Artikel ini pernah tayang di www.RedCarra.com.

Jangan lakukan hal-hal berikut ini ya, wahai para Pemilik Online Shop!


Dulu, saya sempat melemparkan pertanyaan survey kecil-kecilan di wall Facebook saya. Pertanyaannya adalah sebagai berikut.

"Selain admin yang mungkin kurang sigap dan responsif dalam menjawab feedback-feedback dan suka nunda-nunda pengiriman, kira-kira apa lagi sih yang bikin kamu malas belanja di toko online tertentu?"


Dan lalu jawaban-jawaban mulai bergulir. Hmmm, sebenarnya jawaban-jawabannya beda-beda. Tapi bisa dibilang, inilah kesalahan-kesalahan umum yang dilakukan oleh para pemilik online shop.

Nih, saya rekapin jawabannya ya. Supaya bisa kita lihat secara keseluruhan, dan barangkali bisa menjadi catatan supaya para pemilik online shop mau memperbaiki sistemnya.

1. Menulis kondisi barang yang tak sesuai atau kurang detail


Kalau dagangannya baju, ya entah ukurannya yang nggak detail, misalnya. Padahal ukuran ini sangat penting ya, kalau produknya baju. Ukuran lingkar dada, lingkar perut, lingkar ujung baju paling bawah, kalo bisa juga lingkar lengan deh. Karena orang kan nggak bisa ngepas dulu kalo beli online. Udah gitu pelanggan juga nggak bisa meraba bahannya. Jadi memang harus selengkap mungkin spesifikasinya ya.

Ohiya, ini juga termasuk tidak mencantumkan harga pada lapaknya. Ada banyak calon pembeli yang merasa terganggu loh, dengan cara ini. Banyak yang memasukkan harga sebagai pertimbangan saat mengambil keputusan untuk membeli. Dan akhirnya harus menyerah, karena males nanya-nanya harga sama penjual. Ntar cuma nanya-nanya doang juga dinyinyirin D

Kondisi barang sebaiknya juga diperjelas. Misal, dagangannya adalah buku apalagi buku seken. Tulislah kondisi bukunya, apakah ada yang terlipat, apakah ada yang lembap, apakah ada yang cacat sedikit dan lain sebagainya. Kalau perlu, foto satu-satu kondisinya. Terlipatnya bagaimana, lembapnya di bagian apa.

Ini juga termasuk memasang foto yang tidak sesuai dengan kondisi asli barang ya. Misalnya, fotonya diretouch dengan photoshop, atau kebanyakan efek di Instagram. Usahakanlah fotonya tanpa filter, dan tanpa diedit. Gunakan sumber pencahayaan yang terang menerangi setiap detail produk. Jangan kebanyakan shadow. Kalau pelanggan tertipu dengan foto produk kita, bisa fatal banget akibatnya.

Prinsipnya, calon pembeli online TIDAK BISA memegang atau melihat kondisi barang secara langsung. Mereka hanya mengandalkan informasi yang diberikan oleh pemilik olshop. Jadi, berikan informasi selengkap-lengkapnya dan apa adanya.

2. Malas update web/stock


"Mas, barang X ada?"
"Wah, lagi kosong."
"Lho, di webnya kok tercantum ada stock?"
"Iya. Belum diupdate."



Convo kayak gitu itu HADEH banget deh! Nipu! Apa susahnya update stock di web? Apa susahnya sih stock opname? Kalo nggak bisa setiap kali liatin atau update web, ya jadwalkan dong seminggu sekali. Ingat, web online shop itu adalah etalase kita jualan. Web itu adalah toko kita. Kalo nggak dikunjungin oleh pemiliknya sendiri, gimana mau dikunjungi orang?

3. Term & Condition tak lengkap, alur pemesanan yang tak jelas dan kalo ditanya respon lama


Ribet, gitu komentar beberapa narsum. Jadi cantumkan sejelas-jelasnya cara pemesanan, cara pembayaran, aturan klaim dan sebagainya. Dan saat ditanya oleh pelanggan, responlah dengan ramah dan cepat. Jangan sampai nunggu sampe berjam-jam. Saat pelanggan harus menunggu lebih dari 2 jam hanya untuk sebuah info kurir yang dipakai, anggap saja pelanggan itu sudah pergi ke olshop lain ;)

Simpel.

4. Malas mencari info tambahan


"Ini kirimnya pake apa?"
"JNE."
"Bisa pake pos nggak, supaya lebih murah."
"Saya belum tahu ongkirnya."

Ha terus? Ya cari tahu dong!!

Ada cektarif.com nih, yang bisa ngecek ongkir via beberapa jasa kurir yang sering dipake sama online shop. Sepertinya juga bisa tuh pasang widgetnya di web. Jadi biar pelanggan bisa ngecek ongkir masing-masing. Saya belum pernah coba sih pasang widgetnya. Barangkali ada yang mau coba, dan kalo it works, bisa deh info saya :)

5. Respon Lama


Ditanya produk, jawabnya lama. Ditanya cara pesen, jawabnya lama. Minta refund, prosesnya sebulan. Halagh! Niat jualan nggak sih? :)) hahahahaha...

Saya juga pernah kok merespon pelanggan sampe 8 jam berikutnya. Itu gara-gara HP saya silent. Dan harinya hari Sabtu apa Minggu gitu. Di hari-hari tersebut, saya penginnya ya istirahat. Nah, respon lama saya itu berbuah pelanggan yang udah lari ke olshop lain. Ya udah, saya pasrah. Bukan rezeki saya.

Tapi saya nggak bisa cuma pasrah gitu doang. Akhirnya saya tambahin deh di term & condition, pemesanan di hari kerja pukul sekian hingga pukul sekian. Di luar itu akan direspon pada hari kerja berikutnya. Pelanggan akhirnya juga maklum kok :)

Bagaimana pun pemilik olshop juga manusia. Punya hak untuk istirahat, iya kan? Butuh piknik, butuh rileks. Masa iya musti respon juga kalo ada yang nanya-nanya pas jam 1 dini hari :D

Yang penting memang semua harus jelas di term & condition. Kalau semua sudah tertulis di term & condition, kalo ada pelanggan yang masih aja riweuh, yaaaa bukan salah pemilik olshop. Hahahaha :))

6. Hanya mengucapkan terima kasih, tapi tidak mengucapkan salam untuk pembeli


Di luar negeri, saat kita mendapatkan email dari orang lain selalu diawali dengan kalimat semacam ini, "Good afternoon. Thanks for your email.", dan kemudian ditutup dengan "Have a nice day."

Kalo di kita? Nggak ada salam pembukanya, ga ada juga salam penutupnya. Yang ada paling-paling, "Terima kasih sudah berbelanja. Besok beli lagi ya?"

Errrrrrrr... enak di elu yang dapet duit! :))

Kenapa nggak diberi salam semacam "Selamat menjalani harimu, semoga menyenangkan ya." Pelanggannya pasti seneng banget didoakan begitu. Iya nggak sih? Jangan cuma mikirin dagangan dan duit dong. Pikirin si pelanggannya, yang barangkali masih akan beraktivitas hingga ujung harinya. Doain biar semua urusannya lancar, biar dapat rezeki lagi. Kan, kalo dapat rezeki lagi juga bakalan belanja lagi toh? Jadi ya doanya jangan vulgar gitu ah. :D

7. Berpikir bahwa dengan modal sedikit-dikitnya, bisa meraih untung sebanyak-banyaknya


Ini nih, kadang jadi bumerang. Ini bagus cuma buat awal aja, itu pun nggak semua jenis usaha online bisa dibikin kayak gini.

Ada yang memang membutuhkan modal. Modal pemasaran misalnya. Mau lebih dikenal brandnya, coba deh nyeponsorin event atau acara-acara. Mau lebih dikenal lagi, coba pasang iklan berbayar. Karena iklan berbayar, bagaimanapun, posisinya pasti lebih bagus. Kalo semua-muanya gratisan, saya nggak yakin bakalan cepet turnovernya. Padahal sebenernya bukan besarnya laba-rugi yang harus kita perhitungkan, tapi cash flow. Uang yang mengalir, yang beredar. Jadi, antara modal dan pendapatan, menurut saya, berbanding lurus.

8. Sok eksklusif dan profesional, hingga malah tak berinteraksi dengan akrab


Para follower, likers, friends dalam list media sosial kamu adalah teman kamu, meski kamu sedang berada di balik meja admin. Sapalah mereka, nggak usah pake jaim lah. Jangan kayak robot, cuma ngasih liat dagangan doang. Sekali-sekali bercanda, sekali-sekali ngocol. Tapi tetep jaga branding, jangan kebablasan jadi norak.

Kalo ada yang bertanya, jawab dengan ramah. Meski pertanyaannya kadang sudah ada dalam term & condition :D Ini sering banget, ya kan? Kebiasaan kita nih, ga suka baca term & condition langsung tanya aja. Males baca. Yaaa, itu harus dipahami. Harus dimaklumi, meski grundelan. :)) Coba deh jawab pertanyaannya dengan senyum, mengetiklah dengan tersenyum. Hasilnya beda deh. Buktikan aja sendiri :D



Nah, itu tadi beberapa kesalahan yang umum dilakukan oleh para pemilik online shop. Ada sih beberapa lagi, bisa dibaca di buku "Sukses Membangun Toko Online" ini ya. Lho, kok ujungnya promosi ya? Yaaaa, nggak papalah. Ini juga salah satu strategi pemasaran kok :))
Kalau udah nggak nemu di toko buku, ya maklum. Itu buku tahun 2014. Mau? Bisa pesan ke saya, atau ke Stiletto Book ;)

Sukses Membangun Toko Online - Penerbit: Stiletto Book

Selanjutnya, rencananya sih, pengin survey untuk pemilik olshop-nya. Biar fair gitu ya, nggak cuma ada keluhan para pelanggan online shop, tapi juga ada keluhan para pemilik online shop tentang para pelanggannya :D

Stay tuned!

Atau mau tambahin kesalahan para pemilik olshop yang lain? Yang sering bikin kamu sebel?
Sok, silakan tambahkan di komen ya! Nanti saya update di artikel :)
Masih Kekurangan Ide? 30 Ide Blogpost Ini Bisa Kamu Pakai!

Di artikel blog ini beberapa waktu yang lalu saya pernah share tentang cara brainstorming ide liar ala saya. Nah, di artikel ini saya coba untuk share 30 ide mentah nih buat kamu yang mungkin masih kesulitan untuk meliar brainstorming ide.

Mengapa 30?

Siapa tahu ada yang mau one day one post selama sebulan. Pas jadinya ya, 30. Yaaa, kalau bulannya berumur 31 hari, ya berarti yang satu ntar bisa curhatan geje. Hahaha. Sesekali kan perlu juga ya, ada postingan nggak jelas :D

Anyway, masing-masing ide di bawah ini adalah ide mentah. Kamu bisa mengembangkannya lagi, dan list ini bisa kamu rotasi aja tiao bulan karena memang saya carikan topik ide yang bakalan ada ceritanya terus tiap bulan, dengan asumsi kamu bakalan punya pengalaman berbeda pula di setiap waktu.

30 Ide Blogpost untuk Sebulan yang Bisa Kamu Pakai


1. Behind the scene: the look of your blog or business


Barangkali kamu melakukan sesuatu untuk blog kamu? Misalnya kamu sekarang mulai mempraktikkan jurus-jurus memotret untuk bisa menghasilkan foto-foto yang bagus untuk blog kamu. Bisa kamu ceritain tuh, gimana perjuangannya sebagai artikel blogpost. Atau kamu punya bisnis apa? Jualan buku? Mungkin kamu bisa cerita tuh, pas kamu lagi kulakan, misalnya.

2. Round up helpful posts and link to other bloggers


Nah, yang ini pengin saya lakukan nanti beberapa bulan sekali, rencananya. Kadang saya memang menemukan tulisan-tulisan keren dari para blogger. Memang akan sedikit butuh usaha sih buat round up. Tapi pengiiiin banget saya lakukan. Misalnya seri tips SEO terbaik, seri tips menulis terbaik, seri tips presentasi terbaik. Round up ini semacam kumpulan artikel gitu deh. Di blog luar sering banget saya temui artikel jenis ini. Di sini, belum terlalu banyak. Padahal kalau dilihat blogger sini lebih suka blogwalking dan komen. Tapi jarang yang nge-round up ya :D
So, temukan blog yang berniche sama dengan blog kamu, kumpulkan artikel yang bermanfaat untukmu, jadikan blogpost. Mayan, bisa jadi bookmark juga untukmu kan?

3. Feature a professional in your field


Kamu bekerja di bidang apa? Penulisan? Pemasaran? Desain?
Bisnis kamu di bidang apa?

Temukan satu orang yang kira-kira sangat menginspirasi, lalu lakukan wawancara. Tanya resep suksesnya, tanya tips-tipsnya, tanya pengalamannya. It will be a great post.

4. Feature the people you work with


Sehari-hari biasa bekerja dengan siapa?
Cari waktu, luangkan waktu, lakukan wawancara sedikit. Interviewnya juga yang ngobrol santai aja, tanyakan bagaimana rasanya bekerja di bidang yang sedang digeluti sekarang. Ada nilai tambah enggak buat dia, suka duka dia melakukan pekerjaannya dan seterusnya.
Yang bekerja kantoran, pasti gampang. Yang bisnis sendiri, bisa juga tuh mewawancarai vendor barangkali?

5. Write a review


Yeah, sesekali lakukan review karena kamu memang suka menggunakan produk tertentu, bukan karena dibayar. Sudah banyak cerita beberapa orang yang kemudian bisa mendapatkan job review yang sesungguhnya, setelah mereka melakukan review dengan sukarela.


Postingan roundup - Cara bagus untuk bikin backlink.


6. Repurpose old blog posts with a round up


Nah, kalau blog kamu berniche, tentu kamu sudah banyak menulis seputar niche kamu kan? Sebulan sekali, kamu bisa melakukan round up. Misalnya best-viewed articles of the month. Atau most commented articles of the month. Atau resep kue bulan ini. Atau tips parenting bulan ini. Dan seterusnya.
Selain bisa jadi resume dan portfolio, round up seperti ini juga akan bagus untuk blog kamu karena ada internal link ke blog kamu sendiri.

7. Create a blog series on a project


Sekarang lagi ngerjain apa?
Boleh banget lho, ditulis di blog per tahap nya. Bisa jadi catatan juga untuk ke depannya kan? Nggak perlu panjang-panjang juga malahan. Kalau perlu hanya dengan foto-foto aja juga oke.

8. Infographic day


Kayaknya seru juga ya, kalau ada postingan infografis sekali sebulan. Tentang apa pun. Misalnya bikin resep masakan, dibikin infografis. Atau ada info 10 tempat asik buat nongkrong di Jakarta, dibikin infografis. Atau tips jalan-jalan bareng balita, dibikin infografis.
Jangan mikirin hasilnya. Biarin aja apa adanya. Yang penting prosesnya kan?
Pertama bisa mulai bikin yang simpel dulu, baru ke yang lebih kompleks.

9. Highlight one of your business project, products or services.


Melakukan throwback sesekali juga oke lho. Pernah ada proyek apa? Atau pernah bikin sesuatu, yang belum pernah dipublish di blog?
Nah, tulis deh sekarang.

10. Write out a list of FAQs


Lakukan pengumpulan pertanyaan yang sering ditanyakan oleh pengunjung atau pembaca blog kamu. Lalu jadikan satu dalam satu postingan. Misalkan, FAQs mengenai tips bikin MPASI, atau FAQs jualan sepatu, dan seterusnya.

Yuk, tukeran guest post!


11. Undang teman blogger untuk menulis guest post


Saya pernah bahas mengenai guest blogging ini, termasuk etikanya. Dan, ini akan saya lakukan lagi, membuka guest post. Tapi yang ini, saya yang akan meminta teman blogger untuk menulis. Jadi, bukan nunggu ada kiriman.
Tunggu ya, barangkali kamulah yang akan saya colek ;)

12. Profile a few loyal readers of your blog


Sudah punya pembaca tetap? Ayo, coba tampilkan profilnya di blog kamu. Apalagi kalau sama-sama blogger :D Bakalan menarik deh.

13. Resep / tips sukses di niche yang kamu geluti


Apa sih profesi kamu? Taruhlah, guru.
Kamu bisa menulis tips dan trik seputar profesimu. Misalnya, tips mengajar fisika tanpa bikin siswa bosan. Mungkin tips ini umum diketahui oleh para guru, tapi mungkin jadi pengetahuan baru lho buat kita-kita yang bukan guru. Dan, mungkin juga, ada orangtua yang merasa tertolong dengan artikel semacam ini.

14. Create a collection of inspiring motivaing quotes of famous people


Saya pernah melakukannya di artikel ini. Dan pasti akan saya lakukan lagi. Banyak quotes bertebaran di internet. Kamu bisa dengan gampang googling. Jadikan satu, jangan lupa tulis sumber-sumber quotes tersebut.

15. Agenda bulan ini


Ada kursus yang mau diambil? Atau pengin melakukan sesuatu yang lain dari rutinitas bulan ini? Atau ada harapan akan sesuatu bulan ini?
Kamu bisa menuliskannya di sebuah artikel.

Weekend itu pasti seru! Nggak harus cerita perjalanan yang jauh-jauh kan?

16. So, I spend last weekend by doing ...


Ini cerita tentang weekend kamu.
Setiap orang pasti punya kegiatan istimewa pas weekend kan? Yang di luar rutinitas.
Ayo, ceritakan di blog.

17. Nobody knows that I ...


Ini postingan narsis. Tapi seru juga lho, dilakukan sesekali.
Ceritakan mengenai diri kamu yang belum pernah diketahui orang. Nggak, bukan maksudnya terus harus buka borok sendiri sih :)))
Misalnya gini. Saya, barangkali nggak banyak yang tahu, benci upacara pemakaman. Yes, I hate funerals. Saya nggak suka suasananya, bahkan sampai mual kalau saya harus menghadiri pelayatan terlalu lama. Makanya saya selalu menghindar kalau ada yang mengajak saya hadir di pelayatan. Ya, semacam trauma sih. I know.
Hahaha. Kamu pasti punya cerita semacam itu.

18. Profile your role model


Saya pernah merencanakan untuk menulis profil penulis-penulis yang saya kagumi, dan bukunya saya koleksi. Ada di blog buku saya, di sini. Harusnya kemudian saya nulis tentang Korrie Layun Rampan, Eka Kurniawan, Seno Gumira, dan seterusnya. Tapi mandek :)) Jangan ditiru ya!
Kalau kamu punya profil seseorang yang mengagumkan untukmu, coba riset mengenai dirinya lalu rangkum dalam sebuah tulisan. Akan lebih bagus lagi, kalau kamu berhasil interview juga.

19.  Write an open letter


Surat terbuka. Pernah ngehits beberapa waktu yang lalu. Dan, kayaknya masih enjoyable buat dibaca. Misalnya, a letter for my 10-years-old self, surat untuk almarhum ayah, surat untuk penjaga palang pintu kereja api yang kulihat pagi tadi, surat untuk mas pengamen yang ngeramein bis kota hari ini dan seterusnya.
Lucu kan?

20. Photo round up


Kamu banyak menghadiri acara bulan ini?
Kumpulkan foto-fotonya, bikin slideshow lalu tampilkan di blog. Semacam kaleidoskop bulanan deh.

Pastikan foto-fotonya 'layak' untuk ditaruh online ya!

21. What would you love to learn?


Pengin mempelajari sesuatu yang lain?
Biasa nulis, terus sekarang pengin menambah keterampilan motret, misalnya?
Apa yang kamu harapkan dengan penambahan keterampilan tersebut? Apa yang akan kamu lakukan untuk menambah keterampilanmu? Dan seterusnya.

22. Book I've read or movies I've watched


Reviewnya juga nggak perlu kayak para blogger review itu juga kok. Kamu bisa menemukan style review kamu sendiri. Misalnya, kamu jadi menemukan gaya parenting baru setelah nonton film I Don't Know How She Does It-nya Sarah Jessica Parker. Atau misalnya kamu menemukan trik memasak tertentu setelah membaca buku novel yang di dalamnya ada kisah seorang chef. Anything.

23. Playlist of the month


Bulan ini kamu lagi seneng dengerin lagu-lagu apa saja? Mengapa kamu suka? Cerita apa yang kamu tangkap di balik lagu tersebut?
Atau kamu punya story dengan sebuah lagu?

24. Pick out 5 influential bloggers that inspire you


Pilih 5 blogger yang menurutmu moncer di bulan ini, lalu bikin round up. Apa yang kamu suka dari mereka? Mengapa mereka 'pantas' masuk ke daftar round up kamu? Apa keunggulan mereka? Dan seterusnya.

25. What is your 5 biggest distractions and how you deal with it


Pilih 5 hambatan yang paling menyulitkanmu untuk maju bulan ini. Males nulis? Nggak pede?
Kenapa? Apa yang kamu rasakan?
Kamu nggak harus menceritakan hal-hal yang terlalu pribadi juga di sini. Pilih hambatan jenis personal aja. Yang harus kamu perbaiki tentang diri kamu sendiri, misalnya.


Kesalahan ada, untuk dicatat dan dipelajari. Lalu temukan cara untuk memperbaikinya.


26. What you should avoid and try to fix


Ini kaitannya dengan  ide no. 25 di atas. Kalau sudah tahu the biggest mistakes atau the biggest distractions, tentunya langkah berikutnya yang harus kamu lakukan adalah memperbaikinya bukan? Apa yang akan kamu lakukan? Apa hasil yang kamu harapkan?

27. The day in the life of a ____ like


Isi titik-titik di atas dengan pekerjaan kamu.
Dalam satu hari yang produktif, coba kamu rekam apa saja yang kamu kerjakan seharian itu. Kumpulkan fotonya. Lalu ceritakan dalam sebuah blogpost.
It will be a great story, I'm sure.

28. Favorite blogpost you read on your fellow bloggers


Ini kayak yang round up poin no. 2 di atas. Tapi kalau di atas lebih ke round up artikel sejenis, kalau ini lebih random. Find anything interesting, and put them up on one blogpost.

29. What have you learned this month


Kalau tadi postingan mengenai apa yang ingin kamu pelajari, sekarang kamu tulis deh apa yang sudah kamu pelajari selama sebulan ini.
Share mengenai ilmu baru kamu, nggak akan bikin ilmumu berkurang. Nggak akan bikin kualitas dirimu menurun.

30. Host a quiz or giveaway


Nah, ini nih.
Kuis atau giveaway nggak perlu hadiah yang terlalu wah! Bisa hadiah-hadiah kecil, macam pulsa atau voucher apalah apalah. Apalagi kalau kamu langganan menang ini itu. Ketimbang hadiah numpuk, kalau ada yang nggak kepake, mending di-giveaway-kan. Nambah teman, bikin seru, dan pasti bikin orang senang.
Sesuaikan aturan giveaway-nya ya. Karena hanya untuk seseruan, nggak usahlah bikin pertanyaan atau rules yang belibet. Yang gampang aja.
Saya pernah secara periodik bikin Pesta Fiksi di blog fiksi saya. Hadiahnya? Ya, cuma 1 buku. Waktunya? Cuma 1 minggu. Tapi lumayan kok. Bikin fresh. Hehe. Kamu bisa update blog, juga peserta giveawaynya. Atau kalau mau lebih praktis, bikin giveaway yang jawabannya ditulis di kolom komen aja. Lebih gampang.

Nggak harus berhadiah mahal dan banyak!


Hmmm ... jadi pengin bikin giveaway kecil-kecilan lagi. Tapi ini juga masih ada BookReview Contest ya. Ntar aja deh, kalau yang ini udah selesai :D
Udah ikutan belum? Lagi ada BookReview Contest untuk buku saya Blogging: Have Fun and Get the Money lho :D

Nah, gimana?
Udah siap untuk produktif menulis?
Yuk! :)


7 Tools Wajib untuk Menghasilkan Konten yang Readable, Likeable dan Sharable

Seharusnya memang saat menulis, kita harus benar-benar fokus pada tulisan. Nah, setelah itu baru kita edit supaya lebih enak dibaca, dan pesan-pesan bisa tersampaikan dengan baik. Setelah editing, baru deh kita "hias" atau saya menyebutnya dengan garnishing.

Mengapa prosesnya harus begitu, menulis - editing - garnishing?
Karena tentunya kita ingin menghasilkan tulisan yang matang, yang punya data dan dasar pemikiran yang jelas dan runtut, logis, dan tentunya enak dibaca.

Nah, saat memasak menjadi konten yang matang itu tentunya kita membutuhkan tools-tools yang bisa membantu kita secara efektif. Maksudnya efektif, ya gampang digunakan, cepat, dan hasilnya tentunya bisa 'mengangkat' masakan kita alias konten kita.

Terus, tools apa saja nih yang bisa bantu kita memasak konten?


1. Sinonimkata

sinonimkata.com

Website ini semacam thesaurus, memberikan daftar kata-kata bersinonim dalam bahasa Indonesia. Mengapa website ini wajib saya buka? Biasanya untuk menemukan kata yang lebih bervariasi, ataupun untuk menemukan kata yang lebih efektif agar tulisannya lebih "berbicara".

Saat menulis, sering saya menulis beberapa kata yang diulang-ulang dalam satu paragraf. Kalau dibaca ulang, jadi nggak enak banget dibaca. Membosankan, dan kesannya ya gitu, terlalu berulang. Jadi nggak mengalir.

Website ini cukup membantu memberi saya banyak alternatif kata pengganti.

2. Artikata

artikata.com

Arti kata biasanya saya pakai untuk mengecek apakah kata baru yang saya dapatkan setelah mencari di Sinonimkata memang mempunyai arti yang sama dengan kata yang digantikan. Atau juga untuk mencari arti kata supaya jelas, dan pemakaiannya juga tepat.

Kadang alih-alih Artikata.com, saya juga lebih suka membuka web KBBI langsung. Biasanya sih di sana selain ada arti dari kata yang kita cari, juga ada contoh penggunaannya. Jadi lebih jelas sih biasanya.

3. Rimakata

rimakata.com

Web ini sih biasanya saya buka kalau lagi nulis flashfiction sih. Karena di flashfiction biasanya butuh sedikit diksi dan susunan indah di kontennya. Tapi kalau di artikel nonfiksi biasa, sih biasanya saya jarang buka web ini.

4. Plagiarism checker


Plagiarism checker
Setiap kali saya selesai menulis konten secara lengkap, dan sudah diedit, hal berikutnya yang saya lakukan adalah mengecek artikel atau konten tersebut apakah lolos plagiarism. Caranya, adalah dengan minta bantuan Plagiarism Checker milik Small SEO tools ini.

Cara pemakaiannya gampil banget. Kamu tinggal kopi paste aja artikel yang sudah kamu buat ke kotak yang sudah disediakan, lalu isi security code dan klik 'Check Plagiarism'. Dalam beberapa menit, kamu akan lihat hasilnya, berapa persen originalkah artikel yang sudah kamu bikin tadi. Selain kopasin ke kotak yang sudah disediakan, kamu juga bisa ngecek dengan mengunggah file .doc yang sudah kamu bikin.

Plagiarism result


Standarnya gimana, kalau sebuah konten bisa dibilang bebas plagiarisme? Kalau saya sih biasanya ambil antara 90 - 100% harus bebas plagiarisme. Ya, kadang susah juga ya buat 100%, makanya harus ada allowance. Tapi allowance-nya juga jangan banyak-banyak. 10% aja udah cukup.

So, kalau score sebuah artikel originality-nya 90% itu menurut saya udah bebas plagiarisme.
Kalau kurang dari 90% gimana? Edit lagi dong. Nanti keliatan kok frase-frase mana saja yang nggak lolos plagiarisme. Nah, frase tersebutlah yang diulik, dicari sinonim katanya, atau dari kalimat aktif menjadi pasif, dan lain sebagainya. Hmmm, bisa jadi postingan baru lagi nih, cara menulis bebas plagiarisme. Hahahah.

5. Pixabay / Gratisography / Unsplash / Picjumbo


Image via Pixabay

Kalau sudah selesai dengan tulisan, sekarang saatnya garnishing. Yang pertama, tentu saja lengkapi dengan foto atau image yang menarik.
Saya pernah share tentang 11+ situs-situs yang menyediakan foto dan image HD bebas pakai. Jadi, silakan pilih saja. Tapi di antara 11+ itu, ada 4 yang memang selalu menjadi pilihan utama saya, yaitu Pixabay, Gratisography, Unsplash atau Picjumbo. Kalau di keempat web itu, saya nggak bisa menemukan foto yang pas, baru deh nyari di web-web yang lain.

6. Canva / Befunky

BeFunky.com

Nah, kalau sudah dapat foto yang pas, mau dipakai langsung atau mau diolah lagi, itu tergantung kebutuhan.
Kalau mau diolah lagi, website yang saya andalkan adalah Canva atau BeFunky. Di web Kumpulan Emak Blogger, saya pernah share 5 free tools untuk dapat membuat blog titles yang menarik. Silakan dicek aja. Tapi andalan saya saat ini adalah BeFunky. Lebih light ketimbang Canva, dan font-nya bisa pakai font yang ada di windows kita sendiri juga.
Jadi lebih custom, buat saya.

7. Piktochart

piktochart.com

Nah, kalau foto udah beres, harusnya sih terus bikin infografis kalau memang dibutuhkan ya.
Di Piktochart, bikin infografis jadi lebih mudah, kalau kamu nggak terlalu menguasai software grafis macam Corel atau Photoshop. Tapi, saya pun sekarang lebih suka pakai tool-tool instan ini ketimbang buka Photoshop atau Corel. Hahaha. Ribet euy!

Di Piktochart, kita bisa ambil template infografis yang sudah ada, tinggal modif-modif dikit. Atau mau bikin dari awal juga bisa. Di sana juga tersedia berbagai macam elemen yang bisa banget dipakai. Gratis? Iya, ada yang gratis, ada juga yang harus bayar. Saya sih biasanya mix aja dengan elemen yang sudah saya punya, yang sudah saya download dari situs yang lain.

Ini ada contoh infografis yang saya buat dengan Piktochart.

Infografis tentang KDRT


Sebenarnya juga ada tools untuk bikin video yang keren. Tapi so far saya belum beneran serius nyobain. Jadi belum berani saya rekomendasikan ke teman-teman. Barangkali kalau di antara teman-teman ada yang pernah coba tools membuat video yang bagus, gampang dan cepat, boleh deh direkomendasikan. Silakan tambahkan saja di kolom komen ya :)

Nah, dengan 7 tools di atas sudah bisa dipastikan konten yang kita masak bisa benar-benar matang deh. Tinggal distribusi dan promosinya aja :)

Selamat nulis!
Disclaimer: Postingan berikut pernah saya share di Twitter, lalu ada tambahan sedikit :)

FlashFiction - Salah Satu Cara Latihan Menulis Efektif dan Kreatif

FlashFiction - Apaan sih itu?

Image via Write ... Edit ... Publish Blog

Jadi, kemarin ada yang nanya. Apa sih flashfiction yang sering saya tulis itu. Hmm, jadi ya, sekalian aja ah, share di sini.

Flashfiction, adalah prosa super pendek dengan panjang kurang dari 1000 kata. Tapi saya sendiri 500 kata itu udah pol. Karena kalau lebih dari itu, kemungkinan untuk lospokus semakin besar. Sedangkan sebuah flashfiction itu harus hanya punya 1 fokus: 1 adegan 1 konflik 1 setting waktu.

Flashfiction, atau yang sering disingkat FF, seperti juga prosa lain, punya unsur yang sama, yaitu tema, setting, alur, dan karakter. Jadi, jangan karena begitu singkat lalu ada unsur yang bisa dihilangkan sama sekali. Tapi gimana kita menjelaskan karakter tokoh kalau cuma dibatasi sekian ratus kata begitu? Ya, di situlah letak tantangannya.

Apa yang harus diperhatikan saat menulis flashfiction?

Image via Slideshare

Pasti sudah sering dengar yang namanya prinsip "Show don't Tell" kan? Itu berlaku banget saat menulis Flashfiction. Kita bisa menjelaskan karakter tokoh melalui obrolan, narasi, bahkan sikap si tokoh yang tergambarkan.

Ciri khas lain lagi dari flashfiction, adalah adanya twist, atau pelintiran cerita. Cerpen, nggak terlalu mutlak ada twisted ending.

Image via Slideshare


Twisted ending biasanya memberikan efek kaget pada pembaca, yang keliru menebak ending dari cerita tersebut. Kalau saya sendiri, mungkin karena sudah terbiasa membaca flashfiction, setiap kali mulai membaca berusaha mengosongkan pikiran siap-siap menerima kejutan :D Jadi malah hampir nggak pernah terkejut lagi :))

Sebagian penulis flashfiction terjebak pada mindset bahwa ending sebuah flashfiction harus mengerikan, sadisme, gore etc. Nah, kadang di situlah letak kesalahan beberapa penulis flashfiction.

Twist nggak harus sadis, nggak harus mutilasi, pembunuhan, mistis dan sebagainya.


Twisted ending, nggak harus selalu tajam. Bisa juga landai. Artinya pembelokannya nggak musti selalu tajam.Twisted ending bisa dibangun dengan sedikit "mengobok-obok" sisi psikologis pembaca.

Maksudnya gini.

Ada beberapa perasaan yang timbul pada pembaca hingga bisa terkejut dengan pembelokan cerita yang nggak disangka-sangka. Misalnya, menimbulkan perasaan iba, ngeri, atau lucu. Kalau bisa salah satu dari perasaan itu timbul di benak pembaca, bisa dibilang twist cerita cukup sukses. Paling susah itu malah bikin twist komedi. Itu eikeh sih :D

Kadang saya sih menemui komen, ih, ini flashfiction kok nggak ada twistnya. Tapi saya berpendapat lain. Ada kok twistnya, hanya nggak tajam. Landai. Salahkah itu? Enggak dong. Bener, sudah memenuhi syarat flashfiction. Apakah endingnya juga harus meledak-ledak? Bikin pembaca terguling dari kursi? Enggak juga. Asalkan memberi efek kejut tersendiri, itu sudah cukup.

Misalnya cerita ini.
---

~ Cantikkah Aku, Bu? ~

"Bu, cantikkah aku?"
"Cantik dong!"
"Ibu nggak bohong?"
"Ibu tak pernah bohong padamu."

Dina menatap cermin di hadapannya. Pesek. Legam. Tonggos. Berlipat-lipat lemak di dagunya. Tingginya pun hanya setinggi meja.

Dina lebih percaya ibunya, ketimbang percaya Ami, teman sekelasnya, yang suka mengolok-oloknya dan memanggilnya dengan sebutan troll.

---

Di situ kemudian timbul rasa kasihan pada pembaca karena membayangkan fisik Dina. Padahal di awal Ibu sudah bilang dia cantik.

Di situlah pelintirannya berada. Bikin pembaca terguling dari kursi? Enggaklah. Tapi ada pembelokan cerita.

Atau cerita yang ini.
---

~ Takbir Pagi ~

Berdiri ia di balkon kamarnya.

“Saya ingin tobat. Masihkah diperbolehkan?”

Hening.

Dia berbalik, masuk. Lantas ia keluar lagi. Kaftan sudah berganti baju koko. Rambutnya diikat, ditutup dengan kopiah. Ada bening di mata yang tak lagi bermaskara. Bibirnya yang tak lagi bergincu menyala mengatup rapat.

“Terima kasih,” gumamnya.

---
Keliatan nggak, di mana pelintirannya?

Kalau sering nulis dan baca, bakalan keliatan kok cerita itu ada pelintiran atau enggak.

Image via Lydia Netzer


Kesalahan lain yang sering dilakukan oleh para penulis flashfiction adalah kebanyakan terlalu fokus pada twist, terlalu sibuk mikirin, ini twistnya oke nggak ya? Padahal, dalam flashfiction justru letak kuncinya adalah pada opening. Opening-lah yang menentukan twist itu cukup tajam atau enggak.

Yep, opening-lah justru hal terpenting dalam flashfiction.

Flashfiction bisa dibuat dengan dua cara:

  • Cari dulu twistnya, lalu tarik ke opening. Bikin opening yang berbeda dengan twist, lalu dihubungkan di tengah.
  • Mulai dari opening lalu membuat beberapa alternatif ending, pilih ending yang out of the box.

Saya sih dua-duanya sering pake. Tergantung ide cerita dan juga prompt. :D

Yang perlu diperhatikan lagi, saat menulis flashfiction jangan pernah melakukan dua hal konyol ini:
  • Membuat keterbatasan jumlah kata sebagai hambatan untuk bercerita dan bertutur sesuai logika. Misalnya, saat ditanya kenapa ini kenapa itu, lalu jawabannya, "Sebenarnya itu begini lho. Tapi cuma dibatasi 200 kata sih, saya jadi nggak bisa memasukkannya ke dalam cerita." Sorry, dengan demikian, ceritamu failed :)
  • Ending bermimpi. Udah seru-seru, ternyata twistnya mimpi. Please. It's ridiculous. Think about something else. Be creative!

Lalu kalau fiksimini yang suka dimainkan di Twitter itu, apa bedanya sama flashfiction?
Sepertinya sih prinsipnya sama, hanya saja fiksimini terbatasi lebih sempit lagi. Tapi imajinasinya lebih luas. Ah, kalau ini mah, saya nggak berani menganalisis-lah. Ada yang lebih expert ketimbang saya :lol: Silakan follow aja @fiksimini di Twitter, kalau mau kenal lebih dekat sama fiksimini. Di sana banyak 'dedengkot'-nya yang pasti akan lebih bisa menjawab pertanyaan di atas.

Kenapa menulis flashfiction?

Image via Short Stops

Ada banyak manfaat yang bisa kamu peroleh dengan berlatih menulis flashfiction, di antaranya:
  • Kita berlatih menulis kalimat secara efektif dan efisien. Karena di flashfiction tak boleh ada yang bertele-tele, tak boleh ada yang tak penting, tak boleh ada sampiran. Semua to the point.
  • Kita berlatih kreatif memilih diksi. Kadang satu pilihan kata bisa menggambarkan satu kalimat utuh. Nah, semakin banyak menulis flashfiction, kita jadi semakin terlatih memilih kata apa saja yang tepat untuk menggambarkan satu kondisi tertentu.
  • Kita jadi makin kreatif karena selalu berlatih menemukan ending yang unpredictable, atau menemukan opening yang biting.

Kalau kamu mau kenalan lebih lanjut sama flashfiction, bisa kepoin blog [klik] Monday Flashfiction, sebuah komunitas pecinta flashfiction yang sekarang berkembang ke komunitas blogger fiksi. Ada banyak hal keren yang dibahas di sana :)
Ubek-ubek aja blognya. Kalau mau gabung juga boleh. Syarat dan caranya juga sudah ada di blog semua :)

Atau mau baca-baca cerita flashfiction saya, ada di blog [klik] Fiksi Carra. Meski akhir-akhir ini jarang banget diupdate. Hiks. Niat untuk nulis lagi ada, tapi entahlah, mood nulis fiksinya masih rendah banget nih. Hopefully, segera bisa nulis lagi. Saya udah kangen juga sebenarnya, bermain diksi dan imajinasi di sana.

Kamu ada tambahan tentang flashfiction ini? Yuk, tulis di kolom komen :)

Cara brainstorming untuk hasilkan ide secara cepat


Yang suka menulis, apalagi buat seorang content writer yang dituntut untuk menulis setiap hari dengan topik yang berbeda-beda, pasti sering kejadian tiba-tiba ngeblank nggak ada ide buat ditulis. Apakah itu yang disebut dengan writer's block?
Entahlah.

Sekali dua kali, saya juga pernah ngalamin. Tapi, percaya atau enggak, saya bisa bilang semakin ke sini, saya semakin nggak pernah mengalaminya.

Gimana caranya?
Punya notes khusus untuk menampung ide.
Ya, kayaknya hampir semua penulis sih sudah punya "buku primbon"-nya masing-masing. Tapi, buat yang nggak suka nabung ide, sebenarnya ada cara buat brainstorming hingga memungkinkan untuk menghasilkan puluhan ide artikel yang bisa dilakukan dalam waktu 1 jam duduk saja.

Nggak percaya?
Sini saya kasih tahu rahasianya.
*walah, gegayaan* #selftoyor
Etapi cara ini cukup berhasil kok buat saya sendiri, saat saya udah kelamaan nggak nabung ide dengan berbagai alasan. Ya, gimana ya. Kadang juga males buat nyatet ide yang melintas. Hahahaha. Pas tabungan ide menipis, nah, bingung deh. Jadi harus duduk dan menyediakan waktu khusus buat nabung lagi.

Tapi nggak usah khawatir. Dengan cara saya ini, kamu nggak perlu duduk berlama-lama. 15 menit juga cukup kok, asal kamu benar-benar bebas gangguan dan pas pikiran lagi bisa diajak meliar bersama.

4 Langkah Brainstorming untuk Hasilkan Banyak Ide dalam Waktu Singkat


1. Find the crowd


Crowd di sini adalah suatu 'tempat' di mana orang kumpul dan ngobrol bareng, di mana saya bisa mengamati apa yang lagi dibicarakan tanpa saya harus say hi dan hanya mengumpulkan ide. Bisa jadi situs umum di mana semua orang boleh mengajukan pertanyaan random, macam Yahoo Ask, ataupun forum.

Salah satu 'crowd' favorit saya adalah Quora (www.quora.com). Di Quora saya bisa melihat banyak sekali orang bertanya tentang segala hal. Dari situ, ada banyak kali saya mendapatkan ide. Misalnya, saya menemukan pertanyaan, "How can a parent make a toddler listen without beating?".
Dari situ saya bisa mem-break down beberapa ide artikel, misalnya:
  • 7 alasan mengapa memukul anak sama sekali bukan cara mendidik yang baik
  • 13 tips membuat anak mendengarkan nasihat Anda tanpa kompromi
  • 11 tips cara berkomunikasi yang baik dengan anak
  • 23 alasan mengapa komunikasi yang baik antara anak dan orangtua sangat penting dalam perkembangannya
  • dan seterusnya
Tulis apa saja yang terlintas di kepala saat menelusuri thread tersebut, termasuk saat membaca jawaban-jawabannya. Yakin deh, 20 ide artikel pasti terkumpul.

Cara lain untuk menemukan crowd adalah dengan mencarinya via Google. Saya mencoba memasukkan keyword "content writing forums", dan kemudian membawa saya ke situs SEO Chat (http://forums.seochat.com/content-writing-marketing-114/). Salah satu threadnya adalah "how to know if an article is original". Dari situ juga saya kemudian bisa mem-break down ke beberapa ide artikel, misalnya:
  • Cara mengecek apakah tulisan kita sudah 100% original
  • 17 tips menulis artikel unik dan original yang menarik
  • 13 langkah yang harus kita lakukan jika kita menemukan konten kita dikopi oleh orang lain
  • 11 cara mencegah supaya diri sendiri tak terjebak pada plagiarisme tanpa kita sadari
  • dan seterusnya
Nah, sudah ada berapa ide sekarang? Dari Quora sudah ada 20 ide artikel, dari forum SEO Chat ada 20 ide juga. 40 ide artikel.
Lanjut! :))

2. Gunakan headlines generator


Salah satu situs referensi tetap saya, Hubspot, punya tool keren buat bantu kita brainstorming topik ide menulis. Namanya HubSpot's Blog Topic Generator.

HubSpot's Blog Topic Generator
Saya coba masukkan 3 keywords di field yang tersedia, yaitu content writing, blog, dan SEO. Let's see what I got.

Hasil nanya HubSpot's Blog Topic Generator
Nah, udah ada 5 ide topik deh. Tinggal sesuaikan, lalu riset. :D All you need is mem-variasikan keywords aja buat ditanyakan ke Hubspot kan?
Mau ide lagi? Tinggal klik 'Try Again' lalu klik 'Give Me Blog Topics!' lagi. Maka Hubspot akan kasih lagi ide yang lain lagi.

Jadi ada berapa ide topik sekarang?
Dengan dibantu oleh Hubspot, kita bisa hasilkan 20 ide topik.
Jadi sudah 60 ide topik dong?
Lanjut! :))
Mulai asyik nih.

3. Buka bukumu atau majalahmu


Kamu pasti punya dong buku-buku yang sesuai dengan minat kamu. Boong banget kalau ngaku suka nulis, tapi nggak suka membaca. Kalau majalah, sering beli jugakah? Kalau iya, gunakan semua sebagai generator ide artikel kamu.

Sukses Membangun Toko Online - Penerbit Stiletto Book (2014)


Misalnya nih. Saya ambil buku "Sukses Membangun Toko Online" karangan ... eh, karangan siapa ini ya? Uhuk. Sudah punya belum? Lho, malah promosi. :)))

Dari liat judulnya saja, saya bisa meng-generate beberapa ide topik tulisan. Misalnya nih,
  • 11 kesalahan yang sering dilakukan oleh para pemilik online shop
  • 13 hal menyebalkan yang sering dilakukan oleh pelanggan online shop yang bikin pemilik OS pengin gigit kalkulator
  • 7 langkah memotret produk supaya pelanggan nggak salah fokus
  • 5 spesifikasi data produk yang harus ada dalam sebuah online shop
  • dan seterusnya
Work It, Girl!

Sekarang coba saya ambil buku "Work It, Girl!" ini. Ada beberapa ide tulisan bisa saya dapatkan dari sini.
  • 11 hal yang bakalan kamu alami begitu kamu mulai bekerja. Menyebalkan, tapi harus dilalui
  • 9 tips kenalan dengan coworkers baru agar kamu tampak mengesankan tapi nggak norak
  • Jangan lakukan 15 hal ini karena kamu masih menjadi karyawan baru
  • 7 hal yang harus kamu siapkan sebelum hari pertama ngantor besok
  •  dan seterusnya
 Now, sudah berapa ide nih kita dapatkan? 20 lagi?
Jadi sudah 80 dong.
Hasek! Lanjut?
Yuk!

4. Catat komentar-komentar yang mampir di blogpost, Facebook status, ... anywhere!


Nah, ini nih biasanya saya juga suka lakukan. Ketimbang bingung-bingung, saya suka nanya aja di Facebook status. Kayak tempo hari.

Survey di Facebook
Dalam status tersebut, saya mendapatkan beberapa respon, di antaranya:
  • Gimana sih cara buat dapat ide buat nulis artikel di blog? (via Asri Rahayu) - nah, yang ini jadi tulisan ini deh. Dan mungkin akan ada seri selanjutnya lho. Tunggu ya :))
  • Soal manajemen waktu posting (via Rosalina Susanti) - nah, yang ini masih ngantre ya :D
  • Bagaimana mencari pengasuh anak.yang baik (via Maria Noviati) - yang ini sebenarnya bukan di blog ini tempatnya. Dan, di portal sebelah sudah pernah dibahas. But, it's an idea!
  • To do list persiapan nikah (via Indah Kanaya) - yang ini juga salah tempat. Tapi ini juga bisa jadi ide tulisan kan?
  • Tips biar kuat melek. Secara bisa ngeblognya pas anak tidur. Tapi kemudian si emak ngantuk berat dan ikutan tidur (via Rotun) - yang ini, bisa jadi ide juga. Tapi sebenarnya saran saya satu kalau ngantuk mah. Ya ikutan tidur itu. Hahaha.
  • Manajemen Carolina Ratri buat nulis dan mengelola blog-blognya. (via Shanty Dewi Arifin) - yang ini sudah saya bikin tulisannya di sini dan sini ya :D
  • Tips menaikkan engagement blog (via Febriyan Lukito) - yang ini ngantre :D
  • Tips ngadepin anak remaja yang suka mengungkit keslahan emaknya (via Perempuan Barista) - yang ini agak susah :)) Tapi ya bolehlah disimpan jadi ide ya. Semoga kapan-kapan nemu referensi yang pas.

Nah, banyak deh. Belum lagi kalau kita juga stalking status-status teman-teman yang lain. Yeah, pergunakan hobi dan kemampuan stalking-mu dengan baik dan benar, untuk tujuan yang baik juga, people! Jangan buat saling menyerang atau nyinyirin. Stalking-lah untuk mendapatkan ide menulis :D


Jadi, dapat berapa ide kita di langkah keempat ini? 20?
Berarti sudah 100 dong.

Ha! Gampang kan?
Tapi kok ada ide yang nggak banget?
Ya, biarin aja. Namanya juga brainstorming! Apa aja yang lewat, tangkep dulu urusan nanti.

Setelah brainstorming, kita mulai bisa sortir lagi nih, mana yang bisa kita eksekusi mana yang enggak. Mana yang bisa ditulis cepat, mana yang butuh riset mendalam. Dan seterusnya.
Hingga kemudian kamu mendapatkan urutan ide artikel yang siap untuk dieksekusi menjadi artikel yang bagus dan berkualitas.

Well, selamat menulis, Gaes!

Guest post ini pernah tayang di www.RedCarra.com, dan ditulis oleh Dani Rachmat.

 
 
Ini Dia 4 Jenis Postingan Berbayar dalam Blog Pribadi

Tujuan ngeblog memang beda-beda antara satu orang dengan orang lainnya. Ada yang awalnya memang hanya buat curhat-curhatan, ada juga yang dari awal emang sudah niat menjadikan blog sebagai tempat untuk mengais rezeki. Dengan semakin berkembangnya internet marketing saat ini, bahkan blog-blog yang awalnya ditulis untuk tujuan pribadi, akhirnya bisa juga jadi dapet tawaran untuk menulis sponsored articles.

Gue inget postingan blog berbayar pertama dulu, “hanya” ditawarkan kompensasi Rp. 100.000 berupa voucher untuk beli kembali barang di sebuah online shopping. Tapi jangan tanya perasaan gue dulu waktu dapet tawaran ini. Girangnya BUKAN MAIN! Ya namanya juga blog curhatan pribadi, eh ada toko yang menawarkan kerja sama untuk memasang link ke tokonya dia.

Jadi barangkali nanti ada yang menawarkan kerja sama dengan blognya, berikut beberapa jenis tawaran kerja sama yang mungkin kita terima sesuai pengalaman gue.

4 Jenis Postingan Berbayar di Blog Pribadi


Titip link postingan


Tawaran kerja sama ini mungkin yang paling banyak datang dari toko-toko online. Kenapa para toko online ini menawarkan kerja sama untuk menitipkan link di blog kita? Karena semakin banyak link yang mengarah ke toko online tersebut, semakin tinggilah peringkat toko online tersebut di mesin pencari dan hasil pencarian.

Mungkin terkesan sederhana untuk bentuk kerja sama ini, tapi ternyata untuk memasang link ke toko online kita harus pertimbangkan beberapa hal. Pertimbangan-pertimbangan yang gue ajukan ke pemasang link antara lain:

  •  Jenis linknya apakah bersifat do follow/no follow
  •  Berapa lama periode pemasangan link tersebut
  •  Seberapa ramai blog kita

Gue pribadi menawarkan untuk tarif standar yang berkisar antara Rp. 300.000 – Rp. 600.000 per artikel akan menulis postingan dengan 400 - 500 kata dan satu link do-follow yang hanya akan dipasang selama 3 bulan atau maksimal 6 bulan tergantung brand yang meminta pemasangan. Setelah usia pemasangan tercapai, link akan diganti menjadi link no-follow.

Bentuk kerja sama menitipkan link postingan ini bisa jadi isinya berhubungan dengan brand yang mengajak kerja sama seperti di postingan tentang kacamata di blog gue atau tidak sama sekali, yang penting di dalamnya mengandung link ke website atau alamat tertentu milik brand yang menawarkan kerja sama.


Review Produk


Kalau untuk review produk ini, tergantung dari produk yang akan direview dan tentu saja postingan akan tayang setelah gue sendiri selesai nyobain produknya.

Biasanya kerja sama-kerja sama review ini untuk produk-produk yang baru diluncurkan. Blogger jadi sasaran publikasi untuk peluncuran produk-produk baru ini.

Besarnya bayaran yang diterima juga tergantung dari brand yang menawarkan kerja sama dan seberapa popular blog kita. Ada yang memberikan produknya untuk direview dan kemudian memberikan bayaran, tapi ada pula yang memberikan produknya saja.

Selain itu, restoran-restoran juga sering mengundang blogger untuk mencicipi menu-menu terbarunya ataupun konsep restorannya yang terbaru setelah adanya peremajaan konsep untuk bias tetap bersaing.

Beberapa contoh review produk yang pernah gue tulis di blog antara lain peluncuran produk pembersih wajah pria dan juga undangan makan-makan di sebuah restoran.

Reportase


Kalau untuk reportase, ajakan kerja sama ini lebih menantang karena mestinya postingan harus terbit secepat mungkin. Gue pernah beberapa kali terima undangan untuk reportase peluncuran produk dan layanan.

Biasanya untuk jenis kerja sama seperti ini, kita akan diajak untuk melihat inside view dari sebuah perusahaan, bisa jadi keliling pabrik atau melihat produk yang belum diluncurkan sama sekali ke pasar. Kalau misalkan produknya harganya mahal, kita akan menerima bayaran tertentu, sementara apabila harga produknya masih mungkin dijual bebas dan tidak terlalu mahal kita bisa diberi produknya.

Contohnya reportase yang pernah gue dapat undangannya adalah ketika peluncuran dua brand otomotif dan juga peluncuran layanan internet 4G LTE.

Titip konten promosi


Kalau yang satu ini jenis tawaran yang lebih baru buat gue. Baru ada satu-dua brand yang menawarkan bentuk kerja sama dalam bentuk menitipkan konten advertorial. Sayangnya dari harga yang gue tawarkan, mereka belum cocok dengan harganya karena kedua brand sudah tidak membalas lagi email penjelasan mengenai penitipan konten ini.

Gue menyaratkan untuk menjadikan postingan titip konten promosi itu sebagai guest post di blog gue karena bagaimanapun gaya bahasa pasti berbeda dan konten yang ditulis pasti 100% berisi promosi. Syarat dan ketentuan lain sih mengikuti syarat dan ketentuan postingan berbayar yang gue post di blog.


Nah, itu tadi beberapa jenis postingan berbayar yang biasanya tayang di blog-blog di Indonesia. Semoga membantu apabila teman-teman menerima tawaran kerja sama.

---

Ditulis oleh Dani Rachmat / @danirachmat untuk blog www.CarolinaRatri.com


Mau nulis guest post untuk blog ini juga?
Kirim aja artikelmu dalam format .doc terlampir melalui email ke mommycarra@yahoo.com ;)
Karena produktivitas adalah koentji!


Hae!

Dalam postingan beberapa minggu yang lalu, saya pernah ngomongin soal editorial calendar ya. Dan terus, harusnya sih, lantas diikuti dengan freebies template calendar editorial.

Nah, sesuai dengan janji saya, ini dia template calendar editorial-nya bisa didownload di sini. Saya bikin untuk April, Mei dan Juni dulu ya. Nanti kapan-kapan boleh dilanjut. :) Rencana sih nanti pengin juga bikin yang model agenda tapi khusus buat blogger. Tapi ya, yang ini nggak bisa haratis :)) Kan ada ongkos cetak :D Iya, penginnya sih jadi buku kecil gitu. Let's see deh.

Tapi itu nanti. Saya juga belum nemu vendor yang bisa bikinin :) Will keep you updated.

Well, mari kita lihat ya.

Saya bikinnya sih simpel aja, pakai Microsoft Excel. Harapannya ya, semoga bisa dipakai oleh banyak orang. Tapi kalau di-PDF kok ya, layout-nya jadi berubah ya. Dan, saya belum sempat ngulik. Nanti kapan-kapan deh ya, tapi kalau yang ini nggak janji hehehe.

Nggak seperti banyak editorial calendar yang ditawarkan di luar sana, saya bikinnya lebih simpel dan langsung bisa diaplikasikan, lengkap dengan event-event per hari. Sangat simpel malah karena tanpa aksesoris ini itu. Kalau mau, tambahin sendiri aja ya :))

Saya  mulai dari Annual Calendar.

Annual Calendar
Di Annual Calendar ini, kamu bisa mengira-ira bakalan mau bahas apa per bulannya. Biasanya sih topiknya umum banget ya. Dan, kalau saya pribadi, sekadar buat pengingat event-event besar apa yang ada di masing-masing bulan. Misalnya, bulan Juli nanti Lebaran. Berarti kemungkinan trend topik akan ke arah yang sama. Bulan Juni itu mulai liburan sekolah, berarti kurang lebih trend topik juga akan berkisar ke liburan sekolah.

Misalnya, saya punya Annual Calendar kayak gini nih.

Annual Calendar ala Carra
Nah, dari mana topik-topik kayak International Coffee Day, Nature Photography Day, dan seterusnya itu saya dapat?
Saya ambil dari kalender bulanan. Misalnya yang berikut ini, bulan Juni.

Editorial bulan Juni 2016
 Di bulan Juni, tepatnya tanggal 15, adalah Nature Photography Day. Jadi, saya contohkan, saya ambil Nature Photography Day sebagai tema besar Juni karena saya menilainya sebagai satu topik yang cukup unik. Saya bisa menulis dari berbagai sudut apa pun mengenai Nature Photography Day ini.

Kolom kategori saya tambahkan, supaya seperti yang saya tulis di artikel mengenai cara merapikan kategori, bahwa akan lebih baik jika setiap kategori isi artikelnya bisa berimbang. Nah, salah satu cara buat ngeliat cukup berimbang atau enggak, ya dengan melihatnya dari editorial calendar ini.

Event harian yang ada, bisa menjadi trigger untuk ide menulis kamu lho. Misalnya nih, tanggal 15 Mei adalah Chocolate Chip Cookie Day. Nah, barangkali kamu akan menulis resep membuat kukis cokelat? Atau tanggal 18 Mei adalah Museum Day. Barangkali kamu bisa menulis, tips mengunjungi museum bersama anak-anak, atau 17 museum wajib kunjung di Jakarta, dan banyak lagi yang lain.

Jangan lupa untuk mengecek Annual Calendar-nya ya. Misalnya kalau Juni kamu taruh tema besar mengenai liburan, ya jangan lupa untuk plot beberapa artikel mengenai liburan pada hari-hari tertentu.

Saya sendiri punya beberapa blog planner atau editorial calendar.

2 planner yang saya gunakan
 Yang sebelah kiri, saya pakai untuk mengelola portal Rocking Mama. Sedangkan yang kanan, lebih general. Saya pakai untuk bikin to do list kerjaan yang saya lakukan untuk Stiletto Book, Rocking Mama, dan juga semua blog. Yang kanan itu saya beli dari Mak Rina Shelomita. Kalau kamu mau, bisa hubungi beliau ya. Rencananya sih, nanti saya juga pengin bikin sendiri, tapi lebih kecil. Dan dilengkapi dengan event per hari itu. Doain aja jadi :))

Dengan demikian, saya jadi bisa membagi waktu dengan baik. Semua di-organized bahkan sejak awal minggu (saya bikin to do list setiap hari Minggu, untuk satu minggu ke depan). Jadi saya nggak buang-buang waktu di pagi hari, mikirin, saya mau apa ya hari ini.

Nah, seharusnya sekarang sih jadi punya gambaran ya, pengelolaan yang baik terutama yang tertarik untuk ternak blog. Macem saya hahaha. Saya juga masih belajar sih, masih sering kepeleset. Jadi kalau dibilang 'pengelolaan yang baik', saya juga belum tahu baiknya gimana. Tapi sejauh ini, tool ini membantu banget untuk kerja sehari-hari.

Yang pasti, enjoy every moment of the process! Nikmatilah prosesnya. Barangkali yang saya uraikan di atas juga belum tentu cocok kamu terapkan untuk diri kamu sendiri. Semua memang sangat tergantung individu masing-masing ya. Tapi mungkin bisalah menjadi gambaran, untuk kemudian kamu sesuaikan dengan kondisi kamu.

Ohiya! Ada satu teknik lagi yang biasanya dipakai oleh para penulis lepas, yang mungkin juga bisa kita pakai untuk meningkatkan produktivitas sehari-hari. Namanya Teknik Pomodoro. Mau tahu kayak gimana? Besok aja deh ya, di artikel berikutnya. Haha!

Well, happy writing now!
Ikuti langkah-langkah ini untuk bebas dari rasa suka curigain orang lain saat bermedia sosial!



See, betapa negatifnya perasaan insecure yang kini sering muncul di pergaulan maya? Karena pengaruhnya yang nggak bagus buat kesehatan, ada baiknya kita cegah deh. Tujuannya? Ya, biar nggak baperan. Nggak merasa insecure. Biar nyaman.
Demi kemaslahatan bersama.
Halah.

Caranya? Nih, simak!


7 Langkah Bebas dari Perasaan Insecure Saat Gaul di Media Sosial

1. Stop menduga-duga


Nggak usah lirak lirik, mencurigai semua status deh!


Hal pertama yang bisa kamu lakukan supaya bisa bebas dari perasaan insecure di mana pun kamu berada adalah stop menduga-duga.

Komunikasi adalah hal yang penting, termasuk dalam berteman di media sosial. Berinteraksilah dengan teman sebaik-baiknya. Jika memang ada yang mengganjal atau kurang sreg, bisa kok ditanyakan baik-baik. Ketimbang hanya menduga-duga kan? Seandainya teman menulis status atau tweet yang rasanya menyinggung, ada baiknya untuk ditanyakan langsung lewat PM. Jangan mengumbarnya di publik. Apalagi pakai sindir-sindiran nggak jelas.

Sesungguhnya, dengan sindir-sindiran begitu, bikin yang lain juga nggak nyaman lho. Jadi, jaga agar suasana tetap kondusif. Kan, sama-sama dewasa kan? :)


2. Sugesti diri bahwa tak ada yang sempurna


*inhale exhale*


Tahu kan, kalau rumput tetangga itu selaluuuuu lebih hijau, lebih indah, dan lebih bersih dan terawat.

Well, tak ada yang sempurna, baik pada rumput tetangga maupun rumput kita. Kita kan juga bisa liat rumput tetangga yang kelihatan kan? Kita mana tahu keadaan yang sebenarnya?

Yes, tak ada yang sempurna. Kita tidak, tetangga pun tidak. Masing-masing punya keunikan.

Akan lebih sehat kalau kita mikirin rumput kita sendiri-sendiri, ketimbang terlalu sibuk ngeliatin rumput di halaman orang lain. Kadang ada bagusnya kalau kita bisa keukeuh dengan kacamata kuda kita sendiri.


3. Stop pikiran negatif


Yes, stop it!


Nah, ini kalau kita sudah stop menduga-duga, langkah selanjutnya adalah hilangkan pikiran negatif. Selalu pandang satu masalah dari berbagai sudut, termasuk sudut baiknya. Mau latihan cara melihat permasalahan dari berbagai sudut? Caranya adalah dengan membaca buku fiksi. Saat kamu mulai membuka halaman buku fiksi, kamu akan segera mengubah diri kamu menjadi tokoh dalam fiksi tersebut. Mantan presiden Bill Clinton aja pernah mengaku, bahwa dia bisa menyelesaikan kasus rasis di negaranya karena dia banyak membaca buku fiksi yang mengangkat topik rasial.

Langkah lain yang bisa kita lakukan untuk keep calm dan mengenyahkan berbagai perasaan negatif, adalah dengan mendiamkannya lebih dulu. Tahan diri supaya nggak terlalu emosi, apalagi kemudian menulis status atau tweet balasan pada orang yang "menyerang" kita.

"Nggak bisa, dong! Dia yang bermasalah, bukan saya kok!"

Iya, dia yang bermasalah. Biarin aja. Yang penting kamu enggak. Udah kan?


4. Jangan Memancing Masalah


Stop that evily smirk!


Saat kita sudah dapat menciptakan situasi yang kondusif, seenggaknya bagi diri kita sendiri, langkah selanjutnya adalah jangan lagi memancing masalah. Stop status-ing, stop commenting on other's status. Jangan menceburkan diri ke dalam 'perang', juga jangan memulai 'perang'.

Nah, gimana agar nggak terlalu terpancing dengan apa-apa yang lewat di depan mata?

Tetapkan dan atur waktu, kapan muncul di medsos kamu, kapan waktu berhenti dan tak usah ngintip sama sekali. Saat kamu melihat status yang membuatmu berpikir aneh-aneh, segera logout. Nggak perlu kepo gosip-gosip yang bukan urusanmu. Percayalah, meski kamu nggak tahu gosip-gosip terhangat, bukan berarti kamu kudet dan kuper kok :P Apalagi kalau pake ngomongin orang.

5. Eliminasi orang-orang yang membawa pengaruh buruk


Bhay!


Yang harus kita pahami lebih dulu sebelum kita berteman di media sosial adalah, kita bebas dan berhak berteman dengan siapa saja. Ini juga berarti kita bebas menentukan dengan siapa kita ingin berteman. Sahih?

Berdasarkan pemikiran seperti itu, maka sortirlah teman-teman yang membawa pengaruh buruk. Kita berhak membuat aturan pergaulan ala kita sendiri. Kita bisa mengeliminasi siapa saja dari friend list kalau mereka tak sesuai dengan 'aturan' pergaulan kita. Kalau nggak bisa unfriend di Facebook, manfaatkan tombol 'Unfollow'. Kalau nggak bisa 'unfollow' di Twitter, manfaatkan tombol 'Mute'. Sayang di Instagram belum ada fasilitas ini ya. Di Google+ udah ada belum?

Nah, kalau udah gini harus diingat juga, berarti orang lain juga punya hak yang sama. Saat mereka menganggap kita membawa pengaruh buruk, ya jangan mencak-mencak. Berusahalah untuk memahami dan menghormati keputusan orang lain. Orang tak harus punya pendapat yang sama kan? Orang juga belum tentu selalu cocok sama kita. We never know. Jadi saat kamu sudah bisa mengeliminasi orang lain karena memberi pengaruh buruk, PR selanjutnya adalah belajar menerima saat orang lain juga menganggapmu membawa pengaruh buruk. So, berarti itu saatnya kita berinterospeksi diri.

6. Belajar menyadari bahwa 'you can't please everyone'


Yeah. No no. NO!


Nggak mungkinlah kita bisa menyenangkan semua orang yang kita kenal. Pasti ada saja satu atau dua orang yang nggak puas. And, that is ok! Jangan membiarkan hal tersebut membuatmu insecure, atau membuatmu down. Itu biasa banget di pergaulan. Tanamkan sugesti pada diri sendiri, hilang satu tumbuh seribu. Hilang satu teman, percayalah, akan datang yang lain yang lebih baik kalau memang kita pantas mendapatkannya.

Jadi, jangan terlalu mikirin orang lain. Orang lain kalau nggak nyaman bisa menghindar dan mencari kenyamanan mereka sendiri di luar sana. Tapi kalau kita yang nggak nyaman pada diri sendiri (apalagi kalau disebabkan oleh orang lain), kita mau apa? Kan kita nggak mungkin bisa menghindar dari diri sendiri kan?

7. Piknik!



Yuk, ke pantai biar santai!


Yes, piknik ini bisa berarti beberapa pilihan.

Satu, matikan laptop atau handphone-mu. Pergi keluar dan piknik bareng teman-teman atau keluarga. Jangan lupa bawa roti, kudapan dan air minum. Mantai, ke gunung, atau sekadar kota-kota, akan baik buat kesehatan jiwa dan raga. Atau kamu juga bisa matikan medsos lalu nonton film, main musik, games? Anything, pokoknya alihkan perhatianmu dari medsos. Medsos is not the only life kan?

Arti piknik yang kedua, coba bergabung dan berkenalan dengan orang lain lagi. Kalau kamu blogger, coba bergabung dengan komunitas lain yang orang-orangnya sama sekali beda dengan yang sudah-sudah. Ada kalanya kita memang circle pergaulannya di media sosial hanya itu-itu saja. Yang kayak gitu, bikin kita picik lho. Akhirnya ya mentok aja gitu di situ.



Nah, itu dia beberapa cara untuk bebas dari perasaan insecure saat gaul di media sosial. Yang pasti, percaya pada diri kamu sendiri tapi jaga supaya jangan over pede juga. Stay calm dan main cantik. Nggak perlu nanggapin yang nggak perlu ditanggapin. Kalau kita diam, kadang kondisi juga dengan cepat berlalu kok. It's a game of life anyway.


Why so serious? Why? Why? Why?




Kategorisasi yang rapi akan membentuk navigasi blog yang rapi juga


Salah satu faktor yang sedari dulu selalu disebutkan dalam berbagai tutorial blogging ataupun SEO di mana pun, supaya lebih disukai oleh Mbah Google dan juga lebih readable, blog atau website kita harus mempunyai navigasi yang baik.

Ya, kalau dilogika, ya ibarat rumah, penataan masing-masing ruangnya harus menyamankan penghuni dan juga harus memenuhi beberapa syarat juga kan? Begitu juga web dan blog.
Nah, salah satu cara untuk bisa memperoleh navigasi yang baik adalah pengkategorian tulisan. Yah, banyak pembaca blog juga menggunakan kategori untuk menemukan tulisan-tulisan yang jenisnya sama.
Barangkali memang sayanya sih yang OCD, jadi memang lebih suka kategorisasi tulisan yang rapi dan jelas. Ada yang punya banyak kategori di blognya? Atau malah nggak tahu beda kategori dan tag atau label?

Sebenarnya prinsipnya sama saja sih, yaitu memberikan pemisahan dan pengelompokan terhadap tulisan. Kalau di blogspot, kategori dan tag sama saja dalam label. Sedangkan kalau di wordpress ada pemisahan antara kategori dan tag.  Lalu apa beda keduanya?

Photo via Web Strategies


Saya kira lebih singkatnya begini. Kategori adalah pengelompokan lebih umum, sedangkan tag itu lebih detail. Misalnya, kamu menulis tentang resep kue. Barangkali kategorinya bisa dimasukkan ke dalam Baking atau Cake. Sedangkan tag-nya adalah cokelat, hidangan penutup, resep kue mudah dan seterusnya. Jadi tag ini kadang memang dipakai untuk menyiasati keyword. Hanya saja kalau kategori, menjadi short tail keyword. Tag merupakan long tail keyword.

Terus, mana yang lebih baik dicantumkan di sidebar atau halaman muka blog atau website? Tentu saja kategori. Tag bisa panjang dan setiap postingan bisa beda-beda. Kebayang kan kalau di sidebar ada tag? Bakalan numpuk panjaaang ... dan itu nggak bakalan nyaman dilihat. So, biasanya banyak yang lebih memilih kategori saja untuk dipajang di menubar atas ataupun di sidebar.

Nah, biasanya, yang punya banyak kategori di blognya itu karena nggak mikirin hirarki dan struktur blog sejak awal bikin blog. Barangkali juga dari awal nggak tahu mau ngeblog apa, atau mau bahas apaan di blog. Jadi, kategorisasi pun berkembang seiring tulisan yang juga bertambah. Dan, saking gado-gadonya semua punya kategori sendiri-sendiri. Terus, tahu-tahu, kategorinya panjang banget dan sambung menyambung menjadi satu. Terus, akhirnya bingung, misahinnya.

Ya udah, nggak usah pakai kategori aja. Hahaha. Ya nggak apa-apa, semua kan pilihan. Tapi, kalau mau kategorinya rapi, barangkali kamu bisa memakai cara berikut ini.

Bagaimana Memilih dan Memberi Nama Kategori dalam Blog


Sebenarnya, ada berapa banyak kategori sih maksimal dalam blog kita?
Relatif. Jumlah kategori bisa bervariasi, tapi untuk saya pribadi, makin ringkas dan makin sedikit menandakan bahwa blog kita makin fokus dalam topiknya. Sehingga niche-nya makin menyempit dan lebih fokus juga, meski aslinya ya gado-gado. Saya sendiri punya 4 kategori utama di blog ini, yang kemudian masing-masing punya subkategori. Di blog saya yang lama dan sudah almarhum itu ada belasan kalau nggak salah ingat. Namun beberapa blogger luar menyarankan kategori blog nggak lebih dari 10 saja. Silakan disesuaikan saja dengan kebutuhan kamu, tapi ya itu tadi, less is more.

Terus, gimana cara menentukan kategori-kategori ini?



Cara Menentukan Kategori

1. Ajukan Pertanyaan

Cara terbaik untuk memahami blog kamu sendiri adalah dengan bertanya pada diri sendiri. Apa tema besar blog kamu? Gado-gado? That’s ok. Dalam topik gado-gado itu, kamu bahas apa saja? Resep? Parenting? Resensi buku? Jangan lupa sediakan juga satu kategori di mana kamu bisa menaruh tulisan-tulisan yang random, karena jenis tulisan ini selalu ada di blog mana pun. Hahaha.
Itu untuk blog lifestyle atau gado-gado. Nah, kalau yang topik blognya lebih spesifik tentu lebih gampang kan? Kayak di blog ini, topiknya adalah creative writing, marketing dan freelance, sesuai dengan dunia yang saya geluti sekarang. Maka, creative writing, marketing dan freelance menjadi kategori besar yang harus terlihat lebih dulu.

Baru kemudian saya pecah masing-masing menjadi subkategori. Creative writing saya pecah menjadi blogging, fiksi dan content writing. Marketing saya pisah ke marketing online dan sosial media. Sedangkan dunia freelance akan diisi seputar produktivitas dan seluk beluk freelance writer, nggak saya pecah lagi. Saya akan menulis random saja secara umum di situ.

Kalau topik besar blog kamu hanya satu bidang, langsung pecah saja menjadi subkategori-subkategori. Misalnya, topik besarnya adalah blogging. Ya, langsung aja pecah, misalnya SEO, tutorial, freebies, dan seterusnya. Jadi jangan jadikan satu-satunya topik besar menjadi kategori utama. Langsung pecah saja.

Kategori akan memudahkan pembaca blog untuk mendapatkan gambaran yang lengkap mengenai blog kamu. Kalau saya datang ke web atau blog yang baru pertama kali saya datangi, yang selalu saya perhatikan pertama kali adalah kategorinya. Dari situ saya bisa melihat blog tersebut secara keseluruhan. Bahkan, kadang saya bisa langsung juga ‘menghakimi’ sebuah blog, apakah blog tersebut mempunyai semua info yang saya butuhkan atau enggak, layak masuk ke feedreader saya atau enggak, hanya dari kategorinya saja.

So, masih anggap kategori nggak penting? Ya udah, nggak papa. =))

2. Biarkan Pembaca Blog yang Menentukan

Cara lain untuk menentukan kategori adalah dengan meminta bantuan pengunjung blog. Coba buka statistik blog kamu. Lalu perhatikan, artikel mana yang lebih sering dikunjungi? Lebih sering dikomenin orang? Banyak di-trackback?

Barangkali dengan begini, bahkan selain kamu bisa menentukan kategori, kamu juga sekalian bisa me-niche ulang blog kamu lho. Jika ada artikel yang banyak dikunjungi, banyak dikomenin, banyak menjadi rujukan, barangkali kamu harus mulai memikirkan untuk menulis dalam kategori yang sama dengan topik tulisan tersebut. Mungkin bisa menjadikannya artikel seri?

Kalau sudah begini, sudah dicari oleh banyak orang begini, barangkali ini sudah waktunya untuk menjadikan topik tersebut sebagai kategori baru.

Saya juga melalui tahap ini lho. Setiap tulisan dalam blog ini adalah catatan saya saat sedang dalam proses mempelajari sesuatu. Supaya nggak lupa, ya saya tulis. Kali ada yang lain yang butuh juga. Ternyata eh ternyata, ada yang butuh juga dan merasa tulisan saya bisa menjawab pertanyaannya, lalu share. Akhirnya banyak yang mampir dan ngomen. Jadilah saya bikin kategori baru: creative writing. =)) Tadinya sih saya jadikan satu dalam kategori blogging, tapi sekarang creative writing malah jadi kategori utama, sedangkan blogging jadi subkategorinya :D Yang kayak gitu ya sah-sah saja. Yang penting, pembaca mudah menemukan tulisan-tulisan dengan topik yang sama, pun saya lebih gampang menulis karena tahu topik apa saja yang bisa saya tulis di blog ini.

3. Rapikan dan Sempitkan

Sebenarnya juga bukan sempitkan sih, tapi fokuskan.

Sepertinya *sejauh pengamatan* selalu ada jenis-jenis tulisan berikut ini dalam sebuah blog:
  • Jenis tulisan OOT – Out of Topic - yang bahasan artikelnya nggak nyambung sama sekali dengan artikel lain yang sudah kamu tulis. Yang harus kamu tulis dan published, karena ‘terpaksa’. Hmmm, bisa jadi ‘terpaksa’ karena sudah dibayar. Ha! Ada? Ada yang punya tulisan kayak gini?
  • Jenis tulisan yang cuma sedikit jumlahnya dibandingkan jenis tulisan lain. Misalnya, well karena blog ini memang baru umur beberapa bulan, maka ada kategori yang masih kosong, yaitu internet. Baru keisi yang sosial media, itu pun baru 3 artikel. Yang internet marketing masih kosong. Sedianya kategori tersebut akan saya isi dengan berbagai strategi marketing web sih. Tapi saya belum nemu topik yang pas untuk dibahas.
  • Kategori yang diisi 90% dari jumlah postingan yang ada.
Nah, kalau ada yang begini, ini berarti saatnya kita merapikan nih. Tulisan OOT, seharusnya memang harus punya kategori sendiri. Kategori OOT, atau Random, atau Stories (kalau di blog ini). Selalu sediakan kategori semacam ini di blog kamu ya. Buat nampung randomness kita. Bagaimanapun nulis random itu kadang bisa jadi selingan yang menyenangkan kan? Jangan terlalu kenceng juga megang niche blog (buat yang berniche), bisa jadi kapan-kapan kita pengin menulis yang sedikit di luar zona nyaman. Bahkan itu harus lho, biar nggak bosen dan jenuh kan?

Photo via AvaxHome


Untuk jenis tulisan kedua, dilihat dan diamati saja seiring berjalan waktu. Tapi tetep deh kasih deadline. Kalau memang sudah sekian lama, jenis tulisan tersebut tetap aja sedikit banget dibandingkan yang lain, mendingan disatukan saja dengan kategori lain, atau taruh saja di kategori OOT. Supaya kategorisasinya lebih fokus dan lebih ramping.

Untuk kategori yang berisi 90% tulisan, ada baiknya dilihat lagi. Mungkin saja bisa kamu pecah lagi menjadi beberapa subkategori.

Banyak blogger luar yang menyarankan bahwa jumlah artikel kita harus seimbang dalam kategori-kategori tersebut. Nah, di sinilah editorial calendar bisa memainkan perannya secara optimal. Iya kan? :) Sudah baca kan artikel saya tentang editorial calendar?

Memilih Nama Kategori

Cara memilih nama kategori

Nama kategori jelas, ini untuk kebaikan si pemilik blog dan juga pengunjungnya. Untuk si penulis, agar dia punya koridor untuk menulis dan nggak mbleber ke mana-mana bahasannya. Sedangkan untuk pengunjung, untuk memberi gambaran blog secara umum.

Dan, berikut ini sedikit panduan untuk memilih nama kategori blog.

1. Nama yang umum dan gampang dimengerti

Barangkali kita sebagai pemilik blog pengin menamai kategori-kategori dalam blog dengan nama-nama yang unik dan lucu.

Tapi, nama-nama kategori yang lucu barangkali akan membuat pengunjung blog nggak ngerti dan nggak bisa mendapatkan gambaran topik-topik tulisan yang ada dalam kategori tersebut. Pun ini juga nggak akan baik untuk indexing oleh Google. Misalnya, kamu memilih nama kategori “Sihir Web” ketimbang “Desain Web”. Yaaa, iya sih unik dan lucu. Kan katanya kita harus original ya? Tapi ya, nggak banyak yang mencari kategori tersebut di Google, pun kalau ada yang berkunjung juga nggak ngerti maksudnya apa. Iya sih, bisa bikin penasaran. Tapi jumlah yang penasaran dan pengin tahu lebih banyak barangkali tak sebanding dengan yang nggak ngerti dan kemudian mengabaikan.

2. Nama yang sekaligus bisa menjadi keywords

Yep, ini tentu saja akan baik untuk hasil SERP, mendukung SEO banget. Nama kategori erat kaitannya dengan keywords blog, juga navigasi. So, choose it carefully.

3. Konsisten

Dan, ini yang paling penting. Konsistenlah menulis dalam koridor yang sudah ditentukan dalam bentuk kategori ini. Semakin konsisten, maka semakin rigid dan stabil konten yang akan kamu tulis. Maka, branding kamu pun semakin kuat.


Blogging have fun!


Blog yang rapi tentu ibarat rumah yang juga rapi. Bikin betah dan nyaman. Kalau pembaca blog nyaman, pasti akan tertarik untuk membaca-baca artikel yang lain. Dan, ini tentu akan baik buat performa blog bukan? Blog yang rapi, pasti juga akan membuat pemilik blog jadi tambah semangat nulis karena nggak lost dan gagal fokus lagi mau nulis apaan. Harapannya, tentu saja, jadi rajin update. Iya nggak sih?

Dan postingan ini merupakan uraian dalam poin ke-3 dalam Checklist 17 Hal yang Harus Kamu Lakukan dan Pahami Kalau Mau Menjadi Blogger Serius ini.

Nah, selamat merapikan kategori blog ya!