Konten ibarat barang dagangan yang kamu jejerin di etalasemu. Blog kamu ibarat toko atau lapak yang ikut ngeramein sebuah lokasi perbelanjaan. Google sendiri bisa diibaratkan sebagai pusat perbelanjaannya. Pageview bisa diibaratkan sebagai uang hasil transaksi. Nah, profit dari lapak itu bisa berupa penghasilan yang kita dapatkan dari monetasi blog.

Sekarang, coba lihat di sekeliling. Banyakkah toko lain yang juga sama-sama buka lapak di lokasi yang sama denganmu? Lalu coba lihat dagangan mereka. Apakah "barang"-nya sama dengan barang dagangan yang kamu miliki?

Setelah mengamati sekitar, sekarang mari kita lihat lapak kita sendiri.

Apakah ada orang yang kebetulan datang ke pusat perbelanjaan itu yang mampir ke lapak kita? Seberapa banyak? Apakah mereka mau "beli" yang kita "jual"? Jika mereka mau "beli", apakah uang hasil transaksinya bisa nutup modal kamu buat buka lapak itu?

Yes, that is how it works.
Blog--apalagi yang akan atau sudah dimonetizing--pada akhirnya memang menjadi bisnis. Meski bukan materi yang menjadi pertimbangan utama, lantaran materi yang kita dapatkan dari ngeblog bisa dianggap sebagai profit, tetapi tentunya modal mesti harus bisa ditutup dulu dengan "uang hasil transaksi". Istilahnya, ya harus balik modal dong. Kalaupun bisa profit, itu juga akan bagus banget.

Singkatnya, konten yang harus kita buat ya mesti bisa mendatangkan pageview. Kalau enggak, ya buat apa bikin konten?



Istilahnya, setidaknya kita harus mengusahakan supaya balik modal dulu. Lalu, gimana? Rasanya sudah pada balik modal belum? Atau jangan-jangan, malah pada udah minta dapat profit dulu bahkan sebelum balik modal? Ehe~

Ya nggak apa-apa juga sih kalau memang mau begitu. Salah satu pelajaran bisnis yang pernah saya dapatkan, seorang pemilik bisnis itu juga wajib untuk mendapatkan allowance demi kelangsungan hidup pribadinya.

Tapi, kalau saya ya gimana bisa dapat profit kalau balik modal aja belum?

Dan, gimana bisa balik modal kalau pembeli nggak mau datang ke lapak kamu? Orang malas mampir ke lapak kamu? Jangan-jangan mereka lebih berpaling ke lapak lain.

Dan, kemudian akhirnya, kamu seret orang-orang yang kamu kenal, kamu paksa masuk ke lapak lalu kamu paksa juga untuk beli daganganmu, demi bisa balik modal? :)))
*pukpuk orang yang kamu seret*

Tapi mengapa ya orang nggak mau "beli" daganganmu? Pasti kan ada sebabnya. Mari kita lihat beberapa kemungkinannya.


5 Alasan Orang Nggak Mau Baca Artikelmu


1. Mereka nggak butuh informasimu

Ibaratnya mereka pada butuhnya sepatu, kamu jualan baju. Ya pasti mereka nggak akan masuk lapakmu.

Tapi kan, ntar juga bakalan ada juga yang butuh baju?

Betul kok itu. Pasti ada yang butuh. Tinggal seberapa banyak kan? Plus, apakah baju yang kamu sediakan memang masuk ke minat mereka, itu juga menjadi pertimbangan.

Misal, kamu suka baju-baju ala Lady Gaga yang aneh-aneh itu, dan kamu jual di lapak. Tapi kan nggak semua orang bisa pakai? Makanya, yang beli juga nggak banyak.

Intinya adalah, it's not about you, kalau kamu memang mau jualan secara profesional. It's about your customer. Pelangganmu. Lebih fokuskan konten, dan pahami kebutuhan pelanggan, sehingga mereka akan datang ke lapakmu dengan senang hati tanpa harus kamu paksa. Karena mereka mendapatkan apa yang mereka mau.



2. Mereka sudah menemukan konten serupa yang lebih lengkap di lapak sebelah

Sekarang, inilah gunanya kamu melihat sekeliling. Kalau di ilmu marketing, ini adalah riset kompetitor. Kalau perlu di-list deh kompetitornya siapa aja.

Kalau untuk blog, ya kamu mesti melihat blog lain yang punya niche sama, topik yang dibahas juga seringnya sama.

Wah, jadi saingan sama teman sendiri dong?
Lah iya. Baru sadar sekarang? Tapi, jangan salah. Persaingan itu bagus kok. Malahan bisa bikin kita mau usaha untuk mencapai yang lebih baik. Saingannya juga harus saingan yang sehat.

Contoh saya aja deh. Gosah jauh-jauh.
Bloger yang saya anggap kompetitor adalah Mas Febriyan Lukito dan blog Tulisan Blogger Indonesia miliknya. :)))))))
Yes, kenapa? Ya, karena niche-nya sama.

Tapi cara saingannya bukan terus tikung-tikungan (meski iya, saya ditikung juga nih kalau lagi ada tugas SEO mah. Huahahahahaha. Dan biasanya saya kalah. Tapi yah *menjura* saya rela sih kalah kalau sama mastah *heyitrhymes!*).

Kadang saya terinspirasi dari artikelnya Mas Ryan, lalu saya bikin artikelnya dan saya kembangkan. And vice versa.

Nah, garis bawah pada "pengembangan". Inilah yang kemudian bisa membuat dagangan kita menjadi lebih unggul ketimbang kompetitor. Kalau produk kita lebih "unggul" pastinya pembeli akan lebih tertarik. Bener nggak?

Jadi, supaya ada pembeli datang, maka pastikan konten yang kamu punya punya nilai tambah daripada lapak sebelah. Caranya, riset kompetitor. Lihat-lihat lapak lain. Lalu amati, apa yang kurang dan bisa kita kembangkan.



3. Artikelmu susah dimengerti

Gimana mereka mau datang dan baca, kalau artikelmu susah bet dipahami?

Kalau di toko gitu, ibaratnya kamu jualan barang yang susah dipakai. Buku manualnya juga nggak ada, kamu sendiri neranginnya ke pembeli juga belibet.

Pembeli nggak mudeng, lalu ya mikir, "Terus, kenapa gw di sini?" Pindah deh ke lapak lain, yang barang dagangannya pas dengan mau mereka, pun cara menggunakannya juga mudah.

So, gimandose?
Ya, lagi-lagi, you mesti berorientasi pada pelanggan. It's all about them memang. Bukan kita. Kita itu nggak penting. Yang penting adalah pembaca yang datang.

Jadi, berbicaralah dengan bahasa mereka.
Lalu ingat, cara ngomong sama anak milenial beda dengan cara ngomong sama emak-emak. Cara ngomong sama orang Jawa beda dengan cara ngomong sama orang Jaksel.

Kamu ngomong ala anak millenial ke emak-emak, ya emak-emak pada nggak mudeng. Begitu juga sebaliknya. Kamu ngomong basa Jawa ke orang Jaksel, ya mereka cuma akan begini ....



Jadi, gimana lagi nih?
Ya, kenali pembacamu. Bikin persona--kalau yang udah ikut NgeblogPro Kelas Konten, pasti tahu nih, caranya gimana--yang kemudian bisa kamu pakai untuk mengolah konten yang bisa mereka pahami.

Nah, soal menulis konten yang mudah dipahami ini, saya juga pernah nulis di blog ini. Silakan kalau mau baca untuk melengkapi ya.


4. Mereka nggak tahu kalau kamu pernah ada

Ya, gimana mau datang, kalau toko kamu ada pun mereka nggak tahu :)))

Sedih banget sih, tapi ya ini kenyataan, Marimar.
Mari kita kembali ke analogi Google sebagai pusat perbelanjaan lagi.

Di pusat perbelanjaan yang mahaluas itu, ada berapa banyak toko yang numpang lapak di dalamnya? Uncountable. Tak terhitung.

So, sudahlah barang dagangan kita nggak ada istimewanya, masih ditambah lokasi toko kita yang berada di belakang, nyempil, nggak kelihatan dari sudut mana pun. Dekat toilet misalnya. Yang dateng ya cuma yang mau ke toiletlah. Atau yang nyasar. Duh.

Udah gitu, biar tambah nyesek lagi nih, meski mungkin barang dagangan kita bagus tapi kalah penjualan dong sama lapak kurang berkualitas tapi pemiliknya pinter ngelobi yang punya mal supaya ditempatin di tempat yang strategis. :)))

Nyesek nggak sih?

So, tahu nggak apa kesimpulan dari poin keempat ini?
SEO.
Yes.


5. Blogmu nggak nyaman dimasuki

Sekarang coba bayangkan, kamu masuk ke toko yang segala macam barang ada dan campur aduk jadi satu. Sandal nyampur sama camilan-camilan. Sabun cuci ada di dalam panci. Baju campur aduk sama bumbu dapur.

Gimana rasanya?
Akankah kamu tertarik untuk membeli di toko tersebut?

Ya mungkin kalau kenal pemiliknya yang ramah dan baik hati ya mungkin saja sih kita beli dagangannya.

Tapi, kalau kita dan si pemilik toko nggak kenal?

Well, saya rasa sih, sebagian besar bakalan males datang dan beli di toko yang amburadul kek gitu.
(((amburadul))) #anaklawas

Begitu juga dengan blog.
Maka, sekali lagi, pembaca haruslah menjadi prioritas utama. Mereka nyaman enggak sih berada di blog kita? Bingung nggak dengan navigasinya?

Coba cek artikel mengenai blog yang reader friendly yang pernah saya tulis di web Kumpulan Emak Blogger ini ya. Meski saya nulisnya udah tahun 2014, tapi sepertinya masih relevan kok sampai sekarang.



Itu dia beberapa hal yang bisa menjadi alasan mengapa orang nggak mau datang ke suatu blog. Bagaimana dengan blogmu? Sejauh ini, berapa orang yang datang dari si pusat perbelanjaan? Di luar orang-orang yang kamu "paksa" datang? :D

Semoga sudah bisa membuatmu balik modal ya.
Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Picture talks a 1000 words.

Begitu katanya. Dan, sepertinya ini juga berlaku di Instagram, media sosial kesayangan kita semua.

Saya pernah bikin semacam survei di salah satu akun Instagram yang saya kelola. Saya tanyakan ke follower, mereka #TimLihatFoto atau #TimBacaCaption. Kebanyakan sih memang dua-duanya, alias liat foto dulu, kalau penasaran, baru baca caption. Yang menarik, ternyata banyak pula yang cuma lihat foto doang, tanpa membaca caption, lalu segera memutuskan apakah ngasih like atau terus nyekrol.

So, kalau soal bikin foto di Instagram yang cantik, saya bukan ahlinya. So far, saya mengandalkan kemampuan desain ketimbang skill fotografi. Jadi, saya nggak bisa kasih tip yang gimana-gimana soal foto untuk diunggah ke Instagram. Banyak yang lebih ahli, malu saya.

Tapi kali ini, mau ngomongin soal caption.
Meski caption adalah hal kedua yang menjadi perhatian para penduduk Instagram, tapi dia tetap pegang peranan penting. Apalagi kalau buat saya, yang benar-benar jualan barang.

Jadi, mari kita ulik serba-serbi caption ini, agar kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk "menjual" konten yang kita punya, dan menyampaikan pesan yang ingin kita ungkapkan pada follower.


Kenalan (Lagi) Sama Caption Instagram

1. Apa Sih Caption Instagram? Dan, Apa Pentingnya?

Every photo tells a story, but the caption does the magic.

Begitulah. Fotomu memang yang bercerita, tapi keajaiban bisa terjadi dari sebuah caption. Caption-lah yang bisa menciptakan engagement dengan follower, dan membuat kita sebagai pemilik akun Instagram terhubung dengan mereka semua.

Caption-lah yang bisa membangun trust follower pada kita.
Ini akan kerasa banget kalau kamu mengolah konten untuk marketing.

So, buat yang jualan online via Instagram, cobalah untuk belajar nulis caption yang menarik. Jangan sekadar kasih spek barang doang, tapi tambahkan penarik lainnya seperti keunggulan produkmu. Juga jangan lupa sertakan call to action.

Elah, kok udah masuk ke tip. Ini kan nanti. Wqwqwq. Lanjut dulu aja deh.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Saya ambilin satu contoh nih. Caption yang dia tulis memancing banyak orang untuk mengaminkan. Komen yang terjaring ada 280-an lebih di sini (lepas dari follower dia memang banyak sih). Dia tambahkan itu caption ke dalam foto, untuk "menjaring" para timeline scroller--yang cuma scanning foto tanpa baca caption.

Oh iya, saya berikan nama timeline scroller buat mereka yang hanya skrol sambil scanning aja. Hehehe. Ini juga salah satu behavior netizen yang cukup menarik lo, di samping fakta pembaca online yang sudah saya jabarkan di blog Indoblognet ini. Sifatnya kurang lebih sama, hanya saja objeknya beda.


2. Panjang Caption Instagram

Menurut Sproutsocial, caption Instagram ini muat sampai kira-kira 300 kata, atau kira-kira sekitar 2.200 karakter.

Kemudian, selalu akan ada pertanyaan mengenai standar ideal, yes?

Seberapa panjang sebaiknya sebuah caption Instagram agar bisa mendapatkan hasil yang optimal?

Jawabannya, relatif. Karena tak pernah ada standar yang pasti di dunia blog dan media sosial, brosis. Jawabannya ada pada logika masing-masing.

Kalau saya sih sebenarnya logikanya begini.
Kebanyakan pengguna Instagram adalah para timeline scroller. Jadi, gosah terlalu panjanglah nulis caption. Kalau mau panjang, ya mending tulis aja di blog.
Itu kalau saya.

Nah, tapi ... kalau memang butuh nulis panjang, maka pastikan kalimat pertama sudah bikin orang mau meneruskan baca caption Instagram yang kita buat.

Jadi, balik lagi deh ke opening that bangs ya! Di mana-mana aturan ini emang berlaku kok. Nggak di blog, di tulisan fiksi, bahkan di caption Instagram pun, ini aturan banget!

Caption Instagram akan terpotong saat foto kita nongol di timeline orang. Kadang bahkan cuma 2 kata aja, udah kepotong. Coba silakan amati timeline masing-masing. Berapa banyak sih yang ditampilkan di timeline, kalau kita nggak klik "More..."?
Kebayang mubazirnya kalau kita nggak memaksimalkannya.

Udahlah foto alakadarnya, caption juga apalah ga penting.
Ini nggak akan memberi efek apa pun, bakalan kerasa banget nih kalau kita lagi jualan.

Tak selalu panjang, kadang caption pendek juga perlu. Biasanya sih ini kalau fotonya sendiri sudah berbicara banyak. Caption hanya melengkapi, atau setidaknya buat naruh hestek untuk dapetin ekspos yang lebih banyak di Explore.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Ini salah satu contohnya.

Jadi, kapan kita mau pakai caption panjang dan kapan mau caption pendek?
Silakan tanyakan pada diri sendiri, mau "jualan" apa? Fotonya sudah cukup bercerita belum? Atau ada pesan khusus yang mau disampaikan?

Ada baiknya, kamu melakukan A/B testing. Unggah berbagai foto dengan caption Instagram yang juga bervariasi. Lalu, lakukan pengamatan. Mana yang bisa menghasilkan engagement yang paling tinggi?

Ini memang proses panjang. Melibatkan banyak waktu pengamatan serta trial and error. Tapi percayalah, hasilnya akan lebih baik ketimbang kamu ikutan Instagram Loop.


3. Trik menulis caption Instagram yang rapi

Nah, ini menarik.

Instagram tidak menyediakan tool apa pun agar kita bisa menulis caption dengan rapi, selayaknya menulis artikel di blog. Buat rangorang yang bergejala OCD, terutama OCD tulisan--kek saya :)) --hal ini cukup annoying.

Penginnya, ya rapi. Terpisah antar paragraf. Sesekali sematkan emoji. Dengan kerapian struktur tulisan, pesan tersampaikan dengan lebih baik.

Tapi kadang, caption Instagram ini nggak mau nurut.
Sudah dikasih paragraf, eh tetep aja ga mau turun. Akhirnya caption yang tertulis nggak ada paragraf, yang berarti nggak enak banget dibaca. Emoji nyampur sama hestek, yang bikin terlihat chaos di mata.

Ya, memang kebanyakan lantas disiasati dengan pakai titik di antara paragraf. Tapi lama-lama kalau paragrafnya banyak, itu titik-titik kok kayak debu juga bikin kelilipan. :)))

Aku tuh nggak bisa diginiin!
Tapi, thanks God, ada Pretty Caption. Sebuah website yang bisa bantu kita bikin caption Instagram yang rapi dan menarik.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos

Caranya gampang kok.
Tulis aja cerita kita biasa. Tambahkan emoji-emoji seperlunya. Saya biasanya bikinnya di WhatsApp malah :)) lalu dari WhatsApp baru saya kopaskan ke Pretty Caption ini, baru kemudian saya kopas lagi ke Instagram.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos

Kece kan?

Memang butuh extra steps, tapi worth it.
Caption Instagram jadi rapi dan enak dibaca. Mau bikin pointer-pointer dengan emoji pun bisa. Dan, kita nggak perlu titik-titik lagi buat misahin antar paragraf. Udah dirapiin sama si Pretty Caption ini.


4. Beberapa tip menulis caption Instagram yang engaging dan menarik

Nah, berikut ada beberapa tip menulis caption Instagram yang bisa dilakukan:

a. Didraf dulu

Ini kaitannya supaya nanti kita nggak edit-edit caption berulang kali. Karena ngedit caption berulang bisa kepeleset jadi "over optimized", hingga bisa dianggap spam.

Akibatnya, ekspos konten kita pun dikurangi.

Inilah kenapa ada aturan "jangan edit caption sebelum 24 jam". Poinnya bukan pada sebelum 24 jam, tapi pada over optimized. Google saja juga nurunin peringkat, kalau kita over optimized. Instagram juga punya aturan yang sama pada algoritmenya.

Jadi, akan aman jika kita draf dulu captionnya, baru kalau udah beres, kopas ke Pretty Caption supaya rapi. Baru deh kopasin ke Instagramnya.

Rumit ya? Iya.


b. Pancing engagement

Ini yang tadi saya sebutkan di atas tentang call to action. Pancing audience untuk bereaksi dan merespons apa yang kita posting.

Bisa dengan:

  • Beri pertanyaan terbuka pada audience
  • Minta masukan
  • Kasih polling
  • (Pura-pura) survei :D
Jika Instagram kamu adalah Instagram jualan, maka beri copy caption yang mengajak audience untuk mengenali produkmu lebih lanjut. Beri kontak ke mana kalau mau beli, tawarkan diskonnya, dan seterusnya.

Buat blogger, kadang kita posting Instagram untuk promosi blog ya? Karena caption nggak bisa langsung ditautkan ke URL artikel di blog, maka sebagian lantas menaruh link di bio.
Ini sudah bener.

Permasalahan muncul, ketika kita harus menambahkan link lagi, sementara link sudah terisi. Padahal Instagram hanya mengizinkan SATU link saja di bio.

Apa akal?

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Pakai Linktree.
Dengan Linktree, kita bisa naruh beberapa link sekaligus di bio Instagram.
Pankapan kita bahas lebih banyak lagi soal tools yang biasa digunakan untuk mengoptimasi Instagram ya, termasuk Linktree. Sementara, silakan dicoba-coba sendiri.


c. Mention!

Kalau seumpama kamu unggah foto yang menggunakan produk-produk tertentu, atau memasukkan brand tertentu ke dalam foto, maka jangan ragu-ragu mention atau tag akun produk atau brand-nya dalam caption Instagram yang kamu tulis. Kalau ada.

Jangan mikirin, ini kan bukan foto endorsement.
Karena dengan mention, kadang kita juga ikut kecipratan ekspos di Explore, saat ada orang lagi search keywords yang sama.

Kalaupun enggak direpost, nggak usah dipikirin deh. Exposing itu nggak melulu dari hasilnya berupa repost kok.


5. Follow the rules!

Nah, meski tak pernah dituliskan secara detail dan eksplisit, tapi ada banyak aturan dan larangan berlaku di Instagram, terutama yang melibatkan caption.

Saya sih sudah banyak kali menuliskan tentang rules of Instagram ini. Saya round up aja ya, silakan ikuti tautan-tautan menuju TKP.
Nah, demikian beberapa hal yang mesti diketahui tentang caption Instagram.
Memang tricky ya, kalau mau mendapatkan hasil yang optimal. Apalagi buat kamu yang sudah memonetize-nya.

Satu aja sih saran dari semuanya.
Just play safe.

Jangan terlalu bernafsu menambah follower atau mendapatkan likes, lalu berusaha "ngakalin" dengan cara apa pun.

Instagram selalu menemukan cara untuk mengalahkan akal-akalan ini. Begitu mereka mengubah aturan dan algoritme, maka pasti akan terkena efeknya.

But, if we play safe, everything is gonna be just fine. Nggak akan banyak ngaruh.


PS. Mungkin ada yang bertanya-tanya. Halah, ribet amat buat caption Instagram.
Iya, karena kalau saya sih sadar diri. Saya bukan Raisa, yang bisa posting tanpa caption pun likesnya banyak, komennya bejibun. So, saya mesti usaha.
Demikian.


Dear pemilik blog/situs Detikpedia,

Selamat pagi/siang/sore.
Semoga Anda sekeluarga senantiasa sehat sejahtera hari ini.

Seperti saya juga, merasa sehat sampai pagi ini saya menemukan situs Anda. Lucu juga bahwa notifikasi pingback dari situs Anda malah masuk ke situs Kumpulan Emak Blogger. Saya yang kebetulan punya kunci untuk login di TKP, jadi bisa menemukannya pagi ini.

Kaget saya, melihat sederet notifikasi pingback tersebut. Saya pikir mungkin Makmin lain sedang kerja dengan menaruh internal links, ternyata notifikasi pingback tersebut datang dari situs Anda. Lebih heran lagi, karena saya merasa akrab betul dengan judul-judul tulisan yang memberikan pingback tersebut.

Hmmmm. Kayak kenal gitu.

Penasaran, saya pun mengikuti pingback yang berujung ke situs Anda.
Well, tentu saja saya mengenali judul-judul tulisan ter-pingback itu, karena itu adalah tulisan saya, yang sudah saya publish di blog ini tapi kok bisa-bisanya muncul di situs Anda.

Penasaran, saya pun menelusuri lebih jauh.
Makin kaget lagi, ketika saya menemukan 2 kategori dalam situs Anda hampir semuanya berisi tulisan saya yang sudah publish di blog ini.


Wow!
Just wow!

Saya melihat tulisan saya memenuhi 2 kategori; di kategori Content Writing dan di kategori Blogging.

Saya enggak tahu apa tujuan dan motivasi Anda melakukannya, tapi sependek pengetahuan saya, cara kopas artikel secara membabi buta seperti ini disebut dengan PLAGIARISM. Dan pelakunya disebut sebagai PLAGIAT.

Itu yang sependek saya tahu.

So, pagi ini saya mencoba tetap tenang dan tabah. Saya coba untuk mengirimkan email komplain melalui email yang saya temukan di laman situs Anda, yaitu di info@detikpedia.info.
Meski sebenarnya saya ragu banget, email itu akan beneran Anda baca, atau bahkan bisa sampai pada Anda.



Ternyata dugaan saya benar.
Alamat email tersebut fiktif, terbukti saya mendapatkan notifikasi kegagalan kirim dari MAILER DAEMON.



Langkah lain saya coba lakukan. Saya lookup whois, barangkali saya bisa menemukan informasi lain yang bisa berguna. Ternyata nihil juga. Kontak Anda tidak tercantum.
Maka, saya yang sudah mulai putus asa, mencoba kirim ke abuse@namecheap.com, dan berusaha mengajukan komplain.



Ternyata namecheap.com juga nggak bisa membantu.

So, sepertinya saya hanya bisa meminta takedown dari Google--hal terakhir yang sebenarnya pengin saya lakukan. Dan itu pun saya juga nggak tahu, bakalan berhasil atau enggak.

Lalu, buat apa saya menulis surat terbuka ini?
Hemat saya, jika Anda sampai mengkloning sebegitu banyaknya tulisan saya untuk situs Anda, maka mau tidak mau, Anda pasti memonitor blog saya ini. Jika surat terbuka ini terpublish nanti, saya sih berharapnya, semoga Anda ngeh dan aware juga.

Syukur-syukur, kalau Anda pakai alat kloningan secara otomatis, surat terbuka ini juga akan terpublish di situs Detikpedia Anda itu.

Jika memang Anda sudah membaca surat terbuka ini, maka dengan segenap kerendahan hati, saya meminta Anda untuk menurunkan semua artikel yang Anda ambil dari blog ini. Tak perlulah saya menjelaskan, mengapa saya meminta ini dari Anda. Anda pasti sudah tahu apa alasannya.
Karena saya pikir, Anda pasti orang cerdas.

Demikian surat terbuka ini.
Saya nggak akan menulis panjang lebar.
Sudah hilang nafsu saya untuk update blog minggu ini.

Saya pernah bilang ke orang-orang yang mengalami kasus serupa. Nggak perlu marah berlebihan. Pakai energi rage-nya untuk berkarya lebih baik lagi.

Barangkali Anda sekarang juga menertawai saya di balik situs Anda tersebut. Saya terima. Nggak papa. Saya akan berusaha legowo. Bagaimanapun menjadi plagiat tak pernah bagus secara kualitas. Sekali plagiat, seterusnya akan menjadi plagiat.

Saya hanya akan berusaha lebih baik lagi.
Cuma ya, ... *sigh* baru kemarin sepertinya saya bikin status karena kejengkelan saya terhadap orang-orang yang punya kelakuan miring--suka kulakan di kelas online dan kemudian materinya dipakai lagi untuk kelas online yang dia pegang sendiri. Sekarang kok ya terus ada kasus seperti ini lagi.

*deep sigh*
SMH. Orang-orang ini otaknya pada di mana ya?
Pardon me, tapi saya bingung memang.

Sementara ini, saya hanya bisa mengusahakan takedown pada Google. Sepertinya akan butuh usaha ekstra, jadi mari kita lihat sampai seberapa jauh saya bisa melakukannya.



Hae. Saya mau ngelanjutin bahasan mengenai latihan menulis untuk menghasilkan tulisan yang powerful kemarin nih :)

Kentang banget, nggak diterusin. Yekan? Wqwqwq.

Kemarin sudah bahas latihan untuk bisa menghasilkan tulisan yang jujur, dengan gaya yang khas, dan bagaimana agar bisa kreatif out of the box.

Sekarang, saya mau lanjutin, cuma tinggal beberapa aja kok nih. Hehehe.


Beberapa Jenis Latihan Menulis untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful


1. Latihan menulis efisien dan ringkas


Nah, ini sebenarnya sudah pernah ada juga saya tulis di blog ini, bagaimana cara melatih diri menulis efisien. Tapi bolehlah kita bahas lagi ya, biar satu rangkaian gitu.

Menulis tanpa efisiensi pemakaian kata bakalan berpeluang tulisannya OOT, nggak fokus, panjang tapi pointless. Orang yang baca juga lebih berpeluang gagal paham. Dan OOT ini kadang nggak disadari banget deh. Apalagi kalau kita emang hobi ngobrol di real life. Suka cerita, suka ghibah #eh Wqwqwq.

Biasanya kalau sudah punya kebiasaan begini, ya kebawa juga ke tulisan.

Jadi, gimana cara melatihnya, biar "kebiasaan buruk" ini nggak kebawa ke tulisan kita? Simpel aja kok. Kamu cukup melakukan beberapa hal berikut sering-sering:

  • Set timer ke 2 menit. Atau, 5 menit juga boleh. Terserah deh, mau berapa lama.
  • Siapkan satu topik untuk kamu bahas. Bebas aja, terserah. Yang receh-receh juga boleh. Nggak usah yang susah-susah. Misalnya, mau nulis tentang "hujan".
  • Begitu timer sudah mulai berdetik, mulailah menulis bebas dengan topik hujan. Just write, jangan diedit, jangan dipikirkan kata-katanya jelek, atau banyak typo. Just write!
  • Begitu timer berhenti di 5 menit, maka kamu harus berhenti. Nggak perlu dikasih ending atau closing. Pokoknya berhenti saja.
  • Lalu lihat berapa jumlah kata yang berhasil kamu kumpulkan dalam tulisan mengenai "hujan" itu.
  • Tugas berikutnya adalah rewrite atau tulis ulang tulisanmu itu menjadi separuhnya. Kalau tadinya panjang mungkin 100 kata, coba jadikan 50 kata. Dan usahakan intinya tetap sama, dengan kualitas informasi yang sama.
Nah, beberapa hal yang bisa kamu lakukan untuk mengefisienkan tulisan adalah dengan:
  • Memilih diksi yang tepat dan lebih singkat. Kadang ada beberapa kata yang ternyata bisa diwakili oleh satu kata aja lo, hanya karena kita menggunakan diksi yang tepat.
  • Satukan subjek yang sama. Kadang ada beberapa kalimat bersubjek sama yang bisa disatukan saja menjadi kalimat utuh.
  • Cek pengulangan informasi. Kadang kita berkali-kali menyebutkan sesuatu dalam satu paragraf atau tulisan. Coba dicek, sebisa mungkin jangan ada pengulangan kalau memang nggak penting-penting amat.
Semakin sering latihan ini kamu lakukan, maka semakin peka pula kamu dalam menentukan efisiensi pemakaian kata yang kamu pakai. Peluang untuk OOT pun semakin sedikit.


2. Latihan menulis dengan emosi




Artikel yang bagus itu adalah artikel yang dipenuhi dengan emosi, tapi bukan emosional.

Nah, ini pernah saya baca di mana, juga saya lupa :)) Silakan, yang tahu, info saya di kolom komen ya. Biar saya tambahkan atribusinya.

Pernah baca artikelnya Pungky Prayitno, yang soal depresi pascamelahirkan yang pernah dialaminya? Tahu nggak, kenapa tulisan itu begitu viral? Apakah Pungky mikirin syarat-syarat artikel viral saat menulisnya? Saya berani taruhan, enggak.

Tapi satu hal yang pasti, tulisan itu sarat emosi dan related to people.

Adalah penting banget untuk memasukkan emosi saat kita menulis. Emosi ini bisa berarti emosi positif (bahagia, puas, senang, dan sebagainya), dan emosi negatif (sedih, kecewa, marah, dan seterusnya). Dengan melibatkan emosi, kita akan menyeret pembaca untuk ikut merasakan hal yang sama dengan kita.

Tapi tetap kendalikan diri supaya nggak emosional saat menulisnya.

Bagaimana cara melatihnya?
Kamu bisa melatihnya dengan cara menulis hal-hal yang:
  • Menakutkanmu. Tuliskan hal-hal yang bikin kamu khawatir. Scares you the most.
  • Membahagiakanmu. Excites you.
  • Menjijikkan untukmu. Disgusts you.
  • Bikin kamu sedih. Sadden you.
  • Bikin kamu semangat. Fuels you.
  • Bikin kamu marah. Angers you.
  • Membuatmu merasa dicinta. Fills you with love.
Nah, kamu bisa giliran tuh latihan nulisnya, sesuai waktu yang kamu punya. Boleh dipublish nggak? Ya bolehlah. Enggak juga nggak apa-apa. Ini sekadar latihan.

Saat kamu sudah terlatih, maka saat kamu menulis artikel, kamu akan terbiasa turut mengungkapkan perasaanmu juga dalam tulisan itu.


3. Tulisan yang "bercerita" dan mengalir

Nah, latihan menulis terakhir yang bisa kamu lakukan untuk menghasilkan tulisan yang powerful adalah berlatih menulis cerita. Because everyone likes stories, right?

Cuma ya, seperti halnya di latihan menulis no. 1 di atas, kita itu kalau sudah dikasih panggung buat cerita akhirnya ngoyoworo (baca: gagal fokus) ke mana-mana. Yah, mungkin alamnya kita gitu ya. Seneng banget kalau disuruh cerita. Wqwqwq.

Tapi soal menulis cerita ini juga bisa dilatih kok. Yang pasti, kamu memang mesti niat dan rajin aja berlatihnya.

Cara melatihnya:
  • Pikirkan satu hari dalam hidup, Jangan pilih yang hari biasa aja, pilih yang "heboh". Artinya, bisa hari yang bagus banget, atau hari yang sial banget.
  • Lalu tuliskan secara kronologis kejadian saat itu.
Ingat, kata kuncinya ada pada kronologis.
Jadi, tuliskanlah secara berurutan kejadiannya ya. Usahakan jangan lompat-lompat. Pokoknya alurnya just A to Z. Jangan dibikin twist :)))

Kalau kamu sudah lancar menceritakan sesuatu dari A - Z secara kronologis, baru deh kita bisa atur lagi. Karena kadang bisa dibikin flashback atau maju-mundur alurnya, agar lebih menarik.

Tapi yang pertama kali harus dikuasai adalah menulis dengan lengkap secara kronologis.

Karena cerita yang melompat-lompat, kalau kamu belum menguasai tekniknya, bakalan bikin pembaca pusing. Karena ada trik khusus saat kita menyambungkan puzzle-puzzle ceritanya hingga tetap bisa diikuti meski tak berurutan.


Nah, demikian tambahan 3 jenis latihan menulis untuk membuat tulisan yang powerful. Simpel kan? Dan nggak banyak kok. Cuma memang kamu mesti disempet-sempetin melatihnya.

Berlatih menulis itu memang membutuhkan waktu khusus. Kalau hanya "meluangkan", emang siapa yang punya waktu luang? Nggak ada. Sejatinya, nggak pernah ada yang namanya waktu luang itu mah :))

Yang ada adalah saat kita membuat waktu ...

So, selamat berlatih ya.



Menulis itu 10% bakat, 90%-nya latihan.

Itu bukan saya yang bilang. Ada, saya pernah baca. Tapi lupa baca di mana.
Dan, itu kalau saya. Beda lagi sama Pidi Baiq. Pidi Baiq itu kalau mungkin disuruh latihan nulis, jadinya malah kacau, ga kayak sekarang. Konon, Pidi Baiq itu kalau tulisannya sampai diedit, nggak jadi tulisannya Pidi Baiq lagi. Ilang udah ciri khasnya.

Beda sama saya. Untuk jadi buku, saya harus didampingi editor. Kenapa? Kacau kalau enggak. Saya butuh editor untuk memonitor tulisan saya memenuhi semua aspek tulisan yang baik dan layak baca.

Karena, saya bukan orang yang bakat nulis. Tapi saat didahului dengan suka, lalu latihan, dan akhirnya melakukannya setiap hari, kita bisa menyamai orang yang kondisinya punya bakat menulis sejak lahir seperti Pidi Baiq.

Nggak, bukan berarti saya mengklaim diri sendiri sudah setaraf Pidi Baiq. Saya belum se-halu itu kok.

Dari hasil belajar sana-sini, akhirnya saya tahu ada beberapa latihan menulis yang bisa kita lakukan demi mempertajam keterampilan menulis. Beberapa jenis latihan menulis sudah pernah saya share di blog ini juga. Lebih tepatnya, dalam artikel sebelumnya itu, saya mengajak teman-teman untuk latihan menulis agar lebih efisien menggunakan kata-kata dan membentuk kalimat.

Nah, sekarang saya akan share beberapa macam latihan menulis yang tujuannya untuk membuat tulisanmu lebih powerful.

Seperti apa sih tulisan yang powerful?

Lagi-lagi berdasarkan pengamatan sana-sini (jadi silakan koreksi jika saya salah), tulisan itu powerful, dalam arti kuat dan berkarakter jika memenuhi syarat:

  • Orisinal, jujur, apa adanya
  • Dituturkan secara khas
  • Kreatif dan out of the box
  • Efisien
  • Penuh emosi tapi tidak emosional
  • Storytelling

Wah! Persyaratan kelas berat!
Tenang.

Masing-masing elemen tersebut bisa kita latih kok. Dan, nggak semuanya mesti dilatih sekaligus. Kamu bisa mencoba latihannya satu per satu. Pokoknya intinya, setiap hari latihlah setidaknya satu elemen di atas. Dengan demikian, seiring waktu, akan terbentuklah tulisan yang powerful dengan gayamu sendiri.

Iya, saya sudah mempraktikkannya.

Begini cara melatihnya.



Beberapa Jenis Latihan Menulis untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful


1. Latihan Menulis dengan Jujur




Sebagian orang bilang, saya kalau nulis to the point. Langsung, kadang terasa nyinyir dan sering bernada menyindir. Ada yang bilang lagi, saya kalau nulis cabenya banyak. Malah ada yang bilang, tulisan saya kasar.

HAHAHA.

Saya nggak pernah nyinyir padahal. Saya juga nggak pernah bermaksud menyindir (kalau ada yang kerasa, ya syukur. #eh) Cabai banyak? Enak kan? Pedes. Kasar? Ah, biasa saja.

Satu hal yang pasti: saya cuma berusaha jujur.

Itu dia. Dan memang, nggak semua orang kuat dengan kejujuran #tsah
Tapi tulisan yang jujur itu biasanya membawa nyawa. Ada nyawa terselip di dalamnya, ketimbang tulisan yang terasa di-hold back karena berbagai alasan.

Nah, mau latihan menulis dengan jujur?
Bisa. Ada caranya.
  • Coba pikirkan satu orang yang pernah menyakitimu. Lalu tulis surat untuknya. Keluarkan semua yang menjadi ganjalan di hatimu. Semua. Take your time, nggak perlu buru-buru. Saat selesai, kamu pasti akan menemukan satu tulisan yang sangat jujur. Untuk latihan pertama ini, pasti akan terasa lebih mudah kan? Iya dong. Kalau sudah gape di latihan pertama, lanjut ke latihan kedua berikut.
  • Coba pikirkan satu orang sahabatmu yang paling dekat. Atau boleh juga pacar. Atau suami or istri. Sudah pasti banyak kebaikan yang pengin kamu ungkapkan kan? Etapi bentar. Bukan itu yang harus ditulis. Tulislah hal-hal yang sebenarnya kamu kurang suka dari mereka. Entah dari cara mereka melakukan sesuatu, atau cara mereka berinteraksi denganmu. Nah. Di latihan kedua ini, sekali lagi, tulislah semua apa adanya. Namun, kamu harus memikirkan dari dua sudut yang berbeda juga. Bagaimana agar kekurangannya ini tetap terasa manis dibacanya.
Nah, dua jenis surat sudah tertulis.
Mau disampaikan pada orangnya? Silakan.
Hahaha.

Selamat, kamu sudah melakukan latihan menulis dengan jujur.




2. Latihan Menulis dengan Gaya yang Khas




Ternyata, tak semua orang bisa memunculkan kekhasan pribadinya dalam sebuah tulisan. Dalam artikel blog mengenai ciri khas lifestyle blog yang lalu, saya pernah kasih contoh beberapa orang bloger yang memang sudah punya gaya khas dari sononya. Boleh diintip, kalau ada yang belum baca ya :)

Memang, ada orang yang sudah sangat khas sekali gaya menulisnya, dari sononya. 
Tapi, ada yang gaya tulisannya biasa saja, sampai-sampai ketika kita sudah menutup blognya, kita sudah langsung lupa lagi aja gitu dengan nama blog yang barusan kita kunjungi itu. Saking nggak berkesannya.

Sedih. Tapi justru, yang terakhir ini yang banyak terjadi.

Saya sendiri pernah dibilang begini.
Saat saya menulis di tempat lain, tulisan saya terasa seperti "penulis yang sedang bekerja untuk memenuhi tugasnya". Sedangkan, ketika saya menulis di blog pribadi, lebih terasa seperti teman akrab.

Yaeyalah. Nulis di tempat lain kan saya nggak boleh merepresentasikan diri sendiri. Saya harus menjadi "suara" dari web di mana tulisan saya muncul tah? Hahaha. Beda sama di blog.

Saya anggap itu sebagai "pengakuan" kecil, bahwa personality saya berhasil saya bangun di blog ini.

Kamu juga bisa begitu.
Saya dulu melatihnya dengan cara: Amati, Tiru, dan Modifikasi.

Ha, pasti sudah pernah dengar istilah ini ya? Kamu bisa baca juga artikel soal keidean ini.

Saya dulu punya teman yang saya suka banget gaya menulisnya. Saya pengin bisa menulis seperti itu. Akhirnya, saya tulis ulang tulisan dia, dengan modifikasi sana-sini.





Begitulah saya. Kalau sudah jatuh cinta pada karya seseorang, maka saya pun akan memburu karyanya yang lain sampai lengkap. . Ini adalah buku-buku @agusnoor_ Kesemuanya buku kumpulan cerpen dan puisi. Rasanya sih sudah lengkap. Entahlah. Saya belum ngecek lagi di Goodreads, atau ngecek apakah ada buku yang tercecer di bagian lain dalam rumah 😂. . . Lagi pengin nyusun ulang rak buku. Karena toko buku online-nya mau saya udahin aja. Kalaupun ada buku yang mau saya lepas, akan saya lepas sebagai book swap atau donasi aja. Nggak diperjualbelikan. Demi cita-cita mewujudkan punya Cafe Buku, sebuah kafe sekaligus taman bacaan sastra #CarraCafeBuku2025 😂 aminkan! . sekalian susun ulang, sekalian pamer. Siapa tahu ada yg kasih info untuk melengkapi koleksi. #bookaddict #bookstagram #book #books #booklover #bookworm #books #buku #literature #literasi #sastra #flatlay #flatlays
A post shared by Carolina Ratri's (@carra.artworks) on


Saya mengagumi Agus Noor. Saya sukak pake banget gaya menulis Agus Noor. Saya tahu, Agus Noor adalah "murid" Seno Gumira Ajidarma, sang empu. Tapi, entah kenapa, saya nggak berminat meng-copycat SGA, tapi saya justru lebih tertarik meng-copycat ke Agus Noor.

Maka, ada beberapa fiksimini, flashfiction, dan cerpen Agus Noor saya copycat--lebih tepatnya saya amati, tiru, dan modifikasi--hingga menjadi fiksimini, flashfiction, dan cerpen yang baru. Ending saya ganti, tokoh saya ganti, atau plot cerita saya geser sedikit. Tapi gaya bahasa benar-benar saya tiru habis.

Nah. Kamu juga bisa melakukan hal yang sama.
Coba ambil satu tulisan penulis idolamu, yang punya gaya tulis yang sangat khas, yang pengin kamu tiru dan kembangkan.

Lalu jiplak tulisannya persis. Lalu ubah di beberapa bagian. Setelah selesai, ambil jeda untuk diendapkan. Kembalilah nanti, untuk kemudian menulisnya ulang.
Lakukan ini berulang kali, hingga tak ada lagi bekas-bekas jiplakan kata. Yang masih tinggal adalah gayanya.

Tenang, cara menjiplak ini hanya sebagai latihan. Tulisannya tak harus kamu publish, kalau kamu takut dibilang plagiat. Cara ini adalah cara untuk melatih kita menulis dengan menyerap gaya dari penulis favoritmu.

Jika latihan ini bisa rutin kamu lakukan, di alam bawah sadarmu akan terbentuk sebuah ciri khas baru. Kombinasi antara gaya penulis idolamu dengan gayamu sendiri. Percaya deh. Hasilnya nanti lama kelamaan akan berbeda, tapi gayamu jadi lebih khas lagi seperti penulis idolamu itu.




3. Latihan Menulis agar Kreatif dan Out of The Box



Soal kreatif dan berpikiran out of the box ini juga bukan bakat lo. Tapi bisa dilatih.
Prinsipnya adalah kita harus berpikir dengan cara yang berbeda, dari kacamata yang lain dari biasanya atau yang biasa orang lain pakai.

Dan ini tuh bisa dilatih. Nggak perlu waktu yang lama juga ngelatihnya, asal ada niat dan mau, sertta mau sering-sering praktik.

Caranya:
Ambil satu benda, atau objek apalah terserah. Saya ambil misalnya iPad.
Lalu coba bertanya pada diri sendiri, apa sih fungsi iPad?
Kalau orang lain mungkin akan menjawab, iPad ya sebagai gadget; buat browsing, buat bikin ina inu, buat ngeblog, buat nonton Youtube, buat main games, dan seterusnya.

Tapi coba pikir dengan cara berbeda.
iPad bisa saja menjadi talenan, alas buat ngiris bawang bagi #horangkayah. Bisa kan? Bisa dong. Horangkayah ini. Dari titik mula ini, tuliskan lanjutan ceritamu mengenai iPad sebagai talenan, alas ngiris bawang. Lalu, kalau iPad jadi talenan, piring makan horangkayah itu apa ya? 
Jadi semacam obrolan #CrazyRichSurabayan dll kemarin di media sosial itu loh.

Seru kan?



Saya pernah mendapat ide menulis saat melamun dan kebetulan mata saya tertumbuk pada sebuah snow globe. Tahu kan, snow globe? Itu loh, bola kaca yang dalemnya biasanya diisi cairan dan salju-saljuan. Terus biasanya ada rumah kecil dan pohon-pohon kecilnya. Snow globe ini kalau diputar-balikkan gitu terus kayak rumahnya hujan salju, gitu. Pernah liat kan?

Nah, saya membayangkan, bahwa ada entity atau makhluk yang benar-benar hidup dan tinggal di dalam rumah kecil di dalam snow globe itu. Saya kembangkan ini jadi sebuah flashfiction.

Latihan menulis out of the box ini tak hanya kepakai kalau kita menulis fiksi saja nanti. Bahkan menulis tip dan howto, latihan menulis out of the box ini bisa banget membuat tulisan jadi lebih powerful dan memorable.



***

Nah, sebenarnya masih ada 3 jenis latihan menulis lagi yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan tulisan yang powerful. 
Tapi ini sudah 1300 kata. Jadi lebih baik saya sambung saja di artikel depan ya. Biar nggak kepanjangan :)

Jadi, sampai ketemu di Beberapa Jenis Latihan Menulis yang Bisa Dilakukan untuk Menghasilkan Tulisan yang Powerful - Part 2 ya :)


Setelah kemarin saya mengganti Yoast SEO di blog Wordpress self hosted saya dengan Rank Math, makin keliatan deh bahwa optimasi image ini punya poin yang cukup gede dalam optimasi mesin pencari--alias SEO.

Kalau hal ini diabaikan, poinnya turunnya lumayan banget.

So, kali ini mau sharing soal optimasi image, apa saja langkahnya dan apa saja yang mesti diketahui serta diperhatikan saat kita ngulik image untuk blog atau web pada umumnya.


Tentang Optimasi Image

Jadi, menurut State of Web report yang ada di httparchive, image--yang bisa berupa foto, infografis, atau apa pun itu--takes up more than half dari keseluruhan "berat" halaman web.

Yes, lebih dari setengahnya. Ini yang harus dicatat.

Makanya, kalau kita lagi ngetes page speed, baik itu yang pakai tools-nya Google, atau pakai Pingdom, atau tool lainnya, kalau web kita ternyata lola selalu akhirnya dikasih saran, untuk me-reduce size images dengan cara mengompresnya.

Ya, kamu tahu sendirilah, bahwa loading time itu ngaruh banget dalam SEO, karena berperan dalam user experience. Kalau visitor datang ke web atau blog kita, dan ternyata blognya lola cuma karena imagenya yang berat, ya ...



Kenapa?

  1. Menunggu itu berat, gaes. Seberat rindu.
  2. Ya loading image itu kan pake kuota juga ya, cyint. Apa kabar para fakir kuota sobat misqueen, huh?
  3. Hosting web atau blog kamu sendiri nih, bakalan cepet habis kalau itu image gede-gede. Kalau habis, kamu mesti upgrade space yang mana makin gede makin mehong! Padahal duit setoran Adsense belum bisa ditarik pan? #eh


So ya gitu deh.
Jangan abaikan soal compressing image ini ya.

Jadi, mari kita lihat apa saja yang perlu diperhatikan ya, gaes.


5 Hal yang Perlu Kamu Tahu untuk Optimasi Image dalam rangka Memperingan Loading Blog

1. JPEG/JPG vs PNG vs GIF

Kamu kenal berapa tipe file image?

Sebenarnya tipe file image ini ada buanyak banget! Hanya saja, masing-masing ada ada peruntukannya sendiri-sendiri. Ada yang dipake buat nyetak dalam bentuk hard copy, ada yang dipake para desainer grafis lantaran resolusinya yang tinggi, ada yang cocok untuk keperluan online (termasuk di dalamnya blog) karena ukurannya kecil sehingga lebih ringan.

Mari kita kenalan dengan beberapa tipe file image yang sering dipake di dunia online. Ini penting, supaya kamu tahu bedanya, sehingga kamu tahu mana yang seharusnya dipakai.

  • JPEG/JPG: tipe file image ini yang paling banyak atau populer. Range kualitasnya cukup lebar secara teknis, mulai dari low qualities (biasanua sih paling minim resolusi 72dpi untuk diupload) hingga yang high qualities (batas maksimal biasanya 300 dpi). Tipe file ini adalah yang paling sempurna untuk "dikonsumsi" secara online.
  • PNG: tipe file image ini lebih "berat" ketimbang JPEG atau JPG. Biasanya dipakai karena butuh background transparan yang memang disupport oleh tipe file ini. Yang pakai tipe file ini biasanya adalah logo atau header. Nah, untuk foto sebaiknya hindari penggunaan tipe file ini. Karena bakalan berat beud. Untuk infografis juga demikian. Pokoknya kalau nggak butuh bekgron transparan, jangan pakai tipe file ini ya.
  • GIF: tipe file ini biasanya dipakai buat animasi-animasi kecil. Biasanya sih meme-meme itu deh. Sudah pada tahulah pasti. Biasanya GIF ini juga lebih berat ketimbang JPEG, karena ya si animasi itu. Makanya, kalau mau pakai GIF ya nggak usah kebanyakanlah di satu postingan. Satu dua aja udah cukup. Itu juga pilih yang ukurannya kecil aja.



2. CMYK vs RGB

CMYK adalah singkatan dari cyan, magenta, yellow, and key (black), pigmen yang digunakan dalam cartridge tinta untuk membentuk spektrum full color. Dalam produk cetak, kombinasi keempat warna ini membantu membentuk gambar yang lebih berkualitas yang mempunyai spektrum warna yang kompleks.

Tapi, komputer punya "standar" berbeda dengan mesin cetak. Komputer menganut mazhab RGB, yang merupakan kependekan dari red, green, and blue--yang merupakan spektrum warna yang ideal untuk dilihat di screen.

Setiap piksel gambar di layar komputer atau ponsel kamu merupakan sumber cahaya, dan memproyeksikan kombinasi warna primer untuk membentuk berkas cahaya terakhir. Singkatnya, RGB inilah yang seharusnya menjadi tipe spektrum warna untuk optimasi gambar online.

Supaya lebih jelas, coba perhatikan gambar berikut.



Yang kanan, adalah spektrum warna CMYK--yang biasa dipakai di mesin cetak. Sedangkan yang kiri adalah spektrum warna RGB--untuk konsumsi monitor laptop dan ponsel. Beda banget kan? Padahal kalau yang CMYK nanti dicetak, hasilnya kurang lebih sama dengan yang RGB.

Saya bilang kurang lebih, karena ya bisa sama persis bisa enggak. Tergantung settingan, baik settingan mesin cetak maupun settingan monitor. Bahkan satu merek monitor bisa saja berbeda penampakan dengan settingan merek monitor yang lain, meski parameternya disamain.

Rumit ya? Iya, makanya sering ada perbedaan kalau kita lagi bikin artwork yang akan dicetak--buku termasuk--begitu dicetak, loh, warnanya kok beda? Ya itu dia penyebabnya.

Nah, ini malah jadi melebar ke soal cetak mencetak deh :)) Tapi enggak apa-apa, biar tahu dasarnya yah.

Jadi intinya, pastikan spektrum warna yang digunakan adalah RGB. Biasanya sih settingan kamera sudah sama dengan settingan monitor laptop dan ponsel, jadi nggak perlu diulik lagi. Cuma nanti kalau misal kamu menemukan ada perbedaan warna seperti di atas, kamu tahu. Oh, mungkin ini pakai spektrum warna CMYK.

FYI, karena lebih kompleks spektrumnya, sudah pasti CMYK akan lebih berat loading-nya.

Lanjut!


3. Resize sesuai lebar frame

Nah, kebanyakan pasti pada nggak pernah tahu berapa ukuran image yang paling pas untuk blog masing-masing kan ya? Sehingga akhirnya image yang dipakai tuh adalah yang punya ukuran gede, biar aman. Nggak pecah-pecah.

Ini nggak salah sih.
Tapi perlu kamu tahu juga, bahwa seberapa pun lebar image yang dipakai akan secara otomatis diperkecil oleh platform blog. Jadi buat apa pakai image yang terlalu besar? Mubazir, dan malah bikin blog kamu tambah berat.

Nah, yang jadi pertanyaan adalah, "Buat image di blog itu pasnya ukurannya berapa sih?"
Pertanyaan ini sering banget saya dapatkan.

Terus terang, saya enggak tahu.
Karena, setiap blog itu punya ukuran pasnya sendiri-sendiri tergantung template yang dipakai.

Lha, kalau gitu gimana cara tau ukuran pasnya?
Ada beberapa cara:

Cara 1. Pakai Photoshop

Kalau kamu terbiasa pakai Photoshop, kamu bisa pencet tombol print screen yang ada di keyboard laptop atau PC, lalu buka PS > New ...



Nanti kan akan kebuka popup untuk bikin artwork baru. OK. Saat sudah ada new file-nya, lalu ctrl V. Maka yang kamu print screen tadi akan terkopas di file PSD yang baru itu.

Krop-lah sesuai frame lebar tulisan. Kalau sudah baru deh diliat berapa ukurannya di Image Size.







Cara 2. Pakai Addon di browser

Ada Addon di Mozilla Firefox yang namanya Measure-It. Tambahkan ke browser Mozilla Firefox kamu. Seharusnya sih, di Chrome juga ada, karena addons ini cukup populer. Silakan cari di webstore-nya ya. Addon ini gratis.






Nah, ambil aja berarti ukuran 730 px untuk lebar. Untuk tingginya biasanya menyesuaikan sih. Saya biasanya pakai 4:3. Jadi untuk 730 px, tingginya untuk perbandingan itu berarti sekitar 500 px. Ini maksimal. Lebih pendek sih oke juga. Kalau tinggi, nggak usah dipermasalahkan pada intinya.

Jadi, yang dipakai satuan ukurannya adalah pixel ya, bukan centimeter. Inget nih. Karena kita akan pakai di monitor, bukan jadi produk cetak. Jadi ukuran standarnya pakai pixel.

So, berapa pun image yang akan dipakai, pastikan lebarnya 730 px. Ini di blog saya ini. Blog kamu beda lagi. Silakan diukur lebar frame kontennya, tidak termasuk sidebar ya. Supaya pas.

Kalau sudah diukur, selanjutnya kan gampang dijadikan standar.


4. Kompres supaya lebih ringkas lagi

Apanya yang ringkas? Ya, data file image-nya.
Dengan dikompres, data-data yang nggak terpakai akan disingkirkan. Sehingga file image kamu akan lebih ramping lagi.

Kalau di Wordpress ada pluginsnya. Ada beberapa sih, di antaranya WP Smush, EWWW Image Optimizer, CW Image Optimizer, dan lain-lain.

Kalau nggak mau nambah plugins, atau buat kamu yang ngeblog di Blogspot, bisa pakai TinyPNG.


5. Lengkapi SEO Onpage

Yang terakhir, jangan lupa lengkapi SEO Onpage. Meliputi:
  • Ganti nama file yang sesuai dengan keywords artikel.
  • Lengkapi alt image attributes, isi dengan keywords utama
  • Lengkapi dengan kredit jika kamu ambil dari source lain.



Gitu deh, langkah-langkah optimasi image agar nggak bikin blog kita berat.
Nah, kalau ukuran images untuk digunakan di media sosial sih, saya pernah kasih di blog ini. Silakan dilihat kalau ada yang kelewat.

Rumit ya?
Iya, siapa bilang ngeblog gampang? :))


Ada yang tertarik menerjuni profesi sebagai penulis konten?

Kalau ada, well, artikel ini bukan saya tulis untuk menakut-nakuti ya. Hanya saja saya mau share apa saja yang pernah saya alami sejak kira-kira 8 tahun yang lalu mulai merintis profesi penulis lepas.

Menulis menjadi "pekerjaan" saya tahun 2010, saat saya sedang butuh duit banget. Ya, saya kerja kantoran sih. Tapi kala itu saya benar-benar berada di situasi yang sangat sulit. Dan, all I can do is writing. Saya sudah mencoba jualan, dagang ini itu, nggak ada yang berhasil.

Maka, menulis menjadi alternatif terakhir saya. Padahal saya tahu, dan sering dengar, bahwa profesi penulis itu nggak bisa buat hidup.

Tapi ternyata perjalanan membawa saya ke arah yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Dibuka dengan tawaran untuk menjadi salah satu buzzer untuk platform mamah-mamah muda, yang websitenya dikelola oleh satu merek susu formula anak. Saya bertugas menulis konten berupa artikel dan menjadi buzzer dengan KPI memasukkan traffic ke website tersebut sebanyak-banyaknya.

Saya masih cupu, hingga saya melakukan satu kesalahan. Maka, kontrak saya diputus. Memang saya yang salah. Tapi dari job tersebut, terbuka beberapa kesempatan lain. Saya merasakan dibayar dengan fee yang macem-macem banget, mulai dari Rp5.000/artikel sampai jutaan per artikel.

Hah? Menerima job nulis seharga 5rebu?

Iya. Percayalah, seberapa pun harga tulisan saya, semua saya syukuri. Selalu ada yang bisa saya dapatkan dari menulis. Karena itu pula, saya mencoba tak pernah menghujat para penulis yang main ambil aja job-job yang berharga murah. Karena, ya siapa tahu kondisinya?

Saat sulit, duit 5rebu itu berharga banget, cyint. Percaya deh. Apalagi saat yang bisa kita lakukan itu cuma nulis.

Anyway.
Semua job menulis yang saya dapatkan akhirnya sambung menyambung, hingga sekarang. Rasanya rezeki itu tak pernah putus, dan kesemuanya dari hasil saya menulis konten.

Mulai dari mengisi blog pariwisata yang dibayar dolar, ngisi artikel di web beberapa penerbit buku--sampai dikirimi beberapa buku untuk saya baca dan saya ulas--sampai kemudian saya dipercaya untuk mengelola portal untuk pembaca mamah-mamah muda. Hingga sekarang dipercaya mengelola konten web kesehatan milik salah satu universitas tertua di Indonesia, dan yang akan datang: mengisi konten untuk website dan media sosial sebuah perusahaan perencanaan keuangan.

Ternyata tahun ini sudah tahun ke-8 saya mengklaim diri saya sendiri sebagai penulis konten.

Menjadi penulis konten jangan dibayangkan yang enak-enak saja. Yang saya sebutkan di atas, memang adalah hasil yang didapat. Tapi saat menjalaninya, nggak ada yang tahu betapa saya jumpalitan untuk memenuhi target.

Memangnya, apa saja yang sih yang dikerjakan? Well, ya banyak sih. Karena rata-rata, target harian saya adalah menulis dan mengolah sedikitnya 5 artikel, masih belum termasuk konten media sosial.


Dan inilah beberapa hal yang harus saya lakukan setiap hari, sejak saya menekuni profesi saya sebagai penulis konten.


1. Rajin baca

Nggak ada orang yang benar-benar menguasai semua topik. Begitu juga saya. Tapi, sebagai penulis konten--apalagi kalau saya harus "mewakili" citra web klien--maka saya harus bisa seolah-olah saya menguasai topik yang dibahas dalam web tersebut.

Contoh. Saya sedang menangani konten web kesehatan--yang harapannya bisa menyusul kesuksesan Alodokter dan HelloSehat. Tapi tahu apa saya soal kesehatan? Palingan ya bisanya cuma ngasih artikel tentang jenis-jenis olahraga yang bisa dilakukan di rumah.

Tapi untuk web ini, saya nggak bisa cuma ngasih artikel jenis portal kayak gitu kan? Makanya mesti banyak baca.

Saat kita sudah memutuskan untuk menjadi seorang pekerja penulis konten komersial dan profesional, kita mau nggak mau mesti bisa belajar segala hal dengan cepat. Para penyewa jasa penulis konten itu kan nggak akan pilih-pilih topik yang sesuai dengan keahlian kita kan? Mereka akan pesan konten yang mereka butuhkan.

So, mau menjadi seorang penulis yang sukses? Maka harus rajin membaca. Harus rajin memperluas wawasan. Harus serba tahu. Mungkin harus tahu dari mulai gosip artis sampai soal politik.

Percaya deh, jika kita memilih-milih topik yang ingin kita tulis, maka kita akan kalah bersaing dengan yang lain.


2. Belajar berbagai gaya dan teknik penulisan

Ada beberapa gaya penulisan yang minimal harus kita pahami, jika ingin menjadi seorang penulis konten profesional dan komersial:

  • News writing: gaya menulis untuk berita aktual
  • Copywriting: gaya menulis untuk iklan atau advertorial
  • Personal writing: yang ini kayak di blog kurang lebih. Jadi ada rasa personal si penulis. Mungkin ada pengalaman atau opini pribadi penulis yang juga diungkapkan. Nah, ini dipelajari saat kita harus menjadi ghost writer bagi orang lain.
  • In-depth writing: biasanya ini untuk menganalisis suatu masalah atau topik secara mendalam, ada data, ada penjabaran masalah, penyebab, sampai solusi.

Bagaimana caranya mempelajari semua gaya menulis itu? Praktik dan latihan terus.

Saat sedang membaca sesuatu, amati gaya penulisannya. Catat hal-hal yang berkaitan dengan teknik menulisnya. Lalu, praktikkan di blog.

Makanya saya ternak blog :)) Buat latihan.


3. Nggak boleh males riset

Untuk menulis satu topik, hanya bereferensikan satu artikel saja nggak cukup. Kita harus banget mencari banyak referensi lain untuk bisa mendukung tulisan kita.

Saya sendiri biasanya akan mencari 3 - 5 artikel lain sebagai bahan riset. Kadang kejadian juga sih, sudah baca 3 artikel, tiba-tiba saja angle penulisan jadi berubah gara-gara ada hal yang ditemukan saat riset tersebut.

Selain baca, kalau memang ada yang bisa ditanyai, ya mesti berani nanya.

Sering juga sih, udah niat nulis, riset sana sini, bingung, pusing. Terus mandeg. Writer’s block.

Biasa banget mah itu. Jangan tanya deh gimana cara saya mengatasinya. Karena tergantung penyebab writer’s block-nya juga.


4. Harus bisa menyesuaikan diri dengan cepat

Saat kita menulis di blog, bisa saja kita suka-suka. Mau nulis alay juga terserah saja.

Tapi, ketika kita menjadi seorang penulis konten, kita harus bisa menulis sesuai dengan pesanan. Mau pakai bahasa gaulkah? Atau bahasa formal? Harus sesuai EBI-kah? Bahasa SEO friendly pun beda lagi. Karena kadang kita sudah pakai istilah yang sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia, eh ternyata, nggak ada yang nyari kata tersebut di search engine.

Jadi, kita memang harus bisa fleksibel, menyesuaikan diri dengan pesanan klien. Harus mau berubah-ubah “kepribadian” dalam menulis.


5. Belajar setiap hari

Zaman sekarang, seorang penulis konten nggak cuma nulis doang.

Kita mesti pinter-pinter menyisipkan kata kunci seperti yang diminta oleh klien. Atau harus bisa mewakili “suara” si brand-nya, jika kita diminta untuk copywriting produk brand tersebut. Atau harus tahu ke mana mencari data, jika kita diminta menulis in-depth article mengenai satu masalah.

Syukur-syukur bisa bikin infografis juga.

Nah, kalau mau ke arah konten media sosial lebih banyak lagi yang mesti diulik. Mulai dari foto, bikin banner, video, endebre endebre ... Hvft. Mesti update terus deh, apa yang lagi rame. Terus coba bikin juga. FOMO banget dah kalau jadi pembuat konten di medsos mah. Hahaha. Hedeeehhh ....
*curcol yang kebablasan*


6. Siap bekerja rata-rata 15 jam setiap hari

Jadi, berapa rata-rata jam kerja orang kantoran? 7 jam atau 8 jam. Terakhir saya dengar, standarnya 40 jam/minggu. Ini standar dari pemerintah,

Tapi pekerjaan seorang freelancer--utamanya seorang penulis konten--itu beda. Nggak seperti kebanyakan pekerja kantoran, target seorang freelancer itu lebih ketat. Sama-sama mendapatkan target, kalau perusahaan biasanya targetnya bisa dibagi dalam tim. Kalau freelancer, target ditanggung sendiri. Risiko juga ditanggung sendiri.

Begitu pun seorang penulis konten.

Ingat cerita saya yang menerima job nulis 5000/artikel di atas ya? Tapi itu kan hanya 1 artikel sehari. Rerata penulis konten profesional bisa menulis 7 - 10 artikel setiap hari. Jadi, bisa dihitung kan ya? Kalau dalam sebulan pengeluarannya 2 juta, misal. Berapa banyak ia harus menerima job?

Ya lepas dari kualitas tulisannya sih. Namanya kepepet, kita nggak bisa begitu saja menyalahkan orang. Tapi, biasanya sih yang terjadi, begitu jam terbangnya tinggi, seorang penulis konten juga bisa sedikit-sedikit menaikkan fee-nya.

Jadi, ketimbang menghujat para penulis yang rela menulis dengan harga murah, mbokyao, ditolongin, gimana caranya biar dapat jam terbang yang semakin tinggi ;)
Lagian, yang kita anggap recehan, bisa jadi rezeki nomplok buat orang lain lo ;)

So, memang. Harus rela bekerja keras. Nerima job juga nggak bisa cuma 1 jenis job doang. Mesti nerima kerja paketan :))


Nah, itu dia beberapa hal yang harus selalu saya lakukan setiap hari sebagai penulis konten.

Masih berminat menjadi seorang penulis konten? Good luck then. Harus siap untuk selalu kerja keras ya, karena kalau cuma setengah-setengah, ya sama saja dengan pekerjaan lain. Nggak bisa buat hidup. Hehehe.


Sore itu, kami ber-30++ diajak ke Tebing Breksi. Katanya sih di situlah lokasi kami akan belajar membuat film.

Hmmm. Menarique. Tebing Breksi ini tadinya merupakan lokasi tambang batu alam. Sekarang Tebing Breksi merupakan salah satu objek wisata paling hits dan instagrammable. Lokasinya ada di wilayah Kabupaten Sleman, lebih tepatnya di desa Sambirejo, Prambanan. Iya, memang Tebing Breksi ini berada di dekat Candi Prambanan dan Candi Boko.


Mari Kita ke Tebing Breksi


Sesampainya di sana, tanpa banyak basa-basi, kami diminta untuk segera membuat film ala kami sendiri--dengan berbekal pengetahuan yang nggak ada. Hahaha. Lahiya, sebagian besar kan memang bloger, dan sepertinya sih pada umumnya bloger itu biasanya mereka belajar membuat sesuatu secara otodidak. Cuma dari hasil liat, amati, terus ulik sendiri.

Iya nggak sih? Atau, saya aja yang gitu? :))

Anyway, singkat cerita, saya punya kelompok untuk membuat film ala-ala ini. Sama Mbak Indah Juli, Mbak Siti Hairul, dan Mbak Arry Wastuti.

Singkat cerita lagi, inilah film kami. :))




Jadi, postingan kali ini OOT 😂 Nggak bisa deh nggak diposting ini mah. Kemarin kita sempat ke Tebing Breksi, di hari kedua event Sapa Sahabat Keluarga @sahabatkeluargakemdikbud Oleh mentor kami, @ibalibam, kami pun diminta utk bikin video dengan tema BEBAS. So, tanpa ada ilmu apa pun, Mamak yg bisanya cuma bikin video sketsa ini pun menawarkan konsep ke timnya. Ndilalah kok ya diterima. Embuh karena memang pada suka, ataukah Mbak @indahjuli Mbak @arrywastuti sama Mbak @siti_hairul ini cuma manut aja biar si Mamak diem ga ngomel gitu. Bahaha. Dan, jadilah video ini. Semua dibikin di tempat, saat itu juga. Termasuk editing. Makanya noise and goncangan tangan juga warbiyasak. Tapi Mamak ga bisa berenti nontonnya. Selalu ngekek 😂😂😂 On blog soon: how to write essay and how to make a movie! #sapasahabatkeluargayogya #sapasahabatkeluarga #sahabatkeluarga #kemendikbud #keluargahebat #keluargaterlibat
A post shared by Carolina Ratri's (@carra.artworks) on

Ngeliat hasilnya, saya langsung bisa melihat banyak beud permasalahan:
  • Tangan saya yang tremor langsung aja keliatan :)) Kameranya berguncang-guncang bak kena tsunami. Apalagi di scene terakhir. Harusnya itu saya pake foto aja kek opening.
  • Angin yang menderu-deru ganas menutup suara para talents cantik yang sudah berusaha keras tampil keren di video.
Sampai di sini, saya sudah ngedrop. Jiwa perfeksionis saya menggeliat, terluka. Halah.

Tapi lantaran sudah kecapekan (dan lapar), saya teruskan saja eksekusi videonya. Ternyata, teman-teman setim saya nggak masalah. Iya, mereka tau audionya geblek, pengambilan gambarnya bapuk.

Tapi ya sudahlah. Malah bisa dijadikan bahasan kali besok kalau pas dievaluasi. Kita mungkin bisa mendapatkan trik-trik baru malahan kan? *minta dipukpuk*


Bagaimana sih Cara Membuat Film?

Keesokan harinya, barulah kami mendapatkan teori membuat film yang beneran oleh Muhamad Iqbal, sang manajer produksi di Film Maker Muslim. Nah, kalau kamu pernah nonton film pendek Cinta Subuh, ya inilah mereka yang bikin :))

So, buat kamu yang pengin juga membuat film atau video sebagai pendukung blog, atau sebagai konten di media sosial, saya akan kasih oleh-oleh sedikit nih. Lanjutan oleh-oleh dari Workshop Content Creator Sapa Sahabat Keluarga soal menulis esai yang lalu.

Catatan berikut ini hanya secara garis besar saja, karena proses pembuatan film itu *jelas* rumit. Tapi, ya kek kita belajar SEO-lah. Mulailah dari tahapan yang paling gampang dulu. Seiring waktu, kita tambah pengetahuan dan mulai meningkatkan skill, coba untuk membuat film kita lebih baik lagi. Betul nggak?

So, berikut adalah tahapan yang harus kamu lalui untuk membuat film (yang bagus)


Muhamad Iqbal - Manajer Produksi sekaligus Marketing Film Maker Muslim.

1. Persiapan - Brainstorming ide

Semua memang berawal dari ide. Mau bikin apa pun, akarnya selalu dari ide. Jadi, pastikan kamu punya ide yang layak dieksekusi dulu. Nggak harus selalu bagus dan cetar sih. Misal pun idenya biasa aja, kalau kamu eksekusinya bagus,  hasilnya nggak akan bohong.

Tapi, sembari mengolah idemu, coba tanyakan dulu beberapa pertanyaan berikut. Karena ini ternyata penting banget, dan bisa memengaruhi pengambilan keputusan ide seperti apa yang akan dieksekusi. Pertanyaannya adalah:
  • Untuk apa sih film kamu ini mau dibikin?
  • Pesan apa yang ingin disampaikan pada penonton?
  • Siapa yang akan menonton?
  • Bagaimana cara menyampaikan agar pesannya sampai ke penonton?
Well, pertanyaannya kurang lebih sama sih dengan kalau kita mau menulis artikel kan ya? Ini bakalan menentukan banget bagaimana presentasi kita nantinya.

Kalau ide sudah ada, dan sudah bisa menjawab semua pertanyaan di atas, langsung ke langkah kedua.


2. Budgeting

Well, ya yang ini beda sih dengan menulis artikel mah. Sepertinya ini juga bakalan beda bagi bloger juga sih. Budgeting yang dikasih sama Iqbal ini keknya lebih ke para pembuat film profesional.

Tapi ya enggak masalahlah. Siapa tahu kamu-kamu juga pengin menjadi pembuat film pro kan, kek Film Maker Muslim?

So, dari mana bujet untuk membuat film ini bisa didapatkan?

  • Patungan antara para kru. Nah, ini bisa banget emang buat memulai. Patungan, punyanya berapa, dikumpulin. Hahaha. Anak kos banget kalau mau makan gofood yah? :P
  • Donatur, barangkali orang tua mau kasih donasi?
  • Investor
  • Sponsor, yang ini nggak melulu berupa uang. Bisa juga peralatan, wardrobe, atau mungkin katering?
  • Tiket pre-sale. Tapi kalau yang ini keknya kita mesti udah gede dulu sih ya, terus bikin acara nobar gitu. Mesti istimewa sih.
Nah, kenapa mesti ada budgeting di awal produksi? Karena biasanya akan ada biaya-biaya untuk membuat film, di antaranya untuk:
  • Makan. Kalau nggak mau ada biaya makan, ya syutingnya jangan pas makan siang. Yakali.
  • Operasional
  • Fee kru dan talents. Kalau mau ngirit di bagian ini ya, krunya sendiri aja terus talentsnya anak-anak sendiri juga. *dasar mamak pengeksploitasi anak di bawah umur!*
  • Sewa alat, kalau kita nggak punya alat syuting yang memenuhi syarat. Eh tapi Cinta Subuh itu aja syutingnya pake kamera Canon EOS (serinya lupa, kemarin dikasih tahu juga). Ya mungkin kalau mesti ada tambahan lighting ya. Kalau mau ngirit ya, syutingnya siang aja sih. Hahaha.
  • Lokasi. Nah, ini misal kalau kita mau syuting di Tebing Breksi kan ada tiket masuk tuh. Nah, itu dimasukkan juga ke budgeting. Ssst, kadang di lokasi kita juga ada jatah preman lo, jangan salah. Yah, Indonesia gitu. Selalu ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan.
  • Art, makeup, dan wardrobe. Ini jelas harus dibikin bujetnya ya. Apalagi kalau butuh yang khusus.

3. Pra Produksi

Nah, tadi sih kita sudah melalui tahapan persiapan memang. Tapi saat akan produksi kita juga butuh proses lagi nih. Prosesnya meliputi:
  • Pembuatan skenario. Well, penulisan skenario memang berbeda dengan menulis artikel biasa yah. Jadi, kalau mau dikerjain sendiri, ya mesti belajar dulu teorinya nih.
  • Casting, untuk memilih talents yang akan berperan dalam film kita.
  • Reading, pembacaan skenario oleh para talents, kandidat tokoh film.
  • Cek lokasi, agar kita bisa merencanakan shot list atau storyboard dengan baik.
  • Persiapan art, wardrobe, alat, kru, dan lain sebagainya.
  • Bikin shot list atau story board. Kadang syuting juga nggak dilakukan sesuai urutan yang ada di skenario. Misalnya nih, ada beberapa adegan yang mesti disyut malam, tapi nggak berurutan. Kita bisa ambil gambar sekalian dalam satu malam, baru nanti diedit. Nah, merencanakan syuting ini nih yang rada rumit sih. Kita mesti menguasai bener itu skenario.

4. Syuting

Dan, tibalah kita pada tahapan yang paling exciting :)) Syuting!

Nah, sebagai pemula, kita memang mesti banyak belajar dulu soal shot type, camera angle, dan juga the rule of third. Kenapa? Karena ketiganya inilah yang akan menentukan komposisi sinematografi film kita.

Misalnya soal shot type nih. Ada beberapa shot type yang dikenal di dunia film, misalnya extreme long shot, full shot, close up, sampai extreme close up. Kita harus bisa mengenali kapan masing-masing shot type ini dipakai.

Kenapa begitu?
Well, pictures talk. Masing-masing shot type ini punya fungsi dan makna masing-masing. Contohnya, extreme long shot biasanya untuk menampilkan suasana dan setting lokasi yang memang ingin ditonjolkan. Sedangkan, close up biasanya untuk menonjolkan emosi tokoh film.

Nah, ini nggak boleh kebalik-balik. Fatal bangeudlah kalau sampai kebalik. Emosi nggak akan sampai ke penonton, dan bisa jadi pesannya juga nggak bakalan tersampaikan.


Gayanya udah meyakinkan belom? Foto by Fuji Rahman Nugroho


Jadi, memang nih, kalau mau bikin sesuatu itu ya kita mesti banyak-banyak ngumpulin referensi dulu. Kalau mau membuat film, ya banyakin nonton film, biar tahu seluk beluknya. Nggak cuma nonton doang, tapi amati setiap detailnya hingga ke teknisnya. 

Btw, selama presentasi, Iqbal ini banyak menampilkan contoh dari film-film MCU :)) Sepertinya dese penggemar neh. Tapi ya nggak salah sih. Kalau untuk referensi pembuatan film, film-film MCU ya megang banget. Kalau soal plot cerita sih yahhh ... ya gitu deh. Hahaha *dirajam para penggemar MCU*

Balik lagi ke laptop.
Setelah proses pengambilan gambar selesai, seterusnya yang harus dilakukan adalah editing. Nggak cuma "menata" video-video hasil syuting, tapi di sini juga termasuk dubbing (misalnya untuk mengatasi deru angin menggebu yang masuk ke dalam video hasil syuting kek punya saya itu), penambahan musik scoring, sound mixing, dan lain sebagainya.

Oh kemarin sih Iqbal kasih rekomendasi aplikasi video editing yang gampang, tapi saya lupa nyatet apa aja. Tapi saya ada nih daftar aplikasi editing video yang sudah pernah saya cobain. Boleh diliat-liat, kalau belum pernah nyimak yah. Mayan bisa jadi referensi. Selanjutnya, boleh dicoba-coba sendiri.


5. Publish!

Ada banyak pilihan media publishing untuk video atau film kamu:
  • Media sosial, seperti Instagram atau Youtube
  • Ikutkan ke festival film
  • Direct to DVD
Sepertinya yang paling oke untuk saat ini adalah media sosial ya, baik itu Instagram ataupun Youtube. Kalau Instagram, ya palingan cuma bisa semenit doang.

Youtube sih terutama yang paling oke.


Kesimpulan

Jadi apa kesimpulan kita?
Bikin film itu susah.
Hahaha.

Tapi saya lantas berpikir--soalnya saya sering diomelin sama Daeng Min-nya Seenema.id lantaran suka kasih rating busuk ke film nggak mutu--apakah ini berarti sebagai penonton kita mesti "berbaik hati" kalau ngasih rating?

Saya jawab, tentu saja enggak.
Susah membuat film, bukan berarti lantas menjadi excuse untuk membuat film yang enggak layak ditonton.

If you know what I mean.

Jiaaah. Sudah 1600 kata lagi :)) Saya emang suka bablas kalau nulis yah.
Tapi, dengan demikian, utang oleh-oleh saya lunas ya, dari lokasi Workshop Content Creaton Sapa Sahabat Keluarga di Hotel Jayakarta kemarin.

Terima kasih buat semuanya yang sudah mengundang saya, yang sudah berinteraksi dengan saya selama workshop, terutama para pemateri yang warbiyasak! *standing ovation*

Sampai ketemu di konten-konten yang lain! :))