Disclaimer: Artikel ini aslinya saya tulis untuk indoblognet.com, yang kemudian saya tayangkan ulang di sini dengan suntingan seperlunya.

Subheading dalam artikel blog ini kadang terlupakan. Bahkan mungkin banyak yang belum tau apa subheading, dan apa pentingnya pake subheading.

Apa sih subheading?

Subheading, atau penajukan (sebutannya di WordPress berbahasa Indonesia) adalah semacam judul kecil yang membagi artikel kita menjadi beberapa bagian. Meski disebut sebagai “judul kecil”, tapi subheadings punya peran besar untuk membuat para pembaca blog tetap menaruh perhatian pada artikel kita.

Font subheading ini biasanya memang lebih menonjol ketimbang font artikel umumnya, karena memang tujuannya untuk menjadi pembatas, penarik perhatian, dan penanda bagian penting.




Lalu, apa pentingnya subheading?


Tau enggak, bahwa hanya 10% dari pembaca online yang mau benar-benar membaca artikel blog kita. Nah, dengan subheading atau subjudul atau penajukan inilah, para pembaca bisa scanning dan skimming dengan baik dan gampang.

Lah, mereka suka baca cepat kok malah dibantuin supaya gampang skimming?

Coba lihat, gambar berikut.

pentingnya subheading

Enakeun mana untuk dibaca?

Ya, jadi gini, Marimar.
Saat mereka bisa scanning dan skimming dengan mudah dan baik, dan kemudian mereka menemukan bahwa konten artikel kita sungguh berfaedah dan banyak manfaatnya bagi mereka, maka saat itulah mereka akan mengulang lagi membaca artikel kita dengan lebih saksama.

So, ini sama halnya kek kita bikin kesempatan kedua agar tulisan kita kebaca, sampai selesai.

So, sampai di sini, setuju kan kalau subheading ini penting? Makanya kita harus tahu beberapa trik agar membuat subheadings ini tetap menarik. Kalau enggak ya, bhay juga nih mereka para fast reader ini.

So, bisa disimpulkan, bahwa subheading berfungsi untuk:
  • Menonjolkan bagian per bagian dalam artikel, sehingga tetap menarik untuk dibaca.
  • Membuat para fast reader yang selalu terburu-buru membaca itu bisa skimming dengan lebih baik, dengan harapan mereka akan tertarik membaca dengan lebih saksama.
  • Meringkas atau menyimpulkan dari beberapa bagian yang dipisahkannya.
  • Membuat pembaca lebih mudah memahami topik yang sedang kita bahas.
  • Membuat pembaca lebih penasaran, dan akhirnya mau scroll ke subheading berikutnya.
  • Memudahkan kita untuk merumuskan pikiran, dan tulisan pun menjadi lebih runtut dan fokus. Saat kita sudah punya poin-poin subjudul dalam kerangka tulisan, maka selanjutnya akan jauh lebih mudah bagi kita untuk mengembangkan kerangka menjadi tulisan utuh.
Nah, yang terakhir itu saya banget. Kalau saya bikin artikel tanpa subheading dulu itu bagai kehilangan arah tujuan. Tapi, kalau sudah ada poin-poin dulu--yang berupa subheading--nulis artikel bisa lebih cepet.


Di mana kita setting subheading?

Kalau di Wordpress dengan classic editor, ada di sebelah sini.

subheading di wordpress classic editor

Untuk Wordpress dengan Gutenberg, ada di sebelah sini.
Atau, bisa juga klik di bagian block, nanti akan ada tanda plus (+) nongol, untuk menyisipkan block baru. Klik, ntar ada pilihan tipe block. Pilih yang heading.

subheading di gutenberg



Kalau di Blogspot, setting subheading juga ada di sebelah kiri atas kotak editor, hanya saja berbeda istilah.

subheading di blogspot

Kalau di WordPress sudah langsung kelihatan heading 1, 2, 3, dan seterusnya. Nah, kalau di Blogspot, Heading = H2, Subheading = H3, Minor heading = H4.

Untuk WordPress, biasakan judul artikel sudah mendapatkan tag H1. Jadi untuk subheading pertama, kita bisa pakai mulai H2. Untuk Blogspot, subheading pertama, kita pakai yang Heading, berikutnya baru Subheading.

Bingung nggak? Hehehe. Semoga enggak ya.
Sambil dibuka blognya kalau bingung yah, sambil sebut nama saya 3 kali.
*lah*

Terus, gimana ya bikin subheading yang menarik, yang bisa bikin para skimmer dan fast reader jadi tertarik untuk baca ulang artikelnya dari awal?

Well, kuncinya--jujur aja nih--tetep dari konten kamu. Kalau konten kamu enggak worth to read atau topiknya enggak mereka butuhin, ya mau bikin subheading kek gimana ya, enggak bakalan dibaca ulang sik. *Mamak sang pengempas harapan*
Yagemana dong? Emang itu dulu yang mesti dipahami sik.
Kalau enggak, entar kalau misal udah coba praktikin tip-tip di bawah ini dan ternyata enggak manjur, terus bilang, "Meh, Carra mah omong doang!"

Kan ga gitu maennya. Yekan? YEKAN?!


Membuat Subheading yang Menarik

1. Inti persoalan

Para skimmer alias fast reader biasanya males baca apalah apalah pengantar artikel, mereka maunya langsung ke pokok persoalan.

So, tempatkanlah poin-poin pokok pikiran di subheading.

Jadinya tuh, saat para skimmer lagi skimming dan scanning subheading, mereka tuh kek udah disodorin inti dari artikel kita langsung, gitu loh.

Salah satu yang terpenting dalam subheadings adalah perletakan keywords utama. Pastikan setidaknya ada satu keywords utama yang menempati posisi subheadings, boleh di H2, H3, dan seterusnya. Ya, paling bagus sih di H2 sih–subjudul yang paling gede. Ini salah satu langkah SEO yang penting loh, bisa banget memengaruhi posisi artikel kita di Google.

Jadi, be smart merangkai kata-katanya ya.


2. Short and simple

Namanya juga sub-JUDUL. Judul. Jadi, bikinlah yang pendek dan simpel. Langsung ke masalah. Nggak usah endebre-endebre ke mana-mana.

Elah. Tapi, kan itu ada juga yang suka bikin judul panjang?
Ya iya, tapi kan juga enggak satu paragraf dibikin subheading semua. 
It's over optimized, dan Google tuh gak suka.

So, ingat, bahwa subheading ini berlaku layaknya judul. Jadi ya perlakukan seperti judul.

Berapa kata idealnya?

Enggak ada angka pasti. Hehehe. Silakan disesuaikan dengan kebutuhan, tapi jangan berlebihan.


3. Kreatif

Yep, kreativitas kita dalam mengulik kata jadi kuncinya.

Anggaplah sebagai judul--seperti yang sudah dijelaskan di atas--yang akan menentukan pembaca mau ngeklik dan kemudian baca artikel kita, jadi subheadings harus juga memberikan rasa penasaran.

Untuk apa? Supaya pembaca artikel kita semakin penasaran ingin tahu apa saja yang kita bahas, sehingga mereka nggak kerasa udah scroll dan baca sampai artikel selesai.

Jadi semua syarat-syarat judul yang baik itu berlaku; either mengandung kata-kata yang powerful, emosional, mengungkapkan keunggulan atau positiveness, dan lain-lain.



Nah, demikianlah sedikit perkenalan mengenai subheading. 

Jadi, sudah benar-benar setuju kan, kalau subheading itu penting? 
Nggak cuma akan memudahkan kita dalam merumuskan kerangka pikiran yang kemudian dikembangkan menjadi artikel utuh, tetapi juga dapat memberikan user experience yang baik bagi pembaca. Utamanya mereka yang males baca, penginnya cepet, dan langsung dapat solusi.

Ada tambahan?
Boleh tulis di kolom komen ya.


Banyak orang yang ngeliat, bahwa menjadi bloger itu salah satu jalan untuk bisa menghasilkan uang yang banyak tanpa harus bekerja keras seperti pegawai kantoran. 

Apalagi nih ya, sering terlihat beberapa bloger memang terlihat pamer, mengenai achievement apa saja yang sudah mereka dapatkan dengan jalan ngeblog.

YES! Saya menyalahkan klean-klean--para bloger komersial dan profesional--yang-dengan-atas-nama-bersyukur memamerkan handphone, acara jalan-jalan, acara makan gratis, gudibek, dan segala macam hal yang klean dapatkan dari ngeblog.

HAHAHA.
Dih. Jangan baper.

Saya menyalahkan juga cuma menyalahkan doang. Just keep going. Bikin orang lain kepanasan itu memang menyenangkan! :))

Namun, tahukah kamu? Bahwa di balik itu semua, ada beberapa realita menjadi bloger yang harus kamu tahu, terutama kalau kamu juga pengin jadi bloger karena kepanasan kek yang saya sebutkan di atas itu. 

Pengin juga euy, dapat hengpon gratis!
Mau juga dong, dapat duit buat jajan!
Wah, mupeng juga atuh, dapat produk-produk gratis buat direview!

Yha!

Sok eta. Jadilah bloger.

Hanya saja, kamu harus tahu. Menjadi bloger yang baik dan terkenal bukanlah hal yang mudah dilakukan. Apalagi kalau kamu mau mengandalkan jalan ngeblog sebagai sumber penghasilan.

No no no. Tidak pernah ada jalan yang mudah dan mulus, Pulgoso. Semua harus dibayar dengan keringat, air mata, dan darah.

Wuidih. Serem amat, Mak!
Tapi, itulah kenyataannya.


Yakalo dari awal niat cuma jadi bloger medioker sih ya ... yaudahlah ya. Berhenti saja. Ngapain? Bikin sesak blogosphere aja. Mendingan cari usaha lain aja yes?

Nah, tapi ... balik lagi. Nggak pernah ada jalan  mudah. Para bloger terkenal itu pasti juga pernah mengalami kesulitan. Setiap dari mereka--saya yaqin--pasti pernah menapak di stage menjadi bloger medioker. Tapi mereka punya sesuatu.

Mereka bisa membuat konten yang bagus.

Itu yang membedakan mereka. Tapi, mereka juga tidak begitu saja bisa membuat konten yang baik. Konten-konten blog yang ada dibuat lewat berbagai perjuangan panjang. 


Belum lagi, ada beberapa realita menjadi bloger yang harus dihadapi setiap hari. Realita seperti apa? Seperti ini.

1. Sulit membuat konten yang kreatif setiap hari


Berbagai bloger terkenal telah berhasil membuat ratusan, bahkan mungkin ribuan postingan yang menarik. Bagi orang lain, konten yang dibuat oleh mereka ini, apa saja bisa menjadi selalu menarik. 

Kadang saya sendiri juga heran. Yawlah. Kek gitu aja bisa jadi konten. Tapi kok ya bagus ya?

Hahaha. Ampun!

Nah, kalau kamu mau jadi bloger yang standout, kamu memang akan dituntut untuk membuat konten yang irresistible setiap waktu. 

Tapi, realitanya.
Itu nggak semudah seperti kalau Makcar lagi ngasih tip bikinlah konten yang berkualitas, Mak!

Adalah sulit untuk membuat konten yang kreatif, yang unik, yang berbeda dari bloger lain, apalagi kalau harus dituntut setiap hari

Menemukan ide yang bagus dan kreatif bukanlah hal yang mudah. Ide yang unik tidak selalu datang setiap hari.

Sampai di sini, berapa orang nih yang ngacung?

Untuk blogger profesional pun, bahkan ada suatu hari ketika mereka bingung dan tidak tahu harus membuat konten seperti apa. 

So, kamu mau jadi bloger? Percayalah, kamu akan mengalaminya juga. Hanya saja, please, jangan jadikan kebiasaan. 

Ide memang kadang mentok. Saya pun gitu.
Tapi dengan sedikit latihan brainstorming, ide bisa dipanggil datang.

Ini memang realita yang harus dihadapi oleh bloger kebanyakan, tapi jangan jadikan kebiasaan.

Paksa diri kamu juga setiap waktu untuk mulai menulis. Kalau kamu sudah mulai menulis, kamu akan tahu bahwa langkah selanjutnya akan lebih mudah. Kamu bisa mulai menulis dari mana saja kok, asalkan bisa memantik idemu untuk keluar secara liar. Kamu akan punya banyak waktu nanti untuk memolesnya, hingga menjadi tulisan yang bagus.

So, buat jadwal agar kamu bisa menulis dengan rutin. 


2. The first draft of anything is sh*t


Itu kata Ernest Hemingway.
Seorang empu penulis cerpen. Kamu sudah pernah baca cerpennya?

Itu juga berlaku di dunia blog.
Kalau kamu membaca hasil tulisan para selebloger, mungkin kamu merasakan bahwa tulisan yang mereka buat selalu bagus dan mengalir dengan indah. Mereka seperti bisa menulis dengan lancar tanpa perlu berusaha lebih.

Namun, tahukah kamu, bahwa kemungkinan besar tulisan yang mengalir indah tersebut merupakan hasil dari berbagai coretan, draf, dan revisi berkali-kali?

Draf tulisan yang pertama dibuat memang selalu jelek. Bloger profesional sudah terbiasa untuk mengedit dan merevisi kembali tulisan yang mereka buat.

Kamu--yang mau mulai menjadi bloger--nggak perlu takut untuk kalah dalam menulis dibandingkan dengan orang lain. Kamu tidak perlu banyak membandingkan hasil tulisanmu dengan milik orang lain. Untuk belajar lebih baik, kamu memang harus membaca banyak tulisan orang yang lebih bagus, ini wajib. Tapi itu berbeda dengan "membandingkan tulisan" kamu dengan yang lain ya.

Belajar dari tulisan orang berarti kamu akan mengambil hal-hal bagus yang dilakukan orang untuk kamu pelajari, modifikasi, dan lakukan untuk tulisanmu. Membandingkan berarti kamu hanya akan menghakimi tulisanmu dan tulisan orang lain, tanpa mengambil pelajaran.

Kalau kamu merasa tulisan kamu masih jelek, maka take your time for self editing. Kamu selalu punya waktu dan kesempatan banyak untuk merevisi artikelmu berkali-kali. 

So, luangkan waktu setiap kali untuk mengedit kembali tulisanmu. Dengan cara ini, kamu juga bisa membuat tulisan yang mengalir dengan indah. 

3. Bloger itu susah puas





Saya pernah nih lagi mentoring satu kelas blog, dan memberikan tugas pada peserta untuk membuat artikel sesuai tahapan-tahapan yang pernah dipelajari.
Dan, ternyata, soal kepuasan bloger terhadap artikelnya ini sungguh menarik :))
Ada lo, yang ngaku, ngedit sampai 6 kali, dan sesaat setelah disetorkan masih pengin edit lagi. Hahaha.

Pada dasarnya ini bagus. Sebagian besar bloger yang sukses cenderung selalu merasa bahwa mereka tidak pernah sepenuhnya puas dengan konten yang telah dibuat dan dipublikasikan. Mereka akan merasa bahwa selalu ada hal yang bisa diperbaiki dari konten mereka. 

Hal ini memang baik, apalagi jika kamu baru pertama menulis. Namun, jika tidak dikendalikan, perasaan ini akan menghalangi kamu untuk benar-benar membuat artikel. 
Manfaatkan perasaan ini untuk membuatmu selalu ingin berkembang, namun jangan jadikan alasan bagi kamu untuk tidak membuat konten. 

Perfectionism is self-abuse of the highest order.
- Anne Wilson Schaef.

Ada baiknya quote itu kamu renungkan.


4. Everybody is a procrastinator



Termasuk bloger, bahkan bloger yang sudah senior dan populer sekalipun!

Kalau enggak, mana ada kasus telat setor tulisan liputan event (sampe ditagih-tagih mulu sama ahensi)? Mana ada kasus telat posting, dan diingetin mulu sama PIC komunitas?

Everybody is a procrastinator! Especially bloggers.

So, kamu mau jadi bloger profesional? Jangan jadikan ini sebagai kebiasaan.

Kamu pasti pernah merasa tidak ingin melakukan suatu pekerjaan. Kamu hanya merasa ingin menundanya sehingga kamu bisa melakukannya di lain waktu. Kalau mood. 

Hal ini memang wajar, dan setiap orang pasti pernah merasakannya, termasuk para bloger. Menunda pekerjaan memang bisa menjadi hal yang menyenangkan untuk sesaat.

Tapi tahukah kamu? Menunda pekerjaan bisa jadi terkait dengan rasa takut. Kamu merasa takut membuat postingan yang jelek, sehingga kamu menundanya. But, stop. Kamu nggak bisa seterusnya begini. Kalau kamu pengin profesional sebagai bloger, kamu harus pegang komitmen kamu.

Untuk membantumu termotivasi segera menyelesaikan apa yang tertunda, maka tetapkan deadline. Kalau perlu, hukum diri sendiri jika tak bisa memegang komitmen. Yes, you deserve a punishment, karena sudah mengecewakan orang lain.

Dan sebaliknya, berikan diri sendiri rewards jika sudah menyelesaikan tugas dengan baik.



Menjadi blogger memang tidak mudah dan banyak tantangannya. Namun, kalau kamu konsisten dan berusaha dengan keras, kamu akan bisa mencapai apa yang kamu inginkan. 

Sudah siap menghadapi realita-realita di atas sebagai bloger?
Welcome on board!





Hae! Akhirnya blog ini update lagi yah? Hehe. Maaf, Juni itu sesuatu banget. Apalagi pake liburan yah, jadwal kacau bet. And believe or not, butuh waktu 2 minggu untuk menatanya lagi. Utamanya sih karena ada pengurangan job, tapi juga ada penambahan juga sih.

So, pa kabar liburannya, gaes? Sudah beberapa minggu berlalu dan belum bisa moveon? Wqwqwq. Makanya banyakin liburannya, biar nggak susah moveon. #hlah

Para bloger--terutama yang non travel bloger--apa kabar traffic kemarin pas liburan? Pada ditinggal kan ya? Kebanyakan sih gitu. Saatnya liburan, ya ngeblognya juga libur dulu. BW list juga libur yah?

Terus, sudah dilihat lagi belum statistiknya nih sekarang? Berkurang berapa? Stabil? Alhamdulillah ya. Stabil di angka < 30.000 per bulan kan? Ehe ehe.

Namanya traffic, biasalah berfluktuasi yah. Naik turun sampai batasan sekian ribu mah biasa. Blog ini juga begitu. Sekian persen naik turun, biasa aja.

Tapi tempo hari, blog saya yang di sebelah, Bicara Perempuan, sempat turun anjlok drastis. Dari 500-an pageview, tiba-tiba jadi 45 aja dalam sehari. Beugh. Berarti kan itu turun sampai 90% lebih kan ya?

Kalau sudah anomali seperti itu, kita patut waspada sih. Seenggaknya, pasti ada yang salah deh. Dengan segera, saya minta bantuan pada pakarnya buat nyari apa masalahnya. Syukurlah, suhu saya itu lagi selow seharian, jadilah dia bisa bantuin.

Turns out ternyata ... SSL certificate-nya bermasalah, sehingga blog saya itu di-mark sebagai situs tak aman oleh browser. Kalau masuk, langsung ada warning gitu. Untunglah, bisa segera diperbaiki.

Makasih ya, suhu!

Pernah nggak sih kamu mengalami hal yang sama dengan saya? Traffic blog menurun. Tapi bukan yang fluktuatif ya. Ya yang menurunnya drastis kek blog saya itu, signifikan gitu deh. Besar dan penyebabnya sih bisa berbeda-beda.

Kalau pernah, mungkin saja penyebabnya adalah salah satu atau beberapa hal sekaligus berikut ini. Coba kita lihat yuk.


Beberapa Penyebab Traffic Blog Menurun Drastis



1. Perubahan pola browsing dengan ponsel

Zaman sekarang, kita lagi berada dalam masa perubahan penting pola perambanan netijen. Kalau sebelumnya, orang-orang sangat biasa untuk mengakses interner melalui PC (di warnet), sekarang beralih ke perangkat perangkat seluler (dengan mengandalkan Wifi gratisan di ruang publik) yang kian canggih dan memudahkan orang untuk mengakses informasi.

Mau nggak mau, sadar nggak sadar, kepraktisan ponsel pun turut memengaruhi waktu kita untuk browsing.

Perubahan kecenderungan ini akhirnya memengaruhi situs-situs dan blog-blog yang belum mobile friendly.

Blog ini aja deh, pengunjung yang mengakses melalui perangkat mobile saja sebanyak 84%-nya. Jadi, seandainya blog ini enggak mobile friendly, berapa banyak blog ini akan kehilangan viewersnya? Seandainya PV adalah 25.000 per bulan, so blog ini akan kehilangan setidaknya 21.000 PV.  Ouch!

So, ini jadi catatan penting ya.
Buat yang blognya belum mobile friendly (bagus lagi kalau mobile first), silakan diulik ulang. Ada kemarin kasus juga, katanya kok pageview anjlok tiba-tiba kenapa? Tanya jawab sana-sini, katanya belio barusan ganti template. Hmmm, langsung dicek deh, apakah template barunya responsive. Ternyata, enggak. Nah, mungkin karena itu deh. Terus dicek lagi di Google Analytics. Ternyata bener, pengunjung mobile-nya yang anjlok.

So, kalau ada yang pernah dibilangin, "Ganti template bisa bikin PV turun." ... atau mungkin dibilangin, ganti template bisa memengaruhi SEO ... nah, mungkin karena ini ya. Bukan karena yang apalah-apalah. Simpel emang kadang penjelasannya sih.


2. Perubahan preferensi atau perilaku

Sebenarnya ini juga bukan perubahan preferensi atau perilaku juga sih, saya cuma bingung aja nyebutnya gimana. Mungkin malah disebut dengan perubahan generasi, itu lebih tepat.

Netizen zaman sekarang sudah dipenuhi oleh anak-anak millenial, gen X, hingga gen A (yang bakalan semakin banyak menyerbu di tahun-tahun mendatang). Dan, kecenderungannya, makin sedikit yang suka membaca.

Kecenderungan preferensinya teramati bergerak ke "membaca kalau butuh saja", itu pun skimming. Artinya mereka membaca cepat, langsung menuju ke pokok masalah atau solusi. Bahkan, kalau perlu tanpa membaca, mereka langsung bisa menemukan solusi.

Nah, masalah ini terjawab oleh konten yang juga makin bervariasi sekarang, mulai dari video hingga podcast.

Yes, dahulu rangorang lebih suka mengunjungi website atau blog untuk melihat-lihat suatu produk, membaca-baca artikel untuk menambah pengetahuan dan wawasan, pun membaca-baca cerita ngalor ngidul si bloger. Namun saat ini, rangorang lebih suka melihat review orang lain di Youtube atau platform podcast yang lain.

Jadi, nggak heran, pengunjung blog yang hanya menyediakan tulisan saja--tanpa variasi konten yang lain--jadi berkurang.

Lalu, apakah ini berarti kamu-kamu yang lebih cenderung textrovert--yang jijik liat muka sendiri, sebel denger suara sendiri--jadi nggak punya kesempatan untuk sukses?

Nggak juga sih. Hanya saja, kamu perlu strategi jitu untuk bisa standout dibanding yang lain. Salah satu triknya adalah pilih audience dan niche yang pas. Misalnya gini, kalau niche kamu adalah beauty, traveling, craft--misalnya--maka kamu harus banyak main di video, karena kecenderungan audiencenya punya preferensi visual lebih gede.

Tapi untuk niche--misalnya--keuangan, akan ada "harapan" bahwa audience masih ada yang suka baca text (meski tetep juga harus diolah bersama dengan visual secara seimbang). Karena audience topik keuangan ini tingkat intelektualnya lebih tinggi.

Bukan berarti lantas yang di keuangan bisa berpikir, "Oh, kalau gitu, aman deh. Gosah bikin video." Enggak juga. Kalau kamu mau jangkau lebih luas, maka ya kamu harus menyesuaikan, meski konten text tetap diperlukan.

Strategi lain yang bisa diterapkan adalah membuat konten yang irresistible.



No need more explanation-lah ya, yang ini mah. Sampe bosen bahasnya.


3. Penurunan user experience

Misalnya saja nih. Ini satu contoh saja.

Semakin banyaknya layar 404 Page Not Found ditemukan di blog kita, akan memengaruhi nilai user experience di situs yang kita kelola ini. Akibatnya, semakin banyak error page, semakin berkurang pula pengunjung kita.

Begitu pun kalau loading blog kita melambat. Ilustrasinya mungkin begini. Tadinya sih oke aja, terus diulik, misalnya ditambah slider dengan ukuran file gambar yang gede-gede. Taunya PV ada sinyal menurun nih, drastis. Wah, bisa jadi tuh karena loading blog melambat karena file-file yang gede itu tadi.

Nah, terkait user experience ini bisa jadi banyak penyebab sih. Jadi, memang harus diteliti satu per satu.


4. Keamanannya bermasalah

Nah, ini kek cerita saya di awal tadi. Tahu-tahu, SSL certificate-nya bermasalah.

Seriusan, tadinya saya menganggap remeh hal ini. Heleh, blog isi gado-gado begini, kan nggak butuh data pengunjung yang kek gimana-gimana, beda sama misalnya situs jual beli yang pengunjungnya diminta nama, email, alamat, hape dan sebagainya. Kan ini tinggal dateng terus baca aja. Securitynya nggak prioritaslah.

Elah. Ternyata ngaruh!

Dari 400-an terjun langsung ke 40-an. Bok! Nangis, bok!

Karena itu, coba yang blognya belum https ada baiknya kali dipertimbangkan untuk di-https-kan.


5. Google Mengubah Algoritma

Nah, ini nih. Yang terjadi baru-baru ini.

Berubahnya algoritma Google belakangan, yang telah memasukkan E.A.T--Expertise, Authority, dan Trustworthy--ke dalam rank factor sedikit banyak memengaruhi peringkat situs-situs dalam database-nya, yang akhirnya memengaruhi pula jumlah pengunjung yang masuk ke dalam situs atau blog.

Situs atau blog yang kurang fokus pada E.A.T ya akhirnya harus gigit jari, trafficnya menurun drastis.

SEO memang merupakan usaha demi bisa "ngakalin" algoritma Google. Prinsipnya sih gitu. Selama Google terus berubah, maka SEO pun akan juga terus berubah. Sedangkan, tujuan Google adalah meningkatkan kenyamanan bagi para penggunanya, sehingga pastinya akan selalu berubah mengikuti perkembangan yang ada. So, kalau mau terus exist dengan bantuan Google, ya harus siap untuk update terus.

Yang penting, lakukan saja yang terbaik and blog naturally. Enggak akan banyak perubahan yang harus dilakukan kok, kalau kita ngeblog sewajarnya. Nggak usah pakai ngakalin dengan cara curang, untuk hasil instan.



Yep, ada banyak alasan mengapa lalu lintas situs ataupun blog kita berubah. Mungkin saja belum tercakup di atas. Kamu bisa menambahkan yang kurang di kolom komen yah.

Cara ngatasin hal ini sebenarnya simpel saja. Yang penting memang adalah bisa mengidentifikasi akar masalah. Apabila kamu--sebagai bloger--bisa mengidentifikasi permasalahan apa yang muncul terkait menurunnya traffic, maka kamu pasti bisa segera mengatasinya.

Tanpa ini, ya bakalan susah dah.

Semoga bermanfaat. Cheers!

Jual Rumah di Bandung


Mungkin enggak banyak yang tahu, kalau saya punya rumah di Bandung. Eh, suami sih yang beli. Hihihi. Ngaku-ngaku aja lu, Mak. Belum lama banget lunasnya sih. Ya, meski sudah ada rumah di Jogja, saya dan suami sepakat memang untuk menyiapkan investasi lebih banyak. Salah satunya adalah dengan punya rumah kedua, ketiga, dan seterusnya. Karena, pasangan karyawan swasta dan freelancer ini, harus bikin bekal sendiri buat hari tua nanti. Nah, kalau lagi butuh, mau jual rumah di Bandung, atau mau disewakan, itu hanya masalah waktu saja ntar.

FYI, jual rumah di Bandung merupakan sebuah peluang bagus lo sekarang, terlebih karena Bandung sendiri merupakan kota yang banyak diincar sebagai tempat tinggal. Banyak cara yang bisa kita lakukan jika ingin coba jual rumah di Bandung, misalnya secara konvensional dengan membuat selebaran, atau memajang iklan di media cetak.

Tapi cara jadul ini pastinya butuh biaya dan waktu ekstra. Orang zaman now--apalagi yang sibuk kayak Mamak dan suami kek gini, mana sempat bikin brosur terus sebarin di jalan? Yekan?

Pake internet dong!
Percuma jadi remote worker kalau jual rumah aja nggak online. Biar orangnya di Jogja, jual rumah di Bandung mah kecil aja. Hahaha.

Yes, beriklan online saat ini lebih banyak diminati karena proses pemasangan iklan yang cepat, gratis dan jangkauan iklan yang luas. Artinya, dengan memasang iklan jual rumah di Bandung secara online, peluangnya besar untuk iklan kita dilihat oleh siapa pun dan dari mana pun.

Salah satu situs jual beli terpercaya yang bisa kita manfaatin untuk memasang iklan online adalah 99.co Indonesia.

Sejauh ini sudah cukup banyak yang memasang iklan online di sini. Misalnya nih, di antara kamu ada yang lagi mencari iklan jual rumah di Bandung saja, ada lebih dari 6 ribu listing properti yang akan muncul lo. Banyak beud.

Ini membuktikan bahwa beriklan di 99.co Indonesia sudah menjadi pilihan populer bagi para penyedia properti. Namun di sisi lain, tentu ini juga jadi tantangan tersendiri karena kita dituntut untuk bisa kreatif dalam memasang iklan sehingga bisa menarik perhatian para pencari properti. 

Apa saja sih yang mesti dipikirin? Let's see deh!


Strategi Jual Rumah di Bandung Supaya Cepat Laku di 99.co

1. Judul iklan yang menarik

Kek artikel, judul iklan juga berperan penting ya, cyint. 
So, mau cepat laku rumahnya? Maka, mulailah dengan membuat judul dan deskripsi yang menarik, hingga data yang rinci mengenai spesifikasi bangunan.


2. Perhatikan foto

Selain itu, foto juga perlu dikemas semenarik dan sejelas mungkin, karena di iklan online itu yang terjadi adalah calon pembeli tidak bisa melihat langsung properti yang ditawarkan. 

So, penting sekali untuk mengemas foto yang menarik sekaligus mewakili kondisi rumah sebenarnya.

Artinya jangan pernah memanipulasi foto agar terlihat menarik, karena calon pembeli bisa saja merasa ditipu jika saat mereka melihat kondisi properti secara langsung ternyata tidak sesuai dengan yang digambarkan oleh foto di iklan.

Jadi pasanglah iklan semenarik mungkin, tapi kita juga tetap harus jujur dan mengungkapkan kondisi properti apa adanya. Termasuk jika ada kekurangan, misalnya kalau ada yang bocor atau rusak sebaiknya utarakan ini sejak awal. 



3. Kalau perlu, renovasi dulu

Jual Rumah di Bandung - renovasi dan perbaharui rumah
Nah, kalau pengin menjual properti dalam kondisi tanpa cacat, maka ada baiknya lakukan renovasi terlebih dahulu. Ini paling aman sih. Jangan salah, banyak lo yang mengabaikan kondisi rumah saat akan menjualnya, dan ini menurut kompas.com adalah sebuah kesalahan.

Memang sih, enggak ada kewajiban untuk merenovasi rumah sebelum dijual. Tapi kalau bisa bikin rumah jadi cepat laku (plus harga tinggi), ya kenapa enggak dimodalin lagi kan? 

Untuk rumah saya di Bandung sih--Puji Tuhan--malah sekarang sudah hampir selesai renovasinya. Karena pas beli kondisinya cukup standar, dengan kerusakan di sana-sini. Sekarang yah ... sudah lebih layak ditinggali deh. Hehehe.

Tapi, kalau memang ingin menjual dalam kondisi apa adanya, termasuk dengan kekurangan di sana sini, ya berarti kita mesti siap dengan risiko jual dengan harga murah. Ya, pastinya akan perlu biaya tambahan. Tapi bisa saja biaya ini tertutup karena nilai rumah juga bisa naik secara signifikan jika dijual dalam kondisi prima. Bener nggak?


4. Harga jual yang pantas

Bicara mengenai nilai rumah alias harga, hal ini juga menjadi tantangan tersendiri lo buat kita yang ingin jual rumah di Bandung atau di mana pun.

Karena tidak bisa dimungkiri, harga menjadi salah satu pertimbangan utama banyak orang dalam mencari properti. Dari sekian banyak faktor penting, banyak orang yang berpatok pada anggaran saat membeli properti.

Jadi, kita memang mesti hati-hati banget dan bijak dalam menentukan harga. Karena bisa saja kesalahan dalam mematok harga membuat properti kita jadi nggak pernah laku. Cari saja referensi atau perbandingan baik melalui internet maupun secara langsung. 

Biasanya yang jadi pertimbangan dalam mematok harga properti adalah lokasi hingga fasilitas yang tersedia. Sebagai gambaran di www.99.co/id, ada beberapa iklan jual rumah di Bandung dalam kondisi bekas (secondary) yang tentu saja masih sangat layak.

Misalnya rumah di Taman Rahayu 3, daerah Margaasih yang dijual seharga Rp 675 juta. Rumah ini memiliki luas 75m2 dengan tanah seluas 128m2, terdiri dari 2+1 kamar tidur dan 1 kamar mandi dengan daya listrik 1300W.

Ada pula rumah minimalis di Komplek D'Amerta, Ciganitri seharga Rp 575 juta dengan luas bangunan 80m2 dan tanah 98m2, serta memiliki 2 kamar tidur, 2 kamar mandi dan carport. Rumah yang dilengkapi Sertifikat Hak Milik (SHM) ini berada di kawasan bebas banjir dan berlokasi strategis yang dekat ke Kampus STT Telkom, pusat perbelanjaan dan Tol Buah Batu. Lingkungannya pun aman karena berada dalam komplek perumahan dengan keamanan 24 jam dilengkapi CCTV.

Harga rumah yang lebih murah ada di daerah Margahayu Raya yakni senilai Rp 385 juta. Rumah ini memiliki luas bangunan 36m2 dengan luas tanah 70m2 dilengkapi 2 kamar tidur dan kamar mandi. Berada di lokasi strategis yang dekat ke tempat ibadah, rumah sakit, sekolah dan lingkungannya aman serta bebas banjir.

Untuk melengkapi, ada juga contoh iklan jual rumah di Bandung dalam kondisi baru (primary). Misalnya hunian di Nouka Village, Lembang yang dijual seharga Rp 400 juta-an. Rumah 2 lantai ini memiliki luas 40m2 dengan 2 kamar tidur dan kamar mandi. Yang menarik ada bonus logam mulia 10 gram pembelian dengan cara soft cash dan 15 gram untuk pembelian hard cash. Selain itu juga mendapatkan bonus lainnya, seperti gratis biaya pengurusan dokumen seperti BPHTB, AJB + Balik Nama, SHM hingga gratis PPN.

Uwuwuw. Banyak yang menarik ya, iklan jual rumah di Bandung? Hmmm. Jadi mikir, ntar kalau beneran mau saya jual, mau saya kasih bonus tambahan apa ya? Jual rumah bonus beberapa pot kaktus, gitu menarik nggak sih? Hahaha.


5. Manfaatkan jasa agen properti

Jual Rumah di Bandung - agen properti


Nah, masih soal harga rumah nih. Selain melihat referensi online, kita juga bisa berkonsultasi ke ahli seperti agen properti. Bahkan agen ini juga bisa lo membantu kita untuk jual rumah di Bandung.

Agen properti bekerja secara profesional. Mereka akan mengurus segala hal terkait proses penjualan. Ini tentunya menguntungkan bagi penjual karena mereka tinggal menunggu kabar dari agen. Selain ahli dalam menentukan harga, agen properti juga bisa diandalkan dalam mencari calon pembeli. Karena mereka memiliki data klien yang bisa mereka seleksi dan sesuaikan dengan produk yang ditawarkan.

Tapi tentu saja jasa agen properti nggak cuma-cuma, seenggaknya ada komisi maksimal 3% dari hasil penjualan rumah. Nominal yang lumayan besar sih. Tapi dengan mereka, harga tersebut rasanya juga setimpal, karena merekalah yang akan mengurus segalanya hingga rumah berhasil terjual. Kita? Tinggal kipas-kipas dan leyeh-leyeh terima uang.

Jadi karena itu penting juga untuk memilah agen properti terpercaya. Dan sebaiknya lakukan seleksi sebelum memutuskan mau pakai jasa agen properti yang mana. Misalnya, cek dari website perusahaannya, berapa dan apa saja properti yang sudah berhasil dia jual, hingga kalau memungkinkan, minta review dari orang yang pernah bekerja sama dengannya.

Kalau perlu temui secara langsung beberapa kandidat agen properti, untuk bisa memilih dan memutuskan yang terbaik. Ini bertujuan agar kita bisa secara tidak langsung mewawancara mereka dan mencari tahu apakah kira-kira komunikasi kita dengan mereka tuh bisa berjalan baik.

Idealnya kan seorang agen itu harus terus memberikan informasi seputar perkembangan penjualan properti. Jadi nggak hanya menghubungi saat properti sudah laku doang.

Nah, gitu deh, gambaran kalau mau jual rumah di Bandung. Bisa juga sih diterapin oleh siapa saja yang mau jual properti di mana aja.

Semoga bermanfaat deh.

Anyway, doain ya, saya bisa nambah rumah ketiga. Heuheuheu.


Hae!
Kemarin saya sudah bahas mengenai do's and donts dalam mengelola akun Instagram, terus ada pertanyaan yang mampir, "Kalau bikin warna setipe itu pakai apa ya, biar konsisten?"

Jadi bikin saya teride untuk ngumpulin beberapa style feed Instagram deh jadinya. Hehehe.
Mungkin ini juga bukan bahasan baru juga sih, banyak artikel yang juga sudah membahas hal yang sama. Tapi enggak apa-apa juga. Saya mau bikin versi saya sendiri.

So, beberapa lama mengamati, ada beberapa style feed Instagram yang sering saya temui. Semoga dengan dikumpulin begini, bisa kasih kamu ide pengin nata feed Instagram kamu dengan cara yang mana. Yang pasti, temukan style kamu sendiri, yang ada di sini sekadar jadi inspirasi. 

Aturannya apa sih, biar feed Instagram bagus, hingga mengundang banyak followers atau like?

Jawaban saya: nggak ada aturan.

Ada yang bilang mesti terang, clean.
Nggak juga, banyak juga yang pakai dark mood dan followersnya banyak.

Ada yang bilang, ini lagi ngehitsnya flatlay.
Nggak mesti juga. Banyak kok yang nggak pake flatlay dan melejit.

Ada yang bilang, pakai deh warna-warna selebgram. You know, yang cokelat-cokelat rada vintage gitu. Banyak yang ngelike nanti.
No, there's no guarantee at all.

Semua adalah masalah selera. Dan sense of art itu nggak ada yang salah atau yang benar kek gimana. Setiap orang bisa dan boleh punya preferensi sendiri-sendiri.

Bagaimanapun, kalau saya amati ya--jika ada yang ngefollow baru (kalau bukan temen sendiri), biasanya mereka akan melihat dulu SATU postinganmu di Explore. Tertarik dengan fotomu--mungkin karena kontennya yang kuat, atau style-nya yang sesuai seleranya--baru mereka lihat ke profil Instagram. Nah, baru di feed Instagram, kalau kamu memang menjanjikan kualitas yang sama dengan yang muncul di Explore, baru deh mereka follow.

Saya sendiri punya kriteria follow sendiri, dan justru bukan karena style feed Instagram. Tapi konten secara keseluruhan, saya butuhin atau enggak. Saya pribadi nggak pernah mewajibkan untuk saling follow dengan teman, malahan. Nggak mutualan nggak berarti nggak teman, kan?

So, saya emang woles sih. Hahaha.

Anyway, mari kita lihat inspirasi feed Instagram berikut ini, siapa tahu bisa bikin kamu keidean pengin ngestyle yang mana.



15 Style Feed Instagram yang Bisa Jadi Inspirasi Ide


1. Garis di tengah



Feed Instagram ini biasanya bisa kamu buat dengan menaruh quote berfont warna hitam di atas background putih.

Bagus ya, rapi. Kekurangannya adalah kamu mesti posting 3 foto sekaligus, biar posisinya tetap ada garis putih di tengah itu. Kalau mau hapus 1 foto, maka kamu mesti juga hapus ketiganya.



2. Style per baris




Nah, style yang ini hampir sama sih dengan yang garis di tengah di atas. Kita akan tergantung banget dengan modul 3x3-nya Instagram.

Istilahnya, hanya untuk mereka yang niat bener-bener konsisten sih malahan :))

Saya pakai style feed Instagram ini untuk Stiletto Book dan Stiletto Indie Book. 


3. Tiles theme



Kalau saya bilang sih, ini style papan catur :))

Saya juga pake style ini untuk IG @info.rumah.dijual. Followernya belum banyak sih. Silakan lo, yang lagi butuh rumah di Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya, difollow.

*selalu ada celah*

Menurut saya, ini ya masih mending ketimbang yang pake modul grid 3x3 di atas. Kalau ada foto yang mau dihapus, tinggal hapus juga foto sesudah atau sebelumnya. Feed pun sudah kembali rapi seperti semula.


4. Rainbow theme



Well, can you beat them?
Sudah pakai grid 3x3, masih pakai "aturan" warna juga. GILINGANlah ya.

Paling niat, tapi kalau discroll feed-nya juga emang beneran bagus sik. Tinggal kamu aja nih yang mesti pinter milih foto, lalu diplanning dulu pake feed planner. 

Oh ya. Kapan-kapan bahas berbagai Instagram feed planner deh. Di sini nanti saya mau bahas satu yang saya pakai. Tapi masih banyak juga tool lainnya. Next ya.


5. Puzzle theme



Yhaaa ... yang ini mah nyembah emang, sayanya.
Saya ada pakai sedikit efek puzzle ini di Instagram Stiletto Book. Tapi cuma sebaris doang juga sih. Ini mah nyebrang ke mana-mana. Hahaha. Perlu planning yang luar biasa.

Satu hal yang sering jadi kesalahan para Instagrammer kalau pake style feed Instagram ini.
Mereka sering nggak memikirkan, gimana kenampakan 1 buah foto saat melintas di timeline followernya. Karena apa? Karena puzzle-nya nggak bisa berdiri sendiri-sendiri sebagai foto mandiri.

Maksudnya gimana sih?


Kek gini misal. Nah, itu kalau nggak dilihat secara utuh di Feed kita, kan nggak keliatan barangnya apaan. Misal lewat di timeline, cuma sepotong-sepotong.

Kadang ya memang bikin penasaran. Ha tapi kalau sudahlah ga jelas--atau malah putih kosongan aja--lewat, dan terlalu banyak, ya aduh ... saya pribadi sih mending unfol aja. Atau maksimal saya mute deh. Apalagi ga ada faedahnya buat follower. Hahaha.

Style feed puzzle ini memang tricky. Silakan saja pakai, tapi sebisa mungkin pastikan setiap foto yang diposting itu bisa dilihat sebagai foto yang mandiri. Jadi lewat di timeline itu, jelas gitu. Terus setelah dilihat di feed, ohhh ... ini maksudnya.


5. Border theme







Nah, kalau yang ini, saya pribadi suka. Karena biasanya memang jadi benar-benar rapi dan clean deh, looks-nya.

Style ini lebih mudah sih, nggak perlu nurutin pola. Mau posting berapa aja, kapan aja, ga masalah. Mau dihapus juga nggak ngerepotin.

Ada yang putih seperti di atas. Ada pula yang dark borders seperti di bawahnya. Yang mana pun oke sih. Rapi.

Tapi, ada juga yang mixed border nih. Seperti ini.


Jadi mixed antara landscape dan portrait. Keren jug akan? Lucuk.


6. Rectangles



Yang ini juga mudah bikinnya.
Pastikan aja ratio aspectnya sama semua, lalu taruh di background putih. Ini feed yang tidak terlalu merepotkan :))


7. Same filter theme



Pakai Preview App Filter A8 dan C3.



Pakai Preview App Filter J3 dan F1

Nah, ini yang kemarin ditanyain yah? Biar bisa konsisten warna senada senuansa itu pakai apa?

Saya sekarang pakai Preview App. Ada beberapa filter yang disediakan di apps ini. (Cuma memang saya enggak pakai filter-filteran sih, cuma memanfaatkan untuk content planning). Nah, pilih saja salah satu filter yang kamu suka, lalu pakai filter itu terus untuk semua foto kamu.

Ini sebenarnya di setiap aplikasi editing foto tuh selalu ada. Biasanya ya namanya filter ini. Kita tinggal pilih aja. Di Snapseed juga ada. Ada juga yang pakai VSCO atau Lightroom, bukan Preview App. Bahkan di Instagramnya sendiri juga ada kan? Kita bisa pilih banyak lo! Semua filternya udah kamu keluarin belum?

Well, pankapan kita bahas khusus soal filtering ini deh ya. Walah. Jadi keidean banyak deh.

Di Lightroom namanya Preset, kadang malah ada yang jual preset-preset hasil kreasi mereka, lalu kita bisa beli, dan nanti ditambahin aja ke apps-nya. Itu kalau di Lightroom. Dan keknya preset lepasan ini cuma bisa di Lightroom ya. Di apps lain kok saya belum pernah liat. Ga tahu deh, silakan inform saya kalau ada update yah.


8. Bright Theme




Nah, style feed Instagram white background ini saya pakai di akun pribadi @carra.artworks. Nggak selalu putih sih memang. Tapi saya usahakan dominasi warna putih.

Style ini juga cenderung selalu rapi dan clean. Mau penataan komposisi berantakan juga nggak terlalu kentara, asal warna putihnya dominan.

Ini juga nggak harus selalu putih, tapi asal warnanya secara keseluruhan terang. Kalaupun ada abu-abu, hitam, ungu tua, asal nggak mendominasi, ya oke aja.



9. Dark theme



Yang ini kebalikan dari bright. Yep, banyak yang bilang, kalau cerah akan lebih mengundang untuk difollow.

Menurut saya sih enggak juga ya?
Dark theme juga menarik kok.

Kalau punya feed Instagram punya temen yang juga ber-style dark yang saya suka itu punya Ranny Afandi.

Cakep kan? Jangan keterusan scrolling ya. Ntar laper. #eh


10. Black and white theme




Yang ini juga menurut saya tingkat kesulitannya tinggi. Karena nggak semua orang bisa bikin foto black and white secara estetis. Godaannya jelas, kalau nggak kreatif bakalan monoton, dan akhirnya bikin bosan.

Sebaiknya pertimbangkan bener-bener kalau mau pakai style ini sih. Saran aja.


11. Colorful




Nah, kalau menurutmu, dengan pakai tone warna yang seragam itu membosankan, maka jangan merasa berdosa untuk membuat feed Instagram kamu lebih berwarna. Make it vibrant! Bikin yang colorful sekalian!

Cantik juga kan?


12. Monotheme




Yang jenggot itu sesuatu sekali yekan? :)) Ngekek pas pertama kali liatnya. Tapi kreatif banget!
Yang teh juga ya? Keren bats.

Saya sih sering juga menemukan ini di akun-akun bookstagrammer. Objek yang difoto dominasinya sama: buku.


13. Flatlay



Foto-foto flatlay tahu kan ya?
Yes, begitulah dominasi dalam style feed Instagram ini.

Saya juga menerapkan style ini di akun @carra.artworks. Kebanyakan flatlay karena memang pamer bullet journal dan sketchbook. Hahaha. Style ini memang cocok buat foto-foto objek benda mati sih. Dari beauty stuff sampai masakan. Gampang banget styling-nya juga. Makanya banyak yang pakai.


14. Doodles




Yang ini juga lucu yah? Ditambahin doodle-doodle gitu di fotonya. Tapi saya nggak tahu nih, bikinnya pakai apa :)) Ada yang tahu?

Lucu banget tapi. Saya juga pengin ngulik jadi beginian.


15. Color splash




Style feed Instagram yang ini juga bagus banget. Jadi ini antara grayscale dan colors gitu. Untuk objek-objek tertentu, warnanya dinaikin, sedangkan objek lain diturunin.

Kapan-kapan saya posting tutorialnya deh.


Laaaah ... Jadinya kok banyak lagi ini PRnya, hanya dari tulisan ini aja? Hahaha.
Lama-lama blog ini jadi khusus bahas pernak-pernik Instagram juga nih. Wakakak.

Hokeh. Itu dia 15 style feed Instagram yang sering saya lihat. Kamu pakai style yang mana? Males pakai style ya? Ya enggak apa-apa juga. Nggak ada yang mewajibkan juga sih.

Your Instagram, your rules.
Nggak ada yang bisa dan boleh mengaturmu sebagai pemilik akunmu sendiri yes?

Tapi, siapa tahu jadi terinspirasi setelah lihat 15 style di atas, yekan?
Yang penting lakukanlah dengan bahagia!

Do's and Dont's dalam Mengelola Akun Instagram Jika Kamu Pengin Memonetisasinya


Ada yang belum pernah punya akun di Instagram?

Keknya hampir semua orang zaman now pasti sudah punya akun Instagram ya. Walaupun nanti dalam perjalanannya, akhirnya males, menyerah, atau nggak keurus, yah ... itu sih hak masing-masing. Tapi minimal, pasti punyalah akun.

Buat yang akhirnya menyerah, yasudahlah. Mungkin kebahagiaannya tidak terletak di Instagram :D Tapi buat para bloger, biasanya Instagram menjadi salah satu media sosial yang oke untuk membangun citra--alias pencitraan, alias branding--dirinya sendiri. Banyak yang menjadikan Instagram sebagai portfolio, ajang pamer karya masing-masing, selain juga menerima kerja sama dengan pihak lain.

Dan ya, memang, di zaman marketing 4.0 ini semua yang tradisional sekarang menjadi digital, begitu pun untuk karier dan job. Prinsipnya sebenarnya sama aja sih, antara marketing bisnis dan marketing diri kamu sendiri sebagai bloger. Pan blog juga bisa dianggap sebagai bisnis. Uhuk.

Nah, buat kamu yang pengin mengelola Instagram kamu secara profesional, berikut adalah do's dan dont's-nya yang saya kumpulkan dari berbagai sumber, dan juga atas pengalaman pribadi mengelola beberapa akun bisnis. Barangkali beberapa di antaranya sudah sering kamu baca atau dengar tipnya dari mereka yang lebih ahli. Tapi nggak ada salahnya saya ulang juga, just for a reminder.

Btw, barangkali ada yang bertanya-tanya pula. Ngapain Carra sok-sokan kasih tip mengelola akun Instagram? Follower baru 3000+ pun.

Yah, saya kira, pengalaman saya mengelola--let's see--ummm ... kurang lebih 9 akun bisnis milik orang bisalah dicatat pelajarannya yah. Tapi, saya juga open kok kalau ada yang mau nambahin tip mah. Nanti boleh ditulis di kolom komen.


Mau Mengelola Akun Instagram secara Profesional? Berikut do's and dont's-nya!

Do's!

1. Konsisten

Menggunakan media sosial, terutama Instagram secara profesional memang akan sangat membutuhkan konsistensi.

Konsistensi ini meliputi konsistensi kualitas, style, dan konsistensi waktu juga.

Kalau kamu sering baca-baca tip mengelola Instagram yang ada, barangkali kamu akan sering menemukan banyak yang menyarankan untuk membuat gaya feed yang konsisten. Ada yang pakai pola-pola, ada juga yang pakai tone warna, dan sebagainya.

Saran ini memang bener sih. Tadinya saya sendiri nggak terlalu percaya. Saya pikir, ah ribet amat sik. Tapi ya, kalau dilogika ya emang bener. Sesuatu yang dengan serius kamu lakukan, buahnya pasti tak akan mengkhianati. Ahzek.

Instagram tone monochromatic neutrals. Via Pinterest.


Style dan tone warna yang konsisten bisa menjadi kesempatan kita untuk membuat suatu ciri khas. Let's see. Pernah liat akun Instagramnya Janine Intansari kan? Dia punya feed Instagram yang pinkish--tone-nya merah muda. Dan itu jadi ciri khasnya.

Tone-nya Kelsey Simone beda lagi. Jeff Mindell punya tone Instagram yang colorful, dengan warna-warna vibrant. Ah, jadi ide nih. Pankapan kita kumpulin deh berbagai tone Instagram ya.

Buat ciri khas unik yang menarik secara visual. Nggak harus "seragam" secara visual juga kok. Yang penting, harus menarik. Nah, yang namanya menarik ini memang abstrak. Dan subjektif banget. Memang ini butuh waktu dan usaha observasi terus menerus dari kamu, sebagai content creator. Terus coba, cari yang terbaik. Jangan menyerah.

So, coba yang belum konsisten, dibikin konsisten (dan persisten). Buat jadwal, pakai aplikasi semacam UN UM, atau Planoly, buat bikin content plan. Postinglah seminggu 3 kali, jika kamu sulit memenuhi posting tiap hari. Asal waktunya teratur, pasti akan dapat efek yang bagus juga kok.


2. Olah bio

Di Instagram, ada fitur untuk pasang link di bagian bio. Manfaatkan fitur ini sebaik-baiknya, terutama kalau kamu punya blog, website, atau halaman di marketplace.

Saat ada produk atau postingan baru kamu bisa taruh link di bagian bio untuk memudahkan follower untuk mengakses blog, situs, ataupun lapakmu.

Selain link, profil di bio itu juga sangat menentukan. Saya pernah lo, dapat job karena si klien mencari "penulis konten" di Instagram, dan akhirnya nongollah akun saya. Hehehe.

Jadi, isi bio jangan asal ya. Saya pernah nulis sedikit tip tentang mengoptimasi profil Instagram di web Kumpulan Emak Blogger. Bolehlah disimak yah :) Siapa tahu ada yang belum dilakukan.


3. Jaga engagement

So, pasti saran yang ini juga sudah klise banget. Ada di mana-mana, tapi memang nih saya sendiri aja sering lupa kok :)) Kebiasaan, abis posting langsung tinggal ngerjain yang lain. Terus lupa. Tengok lagi kalau mau posting lagi. Udah telat, Mak! Madingnya udah terbit. #eh

Maksudnya, seharusnya sih dipantengin dulu setelah posting. Kalau ada komen, ya dibalas. Kalau enggak ada? Ya udah, enggak apa-apa, nggak usah baperlah. Hahaha.

Kalau mau sih, seharusnya kita memang yang harus memancing follower untuk bisa komen. Misalnya, kasih pertanyaan, atau minta mereka gantian sharing.

Ini juga reminder buat diri saya sendiri. Ya maklum, kadang ya ga sempet monitor. Bisa posting tiap hari aja udah syukur yah. Hahaha. Soalnya juga, pekerja kek saya ini mau nggak mau mesti menjaga eksistensi. Kenapa? Ya kalau enggak, job-nya menjauh, cyint!

Itu dia yang susah. Kadang merasa susah membagi waktu, tapi harus. Karena pundi-pundinya dari situ. Dilema banget emang. Huhuhu. Lebih seneng di belakang layar, tapi harus jaga eksistensi.
Beurad, bok!
*kemudian curhat*

Sekarang saya juga selalu ingetin diri sendiri, untuk sesekali skrol linimasa. Terus bagi-bagi jempol dan komen. Sesekali follow (dan unfollow #eh) akun lain, biar keliatan aktif.

Ya intinya, jangan cuma posting doang deh.


4. Bikin list hashtag

Nah, ini nih. Yang keempat ini, baru saya lakukan sekarang--baik untuk akun bisnis maupun akun pribadi.

Sudah tahu kan, bahwa ada hashtag terlarang? Yaitu beberapa hashtag atau tagar yang di-ban oleh Instagram. Saya juga udah nulis mengenai hal ini di web KEB.

Hal ini tuh bikin saya jadi observe lebih dalam mengenai hashtag. Akhirnya (tanpa sengaja) saya jadi punya list yang berisi beberapa hashtag yang safe, sekaligus yang potensial memberi ekspos. Saya cenderung untuk nggak memilih tagar yang terlalu populer, yang jumlah public postsnya sampe jutaan. Ya ada sih, tapi paling saya taruh satu dua aja. Tagar lainnya, saya lebih memilih tagar yang public postsnya hanya puluhan sampai ratusan ribu aja. Bahkan beberapa saja pakai yang ribuan doang.

Konon, ini span time-nya jadi lebih lama. Terbukti sih, postingan-postingan lama masih sering aja dapat like, padahal sudah berapa minggu yang lalu gitu.

Kebetulan saya juga pakai aplikasi Preview untuk bikin content plan, jadi bisa saya kumpulin sekalian tagarnya di situ. Jadi tinggal apply aja kalau lagi bikin caption.

Lumayan menyingkat waktu. Hehehe. Ini saya terapkan terutama di akun bisnis yang saya pegang sih. Akun pribadi barusan mulai pakai cara ini juga. So yeah, masih harus diobservasi sih.


5. Berbagi cerita

Saya tuh kadang penasaran, orang-orang Instagram nih asal nyekrol dan like aja, ataukah mereka juga baca caption?

Saya pernah polling ini di salah satu akun Instagram yang saya kelola. Ternyata #TimBacaCaption itu banyak juga ya. Atau mungkin yang #TimSkrolFoto pada malu mengakui? Hahaha. Entahlah.

Tapi hasil polling waktu itu tuh, #TimBacaCaption ada lebih banyak deh.

Dan memang sih, yang captionnya pake cerita itu so far kok ya yang ngelike dan ngomen juga cenderung banyak. Apalagi kalau ceritanya menyentuh atau yang bisa "menggerakkan". You know what I mean kan?

So, saya sendiri sih nggak selalu menargetkan untuk selalu punya cerita kalau di akun pribadi, pun di akun bisnis. Mau cerita apa, wong saya nggak pernah ada drama yang bisa dibagikan kok.

Hidupku lurus-lurus wae soale, gaes. Wqwqwq. Nggak ada yang antimainstream, nggak pernah dekat dengan orang toxic untuk bisa dighibahin; orangtua baik banget (dan biar Tuhan saja yang tahu betapa baiknya mereka), keluarga saya semua baik-baik saja. Mantan enggak punya selain yang sekarang jadi suami. Selingkuhan? Heleh. Malah nambahi repot.
Hahahaha.

Membosankan! Yenggak? *sarcasm detected*

Tapi adalah sekali waktu ya diusahakan ada cerita. Meski ya jadinya cerita tentang diri sendiri (meski begah juga sih rasanya). Ha tapi nggak ada yang lain jeh!
Kalau di akun bisnis, saya harus lebih banyak ngulik konten yang nonjualan. Jadilah saya punya list jenis konten yang saya gilir kemunculannya.

Ah, pekerja konten ini memang mesti nggak boleh berhenti mikir ya. Hahaha. Siapa yang bilang, pekerja konten itu "cuma gitu aja" kerjanya? Sini, boleh ikuti my daily routine deh.

Eh, jadi ide. Menarik nggak ya, kalau saya bikin cerita daily routine pekerja konten? Hahaha. Ada yang mau liat enggak sih?

So, sebenarnya ada banyak yang bisa diceritain. Kapan hari saya cerita soal ruang kerja, saya cerita soal statistik blog, dan beberapa behind the scene. Ternyata tanggapannya juga lumayan. Apalagi yang saya share di IG Story. Banyak banget yang lantas komen dan nanggapi via japri.

Seneng saya. Hehehe.

So, ke depan, semoga lebih banyak cerita bisa saya share lagi deh.


6. Analisis

Instagram Insights. Via Buffer.

Nah, sekali waktu, buat kamu yang sudah memindahkan akun Instagram pribadi ke akun bisnis, bisa deh melakukan evaluasi dan analisis terhadap akunmu sendiri.

Ada bagian Insight yang bisa kamu liat yah. Coba lihat, postingan mana saja yang mendapatkan banyak likes atau komen. Lalu analisislah, kira-kira apa yang membuatnya dapat likes atau komen banyak.

Temuanmu bisa menjadi formulamu untuk melakukan hal yang sama lagi ke depannya. Ujilah "teori"-mu ini beberapa kali, sampai kamu menemukan formula melejitkan postingan ala kamu sendiri.

Kalau kamu bisa menemukannya, wah ... udah deh. Siap-siap jadi selebgram yah :D hehehe.



Dont's

1. Terlalu banyak posting

Oke, meskipun kamu perlu membuat postingan secara konsisten, tapi sebaiknya hindari terlalu banyak juga sih.

Apalagi kalau sama semua sampai berapa akun. Ini biasanya terjadi kalau kita dapat job ya. Kadang dikasih brief dengan foto ataupun caption yang sudah jadi, tinggal posting. Nah, ini mesti hati-hati nih. Yang kayak gini, bisa banget disemprit sama Instagram.

Soal hashtag aja kadang saya ubah-ubah susunannya, meski hashtag yang dipakai itu sama. Hal ini untuk menghindari caption yang sama persis.

Ada beberapa kali kemarin saya dengar kasus, para Instagrammer mengeluh nggak bisa posting ataupun nggak bisa nulis caption. Saya sih menduga, hal ini berkaitan dengan perilaku kita juga. Saya amati, yang pernah mengalami error-error ini adalah mereka yang sering menerima job di Instagram. Ya, saya nggak mau menghakimi atau gimana sih ya? Mungkin juga observasi saya kurang jauh dan mendalam.

Tapi, ada baiknya berhati-hati jika menerima job. Pastikan tidak ada term & condition Instagram yang dilanggar.


2. Menggunakan bot

Beberapa akun Instagram memanfaatkan bantuan bot untuk membuat komentar otomatis dan mendapatkan pengikut.

Kalau kamu memang mau main Instagram secara profesional and long term, sebaiknya hindari praktik ini. Akan lebih baik jika kamu main Instagram dengan cara senatural mungkin.

Kalau kamu main safe, percaya deh. Mau Instagram mengubah peraturan ataupun algoritme kek apa pun, kamu nggak akan kena efek yang terlalu gimana-gimana.


3. Beli follower

Fake Instagram followers. Via Quora.

Yah, namanya juga usaha. Beli follower juga usaha pan?
Iyalah. Nunggu follower banyak secara natural mah lama. Keburu pengin dapat penghasilan inih.

Wqwqwq.
Well, it's your choice.
Tapi, saya sarankan sih, jangan.

Karena apa yang didapatkan secara instan, biasanya juga enggak bertahan lama. Begitu juga follower. Lagian, keliatan atuh kalau follower fake semua. Hahaha.
Kalau saya sih--terus terang--ya malu, kalau ketahuan. Semacam mempertaruhkan harga diri :)) Pun, dikira kali ahensi bodoh banget kali, sampai nggak bisa tahu kalau followernya fake semua? Hahaha.

Ya, tapi kembali lagi. Ini pilihan.

"Aku beli follower, dan jobku banyak tuh!"

Ya, silakan. Pilihan.



Nah, itu dia 9 (6 dos dan 3 dont's) hal dalam mengelola akun Instagram secara profesional. Semua balik lagi ke pemilik akun--yaitu kamu--sebagai content creator.

Menurut saya, it's all about creativity.
Kamu-kamu yang kreatif pastilah bertahan lebih lama--meski jalannya juga barangkali lebih panjang--ketimbang mereka yang hanya mengandalkan sensasi dan semua yang instan-instan.
You will get the value.

Jangan pernah meragukan dirimu sendiri deh pokoknya.

Well, sekian artikel yang sangat panjang ini :)) semoga bermanfaat.


Hae, Gaes! Lagi di tengah-tengah saya me-rewrite buku Sukses Membangun Toko Online, yang dulu pernah diterbitkan Stiletto Book tahun 2014. Terus, lagi ngabsen, produk-produk apa saja sih yang sekarang bisa di-bisnisonline-kan?

Letsee. Mulai dari makanan, baju, pernak-pernik, aksesori, alat-alat hobi, sampai komoditi besar seperti tempat tinggal alias hunian pun sekarang bisa dijual secara online.

Nggak heran sih. Menurut data rilisan wearesocial, tahun 2019 ini, diproyeksikan jumlah pengguna internet di negara kita bakalan menembus 175 juta orang atau sekitar 65,3% dari total jumlah keseluruhan. Penetrasi internet pun meningkat sekitar 13% dari waktu sebelumnya.

Hal ini menjadi bukti internet tak lagi sekadar kebutuhan tersier, tetapi sudah bergeser ke posisi kebutuhan utama. Coba sekarang siapa yang lebih panik kalau kehabisan kuota ketimbang kehabisan uang di dompet? Hahaha. Saya! Cashless sih masih bisa pakai kartu debit, atau Gopay, atau OVO. Kalau kehabisan kuota? Beugh. Mati gaya bok! :)))

Internet memang dapat membantu kita untuk memenuhi segala kebutuhan sehari-hari. Misalnya dalam hal pencarian informasi hingga berbelanja semua kebutuhan.

Makanya sekarang tuh kayak udah lifestyle aja gitu buat rangorang untuk punya "hidup kedua" di internet. Yenggak? Kayaknya setiap orang tuh sekarang selalu punya virtual life, selain real life. Bukan nggak mungkin juga, nanti lama kelamaan, setiap orang bakalan punya bisnis online-nya masing-masing.

Dan di virtual life ini juga termasuk kegiatan jual beli. Karena itu, muncullah berbagai macam situs jual beli untuk berbagai barang, misalnya situs buat beli baju bahkan sampai laman jual beli rumah. Dan nggak cuma dijual di situs aja, banyak juga yang memanfaatkan media sosial sebagai lapak bisnis jual beli rumah ini lo.

Karena perkembangan yang luar biasa inilah, makanya saya diuber-uber lagi untuk naskah bukunya. Hahaha. Doain aja lancar lagi yah.

Nah, kembali lagi ke bisnis online.
Kalau bisnis online yang lain--yang kecil-kecil semacam crafting atau aksesori--gitu sih sebenarnya sudah cukup common prosesnya ya. Pembeli pesan, transfer, penjual kirim. Tapi khusus untuk kegiatan jual beli rumah online ini memang butuh proses yang spesial, kalau menurut saya. Setidaknya, pada proses transaksinya memang lebih ribet, yekan?

Tapi perkembangan sekarang ini menarik. Biasanya kan setelah melakukan pencarian secara online, calon pembeli akan melakukan survei langsung. Menariknya, beberapa tahun lalu hanya sekitar 20 sampai 30% orang saja yang mencari rumah dijual dengan memanfaatkan internet. Tapi kini, sekitar 95% orang sudah beralih ke cara online. 

Yes, gaes, you read it right! 90% transaksi jual beli rumah sekarang dilakukan secara online! So, jelas kan ya, bagaimana peluangnya sektor ini di beberapa tahun mendatang? Pastinya kondisi tersebut sebenarnya memberi banyak keuntungan juga bagi para sales serta agent properti online. 

Memang, apa saja sih keuntungan yang bisa diraih dengan jual rumah online?

Inilah 3 keuntungan yang bisa kamu dapatkan dengan jual rumah lewat online

1. Lebih hemat biaya

Jika dulu memasarkan rumah dijual secara konvensional butuh cetak brosur yang banyak agar bisa menjangkau lebih banyak calon pembeli, kini dengan cara jual rumah online kamu hanya perlu mengupload iklan di satu situs, lalu iklannya sudah bisa dilihat oleh jutaan pasang mata. Belum lagi kalau didukung dengan promosi media sosial yang bisa edan-edanan itu.

Ditambah, memasang iklan di situs jual beli rumah biasanya tidak berbayar alias gratis! Jauh lebih hemat biaya bukan daripada harus cetak brosur yang pada akhirnya juga akan dibuang oleh orang, yekan?


2. Teknologi virtual reality

Tak hanya biaya 0 Rupiah, seiring dengan kemajuan zaman maka pertumbuhan teknologi juga kian masif.

Salah satunya produk dari pertumbuhan teknologi yang bisa diterapkan buat jual beli rumah ialah teknologi virtual reality, yang memungkinkan orang untuk secara virtual merasakan bagaimana atmosfer serta keadaan lingkungan sekitar rumah dijual yang bakal dibeli.

Jadi calon pembeli bisa menilai apakah iklan jual beli rumah itu memang sesuai serta cocok dengan pencarian serta kebutuhan plus bujet calon buyer.


3. Bisa dipantau secara real time

Dulu, saat menggunakan brosur kamu tidak tahu seberapa banyak orang yang membaca atau malah langsung membuang sesaat setelah mereka menerima lembaran tersebut. Berbeda dengan jual rumah online, kamu bisa terus memantau berapa banyak orang yang sudah melihat, sudah klik serta tertarik dengan penawaran.

Buyer pun dapat langsung meminta kamu buat mengirimi info lebih banyak apabila mereka memang merasa butuh.



Nah. Jadi, gimana? Tertarik nggak untuk mencoba jual rumah lewat online? 

Saya sendiri sekarang juga lagi merintis bisnis di bidang ini lo, joinan sama keluarga. Doain lancar yah. Amin!


Sudah bikin konten tertulis yang cetar? Sudah juga bikin konten visual yang apik; image-image yang bercerita juga video yang keren? Sudah cukup? Hmmm. Mungkin belum. Mau cobain bikin konten interaktif?

Yang kek apa tuh, konten interaktif?
Konten interaktif itu adalah konten yang membuat pembaca langsung terlibat gitu. Misalnya polling, kuis, dan sebagainya itu loh.

Bisa emang?
Bisa banget.

Yes, konten interaktif termasuk salah satu konten yang bisa banget menarik perhatian target audience, dan bisa "memaksa" mereka untuk tinggal lebih lama di blog kita. Nah, ini nih yang bisa menurunkan angka Bounce Rate.

Sudah tahu kan, kecenderungan perilaku para pembaca online? Mereka itu kalau mau baca, nggak mau lama-lama, maunya cepet, tapi fully informed, langsung tersolusikan tanpa perlu baca lama-lama.

Ya, kek gitulah, karakter pembaca online.

Nah, konten interaktif ini bisa jadi salah satu cara untuk "memaksa" mereka untuk tinggal lebih lama.

Meski konten interaktif ini menjadi salah satu jenis konten "primadona" lantaran bisa menarik pembaca, tapi teteup ya, sifatnya suplemen alias tambahan saja. Konten utama kita tetap pada tulisan. Jadi, jangan sampai, posting cuma berupa embed polling tanpa ba bi bu. Kita mesti berpikir secara keseluruhan. Beri konten irresistible berupa tulisan, tambahkan konten visualnya, terus tambahin lagi konten interaktif. 

Sejujurnya saya juga belum pernah coba sendiri nih, konten-konten interaktif ini. Tapi kemarin sempat saya kumpulkan pas saya masih mengasuh portal mamah-mamah muda itu, demi untuk menambah kekayaan jenis konten yang disajikan. Tapi ya gitu deh, nggak sempat dipakai.

Hokeh, sebelum saya sedih lagi :)) mari balik ke topik yah.

Jadi, ketimbang sourcenya terbuang percuma karena hanya ngendon di Trello saya, maka mendingan kan saya share aja di sini. Siapa tahu ada yang mau cobain di blog. Nanti kalau benar ada yang cobain, boleh colek saya dan kasih pendapatnya ya. Saya kan kepo. Hehehe. Nanti entah saya tambahin di sini, atau bikin artikel baru lagi, kita lihat saja. Ok?

Ok. Dan, ini dia.

3 Jenis Konten Interaktif yang Bisa Ditambahkan di Blog

1. Polling



Mau bikin polling di dalem blog kamu? Bisa nih, pakai ini. Easypolls

Cara menambahkan Easypolls juga gampang banget.
Buat akun, masukkan pertanyaan-pertanyaanmu, beri beberapa opsi, dan pilih desain serta warna. Udah, itu aja!

Kalau sudah lengkap semua, kamu akan bisa lihat kode yang bisa disematkan. Jajak pendapat yang kamu buat dapat disematkan di salah satu halaman artikel di blog kamu, atau kamu dapat menautkan ke homepage.

Easypolls gratis untuk digunakan, tetapi halaman utama polling akan menampilkan iklan banner di bagian bawah. Nggak apa-apalah. Nggak terlalu mengganggu juga.


2. Online quiz


Ada yang suka ikut online quiz lucu-lucuan itu enggak sih? Kek yang sering ada di Buzzfeed, atau situs-situs sebangsanya. Yang kek, "Which Spice Girl Are You?", atau "How Minnesotan Are You?", "How Much Do You Know about Tacos?" gitu loh.

Ngerti kan?

Kamu juga bisa bikin loh.

Ada beberapa tools sih yang direkomendasikan. Salah satunya, Qzzr. Gampang banget nih, bikin pertanyaan-pertanyaannya, desainnya juga oke. Bahkan kamu dapat menambahkan gambar bekgron sendiri, ataupun nambahin gambar untuk setiap opsi multiple choice.

Nah, dulu saat saya masih ngurusin portal mamah muda itu, Qzzr ini memang ada opsi free account. Sehingga saya pernah coba, meski belum diaplikasikan ke situsnya.

Tapi sekarang sudah enggak ada produk gratisan lagi. Jadi berbayar. Tapi kita bisa free trial 14 hari. Ya, kalau sekali doang bisa sih. Hahaha. Cukup itu mah 14 hari buat kuis. Wqwqwq. Habis itu, ga usah dipakai lagi. *dikeplak, ngajarin nggak bener*

Tapi ada kok tool quiz maker lain yang free. Salah satunya Flexiquiz. Hanya saja, keknya Flexiquiz ini enggak bisa embed di blog. Paling-paling kita bisa bikin kuisnya di TKP, lalu sematkan tautan di artikel. Jadi, kurang okelah kalau buat Bounce Rate yak.

Well, coba deh nanti saya riset lagi (dan mungkin juga nyobain) tools quiz maker yang lain.
Will be updated upon nanti yah.


3. Kalkulator Online



Mungkin kamu pernah nyobain kayak kalkulator simulasi KPR, atau kalkulator kalender cina yang online gitu?

Nah, ini nih tools-nya.

Kamu bisa pakai Calculoid.

Dengan Calculoid, kamu dapat membuat halaman kalkulator khusus yang dapat memproses banyak titik input untuk menghasilkan hasil. Kamu dapat, misalnya, menunjukkan kepada pelanggan berapa banyak uang yang mereka hemat untuk beralih ke pencahayaan LED berdasarkan jumlah perlengkapan, tagihan daya bulanan, dan jam mereka menyalakan lampu.

Ya pokoknya kek Excell deh, asal kita sudah punya rumusnya, maka akan mudah untuk dibikin deh kalkulatornya.

Nah, untuk pakai Calculoid ini memang ada akun gratisannya, tapi ya gitu deh terbatas banget. Kalau yang berbayar, bisa langsung disetting untuk menerima online payment, yang gratisan enggak. Bisa dieksplor lebih jauh di bagian Pricing yah.

Oh iya, dan soal currency. Sepertinya saya baru liat euro sama dollar aja. Nggak liat rupiah dalam opsinya. Boleh dicek aja deh, kalau ada yang mau coba yah.

Next, kalau ada alternative to Calculoid, dan saya sudah coba, saya akan update lagi.



Yep, internet adalah tempat yang pada dasarnya interaktif. Mengapa menjadikan kontenmu hanya satu arah? Sepertinya, di era berikutnya, konten interaktif bakalan lebih berkembang. Tools-nya saya kira juga akan bertambah. Kita lihat saja.

Konten interaktif dapat membawa lebih banyak nilai tambah kepada audiens dan strategi konten. Kamu dapat menggunakannya untuk memulai dialog, mengenal pembaca blogmu secara lebih dekat, sambil menghibur mereka dan memberi informasi. Keren kan?

So, apakah kamu sudah siap bereksperimen dengan konten interaktif dalam blog kamu?