Hae! Well, seharusnya saya posting artikel How to Make a Movie--oleh-oleh lain dari Workshop Content Creator--beberapa waktu yang lalu. Tapi, ya ampun. Ini udah tanggal 31 Desember yak. Hari terakhir di tahun 2018, cyint!

Resolusi kemarin, apa kabar?




Jadi, oleh-olehnya ntar dulu. Kita ke year in review dulu yak. Hedeh. Udah telat pun, mestinya Sabtu kemarin nih saya bikin.

Tapi yasudlah.
Year in review ini sebenarnya (niatnya) mau saya bikin secara tahunan sih. Tapi yah, 2017 udah nggak bikin karena ... biasalah. Malesnya kumat.

Sekarang juga males sih.

So, mari kita lihat beberapa artikel dengan view terbaik di tahun 2018.
Kriteria "terbaik"-nya masih sama sih. Berdasarkan statistik Google Analytics untuk artikel-artikel yang diposting sepanjang tahun 2018 saja.

Okei, so here we go.



7 Artikel terbaik CarolinaRatri.com menurut statistik Google Analytics


1. Perubahan Algoritma Instagram Yang Cukup Ngeselin Tapi Mesti Dipahami


Tahun kemarin, banyak media sosial yang heboh. Facebook terkena kasus Cambridge Analytica, dan Instagram mengubah algoritmanya sampai entah berapa puluh kali. Twitter juga berbenah sih, tapi nggak sedrastis Instagram.

Perubahan algo Instagram di awal tahun 2018 memang yang paling bikin bingung. Mulai dari timeline yang sudah nggak kronologis lagi, sampai hestek-hestek yang dibanned, pun juga kita harus kenalan dengan shadowban.

Tulisan ini sampai dengan hari ini masih banyak mendatangkan pengunjung, terutama yang datang dari search engine. Tulisan ini juga yang paling banyak dijadikan rujukan, bahkan diangkut tanpa kredit.

Sebel iya, bangga pun juga. Hahaha.


2. Resign Dari Kantor Dan Jadi Freelancer, Pastikan Punya Beberapa Hal Ini Dulu!



Ini soal modal untuk jadi freelancer. Artikel ini jarang sih saya lihat dishare, pun saya sendiri juga nggak terlalu banyak ngeshare.

Tapi artikel ini menjadi penyumbang traffic kedua terbesar setelah perubahan algoritma Instagram di atas.

Sepertinya "jadi freelancer" memang menjadi dream job banyak orang ya? Ehe~


3. Shadowban Instagram: Apa Yang Perlu Kamu Tahu


Mostly artikel di blog ini saya tulis lantaran pertanyaan yang teman-teman lontarkan pada saya, ataupun terpicu oleh apa yang saya amati terjadi di sekitar saya.

Begitu juga soal shadowban Instagram ini. Saya tahu soal shadowban ini saat saya sedang melakukan riset untuk artikel perubahan algoritme Instagram di atas, dan kemudian beberapa lama kemudian, ada yang nanya, "Katanya, nggak ada yang namanya shadowban itu. Itu cuma dugaan-dugaan netizen aja."

Benarkah begitu? *zoom in zoom out*
Well, one thing I know. Ada banyak pengguna Instagram yang mengalami postingan mereka "disembunyikan" oleh Instagram selama beberapa hari. Foto mereka nggak muncul di explore, pun nggak muncul saat hesteknya ditap.

Ini artinya apa, saudara-saudara, kalau bukan shadowban?

Shadowban does exist! And so does karma #eh *nggak nyambung*


4. Ini Dia 7 Pekerjaan Freelancer Dengan Bayaran Tertinggi Menurut Situs UpWork


Masih soal freelancer, keknya banyak yang ngintip lantaran mau mengadu nasib di Upwork ya? Boleh, boleh. Silakan lo :D

Barangkali kamu juga bisa menjadi salah satu yang berpenghasilan $1000/jam di Upwork ;) Good luck ya!


5. 3 Jenis Konten Penyelamat Saat Kamu Nggak Mood Nulis Tapi Mesti Update Blog



Apa "musuh utama" saya sebagai penulis? Mentok ide? Alhamdulillah, enggak pernah :)) Nggak bisa bagi waktu? Well, sampai dengan saat ini masih bisa diatur.

Malas. Nggak mood.

Itu dia tuh. Malas, tapi merasa sudah komit dan janji sama diri sendiri. Jadi, kalau nggak ditepati itu berasa utang. Ya, utang sama diri sendiri.

Utang sama diri sendiri aja susah dilunasi, apalagi utang sama temen. Yekan?

Nah, saat itulah, salah satu dari 3 jenis konten ini selalu bisa jadi penyelamat. Dan, hmmmm, sepertinya banyak yang senasib sama saya ya. Wqwqwq.


6. Mengapa Kita Hanya Berakhir Menjadi Blogger Medioker?


Sungguh, saya nggak bermaksud kasar di artikel ini. Tapi kok ya, banyak yang baper, bahkan ada yang ngatain saya kasar :))

Ya maaf. Seperti yang saya bilang.
Saya nulis di blog ini selalu berdasarkan pengamatan. Saya cuma mau jujur aja kok. Nggak salah kan?
Ehe~


7. Menulis Storytelling Agar Menarik Dan Tidak Membosankan



Buat saya, menulis storytelling itu paling susah.
Susah karena strukturnya bias, susah juga karena kita akan lebih berat dalam mengikat pembaca. Jaminan pembaca nggak bosen dan mau baca sampai akhir itu tipis.

Tapi, bisa sebenarnya diusahakan.
Nah, di sini ada catatan saya.




Nah, itu dia 7 artikel terbaik di blog ini tahun 2018 menurut data statistik Google Analytics.
Menurut kamu, mana di antara 7 artikel di atas yang paling useful?
Atau kamu ada ide topik lain untuk dibahas di blog ini? Tulis saja di kolom komentar ya.

Selamat menyambut tahun baru, semua!


Gol A Gong. Saya mengenalnya melalui tulisan serialnya yang muncul di majalah Hai di kisaran tahun 80-an, Balada Si Roy. Seiring waktu, saya pun tahu bahwa beliau juga menulis esai.

Iya, usia nggak bisa bohong. Ya terus kenapa? Saya malah bersyukur, saya pernah menjadi saksi masa-masa jayanya Gol A Gong, Hilman Hariwijaya, dan BuBin lantang di majalah Hai. Benar-benar dimanjakan deh dengan tulisan mereka. Saya masih usia sekitar 8-10 tahunan sih, tapi yah, waktu itu baca Lima Sekawan aja udah enggak cukup. Hahaha.

Memendam rasa kagum, dan saya baru bisa kesampaian bertatapan langsung dengan Gol A Gong sekarang. 30 tahun kemudian. Oh. My. God. Hahahaha.

Asli bengong dan ngeblank saat saya menyadari beliau hadir di Ruang Wibisono Hotel Jayakarta, 19 Desember 2018 lalu, dalam event Workshop Content Creator Sahabat Keluarga Kemendikbud.



"Ini ya Gol A Gong? Iya."

Tapi saya nggak sampai jejeritan layaknya ciwi-ciwi yang fangirling sih. Hahaha. Inget umurlah ya. Lagian saya tipe yang suka mengagumi orang tuh dari jauh. Diem, tapi mengawasi gitu. Tsah.

Tapi bukan karena itu juga saya kurang hebohnya sih. Soalnya pada menit berikutnya, saya bagai diterjang gelombang pasang begitu kelas Menulis Esai ini dimulai. Saya kek nggak dikasih kesempatan untuk sekadar kagum, karena begitu banyaknya hal baru digelontorkan dan dijejalkan ke dalam otak saya.

So, kali ini, saya pengin menuliskan ulang apa-apa saja yang saya pelajari dari kelas Menulis Esai bareng Gol A Gong. Siapa tahu ada teman-teman yang juga pengin tahu cara menulis esai yang bener.

Ready? Kita mulai dulu dari awal.

Apa itu Esai?

Dok. Fuji Rahman Nugroho

Sebelumnya, nanya dulu. Siapa yang berpikir bahwa tulisan esai itu ya pokoknya tulisan dengan format serupa prosa hanya saja bukan fiksi, tapi faktual?

Nah, sama kita.
Ternyata dalam workshop inilah saya benar-benar baru ngeh apa itu definisi esai yang sebenarnya. Ternyata ada beberapa hal yang menjadi unsur utama tulisan esai dan menjadi ciri khasnya--dalam artian tidak ada pada jenis tulisan lainnya.

Tulisan esai itu:

  • Termasuk dalam jenis tulisan jurnalistik. Jadi ada banyak etika jurnalistik yang harus terpenuhi. Salah satunya, unsur 5W 1H harus lengkap tercakup.
  • Mengandung opini atau pendapat penulis, sehingga sifat subjektivitasnya akan sangat dominan. Nah, tapi mesti hati-hati. Karena, meskipun subjektif, tapi penulis harus tetap menulis secara objektif dengan didukung oleh data-data yang akurat. Jadi, ya nggak boleh asal njeplak, apalagi menebar hoaks. Big no no ya.
  • Memberikan solusi. Tulisan esai biasanya memang bermuatan kritik, karena biasanya ditulis lantaran penulisnya merasakan keresahan tertentu akan lingkungannya. Namun, nggak berhenti di situ, penulis harus bisa menyertakan penawaran solusi dalam tulisan esainya juga. Jadi ya, itu deh bedanya dengan sekadar tulisan status Facebook, yang nyinyir doang tanpa memberikan solusi. (Ini beneran disebutkan oleh Kang Gol A Gong lo :)) Bukan cuma saya yang tulis di sini.)
  • Gaya sastra. Nah, ini nih yang menjadi sifat tulisan esai yang paling khas--seenggaknya menurut saya sih. Jadi meski yang ditulis adalah faktual--berdasarkan fakta-fakta yang ada--tapi gaya nulisnya seperti gaya fiksi, lebih khusus lagi; gaya sastra.
Nah, sampai di sini jelas kan, ya, apa yang membedakan tulisan esai itu dengan tulisan biasa? Apalagi dengan tulisan berita. Beda banget deh.


Siapa Saja Penulis Esai yang Mesti Kamu Pelajari Gaya Tulisnya?

Dok. Fuji Rahman Nugroho

Well, Kang Gol A Gong sendiri adalah seorang penulis esai yang yahhh ... nggak perlu kita pertanyakan lagilah ya. Beberapa judul esainya yang pernah dimuat di koran lokal dan nasional antara lain Kematian Literasi, Pesta, Goltiblos, Konveksi Versus Konvensi, Gempa Literasi, Tubagus dan Sir, dan lain sebagainya.

Tokoh penulis esai lain yang wajib dipelajari juga gaya tulisnya adalah:

1. Emha Ainun Najib

Beberapa esainya antara lain Burung Pilkada, Tanah Halal Air Halal, Austranesia, Nabi Membakar Masjid, Harga Diri Ayam (kelimanya ada di buku kumpulan esainya yang berjudul Jejak Tinju Pak Kiai. *aight, sepertinya masuk ke daftar must have nih, karena penasaran juga dengan jenis tulisan esai ini*), dan lain-lain.

2. Goenawan Muhammad

GM sih mempunyai jatah sendiri di rubrik Catatan Pinggir Majalah Tempo.
Beberapa esainya antara lain Origami, Batman, Kakawin, dan lain sebagainya.



Wew, mendengarkan Kang Gol A Gong menjelaskan sampai di sini, saya sih sempat garuk-garuk kepala. Kalau role model yang ditawarkan adalah Emha Ainun Najib atau Goenawan Muhammad apa ya nggak kejauhan ya? :-|
Kejauhanlah, Kang! T__T huhuhu ...
Tapi, baiklah. Kita pikirkan nanti, yang penting kalau kamu mau mulai menulis esai, perbanyaklah mempelajari tulisan mereka bertiga: Gol A Gong, Emha Ainun Najib, dan Goenawan Muhammad.

Eh, tapi kalau tulisan Kalis Mardiasih bisa digolongkan esai juga enggak sih? Apa nyinyir aja? Hahaha. *dikeplak Kalis* Kalau bisa, well, sepertinya Kalis bisa menjadi role model yang paling dekat sih.



Mencari Ide untuk Tulisan Esai

Dilepas di Transmart Jogja, untuk melatih kepekaan kami menangkap masalah yang terjadi di lingkungan. Dok. pribadi.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, tulisan esai biasanya ditulis karena penulisnya merasakan keresahan dan kerisauan terhadap lingkungannya. Dengan demikian, sumber ide yang paling banyak bisa digali tentu saja dari lingkungan sekitar kita.

Nah, sampai di sini, saya menemukan (semacam) penguatan teori bahwa menulis memang soal mengolah rasa.

Kita nih mau menulis apa pun, kalau soal rasa dan kepekaan kita belum terasah, yang nggak bakalan jadi tulisan yang bagus. Mau itu novel, cerpen, puisi, tulisan-tulisan features, bahkan berita, semua dihasilkan dari proses kita dalam mengolah rasa.

So, untuk menghasilkan tulisan esai yang baik, berangkatlah dari ide menulis yang dibangkitkan oleh kepekaan rasa kita terhadap apa yang ada di sekeliling kita.

Cobalah untuk setiap kali kita jalan, rasakan apa yang terjadi di sekitar kita. Beberapa hal seperti trotoar yang dijadikan tempat berjualan, jalanan rusak, pejabat korup, pelajar bolos, itu bisa menjadi sumber ide yang bagus untuk tulisan esai.


Langkah-Langkah Menulis Esai


Lagi pada bisik-bisik bukan karena lagi ghibah ya. Dok. pribadi.

1. Riset

Ingat, hal mendasar yang paling membedakan tulisan esai dengan tulisan biasa--apalagi yang cuma nyinyir aja--adalah bahwa tulisan esai ini dibuat berdasarkan fakta.

Jadi, saat kita sedang resah akan kondisi tertentu dan pengin menuliskannya dalam bentuk esai, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah riset.

Riset ini meliputi:

  • Riset lapangan. Misalnya kita mau menulis mengenai fungsi trotoar, maka kita bisa langsung survei ke lokasi. Amati trotoar, beri diri sendiri pengalaman berada di trotoar, lalu lakukan wawancara dengan pejalan kaki, pedagang kakilima, dan pengguna lainnya.
  • Riset pustaka, yang bisa kita lakukan melalui membaca literatur-literatur misalnya buku, majalah, atau gugling juga bisa. Misalnya kita beri pembanding dengan kondisi trotoar di luar negeri. Atau berikan data-data statistik. Pokoknya apa pun yang bisa menguatkan argumentasi kita.


2. Menentukan topik

Temukan angle penulisan yang pas. Mau menulis dari kacamata siapa? Masih dengan contoh ide trotoar tadi, apakah kita hendak menulis dari kacamata pejalan kaki, atau mungkin pedagang kakilima?

Setelah kita menentukan topik, dan juga sudah mewawancarai narasumber (yang boleh saja kita lengkapi lagi), maka selanjutnya kita harus mengolah data-data tersebut dalam kerangka 5W 1H.


3. Menulis

Setelah semua data lengkap, juga sudah ada kerangka dan tesis yang tercakup dalam 5W 1H, maka selanjutnya kita bisa langsung menuliskan esai kita.

Catatan sedikit nih. Untuk tulisan esai, kita bisa menuliskannya dalam point of view orang pertama--yang berarti tokohnya adalah "saya" atau "aku"--atau bisa juga dalam point of view orang ketiga, dengan menyebut nama orang yang fiktif.

Kalau Emha Ainun Najib itu punya tokoh rekaan yang disebutnya Markesot, atau Pak Kiai. Kita bisa juga punya persona yang lain. Nggak selalu harus "saya".


4. Revisi

Kalau kata Kang Gol A Gong sih, "Tidak ada karya yang sukses tanpa melewati revisi."

Jadi ya, setelah tulisan selesai, mintalah beberapa orang untuk membacanya. Siapa tahu mereka menemukan hal-hal yang kurang dan bisa ditambahkan lagi. Atau malahan mereka bisa menemukan antitesis yang bisa "meruntuhkan" opini kita. Dengan demikian, kita bisa merevisinya agar lebih kuat dan lebih baik.

Kalau di media sih biasanya ada editor yang bertugas untuk memoles tulisan kita agar lebih baik. Tapi, sebelum sampai di editor, kita sendiri memang mesti melakukan swasunting terlebih dahulu.


5. Judul = imajinasi

Nah, ini juga hal-lama-yang-ternyata-jadi-baru juga buat saya.

Zaman sekolah dulu memang diajarkan bahwa kalau membuat judul karangan itu haruslah singkat, padat, dan jelas. Tapi semakin ke belakang, saya itu kalau bikin judul selalu panjang bet :)) Kebiasaan nulis buat portal kali ya. Jadi formula judul saya itu selalu ada triggering words, emotional words, dan promise.

Tapi untuk tulisan esai, formula ini tak bisa berlaku.
Kang Gol A Gong sendiri memberikan batasan bahwa judul nggak boleh lebih dari 4 kata. Bahkan Goenawan Muhammad sendiri seringnya menggunakan judul satu kata aja.

Lebih dari itu, judul nggak boleh spoiler dan harus imajinatif--bikin penasaran, singkatnya sih gitu.
Ya coba saja tengok judul-judul esai Cak Nun. Misalnya seperti Nabi Membakar Masjid. Wah, kan ya bikin penasaran banget. Kenapa Nabi sampai membakar masjid?

PR banget nih untuk bikin judul begini mah :))
Siapa hayo yang kalau nulis, tulisannya selesai 1 jam, mikir judulnya seharian?
Ayo, sini, duduk sama saya. Hahaha.


Dalam workshop itu, kita--para peserta--juga diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk langsung mempraktikkan setiap tahapan dalam menulis esai ini. Misalnya, kita diminta untuk mengunjungi Transmart Jogja untuk melakukan survei dan merasakan pengalaman berada di sana.

Tak hanya itu, banyak juga games yang kita lakukan dipandu oleh Kang Gol A Gong, yang kesemuanya tuh bisa banget melatih kepekaan olah rasa kita, yang berguna untuk melatih skill menulis kita.


Kesimpulan

Mamak hepi! ^_^ Dok. Ardian Kusuma

Proses menulis esai sebenarnya tak jauh berbeda dengan proses menulis artikel, yang saya lakukan sehari-hari. Sama-sama harus melalui langkah riset, merumuskan masalah, membuat kerangka, swasunting, dan garnishing.

Tapi, menulis esai memang sesuatu. Beda deh. Saya banyak memperoleh hal baru dalam proses belajar menulis esai ini. Terutama soal kepekaan terhadap lingkungan. Ternyata, saya belum sepeka itu.

Saya mesti belajar lagi, untuk lebih peka terhadap lingkungan saya. The world is not only spinning around me.

Nah, itu sedikit catatan saya saat belajar menulis esai bersama Gol A Gong.

Selesai?
Belum.
Di tulisan selanjutnya saya akan share catatan saya saat mengikuti sesi How to Make a Movie bareng Iqbal Film Maker Muslim.

Iya, karena udah 1600 kata lebih ini. Hahaha. Stay tuned yak. Semoga energi saya masih tersisa untuk menulis.


Disclaimer: Postingan kali ini adalah postingan curcol, panjang, dan kebanyakan kata 'saya'. Please skip, kalau tidak tertarik.


Kemarin di sebuah kelas online, saya agak sedikit kesel. Yah, saya tahu sih, seharusnya saya nggak boleh merasa kek gitu. Apalah saya?

Harusnya ya saat semua peserta sudah melaksanakan kewajibannya--which is membayar uang pendaftaran--maka dalam bentuk dan kondisi apa pun, mereka harus mendapatkan haknya, yaitu materi yang sudah saya siapkan. Memberikan materi seutuhnya dan memfasilitasi mereka belajar adalah kewajiban saya.

Betul enggak sampai di sini?

Sedangkan, apa hak saya? Menerima kompensasi. Tapi, ini urusan saya dengan pihak inisiator. Biarlah tetap menjadi urusan saya, nggak akan saya bahas di sini.

Tapi bukan itu permasalahannya.

Sejak awal, saya sudah semacam "diperingatkan" oleh partner moderator saya yang baik hati itu--yang bisa banget ngademin suasana--bahwa kemungkinan nanti yang aktif ya 4L--loe lagi loe lagi. Saya bilang, baik, saya siap. Berapa pun yang mau serius dengan kelas, saya akan tetap profesional memberikan materi.

Tapi kenyataannya ....



Belajar itu memang hal yang berat ya, cyint.
Saya ngerasain sendiri dulu pas sekolah. Meski 'katanya' saya anak pinter, tapi saya ini bukan tipe anak yang pinter dari lahir. Saya mendapatkan nilai-nilai yang bagus (tapi nggak pernah menjadi yang terbaik)--saya pikir--adalah karena usaha kerja keras belajar setiap malem. Saya banyak bikin rangkuman, saya bikin mindmap (waktu itu sih saya nggak kenal istilah mindmap, tapi saya sudah bikin demi bisa mengingat dan melogika pelajaran yang saya terima), dan saya rajin ngerjain PR.

Pokoknya kalau nilai ulangan, rapor, dan IP saya bagus, itu karena saya kerja keras. Kalau orang lain sih bilangnya saya rajin. Rajin banget. Itu katanya. Kalau saya, saya kerja keras. Saya rasa, rajin dan kerja keras itu beda banget deh. Entahlah. Yang pasti, saya tahu, kalau saya nggak pernah mau punya nilai jelek yang bakalan bikin saya lebih susah lagi.

Ada tuh temen saya, yang kalau ada PR nyalin punya teman, kalau ada ulangan nggak pernah belajar. Tapi dia tuh ulangan nilainya selalu bagus, dan selalu masuk 10 besar. Ada tuh. Dan bikin KZL sumpah! Saya udah ta belain belajar mati-matian, nilai nggak pernah bisa ngalahin dia. KZL ZBLnya masih kerasa sampai sekarang, Ferguso. =))

Hingga hari ini, pemahaman bahwa 'belajar itu berat' juga saya tanamkan ke anak-anak. Bawelin mereka setiap hari, bahwa belajar itu memang susah. Jangan cuma mau belajar hal-hal yang gampang doang, sedangkan yang susah dimalesin. Bagaimanapun, di sekolah kan kita nggak bisa menghindarinya.

Pun nanti, ya masa saat mereka selesai sekolah, mereka akan lari dari kesulitan yang datang sih? Misal ada A dan B yang harus dituntaskan. Masalah A ngeselin, yang B gampang. Terus yang diselesaikan B doang, yang A dihindari? Saya pikir, kalau anak sampai kek gitu ya jadilah dia anak tempe.

Belajar memang berat.
Itu pula yang saya alami beberapa tahun belakangan. Profesi saya sebagai freelancer, mengharuskan saya belajar banyak hal secara mandiri. Mulai dari belajar nulis yang baik, belajar bikin desain grafis yang kekinian, sampai belajar teknis SEO (yang dulu amit-amit jabang bayi, saya nggak mau sentuh saking malesinnya). Saya belajar menaklukkan Instagram, belajar jualan dengan kata-kata tapi secara soft selling. Belajar copywrite biar bisa bikin konten yang enggak bisa ditolak orang.


Kenapa semua harus saya pelajari?
Karena saya yakin dan tahu betul, bahwa di luar sana tuh yang lebih dari saya tuh buanyak! Akhirnya balik lagi ke pemikiran saat saya masih sekolah. Kalau saya nggak belajar dengan keras, saya bisa nggak naik kelas. Maka, kalau saya nggak mau kalah dari semua orang yang udah pinter dari sononya--apalagi mereka diberkahi juga dengan materi yang lebih banyak--ya udah maka saya harus kerja keras.

Dan, karena saya ini nggak punya modal, maka saya hanya bisa belajar secara mandiri. Baca artikel-artikel mereka yang lebih pinter. Nanya-nanya sana-sini.

Dan, sadar betul. Karena saya nggak punya uang buat bayar seseorang untuk menjadi mentor saya, maka saya nanya ke orang lain tuh nggak pernah lengkap. Mengapa? Karena ilmu itu buat saya nggak ada yang gratis. Semua ada "harga"-nya. Apalagi ilmu. Mahal lo, ilmu itu. Pikir saya, kalau saya nanyanya dikit tapi pas, ntar ada clue. Maka clue itu yang kemudian saya telusuri sendiri. Dapet deh yang saya cari :))

Makanya kemarin juga ada yang nanya tip untuk menaikkan PV. Saya jawab, yuk, ikutan kelas online. Lalu dia nanya lagi, gratiskah? Yha! Hahahaha. Kalau mau gratis, kamu mesti siap untuk belajar otodidak, Luis Fernando.



Nah, balik lagi ke saya yang nanya orang. Karena nanya nggak lengkap maka dijawabnya juga nggak lengkap dong. Padahal saya kepoan. Akhirnya telusuri sendiri. Terus ngeh. Oh ini begini jadinya begitu. Oh yang itu tuh karena sebab ini, jadi penyebab ini harus dibikin begono supaya begitu. Dikembangin sendiri. Melalui ribuan trial and error.

Sampai kemudian sampai sekarang ini. Semua hal yang saya dapatkan tuh gratis. Karena ya, saya cuma bisa mencuri ilmu. Saya curi ilmunya Mbak Indah Juli, Mas Febriyan Lukito, Langit Amaravati, Jon Morrow, Gretchen Rubin, Darren Rowse, Neil Patel, ... semuanya. Mereka nggak sadar juga kali, ilmunya saya serap sedemikian rupa :)) Saya ambil ilmu mereka, lalu dipraktikkan. Diutak-atik sendiri, hingga ketemu formulasi yang paling sesuai untuk saya terapkan sendiri.

Hukumnya tuh berlaku. Kamu mau gratis, maka usaha lebih ekstra. Kalau kamu nggak mau usaha ekstra, berarti kamu mesti punya sesuatu untuk "ditukarkan" dengan kemudahan itu.

So, karena pengetahuan yang saya dapatkan itu gratis semua, maka semua juga saya catat di sini. Teman-teman bisa mendapatkannya dengan cara yang sama dengan saya; dibaca, dipraktikkan sendiri, diutak-atik sendiri, disesuaikan, lalu akan ketemu formulasi yang pas. Trial and error itu sudah pasti.

Gratis? Gratis. Catatan saya selama belajar, semua ada di blog ini. Saya catat juga bukan buat apa-apa, tapi saya pelupa! Saya nggak mau nanti terjebak dulu saya nggak bisa-belajar-lalu bisa-sekarang lupa. Ini mah malesin amat :)) Maka, semuanya saya catet di sini. Ada yang mau memanfaatkan, silakan. Tapi ya itu tadi, mandiri.

Makanya, saya selalu angot-angotan sebenarnya saat diminta untuk bikin kelas atau jadi mentor. Coba tanya Mas Ryan, Mas Dani, atau Mbak Indah Juli deh. :)) Maaf, saya nggak sombong, songong etc. Tapi karena semua yang saya tahu itu sudah saya catat di blog ini. Gratis ini. Ya, paling butuh kuota sih buat ngakses ya? Hahaha.

Emang ada orang yang mau bayar saya buat ngasih materi yang sebenarnya sudah saya berikan gratis? Sungguh, saya nih bukan tipe orang yang suka memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kemudian diubah menjadi sesuatu yang akuntabel seperti duit. Makanya, mentoring tak pernah ada dalam rencana saya untuk monetasi blog. Karena saya sadar penuh, bahwa yang saya ketahui sekarang itu belum banyak.

Eh lhah, ternyata ada yang mau ya? :))))))


Saya yang tadinya males-malesan mentoring akhirnya ya "termakan" rayuan pihak inisiator kelas online itu. Hahaha. (tapi aku hormat lo, sama sang inisiator ini. Warbiyasak banget!) Akhirnya bikin kelas berbayar. Bikin berbayarnya juga dengan alasan, supaya orang lebih serius mengikuti materi dan praktik langsung.

Saya heran banget. Sampai sekarang.
Ada ya, yang mau bayar saya buat jadi mentor? Ahahaha. Sungguh nggak layak deh. Rasanya masih gamang aja gitu sampai sekarang. Padahal 1 kelas pemula sudah selesai, dan sekarang kelas kedua sedang berlangsung.

Sampai sekarang tuh, saya masih takjub, ini pada beneran mau bayar saya? O_O

Makanya, saat saya menemukan kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar itu saya jadi KZL sendiri. Mungkin juga karena saya baperan sih. Inget, saya dulu susah lo dapetin formulanya. Ini tinggal saya deliver aja, terus pada cobain. Misal nanti ada ketidaksesuaian ya kan logikanya jalannya enggak terlalu panjang.

Hingga kemudian pagi ini, saya menemukan tulisan Mbak Ainun Chomsun di blog Akademi Berbagi ini.




Saya menghela napas. Ternyata ada yang lebih parah.

Ini sih istilahnya sudah disuapin aja nggak mau makan. Padahal ya, udah nggak perlu nyari "makan" sendiri, disediain, disuapin pula. Masih saja ada yang susah untuk belajar. Maunya, disuapin, makanannya enak dan yang kekinian, disuapin sama Raisa, terus pulang dari disuapin masih minta oleh-oleh.

Hvft.
Sungguh, saya miris. Ini sebenarnya yang butuh ilmu siapa sik?

Heran.

Beginikah mindset kita mengenai proses belajar? :( Pantas saja ya cuma begini-begini aja ya? Sedih akutu.

Tapi kemudian saya sendiri tertampar di alinea kedua. Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri. ngapain ya, saya kesel sama peserta kelas online-nya? Ya, mungkin saya kesel karena saya merasa mereka menyia-nyiakan kesempatan belajar yang saya rasa lebih mudah ini--yang enggak bisa saya dapatkan.

Tapi, hal tersebut seharusnya enggak boleh menyurutkan semangat saya.




Lihat, yang gratisan aja punya semangat kek gini. Saya? Aduh, saya malu sekali. Seharusnya berapa pun yang terlibat aktif itu nggak mengendurkan semangat saya, bukan? Tapi ya gimana ya, saya hanya merasa, duh sia-sia banget sih, udah bayar.

Saya pribadi mah, mau pada aktif atau enggak, saya menerima jumlah yang sama :)) Ini kalau kita mau itung-itungan materi ya--which is rada malu-maluin sih. Tapi kan, kita harus realistis. Udah investasi lo ini, masa nggak dapat deviden apa-apa? Iya nggak, Mas Dani? Saya mikirinnya dengan berdiri di sepatu para peserta inih.

Tapi saya masih ada harapan sih. Bahwa meski tak semua aktif, tapi semoga pada nyimak. Mereka mau mengunduh materinya, dan kemudian nanti jika memang mereka sudah longgar, mereka bisa memraktikannya sendiri.

Semoga.


Halah. Judulnya. *self-ngakak* Siap-siap! Instagram berbenah lagi! Dan update terbaru Instagram kali ini menyasar para pengguna yang suka memanipulasi.

Instagram--menurut pengamatan saya--memang paling heboh deh acara bebenahnya. Kenapa? Entahlah. Saya juga nggak tahu. Hawong saya bukan pegawe Instagram. Ya kali. Saya juga cuma nebak-nebak, dan hasil membaca berita aja yang berseliweran di mana-mana.

Ndilalah, saya juga pegang beberapa akunnya orang. Jadi mau nggak mau saya mesti tahu update apa saja yang dilakukan Instagram ini. Buat apa? Ya kan kalau tahu mereka ngapain, saya juga jadi tahu mesti ngapain untuk mengantisipasi mereka ngapain itu.
*ngapain-ception*

Anyway, setelah beberapa lama mengubah-ubah algoritma--yang bikin kesel--terus ternyata dibalikin lagi ke chronological (meski tetep nggak fully choronological lagi seperti awal), kali ini Instagram mulai menyentuh para pengguna yang suka akan kepalsuan.

(((suka akan kepalsuan)))

Nggak hanya itu, mereka pun bakalan mengubah tampilan profile pengguna, supaya itu--yang namanya angka--jadi nggak terlalu mengintimidasi.

Maksudnya gimana sih? Ya udah, mari kita lihat aja satu per satu.



Beberapa Update Instagram Terbaru yang Harus Kamu Tahu


1. Penutupan akses dari third party apps ke Instagram

Saya tahu ada beberapa apps ataupun semacam tools yang bisa menolong kita menambah follower, ataupun jumlah like dan komen. Biasanya sih dengan sistem exchange. Tukeran gitu, kita follow berapa orang, dan kita pun mendapatkan follower.

Sebenarnya saya juga nggak ngerti sih, di mana istimewanya. Bukankah "aturan"-nya memang begitu ya? Kita follow orang ya wajar kalau kita difolbek. (Meski ada kasus istimewa, di mana kita follow lalu ga difolbek, lalu karena ga ada folbek juga jadi unfol lagi. Tapi keluarkan ini dari fakta kali ini.) Lalu, kenapa mesti memakai aplikasi third party seperti itu?

Katanya sih, yang follow bisa lebih banyak ketimbang kalau manual.
Entah juga sih, saya nggak tahu. Karena saya nggak pernah pakai :))
Coba yang pernah pakai, sharing dong pengalamannya di sini. Boleh deh ditulis di kolom komen secara anonim, kalau keberatan namanya tertulis. Ntar akan saya loloskan.

Saya lupa sih namanya apa, tapi yakin saya pernah mendengarnya diperbincangkan di antara teman-teman sesirkel.

Nah, sekarang third party apps semacam ini sudah tak bisa lagi dipergunakan. Aksesnya ke Instagram sudah diblock, sehingga tak bisa dipakai lagi. Kamu yang "kedapetan" memakai tools ini akan mendapatkan semacam warning dalam feed kamu.

Sebenarnya perubahan ini bakalan menguntungkan kamu lo.
Untuk memakai third party tools semacam ini tuh, kamu harus menyerahkan password akun Instagram kamu secara sukarela pada si aplikasi kan?
Lalu, kalau terjadi semacam kasus Cambridge Analytica, gimana? Siapa yang marah-marah?

Makanya, kalau kamu memang menggunakan third party tools ini, segeralah untuk merecovery akunmu deh. Putuskan semua aplikasi yang nggak perlu, lalu segera ganti password.
For your own sake.

Lalu, buat kamu yang nggak merasa memakai tools semacam ini, kamu pikir feed kamu nggak akan terpengaruh?

Well, menurut Instagram, meski kamu nggak memakai tools third party seperti ini, tapi mungkin kamu akan mengalami drop jumlah follower dan likes juga. Kenapa? Ya, soalnya bot third party ini memang menyebarkan kepalsuan ke mana-mana. Bahkan pada kamu, yang tak pernah menyentuh aplikasi-aplikasi penambah follower ini.

Acara pembersihan fake followers dan likes dari third party apps ini sudah dimulai sejak minggu ketiga November kemarin, dan masih berlangsung sampai sekarang.

So, jangan kaget kalau kamu mengalami penurunan jumlah follower dan juga likes. Gosah panik, dan tetap lakukan aktivitas seperti biasa.


2. Selain membatasi third party apps-nya, Instagram juga me-remove akun-akun bot

So, buat kamu yang kemarin sempat beli followers demi apa pun--saya nggak mau menyebutkan ya, ntar dibilang julid--maka bersiap-siaplah mengalami penurunan jumlah follower.

Apalagi yang kemarin belinya yang murah meriah--alias follower luar negeri pasif. Terus nama-nama akunnya rada-rada aneh gitu. Bakalan dibabat habis deh sama Instagram.

Hahaha. Iya, bok. Saya tahu. Hawong saya sempat coba gara-gara kepo dan penasaran--tapi bukan di akun utama saya lo. Ya kali saya "mengorbankan" akun kesayangan. Wqwqwq.

Iya, saya beli followers, yang pasif luar negeri pernah, yang aktif Indonesia pernah. Pokoknya pernah semua deh, demi ingin melihat efeknya seperti apa.

Dan, akhirnya saya ngomel. Kenapa? Ngedropnya luar biasa, bok :)) apalagi yang pasif itu. Beugh. Paan, ga jelas =))

Nah, sekarang dengan jadwal pembersihan dari Instagram ini, sebaiknya kamu yang kemarin mau nginfluence-tapi-sadar-diri-pengaruh-sedikit-lalu-beli-aja-biar-cepet mulai siap-siap yah. Instagram sendiri sudah "mengaku" secara publik, bahwa mereka sedang mengembangkan tools untuk mendeteksi adanya bot, fake followers, dan fake likers, serta memperingatkan akun aslinya.


3. Instagram mengubah interface profile

Sekarang pastinya kamu akan melihat profile Instagram seperti ini kan?




Nah, selanjutnya kamu harus siap-siap untuk melihat profile yang seperti ini.



Yang kiri itu untuk akun pribadi, yang kanan untuk akun bisnis.
Apa hayo, yang beda?

Lingkarilah gambar yang berbeda.
*halah*

Yes, angka jumlah followers dan following dikecilin, sehingga nggak terlalu mengintimidasi. Begitu keterangan resmi dari Instagram. Juga, penghapusan jumlah post.

Saya sih paling seneng itu jumlah post ilang. Genggeus soalnya. Entahlah. Hahaha. Nggak tahu kenapa penting dicantumin juga.


4. Instagram menambahkan fitur alt text description

Apa itu alt text description?
Kalau saya menarik kesimpulan sih, alt text description ini fungsinya kayak alt text yang ada di blog ini nih. Yang harus kita isi demi SEO yang baik.

Jadi, bisa membantu rangorang untuk menemukan konten yang paling pas dengan yang mereka butuhkan.

Tapi *CMIIW* sepertinya alt text di Instagram ini agak istimewa sedikit, lantaran ia ditambahkan untuk membantu mereka yang punya kebutuhan khusus di indra penglihatannya. Kalau saya nggak salah mengartikan, mereka yang butuh ini bisa membuat alt text ini terdengar. Jadi mungkin bakalan ada voice search juga seperti Google.

I don't know. Itu hanya sependek saya bisa menyimpulkan. Untuk realisasinya, mari kita tunggu saja. Soalnya ini baru sebatas pemberitahuan aja nih dari Instagram.

Kalau kepo lebih lanjut bisa intip langsung di Instagram Press ini.




Nah, itu dia 4 perubahan paling besar yang sedang dibuat oleh Instagram belakangan ini, dan juga dalam beberapa bulan ke depan.

So, kamu sudah tahu begini, bisa mulai siap-siap ya.
Sebenarnya sih, kalau kamu mempergunakan semua media dengan baik dan benar, serta normal, kamu tak perlu khawatir dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Bagaimanapun, Instagram sebagai pebisnis punya kewajiban untuk melindungi para pelanggannya. Hal ini berlaku untuk bisnis apa pun. Jadi, apa pun yang mereka ubah--dengan update Instagram terbaru mereka--sebenarnya adalah untuk kebaikan kita juga.

Kalau kita nyaman dan puas, berarti bisnis mereka juga lancar.
Sama-sama butuh soalnya kan?

Jadi, mari menjadi user yang normal saja.