Disclaimer: Ini postingan curhatan dan mungkin akan sedikit nyinyir. Tapi, semoga pesan saya tersampaikan dengan baik.

Sepertinya semua orang kepengin jadi penulis buku. Tapi, tidak semua orang punya kemampuan yang cukup untuk itu.

Bukan, maksudnya sih bukan humblebrag atau mau toxic positivity. Wqwqwq.

Tapi itulah yang saya rasakan belakangan ini. Apalagi ngintipin hasil audisi menulis nonfiksi tempo hari.

Aslinya sih saya gemes banget.
Kondisinya tuh, sebagai bagian dari penerbit buku, saya tahu betapa susahnya berburu naskah yang layak ditaruhin investasi, diedarkan ke toko buku, dan dibaca oleh banyak orang.

Yes, people. Menerbitkan buku adalah investasi bagi penerbit, dan pastinya, penulis juga. So, tanamkan ini dalam pikiranmu, ketika kamu berniat untuk mengirimkan naskah ke penerbit untuk diterbitkan secara mayor.

Ada banyak hal yang dipertaruhkan: ongkos jasa ngedit, ongkos jasa layout, ongkos cetak, ongkos marketing, dan pastinya ongkos buat nulis.

Jadi, come on! Kirimkan hanya naskah-naskah yang layak terbit dong!

Eikeh udah nahan banget untuk tetap sopan, enggak menyebut sebagai naskah sampah. Tapi ya begitu kondisinya, gimandong? Sedih akutu! Padahal kamu tahu, berapa banyak naskah yang masuk ke meja redaksi setiap bulannya? Puluhan hingga ratusan.

Dan kadang, enggak ada satu pun yang layak!

Kenapa kebanyakan naskah buku enggak lolos untuk diterbitkan?

  • Genrenya enggak masuk niche penerbit. Come on, kamu harus cari tahu naskah seperti apa yang dicari oleh penerbit, kalau kamu pengin memperbesar peluang naskahmu diterima. Jangan ngirim naskah puisi ke penerbit yang enggak pernah nerbitin buku puisi. BUAT APA? Please deh, do your homework! Kepoinlah itu penerbit yang kamu incar! Termasuk kepoin gimana caranya kirim naskah, alamat email redaksi dan printilan lainnya. Masa kek gini aja nanya sih? (eh tapi kalau enggak nanya, ntar mimin medsos penerbitnya juga nganggur sik!)
  • Topiknya sudah banyak ditulis. Oke, mungkin ini bisa jadi adalah topik populer, yang orang banyak nyari atau suka baca. Tapi, kamu harus menambahkan sesuatu yang lain yang bisa bikin bukumu bakalan stand out di rak buku dong! Kalau kamu nulis sama dengan yang orang lain tulis, ya buat apa diterbitin lagi? Ingat, persaingan. Kamu sebagai penulis mesti banget memikirkan strategi untuk bersaing dengan penulis lain.
  • Tata tulisnya berantakan. Ini loh, yang kadang bikin gemes. Pada halu apa gimana, entahlah. Belajar nulis yang bener dululah. Masa penulis buku enggak bisa bedain penggunaan tanda koma dan tanda titik? Jangan bilang, kan ada editor ya! Keplak nih.
  • Penulis halu. Bikin buku tentang kisah hidupnya sendiri. Lah, sekarang coba dilihat lagi ya, dirimu itu apakah seseorang yang pernah dipanggil oleh Andy F Noya, sehingga setiap orang harus membaca kisah hidupmu? Tapi sebenarnya, yang kek gini bisa diatasin sih. Caranya, dengan menambahkan tip atau trik, jadi enggak asal curhat doang. Nulis biografi, tapi sendirinya baru terkenal setingkat RT, ya gimana penerbit buku mau naruh investasi?

Hanya punya keinginan saja itu nggak cukup.

Kalau benar-benar berniat menjadi penulis, maka kamu harus punya setidaknya beberapa kebiasaan ini:

  • Mau menulis setiap hari. Penulis ya menulis setiap hari, seperti halnya penjual tahu ya jualan tahu setiap hari. Ketekunanmu menulis akan berbuah kamu semakin peka terhadap tulisan sendiri. Kamu akan bisa merasakan ketika tulisanmu jelek, dan mana yang perlu diperbaiki.
  • Rajin juga membaca. Membaca menutrisi otak penulis, seperti halnya gizi untuk tubuh. Makin bagus nutrisinya, keluarannya juga makin bagus.
  • Bergaul dengan orang-orang yang punya passion yang sama. Karena creativity itu contagious. Kreativitas itu menular. Jadi, pastikan ada di dekat orang-orang yang punya good vibes.
  • Kritis terhadap diri sendiri, jangan jatuh cinta sama tulisan sendiri.

Lalu, apa yang harus diperhatikan saat menulis:

  • Keep your mind open, bahwa nggak setiap orang sepemikiran dengan kita sebagai penulis. Dengan demikian, kita akan terbuka pada diskusi dan kritik. Jangan antikritik dan selalu self-defense kalau ada orang yang memberi kritik, bahkan cela sekalipun. Jangan kek sesembak Sepen Elepen. Please deh.
  • Jangan merasa yang paling tahu, karena sejatinya kita tidak pernah serbatahu. Begitu pun sebagai penulis. Sehingga tulisannya nggak “keminter”. Selalu cek dan ricek fakta, kroscek sana sini dalam menyusun tulisan. Check every side of the story.
  • 5W 1H: who, what, where, when, why, and how harus dijaga porsinya dengan baik. Supaya tulisannya enggak kentang alias nanggung.
  • Tidak semua pembaca “berbicara” dengan bahasa yang sama. Sehingga lihat-lihat target pembaca juga. Jangan sampai malah salah paham, karena tulisan kita kurang bisa dimengerti dengan baik.
  • Write drunk, edit sober. Jangan lupa swasunting. Tulisan berantakan, bikin pusing yang baca. Please, belajar PUEBI. Meski kemudian kamu tetap mempergunakan bahasa santuy, tapi seenggaknya jika kamu punya pengetahuan yang paling basic ini, kamu akan bisa mempergunakannya dengan benar.
 Oke, semoga omelan pendek saya ini enggak terlalu kasar sih. Tapi bener deh. Saya gemes banget.

Ini loh, ada penerbit yang berburu naskah buku, dan open terhadap penulis pemula. Enggak melulu ngejar so-called-penulis viral atau mereka yang berfollower banyak. Seharusnya ini bisa jadi kesempatan buat teman-teman (calon) penulis yang bercita-cita jadi penulis buku.

Tapi ya mbok yao, bekali diri dengan cukup. Jangan halu, dan tetaplah belajar.

Sekian.


Tanggal 20 bulan September lalu, dua website yang saya kelola tiba-tiba enggak bisa diakses, gara-gara kehabisan kuota bandwidth. Kalau diakses, ada tulisan "509 Bandwidth Limit Exceeded" gitu.

Yha! Hari gini, masa kehabisan bandwidth. Paniklah saya.

Tapi kehabisan bandwidth ini ternyata nyata. Padahal baru tanggal 20. Berarti kurang lebih 10 hari dong, websitenya enggak bisa diakses. Aduh! Padahal website bisnis, buat jualan. Macem mana enggak bisa diakses.

Pemakaian bandwidth bulan September. Itu padahal baru tanggal 20, udah habis aja.


Meski saya pengin rasanya nangis kejer, tapi sebagai seorang profesional (yang dianggep) pinter, saya harus tetap tenang. Langsung deh saya berburu cara menghemat bandwidth ke sini sana sono. Cuma saat itu ya cuma bisa diem bae, lantaran buka laman admin aja kagak bisa, Esmeralda.

Jadi semua tip yang ada saya kumpulin dulu--sambil berusaha merayu si Bubos siapa tahu mau ngupgrade layanan hosting, biar enggak pusing-pusing lagi.

Jadi ada beberapa hal sih terkait kondisi website-nya waktu itu (yang sebagian saya tahu, menjadi penyebab kenapa bandwidth cepat habis):

  • Satu hosting, dipakai untuk dua domain. Salah satu domain (kita sebut saja domain A) bakalan punya kategori dan produk yang bejibun, dan beraktivitas tinggi. Domain yang satunya (domain B) masih so-so-lah. Saya sebenarnya punya strategi konten yang berbeda untuk keduanya, lantaran memang pasarnya berbeda, agar dua-duanya bisa tampil bareng di halaman muda Google. 
  • Saya sempat salah (atau lupa) instruksi terhadap admin domain A--yang bakalan punya produk bejibun untuk ditampilkan--untuk meresize dan mengoptimasi foto-foto agar besarnya di bawah 100kb. Belio ngupload gambar-gambar dengan ukuran mega, pemirsa. 1 MB, ada yang sampai 2 MB. *Ya kan, eikeh pikir beginian sudah pada taulah ya. Masa masih dijelasin lagi sih? Tapi ternyata beneran, ada yang belum tahu* Hiks.
  • Masing-masing website pakai plugins yang boros bandwidth, yaitu WooCommerce, dan beberapa printilan tambahannya. Ya, secara memang merupakan situs katalog, bukan blog biasa aja.
  • Paket hosting websitenya "cuma" punya spek kapasitas bandwidth 100 gb dan memory 1 gb sahaja. Seharusnya, sih menurut hemat saya, itu cukup. Apalagi ini baru di awal. Bisa dibilang domain A aja belum saya apa-apain selain diisi gambar-gambar gede sama sang admin -__-"
Pas saya menghubungi perusahaan penyedia hostingnya, enggak ada jawaban laen yang bisa mereka kasih selain harus mengupgrade layanan.

Meh. Saya merasa, kok gini aja sarannya terus. Jualan aja terus. Enggak kasih alternatif solusi apa kek. ZBL.

Ya, kalau ditanya, mampu kok ngupgrade layanan mah. Gampang. Perusahaan sedang berkembang baik gini. Tapi, yaelah. Gitu doang mah ... cemen amat. Ga cerdas. Awokawokawokawokawok. --emang susah ya mau ngekek ala gen Z.

Maka, seperti yang udah disebutin di atas, saya coba cari sendiri cara buat menghemat bandwidth. Tapi beberapa yang saya temukan di awal adalah cara dan tip yang saya enggak mudeng, pemirsa. Apalah cek javascript, encoding gzip ... Yawlah. Embuh. Saya nggak ngerti.

Emak-emak ini cuma sok-sokan (pura-pura) pinter aja soalnya. Disuruh baca artikel pemrograman, mana ngerti dah.

So, saya hanya bisa melakukan beberapa hal yang saya paham doang, kayak gini.


7 Langkah Menekan Pemakaian Bandwidth Website


1. Blokir spam bots

Nah, kita nih bisa cek aktivitas nananini segala macem di website kita di AWStats ini. Jujur ya, saya baru tahu. LOL.

AWStats ini bisa diakses melalui CPanel, biasanya di bagian Metrics. Bareng metrics lainnya, bisa cek bandwidth juga di bagian Metrics ini.




Itu, kalau dilihat di bulan Oktober, saya berhasil menaikkan visit (menurut versi hosting, bisa jadi beda sama punya Google Analytics), tetapi bisa menekan pemakaian bandwidth cukup signifikan.

Nah, di AWStats ini, kalau diskrol ke bawah, kita bisa lihat aktivitas spiders--atau para robot perayap dari mesin pencari.


Nah, coba dilihat daftar paling atas itu. Ada yang ngabisin 2 GB sendiri kan?

Memang, menurut beberapa sumber yang saya baca, spider atau robot perayap ini bisa ngabisin bandwidth. Parahnya lagi, si robot perayap yang ngabisin bandwidth ini justru bukan dari Google. Tapi embuh, dari mana enggak jelas. Kadang malah robot spamming.

Nah, ini yang harus diatasi.

Saya sih menemukan di beberapa tip, bahwa ini sebenarnya bisa diatasi dengan memblokir spam bots itu dengan .htaccess.

NAH, INI YANG SAYA KAGAK PAHAM. Huhuhu. Sedih.

Jadi, monmaap, langkah ini memang saya masukin di pertama, karena seharusnya ini saya lakukan di awal. Tapi saya enggak mudeng. Udah cari dan baca caranya, saya juga enggak berani ngulik.

So, silakan yang tau dan bisa melakukannya, lakuin ini yang pertama kali dulu deh untuk menekan pemakaian bandwidth.

Tapi, ada juga sumber lain yang bilang, bad bots ini bisa juga diblokir dengan bantuan plugins Blackhole Bad Bots. Saya belum coba juga, karena saya masih merasa perlu untuk mencari referensi lain lagi.

Kalau ada yang mau coba, silakan. Pastikan aja jangan sampe ngeblokir Google bots ya.

Saya udah memasukkan ini ke list PR saya. Semoga segera ada waktu buat mempelajarinya pelan-pelan.


2. Cek plugins

Nah, buat yang pake WP self hosted ini pasti familierlah dengan plugins ya. Well, plugins ini juga menambah beban server hosting lo. Terutama beberapa plugins, yang memang bikin boros bandwidth menurut beberapa sumber.

Ada beberapa sih, terutama plugins yang fungsinya untuk chatting, commerce, statistik, sitemap, related posts, random posts, dan popular posts.

Yaitu:

  • Jetpack
  • Sumo
  • WooCommerce
  • Wordfence
  • Broken Link Checker
  • Contact Form 7
  • Disqus Comment System
  • NextGEN Gallery
  • SEO Auto Links & Related Posts
  • Yet Another Related Post Plugin
... dan beberapa plugins lain, yang pokoknya fungsinya di atas.

Nah, kebetulan banget di dua website saya itu ada plugins WooCommerce (meski fungsi commerce-nya didisable, tapi katalognya harus pakai Woo), Sumo, dan Wordfence. Plus satu lagi plugins untuk fungsi chat WhatsApp. Ini enggak masuk ke dalam daftar di atas, tapi karena fungsinya chat jadi saya simpulkan, plugins ini pasti juga berat.

Dan keempatnya enggak mungkin saya lepas, karena bisa memengaruhi sistem websitenya. Yang lain-lain, yang kira-kira berat dan enggak butuh banget langsung deh saya lepas.

Nah, untuk mengetahui bagian mana dari website kita yang berat, kita bisa minta bantuan GT Metrix--ya meskipun sebenarnya sebagai page load test dia kurang akurat lantaran dia ngeceknya dari Kanada sana. Tapi bisalah kita pakai data sebagai ancer-ancer aja.

Buka GTMetrix.com. Terus coba test website kita kek biasanya. Nah, saat report-nya sudah ada, coba skrol ke bawah, nanti akan ketemu panel seperti ini, pilih Waterfall.




Nah, itu bisa diliat deh, apa aja yang timeline-nya gede. Misalnya, bisa diliat itu woocommerce butuh waktu 5 ms untuk loading. Makin ke bawah makin kelihatan deh, mana aja yang lambat loadingnya. Itulah yang bermasalah.

Sebenarnya di website yang saya kelola ini masih oke, karena pluginsnya sepertinya enggak ada yang sampai disebut 2 kali. Tapi semisal ada, nah berarti kita harus mencari plugins lain yang lebih ringan.

So kesimpulannya gimana nih, di bagian plugins ini?

  • Hindarkan penggunaan plugins yang enggak efektif dan efisien.
  • Kalau ada 2-3 plugins yang bisa digantikan oleh 1 plugins, maka ganti saja ke yang 1 plugins.
  • Kalau ada plugins yang tidak terlalu urgent, mending dilepas saja. Lalu dihapus. Jangan nyimpen plugins yang enggak dipakai di dalam web.
  • Sebisa mungkin hindari plugins yang mesti external request, misalnya seperti Google Fonts, Gravatar, bahkan Adsense. Di website yang saya kelola itu kebetulan enggak ada Adsense. Gravatar langsung saya matikan. Tapi Google Fonts enggak bisa, karena built-in sama template. Jadi, ya sudahlah.



3. Pakai plugins cache systems

Nah, yang ini juga rekomendasi beberapa orang sih.
Plugin cache bekerja dengan cara menghasilkan halaman static html dari wordpress , sehingga website dapat diakses dengan cepat tanpa perlu lagi melakukan processing php dan lain-lain yang memerlukan akses langsung ke database.
Sumber: wpjava

Ada beberapa plugins cache yang bisa ditemukan di WP,  tapi mana yang paling baik digunakan? Well, relatif sih.

Sebenarnya banyak yang merekomendasikan WP Rocket, karena fiturnya paling lengkap. Tapi saya cek kok enggak ada WP Rocket. Ada sih Lazy Load doang, enggak yang lengkap WP Rocket.

So, saya memutuskan untuk tetap menggunakan WP Fastest Cache.
Sementara fungsi WP Rocket lain, saya penuhi dengan WP Optimize.


4. Pakai WP Optimize

Mungkin ya, cukup pakai WP Optimize sih tanpa WP Fastest Cache, karena di WP Optimize ada juga fungsi cache-nya. Tetapi fungsi cache di WP Optimize ini bisa di-disable kok, kalau misal dobel sama WP Fastest Cache. Jadi, saya pakai dua-duanya di sini.

Jadi, diapain aja nih WP Optimize?

Optimasi database


Tinggal centang aja semua deh. Kek post revisions gitu, enggak usah disimpen. Buat apa? Trashed posts juga langsung buang aja semua. Begitu juga dengan komen spam dan yang dibuang.

Buanglah mantan pada tempatnya.

Jadi, as dummies, enggak usah ribet, langsung centang lalu klik "Run optimization".


Optimasi image


Nah, settingan untuk optimasi image-nya saya atur begini.
Pas baru pasang kemarin, itu yang uncompressed images itu ada ratusan. Lalu saya select all, dan klik Compressed the selected images aja.

Sekarang semua image sudah terkompres dengan baik.

Nah, untuk bahas image, mari kita ke langkah selanjutnya.

WP Optimize ini harus dicek secara berkala ya, lalu hapus-hapus secara rutin file-file yang sudah nggak kepakai. Kalau di rumah nyata aja kita mesti bebersih dan disarankan untuk jangan suka nyimpen sampah, maka demikian juga di rumah maya kita.

5. Optimasi gambar dengan TinyPNG

Jadi, image memang merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan saat kita mau bikin konten di website ya. Jangan pernah lebih dari 100 KB. Kalau terpaksaaaa banget, ya maksimal 200 KB. Tapi, usahakanlah selalu untuk di bawah 100.

Jangan pernah ngunggah image yang bersatuan mega. Karena kita mau kasih image itu di laman web ya, Esmeralda. BUKAN BALIHO. Jadi, cukup pakai file yang kecil aja.

Udah harus diresize sesuai frame website/blog kita, pun harus dikompres lagi.

Sebenarnya dengan WP Optimize di atas, dengan settingan "automatically compress newly-added images" itu aja, sudah cukup. Tapi, website yang saya kelola ini ke depannya akan buanyak sekali menampilkan gambar produk.

So, saya enggak berani ambil risiko lagi. Sehingga, sebelum diunggah ke website, setiap foto/image harus diresize sesuai kebutuhan, dikompres dengan TinyPNG, baru kemudian diunggah ke web.

Rempong ya, cyint. Ya biarin. Tapi terbukti kok, bandwidthnya ngirit banget sekarang.


6. Setting ulang Wordfence

Nah, Wordfence memang lumayan "makan" bandwidth, tapi bisa kok disetting ulang. Misalkan kamu pake plugins ini juga ya.

Langsung aja ke bagian All Option-nya. Lalu coba ulik hal-hal yang sekiranya enggak perlu, misalnya opsi-opsi untuk kirim-kirim email bisa dikurangi.

Terutama di bagian Rate Limiting.


Nah, ikurin aja sesuai dengan gambar di atas, di bagian Rate Limiting.

Lalu, ke bagian-bagian berikut juga:
  • Do not “enable live traffic view”
  • Do not “enable automatic scheduled scans”
  • Do not “enable email summary”
  • Enable “use low resource scanning”
  • Decrease “limit the number of issues sent in the scan results email” to 500
  • Do not enable “updates needed (plugin, theme, or core)”
  • Increase “update interval in seconds (2 is default)” to 10-15 seconds
  • Decrease “how much memory should Wordfence request when scanning” to 100MB
  • Enable “delete Wordfence tables and data on deactivation”

7. Disable hotlink

Yang terakhir, pastikan kamu disable hotlink.

Kadang ada orang yang mau pakai foto kita, terus males download dan upload ulang. Enakeun langsung semat gambar via URL, yang URLnya ada di website kita (karena gambarnya ada di website kita).

Nah, kalau yang ambil gambar ini trafficnya gede, mau enggak mau bandwidth kita juga tersedot.
Makanya penting untuk menonaktifkan hotlink.




Caranya bisa ke CPanel, lalu cek ke bagian Security, klik Hotlink Protection. Lalu enable Hotlink Protection-nya.


Nah, itu dia beberapa langkah yang kemarin saya lakukan untuk menekan dan menghemat bandwidth hosting website.

Sebenarnya masih ada yang bisa diulik lagi sih, menurut artikel dari Online Media Masters ini. Tapi saya sudah lakukan 7 hal di atas, dan Puji Tuhan, bandwidth sudah terkendali.


See? Yang Oktober itu sampai dengan tanggal 27, baru 53 GB sahaja. Bandingkan dengan September yang baru sampai tanggal 20 udah 98 GB.

Wqwqwq.

Lumayan banget kan?

Demikian tip ini ditulis, biar kalau kejadian lagi sama saya, saya enggak lupa langkah-langkahnya :))
Semoga juga bisa membantu teman-teman yang punya masalah yang sama.


Zaman sekarang, jadi ibu rumah tangga juga enggak bisa cuma nganggur aja di rumah. Tapi, kalau mau bisnis, bisnis apa? Modal dari mana? So, artikel ini adalah sponsored post yang akan berisi informasi mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS.

Yes, seorang ibu rumah tangga juga bisa mendapatkan pinjaman untuk memulai ataupun mengembangkan bisnis, jika memang memenuhi syarat. Meskipun dia mungkin nggak memiliki sumber penghasilan tetap, tapi tetap bisa kok.

Gimana caranya?

---

Kondisi Ibu Rumah Tangga Zaman Now: Nggak Mau Nganggur Doang

Para ibu rumah tangga zaman now ini jauh berbeda dari yang dulu-dulu. Para mamah millenial ini berpendidikan, cerdas, dan ambisius. Seiring dengan kegiatan mereka merawat rumah dan keluarga, mereka juga ingin menjelajahi dunia di luar empat dinding rumah. Pengin eksis, dan pengin sukses.

Banyak dari mereka akhirnya memutuskan untuk keluar rumah untuk bekerja di perusahaan-perusahaan, sementara yang lain bermimpi memiliki bisnis sendiri.

Kalau kamu diberi kesempatan, kamu lebih memilih yang mana? Kerja, atau punya bisnis sendiri?

Sayangnya, dua-duanya bukan hal yang mudah. Yaeyalah. Dikasih susah dapat kerja aja kita suka gampang bilang resign. Wqwqwq.

Soal bisnis apalagi. Nggak ada bisnis yang mudah. Terlebih lagi ya, banyak lo sebenarnya ibu rumah tangga yang punya ide bisnis yang cukup unik, tapi sayangnya mereka enggak punya "bensin" buat mewujudkannya.

Lah, kok bensin? Iya, dana, maksudnya. Nggak ada modal gitu. Inget kata Mas Dani Rachmat--guru finansial saya itu lo--jadinya.

Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Tsah.


Mau Bisnis, Tapi Nggak Ada Bensin? Susah!

Sebenarnya ya, kita bisa kok mulai bisnis dengan modal minim. Cuma ya, kalau mau ngembangin kadang ya perlu juga nambah modal.

Pinjaman bisa jadi merupakan salah satu opsi untuk mencari dana tambahan untuk pengembangan modal. Tapi, sayangnya, pinjam modal itu nggak gampang. Ada daftar panjang kriteria yang harus dipenuhi oleh pemohon supaya pengajuan pinjamannya dikabulkan.

Apalagi untuk bisnis yang baru dirintis. Wah, susah pastinya. 

Tapi susah, bukan berarti nggak mungkin lo. Karena opsi atau pilihan itu tetap selalu ada. Tinggal gimana kita aja yang memanfaatkannya.


Bagaimana Cara Mendapatkan Pinjaman untuk Modal Bisnis Ibu Rumah Tangga?

Sebenarnya, pinjaman itu ada beberapa macam, terutama yang terkait untuk keperluan modal bisnis.

1. Gadai emas

Nah, cara pertama ini sering dilakukan oleh para pebisnis kecil. Mereka "meminjam" sejumlah uang, dengan menjaminkan perhiasan ataupun logam mulia mereka.

Gadai emas ini tampaknya merupakan salah satu solusi untuk mereka yang butuh modal tetapi kalau mengajukan pinjaman resmi ke bank terhambat karena syarat-syaratnya. Maka, kalau punya emas ini, lumayan deh bisa dimanfaatkan. Gadai emas bisa ke mana saja, tetapi yang paling aman sih ya ke Pegadaian.

Cukup banyak mentor bisnis yang menyarankan untuk menambah modal dengan cara gadai emas ini demi mendapatkan tambahan modal bisnis.

Setelah kita ada uang kembali, emas yang kita "titipkan" di Pegadaian bisa kita ambil kembali.


2. Pinjaman dengan agunan atau jaminan

Kalau di bank, biasanya disebut dengan Kredit Multiguna. Namanya juga multiguna, jadi boleh dipake buat apa aja. Plafonnya yang tinggi--sampai miliaran--jadi cukup menarik, juga tenor yang panjang. Hanya saja, kita sebagai peminjam harus menyediakan jaminan yang setara dengan jumlah pinjaman kita.

Kalau kita gagal bayar? Ya, pemberi pinjaman berhak atas jaminan yang sudah kita agunkan, dan nantinya akan dijual demi melunasi pinjaman.

Jaminannya sih bisa bermacam-macam, dari perhiasan, kendaraan, rumah, hingga jika kita punya investasi surat berharga.


3. Pinjaman bersama

Cara berikutnya untuk mendapatkan pinjaman sebagai tambahan modal bisnis adalah dengan menambahkan pemohon kedua yang memiliki pekerjaan.

Maksudnya gimana? Misalnya, suami yang bekerja di sebuah perusahaan, atau kalau yang belum berkeluarga juga bisa menambahkan ayah yang berpenghasilan tetap setiap bulan.

Nah, jumlah pinjaman akan diberikan tergantung pada penghasilan kedua pemohon. Bahkan jumlah maksimum pinjaman juga merupakan kelipatan dari pendapatan keduanya.


4. Kredit Tanpa Agunan

Nah, yang keempat ini adalah salah satu cara mendapatkan tambahan modal bisnis yang memang lebih cepat. Kemudahan dan kepraktisan kredit tanpa agunan ini memang cukup menggiurkan.

Jika memang butuh dana cepat, maka kredit ini bisa juga dipertimbangkan.

Tak hanya di bank, kredit tanpa agunan sekarang juga bisa diajukan pada fintech-fintech yang semakin menjamur. Namun, sebelum mulai meminjam dengan sistem kredit tanpa agunan ini, ada baiknya memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Pastikan fintech atau lembaga keuangan yang memberikan fasilitas kredit tanpa agunan terdaftar dan berada di bawah pengawasan OJK.
  • Cari info sebanyak-banyaknya mengenai fintech atau lembaga keuangan terkait dari berbagai sumber, sebelum benar-benar melakukan pinjaman untuk tambahan modal bisnis.
  • Cermati syarat, ketentuan, dan berbagai kondisi yang biasanya dijabarkan sebelum kita mulai mengajukan pinjaman.

Pengajuan kredit tanpa agunan ini memang relatif mudah didapat dibandingkan dengan pinjaman bank biasa, ataupun yang multiguna.

Pemohon hanya perlu menunjukkan beberapa dokumen sederhana--misalnya slip gaji--dan pinjaman akan diproses dalam waktu 24 jam, sehingga nggak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan pinjaman modal.


Nah, dengan beberapa cara di atas, seorang ibu rumah tangga pun bisa mendapatkan tambahan modal untuk pengembangan bisnisnya.

Selanjutnya, ada banyak PR yang harus dilakukan ya--buat laporan keuangan yang rapi dan tertib, kelola bisnis sebaik-baiknya, agar kemudian bisa mengembalikan modal yang sudah dipinjam, berikut bunganya.

Semoga sukses bisnisnya ya!

---

Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Pinjaman Online untuk Ibu Rumah Tangga dari KTA DBS, Anda bisa mengunjungi situs https://www.cekaja.com/banks/dbs/pinjaman/kta-dbs.


Kadang kala para bloger--terutama yang pemula--lebih suka menulis yang memang mereka sukai. Tentunya hal ini ya bagus, terutama supaya mereka bisa menyukai dulu kegiatan blogging, enjoy dulu aktivitas menulis, mengedit foto, dan segala hal yang berhubungan dengan ngeblog.

Tapi, pada akhirnya, kalau kita mau maju, berkembang, dan lebih sukses ngeblognya, mau enggak mau ya kita mesti "menuruti" apa mau pembaca.

Setuju enggak sampai sini? Setuju ajalah ya? Jadi, biar saya bisa lanjut bahas :))

Ya, kecuali kalau kita ngeblog buat dibaca sendiri sih. Kalau kek gitu mah terserah aja. Mau diisi tulisan yang cuma bisa dipahami sendiri sih juga enggak masalah. Asal, jangan terus sambat aja, kok blogku sepi amat. Yang baca enggak ada 100 orang per bulan?

Karena jawabannya sudah jelas. Penyebab sepinya blog kamu itu, kalau enggak karena kontennya enggak dimaui/dicari sama netijen, bisa juga karena banyak yang enggak paham kamu nulis apaan.

Ouch, yes. Reality sucks.

But, anyway, mari kita ke penyebab pertama: konten kamu enggak ada yang nyari.

Untuk penyebab ini, solusinya cuma satu: kamu sebaiknya menulis konten yang dicari oleh orang. Karena, hard truth is enggak ada orang yang peduli dengan hal yang kita (sebagai bloger/penyedia konten/penulis) sukai.

Nope. No one even cares, Ferguso!

Nggak ada orang yang peduli, kalau kita suka traveling. Enggak ada orang yang peduli, kita suka crafting. Nggak ada juga yang peduli, kita suka apa untuk dibahas di blog.

Yang mereka peduli adalah--misalnya--gimana caranya ngetrip ke Jepang dengan biaya murah, yang kemudian nyangkut di konten kita yang lagi berbagi tip cara murah traveling ke Jepang. Mereka enggak peduli kita hobi traveling, yang mereka mau adalah informasi gimana cara halan-halan dengan biaya murah.

Mereka enggak peduli kita suka crafting. Yang mereka pedulikan adalah gimana caranya ini bikin aksesori rambut supaya bisa dijual di online shop supaya nambah-nambah duit.

Egois? Ya emang gitu cara mainnya.

So, mau blognya ramai? Let's start with people's favorite things--yang baru kemudian disesuaikan dengan topik yang kita kuasai or sukai. Baru kita sajikan ke hadapan mereka dalam bentuk informasi, atas nama sharing is caring.

Gimana caranya bisa tahu apa yang pembaca butuhkan?

Berikut ini ada beberapa cara mengenali kebutuhan pembaca, kamu bisa cobain semua atau beberapa yang kamu rasa sesuai, agar blogmu ramai dikunjungi orang


5 Cara untuk Mengenali Pembaca

1. Lakukan keywords research

Keywords? Kata kunci? Kenapa kata kunci sepenting ini?

Well, ini sudah saya jelaskan panjang lebar dalam satu artikel utuh: Mengapa keywords itu penting. Bolehlaaa dibaca, kalau memang belum pernah baca yes?

Kata kunci adalah memang merupakan kunci pintu blog kita dari "jalan raya" yang disebut Google, dan mesin-mesin pencari lainnya. Kata kunci adalah plang nama, yang akan membawa orang masuk ke halaman dan kemudian masuk ke rumah.

Kata kunci juga merupakan satu cara pertama dan utama dalam usaha kita mengenali kebutuhan pembaca akan satu informasi.

Jadi, kata kunci adalah KOENTJI.

Saya pernah dapat curhat begini.

"Mbak, kok saya bikin artikel udah pakai struktur yang bener, sudah pakai kata kunci juga, panjang artikel juga pas. Kok tetap sepi aja blog saya?"
"Kata kuncinya udah riset kan? Ambil yang volume berapaan?"
"Enggak sih, Mbak. Nebak."
"..."
Lu kate, SEO itu ilmu nujum apa? ZBL.

Memilih kata kunci itu enggak bisa kalau pakai ngitungin kancing baju. Atau lempar koin. Kata kunci itu mesti diriset. Kita mesti lihat data, lalu membandingkan satu sama lain.

Sama sekali bukan sulap bukan sihir.

Silakan baca artikel tentang bagaimana melakukan keywords research ini ya.


2. Cek statistik blog

Statistik blog yang ada di Google Analytics dan Google Search Console juga bisa kita gunakan untuk mengenali kebutuhan pembaca akan suatu informasi.

Ada 2 cara sih:


Pertama.
Lihat di statistik artikel yang paling banyak dibaca secara organik (jadi jangan pakai artikel yang sempat diiklankan ya). Di situlah ada minat pembaca yang banyak. So, coba definisikan. Apa topiknya? Apakah kamu bisa mengembangkan bahasan lain atau sudut pandang lain dari topik yang banyak dibaca itu?

Kedua.
Lihat statistik keywords dari channel organic. Coba masuk ke Google Analytics-mu, lalu ke Acquisition > Channels > Organic Search.



Saya kasih contoh deh. Ini adalah statistik blog saya di Organic Search itu.

Artikel "cara membuat cover highlight Instagram" itu saya buat setelah saya melakukan eksplorasi terhadap artikel tentang update algoritme Instagram yang sebelum saya posting dan cukup ramai dikunjungi.

Akhirnya artikel cara bikin cover highlight itu sekarang malah statistiknya jauh melebihi artikel tentang update algoritme Instagram.

Boleh, silakan cek dengan keyword "cara membuat highlight Instagram", artikel saya di urutan berapa :))

Ingat, cek statistik pakai Google Analytics atau Google Search Console ya. Jangan pakai statistik bawaan blog.


3. Cek komen

Bagian kolom komen juga bisa jadi sumber untuk riset mengenali kebutuhan pembaca terhadap suatu informasi.

Memang sih, banyak banget yang baca artikel tanpa ninggalin komen apalagi kalau kita mendapatkan pembaca dari search engine. Wah, nasib pasti minim komen deh.

(Yes, jangan terburu-buru underestimate artikel minim komen ya. Bisa jadi pageviewnya malah jutaan, udah. Wqwqwq.)

Anyway ...

Sebaiknya sih jangan pernah mengabaikan kolom komen. Kadang, di kolom komen itu ada banyak harta karun ide tersembunyi.

Makanya, penting di setiap artikel untuk menyelipkan semacam pertanyaan atau call to action, mengajak pembaca untuk berdiskusi atau bertanya. Siapa tahu pertanyaan atau komen mereka bisa dijadikan artikel yang pas dengan kebutuhan pembaca kan?


4. Adakan survei atau polling

Cara lainnya lagi untuk bisa mengenali kebutuhan pembaca adalah dengan melakukan survei atau polling.

Saya sih sering juga melakukan ini, di Facebook, Twitter, ataupun Instagram. Cuma karena follower saya enggak seberapa atau karena saya memang kurang banyak gaul juga sih ya, kurang sering komen atau berinteraksi, jadi kadang hasil survei atau pollingnya enggak sesuai dengan ekspektasi.

Tapi, kalau kamu punya massa yang lumayan di media-media sosial, teman-teman kamu banyak, follower banyak dan kamu rajin berinteraksi, survei dan polling ini bisa bantu banget untuk bisa mengenali kebutuhan mereka akan satu informasi.

Paling enak sih ini, karena berarti kan kita bisa tahu from the first hands ya. Langsung tahu dari sumbernya, apa yang mereka butuhkan. Tinggal dilist lalu dieksekusi deh.


5. Cek trending topic

Yang terakhir adalah dengan mengecek trending topic. Yang sering-sering dibahas atau ditanyain orang akhir-akhir ini apa sih?

Kek gitu kira-kira.

Nah, untuk ngecek trending topic ini bisa dengan banyak cara. Beberapa di antaranya adalah:

  • Dengan skrol media sosial; di Twitter ada Trending Topic, di Instagram ada Explore. Kamu bisa skrol-skrol sampai begah di sana, untuk mencari tahu apa yang lagi rame dan bisa kamu ulik untuk dibahas di blog.
  • Dengan Google Trends. Saya sudah pernah jelasin panjang x lebar x tinggi dalam satu artikel khusus. Silakan dibaca yah, kalau belum sempat baca kemarin.
  • Dengan Buzzsumo, yang meski terbatas banget dengan akun gratisan tapi ya lumayanlah ya. Daripada enggak sama sekali. Silakan baca artikel Buzzsumo selengkapnya. 



So ... the bottom line is ...

Okelah kalau kamu menuliskan segala hal yang kamu suka aja di blog. Tapi ingat, yang kamu suka belum tentu orang lain butuh atau suka juga.

Jadi, adalah wajar jika tak banyak juga orang yang datang ke blogmu. Karena ya ... mau ngapain? Kan mereka nggak butuh.

So, supaya mereka mau datang, kita sebagai pemilik blog haruslah menyediakan apa yang mereka butuhkan.

Ini enggak berarti lantas kamu enggak boleh sama sekali menulis atau membahas yang kamu suka lo. Boleh, tapi ada baiknya diatur juga dengan topik yang biasa dicari orang, supaya seimbang.

Google baru saja mengeluarkan woro-woro lagi, bahwa sekarang link attribution atau atribut tautan enggak cuma dofollow dan nofollow aja, tetapi juga ada 'sponsored' dan 'ugc'.

Nah, siapa nih yang baru tahu tentang keberadaan atribut baru ini?
Sejujurnya, saya juga baru tahu sih. So far saya tahunya cuma nofollow dan dofollow doang juga. Tapi ternyata ada yang baru.

Sebelumnya, tentang atribut 'nofollow' dan 'dofollow' ini mesti kamu pahami dulu prinsipnya. Saya pernah bahas sih di artikel soal external link. Silakeun dibaca yah, tentang apa itu dofollow dan nofollow, dan apa fungsinya masing-masing.


Perubahan Atribut Nofollow


Dan, sekarang, ada perubahan yang cukup signifikan nih dari Google mengenai penggunaan nofollow. Yang dofollow enggak disebutkan sama sekali, so mari kita asumsikan bahwa aturan dofollow enggak berubah.

Lalu, apa yang berubah dari atribut tautan ini?

1. Ditambah 2 jenis atribut

Yes, seperti sudah disebutkan di atas, sekarang ada atribut tambahan yaitu "sponsored" dan "ugc". Berarti selain "dofollow", sekarang juga ada "nofollow", "sponsored", dan "ugc". Ada lagi, yang tanpa atribusi.

Ketiganya menjadi semacam petunjuk untuk Google crawler bot, mengenai bagaimana si bot akan melakukan treatment terhadap tautan-tautan tersebut.


2. Treatment berbeda

Gampangnya, atribusi tautan tersebut akan menjadi "kode" khusus bagi Google. Pada dasarnya, Google tetap mengabaikan nofollow links, tetapi sekarang hal ini enggak mutlak lagi. Dengan syarat tertentu, Google bisa saja menjadikan tautan nofollow ini sebagai salah satu penentu indexing dan crawling botnya.

Behavior ini akan berlaku secara penuh di 1 Maret 2020 nanti.

Lha, sementara ini bagaimana? Masih tetep. Nofollow link akan diabaikan oleh Google.


3. Bisa digabungkan

Untuk kondisi tertentu, kita bisa menggunakan gabungan ketiga atribusi tersebut. Jadi kita bisa saja menulis script rel="nofollow sponsored ugc", yang kemudian akan menjadi kode untuk Google crawling bot.

Dia mau ngapain dengan script seperti itu? Ya, biarkan saja dia memutuskan, apakah tautannya layak untuk diindex dan dicrawl. Tugas kita cuma ngasih "peringatan" aja, bahwa tautan ini adalah tautan bersponsor (yang berarti kita dibayar untuk ngelink) terletak di platform UGC (forum, komen dll), dan bukan rujukan.

Sudah itu aja.

Selanjutnya, biarkan si bot yang memutuskan.


4. Tautan berbayar

Untuk paid link--yang artinya kita dibayar untuk memberi tautan--Google menyarankan untuk menaruh atribusi "nofollow" dan/atau "sponsored". Bisa salah satu atau bisa juga gabungan dari keduanya.

Menggunakan "ugc" saja (atau "dofollow") pada link berbayar akan berbuah penalti. Ingat ya. Jangan pakai "ugc" saja atau "dofollow".


5. Lalu bagaimana dengan tautan yang sudah telanjur published?

Google bilang sih, nggak perlu khawatir tentang yang sudah-sudah. Biarkan berlalu, dan segera moveon #eh
Maksudnya sih, untuk tautan yang next, pakailah aturan yang baru. Terutama untuk tautan-tautan setelah tanggal 1 Maret 2020 itu.

Nah, untuk lebih jelasnya, silakan mencermati infografis yang dibuat sama Moz ini. Menurut saya sih, ini cukup jelas ya. Bagaimana treatment masing-masing atribusi, dan bagaimana menuliskannya.

Sumber: Moz


Kenapa sekarang makin ribet aja sih Google?



Well, tak lain tak bukan karena ulah kita sendiri juga. Dan, Google hanya melakukan hal-hal yang sekiranya perlu untuk melindungi diri kita (user) dari kita-kita juga (spammer).

So, dengan semakin maraknya praktik-praktik spamming, dan makin bernyalinya para pemilik dan pengembang situs membayar netijen untuk ikut dalam marketing strategies-nya, maka Google sudah pasti harus melakukan sesuatu agar user tetap nyaman dalam menggunakan tool pencarinya.

Agar hasil pencariannya semakin valid.
Agar kita semakin tertolong dengan informasi-informasi yang bermanfaat dan berkualitas di Google.
Dan agar kita enggak mendapatkan informasi sesat dari para praktisi black hat SEO.


So, summary ...

Jadi, mesti gimana ini makenya atribusi-atribusi ini?

Pakailah rel="sponsored" untuk paid/sponsored links. Di sini berarti termasuk tautan afiliasi, job review, dan sebangsanya. Pokoknya kalau kita menerima duit sebagai ganti naruh link, pakailah atribusi ini.

Pakailah rel="ugc" untuk tautan-tautan di dalam user-generated content. Ini misalnya kalau ada yang mau bikin forum, gitu ya. Bisa dikasih atribusi ini secara otomatis. Buat yang bisa ngulik kolom komen, juga boleh ditaruh atribusi yang ini.

Pakailah rel="nofollow" untuk semua tautan yang bukan rujukan. Atau, mungkin kita rada meragukan kualitas laman yang mau ditautkan gitu, tapi mesti nge-link. Ya udah, pakaikan saja atribusi "nofollow" ini.

Lebih jelasnya, bisa lihat di guideline yang sudah dibuat oleh Google. Saya rasa cukup jelas kok, dan mudah dimengerti.

Well, sekarang sih belum ada yang bisa kita lakukan, selain siap-siap menambah kerjaan dengan menaruh atribusi sesuai fungsinya. Semoga sih platform blogging masing-masing menambahkan juga dalam menu editnya, biar kita nggak perlu susah-susah nulis secara manual :))

Kalau mau, silakan baca sumber artikel ini di blog milik Moz ya. Belajar langsung dari sumbernya pasti akan lebih oke. Saya hanya berusaha menerjemahkannya secara bebas ke dalam bahasa Indonesia, biar mudah dipahami. Bisa jadi catatan dan reminder juga buat saya sendiri.


Tahu (atau nyadar) enggak sih, kalau Google itu menyimpan hampir semua informasi tentang kita?

Yes, dia akan tahu semua informasi begitu kamu login dan masuk ke akun Google, atau akun mana pun yang dihubungkan dengan Google. Mulai dari penelusuran dan perintah dengan voice search sampai dengan history Google Maps, bahkan sampai riwayat video yang kamu tonton di YouTube.

Oh yeah, semuanya.
Dan, tahu enggak berapa orang mau bayar untuk data-data informasi seperti ini? History akses kita ke mana saja, bahkan pergi ke mana saja?

Jutaan dollar!

Karena data kek gini tuh, data berharga banget terutama buat pemasaran alias marketing!



Pernah buka Google My Activity?

Belum? Coba cek ke My Activity.

Oh yeah! Untung lagi pas nggak nyari porn. Ehgimana?


Laman “My Activity” ini dapat kamu gunakan untuk memeriksa aktivitas online apa saja yang sudah kamu lakukan bersama Google. Maka, di situlah tempat kamu bisa memeriksa data-data personal kamu.

Misalnya, kamu pengin menemukan penelusuran apa saja yang kamu lakukan satu bulan sebelumnya. Laman ini juga berguna kalau kamu bermaksud untuk menghapus semua data yang berasosiasi dengan Google.
  1. Buka “My Activity” di browser, linknya sudah saya tulis di atas ya. Kemudian masuklah ke akunmu.
  2. Cek ke “Bundle View” di sebelah kiri untuk melihat riwayat pencarian kamu in bundle, atau gunakan pilihan “Item View” untuk melihat riwayat satu per satu.

So, kamu mau apa sekarang dengan aktivitas googling kamu yang tersimpan ini? Mari kita lihat.


Nge-download Semua Data dari Google

So, in case kamu mau mendownload semua datamu. Maka, ikuti langkah-langkah di bawah ini:



  1. Buka “Download your data” di browser.
  2. Pilih services yang pengin didownload datanya, lalu klik Next.
  3. Setting “File Type” dan “Archive size (max)” sesuai keinginan, dan pilih “Send download link via email” sebagai “Delivery method”, kemudian klik tombol “Create Archive”. Kamu juga bisa memilih delivery method yang lain, kalau mau.

Buka email, lalu cek apakah ada email dari Google yang masuk. Dalam email tersebut, akan ada tautan untuk mengunduh. Buka, datamu akan siap untuk diunduh.


Nonaktifkan Personalisasi Iklan

Google punya jaringan iklan terbesar yang bakalan melacak aktivitas online kamu demi satu tujuan; mempergunakannya agar mereka bisa menembak iklan yang pas dengan selera kita.

Jadi, sering enggak kejadian? Misal kita lagi liat-liat panci presto di salah satu marketplace. Karena belum ada duit, ya udah kita belum milih juga kan. Belum masukin ke keranjang. Baru window shopping doang!

Tapi, begitu kita ke situs lain (marketplace kita close) dan kebetulan di situs itu ada iklan, maka iklan yang tampil adalah panci presto incaran kita?

ITU DIA!

Tapi, untungnya, hal ini bisa kita atur sebenernya. Mau tahu nggak?






  1. Buka Ads Settings di browser.
  2. Matikan tombol toggle yang ada di tengah-tengah laman. Klik TURN OFF saat ada popup muncul.

Dan, kamu pun selamat dari iming-iming panci presto.



Nonaktifkan Riwayat Pencarian Google

Kalau kamu nggak pengin menghapus riwayat (history) penelusuran, tetapi masih ingin kehidupan ‘digital’ kamu enggak terlacak oleh Google, maka kamu non-aktifkan saja riwayat Google.



  1. Silakan menuju ke “My Activity” yang tadi tautannya sudah saya kasih di atas.
  2. Klik “Activity Controls” dari sisi sebelah kiri.
  3. Pilihlah tipe aktivitas atau produk yang ingin kamu jeda pelacakannya atau perekaman jejaknya, lalu klik tombol toogle di sampingnya. Ada beberapa service yang bisa kamu lihat bisa disetting di situ: Web & App Activity, Location History, Device Information, Voice & Audio Activity, YouTube Search History, YouTube Watch History. Tinggal kamu pilih mana yang mau di-pause.


Misalnya, saya ingin menjeda “Location History”. Saya klik togglenya, nanti akan tampil pop-up yang menanyakan apakah kamu memang pengin pause aktivitas tersebut. Kalau iya, klik tombol “Pause”, dan konfirmasi aktivitas jika diminta.


Tapi pausing Location History ini enggak akan menghapus data Google Maps ya. Seperti keterangan di atas. Makanya, coba baca dulu sebelum benar-benar menonaktifkan satu service.

Kalau mau hapus history dan nyetting privasi di Google Map, kamu bisa langsung menuju lamannya. Diatur di sana.


Hapus Riwayat Google

Kalau kamu enggak pengin meninggalkan rekam jejak apa pun dalam aktivitas online kamu, dan pengin menghapus semua datayang tersimpan di Google, maka kamu pun harus menghapus riwayat secara keseluruhan.

Kayaknya rumit pasti dibayangin ya? Secara, data kita di Google itu emang banyak bet! Sudah tiap hari selalu akses Google, selalu memanfaatkan service Google, bahkan juga aplikasi smartphone semua juga pakai data Google ... beugh! Ngeri dah.

Tapi, tenang. Meski ini terdengar ribet, sebenarnya ini hanya perlu beberapa menit saja lo!



  1. Buka “My Activity” di browser.
  2. Klik pilihan ikon di sebelah kanan atas dan pilih “Delete activity by”.
  3. Sekarang, pilih periode dan produk mana yang ingin kamu hapus riwayatnya. Pilih aja “All time” kalau emang pengin hapus semua, dan juga “All products”.
  4. Klik tombol DELETE, dan konfirmasi penghapusan.


Menghapus Akun Google dan Akun Lain yang Terhubung

Barangkali, kamu pengin menghilang sepenuhnya dari jagat maya, dengan menghapus semua akun kamu? Bisa lo, ada trik untuk mempercepatnya, terutama untuk menghapus akun-akun yang terhubung dengan akun Google kamu.

Pakai apa? Deseat.me.

Deseat.me adalah tool yang bisa mengakses akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu, dan kemudian menghapusnya.



  1. Buka “Deseat.me”. Tekan tombol “Get started” di tengah, kemudian tekan “Sign in with Gmail” untuk masuk menggunakan Google.
  2. Google akan meminta persetujuan kamua sebelum memberikan akses untuk Deseat.me. Klik tombol ALLOW untuk lanjut.
  3. Deseat.me kemudian akan menunjukkan semua akun yang terhubung dengan Google dalam bentuk tumpukan kartu. Klik tombol Delete pada setiap kartu untuk menghapus akun-akun yang bertautan dengan akun Google kamu.


Gampang kan? Sekali jentik doang.



Jadi gimana? Rekam jejak digital bisa sedikit dirapikan kan, dengan beberapa langkah di atas? Hehehe. Yahhh ... kalau mau benar-benar ngilang sih ya, susah. Tapi bukannya enggak mungkin juga, kok. Ehe ehe ehe.

Semoga bermanfaat.


Disclaimer: Bukan Sponsored Post.

Perlu banget disebutkan ya, Gaes! :))

So! Hae, gaes! Pernah nggak sih, kamu iseng melihat blog sendiri, lalu merasa ada sesuatu yang kurang? Coba deh dilihat-lihat lagi, apa ya kira-kira? Hmmm, bisa jadi visual laman kurang oke. You knowlah, manusia itu tipenya visual (mostly). Nggak semua orang tuh bisa betah membaca, kalau enggak ada visual yang menarik.

Bahkan ada lo, penelitian yang membuktikan bahwa "human process visual better". Di artikel itu disebutkan, bahwa manusia itu lebih mampu memahami konten visual 60.000 kali lebih cepat ketimbang teks!

Bayangpun! 60.000 kali lebih cepat!

So, berarti sudah tahu betapa pentingnya konten visual untuk bisa dimasukkan dalam artikel kita. Well, makanya, saya mau ajak kamu untuk membuat banner dan header agar lebih keren lewat artikel ini, step by step.

Mau? Cus!



Tentang Banner dan Header Blog

Nah, sebenarnya banner dan header pada dasarnya adalah dua hal yang berbeda. 

Banner atau blog banner adalah kreasi visual yang biasanya digunakan untuk tujuan informatif bersifat promosi, contohnya iklan. Keperluan memajang banner penting bagi beberapa bloger untuk meraup pundi-pundi.

Beda halnya dengan header. Sesuai namanya, header adalah gambar yang ditempatkan di atas tampilan situs yang akan muncul pertama kali saat seseorang mengakses blog. Ukuran header dipastikan hadir secara horizontal dengan warna dan model yang mewakili blog keseluruhan.

Kedua karya visual ini mesti digarap secara serius dan mampu merepresentasikan blog dan isi yang kamu tuangkan di dalamnya. Semakin apik, tentu para pengunjung bahkan dirimu sendiri bakal betah berlama-lama. Jika tidak, bisa jadi pengaruh buat traffic lo!

So, barangkali ada nih di antara kamu yang masih struggling karena enggak tahu cara membuat banner serta header yang yang baik dan benar. 

(((baik dan benar)))

Makanya, saya mau ajak untuk bareng-bareng mempelajari langkah demi langkah menggunakan platform desain Canva yang simpel, mudah dan punya fitur lengkap. Pastikan untuk mencatat hal-hal penting di bawah, ya! 

Iya, pake Canva aja. Gosah sotosop apa korel. Itu biar buat para desainer pro aja! Kita bloger mah, pokoknya bisa bikin yang gampang tapi bagus! Yes? Yes.


Cara Membuat Banner Sederhana, Simpel dan Keren

Nah, banner ada berbagai ukuran dan orientasi. Ukuran banner populer yang sering dipakai untuk keperluan situs adalah 300 × 250, 728 × 90 dan 160 × 600 pixel. Iya, ukurannya piksel ya, bukan sentimeter. 

Berdasarkan tarif periklanan, setiap ukuran memiliki harga tersendiri yang perlu disesuaikan. Sampai sini sudah paham belom, nakanak?

Bikin banner itu nggak susah, cyint. Kamu cuma butuh telaten aja buat utak-atik. Jadi, sediakan waktu yang cukup, itu aja. Biar ga buru-buru, sehingga hasil maksimal.

Ikuti langkahnya berikut ini yak.

1. Buka Canva dan Cari Template yang Pas dengan Kebutuhanmu




Kalau sudah kebuka, ntar kamu akan melihat sejumlah fitur berdasarkan keperluan pribadi. Untuk kali ini, kebutuhanmu adalah membuat banner. Di Canva ada banyak banget template siap pakai. Sudah dengan gambarnya, sudah pula dengan font pairing yang pas. Yang kamu butuhkan nanti hanya menyesuaikannya saja, sehingga bisa sesuai dengan yang kamu mau.

So, kalau kamu mau yang pake foto atau image, pilih template dengan image. Nanti kalau kamu mau ngeganti image-nya, kamu tinggal klik aja di image yang di template, lalu ganti dengan punyamu.

Buat milih template teks.


Begitu juga dengan font. Kamu langsung cari aja font pairing yang paling sesuai dengan keinginanmu, lalu tinggal ganti kata-katanya dengan yang pengin kamu mau.

Kalau belum berpengalaman font pairing, mendingan seminimal mungkin untuk mengganti-gantinya, karena ... you know ... udah disediain kok sama Canvanya. Sudah pasti cocok dan sesuai dengan prinsip desain. Gosah mikir-mikir lagi kan?

So, carilah template yang sesuai dengan ukuran visual yang kamu butuhkan untuk dipasang di blog. Kalau sudah menemukan template yang pas, maka kamu selanjutkan akan siap untuk menata banner. 


2. Sesuaikan Desain dengan Ragam Fitur di Canva 





Nah, sesuaikan desain banner dengan memilih warna, font, gambar, dan ilustrasi yang paling cocok dengan identitas. 

Nah, soal warna, komposisi, dan font nih. Mau nggak mau, kamu mesti ngerti dan paham beberapa prinsip dasar desain, utamanya desain grafis. Saya sih pernah menjelaskan mengenai 3 prinsip utama desain grafis (yang semoga mudah dipahami oleh kamu-kamu yang nondesainer) dengan cukup detail di Tips dan Trik. Silakan dibuka dan dibaca ya, supaya kamu bisa mengolah desain kamu dengan baik.

3 Prinsip yang harus diingat untuk membuat banner, header, dan berbagai artwork desain grafis adalah:
  • Simple is better
  • Perhatikan porsi font antara yang readable dan stylized, terutama kalau kamu belum mahir typografi.
  • Pakai kombinasi warna seaman mungkin, jika kamu merasa belum peka terhadap color pairing.
Untuk warna, kamu bisa pakai acuan color scheme punya brightside ini.


Ingat ya, jangan eksperimen kalau memang merasa belum gape. Atau, your design will be the next disaster.
Halah.

Iya disaster. Orang yang liat malah sakit mata.
Mau pada tanggung jawab, kalau yang liat jadi pada belekan emang? :P


3. Unduh Banner dan Unggah ke Blog 




Nah, kalau sudah siap dengan desainmu, next kamu bisa ngedonlotnya. Kalau di Canva sih kita bisa dapetin image beresolusi tinggi dalam setiap format (JPEG, PNG, PDF). 

Karena itu, tetap perlu dioptimasi lagi ya, kalau mau diunggah ke blog. Image dengan resolusi tinggi sih bagus, tapi kalau terlalu tinggi resolusinya, ntar juga akan bikin loading blog jadi melambat.

Untuk optimasinya, kamu bisa mengikuti langkah-langkah optimasi image di blog ini juga.

Di Canva, ada ribuan template siap pakai,  buanyak bet gambar tanpa royalti, dan kamu tinggal drag and drop aja untuk bikin banner. Nyaris ga butuh skill desain sama sekali, selain harus paham 3 prinsip desain di atas aja.

Sekali dua kali kamu mungkin tergagap-gagap, selanjutnya pasti gampang. Eksplor aja terus. Tapi awas, ntar lupa waktu. Hahaha.



Cara Membuat Header Blog


Nah, untuk membuat header blog, sebenarnya kamu tinggal ulangi aja langkah di atas. Hanya saja mungkin ukurannya agak berbeda.

Kalau saya sih, mendingan langsung sesuaikan dengan frame blog kamu. Ukur dulu keperluan image headernya berapa, baru kemudian kamu bikin sesuai ukurannya.

Supaya apa? Supaya optimal ukurannya, enggak terlalu besar, ataupun terlalu kecil.

Ngukurnya gimana? Bisa pakai addon di browser kamu. Saya juga sudah jelasin di bagian optimasi image untuk keperluan SEO. Tautannya sudah ada di atas. Silakan disimak lagi, kalau misal belum sempat simak ya.

Kalau sudah ketemu ukurannya, baru deh kamu bikin di Canva, pakailah Custom Dimension, supaya bisa disesuaikan dengan kebutuhanmu.
Tinggal diisi aja, kamu butuh space lebar berapa kali panjang berapa pixel.


Berapa pun ukuranmu, nanti Canva secara otomatis akan menawarkan berbagai template dengan dimensi yang kurang lebih sama. Jadi, kamu tetap bisa memilih dari yang sudah ada.



Bottom Line Is ...

Jangan pernah takut untuk membuat header blog sendiri. Nggak pernah ada desain yang salah, ataupun desain yang benar. Hanya saja memang ada pengaruh "preferensi" dan "selera" yang memengaruhi.

Bagaimanapun, kamu pasti mau kan supaya banyak orang betah tinggal di blogmu dan baca-baca artikelmu? Makanya, semakin banyak selera orang yang bisa kamu jangkau, maka semakin okelah desainmu itu.

Gitu aja sih.

 Tidak ada karya yang buruk jika kamu menyiapkan secara matang. 

Pokoknya, perhatikan betul font pairing dan color pairing. Asal kamu menerapkan 3 prinsip desain di atas, jamin deh, desainmu akan "aman".

Selebihnya, kamu dapat mengeksplor sendiri dengan melihat header blog milik orang lain. Boleh dijadikan referensi, namun jangan sampai terpatok untuk mengejar hasil tersebut. Kumpulkan ide tersebut, lalu satukan. Lebih bagus jika kamu punya konsep segar dan berbeda. 

Have fun!



Self-publishing, atau menerbitkan buku secara mandiri a.k.a menerbitkan indie biasanya ditempuh oleh mereka, either yang pengin punya karya buku idealis (yang gue banget) atau mereka yang sudah nggak sabar nunggu keputusan penerbit mayor yang suka PHP.

Ya, akhir-akhir ini memang semakin banyak orang yang  adalah menerbitkan buku secara mandiri, langsung oleh penulisnya--tanpa melalui penerbit--dari proses pengelolaan penerbitan buku hingga proses pemasarannya.

Seperti acara Stiletto's Freetalk Jumat kemarin yang saya lakukan secara live di Instagram Stiletto Book, penerbitan indie ini merupakan pilihan yang bebas bagi setiap orang, demi mewujudkan mimpi punya buku sendiri. Ya, semacam proyek idealis gitu deh.

Tak kurang dari Krishna Pabichara, Bernard Batubara, Agus Noor, dan beberapa penulis "kelas berat" lainnya pernah suatu kali menerbitkan buku lewat jalur indie, demi terpenuhinya "hasrat pribadi".

(((hasrat pribadi)))

Ya, memang itulah keunggulan buku indie. Kita bisa bikin buku seperti apa pun yang kita mau. Kalaupun ada penerbit yang memfasilitasi dan membantu kita dalam soal editing, nambahin ISBN, proofreading, bikinin cover dan layout, kayak Stiletto Indie Book--tetep iklan ya, cyint!--tapi keputusan terakhir mengenai seperti apa buku yang akan kita buat tetap ada pada penulis.

However, karena semua proses dilakukan oleh diri sendiri maka biasanya kamu akan terbentur dengan masalah-masalah yang mesti kau hadapi dan akhirnya membuat banyak kesalahan. Kesalahan-kesalahan ini kadang bikin penjualan buku kita failed. Atau, kadang bikin kita stuck di tempat. Dan, akhirnya jadi penulis (yang benar-benar) idealis tapi minim reputasi, dalam arti nggak peduli kebutuhan pembaca.

Nah, ini nih. Yang mau saya bahas sekarang.

Sebagai seorang penulis dan "produser" kurang lebih 10 buku indie *HASYAH!*, saya juga melakukan kesalahan berikut. So, kamu barangkali bisa belajar dari semua kesalahan saya itu, untuk kemudian menjadi catatan agar nggak mengulangi kesalahan yang sama.



Beberapa kesalahan yang pernah saya lakukan ketika menerbitkan buku indie

1. Pengin segera punya buku

Ini adalah kesalahan pertama yang saya lakukan saat mulai menerbitkan buku indie. Saya pengin cepet-cepet punya buku sendiri.

Padahal kemampuan masih minus.

Penerbitan indie ini sebenarnya prosesnya begitu sederhana. Ketika kamu menyelesaikan buku pertamamu dalam format Word, kamu pun bisa segera mengirimkannya ke penerbit indie untuk kemudian dicetak langsung menjadi buku.

Begitu bukumu published, dan covernya nongol di website penerbit indie, maka saat itu pula, kamu bisa membaptis dirimu sendiri sebagai seorang penulis.

Dan, kemudian yang terjadi adalah para pembaca buku--yang telah "merelakan" uang mereka untuk membeli bukumu itu--akhirnya harus mengonsumsi buku yang terburu-buru kamu terbitkan.

Sadar nggak, dengan demikian kamu sudah mengecewakan mereka? Mungkin mereka masih akan memberikan feedback yang bagus, karena mereka temanmu. Mereka sayang sama kamu. Mereka hanya berbaik hati dan berusaha mendukung ke-halu-anmu untuk menjadi penulis.

Kalau dipaksa jujur, we never know what they would say. Right?

Ingat.
Penulis indie adalah sekaligus "produser". Produk yang diciptakan dengan buruk akan selalu menarik kritik, publisitas yang buruk, dan membuat orang malas pakai. Demikian juga dengan buku.

Jadi jangan pernah terburu-buru menerbitkan sebuah karya yang dapat membuat reputasimu menjadi jelek.


2. Menganggap diri sendiri pinter banget




Dulu, pertama kalinya saya menerbitkan buku indie, penerbit indie enggak ada yang menyediakan fasilitas editing. Saya sendiri juga enggak ngerti, pentingnya seorang editor dalam proses penerbitan buku.

Saya pikir, "Eikeh kan gape nulis. Eikeh tahu kok kata yang bener dan yang enggak."

SALAH.

Ternyata saya nggak sepinter itu.

So, let's learn.

Sekali lagi, teman-teman dan orang terdekat kamu pastinya akan mengatakan bukumu adalah buku terbaik, fantastis, dan luar biasa. Itu karena mereka tidak ingin melukai perasaanmu.

Bisa saja buku kamu sebenarnya mengerikan karena penuh dengan kesalahan tata bahasa, ejaan dan tanda baca di atas ratusan kesalahan ketik konyol lainnya.

Hal yang perlu dipelajari: peran editor itu penting! Atau seenggaknya first reader. Mereka akan bisa membantu kita, untuk "mencari letak kesalahan". Yes, ada kalanya kita memang mesti "nyari-nyari kesalahan". Supaya apa? Ya, supaya bisa diperbaiki.

Jangan hanya puas dengan satu orang editor atau first reader. Bahkan kalau perlu, cari beberapa orang sekaligus yang kalau kasih kritik pedesnya minta ampun. Siap-siap baper dan pundunglah kamu ya. Karena fase itu akan selalu ada.

Dapatkan semua umpan balik yang penting, bantuan, dan bimbingan yang kamu bisa.


3. Tanpa Konsep

Karena kesalahan poin pertama, maka terjadilah kesalahan poin ketiga ini.

Berpikir untuk segera bisa punya buku, bikin saya menerbitkan buku tanpa konsep sama sekali. Asal ngumpulin (atau bikin tulisan) tanpa konsep. Atas nama kebebasan berekspresi.

Well, ada baiknya sih, ketika kamu mulai berpikir untuk membuat buku, bayangin dulu, bukunya nanti akan seperti apa. Cari deh referensi yang banyak. Main ke toko-toko buku. Zaman sekarang buku-buku itu semua berkonsep lo. Kamu bisa mengadopsi salah satu ide konsep buku, lalu modifikasi dengan caramu sendiri.

Misalnya, sudah beberapa kali saya bikin buku dengan berkonsep kumpulan kisah dengan ilustrasi surreal di masing-masingnya. Konsep ini akhirnya "gue" banget, meski saya mendapatkan ide ini dari buku lain. Nope, ini bukan ide original saya. Tapi somehow, bukunya tetap gue banget kan?


4. Tanpa rencana

Nah, bagusnya, konsep buku ini juga kemudian diikuti dengan rencana pemasaran.

Berpikir untuk jualan buku secepatnya begitu sudah selesai hanya dengan menyodor-nyodorkannya di depan hidung orang supaya dibeli, itu adalah kesalahan yang umum.

Ini juga menjadi kesalahan saya dulu. Setelah beberapa lama belajar marketing, baru deh saya tahu kesalahan saya ini menyebalkan banget :))

So, mau menerbitkan buku indie? Kamu mesti punya strategi pemasaran, cyint. Kenapa? Nah, penyebab kesalahan ini ada di poin kelima di atas. Hahahah.

Jadi, kita akan langsung ke strategi pemasaran yang sudah pernah saya lakukan aja deh. Siapa tahu, kamu bisa adopsi dan sesuaikan dengan kebutuhanmu sendiri. Misalnya begini.

Coba bikin step by step rencana penjualan bukumu. Contohnya:

  • Bukti terbit dapat 8 buku (misalnya nih), 2 buku untuk giveaway di akun Instagram pribadi. 2 buku lain untuk dikirim ke teman yang followernya banyak, untuk direview dan diendorse. 2 buku untuk giveaway di komunitas (pilih yang anggotanya banyak).
  • Seminggu 4 kali akan upload foto buku di Instagram dengan berbagai gaya dan angle.
  • Coba cari celah di mana bisa bikin acara bedah atau diskusi buku, baik itu online maupun offline. Kalau punya komunitas yang diikuti, coba deh sepik-sepik adminnya siapa tahu dibolehin bikin bedah buku atau kulwap gitu.
  • Coba cari informasi beberapa toko buku online perorangan yang mau ngebantu jualin. Misalnya nih, saya pernah menghubungi toko buku indie agar bisa nitip buku-buku saya. Ternyata cukup mudah kok syaratnya. Mereka minta bagi hasil sekian persen (tergantung kebijakan toko bukunya) dan kita harus menyediakan stok buku barang 5 biji. Dengan royalti buku indie yang rata-rata 50% lebih itu, marginnya masih masuk kok. Let's say kita enggak dapat royalti 50% lagi, tapi 30% misalkan. Kan masih lumayan?  Orang royalti mayor aja "cuma" 10% :))
Nah, jadi rencanakanlah "kelahiran" bukumu from A to Z ya. Ini bukumu loh! Buku yang kamu banget! 


5. Berpikir penerbit akan membantu penjualan bukumu

So, memang kamu yang harus terlibat from A to Z. Kenapa? Ya karena ini buku indie! Buku yang bukan berada di dalam area penerbit.

Banyak lo ini, penulis pemula yang salah paham. Dikiranya, tanpa perlu dia bekerja keras, buku akan laris sendiri.

Terus, ketika penerbit nggak transfer royalti, jadi baper. Terus ngomel, nggak cuma dengan meneror penerbit, tapi misuh-misuh di media sosial. Bilangnya, penerbit ini penipu!

YHA!



Ini buku indie, Zheyenk. Buku indie adalah buku yang berada di dalam tanggung jawabmu sendiri. Penerbit mah ... emang nggak akan ngapa-ngapain. Salah besar kalau kamu hanya mengandalkan penerbit buat memasarkan bukumu.

Kalaupun penerbit lantas mempromosikan bukumu juga, itu adalah PRIVILEGE. Nggak semua penerbit indie mau dan bisa mempromosikan buku dengan baik lo.

Untunglah saya enggak pernah melakukan kesalahan yang ini sih.
Tapi, biasanya justru kena omel sama penulis yang melakukan kesalahan ini. Hahaha.

Dikomplen, "Kok buku saya enggak pernah dipromosiin? Jadinya nggak laku kan?"

Duh, cyint. Kamu dong yang gencar promosinya. Penerbit mah punya jadwal promosi, dan semua buku indie punya jatah dipromosikan. Lu emang siapa, minta buku dipromosiin terus-terusan?

Wqwqwq.
Meh. Coba ya, dibaca MoU-nya. Biasanya sih soal promosi ini juga sudah ada di MoU.





Penerbitan buku indie memang masih sangat baru trennya ya, dan belum matang sehingga semua yang terlibat di dalamnya masih bereksperimen. Bukan hanya penulis, tetapi juga para penerbit dan toko buku indie.

Semua orang bisa membuat kesalahan. Kita semua belajar.

Jika kamu baru dalam hal penerbitan buku indie, maka mungkin dengan membaca 5 kesalahan perihal menerbitkan buku indie di atas dapat membantumu untuk mengurangi kesalahan yang sama.

Memang saya adalah markom Stiletto Book. Tapi saya juga penulis buku indie. So far, saya lihat sistem penerbitan indie di Stiletto Indie Book masih "agak" lebih baik dari yang lain. Saya sendiri terlibat di dalamnya untuk bisa meningkatkan mutu pelayanannya.

So silakan, kepoin Stiletto Indie Book, jika kamu pengin menerbitkan buku indie. Ke depannya, saya juga akan banyak bikin diskusi seputar menerbitkan buku indie melalui Instagram Live di akun Instagram Stiletto Book. 

Setiap Jumat pukul 11.00--insyaallah--akan selalu ada Stiletto's Freetalk. You're invited to get involved. Bolehlah difollow dulu, lalu tandain hari Jumatmu ya. Karena di Stiletto's Freetalk itu kita akan ngobrol tentang banyak hal--terutama soal menerbitkan buku indie.

Cya there!

Jangan Mentang-Mentang Influencer


Oke, disclaimer dulu. Artikel ini akan terlalu nyinyir. So, you've been warned ya. Kalau enggak tahan dengan "nada" nyinyir seorang haters, kamu boleh kembali menutup artikel ini, dan pindah ke artikel lain yang lebih berfaedah. Di blog ini tentunya :P

Beberapa waktu belakangan, saya sungguh begah dengan berbagai kondisi yang dishare oleh orang-orang di jagat media sosial terkait perilaku influencer. Maap, saya males nyari atau skrol timeline untuk memperlihatkan beberapa berita mengenai perilaku influencer yang minus. (Iya, saya akhir-akhir ini makin malesan, apalagi kalau soal hal-hal yang nggak ada faedahnya buat saya or kerjaan.)

Tapi yah, sebersih-bersihnya saya setting timeline Twitter, beranda Facebook, dan timeline Instagram, teteup ya, pada keliatan. Wqwqwq. Mutual saya memang luar biasa sik.

Dan, jujur, saya malu sendiri liatnya.

Ada influencer yang katanya minta gratisan 500 risoles untuk ditukar dengan so-called exposure berupa foto di feednya yang berfollower katanya ratusan ribu. Ada influencer lain di luar negeri berfollower 50K something, yang minta gratisan paket wedding ke sebuah wedding organizer senilai ribuan dolar, untuk ditukar dengan foto di feednya.

... daaan berbagai cerita yang lain.

Kalau nemu tweetnya, bakalan ada tuh reply-reply dari orang-orang yang pernah ngalamin hal yang sama: influencer minta gratisan untuk ditukar dengan foto.

So, mau tau "dosa-dosa" influencer yang lainnya?

Wuidih, Carra is playing God.

Nope, I don't. Saya bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang mempergunakan media sosial untuk belajar, mencari informasi, mendapatkan data untuk kemudian dibuat artikel, dan untuk nyinyir.

Yes! Saya hanya bagian dari netijen mahabenar, penonton yang berhak menilai tontonan yang ditontonnya, karena yang menyajikan tontonan mempertontonkan tontonan yang sungguh tak enak untuk ditonton.

Right? Kek kalau lagi nonton tivi atau nonton film, kita boleh dong ngomenin acaranya kan? Boleh ngereview filmnya sejujur-jujurnya kita kan? Menghargai yang bikin tontonan? Of course! Kalau yang dihasilkannya memang layak untuk dihargai. Kalau enggak?

Hei, bukankah mereka bikin sesuatu itu untuk kita tonton?

Hahaha. Mbulet tur nyinyir. Biarin.

Anyway, balik ke laptop.

Yes, "dosa-dosa" berikut sering dilakukan oleh influencer, yang sebenarnya kemudian menjadikan mereka pun "setara" dengan netijen mahabenar. Saya menuliskan ini bukan untuk menghakimi mereka, sebenarnya juga. Tujuannya jelas, supaya kita bersama bisa belajar dari kesalahan orang lain.

See? Nggak selamanya nyinyir itu unfaedah. Bisa juga kan nyinyir berfaedah.

Lagi pula, mungkin kesalahan-kesalahan ini juga MASIH saya lakukan. So, I think it's also good for myself.

Disclaimer lagi: sebagian cerita di bawah ini, saya alamin/lihat/dengar sendiri ceritany dari pihak yang benar-benar mengalaminya.



3 Dosa So-Called Influencer yang Sering Kejadian Belakangan Ini



1. Menilai diri sendiri terlalu tinggi

"Eh, kirimin aku produk dong. Ntar aku posting bareng karya seniku deh. Jadi background gitu," sapa seorang so-called-influencer-yang-juga-self-proclaimed-artist berfollower 5K (sedangkan follower brand-nya 80K) ke pemilik brand yang akun Instagramnya saya kelola.

Hal pertama yang nongol di benak adalah: dengan 5K, kamu bisa apa untuk bisnis brand yang followernya sudah 80K? Tapi ya sudah, sama pihak pemilik bisnis--yang katanya masih teman--dikiriminlah itu produk. Free.

... dan ternyata, enggak pernah diposting juga sampai sekarang.

Pantes nggak kalau lantas dipertanyakan, "Are you serious? Like, seriously?"

"Kirim produk ke aku dong. Nanti aku promoin."

Oh yeah? Kalau dikirim beneran, kamu emang bisa bawa berapa orang yang mau beli produknya bener-bener? Kan katanya mau promoin? :P

Pertanyaan itu seharusnya dijawab dulu, sebelum kamu berani mengajukan diri untuk menjadi kepanjangan tangan para brand marketing. Meski memang, kan ini soal brand awareness. Tapi ini bukan berarti tidak bisa diukur. Beberapa hal yang seharusnya tercapai setelah menyewa jasa influencer yang bisa menjadi tolok ukur kesuksesan strategi marketing influencer ini adalah:
  • Follower brand nambah, engagement naik.
  • Peringkat untuk kata kunci tertentu di SERP naik
dan beberapa hal lain. Silakan ditambahkan buat para digital marketers :P

Beda pastinya, kalau si brand yang datang padamu dan menawarkan kerja sama. Tentunya, mereka sudah melakukan riset lebih dulu. Dan, mereka juga sudah bisa membayangkan, KPI seperti apa yang bisa kamu capai.

However, mungkin kemudian ada pertanyaan lain yang kemudian muncul, "Berarti, kita nggak boleh dong, mengajukan diri ke brand?"

Boleh lah dong deh ah! Apalagi kalau kamu adalah bloger/influencer yang memang kenal betul dengan value dirimu sendiri. Saya pernah nulis tip melamar brand secara sopan dan etis. Tip tersebut saya kumpulkan dari bloger-bloger luar, dan juga ada sedikit insight dari seseorang yang bekerja di digital marketing. Silakan dibuka dan dibaca-baca kalau butuh yah.


2. Ga tau diri

Oh, mungkin terdengar kasar sih. Tapi saya enggak bisa menemukan frasa lain yang lebih tepat selain itu.

"Oh, mau aku promosiin? Feenya dua juta yah, satu foto di feed," kata seseorang yang lain lagi--yang lupa akan utangnya yang sudah pernah diputihkan--pada seorang pemilik brand yang lagi-lagi akun Instagramnya saya kelolain.

Oh yes, cerita ini nyata. Real. Benar-benar terjadi.

Lucu. Barangkali dia memang amnesia ya? Entahlah.

Apa perasaanmu, kalau kamu yang ngalamin jadi orang yang dimintain gitu sama influencer? Saya sih terus terang sakit hati. Oh, cukup tahu aja sih. Dan akan langsung black listed.

Sama aja kek influencer yang pesan 500 risoles buat ditukar sama foto di feed dan story.
Yawlah! 500 risoles!
Ngelipetnya itu pegel banget, Mbaque. Eikeh bikin sosis lilit mie 12 bijik aja langsung encok!
500 risoles, dituker foto.
YHA!



3. Black marketing

Inget kasus Mandiri error kapan hari? Yang bikin para netijen panik? Ada yang kehilangan saldo 25 juta, tapi juga ada yang ketambahan saldonya sampai 9 juta?

Salah satu so-called influencer ngetweet kurang lebih begini, "Mandiri error, orang panik, baru diinformasikan kalau ada maintenance. ****** mau ada maintenance, sudah sejak kapan hari diinformasikan, blablabla..."

Siapa dia? Hahaha, jangan disebutin. Silakan dijawab di dalam hati sadjah.

Ok. Saya sih tahu, dese sedang menyoroti dan mengomplain sebuah layanan (mungkin dengan maksud) agar kualitasnya bisa diperbaiki.
TAPI, seharusnya dia bisa lebih bijak.

Apakah dia sudah mengecek, kalau maintenance bank itu sudah pasti dilakukan secara teratur? Dan, di situlah error selalu ada. Si ****** memang menginformasikan maintenance, tapi memangnya dalam maintenance itu nggak akan ada risiko error yang tidak bisa diprediksi? So...?

Mendingan, kalau memang dia mau mengritik layanan Mandiri, ya udah sih, fokus di Mandirinya aja. Gosah pake membandingkan dengan yang lain.

Bahkan nih ya, akan lebih bijak pula, kalau dia bikin followernya educated dengan menyarankan--misalnya--makanya penting bagi kita untuk tidak menyimpan duit di satu tempat saja.

Bukankah kalau kek gitu akan lebih berfaedah?

Ada yang lebih lucu lagi.

Ada influencer, komplaiiiin mulu akan satu layanan provider. Tiap kali ada buzzer lain yang lagi campaign, dia akan nyaut dengan nada nyinyir.
Turns out, one day, saya menemukan dia ngebuzz layanan provider yang sebelumnya dia komplain mulu.

HAHA!
Can you imagine, how does that look? Ridiculous!

Salahkah saya, kalau kemudian saya berpikir, "Kemarin komplain-komplain mulu, jenjangan karena iri ga dapet job." :P

Yes, people. Your social media account is your rule, of course. But if you have tons of followers, you better learn how to be wiser.

Hanya sekadar mengingatkan. *icon sembah*




So, just because you're influencer, it doesn't mean that you're always right.
Meski kita punya follower banyak dan bejibun, nggak selalu kita bener. Pun, follower dan nyinyir-ers--kek saya--juga nggak selalu bener.

Ugh. Saya sendiri juga masih sering sih melakukan dosa-dosa di atas. Hanya saja, follower saya enggak banyak, jadi ya belum terlalu kelihatan. Wqwqwq. Tapi saya juga yakin sih, saya juga dinyinyirin di luar sana. Wakakak. Biarinlah, kalau memang kamu punya nyinyiran buat saya, dan seharusnya saya tahu, please ... do not hesitate to write it on comment ya :P

Ada bagusnya juga untuk saling wawas diri aja. Ngeliat kesalahan orang lain, itu kadang ada perlunya juga. Asal kita nggak ngejudge, dan jadikan sebagai pelajaran buat diri sendiri. Jangan sampai melakukan kesalahan yang sama.