips DIY, ya yang kayak gitulah yang disiapkan Facebook untuk kita.

Lha, kalau kamu sering ikutan 'war' atau melakukan persekusi pada orang lain? Ya, yang kayak gitulah yang muncul.

Kita ngeklik jenis berita tertentu, maka berita sejenis lain pun akan dimunculkan oleh Facebook untuk kita.

Bahkan, jika kamu menatap foto selfie orang yang sedang senyum lebar lebih lama pun, algoritma juga akan bisa menangkapnya lho.

Lebih lengkap soal algoritma Facebook, Social Media Examiner membahasnya lebih detail loh. Sila baca yah!

Dan iya, itulah alasan saya mengapa saya nggak sembarangan ngeshare, ngomen, bahkan nge-like sekalipun semua thread dan postingan yang bernada negatif. Apa pun itu. Meskipun atas nama membela soal prinsip. Meski saya sepihak pun. Nggak pernah saya like, komen or share.
Tapi ya, namanya manusia. Saya masih suka kepo. Jadilah stalking ke status orang yang lagi perang. Dan, itu juga mengganggu stabilitas feed Facebook saya juga, terus terang. Wkwkwkwk.
Yah, nggak papa. Setidaknya nggak banyak-banyak amat kalau saya ngelike, ngomen or ngeshare.

So, buat kamu, yang mengaku buzzer, hati-hati kalau ngomen, ngelike or ngeshare ya. Kalau kamu terbiasa baca or mengikuti berita negatif, bisa terlacak loh oleh ahensi.

Anyway, balik lagi ke Facebooknya deh.

Dan, sejak update Facebook soal algoritma ini, Facebook memang makin banyak men-deliver status dari teman, keluarga dan kenalan ketimbang Facebook Page.

Nah, masalahnya, nggak semua update dari teman, keluarga dan kenalan itu penting.
Huahahaha. Iya nggak sih? Kalau saya mah iya, soalnya. Kalau teman, keluarga dan orang-orang terdekat mah saya biasanya kalau memang butuh update, langsung tanya aja via japri. Toh, sekarang juga banyak WhatsApp grup sama temen-temen deket.

Otomatis, saya nggak terlalu update status memang.

Tapi, saya nggak bisa membiarkan Facebook sia-sia. Karena, sebenarnya, sejak dulu Facebook selalu menjadi sumber ide buat saya. Tapi sungguh, perkara-perkara akhir-akhir ini bikin GERAH. Malesin.

So, gimana caranya mengembalikan Facebook menjadi sumber inspirasi?
Begini caranya.



Beberapa Facebook hacks yang perlu kamu tahu, agar Facebook kamu bisa kembali menjadi sumber inspirasi


1. Berinteraksilah dengan penuh pertimbangan


Misalnya begini.
Kalau kamu pengin post-post dari Rocking Mama untuk lebih banyak muncul di Newsfeed atau beranda Facebook, maka make sure kamu selalu ngelike, ngomen or ngeshare apa yang ditampilkan oleh Facebook Page-nya.
Ingat ya, yang diposting oleh Facebook Page-nya. Bukan dari webnya langsung.

Kadang soalnya pada salah mengerti.

Ganti "rocking mama" dengan nama facebook page lain yang sesuai dengan minatmu. Itu sekadar contoh saja.

Misalnya nih, saya pengin supaya postingannya Neil Patel selalu nongol di newsfeed saya. Maka, saya pun, entah itu ngomen, ngelike or ngeshare, postingan Facebook Page-nya. Bukan dari webnya langsung.

Dengan begini, kita pun "memberi informasi" pada Facebook, jenis status, postingan, artikel, atau thread apa yang kita minati atau inginkan.

Lambat laun, tanpa perlu kamu apa-apain lagi, Facebook akan memberikan informasi yang lebih masuk ke selera kamu.

Makanya, jangan sampai kamu berinteraksi dengan konten yang "tidak menarik" atau "not worthwhile". Jika kamu menemukan berita yang enggak banget, kamu bisa klik Hide Post, supaya Facebook nggak memunculkan berita sejenis lagi di Newsfeed-mu.

Misalnya kayak gini. Klik tanda panah ke bawah dari post yang ingin kamu sembunyikan, klik. Lalu pilih Hide Post.

2. Ubah Newsfeed hanya menampilkan posts yang kamu minati


Tanpa perlu susah-susah, kamu bisa memfilter feed yang akan masuk ke beranda Facebook-mu.

Dari bagian atas, dekat icon tanda tanya kan ada tanda segitiga menurun kan? Nah, itu diklik. Maka akan muncul menu untuk setting, privacy dan lain-lain.

Klik "Newsfeed Preferences".



Lalu akan muncul popup. Ada pilihan "Prioritise who see first" kan?

Kalau itu diklik, maka akan muncul daftar nama teman-temanmu.
Kamu bisa langsung klik ke foto profil masing-masing, untuk kasih mereka bintang. Kalau bintangnya muncul di profil teman-temanmu itu, maka next kamu update newsfeed, maka postingan merekalah yang akan muncul duluan.

Atau kamu hanya mau lihat postingan dari Facebook Pages saja?
Bisa.

Masih di popup yang sama, di bagian kanan atasnya ada option "All". Iya kan? Nah, itu diklik, lalu pilih "Pages Only".

Bintangin yang mau kamu prioritaskan kemunculannya di Newsfeed


3. Unfollow feed yang kamu rasa kurang menarik


Trik yang satu ini barangkali sudah pada tahu sih ya.
Fitur unfollow cukup helpful untuk meng-hide feed tertentu yang tidak ingin kita lihat.

Tinggal klik saja panah ke bawah itu, lalu klik Unfollow.


Saya sendiri sangat jarang menggunakannya. Iya, serius sih. Kalau nggak kebangetan saya nggak unfollow. Saya mending menggunakan filter seperti poin 1 dan 2 untuk mengatur feed dalam beranda.


4. Jalan-jalan ke feed khusus Facebook Page


Untuk beberapa Facebook Pages saya memang nggak kasih bintang.
Tapi kalau saya mau lihat updates dari mereka, saya pun berjalan-jalan ke newsfeed "Pages Feed".



Kamu akan bisa browsing hanya di Facebook Pages yang memang sesuai dengan minatmu di sini.


Kalau saya pribadi sih saya penuhi dengan feed dari Facebook Pages seputar blogging tips dan parenting terutama. Ya, apalagi kalau bukan buat kerjaan.


5. Atur iklan yang muncul di Newsfeed kamu


Ya, iklan Facebook sekarang memang semakin banyak saja.
Dan, kamu juga bisa "membantu" Facebook untuk memilih iklan mana yang bagus dan mana yang nggak relevan.

Kamu bisa mengaturnya di Facebook Advert Preferences ini.

Atau kamu juga bisa mem-filter iklan atau sponsored post dari Newsfeed kamu.


Caranya adalah dengan ikut memberikan feedback saat ada Sponsored Posts muncul di beranda. Either klik "Hide advert" untuk iklan yang kamu nggak suka, atau klik "This advert is useful" agar Facebook bisa menampilkan iklan sejenis lebih banyak dalam newsfeed.

Saya sih sudah beberapa kali klik "This advert is useful", dan memang iya kok. Iklan di beranda Facebook saya selalu iklan yang saya butuhkan.


6. Create your list of friends


Yah, kalau sudah "memenuhi" newsfeed dengan update-an Facebook Pages yang sesuai dengan minat, kadang memang ada beberapa orang teman yang saya butuhkan juga update postnya di Facebook.

Maka kita pun bisa membuat list of friends versi kita sendiri.
Tahu list yang ada di Twitter kan? Mengumpulkan akun-akun tertentu dalam satu list, yang kemudian bisa kita lihat update-nya dalam sekali klik aja?

Ya, Facebook list juga begitu. Sama.
Cara bikin list-nya gampang kok.


Di bagian "Explore", cari "Friend lists" seperti gambar di atas. Klik, kemudian muncul beberapa list kan yah. Biasanya berdasarkan groups yang kita ikuti.

Di bagian atas ada "Create list" kan ya.

Tinggal masukin aja nama-nama teman yang memang kamu ingin masukkan ke list

Nah, mungkin memang sebagian Facebook hacks di atas memang sudah kamu ketahui sih. Tapi barangkali kamu baru nyadar, kalau ternyata semua fitur itu bisa kamu manfaatkan untuk membangun newsfeed Facebook yang lebih baik dan lebih nyaman untukmu.
Buat penulis seperti saya gini, kan butuh banget "makanan otak" yang baik. Yang bisa bikin saya menulis lebih baik, pun menambah wawasan lain yang juga lebih baik.

Dengan Facebook hacks di atas, newsfeed Facebook saya jadi nyamaaan banget :D




Jangan sia-siakan kehadiran media sosial hanya sebagai penebar kebencian, kata-kata negatif, dan semua-mua yang nggak enak dan nggak sedap dipandang.

Ingat, jejak digital itu akan ada selamanya.
Jangan kotori dirimu sendiri.
Rugi banget.

Apalagi buat ibu-ibu yah. Pastikan jejak digitalnya bagus, karena suatu hari nanti anakmu akan menelusurinya.

Oh iya. Artikel ini juga termasuk dalam "How to Build Your Idea Bank".
Sampai ketemu di artikel dalam seri yang sama berikutnya yak.
Share
Tweet
Pin
Share
31 comments


Ada yang sudah familier dengan Trello?
Banyak yang belum yah? Ya, saya juga baru aja kenalan kok :)

Buat para penulis, punya daftar tumpukan draf nggak sih? Atau saya aja ya, yang suka numpuk draf? :))) Karena saya penulis konten kali ya. Yang bisa saja dalam sehari saya nulis beberapa artikel sekaligus, meski juga nggak selesai saat itu juga.

Kadang sering kejadian.
Nulis artikel A, tiba-tiba terlintas ide lain. Kadang untuk nangkep, kalau pas lagi pegang laptop, ya langsung saya buka lagi dasbor draf baru dan tulis. Biasanya sih hanya sekalimat, nggak sampai 8 kata. Pokoknya simpen dulu dalam bentuk draf.

Atau, kalau pas lagi nggak di depan laptop, tulis di notes. Makanya ke mana-mana bawa notes.

Well, now, I'm using Trello.


Baca juga: How to Build Your Idea Bank: Beberapa Tools untuk Menyimpan Ide Menulis yang Paling Efisien


Bank ide buat saya itu semacam primbon. Nggak bisa kalau nggak punya. Saya ada Feedly sebagai tempat buat ngumpulin web-web atau blogs yang kontennya se-niche dengan yang saya kerjain sehari-hari. Kalau ada artikel yang oke, langsung saya save.

Nah, kalau di Feedly, kalau numpuknya terlalu banyak ya susah dicari lagi. Karena untuk menggunakan fitur search, kita mesti upgrade akun dan bayar :))) So, secara periodik, saya harus mengumpulkan semua link yang saya simpan di Feedly, ke media lain.

Trello bisa sangat membantu, karena saya suka dengan sistem boards-nya.
I will tell you how.

Silakan buka Trello (https://trello.com) dulu ya.


Seperti biasa, kalau belum signup, silakan signup dulu ya.
Selanjutnya kamu akan melihat yang seperti ini di dalam Trello.


Nah, kita akan mengumpulkan ide-ide dalam boards.
Kalau saya sih, saya bikin berdasarkan project. Kamu bisa juga membuat boards berdasarkan kategori topik.

Untuk menambah board, kamu tinggal klik saja "Create new board ..."
Dan kemudian akan muncul seperti ini.

Tulis title board-nya sesuai keinginan, lalu klik Create.


Saya baru ada 3. Sebelumnya saya mencatat ide-ide ini di Evernote. Tapi setelah ketemu Trello, sepertinya next saya akan pakai Trello saja.

Kenapa?
Karena di Trello kita bisa bikin begini.


Yeees ... Trello bisa berfungsi sekaligus sebagai checklist ide mana yang baru sekadar ide, mana yang sedang dieksekusi, dan mana yang sudah tereksekusi dengan baik.

Untuk menambahkan ide, kita harus "Add a card..."



Langsung saja ditulis di area yang disediakan (dilingkari), kalau sudah klik "Add". Nantinya kamu pun bisa menambahkan hal-hal lain yang sekiranya bisa mendukung idemu itu. Bisa kamu sertakan link artikel yang menjadi bahan referensi, atau mungkin nemu foto atau image yang cocok untuk nanti dipakai, dan seterusnya.

Cara menambahkan deskripsi gampang juga.
Klik aja pada card-nya. Lalu akan muncul seperti ini.


Tuh, kalau di gambar di atas, saya menambahkan link yang menjadi referensi. Kamu juga bisa lho menambahkan deadline atau due date. Siapa tahu kan buat lomba, atau artikel pesanan yes?
Yah, silakan saja diklik-klik, dikepoin. Kita bisa nambah image, mention team member (kalau boards-nya dishare dengan orang lain), nambah emoji dan juga bisa add card lain.

Nah, kalau ide tulisannya sedang dieksekusi, kamu bisa drag and drop card-nya ke list yang berikutnya.


Kayak gini nih, misalnya.
Yang sudah dieksekusi dan selesai, bisa didrag and drop ke list berikutnya. Dan seterusnya.

Nah, jadi jelas deh mana yang sudah dikerjain mana yang belum. Jadi semacam checklist kan?

Di bagian pinggir kanan, ada "Show menu...". Di situ kita bisa setting-setting segala macam yang berkaitan dengan boards kita.

Mau share boards dengan orang lain? Bisa juga. Kita bisa add member di sini.

Nah. misalnya saja, saya mau share boards ide ini sama Ranny Afandi, ya tinggal saya invite aja dengan memasukkan emailnya ke situ.

Trello ini juga ada apps-nya di Android. Kalau di iOS ada nggak ya? Saya kurang tahu sih. Tapi kalau lihat kepopulerannya, kayaknya ya ada sih. Coba dicek aja yah, yang pake Apple punya :)

Nggak beda jauhlah tampilannya dengan di desktop
Pengoperasiannya juga nggak jauh beda. Cukup handy-lah untuk membantu kita menangkap ide-ide yang beterbangan.

Sebenarnya masih banyak sekali yang bisa kita lakukan di Trello, apalagi kalau bekerja dalam team. Seperti penggunaan label yang bisa menolong banget untuk memberi tanda-tanda khusus, seperti misal, jangan dilaunch dulu, butuh riset lebih lanjut atau apalah apalah.

Pernah lihat di ulasan beberapa blogger luar yang pakai, dan sudah kompleks banget mereka pakainya. Hahaha.

Tapi karena saya hanya untuk kerjaan personal, saya memang belum explore dan pakai semua fiturnya lebih lanjut.

Saya juga belum selesai nih, mindahin ide dari notes ke Trello ini. Hahaha. Maksudnya, biar ngumpul aja di satu tempat. Lagian di 2 hape, saya sudah install Trello semua. Jadi seharusnya bisa bikin saya lebih produktif lagi.

Trello ini nggak cuma bisa dipakai oleh orang-orang dengan load kerjaan tinggi, atau profesional. Tapi bisa juga oleh siapa pun.

Misalnya saja, kamu penulis novel. Kamu bisa pakai Trello untuk meng-organize semua elemen cerita per boards. Misalnya, kamu bikin satu boards untuk novel terbarumu, katakanlah judulnya "Cinta Kedua". Kamu bisa menyusun list mulai dari konsep, karakter, plot, twist, riset dan seterusnya.

Kalau kamu lihat cara Dee Lestari membangun plot, kan dia pakai sticky notes tuh. Nah, dengan Trello, kamu juga bisa melakukannya, secara digital. Bisa kamu bawa ke mana-mana, malah.

Atau buat ibu-ibu, juga bisa untuk ngumpulin resep masakan nih, Bu. Kategorisasikan dalam beberapa topik, misal menu sarapan, menu MPASI, menu makan siang, dan seterusnya.

Praktis banget kan, Bu?


Baca juga: How to Build Your Idea Bank: Memaksimalkan Feedly Sebagai Tempat Mengumpulkan Ide Menulis 


Yes, itu dia acara kenalan kita dengan Trello kali ini.
Masih banyak sih, tools untuk mengumpulkan serpihan-serpihan ide yang lain yang bisa kamu pakai. Iya, saya akan berusaha ulas semuanya di sini. Bukan untuk membuatmu bingung, tapi lebih ke memberikan alternatif saja. Bahwa banyak tools yang bisa kita pakai untuk mendukung kegiatan menulis dan blogging kita. Nantinya, kamu putuskan sendiri mana yang paling oke kamu pakai, karena satu orang sama yang lain kan bisa saja beda pilihannya.

Sehingga, nggak ada lagi keluhan, "Nggak punya ide menulis." ;)
Share
Tweet
Pin
Share
11 comments



Dalam satu workshop, di mana saya menjadi salah satu mentornya, pernah diadakan tantangan. Para pesertanya (yang kesemuanya kepengin menjadi penulis) ditantang untuk menulis artikel sepanjang minimal 800 kata dalam waktu seminggu.

And you know what, beberapa di antaranya ada yang mengeluh; kepanjangan, kecepetan deadline-nya, dan seterusnya.

Saya pun dipanggil oleh mbak moderator untuk menanggapi keluhan para peserta ini.

Saya hanya bilang begini, "800 kata, itu kalau saya, paling sejam. Sudah dengan riset."

Kelas berdengung. Protes pun terlayang lagi dari berbagai sudut. "Beda jam terbang!"

Saya ketawa.

Begitulah. Mindset kita.
Padahal saya cuma pengin direspon dengan, "Dia aja bisa 800 kata sejam, saya mestinya juga bisa." Tapi kok ya, nggak ada tuh yang ngomong gitu. Hahaha.

Saya penulis, betul. Kerjaan saya tiap hari menulis, iya. Makanya saya sudah terlatih.
Kamu, pengin nulis. Baru dikasih 800 kata seminggu, udah ngeluh. Gimana latihan lainnya?

Orang terlalu terbiasa untuk membenarkan posisi diri sendiri ketika merasa ditantang. Sebelum jabanin, sudah merasa nggak bisa dulu.

Iya, Mbak. Kamu kan sudah lama nulisnya. Saya mah apah atuh, baru mulai kemarin sore.
Lha, kalau kamu mau jadi penulis, dikasih tantangan, ngeluh. Njuk kudu piye? Ya udah, bikinlah tantanganmu sendiri!

Hahahaha. Mentornya galak.

Dalam menulis, apalagi kalau kepengin menjadi profesional, sempitnya waktu akan jadi konsumsi sehari-hari. Kalau penginnya menulis dengan waktu longgar, tanpa target, bagus, terus royalti atau fee bagus, coba deh. Ada nggak kerjaan kayak gitu? Kalau ada, saya juga mau.

Sejauh ini saya kerja buat klien, target jumlah tulisan itu selalu banyak, dan pasti ada batas waktu. Kalau kita nggak bisa kejar target jumlah atau molor setor ya bhay.

Ok, ini tulisan sebenarnya sudah pernah ditayangkan di blog Mas Dani Rachmat. Tapi, kemudian saya publish ulang dengan editing.

Saya pernah membaca cerita Angela Lauria, founder Author Incubator, yang juga seorang trainer kepenulisan untuk penulis-penulis pemula. Author Incubator sendiri merupakan wadah bagi para calon penulis buku untuk melatih keterampilan menulis, dan terutama agar lebih produktif menghasilkan karya dan lebih efektif dalam mengelola waktunya.

Angela berbagi tips soal bagaimana meningkatkan produktivitas kita dalam menulis. Memang tips ini khususnya untuk para penulis buku. Tapi bisa juga diterapkan untuk menulis apa pun juga, termasuk menulis blogpost ataupun untuk para content writer.


Tips menulis dengan cepat namun tetap berkualitas



1. Kenali pembacamu


Mungkin tips ini sudah terdengar klise banget.
Tapi, memang benar. Untuk bisa menghasilkan tulisan yang fokus dan tepat sasaran ya kita harus menentukan dulu kita mau menulis buat siapa.

Ya, pembaca memang harus kita bentuk sedari awal. Bukannya menulis, terus baru pasrah, nggak tahu siapa saja yang datang.

No. Cara itu salah sebenernya.
Untuk bisa menulis dengan fokus dan tepat sasaran, pembaca justru harus kamu definisikan sejak awal.

Contoh nih. Blog keuangan kayak punya Mas Dani Rachmat.
Pertanyaan yang mesti dijawab berkaitan dengan pembaca blog adalah tips keuangan buat siapa? Para first jobber, para esmud, investor? Atau untuk awam, misalnya buat emak-emak rempong (kayak saya)? Or for singles?

Untuk blog ini pun begitu.
Saya akan menulis untuk para blogger dan penulis konten pada umumnya. Penulis buku? Ya, bisa juga, tapi nggak jadi fokus utama. Blogger pun saya nggak narget blogger pemula. Saya menarget ke blogger yang sudah pengalaman, tapi pengin meningkatkan kualitas blog.

Kenapa sasaran saya begitu?
Ya, soalnya saya juga lagi belajar di situ. Kan blog ini ada buat catatan proses belajar saya. So, apa yang saya tulis di sini tuh, udah saya terapin.

Dengan mengenali pembacamu secara lebih detail, apalagi kamu bisa sekalian "menghadirkannya" atau mengimajinasikannya untuk hadir di depanmu saat kamu sedang menulis, maka seakan-akan kamu berbicara dengannya langsung. Informasi pun akan dengan cepat mengalir keluar.

Dengan membayangkan pembaca yang hadir langsung di depanmu, kamu nggak akan galau arah tulisan akan di-ke mana-kan, karena biasanya bisa langsung dengan cepat mengalir saja.

Itu yang namanya membuat persona membaca. Kapan-kapan kita akan bahas khusus.
(Kalau nggak lupa) *dikeplak*


2. Collect your ideas


Bank ide, mutlak kamu punya kalau kamu adalah seorang penulis konten yang harus membuat tulisan yang berbeda setiap harinya.

Mengapa bank ide ini penting?
Karena kalau kita duduk dan baru mikir mau nulis apaan, itu HANYA akan menghabiskan waktu.

Ada beberapa cara untuk mengumpulkan ide:

  • Kumpulkan sambil jalan, berarti kamu harus selalu siap membawa catatan kecil supaya bisa sewaktu-waktu menangkap ide yang tiba-tiba lewat, atau unduh beberapa aplikasi catatan dalam smartphone kamu. Bisa pakai Trello, Evernote, atau Google Drive. Apa punlah.
  • Sempatkan waktu untuk duduk dan brainstorming ide.

Sesuaikan mana yang paling nyaman untukmu.


3. Repurpose content


Nah, yang ini sering saya lakukan nih. Salah satu tips jitu menulis artikel dengan cepat adalah dengan me-repurpose tulisan lama. Atau rewrite.

Kalau saya menulis guest posting, maka itu berarti saya sudah "nabung" satu artikel buat blog ini. Beberapa tulisan juga sudah saya rewrite dan repurpose, dan kemudian saya tayangkan ulang di sini.

Saya kebetulan dulu juga pernah menulis untuk satu majalah online secara borongan. Tapi entah kenapa semua konten saya tersebut sekarang di-take down.

Ya, nggak masalah sih, yang penting invoice kan sudah cair ya. Muahahaha.

Artikel-artikel yang sudah di-take down itu kemudian saya rewrite, lalu voila! Dapat 60-an artikel secara instan deh. Yay! :)))

Iya, Angela juga melakukan hal yang sama untuk buku-buku yang sedang ditulis oleh penulis-penulis didikannya.


4. Buatlah waktu untuk menulis


Bukan meluangkan waktu, menyisihkan atau malah menyempatkan diri ya. Kamu seharusnya membuat waktu.

Meluangkan waktu berarti kamu akan menulis saat ada sisa waktu setelah kegiatan yang lain.
Menyisihkan waktu berarti juga sama, kalau ada waktu kamu akan menulis. Menyempatkan diri? Lebih parah lagi. Kalau nggak sempat ya nggak nulis.

Memangnya salah?
Ya enggak! Semua tergantung kebutuhanmu. Tapi, kalau memang kamu mau profesional menjadi penulis, maka saran saya sih buatlah waktu untuk menulis.

Membuat waktu berarti kamu memasukkan kegiatan menulis kamu dalam to do list atau agenda harian kamu.
Dengan membuat waktu menulis, maka kamu akan berusaha fokus terhadap tulisan kamu, dan mengenyahkan semua hal yang mungkin mengganggu.

Logikanya, kalau kamu lebih fokus, pastinya tulisan pun lebih cepat kelar.


5. Jalin network dengan orang-orang yang tepat


Angela meng-encourage para penulisnya satu sama lain agar saling berinteraksi, saling menularkan semangat menulis.

Dan, memang. Kalau kita ngumpulnya dengan orang-orang yang sama visinya, sama passion-nya, energi kita tuh nggak bakalan habis. Ide dan daya kreativitas kita akan adaaa aja.

Pun ilmu dan wawasan kita juga akan bertambah. Pokoknya saya mengamini banget soal positivity yang akan kita rasakan kalau kita deket-deket dengan orang-orang yang juga punya aura positif.

Biarkan saja kalau dibilang sok eksklusif karena pilih-pilih teman atau pilih-pilih komunitas untuk diikuti. Lakukan saja, demi kewarasan!


6. Pilih dan ikut kelas menulis


Mengikuti kelas menulis (yang kredibel) akan sangat membantu untuk meningkatkan keterampilan menulis kita. Setidaknya, kita akan punya mentor yang akan memberitahu mana yang harus diperbaiki, yang juga pasti dengan senang hati akan mengingatkan kita untuk lebih fokus terhadap target kita sendiri.

Jangan sampai terjebak kelas nulis bodong, ya! Kelas-kelas yang cuma meminta bayaran tanpa memberikan nilai tambah buat kita.

Gimana caranya tahu kelasnya kelas bodong?
Gampang sebenernya.

Kalau materi kelas nulis tersebut bisa saya dapatkan dengan gratis hanya dengan googling, sedangkan saya harus bayar untuk mendapatkannya di kelas tersebut, maka kelas itu nggak layak untuk diikuti. Makanya kita harus tahu dulu materi apa yang akan diajarkan.

Lihat pemateri. Kalau pematerinya nggak lebih hebat dari saya, ya buat apa saya ikutan kan? Nggaaak, maaf ya, ini bukan belagu. Tapi logis dong. Kan saya mau belajar, ya pasti harus dari mereka yang punya kelebihan dibanding saya. Iya nggak sih?

Misalnya, kalau kelas menulis buku, apakah buku yang ditulis oleh sang pemateri jumlahnya sudah lebih banyak dari buku saya?

Bagaimana penjualannya, ini bisa dilihat dari banyak cara sih, salah satunya dengan melihat kepopulerannya di media sosial.

Atau kalau pelatihan menulis konten, ya apakah dia sudah berpengalaman lebih?
Ya pokoknya harus kepo maksimal dulu deh sama pematerinya.


7. Terbiasalah dengan tantangan


Yang terakhir ini sebenarnya nggak ada di tipsnya Angela sih. Saya tambahin sendiri.

Tapi, kamu setuju nggak? Apa pun itu, kalau ada tantangannya, pasti lebih exciting.
Betul?
Makanya, jangan komplen duluan kalau ada tantangan. Jabanin dulu, urusan belakang.
Mindsetnya itu loh.

Kalaupun nggak ada tantangan dari luar, kita juga bisa kok nantangin diri sendiri.
Kayak saya, misal, pernah narget tiap hari nulis 1 artikel. Pernah juga setiap weekend 8 artikel. Berubah-ubah terus.
Iya, soalnya saya juga pembosan.
Kalau tantangannya kayak gitu terus, lama-lama ya bosan.

Kalau udah gitu ya, bikin tantangan baru lagi. Hahaha.

Tantangan akan membuat kita terpacu untuk bisa do more, better.


Nah, itu dia cara meningkatkan skill menulis dan juga cara menulis dengan lebih cepat dan efisien ala Angela Lauria, sang founder Author Incubator.
Selanjutnya ya tergantung niat masing-masing sih.

Yah, kepenginan itu memang bisa saja banyak. Tinggal benar-benar niat apa enggak. Gitu aja sih.
Saya kadang juga masih ada rasa malas kok. Capek. Bosan. Jenuh. Endebre endebre. Wajarlah. Saya tetap menikmatinya meski lagi bosan.

Iya, maksudnya ya saya nikmati saja rasa bosan itu.

So, sampai ketemu di artikel selanjutnya ya :)



Share
Tweet
Pin
Share
21 comments


Hae!

Sorry, saya harus mengabaikan blog ini selama beberapa minggu. Semua karena kesibukan saya di dunia nyata.

(((dunia nyata)))

Kadang-kadang memang kita akhirnya harus memilih ya, untuk fokus dulu ke satu titik. Saya sih kemarin sudah mencoba untuk jangan sampai nggak update blog, tapi ternyata, malah jadi mengganggu konsentrasi saya untuk proyek yang lain dan lebih penting.

So, akhirnya saya meliburkan diri sejenak. Meski pekerjaan online yang lain sih teteup, karena memang soal komitmen sih.

Saya masih ada satu proyek penulisan buku yang sudah 6 bulan terkatung-katung. Hahaha. So yeah, gitu deh. Saya agak mengurangi intensitas kegiatan yang nggak perlu.

Ah, sungguh opening yang membosankan. Wkwkwkwk. Ya sudahlah.

So, mari kita ngomongin blogging lagi.
Lihat judulnya ya? Well, ini pastinya bukan karena Carolina Ratri rules the blogsphere ya. Tapi ... hummm ... apa ya? Just a little observation, perhaps. Toh akhir-akhir ini saya juga sudah makin jarang terlibat di kegiatan blogsphere yang meriah ini.

Tapi, dengan begitu, justru saya jadi kayak pihak luar yang bisa dibilang cukup objektif mengamati. Ciyeehhh.

Saya mau nanya.
Dulu, saat mau mulai ngeblog, apa saja sih yang dipersiapkan?

Nggak ada?
Langsung aja sign up di wordpress atau blogspot atau tumblr?

Sama dong kita. Toss dulu!

Tapi, ternyata itulah kekeliruan kita sebagai blogger pemula.
Saya menyebutnya sebagai "kekeliruan" instead of "kesalahan". Karena sebenarnya disebut salah, juga enggak terlalu salah juga sih. Hanya saja, kalau saja kita bisa memikirkannya lebih dahulu, barangkali kita akan bisa gain lebih banyak hal.


Baca juga: Checklist 17 Hal yang Harus Kamu Lakukan dan Pahami Kalau Mau Menjadi Blogger Serius


Ya, pada awalnya kita ngeblog secara impulsif saja. Tanpa mikir. Pokoknya saya pengin bikin blog, yang kayak Raditya Dika (kalau kamu fans-nya blog Raditya zaman dulu).
Kalau saya siapa ya, dulu yang meracuni saya akhirnya mendaftar ke wordpress? Kok saya lupa. LOL.

Oh well. Ya, itulah kekeliruan kita sebagai blogger pemula.

Seharusnya, kita nih mengerti dulu beberapa golden rules of blogging, kalau memang pengin  seperti yang saya amati dari para blogger luar yang lebih sukses dan lebih dulu profesional ketimbang kita.

Apa saja golden rules of blogging itu?



1. What is blogging all about?


Image via Mashable

Rules #1 harus selalu diingat, bahkan jika sekarang kamu sudah meraih sukses sebagai blogger.

Kita semua punya tujuan ngeblog kan? Apa tujuanmu ngeblog? Menuliskan progres tumbuh kembang anak? Menuliskan perjalanan-perjalananmu ke sudut-sudut dunia? Berbagi pengalaman sehari-hari?

Tujuan ngeblog satu blogger dengan yang lain berbeda. Masing-masing punya goals pula yang berbeda-beda. Kamu mungkin pengin dapat penghasilan dari blog. Mungkin kamu pengin mengedukasi netizen tentang suatu hal.

But whatever it is ...

Akhirnya, seiring waktu, kamu akan harus belajar dan menyadari, bahwa apa pun tujuan kamu ngeblog itu ternyata nggak terlalu penting. Kamu bisa saja punya 1001 cerita untuk ditulis.

Tapi pada akhirnya, kamu hanya akan tergantung pada pembaca.

Berapa banyak pembaca yang akan datang padamu? Berapa banyak pembaca yang meninggalkan komen di artikelmu? Berapa banyak pembaca yang ngeshare artikel kamu?

Pembaca, pembaca dan pembaca.

Pada akhirnya kamu akan sadar, bahwa audience's goals-lah yang akan menentukan kesuksesan blog kamu.

Apa tujuan pembaca datang ke blogmu?
Karena kamu minta datang? Nooo ... mau seberapa banyak kamu bisa minta orang datang? Sehari satu dua, mungkin bisa. Tapi kalau kemudian kamu lihat ada yang pamer pageview ribuan per hari, apa kamu nggak baper?

Uhuk.

Seneng kan, kalau banyak yang datang? Yes.
Seneng kan, kalau ditinggalin komen? Pasti.
Seneng kan, kalau tiba-tiba ada yang kirim email, dan bilang, bahwa kamu sudah menawarkan solusi pada masalah yang sedang mereka alami?

So, tujuan awal kita ngeblog itu nggak berarti lagi. Yang harus kamu pikirkan adalah tujuan pembaca saat mereka datang ke blog kamu.

Dengan sudah menentukan audience blog kita sedari awal, maka nantinya dengan mudah pula kamu akan membentuk pembaca loyal, dan "membangun komunitas" blogmu sendiri.

Dengan punya massa sendiri, wah ... pastinya akan lebih mudah untukmu meraih sukses kan?


2. Don't start all alone


Image via Writing With Hope

Kamu barangkali akan perlu bergabung dengan beberapa komunitas blogger besar, untuk networking, untuk kenalan dan gaul.

Kalau dulu, pas blogger masih belum banyak, hanya dengan mengandalkan blogwalking para blogger sudah saling terhubung satu dengan yang lain. Saya ngalamin banget nih, tahun 2006 - 2007 gimana hangatnya hubungan para blogger ini. Masing-masing dengan keunikannya sendiri-sendiri, mampu stand out.

Apalagi kalau khas banget. Sebut saja Yessy Muchtar (masih ngeblog nggak ya, beliau ini?), Tikabanget, Chichi Utami, Chika Nadya, Om Nh Her (kalau yang ini masih ya, sampai sekarang).

Sekarang?
No, you can't start all alone.

Kamu akan perlu sparing partner, kamu perlu belajar dari para mastah, kamu perlu tahu blogger yang onoh dan yang enih.

Setidaknya, dengan tidak sendiri kamu akan mendapatkan:

  • Support, surround yourself with positive people and you will get the support you need. Support ini nggak bisa disepelekan lho. Saya sendiri punya beberapa orang teman dekat yang juga blogger. Dari mereka, saya mendapatkan support yang saya perlukan. Karena, terus terang, orang-orang di circle saya di dunia nyata nggak semua ngerti dengan yang saya kerjakan. So, saya mendapatkan semangat dan support hanya dari teman-teman dekat ini.
  • Feedback, yang sangat saya perlukan untuk memperbaiki kualitas konten. Saat mereka menanyakan sesuatu, atau mengoreksi bagian per bagian konten, semuanya itu saya catat. To be honest, saya juga nggak suka kritik. Tapi, saya berusaha memahami bagaimana rasanya menjadi pembaca. Para pemberi kritik adalah pembaca. Sehingga ya kalau saya mau pembaca suka dengan konten yang saya buat, mau nggak mau saya harus menerima kritik tersebut.
  • Knowledge, jelas bisa kita dapatkan dari orang lain. Saya sendiri banyak belajar dari orang, baik dari ilmu yang di-share (langsung atau tulisan), maupun dari kesalahan yang orang buat. Saya mencatat, wah, si A ini kok bikin kontennya begini ya. Kayaknya kurang pas. Kalau saya bikin begitu gimana ya? Orang akan suka bacanya nggak ya? Yes, saya mah sering banget gitu. Hahaha. Eksperimen. Dengan begitu, saya nambah pengetahuan. Oh yang begini orang suka, yang begitu kurang cocok. Dan seterusnya.
  • Kolaborasi, yang sekarang makin ngehits yes? Dengan kolaborasi, banyak keuntungan pula yang kamu dapatkan, di antaranya traffic exchange. Tukeran traffic. Tapi harus hati-hati. Sekarang saya lihat, di beberapa titik muncul kebosanan karena topiknya hampir seragam. Dengan orang yang sama, lama-lama juga trafficnya akan mentok. So, kalau mau kolaborasi pastikan untuk juga tetap kreatif. Guest blogging juga merupakan salah satu bentuk kolaborasi lho. Baca artikel saya soal guest blogging ini deh.


3. Optimize BOTH for readers and search engines


Image via The Next Web

Akhir-akhir ini saya benar-benar baru menyadari betapa saktinya Mbah Google mendatangkan pengunjung ke web.

Tadinya saya agak skeptis sih. Ya mungkin karena saya belum membuktikan sendiri. Ternyata setelah mengerjakannya dengan sungguh-sungguh dan serius, saya baru tahu deh betapa SEO ini nggak bisa diabaikan.

Skeptisnya saya beralasan sebenarnya. Karena saya sebelumnya hampir selalu menemukan konten gaje dengan keyword stuffing yang enggak banget. Sebel kan ya, nemu konten yang kayak gitu? Udah iklannya banyak, ternyata nggak ngasih info yang saya butuh, atau malah yang kentang. Padahal ada di daftar teratas Google loh.

Hingga sejak sekitar setahun belakangan, saya belajar untuk bisa optimasi both for my readers and for the search engine. Gampang? Iya, gampang banget! *sarcastic-detected*

Bahwa antara Google dan pembaca yang membutuhkan informasi itu saling berkaitan. Google bisa mendatangkan pembaca, sedangkan pembaca akan menentukan seberapa bagus posisi kita di Google. Iya nggak sih? CMIIW.

So, please. Banyak blogger terlalu abai pada SEO (yang kemudian baper saat ngeliat blogger lain PVnya banyak), sedangkan blogger yang lain lagi nggak peduli pada pembaca.

In my opinion, kita harus somewhere in the middle. Kita harus memperhatikan SEO, meski yang paling basic, namun jangan sampai melupakan user experience.

Ini harus sudah sejak awal ngeblog kita lakukan.
Oh well, saya pun memulai dengan yang salah saat memulai Rocking Mama. Tapi nggak ada kata terlambat. Rencana sih saya mau me-repurpose artikel-artikel awal agar lebih SEO friendly pelan-pelan.


4. Pekerjaan yang sesungguhnya baru dimulai setelah publish


Image via SalesQuants

Coba ya, buat yang sekarang sudah sering terima job review atau jenis monetizing blog yang lain, saya mau nanya. Pedoman apa yang kamu gunakan untuk mengukur suksesnya artikel kamu?

Pageview.
Jumlah share.
Jumlah komen.

Yes.
Dan kapankah semua itu kamu dapatkan?
Setelah artikel publish, yes?

Jadi, meski memang bagus enggaknya sebuah konten (sehingga mendatangkan traffic, share dan komen) itu sangat tergantung pada proses pembuatannya, tapi pekerjaan yang sesungguhnya dimulai tepat pada saat kamu pencet itu tombol 'publish'.

Content promotion, that's right. Itulah yang harus kamu lakukan. Bagaimanapun media sosiallah yang menjadi alatmu untuk mempromosikan konten. Memang sih, bisa saja kamu diemin aja itu konten setelah publish. Tinggal pasrah saja diindeks oleh Google.

Tapi, mungkin, mungkin lho ya, hasilnya akan lebih baik saat kamu juga mendukungnya dengan promosi konten. 

Saya pernah agak-agak skeptis dengan sharing di media sosial. Saya pernah malas share di medsos, karena saya anggap kurang efektif mendatangkan traffic ke portal sebelah. So, beberapa waktu yang lalu saya pernah sama sekali nggak pernah pegang medsos. Medsos saya serahkan pada internship yang memang direkrut khusus. Semakin lama, angka reaching dari medsos makin menurun dan menurun.

Saya pun penasaran lagi. Kok menurunnya drastis banget ya?
Kemudian, saya coba pegang medsos lagi. Dengan caption yang lebih catchy, ternyata masih lumayan juga tuh bawa traffic. Ya, meski nggak sebanyak yang dari organic search sih sekarang. Tapi lumayanlah, dapat puluhan klik dari sekian ratus reach. Mayan bangetlah pokoknya. Daripada nggak ada. Wkwkwk.

Saat kamu rada-rada desperate dengan traffic, maka satu visit pun akan berharga. Trust me.

Cara yang masih jarang dicoba untuk content promotion oleh para blogger di Indonesia adalah dengan membangun email list. 

Nah, ini nih golden rules selanjutnya.


5. Bangunlah komunitasmu sendiri


Image via LinkedIn

No, ini bukan berarti kamu harus membangun komunitas blogger macam Emak-emak Blogger atau Warung Blogger atau apalah itu. Artinya, seharusnya nih, sejak kamu mulai ngeblog, milikilah goal untuk mempunyai basis massa tertentu.

Wuih, macam ormas aja nih. Basis massa.

Tapi, bener loh, ini nggak bisa disepelein. Dengan menjadi influencer di antara massamu sendiri, maka kamu bisa membentuk komunitas dari blogmu sendiri.

Misalnya nih, Mbak Lusi Tris dengan tutorial DIY-nya. Kalau beliau mau mulai membangun email list-nya sekarang, bukan nggak mungkin nanti akan ada sekelompok ibu-ibu yang gemar DIY, yang rutin ngadain kopdar, yang rutin bikin bazaar online, misalnya. Dan lain-lain.


When you have a list of people that have given you their email address, you have an audience on demand. (Maikel Michiels, blogger of maikelmichiels.com)

Yeahhh.
Bayangkan, kamu punya sekelompok orang yang dengan sukarela menyerahkan alamat emailnya agar bisa update blog kamu secara otomatis. Mereka pasti nantinya juga nggak keberatan kamu kirimin promosi kan?

Bayangkan engagement yang bisa kamu bangun dengan mereka.
Saya punya beberapa member emailing list yang memberikan feedback atas newsletter yang saya kirimkan. Mereka bertanya beberapa hal tentang penulisan konten dan blogging. Dan, pastinya, saya nggak bisa mengabaikan mereka kan?

Dan, jika mereka puas dengan engagement yang kita lakukan, sudah pastilah mereka akan menjadi pembaca loyal.

Saya juga sedang membangun email list ini nih sekarang. Telat sih, tapi daripada enggak sama sekali. So, buat kamu yang nggak pengin ketinggalan update blog ini, jangan lupa subscribe di panel email list di atas sana yes? 

Dengan mendaftar newsletter, kamu akan mendapatkan bundling artikel blog selama sebulan PLUS beberapa artikel lain yang terpilih dari teman-teman blogger saya yang lain, yang pastinya membahas seputar penulisan konten dan tip-tip ngeblog lainnya.

Ohiya, saya juga akan bahas tentang Newsletter dan Email List ini nanti kapan-kapan.



Well, itu dia 5 golden rules of blogging yang harus kamu pahami dulu sejak awal kamu mulai ngeblog. Yah, meski mungkin baru kamu sadari sekarang sih itu nggak masalah juga kok. Nggak akan terlambat untuk memulai kapan saja.

Yossshh, itu aja dulu untuk sekarang. 
Kapan-kapan kita akan sambung dengan topik lainnya ya.



Share
Tweet
Pin
Share
26 comments


Buat saya, nulis artikel (yang enak dibaca dan disukai oleh orang banyak) itu gampang-gampang susah, dan menjadi seni tersendiri.

Dan, buat saya, kesempatan pertama dan terbesar artikel itu akan dibaca dan disuka oleh pembaca adalah pada judul. Sudah beberapa kali saya eksperimen dengan berbagai formula judul, baik saya sebagai penulis maupun saya sebagai pembaca. Hingga akhirnya, saya berkesimpulan, saya nggak bisa main-main dengan judul. Begitu judulnya nggak menarik, maka bhay!

Ah, gampang! Judul kan bisa diubah kalau seumpama kurang cocok?
Well, buat saya, kalau judul diubah kemudian, itu sudah telat.

Betapa saya mengamati, bahwa begitu klik tombol 'publish', maka di situlah kesempatan terbesar kita. Bukan nanti-nanti, apalagi kalau sudah beredar di media sosial. Telat, kalau saat artikel sudah beredar di media sosial baru kemudian ubah judul. Somehow, rohnya sudah akan berbeda.

Maka, sebelum kita sampai di formula membuat judul yang menarik (yang mana sebenarnya sudah pernah saya bahas juga di blog ini: 7 Cara Menulis Judul Viral--silakan dibaca kalau belum baca), ada baiknya kita pelajari beberapa website yang artikel-artikelnya sering viral untuk kita telaah per judulnya.

Untuk apa?
Ya, untuk membuat formula judul yang bisa kita terapkan dalam tulisan kita sendiri.

So, tulisan ini merupakan telaah saya mengenai beberapa judul dalam 7 artikel terviral Hipwee sepanjang setahun ini berdasarkan data di Buzzsumo, dalam rangka pembelajaran saya dalam menulis judul.

Iyes, ini bahan belajar saya ya, yang saya catat dan mendingan saya tulis sekalian di sini.

Kenapa Hipwee? Saya sudah membandingkan beberapa portal, dan sepertinya artikel terviral masih dipegang oleh Hipwee, beda tipis di atas Trivia.id. Jadi, mari kita ke Hipwee dulu. Nanti kalau ada waktu lagi, kita coba telaah juga yang lain. Dan, ke luar negeri juga, mungkin Huffington Post ataupun Buzzfeed.

Sebelumnya, Buzzsumo pernah mencoba menelaah judul-judul artikel viral yang beredar di dunia maya. Dan, mereka merumuskan, bahwa artikel yang viral selalu mengandung elemen-elemen berikut ini.

Original image by Buzzsumo

Dan ternyata, elemen-elemen tersebut juga dimunculkan dalam headline atau judulnya. Mungkin enggak semua sih, tapi pasti ada satu dua yang tercantum di judul.

Saya nggak tahu itu bener apa enggak. MAKANYA, saya bikin telaah judul artikel Hipwee ini. Mari, kita buktikan, apakah formula Buzzsumo itu bener?


Telaah judul artikel terviral Hipwee.com



1.  Kerja Secukupnya! Karena Uang Tidak Akan Bisa Mengganti Waktu Bersama Keluarga dan Orang-Orang Tercinta yang Sudah Dikorbankan (581.9K shares)






Sepertinya, judul artikel ini memenuhi 3 elemen viral, yaitu promise atau janji (setelah membaca artikel ini, kamu (harap) akan bisa yakin bahwa mengurangi load kerja itu penting), topik yang menarik (topik uang dan waktu selalu jadi hal yang menarik untuk diulik, karena ini adalah permasalahan semua orang), dan emosional (dikorbankan pasti kan rasanya sedih).

Kecenderungan orang-orang millenial, kerja tanpa henti, tanpa kenal waktu, nggak kenal tempat. Hingga akhirnya mereka kehilangan waktu kebersamaan bersama keluarga.

Begitulah inti artikelnya. Such a pain, huh?
Jadi persoalan semua orang banget, baik buat yang kerja maupun buat yang ditinggalkan untuk kerja.

Maka, "pain" itu harus ditulis di judul? Mengapa?
Karena "pain" adalah "masalah yang dicari solusinya". Jadi target audience-nya juga jelas, yaitu mereka yang terlalu banyak kerja.

Artikel ini pasti dicari oleh orang yang punya problem sudah capek kebanyakan kerja. Mereka mencari pembenaran tentang pikiran mereka ini.

Dengan membawanya ke judul, maka orang akan berharap, mereka akan dibenarkan saat mereka ingin mengurangi load kerja.



2. 22 Gambar Pertumbuhan Janin dalam Perut yang Menyentuh Kalbu. Ah, Kuasa Tuhan Sehebat Itu (498.7K shares)





Ada 4 elemen judul viral dalam judul di atas, yaitu format, content, topic dan emotion.

Ah, setiap kali seorang ibu baru saja dinyatakan hamil, pasti ia akan cepat-cepat mencari informasi seputar kehamilan.

Saya dulu juga gitu, buru-buru googling tentang perkembangan janin dalam perut. Saya dulu tahunya pas kandungan sudah berusia 4 minggu. Lalu saya cari deh, bentuk janin usia 4 minggu.

Ya Tuhan. Mahakuasa Tuhan!

Nah, rasa syukur itulah yang disasar oleh penulis artikel ini dalam menampilkan gambar per gambar pertumbuhan janin, dari mulai sperma "menyerang" ovum hingga si dedek siap dilahirkan.
Ada target audience dalam judulnya, yaitu para ibu hamil.



3. Kakak Perempuan Itu Luar Biasa Tangguhnya, Kamu Akan Bersyukur Karena Ada Dia Dalam Keluarga (475.9K shares)




Nah, coba kita lihat. Ini target audience juga jelas, yaitu orang-orang yang punya kakak perempuan.

Artikel ini bisa jadi di-share oleh adik yang sayang banget sama kakaknya, atau oleh seorang kakak yang pengin nunjukkin ke si adik, bahwa, "Nih, kamu tuh mesti bersyukur karena Kakak baik sama kamu!"

Hahaha. If you know what I mean. Sibling rivalry.


4. Jodoh Itu di Tangan Kita, Campur Tangan Tuhan Sebatas Merestui atau Tidak (285.9K shares)



Jodoh.
Siapa sih yang nggak bermasalah dengan jodoh? Yang udah berjodoh ya tetap aja punya masalah kan? Apalagi yang jomblo.

Dan, topik jodoh dan perjombloan ini adalah topik yang evergreen deh. Sama kayak moms war.

Dalam judul di atas, mungkin hanya ada 1 elemen judul viral. Tapi, coba perhatikan. Ada pembalikan mindset di sana. Umumnya orang kan bilang, "Jodoh di tangan Tuhan.", tapi di situ ditulis, "Jodoh di tangan kita.", sedangkan Tuhan hanya memberi restu. Kalau Tuhan nggak merestui ya, bhay!

Pembalikan mindset itu memang harus diletakkan di judul. Karena sesuatu yang menyatakan hal yang sebaliknya dari apa yang kita anggap normal akan selalu menarik.

Contoh, misalnya, dari mana sih ajaran bahwa cowoklah yang harus pertama nembak cewek yang disukainya? Kalau kita bikin artikel, gimana caranya kita, para cewek, bisa nembak cowok tanpa berkesan agresif, maka "cewek nembak cowok" harus ada di judul.

Paham kan ya?
Ingat, suatu pembalikan mindset atau fakta itu selalu menarik perhatian.


5. 10 Cara Belajar Tidak Peduli Omongan Orang. Karena Hidupmu Bukan Mereka yang Menentukan (235.8K shares)




Angka 10 menunjukkan bahwa format artikel tersebut berbentuk list, ada promise bahwa setelah membaca artikel, maka kamu akan mendapatkan sesuatu, sedangkan "tak peduli omongan orang" adalah topik utama artikel.
"Bukan mereka yang menentukan" menjadi semacam emosi sebenarnya, tapi tidak secara eksplisit ya.


6. Bagi Anak Perempuan, Ditinggalkan Ayah adalah Patah Hati Terhebat (222.6K shares)



Buat saya pribadi, judulnya ini sudah yang emosional banget. Hehehe.
What do you think?

Di sini juga ada target audience, yaitu para anak perempuan. Lebih spesifik lagi, anak perempuan yang ditinggal oleh ayahnya. How related is that?


7. Kalau Kamu Sudah Tahu Trik-trik Microsoft Word Ini, Tugas dan Pekerjaanmu Bisa Cepat Selesai! (174.5K shares)



Sooo, ada content element, topic dan promise ya di judul di atas.
Kamu yang penulis, lebih khusus lagi, kamu yang mahasiswa dan harus menyelesaikan skripsi, mesti tahu trik-trik ini yes? Hahaha.


Kesimpulan



Jadi memang ada beberapa elemen yang penting dalam sebuah judul ya. Sehingga, saya bisa merumuskan, bahwa cara "memasak" judul yang menarik adalah sebagai berikut:

  1. Tentukan topik utama. Jelas ya, topik jelas harus ada dalam judul. Kalau enggak, ya ... njuk kudu piye? Tarik 1 frasa yang terdiri atas beberapa kata dari topik utama artikel yang kamu tulis, contoh: "anak ditinggalkan ayah", "uang dan waktu", "pertumbuhan janin dalam perut", dan seterusnya. Jangan terlalu panjang. Saya kira 3 - 4 kata sudah cukup.
  2. Siapkan sesuatu yang menarik orang. Hal-hal yang bertolak belakang dengan yang berlaku biasanya (antimainstream), itu menarik. Sesuatu yang berbau emosional, itu menarik. Sesuatu yang menjanjikan, itu menarik. Something interesting. Lalu, diulik bersama topik utama. 
  3. Selanjutnya, kamu bisa mengembangkannya lagi, misal dengan menambah elemen konten (fakta, mitos, gambar, kutipan, dan lain sebagainya) atau elemen format (cara, trik, tips, dan sebagainya)
  4. Ada target audience dalam kalimat judul. Langsung tunjuk saja audience artikel kita, kepada siapa artikel itu ditujukan penulisannya. Biasanya ini akan langsung menarik perhatian juga, karena orang cenderung baperan. Jadi kalau langsung tunjuk, kerasa, jadi kepo deh. Hehehe.
  5. Terakhir, akan lebih lengkap, tambahkan angka. Angka ini bisa agak-agak tricky sih. Saya biasa memakai "the magic number"; 7, 11, 13, 17, atau sekalian 25, 50, bahkan 101, untuk format list. Atau saya akan menambahkan angka dalam konteks waktu, misal 3 menit, 5 menit, 1 jam, dan seterusnya. Ini tergantung dengan konteks artikelnya pastinya ya.
Nah, sejauh pengamatan, sepertinya nih, kalau kita sudah memenuhi cara memasak poin 1 dan 2, itu sudah cukup menarik kok. Tinggal pemilihan katanya saja, dan ini perlu latihan yang cukup.

Yes, itu dia catatan saya tentang membuat judul artikel yang menarik, berdasarkan pengamatan terhadap beberapa artikel Hipwee.

Sampai ketemu lagi di artikel content writing selanjutnya ya.

Share
Tweet
Pin
Share
45 comments
Newer Posts
Older Posts

Cari Blog Ini

About me





Content & Marketing Strategist. Copy & Ghost Writer. Editor. Illustrator. Visual Communicator. Graphic Designer. | Email for business: mommycarra@yahoo.com

Terbaru!

Kapan Waktu buat Nulis? Begini Cara Saya Membagi Waktu dengan Urusan Warung dan Rumah

Kalau ditanya kapan saya punya waktu untuk menulis, jawabannya enggak pernah pasti. Jadi, memang bukan di jam segini atau jam segini. Dalam ...

Postingan Populer

  • 15 Ide Style Feed Instagram yang Bisa Kamu Sontek Supaya Akunmu Lebih Stylish
    Hae! Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram , terus ada pertanyaan yang mampir, "Ka...
  • Yang Harus Blogger Ketahui Mengenai Link Eksternal - The Bloggers' Biggest Fear
    Warning: artikel ini akan panjang. Tapi I guaranteed, akan membahas hingga ke detail mengenai outbound links atau link eksternal. Karena...
  • Beberapa Tip Jitu untuk Membantu Kamu Menjaga Konsentrasi dan Fokus Menulis
    Masalah fokus atau konsentrasi biasa memang menjadi permasalahan umum bagi para penulis--baik itu penulis buku, konten, dan blog. Dist...
  • Ukuran Feed Instagram 6 Kotak dan Cara Membuatnya Tanpa Ribet
    Eits. Bukan, ini bukan fitur baru. Ada yang nanya soal feed Instagram 6 kotak dari Google, masuk deh ke Console. Hehehe. Iya, ini bukan fitu...
  • Bagaimana Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita
    5 Cara Menulis 100 Kata Pertama yang Ajaib Agar Orang Mau Terus Membaca Artikel Kita Dalam artikel guest post mengenai Cara Mudah Tuli...

Blog Archive

Portofolio

  • Buku Mayor
  • Portfolio Konten
  • Portfolio Grafis
  • Konten Web
  • Copywriting
  • E-book
  • Buku Fiksi
  • Ilustrasi

Follow Me

  • instagram
  • Threads

Created with by ThemeXpose