Disclaimer: Postingan kali ini adalah postingan curcol, panjang, dan kebanyakan kata 'saya'. Please skip, kalau tidak tertarik.


Kemarin di sebuah kelas online, saya agak sedikit kesel. Yah, saya tahu sih, seharusnya saya nggak boleh merasa kek gitu. Apalah saya?

Harusnya ya saat semua peserta sudah melaksanakan kewajibannya--which is membayar uang pendaftaran--maka dalam bentuk dan kondisi apa pun, mereka harus mendapatkan haknya, yaitu materi yang sudah saya siapkan. Memberikan materi seutuhnya dan memfasilitasi mereka belajar adalah kewajiban saya.

Betul enggak sampai di sini?

Sedangkan, apa hak saya? Menerima kompensasi. Tapi, ini urusan saya dengan pihak inisiator. Biarlah tetap menjadi urusan saya, nggak akan saya bahas di sini.

Tapi bukan itu permasalahannya.

Sejak awal, saya sudah semacam "diperingatkan" oleh partner moderator saya yang baik hati itu--yang bisa banget ngademin suasana--bahwa kemungkinan nanti yang aktif ya 4L--loe lagi loe lagi. Saya bilang, baik, saya siap. Berapa pun yang mau serius dengan kelas, saya akan tetap profesional memberikan materi.

Tapi kenyataannya ....



Belajar itu memang hal yang berat ya, cyint.
Saya ngerasain sendiri dulu pas sekolah. Meski 'katanya' saya anak pinter, tapi saya ini bukan tipe anak yang pinter dari lahir. Saya mendapatkan nilai-nilai yang bagus (tapi nggak pernah menjadi yang terbaik)--saya pikir--adalah karena usaha kerja keras belajar setiap malem. Saya banyak bikin rangkuman, saya bikin mindmap (waktu itu sih saya nggak kenal istilah mindmap, tapi saya sudah bikin demi bisa mengingat dan melogika pelajaran yang saya terima), dan saya rajin ngerjain PR.

Pokoknya kalau nilai ulangan, rapor, dan IP saya bagus, itu karena saya kerja keras. Kalau orang lain sih bilangnya saya rajin. Rajin banget. Itu katanya. Kalau saya, saya kerja keras. Saya rasa, rajin dan kerja keras itu beda banget deh. Entahlah. Yang pasti, saya tahu, kalau saya nggak pernah mau punya nilai jelek yang bakalan bikin saya lebih susah lagi.

Ada tuh temen saya, yang kalau ada PR nyalin punya teman, kalau ada ulangan nggak pernah belajar. Tapi dia tuh ulangan nilainya selalu bagus, dan selalu masuk 10 besar. Ada tuh. Dan bikin KZL sumpah! Saya udah ta belain belajar mati-matian, nilai nggak pernah bisa ngalahin dia. KZL ZBLnya masih kerasa sampai sekarang, Ferguso. =))

Hingga hari ini, pemahaman bahwa 'belajar itu berat' juga saya tanamkan ke anak-anak. Bawelin mereka setiap hari, bahwa belajar itu memang susah. Jangan cuma mau belajar hal-hal yang gampang doang, sedangkan yang susah dimalesin. Bagaimanapun, di sekolah kan kita nggak bisa menghindarinya.

Pun nanti, ya masa saat mereka selesai sekolah, mereka akan lari dari kesulitan yang datang sih? Misal ada A dan B yang harus dituntaskan. Masalah A ngeselin, yang B gampang. Terus yang diselesaikan B doang, yang A dihindari? Saya pikir, kalau anak sampai kek gitu ya jadilah dia anak tempe.

Belajar memang berat.
Itu pula yang saya alami beberapa tahun belakangan. Profesi saya sebagai freelancer, mengharuskan saya belajar banyak hal secara mandiri. Mulai dari belajar nulis yang baik, belajar bikin desain grafis yang kekinian, sampai belajar teknis SEO (yang dulu amit-amit jabang bayi, saya nggak mau sentuh saking malesinnya). Saya belajar menaklukkan Instagram, belajar jualan dengan kata-kata tapi secara soft selling. Belajar copywrite biar bisa bikin konten yang enggak bisa ditolak orang.


Kenapa semua harus saya pelajari?
Karena saya yakin dan tahu betul, bahwa di luar sana tuh yang lebih dari saya tuh buanyak! Akhirnya balik lagi ke pemikiran saat saya masih sekolah. Kalau saya nggak belajar dengan keras, saya bisa nggak naik kelas. Maka, kalau saya nggak mau kalah dari semua orang yang udah pinter dari sononya--apalagi mereka diberkahi juga dengan materi yang lebih banyak--ya udah maka saya harus kerja keras.

Dan, karena saya ini nggak punya modal, maka saya hanya bisa belajar secara mandiri. Baca artikel-artikel mereka yang lebih pinter. Nanya-nanya sana-sini.

Dan, sadar betul. Karena saya nggak punya uang buat bayar seseorang untuk menjadi mentor saya, maka saya nanya ke orang lain tuh nggak pernah lengkap. Mengapa? Karena ilmu itu buat saya nggak ada yang gratis. Semua ada "harga"-nya. Apalagi ilmu. Mahal lo, ilmu itu. Pikir saya, kalau saya nanyanya dikit tapi pas, ntar ada clue. Maka clue itu yang kemudian saya telusuri sendiri. Dapet deh yang saya cari :))

Makanya kemarin juga ada yang nanya tip untuk menaikkan PV. Saya jawab, yuk, ikutan kelas online. Lalu dia nanya lagi, gratiskah? Yha! Hahahaha. Kalau mau gratis, kamu mesti siap untuk belajar otodidak, Luis Fernando.



Nah, balik lagi ke saya yang nanya orang. Karena nanya nggak lengkap maka dijawabnya juga nggak lengkap dong. Padahal saya kepoan. Akhirnya telusuri sendiri. Terus ngeh. Oh ini begini jadinya begitu. Oh yang itu tuh karena sebab ini, jadi penyebab ini harus dibikin begono supaya begitu. Dikembangin sendiri. Melalui ribuan trial and error.

Sampai kemudian sampai sekarang ini. Semua hal yang saya dapatkan tuh gratis. Karena ya, saya cuma bisa mencuri ilmu. Saya curi ilmunya Mbak Indah Juli, Mas Febriyan Lukito, Langit Amaravati, Jon Morrow, Gretchen Rubin, Darren Rowse, Neil Patel, ... semuanya. Mereka nggak sadar juga kali, ilmunya saya serap sedemikian rupa :)) Saya ambil ilmu mereka, lalu dipraktikkan. Diutak-atik sendiri, hingga ketemu formulasi yang paling sesuai untuk saya terapkan sendiri.

Hukumnya tuh berlaku. Kamu mau gratis, maka usaha lebih ekstra. Kalau kamu nggak mau usaha ekstra, berarti kamu mesti punya sesuatu untuk "ditukarkan" dengan kemudahan itu.

So, karena pengetahuan yang saya dapatkan itu gratis semua, maka semua juga saya catat di sini. Teman-teman bisa mendapatkannya dengan cara yang sama dengan saya; dibaca, dipraktikkan sendiri, diutak-atik sendiri, disesuaikan, lalu akan ketemu formulasi yang pas. Trial and error itu sudah pasti.

Gratis? Gratis. Catatan saya selama belajar, semua ada di blog ini. Saya catat juga bukan buat apa-apa, tapi saya pelupa! Saya nggak mau nanti terjebak dulu saya nggak bisa-belajar-lalu bisa-sekarang lupa. Ini mah malesin amat :)) Maka, semuanya saya catet di sini. Ada yang mau memanfaatkan, silakan. Tapi ya itu tadi, mandiri.

Makanya, saya selalu angot-angotan sebenarnya saat diminta untuk bikin kelas atau jadi mentor. Coba tanya Mas Ryan, Mas Dani, atau Mbak Indah Juli deh. :)) Maaf, saya nggak sombong, songong etc. Tapi karena semua yang saya tahu itu sudah saya catat di blog ini. Gratis ini. Ya, paling butuh kuota sih buat ngakses ya? Hahaha.

Emang ada orang yang mau bayar saya buat ngasih materi yang sebenarnya sudah saya berikan gratis? Sungguh, saya nih bukan tipe orang yang suka memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kemudian diubah menjadi sesuatu yang akuntabel seperti duit. Makanya, mentoring tak pernah ada dalam rencana saya untuk monetasi blog. Karena saya sadar penuh, bahwa yang saya ketahui sekarang itu belum banyak.

Eh lhah, ternyata ada yang mau ya? :))))))


Saya yang tadinya males-malesan mentoring akhirnya ya "termakan" rayuan pihak inisiator kelas online itu. Hahaha. (tapi aku hormat lo, sama sang inisiator ini. Warbiyasak banget!) Akhirnya bikin kelas berbayar. Bikin berbayarnya juga dengan alasan, supaya orang lebih serius mengikuti materi dan praktik langsung.

Saya heran banget. Sampai sekarang.
Ada ya, yang mau bayar saya buat jadi mentor? Ahahaha. Sungguh nggak layak deh. Rasanya masih gamang aja gitu sampai sekarang. Padahal 1 kelas pemula sudah selesai, dan sekarang kelas kedua sedang berlangsung.

Sampai sekarang tuh, saya masih takjub, ini pada beneran mau bayar saya? O_O

Makanya, saat saya menemukan kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar itu saya jadi KZL sendiri. Mungkin juga karena saya baperan sih. Inget, saya dulu susah lo dapetin formulanya. Ini tinggal saya deliver aja, terus pada cobain. Misal nanti ada ketidaksesuaian ya kan logikanya jalannya enggak terlalu panjang.

Hingga kemudian pagi ini, saya menemukan tulisan Mbak Ainun Chomsun di blog Akademi Berbagi ini.




Saya menghela napas. Ternyata ada yang lebih parah.

Ini sih istilahnya sudah disuapin aja nggak mau makan. Padahal ya, udah nggak perlu nyari "makan" sendiri, disediain, disuapin pula. Masih saja ada yang susah untuk belajar. Maunya, disuapin, makanannya enak dan yang kekinian, disuapin sama Raisa, terus pulang dari disuapin masih minta oleh-oleh.

Hvft.
Sungguh, saya miris. Ini sebenarnya yang butuh ilmu siapa sik?

Heran.

Beginikah mindset kita mengenai proses belajar? :( Pantas saja ya cuma begini-begini aja ya? Sedih akutu.

Tapi kemudian saya sendiri tertampar di alinea kedua. Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri. ngapain ya, saya kesel sama peserta kelas online-nya? Ya, mungkin saya kesel karena saya merasa mereka menyia-nyiakan kesempatan belajar yang saya rasa lebih mudah ini--yang enggak bisa saya dapatkan.

Tapi, hal tersebut seharusnya enggak boleh menyurutkan semangat saya.




Lihat, yang gratisan aja punya semangat kek gini. Saya? Aduh, saya malu sekali. Seharusnya berapa pun yang terlibat aktif itu nggak mengendurkan semangat saya, bukan? Tapi ya gimana ya, saya hanya merasa, duh sia-sia banget sih, udah bayar.

Saya pribadi mah, mau pada aktif atau enggak, saya menerima jumlah yang sama :)) Ini kalau kita mau itung-itungan materi ya--which is rada malu-maluin sih. Tapi kan, kita harus realistis. Udah investasi lo ini, masa nggak dapat deviden apa-apa? Iya nggak, Mas Dani? Saya mikirinnya dengan berdiri di sepatu para peserta inih.

Tapi saya masih ada harapan sih. Bahwa meski tak semua aktif, tapi semoga pada nyimak. Mereka mau mengunduh materinya, dan kemudian nanti jika memang mereka sudah longgar, mereka bisa memraktikannya sendiri.

Semoga.


Halah. Judulnya. *self-ngakak* Siap-siap! Instagram berbenah lagi! Dan update terbaru Instagram kali ini menyasar para pengguna yang suka memanipulasi.

Instagram--menurut pengamatan saya--memang paling heboh deh acara bebenahnya. Kenapa? Entahlah. Saya juga nggak tahu. Hawong saya bukan pegawe Instagram. Ya kali. Saya juga cuma nebak-nebak, dan hasil membaca berita aja yang berseliweran di mana-mana.

Ndilalah, saya juga pegang beberapa akunnya orang. Jadi mau nggak mau saya mesti tahu update apa saja yang dilakukan Instagram ini. Buat apa? Ya kan kalau tahu mereka ngapain, saya juga jadi tahu mesti ngapain untuk mengantisipasi mereka ngapain itu.
*ngapain-ception*

Anyway, setelah beberapa lama mengubah-ubah algoritma--yang bikin kesel--terus ternyata dibalikin lagi ke chronological (meski tetep nggak fully choronological lagi seperti awal), kali ini Instagram mulai menyentuh para pengguna yang suka akan kepalsuan.

(((suka akan kepalsuan)))

Nggak hanya itu, mereka pun bakalan mengubah tampilan profile pengguna, supaya itu--yang namanya angka--jadi nggak terlalu mengintimidasi.

Maksudnya gimana sih? Ya udah, mari kita lihat aja satu per satu.



Beberapa Update Instagram Terbaru yang Harus Kamu Tahu


1. Penutupan akses dari third party apps ke Instagram

Saya tahu ada beberapa apps ataupun semacam tools yang bisa menolong kita menambah follower, ataupun jumlah like dan komen. Biasanya sih dengan sistem exchange. Tukeran gitu, kita follow berapa orang, dan kita pun mendapatkan follower.

Sebenarnya saya juga nggak ngerti sih, di mana istimewanya. Bukankah "aturan"-nya memang begitu ya? Kita follow orang ya wajar kalau kita difolbek. (Meski ada kasus istimewa, di mana kita follow lalu ga difolbek, lalu karena ga ada folbek juga jadi unfol lagi. Tapi keluarkan ini dari fakta kali ini.) Lalu, kenapa mesti memakai aplikasi third party seperti itu?

Katanya sih, yang follow bisa lebih banyak ketimbang kalau manual.
Entah juga sih, saya nggak tahu. Karena saya nggak pernah pakai :))
Coba yang pernah pakai, sharing dong pengalamannya di sini. Boleh deh ditulis di kolom komen secara anonim, kalau keberatan namanya tertulis. Ntar akan saya loloskan.

Saya lupa sih namanya apa, tapi yakin saya pernah mendengarnya diperbincangkan di antara teman-teman sesirkel.

Nah, sekarang third party apps semacam ini sudah tak bisa lagi dipergunakan. Aksesnya ke Instagram sudah diblock, sehingga tak bisa dipakai lagi. Kamu yang "kedapetan" memakai tools ini akan mendapatkan semacam warning dalam feed kamu.

Sebenarnya perubahan ini bakalan menguntungkan kamu lo.
Untuk memakai third party tools semacam ini tuh, kamu harus menyerahkan password akun Instagram kamu secara sukarela pada si aplikasi kan?
Lalu, kalau terjadi semacam kasus Cambridge Analytica, gimana? Siapa yang marah-marah?

Makanya, kalau kamu memang menggunakan third party tools ini, segeralah untuk merecovery akunmu deh. Putuskan semua aplikasi yang nggak perlu, lalu segera ganti password.
For your own sake.

Lalu, buat kamu yang nggak merasa memakai tools semacam ini, kamu pikir feed kamu nggak akan terpengaruh?

Well, menurut Instagram, meski kamu nggak memakai tools third party seperti ini, tapi mungkin kamu akan mengalami drop jumlah follower dan likes juga. Kenapa? Ya, soalnya bot third party ini memang menyebarkan kepalsuan ke mana-mana. Bahkan pada kamu, yang tak pernah menyentuh aplikasi-aplikasi penambah follower ini.

Acara pembersihan fake followers dan likes dari third party apps ini sudah dimulai sejak minggu ketiga November kemarin, dan masih berlangsung sampai sekarang.

So, jangan kaget kalau kamu mengalami penurunan jumlah follower dan juga likes. Gosah panik, dan tetap lakukan aktivitas seperti biasa.


2. Selain membatasi third party apps-nya, Instagram juga me-remove akun-akun bot

So, buat kamu yang kemarin sempat beli followers demi apa pun--saya nggak mau menyebutkan ya, ntar dibilang julid--maka bersiap-siaplah mengalami penurunan jumlah follower.

Apalagi yang kemarin belinya yang murah meriah--alias follower luar negeri pasif. Terus nama-nama akunnya rada-rada aneh gitu. Bakalan dibabat habis deh sama Instagram.

Hahaha. Iya, bok. Saya tahu. Hawong saya sempat coba gara-gara kepo dan penasaran--tapi bukan di akun utama saya lo. Ya kali saya "mengorbankan" akun kesayangan. Wqwqwq.

Iya, saya beli followers, yang pasif luar negeri pernah, yang aktif Indonesia pernah. Pokoknya pernah semua deh, demi ingin melihat efeknya seperti apa.

Dan, akhirnya saya ngomel. Kenapa? Ngedropnya luar biasa, bok :)) apalagi yang pasif itu. Beugh. Paan, ga jelas =))

Nah, sekarang dengan jadwal pembersihan dari Instagram ini, sebaiknya kamu yang kemarin mau nginfluence-tapi-sadar-diri-pengaruh-sedikit-lalu-beli-aja-biar-cepet mulai siap-siap yah. Instagram sendiri sudah "mengaku" secara publik, bahwa mereka sedang mengembangkan tools untuk mendeteksi adanya bot, fake followers, dan fake likers, serta memperingatkan akun aslinya.


3. Instagram mengubah interface profile

Sekarang pastinya kamu akan melihat profile Instagram seperti ini kan?




Nah, selanjutnya kamu harus siap-siap untuk melihat profile yang seperti ini.



Yang kiri itu untuk akun pribadi, yang kanan untuk akun bisnis.
Apa hayo, yang beda?

Lingkarilah gambar yang berbeda.
*halah*

Yes, angka jumlah followers dan following dikecilin, sehingga nggak terlalu mengintimidasi. Begitu keterangan resmi dari Instagram. Juga, penghapusan jumlah post.

Saya sih paling seneng itu jumlah post ilang. Genggeus soalnya. Entahlah. Hahaha. Nggak tahu kenapa penting dicantumin juga.


4. Instagram menambahkan fitur alt text description

Apa itu alt text description?
Kalau saya menarik kesimpulan sih, alt text description ini fungsinya kayak alt text yang ada di blog ini nih. Yang harus kita isi demi SEO yang baik.

Jadi, bisa membantu rangorang untuk menemukan konten yang paling pas dengan yang mereka butuhkan.

Tapi *CMIIW* sepertinya alt text di Instagram ini agak istimewa sedikit, lantaran ia ditambahkan untuk membantu mereka yang punya kebutuhan khusus di indra penglihatannya. Kalau saya nggak salah mengartikan, mereka yang butuh ini bisa membuat alt text ini terdengar. Jadi mungkin bakalan ada voice search juga seperti Google.

I don't know. Itu hanya sependek saya bisa menyimpulkan. Untuk realisasinya, mari kita tunggu saja. Soalnya ini baru sebatas pemberitahuan aja nih dari Instagram.

Kalau kepo lebih lanjut bisa intip langsung di Instagram Press ini.




Nah, itu dia 4 perubahan paling besar yang sedang dibuat oleh Instagram belakangan ini, dan juga dalam beberapa bulan ke depan.

So, kamu sudah tahu begini, bisa mulai siap-siap ya.
Sebenarnya sih, kalau kamu mempergunakan semua media dengan baik dan benar, serta normal, kamu tak perlu khawatir dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Bagaimanapun, Instagram sebagai pebisnis punya kewajiban untuk melindungi para pelanggannya. Hal ini berlaku untuk bisnis apa pun. Jadi, apa pun yang mereka ubah--dengan update Instagram terbaru mereka--sebenarnya adalah untuk kebaikan kita juga.

Kalau kita nyaman dan puas, berarti bisnis mereka juga lancar.
Sama-sama butuh soalnya kan?

Jadi, mari menjadi user yang normal saja.