7 Jenis Konten Evergreen Informatif yang Datangkan Banyak Traffic dari Search Engine


Salah satu hal yang selalu saya sarankan agar teman-teman bisa mendapatkan trefik dari search engine secara stabil adalah dengan provide evergreen contents, alias konten yang nggak lekang oleh waktu.

Salah satu ciri khas dari evergreen content ini adalah konten panduan yang menyasar bagi para pemula. Ini beralasan sih, karena behavior orang zaman sekarang itu adalah selalu mencari informasi di internet (baca: Google). Terutama kalau informasi-informasi kayak cara membuat, cara memasang, cara merawat, dan segala macam cara yang lain. Wuah, ini buanyak banget dicari deh.

Nah, orang-orang yang mencari artikel "cara untuk ..." inilah yang kita sebut sebagai pemula, dan mereka ini selalu ada, dan adaaa aja yang dicari.

Jenis artikel seperti inilah yang kita sebut sebagai konten evergreen. Salah satu jenis konten evergreen. Ada yang lain? Ada. Dan biasanya memang konten-konten evergreen ini memuat hal-hal informatif.

Mari kita lihat.


7 Jenis Konten Evergreen yang Biasanya Banyak Dicari


1. How to's

Ini adalah salah satu jenis konten evergreen yang selalu top search. Saya cek sendiri nih, keywords yang mengandung kata "cara membuat ...", "cara memasang ...", "cara merawat ...", "cara memperbaiki ...", dan seterusnya ini volumenya memang gede banget kalau di Ubersuggest dan Keyword Research.

Makanya, jenis konten howto ini selalu menjadi pilihan pertama saya kalau mau bikin artikel--baik untuk blog ini, maupun saat mengerjakan artikel pesanan.

So, mau dapat traffic dari search engine, coba dibanyakin deh artikel-artikel howto. Lalu jangan lupa, optimasi standarnya ya, yang OnPage.


2. Studi kasus

Jenis konten evergreen lain yang juga laris--menurut Babang Neil Patel--adalah studi kasus.

Well, bisa jadi sih, kalau dikira-kira nih, artikel jenis ini sifatnya lebih akademis gitu sih ya? Yang ilmiah-ilmiah.

Tapi jangan salah lo. Kita bisa juga membuat artikel studi kasus atas hal-hal sehari-hari yang biasa kita lakukan. Misalnya nih, kemarin sempat lihat Mas Febriyan Lukito nulis studi kasus artikel blogger lain yang dilihat dari sisi optimasinya terhadap search engine. Dikupas tuntas deh itu, artikelnya.

Artikel jenis studi kasus ini biasanya dicari oleh mereka yang memang pengin belajar dan pengin mendapat tambahan pengetahuan. Meski mungkin tak sebanyak artikel howtos, yang sifatnya lebih practical dan applicable, artikel studi kasus (apalagi kalau topiknya memang top trending) biasanya akan banyak juga yang baca, karena sifatnya yang menganalisis sesuatu secara mendalam.

Saya juga beberapa kali bikin artikel Studi Kasus di blog ini, menganalisis artikel yang ditulis oleh beberapa teman bloger. Ada studi kasus terhadap artikelnya Mbak Shanty Dewi, Erin, dan Mbak Putu Sukartini. Boleh ditengokin kalau selow yah :)


3. Review

Siapa yang kalau beli apa-apa selalu berburu dulu reviewnya di internet?
Siapa yang kalau beli sesuatu di marketplace, baca-baca dulu review yang sudah ditulis oleh para pembeli sebelumnya?

*ngitungin yang ngacung*

Nah, ini juga merupakan salah satu behavior orang zaman now nih. Karena kita sekarang bisa belanja online, bisa membeli barang bahkan tanpa datang ke toko untuk melihat langsung, menyentuh, dan ngecek langsung kondisi barang (dan juga nggak bisa nyoba langsung), maka kita "hanya" bisa mengandalkan pengalaman orang lain, melalui review yang dibuat.

Makanya artikel jenis review juga selalu laris dibaca--apalagi yang dibuat tanpa bias. If you know what I mean. Ehe ehe ehe.

Hanya saja sekarang makin susah ya membedakan review yang beneran review dengan yang nggak beneran :)) Makanya kepercayaan akan review tertulis juga menipis.

Tapi saya yakin sih, meski menipis, tetep banyak yang mencari review barang dulu sebelum mulai membelinya.


4. Listicles

Listicle ini adalah format konten favorit saya. Hehehe. Kalau yang biasa baca tulisan saya, pasti tau banget nih, bahkan tanpa dibilangin. *tsah, gaya pol!*

Listicle ini berasal dari kata "list" dan "article", jadi artikel yang berbentuk daftar. Mau contohnya? Ya, artikel yang sedang kamu baca ini. Wqwqwq.

Keknya hampir semua konten dalam blog ini berbentuk listicle, dan semuanya "laku" dalam waktu yang panjang. Ya, tergantung topiknya juga sih.

Karena itu, temukanlah topik yang memang dicari banyak orang sepanjang waktu.


5. FAQ's

Artikel Frequently Asked Question konon juga bisa menjadi konten evergreen yang terus dicari. Lagi-lagi tergantung topik sih, tapi karena FAQ ini ada hubungannya dengan "informasi yang biasanya diburu para pemula" maka FAQ bisa jadi konten yang bisa diandalkan untuk drive traffic.

Di blog ini juga ada satu FAQ--berisi pertanyaan-pertanyaan yang biasanya ditanyakan pada saya seputar blogging. Kamu juga bisa bikin, terutama kalau kamu setiap harinya nguplek-uplek topik tertentu yang menjadi keahlian, hobi, ataupun pekerjaan.

Keknya saya juga mau bikin FAQ seputar menerbitkan buku ah. Banyak bet yang ngeDM nanya-nanya.

*masukin daftar ide dulu*
*terus dianggurin bertahun-tahun*


6. Resources

Konten resources ini misalnya daftar sumber-sumber informasi atau ilmu gitu.

Eh, daftar juga ya, jadinya. Masuk ke listicle dong. *mikir* Tapi listicle lebih luas sih, kek artikel ini kan bukan resources ya. Kalau resources itu misal 10 website tempat belajar bahasa Korea gratis. Atau, 13 website tempat berburu job online. Gitu-gitu deh.

Konten resources ini saya sering bikin tapi di blog Graphic Design Hacks sebelah sono. Di blog ini juga ada sih, tapi banyakan di sebelah. Dan, pageviewnya itu rada-rada kontras dibanding yang lain, apalagi yang bahas portofolio saya :)) Iya, gitu deh. Makanya saya kasih konten resources di sana, supaya bisa narik visitor. Kalau cuma portofolio desain grafis dan fotografi mah ... nggak bakalan laku sampai kapan-kapan.

Ntar deh, saya mau tambah-tambahin juga resources di sini.


7. Glossary

Glossary ini semacam daftar istilah yang sering dipakai di topik tertentu. Saya sendiri juga belum pernah coba bikin konten glossary itu di sini sih. Tapi konten glossary ini penting artinya terutama buat para pemula, sama kek FAQ di atas.

Jadi, yakin, pasti banyak yang nyari.

Kemarin keknya ada saya pernah nemu konten Glossary mengenai istilah-istilah seputar Google Analytics, ditulis oleh bloger. Tapi saya lupa siapa. Heuuu ... lupa nggak dibookmark. Ntar deh, kalau nemu lagi, saya update yah :)



Nah, itu dia 7 konten evergreen yang seharusnya wajib ada di blog kamu demi nge-drive traffic dari search engine. Sudah punya beberapa di antaranya belum? Kalau belum, coba deh direncanakan untuk ditulis.

Jangan cuma nulis curhat diri sendiri aja terus :) Sesekali tulislah yang orang lain butuh. Biar pada dateng ;)




Konten ibarat barang dagangan yang kamu jejerin di etalasemu. Blog kamu ibarat toko atau lapak yang ikut ngeramein sebuah lokasi perbelanjaan. Google sendiri bisa diibaratkan sebagai pusat perbelanjaannya. Pageview bisa diibaratkan sebagai uang hasil transaksi. Nah, profit dari lapak itu bisa berupa penghasilan yang kita dapatkan dari monetasi blog.

Sekarang, coba lihat di sekeliling. Banyakkah toko lain yang juga sama-sama buka lapak di lokasi yang sama denganmu? Lalu coba lihat dagangan mereka. Apakah "barang"-nya sama dengan barang dagangan yang kamu miliki?

Setelah mengamati sekitar, sekarang mari kita lihat lapak kita sendiri.

Apakah ada orang yang kebetulan datang ke pusat perbelanjaan itu yang mampir ke lapak kita? Seberapa banyak? Apakah mereka mau "beli" yang kita "jual"? Jika mereka mau "beli", apakah uang hasil transaksinya bisa nutup modal kamu buat buka lapak itu?

Yes, that is how it works.
Blog--apalagi yang akan atau sudah dimonetizing--pada akhirnya memang menjadi bisnis. Meski bukan materi yang menjadi pertimbangan utama, lantaran materi yang kita dapatkan dari ngeblog bisa dianggap sebagai profit, tetapi tentunya modal mesti harus bisa ditutup dulu dengan "uang hasil transaksi". Istilahnya, ya harus balik modal dong. Kalaupun bisa profit, itu juga akan bagus banget.

Singkatnya, konten yang harus kita buat ya mesti bisa mendatangkan pageview. Kalau enggak, ya buat apa bikin konten?



Istilahnya, setidaknya kita harus mengusahakan supaya balik modal dulu. Lalu, gimana? Rasanya sudah pada balik modal belum? Atau jangan-jangan, malah pada udah minta dapat profit dulu bahkan sebelum balik modal? Ehe~

Ya nggak apa-apa juga sih kalau memang mau begitu. Salah satu pelajaran bisnis yang pernah saya dapatkan, seorang pemilik bisnis itu juga wajib untuk mendapatkan allowance demi kelangsungan hidup pribadinya.

Tapi, kalau saya ya gimana bisa dapat profit kalau balik modal aja belum?

Dan, gimana bisa balik modal kalau pembeli nggak mau datang ke lapak kamu? Orang malas mampir ke lapak kamu? Jangan-jangan mereka lebih berpaling ke lapak lain.

Dan, kemudian akhirnya, kamu seret orang-orang yang kamu kenal, kamu paksa masuk ke lapak lalu kamu paksa juga untuk beli daganganmu, demi bisa balik modal? :)))
*pukpuk orang yang kamu seret*

Tapi mengapa ya orang nggak mau "beli" daganganmu? Pasti kan ada sebabnya. Mari kita lihat beberapa kemungkinannya.


5 Alasan Orang Nggak Mau Baca Artikelmu


1. Mereka nggak butuh informasimu

Ibaratnya mereka pada butuhnya sepatu, kamu jualan baju. Ya pasti mereka nggak akan masuk lapakmu.

Tapi kan, ntar juga bakalan ada juga yang butuh baju?

Betul kok itu. Pasti ada yang butuh. Tinggal seberapa banyak kan? Plus, apakah baju yang kamu sediakan memang masuk ke minat mereka, itu juga menjadi pertimbangan.

Misal, kamu suka baju-baju ala Lady Gaga yang aneh-aneh itu, dan kamu jual di lapak. Tapi kan nggak semua orang bisa pakai? Makanya, yang beli juga nggak banyak.

Intinya adalah, it's not about you, kalau kamu memang mau jualan secara profesional. It's about your customer. Pelangganmu. Lebih fokuskan konten, dan pahami kebutuhan pelanggan, sehingga mereka akan datang ke lapakmu dengan senang hati tanpa harus kamu paksa. Karena mereka mendapatkan apa yang mereka mau.



2. Mereka sudah menemukan konten serupa yang lebih lengkap di lapak sebelah

Sekarang, inilah gunanya kamu melihat sekeliling. Kalau di ilmu marketing, ini adalah riset kompetitor. Kalau perlu di-list deh kompetitornya siapa aja.

Kalau untuk blog, ya kamu mesti melihat blog lain yang punya niche sama, topik yang dibahas juga seringnya sama.

Wah, jadi saingan sama teman sendiri dong?
Lah iya. Baru sadar sekarang? Tapi, jangan salah. Persaingan itu bagus kok. Malahan bisa bikin kita mau usaha untuk mencapai yang lebih baik. Saingannya juga harus saingan yang sehat.

Contoh saya aja deh. Gosah jauh-jauh.
Bloger yang saya anggap kompetitor adalah Mas Febriyan Lukito dan blog Tulisan Blogger Indonesia miliknya. :)))))))
Yes, kenapa? Ya, karena niche-nya sama.

Tapi cara saingannya bukan terus tikung-tikungan (meski iya, saya ditikung juga nih kalau lagi ada tugas SEO mah. Huahahahahaha. Dan biasanya saya kalah. Tapi yah *menjura* saya rela sih kalah kalau sama mastah *heyitrhymes!*).

Kadang saya terinspirasi dari artikelnya Mas Ryan, lalu saya bikin artikelnya dan saya kembangkan. And vice versa.

Nah, garis bawah pada "pengembangan". Inilah yang kemudian bisa membuat dagangan kita menjadi lebih unggul ketimbang kompetitor. Kalau produk kita lebih "unggul" pastinya pembeli akan lebih tertarik. Bener nggak?

Jadi, supaya ada pembeli datang, maka pastikan konten yang kamu punya punya nilai tambah daripada lapak sebelah. Caranya, riset kompetitor. Lihat-lihat lapak lain. Lalu amati, apa yang kurang dan bisa kita kembangkan.



3. Artikelmu susah dimengerti

Gimana mereka mau datang dan baca, kalau artikelmu susah bet dipahami?

Kalau di toko gitu, ibaratnya kamu jualan barang yang susah dipakai. Buku manualnya juga nggak ada, kamu sendiri neranginnya ke pembeli juga belibet.

Pembeli nggak mudeng, lalu ya mikir, "Terus, kenapa gw di sini?" Pindah deh ke lapak lain, yang barang dagangannya pas dengan mau mereka, pun cara menggunakannya juga mudah.

So, gimandose?
Ya, lagi-lagi, you mesti berorientasi pada pelanggan. It's all about them memang. Bukan kita. Kita itu nggak penting. Yang penting adalah pembaca yang datang.

Jadi, berbicaralah dengan bahasa mereka.
Lalu ingat, cara ngomong sama anak milenial beda dengan cara ngomong sama emak-emak. Cara ngomong sama orang Jawa beda dengan cara ngomong sama orang Jaksel.

Kamu ngomong ala anak millenial ke emak-emak, ya emak-emak pada nggak mudeng. Begitu juga sebaliknya. Kamu ngomong basa Jawa ke orang Jaksel, ya mereka cuma akan begini ....



Jadi, gimana lagi nih?
Ya, kenali pembacamu. Bikin persona--kalau yang udah ikut NgeblogPro Kelas Konten, pasti tahu nih, caranya gimana--yang kemudian bisa kamu pakai untuk mengolah konten yang bisa mereka pahami.

Nah, soal menulis konten yang mudah dipahami ini, saya juga pernah nulis di blog ini. Silakan kalau mau baca untuk melengkapi ya.


4. Mereka nggak tahu kalau kamu pernah ada

Ya, gimana mau datang, kalau toko kamu ada pun mereka nggak tahu :)))

Sedih banget sih, tapi ya ini kenyataan, Marimar.
Mari kita kembali ke analogi Google sebagai pusat perbelanjaan lagi.

Di pusat perbelanjaan yang mahaluas itu, ada berapa banyak toko yang numpang lapak di dalamnya? Uncountable. Tak terhitung.

So, sudahlah barang dagangan kita nggak ada istimewanya, masih ditambah lokasi toko kita yang berada di belakang, nyempil, nggak kelihatan dari sudut mana pun. Dekat toilet misalnya. Yang dateng ya cuma yang mau ke toiletlah. Atau yang nyasar. Duh.

Udah gitu, biar tambah nyesek lagi nih, meski mungkin barang dagangan kita bagus tapi kalah penjualan dong sama lapak kurang berkualitas tapi pemiliknya pinter ngelobi yang punya mal supaya ditempatin di tempat yang strategis. :)))

Nyesek nggak sih?

So, tahu nggak apa kesimpulan dari poin keempat ini?
SEO.
Yes.


5. Blogmu nggak nyaman dimasuki

Sekarang coba bayangkan, kamu masuk ke toko yang segala macam barang ada dan campur aduk jadi satu. Sandal nyampur sama camilan-camilan. Sabun cuci ada di dalam panci. Baju campur aduk sama bumbu dapur.

Gimana rasanya?
Akankah kamu tertarik untuk membeli di toko tersebut?

Ya mungkin kalau kenal pemiliknya yang ramah dan baik hati ya mungkin saja sih kita beli dagangannya.

Tapi, kalau kita dan si pemilik toko nggak kenal?

Well, saya rasa sih, sebagian besar bakalan males datang dan beli di toko yang amburadul kek gitu.
(((amburadul))) #anaklawas

Begitu juga dengan blog.
Maka, sekali lagi, pembaca haruslah menjadi prioritas utama. Mereka nyaman enggak sih berada di blog kita? Bingung nggak dengan navigasinya?

Coba cek artikel mengenai blog yang reader friendly yang pernah saya tulis di web Kumpulan Emak Blogger ini ya. Meski saya nulisnya udah tahun 2014, tapi sepertinya masih relevan kok sampai sekarang.



Itu dia beberapa hal yang bisa menjadi alasan mengapa orang nggak mau datang ke suatu blog. Bagaimana dengan blogmu? Sejauh ini, berapa orang yang datang dari si pusat perbelanjaan? Di luar orang-orang yang kamu "paksa" datang? :D

Semoga sudah bisa membuatmu balik modal ya.
Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Picture talks a 1000 words.

Begitu katanya. Dan, sepertinya ini juga berlaku di Instagram, media sosial kesayangan kita semua.

Saya pernah bikin semacam survei di salah satu akun Instagram yang saya kelola. Saya tanyakan ke follower, mereka #TimLihatFoto atau #TimBacaCaption. Kebanyakan sih memang dua-duanya, alias liat foto dulu, kalau penasaran, baru baca caption. Yang menarik, ternyata banyak pula yang cuma lihat foto doang, tanpa membaca caption, lalu segera memutuskan apakah ngasih like atau terus nyekrol.

So, kalau soal bikin foto di Instagram yang cantik, saya bukan ahlinya. So far, saya mengandalkan kemampuan desain ketimbang skill fotografi. Jadi, saya nggak bisa kasih tip yang gimana-gimana soal foto untuk diunggah ke Instagram. Banyak yang lebih ahli, malu saya.

Tapi kali ini, mau ngomongin soal caption.
Meski caption adalah hal kedua yang menjadi perhatian para penduduk Instagram, tapi dia tetap pegang peranan penting. Apalagi kalau buat saya, yang benar-benar jualan barang.

Jadi, mari kita ulik serba-serbi caption ini, agar kita bisa memanfaatkannya semaksimal mungkin untuk "menjual" konten yang kita punya, dan menyampaikan pesan yang ingin kita ungkapkan pada follower.


Kenalan (Lagi) Sama Caption Instagram

1. Apa Sih Caption Instagram? Dan, Apa Pentingnya?

Every photo tells a story, but the caption does the magic.

Begitulah. Fotomu memang yang bercerita, tapi keajaiban bisa terjadi dari sebuah caption. Caption-lah yang bisa menciptakan engagement dengan follower, dan membuat kita sebagai pemilik akun Instagram terhubung dengan mereka semua.

Caption-lah yang bisa membangun trust follower pada kita.
Ini akan kerasa banget kalau kamu mengolah konten untuk marketing.

So, buat yang jualan online via Instagram, cobalah untuk belajar nulis caption yang menarik. Jangan sekadar kasih spek barang doang, tapi tambahkan penarik lainnya seperti keunggulan produkmu. Juga jangan lupa sertakan call to action.

Elah, kok udah masuk ke tip. Ini kan nanti. Wqwqwq. Lanjut dulu aja deh.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Saya ambilin satu contoh nih. Caption yang dia tulis memancing banyak orang untuk mengaminkan. Komen yang terjaring ada 280-an lebih di sini (lepas dari follower dia memang banyak sih). Dia tambahkan itu caption ke dalam foto, untuk "menjaring" para timeline scroller--yang cuma scanning foto tanpa baca caption.

Oh iya, saya berikan nama timeline scroller buat mereka yang hanya skrol sambil scanning aja. Hehehe. Ini juga salah satu behavior netizen yang cukup menarik lo, di samping fakta pembaca online yang sudah saya jabarkan di blog Indoblognet ini. Sifatnya kurang lebih sama, hanya saja objeknya beda.


2. Panjang Caption Instagram

Menurut Sproutsocial, caption Instagram ini muat sampai kira-kira 300 kata, atau kira-kira sekitar 2.200 karakter.

Kemudian, selalu akan ada pertanyaan mengenai standar ideal, yes?

Seberapa panjang sebaiknya sebuah caption Instagram agar bisa mendapatkan hasil yang optimal?

Jawabannya, relatif. Karena tak pernah ada standar yang pasti di dunia blog dan media sosial, brosis. Jawabannya ada pada logika masing-masing.

Kalau saya sih sebenarnya logikanya begini.
Kebanyakan pengguna Instagram adalah para timeline scroller. Jadi, gosah terlalu panjanglah nulis caption. Kalau mau panjang, ya mending tulis aja di blog.
Itu kalau saya.

Nah, tapi ... kalau memang butuh nulis panjang, maka pastikan kalimat pertama sudah bikin orang mau meneruskan baca caption Instagram yang kita buat.

Jadi, balik lagi deh ke opening that bangs ya! Di mana-mana aturan ini emang berlaku kok. Nggak di blog, di tulisan fiksi, bahkan di caption Instagram pun, ini aturan banget!

Caption Instagram akan terpotong saat foto kita nongol di timeline orang. Kadang bahkan cuma 2 kata aja, udah kepotong. Coba silakan amati timeline masing-masing. Berapa banyak sih yang ditampilkan di timeline, kalau kita nggak klik "More..."?
Kebayang mubazirnya kalau kita nggak memaksimalkannya.

Udahlah foto alakadarnya, caption juga apalah ga penting.
Ini nggak akan memberi efek apa pun, bakalan kerasa banget nih kalau kita lagi jualan.

Tak selalu panjang, kadang caption pendek juga perlu. Biasanya sih ini kalau fotonya sendiri sudah berbicara banyak. Caption hanya melengkapi, atau setidaknya buat naruh hestek untuk dapetin ekspos yang lebih banyak di Explore.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Ini salah satu contohnya.

Jadi, kapan kita mau pakai caption panjang dan kapan mau caption pendek?
Silakan tanyakan pada diri sendiri, mau "jualan" apa? Fotonya sudah cukup bercerita belum? Atau ada pesan khusus yang mau disampaikan?

Ada baiknya, kamu melakukan A/B testing. Unggah berbagai foto dengan caption Instagram yang juga bervariasi. Lalu, lakukan pengamatan. Mana yang bisa menghasilkan engagement yang paling tinggi?

Ini memang proses panjang. Melibatkan banyak waktu pengamatan serta trial and error. Tapi percayalah, hasilnya akan lebih baik ketimbang kamu ikutan Instagram Loop.


3. Trik menulis caption Instagram yang rapi

Nah, ini menarik.

Instagram tidak menyediakan tool apa pun agar kita bisa menulis caption dengan rapi, selayaknya menulis artikel di blog. Buat rangorang yang bergejala OCD, terutama OCD tulisan--kek saya :)) --hal ini cukup annoying.

Penginnya, ya rapi. Terpisah antar paragraf. Sesekali sematkan emoji. Dengan kerapian struktur tulisan, pesan tersampaikan dengan lebih baik.

Tapi kadang, caption Instagram ini nggak mau nurut.
Sudah dikasih paragraf, eh tetep aja ga mau turun. Akhirnya caption yang tertulis nggak ada paragraf, yang berarti nggak enak banget dibaca. Emoji nyampur sama hestek, yang bikin terlihat chaos di mata.

Ya, memang kebanyakan lantas disiasati dengan pakai titik di antara paragraf. Tapi lama-lama kalau paragrafnya banyak, itu titik-titik kok kayak debu juga bikin kelilipan. :)))

Aku tuh nggak bisa diginiin!
Tapi, thanks God, ada Pretty Caption. Sebuah website yang bisa bantu kita bikin caption Instagram yang rapi dan menarik.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos

Caranya gampang kok.
Tulis aja cerita kita biasa. Tambahkan emoji-emoji seperlunya. Saya biasanya bikinnya di WhatsApp malah :)) lalu dari WhatsApp baru saya kopaskan ke Pretty Caption ini, baru kemudian saya kopas lagi ke Instagram.

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos

Kece kan?

Memang butuh extra steps, tapi worth it.
Caption Instagram jadi rapi dan enak dibaca. Mau bikin pointer-pointer dengan emoji pun bisa. Dan, kita nggak perlu titik-titik lagi buat misahin antar paragraf. Udah dirapiin sama si Pretty Caption ini.


4. Beberapa tip menulis caption Instagram yang engaging dan menarik

Nah, berikut ada beberapa tip menulis caption Instagram yang bisa dilakukan:

a. Didraf dulu

Ini kaitannya supaya nanti kita nggak edit-edit caption berulang kali. Karena ngedit caption berulang bisa kepeleset jadi "over optimized", hingga bisa dianggap spam.

Akibatnya, ekspos konten kita pun dikurangi.

Inilah kenapa ada aturan "jangan edit caption sebelum 24 jam". Poinnya bukan pada sebelum 24 jam, tapi pada over optimized. Google saja juga nurunin peringkat, kalau kita over optimized. Instagram juga punya aturan yang sama pada algoritmenya.

Jadi, akan aman jika kita draf dulu captionnya, baru kalau udah beres, kopas ke Pretty Caption supaya rapi. Baru deh kopasin ke Instagramnya.

Rumit ya? Iya.


b. Pancing engagement

Ini yang tadi saya sebutkan di atas tentang call to action. Pancing audience untuk bereaksi dan merespons apa yang kita posting.

Bisa dengan:

  • Beri pertanyaan terbuka pada audience
  • Minta masukan
  • Kasih polling
  • (Pura-pura) survei :D
Jika Instagram kamu adalah Instagram jualan, maka beri copy caption yang mengajak audience untuk mengenali produkmu lebih lanjut. Beri kontak ke mana kalau mau beli, tawarkan diskonnya, dan seterusnya.

Buat blogger, kadang kita posting Instagram untuk promosi blog ya? Karena caption nggak bisa langsung ditautkan ke URL artikel di blog, maka sebagian lantas menaruh link di bio.
Ini sudah bener.

Permasalahan muncul, ketika kita harus menambahkan link lagi, sementara link sudah terisi. Padahal Instagram hanya mengizinkan SATU link saja di bio.

Apa akal?

Yang Perlu Kamu tentang Caption Instagram: Rules and How Tos


Pakai Linktree.
Dengan Linktree, kita bisa naruh beberapa link sekaligus di bio Instagram.
Pankapan kita bahas lebih banyak lagi soal tools yang biasa digunakan untuk mengoptimasi Instagram ya, termasuk Linktree. Sementara, silakan dicoba-coba sendiri.


c. Mention!

Kalau seumpama kamu unggah foto yang menggunakan produk-produk tertentu, atau memasukkan brand tertentu ke dalam foto, maka jangan ragu-ragu mention atau tag akun produk atau brand-nya dalam caption Instagram yang kamu tulis. Kalau ada.

Jangan mikirin, ini kan bukan foto endorsement.
Karena dengan mention, kadang kita juga ikut kecipratan ekspos di Explore, saat ada orang lagi search keywords yang sama.

Kalaupun enggak direpost, nggak usah dipikirin deh. Exposing itu nggak melulu dari hasilnya berupa repost kok.


5. Follow the rules!

Nah, meski tak pernah dituliskan secara detail dan eksplisit, tapi ada banyak aturan dan larangan berlaku di Instagram, terutama yang melibatkan caption.

Saya sih sudah banyak kali menuliskan tentang rules of Instagram ini. Saya round up aja ya, silakan ikuti tautan-tautan menuju TKP.
Nah, demikian beberapa hal yang mesti diketahui tentang caption Instagram.
Memang tricky ya, kalau mau mendapatkan hasil yang optimal. Apalagi buat kamu yang sudah memonetize-nya.

Satu aja sih saran dari semuanya.
Just play safe.

Jangan terlalu bernafsu menambah follower atau mendapatkan likes, lalu berusaha "ngakalin" dengan cara apa pun.

Instagram selalu menemukan cara untuk mengalahkan akal-akalan ini. Begitu mereka mengubah aturan dan algoritme, maka pasti akan terkena efeknya.

But, if we play safe, everything is gonna be just fine. Nggak akan banyak ngaruh.


PS. Mungkin ada yang bertanya-tanya. Halah, ribet amat buat caption Instagram.
Iya, karena kalau saya sih sadar diri. Saya bukan Raisa, yang bisa posting tanpa caption pun likesnya banyak, komennya bejibun. So, saya mesti usaha.
Demikian.


Dear pemilik blog/situs Detikpedia,

Selamat pagi/siang/sore.
Semoga Anda sekeluarga senantiasa sehat sejahtera hari ini.

Seperti saya juga, merasa sehat sampai pagi ini saya menemukan situs Anda. Lucu juga bahwa notifikasi pingback dari situs Anda malah masuk ke situs Kumpulan Emak Blogger. Saya yang kebetulan punya kunci untuk login di TKP, jadi bisa menemukannya pagi ini.

Kaget saya, melihat sederet notifikasi pingback tersebut. Saya pikir mungkin Makmin lain sedang kerja dengan menaruh internal links, ternyata notifikasi pingback tersebut datang dari situs Anda. Lebih heran lagi, karena saya merasa akrab betul dengan judul-judul tulisan yang memberikan pingback tersebut.

Hmmmm. Kayak kenal gitu.

Penasaran, saya pun mengikuti pingback yang berujung ke situs Anda.
Well, tentu saja saya mengenali judul-judul tulisan ter-pingback itu, karena itu adalah tulisan saya, yang sudah saya publish di blog ini tapi kok bisa-bisanya muncul di situs Anda.

Penasaran, saya pun menelusuri lebih jauh.
Makin kaget lagi, ketika saya menemukan 2 kategori dalam situs Anda hampir semuanya berisi tulisan saya yang sudah publish di blog ini.


Wow!
Just wow!

Saya melihat tulisan saya memenuhi 2 kategori; di kategori Content Writing dan di kategori Blogging.

Saya enggak tahu apa tujuan dan motivasi Anda melakukannya, tapi sependek pengetahuan saya, cara kopas artikel secara membabi buta seperti ini disebut dengan PLAGIARISM. Dan pelakunya disebut sebagai PLAGIAT.

Itu yang sependek saya tahu.

So, pagi ini saya mencoba tetap tenang dan tabah. Saya coba untuk mengirimkan email komplain melalui email yang saya temukan di laman situs Anda, yaitu di info@detikpedia.info.
Meski sebenarnya saya ragu banget, email itu akan beneran Anda baca, atau bahkan bisa sampai pada Anda.



Ternyata dugaan saya benar.
Alamat email tersebut fiktif, terbukti saya mendapatkan notifikasi kegagalan kirim dari MAILER DAEMON.



Langkah lain saya coba lakukan. Saya lookup whois, barangkali saya bisa menemukan informasi lain yang bisa berguna. Ternyata nihil juga. Kontak Anda tidak tercantum.
Maka, saya yang sudah mulai putus asa, mencoba kirim ke abuse@namecheap.com, dan berusaha mengajukan komplain.



Ternyata namecheap.com juga nggak bisa membantu.

So, sepertinya saya hanya bisa meminta takedown dari Google--hal terakhir yang sebenarnya pengin saya lakukan. Dan itu pun saya juga nggak tahu, bakalan berhasil atau enggak.

Lalu, buat apa saya menulis surat terbuka ini?
Hemat saya, jika Anda sampai mengkloning sebegitu banyaknya tulisan saya untuk situs Anda, maka mau tidak mau, Anda pasti memonitor blog saya ini. Jika surat terbuka ini terpublish nanti, saya sih berharapnya, semoga Anda ngeh dan aware juga.

Syukur-syukur, kalau Anda pakai alat kloningan secara otomatis, surat terbuka ini juga akan terpublish di situs Detikpedia Anda itu.

Jika memang Anda sudah membaca surat terbuka ini, maka dengan segenap kerendahan hati, saya meminta Anda untuk menurunkan semua artikel yang Anda ambil dari blog ini. Tak perlulah saya menjelaskan, mengapa saya meminta ini dari Anda. Anda pasti sudah tahu apa alasannya.
Karena saya pikir, Anda pasti orang cerdas.

Demikian surat terbuka ini.
Saya nggak akan menulis panjang lebar.
Sudah hilang nafsu saya untuk update blog minggu ini.

Saya pernah bilang ke orang-orang yang mengalami kasus serupa. Nggak perlu marah berlebihan. Pakai energi rage-nya untuk berkarya lebih baik lagi.

Barangkali Anda sekarang juga menertawai saya di balik situs Anda tersebut. Saya terima. Nggak papa. Saya akan berusaha legowo. Bagaimanapun menjadi plagiat tak pernah bagus secara kualitas. Sekali plagiat, seterusnya akan menjadi plagiat.

Saya hanya akan berusaha lebih baik lagi.
Cuma ya, ... *sigh* baru kemarin sepertinya saya bikin status karena kejengkelan saya terhadap orang-orang yang punya kelakuan miring--suka kulakan di kelas online dan kemudian materinya dipakai lagi untuk kelas online yang dia pegang sendiri. Sekarang kok ya terus ada kasus seperti ini lagi.

*deep sigh*
SMH. Orang-orang ini otaknya pada di mana ya?
Pardon me, tapi saya bingung memang.

Sementara ini, saya hanya bisa mengusahakan takedown pada Google. Sepertinya akan butuh usaha ekstra, jadi mari kita lihat sampai seberapa jauh saya bisa melakukannya.