Masih ya, persoalan penulis (penulis apa pun, termasuk bloger) paling nyebelin adalah saat kita merasa buntu ide.

Beberapa waktu yang lalu, saya juga "memaksa" beberapa orang di Redaksi Stiletto Book untuk ikut menulis artikel untuk web Stiletto. Dan tahu enggak, meski mereka adalah editor, mereka juga mengeluhkan hal yang sama. Merasa susah mendapatkan ide. Mereka takut nggak punya ide!
Hahahah.

So, bloggers! You are not alone. Bahkan seorang editor buku juga kebingungan kok soal ide tulisan :P

Saya bilang 'merasa' karena memang sebenarnya itu cuma anggapan kita saja. Sebenarnya kita tuh nggak akan pernah kehabisan ide kok, apalagi kalau sering diasah dan diajak latihan. Semakin sering, semakin peka. Itu sudah pasti.


Cuma kadang otak ini semacam 'hang' gitu, nggak mau diajak mikir. Penyebabnya banyak sih, misal kita sedang ada persoalan lain di dunia nyata yang sudah menyedot pikiran kita, atau mungkin kita kecapekan. Yah, namanya orang kan ya? Banyak yang mesti diurus.

Tapi, yang namanya ide tulisan itu tak pernah pergi jauh sebenarnya. Bahkan bisa kita temukan di mana saja. Makanya, saya juga sampai sekarang semakin yakin, bahwa "nggak ada ide" itu tak pernah ada dalam sejarah penulisan. Tsah.

Anyway, kamu bisa coba 3 Jenis Konten Penyelamat Saat Kamu Nggak Mood Nulis tapi Mesti Update Blog ini, atau juga Susah Mencari Ide Tulisan? Cobain 5 Blog Topic Generator Berikut Ini Deh! ini.

Kalau masih juga belum bisa memantik ide tulisan, kamu bisa mencoba beberapa cara berikut.




1. Berpikir sebagai pemula


Think like a beginner.
Maksudnya begini, apa pun yang kamu lakukan sekarang dengan fasih dan sukai, sebelumnya pasti kamu lalui dulu dengan pembelajaran. Bener nggak tuh?

Misalnya, buat mamak-mamak nih, yang suka nulis parenting, sekarang mungkin sudah bisa ajarin anak mengenal huruf, dan bahkan membaca ya? Nah, coba ingat-ingat, dulu pasti pernah ada di tahapan pertama kalinya mengajak anak mengenal huruf. Apa saja sih yang dilakukan? Apa yang perlu dipersiapkan?

Nah, ini bisa nih menjadi tulisan ya.

Tak perlu jauh-jauh, lihat saja yang kita lakukan sehari-hari.
Misalnya buat karyawan administrasi ya. Gimana caranya membuat filing yang rapi?
Buat pencinta bunga mawar, bagaimana cara merawat bunga mawar untuk pemula? Di tanah seperti apa, tanaman mawar tumbuh dengan baik? Bagaimana dengan sinar mataharinya?

Catat semua pertanyaan yang pernah muncul di kepala saat kamu melakukannya pertama kali dulu. If you came up with a few questions once, I'm sure people are struggling with the same questions too.

Hal inilah yang bisa kamu tuliskan. Lengkapi dengan cerita saat kamu melakukannya pertama kali dulu. Curhat juga boleh.

Ini namanya curhat berfaedah.

Here's what you need to think:

  • Apa sih yang dulu membuatmu bingung saat pertama kali melakukan hal tersebut? - Ini bisa jadi tulisan "How to ...".
  • Dari mana kamu belajar melakukannya? - Ini bisa menjadi tulisan, misalnya 7 website tempat belajar menulis rekomendasi, atau 5 akun Instagram flatlay-ers yang bisa dijadikan tempat belajar flatlay.
  • Kesalahan apa saja yang pernah kamu lakukan saat itu? - Ini bisa jadi tulisan do and dont's ataupun misalnya kayak "kesalahan yang harus dihindari". Tahu kan ya, yang kayak apa? Mistakes gitu deh.
Nah, kalau sudah ketemu topik lalu jangan lupa dilist.


2. Berinteraksi dengan pembaca


Kadang, kita mendapatkan banyak umpan ide itu dari pembaca-pembaca yang mampir ke blog, dan meninggalkan komen lo.

Ada banyak tulisan di blog ini, misalnya, yang ditulis untuk menjawab feedback dari pembaca. Kadang mereka juga ngasih feedback-nya nggak langsung di komen juga sih. Tapi ada yang via Twitter, ada juga yang via WhatsApp.

Misalnya seperti tulisan menentukan ciri khas lifestyle bloggers ini saya tulis karena ada yang nanya via Twitter. Atau, tulisan tentang alasan saya memisahkan niche blog ini juga saya dapat dari seorang teman yang bertanya via WhatsApp.

Banyak juga yang bertanya via Quora Indonesia kemarin, yang kemudian jawabannya saya angkut ke sini. Sayangnya, saya sudah deaktif akun Quora saya =)) Yah, kapan-kapan lagi deh main ke sananya.

Intinya, dengarkanlah orang-orang di sekitar kita.
Hal ini juga melatih kepekaan untuk menangkap ide. Banyak hal terjadi di sekitar kita. Banyak orang berinteraksi dengan kita. Mereka bisa jadi sumber inspirasi yang nggak habis-habis.

Dulu sih pas masih selow, saya selalu menyempatkan diri untuk skroling bagian Comments di blog. Buat "menjaring" ide yang barangkali belum tertangkap, sembari jawabin satu per satu. Sekarang sudah nggak sempet, cyin! Hahaha. Yah, maafkan saya. Semoga bisa mengelola waktu lebih baik lagi, sehingga saya bisa kembali balesin komen satu per satu. Seneng lo, bisa dapetin ide dari komen teman-teman tuh.

Kita juga bisa bertanya melalui survei atau polling di Twitter atau di Facebook lo. Ada fasilitasnya kan? Bisa juga bertanya via Instagram. Nggak usah peduliin, kalau pemakaian sticker Questions kita salah dsb. Pokoknya pergunakanlah untuk mendapatkan manfaat sebanyak-banyaknya dari semua fitur yang sudah disediakan.


3. Dapatkan ide dari artikel orang lain


Memang, kita tidak seharusnya menyalin tulisan orang begitu saja. Ini haram hukumnya.
Tapi, bukan berarti kita tak bisa "mengadopsinya", tentu saja kamu mesti memelintir idenya hingga jangan sampai sama persis.

Misalnya.
Artikel Resolusi Tahun Baru untuk Blogger? Nih, Ada 5, Tapi Juga Jangan Lupakan yang Paling Penting! ini adalah tulisan karena melihat banyak artikel mengenai resolusi di awal tahun. Lalu saya pelintir menjadi resolusi untuk para bloger.

Artikel saya di blog Mas Febriyan Lukito, Bagaimana Memanfaatkan Media Sosial untuk Mempromosikan Bisnis Kamu ini, juga merupakan "artikel sontekan" dari blog post seorang teman bloger lain yang membahas promosi bisnis melalui media sosial. Saya merasa artikel si teman ini kurang representatif dan aplikatif, maka saya tulis ulang dengan gaya saya sendiri.

Kadang, saat kita membaca satu artikel dan kemudian ada yang kurang dari artikel yang kita baca itu, nah, itu dia berarti ada satu ide tulisan yang muncul. Tapi ingat, jangan hanya dikopas ya. Coba ikuti beberapa langkah menjadikan inspirasi tulisan dari orang lain menjadi ide original yang pernah saya tulis di blog ini juga.

Makanya, kadang ya meski nggak ada waktu, saya tetap sempatkan membaca-baca Feedly. Rencananya sih, saya pengin menyatukan saja 2 akun Feedly saya menjadi satu. Tadinya saya memisahkan Feedly antara feed blog teman-teman, dengan feed website-website rujukan. Pengin saya jadikan satu aja deh. Supaya lebih enak saya browsing-nya.




4. Ambil judul artikel orang dan twist


Ini juga sering saya lakukan sih. Hahaha. Maaf yah, yang ngerasa kali ada yang familier dengan judulnya tapi kok rasanya beda.

Barangkali, judul post kamu tuh yang saya pakai :P

Misalnya nih.
Hari ini di Feedly saya terlihat ada yang menulis tentang "Punya Anak Kinestetis itu Seru." Hehehe. Maaf ya, yang punya artikel. Saya jadikan contoh :D 
Nah, ini bisa ditwist, misalnya untuk anak visual dan auditori.

Contoh lain.
Ada artikel "Tip Menata Ruang Kerja di Rumah"
Nah, bisa jadi "Tip Menata Meja Kantor supaya Mood Tetap Terjaga"
Atau, "Barang Apa Saja yang Harus Ada di Sebuah Ruang Kerja di Rumah" itu juga bisa.

Namun, harap diingat ya. Nggak semua orang terima kalau idenya ini diadopsi dan ditwist. Teman-teman mesti bisa mengenali, mana orang yang selow dan mana yang nggak suka idenya di-"pinjam".

Kalau saya sih, kalau umpamanya memang kenal dengan baik dan bisa saya hubungi personal, maka saya akan tanya, "Eh, artikel yang ini boleh aku 'pinjem' gak?"
Biasanya sih boleh.
Perlu dikasih kredit nggak?
Ya, kalau masih mirip-mirip, kasih kredit akan sangat baik sekali. Kalau sama sekali berbeda, ya nggak usah.


5. Update dan republish artikel lama


Nah, soal  mengedit tulisan lama di blog, Mas Ryan pernah menuliskannya di Tulisan Blogger Indonesia; tentang alasan dan bagaimana caranya. Lengkap. Silakan dikunjungi yah.

Ini cocok banget dilakukan kalau kita memang lagi mentok ide. Perbarui saja artikel lama, yang kurang oke, supaya lebih oke.


6. Jadwalkan per topik


Ini saya lakukan kalau saya mau mengupdate blog yang rada nyampur bahasannya, seperti Bicara Perempuan, Si Momot, dan Mama Rempong.

Saya menjadwalkan, misalnya Senin saya akan update topik Karier di BiPer, Kecantikan di Si Momot, dan Opini di Mama Rempong. Selasa untuk update topik lain lagi.

Nah, saya biasanya menggunakan Editorial Calendar untuk membantu saya mengelola konten-konten ini.

Kebetulan saya memang lagi fokus ternak blog sih. Hahaha. Untuk apa? Ada deh. Doain saja yah.

Kamu juga bisa menggunakan penjadwalan ini terutama kalau blog kamu adalah lifestyle blog alias blog gado-gado alias campur-campur, agar semua topik terisi dengan baik. Dengan penjadwalan ini, percaya deh, you will come up with more ideas. Dengan catatan, kamu juga rutin melakukan brainstorming ide. Cukup 30 menit doang, misalnya setiap minggu kok. Menyempatkan diri 30 menit brainstorming, kamu sudah bisa 'menghemat' waktu di weekdays, karena topik-topik kamu sudah siap tulis semua. Apalagi kalau dalam brainstorming itu, kamu juga sudah sekalian dengan menulis outline.


7. Cari writing prompt


Nah, ini kalau di sini sepertinya belum banyak.

Prompt adalah "pancingan", trigger ide untuk menulis. Saya biasa menggunakan writing prompt ini saat sedang belajar menulis Flashfiction bareng teman-teman di Monday Flashfiction dulu. Lumayan efektif lo. Kadang writing prompt ini berupa satu kata aja, atau bahkan gambar. Dan kita dibebaskan mengembangkannya seliarnya.

Writing prompt ini misalnya seperti Masih Kekurangan Ide? 30 Ide Blogpost Buat Sebulan Ini Bisa Kamu Pakai! ini, yang saya tulis untuk bantu teman-teman yang kekurangan ide menulis.

Di Twitter Kumpulan Emak Blogger (@emak2blogger), itu juga pernah ngasih banyak prompt. Ada Ide Artikel Parenting ini, ataupun 31 #IdeBlogpost buat sebulan ini. Sementara masih di Chirpstory ya. Nanti kalau sudah keangkut ke webnya, saya akan update lagi.

Nah, tuh sudah ada sekitar 90-an writing prompts tuh. Banyak kan? Bookmark, dan tengok kapanpun kamu butuh. Pilih saja yang mana yang paling masuk ke mood kamu.

Kapan-kapan, pengin juga sih bikin writing prompt untuk masing-masing niche di sini. Duh, nggak berani janji tapi. Utang saya juga masih banyak hahahaha ... List guest post aja belum saya jabanin satu per satu euy!


Kesimpulan


Masih saja beranggapan, bahwa penulis itu bisa kekurangan ide?

Semoga sekarang sudah berubah ya. Hehehe. Jangan menyerah sama ide. Percayalah, semakin lama ditunggu, semakin lama pula ide itu akan datang. Jemput aja. Nanti dia akan berbaris di depan pintu, sampai kita malah bingung kapan eksekusinya.

Eh, itu mah saya ding.


Beberapa waktu yang lalu, saya melihat tweet ini oleh Papin, junjunganku.



Dan kemudian saya tanggapi begini.




Bagaimana menurutmu, wahai kamu yang sedang membaca artikel ini?

Tentunya, kalau kamu suka main ke Twitter, kamu barangkali lumayan akrab dengan "pencarian panggung" model begini.

Yes, twitwor.

Jadi, siapa yang follow InfoTwitwor & Drama?
Buat apa hayo, follow akun tersebut?

Iya, saya ngaku. Saya juga follow.
Buat apa?
Buat liat dramak lah! Buat apa lagi?

Sekarang apa-apa memang bisa dilakukan di Twitter. Twitter--menurut saya--adalah media sosial yang paling bisa membuat saya berekspresi secara bebas.

Kenapa saya lebih suka di Twitter ketimbang media sosial lain?

  • Pergerakan linimasa yang cepat membuat saya bisa lebih banyak mendapatkan update dari akun-akun yang saya ikuti. Juga oke buat saya meracau, karena dengan cepat racauan saya juga berlalu dari linimasa. Hehehe.
  • Saya nggak perlu memikirkan "keindahan" visual di Twitter. Asal tercetus pikiran, saya bisa langsung ekspresikan. Beda sama Instagram, yang lebih ribet menurut saya.
  • Mau sharing info apa pun juga lebih enak. Saya bisa bikin thread viral lebih banyak di Twitter sih. Hehehe, apalagi dengan fitur threadnya sekarang.
  • Jokes recehan para sobat misqueen di Twitter juga lebih bisa bikin saya ketawa ngekek-ngekek, ketimbang Instagram ataupun Facebook.
  • Apa-apa yang ngehits di Instagram dan media sosial lain pasti kebawa ke Twitter. Tapi yang trending di Twitter belum tentu ada di media sosial lain. Wkwkwkw.
  • Dan masih banyak alasan lain yang bikin saya memang lebih betah berada di Twitter.
Namun di balik semua hal yang bikin saya lebih suka menghabiskan waktu di Twitter, ada juga yang nyebelin darinya. Salah satunya adalah dramak, yang kemudian berkembang menjadi perang.

Satu sisi drama perang Twitter ini memang menghibur, tapi kalau kebanyakan ya exhausting juga. Apalagi kalau orangnya toxic, nyebelin, merasa paling bener. Kalau saya pribadi sih--terus terang--begah sama para sjw alias social justice warrior, yang merasa dirinya paling bener.

Okelah mereka membela so-called prinsip, tapi nggak perlulah sampai mencela orang lain yang nggak sepaham sama mereka.


Twitter Bukan Tempat Memaki


Melihat banyaknya pengguna Twitter yang malah menggunakan akunnya untuk mencela, nyari panggung dan akhirnya perang, maka nggak heran kalau kita menganggap Twitter bukan cuma media untuk berbagi informasi dan menyampaikan pesan. Tapi, juga untuk menyampaikan ketidaksukaan kita pada suatu hal, lebih khusus lagi pada seseorang atau tipe orang tertentu.

Memang, seperti halnya media sosial yang lain, Twitter memang bisa menjadi sumber berbagai informasi, dan kemudian berkembang sesuai dengan kebutuhan kita sebagai penggunanya.
Bahkan yang ada sekarang, Twitter juga menjadi tempat untuk membangun so-called brand awareness. Melalui Twitter, suatu brand bisa berkomunikasi dengan user-nya dan calon konsumen, sehingga membentuk persepsi terhadap brand tersebut.

Makanya, Twitter berkembang fungsinya, jadi tempat komplen, tempat nanya, tempat nyari informasi, tempat menyapa teman-teman, tempat curhat, tempat berbagi artikel, sampai tempat sampah.

Apalagi hampir nggak ada aturan tertulis di Twitter. Benar-benar zona bebas sebebas-bebasnya.

Tapi kan, nggak berarti kita lantas bisa seenaknya mencela dan memaki orang lain di situ?

Saya pikir, tetap ada aturan kan seharusnya? Jika dalam kehidupan nyata kita bisa "terikat" oleh etika sopan santun dan norma, mengapa hal ini tak bisa kita bawa juga ke ranah dunia maya?

Jika kita tak mungkin menghina orang lain dengan kata kasar secara langsung, mengapa kita jadi bebas melakukannya di Twitter (dan juga media sosial lain)?

Mengapa justru karena kita tidak bisa mengatakannya langsung pada orangnya, tapi dengan enak banget berkata kasar di Twitter dengan nomention?





Kita lupa. Kita memang bebas ngetweet apa pun, tapi sebebas itu pula orang lain menilai kita, menghakimi kita. Jangan bilang, don't judge me because you don't know me. I only show you what I want you to see.
Karena sesungguhnya, kita sendirilah yang mengontrol tweet kita.
Kalau nggak mau orang salah ngejudge, ya jangan tunjukkan apa yang bisa mereka judge.

Sekali lagi, ingat. Kita sendiri yang mengontrol apa yang kita bagikan di media sosial.

Twitter untuk Para Pengecut (?)


Fakta bahwa di Twitter kita bisa nggak langsung berhadapan dengan orang yang dituju, jadinya kita cenderung lebih berani menyampaikan apa yang ada di pikiran kita. Seburuk apa pun itu.

Tanpa berpikir panjang, kita melancarkan protes pendapat orang lain, cara berpikirnya, cara pandangnya, bahkan cara hidupnya. Lalu dilanjutkan pula dengan mengumbar keburukan karakternya.


Warbiyasak memang ya *slow clap*

Saat di Twitter, kita merasa tanpa nama dan invisible, karena kita "tersembunyi" di balik nama akun dan bio yang bisa saja bukan yang sebenarnya. Kita juga nggak perlu memperlihatkan dan melihat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan nada suara.

Hal inilah yang membuat kita menjadi lebih ekspresif saat ngetweet.

Hal lain yang membuat seseorang lebih berani di Twitter adalah karena yang bersangkutan kurang pede. Yaeyalah, kalau face to face kan jiper, neyk!

Dengan "bersembunyi" di balik akun Twitter, kita tak perlu mengkhawatirkan reaksi orang. Bodo amat, kan kita nggak harus menatap mata orang yang kita sakiti? Nggak perlu juga lihat betapa dia terpojokkan oleh kata-kata kita?

Dengan demikian, no mercy kan? Hajar bleh!



Twitwor untuk Panggung


Percaya atau tidak, hal ini juga diakui sendiri oleh beberapa orang yang memang suka menempuh jalan ini demi mendapatkan lampu sorot, alias perhatian. Hasil dari perhatian yang didapat adalah jumlah follower yang naik, yang terutama. Hasil lainnya pasti ada lagi juga.

Coba lihat beberapa orang yang kayaknya seneng banget kalau menemukan kesalahan atau keburukan orang lain.

Misalnya kemarin ini deh. Ada yang salah kasih thread penjelasan mengenai kesalahan penggunaan sticker "Ask Me a Question" di InstaStories, dan ternyata deseu yang salah mengerti.
Terus, aduh, itu ya yang ngetawain kesalahannya, kayaknya puas bener ya?

Padahal lho ya, menurut saya nih, yang bersangkutan ini nggak salah total. Kita itu bisa kok menggunakan fitur tersebut untuk menanyai follower, ataupun untuk memberi pertanyaan pada kita. Either way, sama-sama untuk menjalin interaksi kan?
Salahnya di mana?

Meski sudah dijelaskan oleh Instagram mengenai penggunaannya, tapi nggak salah kan?

Duh, seneng banget liat orang salah ya? Ckckck.
Yah, siapa tahu bisa masuk Twitwor. Kan lebih terkenal kan ya?

Bahkan sekarang ini ya, kalau bisa masuk ke akun @infotwitwor itu seakan jadi prestasi.

Ya, kalau memang permasalahannya adalah permasalahan umum ya okelah, saya masih agak maklum dan paham. Lha tapi ada juga yang membeberkan masalah pribadi, lalu akhirnya yang bersangkutan dibully akibat masalah pribadi yang dibeberkannya sendiri. Terus, apakah orang-orang kayak saya gini harus merasa kasihan?

Nggak bisa.
Saya nggak bisa kasihan pada korban bully seperti ini.




Yang ada, orang-orang yang nonton--seperti saya ini--malah makin bersorak senang. Tepuk tangan. Ketawa. Kalau bisa, ghibahin lagi di tempat lain.

Salah siapa?

Apakah yang bersangkutan itu buta media sosial? Paham nggak sih kalau Twitter itu bukan ranah pribadi?

Mengapa hal-hal setabu itu dibeberkan dengan bangga, atas nama inspirasi?
Inspirasi my a*s! =))

Kalau sudah mulai dibully, atau dapat teror, lantas play victim.


Doh, mamam tuh aib sendiri.


Ya maaf. Kalau seperti ini, memangnya saya harus kasihan? Harus simpati?
Bukankah Twitter itu Twitter-Twitter kita sendiri? Kalau ditegur, bukannya ngomong, "Eh ini akun akun eug sendiri. Napa lo repot?'

Abis kena bully, baru deh. Paling terus digembok.

Hello?
Mendingan sebelum bikin thread membuka aib sendiri, ya dipikirin dulu deh.


Think Before You Tweet

Meski tanpa etika tertulis, bukan berarti Twitter bebas hukum. Sudah banyak kasus yang akhirnya berlanjut ke pengadilan hanya karena tweet.

Tak hanya itu, sudah banyak sekali pula kasus seorang karyawan mendapatkan masalah karena tweet. Nggak cuma karyawan, saya sendiri kalau lagi mencari bloger buku atau bookstagrammer pun ngecek ke media sosialnya dulu kok, sebelum memilih.

Buat apa? Ya, supaya saya nggak memilih orang yang salah.
Saya nggak akan memilih orang yang suka ngebully orang lain, atau suka berkata-kata kasar di akun media sosialnya.
Kenapa? Ya, karena saya sedang "menyerahkan" citra buku yang sedang saya promosikan, jadi saya harus memastikan citranya akan tetap baik terus.

Itu cuma buku lo.
Bayangkan yang lain.

Kalau kamu melamar ke sebuah perusahaan, HRD zaman sekarang juga akan jalan-jalan dulu ke media sosialmu.
Kalau kamu pengin mengejar endorsement, sang ahensi juga akan jalan-jalan dulu.
Mereka akan scroll timeline kamu sampai jauh.

Percayalah.

Ngetweet hal buruk tentang orang lain bisa dituntut. Kalau ngomong langsung, kadang masih susah dibuktikan. Tapi kalau sudah berupa tweet, hal itu bisa jadi bukti tertulis. Dan sah untuk dibawa ke proses lanjutan. Orang yang merasa dirugikan bisa melaporkannya ke pihak berwajib.


The bottom line is ...

Begitu bebas dan demokratisnya media sosial, sehingga bikin kita egois karena merasa bebas berpendapat. Bahkan cuek meng-upload tulisan dan foto yang berisi keburukan orang lain. Padahal kita punya followers--yang notabene juga tak kita kenal dengan baik. Siapa yang tahu mereka sesungguhnya seperti apa?

Apalagi netyjen zaman sekarang yang selalu mahabenar dan gampang terpengaruh.

Orang yang benar-benar memiliki 'kehidupan' yang sehat nggak akan mau terjebak untuk ngetweet negatif. Ingat, apa yang kita keluarkan di media sosial mana pun adalah tanggung jawab kita pribadi.

Jadi, segala sesuatu yang terjadi kemudian tetap menjadi tanggung jawab kita sendiri.

Yuk, bijak bermedia sosial.



Hae! Coba yang kerja sebagai freelancer, mana suaranya? *acungin mikrofon*

Enak nggak sih, kerja freelancer itu?

Iyah, konon katanya, kerja freelance itu yang paling enak. Memerdekakan, begitu katanya. Jadi bos untuk diri sendiri, istilah kerennya. Ya gimana enggak kan, skedul kerja bisa fleksibel, dan kita juga bisa memilih project yang menurut kita paling oke untuk dikerjakan.

Bener nggak sih?

Puji Tuhan, tahun ini adalah tahun keempat saya secara penuh bekerja sebagai freelancer, setelah sebelumnya saya juga bekerja sebagai full timer, dan juga pernah mencicipi part timer. Catatan, saya sebelumnya sudah mulai punya side job sejak tahun 2010.

Jadi, bisa dibilang, totalnya sih sudah 8 tahun saya mencoba bekerja freelance, dengan 4 tahun di awal masih menjadi karyawan tetap sebuah perusahaan.

Saya kira perjalanan karier saya sebagai freelancer bisa dibilang sedikit banyak karena keberuntungan. Saya tak pernah merencanakannya, hanya saja, saat memutuskan saya memang yakin, kalau pola kerja freelancer akan lebih cocok untuk saya yang suka begah dengan aturan. Hahaha.

Iya, saya memang ga suka diatur--kalau ga bisa dibilang susah diatur. Aturan membuat saya terkungkung. Apalagi kemudian ditambah dengan komitmen saya pada keluarga.

Sebenarnya sih, kerepotan dan rasa pakewuh akibat terlalu sering izin karena mengurus sekolah anak-anaklah yang terutama menjadi alasan saya akhirnya memutuskan untuk menjadi freelancer. Karena untuk resign dan benar-benar hanya menjadi ibu rumah tangga, jelas itu bukan hal yang menjadi cita-cita saya. Saya tetap pengin mengerjakan sesuatu, dan punya penghasilan sendiri. Saya ingin mandiri secara finansial, meski saya sudah jadi istri orang.

Itulah beberapa hal yang menjadi alasan saya, mengapa saya bertahan untuk bekerja meski sudah punya anak. Dan, baik keluarga dan karier, dua-duanya sebisa mungkin bisa saya jalankan bareng. Kalau bisa pun, satu sama lain saling mendukung.

So yeah, akhirnya saya freelancing.

Setelah menjalaninya secara penuh selama 4 tahun, the truth is freelancing is a bit overwhelming at times. At least, untuk saya.

Setidaknya ada 7 ugly truths about freelancing ini sudah saya alami dan membuat saya kecemplung dalam situasi love and hate relationship dengan pekerjaan sebagai freelancer.

7 Fakta buruk kerja sebagai freelancer

Wkwkwkw. Hadeeeeh. Image via Pinterest.

1. Kita bertanggung jawab pada diri sendiri

Salah satu beda yang paling besar antara pekerjaan tetap dan pekerjaan lepas adalah soal tanggung jawab.

Kalau dulu kita harus bertanggung jawab pada atasan, maka saat kita bekerja sebagai freelancer, kita akan bertanggung jawab pada diri sendiri, selain pada klien.

Agar akuntabilitas kita tetap terjaga, kita harus bisa menetapkan target atau goals kita sendiri. Mau bikin penghasilan berapa nih, sebulan? Harus bisa menyelesaikan seberapa banyak project dalam setahun? Bisa ketemu dengan berapa klien? Dan seterusnya.

Setelah itu, ya, dievaluasi sendiri juga.

Hal yang menyenangkannya adalah si target itu, karena kita sendiri yang membuatnya, maka semudah itu pula kit akan menganggap ringan.

“Ah, nggak apa-apa deh, hari ini nggak kepegang. Besoklah dikejar. Sekarang leyeh-leyeh dulu aja deh.”

Besok? Only God knows.

So, mau memulai kariermu sebagai freelancer, coba tanyakan pada diri sendiri dulu, apakah kamu sudah cukup punya disiplin pada diri sendiri?

Karena kalau kerja kantoran, ada HRD yang siap tegur kalau kita menurun performanya. Di freelance? Nggak ada. Yang jadi HRD, ya diri kita sendiri. Kalau nggak siap dengan disiplin diri yang kuat, ya bhay saja deh~
Karena akibatnya sudah pasti, klien nggak akan percaya lagi sama kita. Kalau nggak bisa disiplin, nggak bakalan bisa sukses kerja sebagai freelancer.


2. Freelancing itu berarti kerja sendirian

Masak, masak sendiri. Makan, makan sendiri. Cuci baju sendiri. Tidurku sendiri ~~~

Iya, itu mah lagu dangdutnya Caca Handika.
Tapi ya kurang lebih samalah dengan para freelancer.

Cari klien sendiri, kerjain sendiri, presentasi sendiri, evaluasi kinerja sendiri, bebersih meja kerja sendiri.

Tapi ya teteup. Semua selalu ada sisi enaknya.
Kerja sendiri means kita hanya memikirkan diri sendiri saja, gimana caranya biar performa dan kinerja lebih baik. Tak tergantung pada rekan kerja alias coworker.

Saya pernah nih, kerja dan kerjaan saya tuh tergantung pada hasil yang diberikan oleh rekan kerja yang lain. Kalau hasil kerja si coworker busuk, ya saya juga bakalan menghasilkan sampah.

Saya juga bebas dari basa-basi sesama rekan kerja, saya juga bebas dari "kewajiban" untuk momong orang lain. Baik-baikin, biar enak kerjanya, padahal si coworker itu kampret abis, misalnya. Wkwkw.
Iyaa ~ Saya bebas dari semuanya itu!

Bhay, basa-basi nggak penting!


3. Klien kita akan sangat demanding

Klien adalah bos, bagi seorang freelancer.
Dan, sebagai bos, mereka harus dibikin senang. Dibikin puas!

Paling sebel adalah saat ketemu klien yang sangat demanding dan suka mendikte, tapi sebenarnya kurang ngerti apa yang sedang kita kerjakan. Hahaha. Sumpahlah, stres banget ini!

Misalnya nih, desain brosur.
Sudah mintanya cepat, desain pun berubah-ubah sesuai mood klien.
“Ini kotaknya dibikin miring sedikit, bisa?”
“Font-nya kurang oke ah! Ganti dong!”
“Eh, warna backgroundnya ganti saja deh. Cepet kan nggantinya?”
"Meja di bagian depan ini diilangin aja. Bisa kan?"
"Ini tulisannya biru aja. Backgroundnya kan item tuh. Bagus tuh. Biru sama item."
*nangis*
Ya, begitulah. Cuma bisa sabar ya, cyin! Wkwkw.


4. Posisi kita kadang begitu lemah

Nah, ini yang sudah dan sedang saya alami.

Kadang, kita sebagai freelancer, harus kerja dulu. Urusan nanti.
Iya, ini saya sih. Menggampangkan hal-hal yang terlihat kecil dan remeh-temeh, padahal penting.

Terutama saat saya sedang mengerjakan konten tulisan.
You see, kalau desain grafis, kita bisa mengakalinya. Misalnya, artwork final yang kita kirimkan adalah yang resolusi kecil. Semacam sebagai bukti approval, dan bukti kalau sudah kita kerjakan. Iya kan? Saat si klien sudah membayar lunas, kita pun menyerahkan artwork resolusi besar.

Tapi saya masih belum bisa mencari solusi kalau untuk konten tulisan.
Saat saya selesai mengerjakan konten tulisan, pastinya saya akan mengirimkan tulisan itu pada klien. Klien akan memeriksa, dan kalau lolos, akan ditayangkan di web mereka. Setelah itu, baru mereka membayar.

Jika mereka bisa komit, tentunya ini nggak masalah.
Nah, yang sedang saya alami sekarang adalah ada sedikit perubahan sistem pada instansi yang menjadi klien saya, yang menyebabkan pembayaran fee konten saya tertunda sampai hampir 4 bulan.

Nah, di sini saya tidak bisa berbuat apa pun. Birokrasi dan prosedur instansi klien saya itu memang ribet, saya bisa apa? Saya juga tidak ada kontrak. Selama ini hubungannya benar-benar seperti jual dagangan saja. Saya dapat pesanan, kerjakan, setor. Lalu, setelah selesai sekian konten sesuai yang diminta, saya seharusnya dibayar.

Tapi ini enggak.

Bahkan saat menanyakan pun, bagian keuangan dengan teganya bilang begini, "Ya, gimana. Ini pekerja kontrak bukan, tenaga lepas pun bukan. Jadi belum diverifikasi juga sampai sekarang."

Lha terus, Pak? Sampai kapan saya mesti nunggu fee saya? *nangis*
Hanya Tuhan yang tahu.


Yha!


Iya, saya salah. Saya mau saja mengerjakan order tanpa kontrak. Tanpa MoU. Jadi pelajaran banget deh ini. Semoga dengan berbagi "kesalahan" ini, teman-teman jadi lebih aware ya. Lebih baik kalau semua pekerjaan ada MoU.

Saya juga pernah nih, mengerjakan satu artikel kecil, bayaran tak seberapa. Hanya Rp50.000. Kerjaan sudah saya setorkan. Saya juga nggak mau ribet kan, karena pikir saya, ah, cuma lima puluh rebu ini. Tapi sampai sekarang, saya masih belum menerima fee saya. :))) Iya, perih banget emang. Tadinya saya juga merasa, ya ampun. Cuma 50ribu saja kok ya pakai ditagih? Tapi ya, nyatanya sampai sekarang nggak pernah ada. Hvft.

Duh, maaf, malah jadi curcol kepanjangan. Tapi, ini saya sih sebenarnya lagi minta saran. Siapa tahu ada yang bisa kasih saran or solusi buat saya. Hehehe.

Apa yang harus saya lakukan ya? Seandainya saya bisa ngakalin kayak kalau saya lagi ngerjain artwork desain grafis itu, tentu akan lebih aman buat saya kan?

Kalau ada yang punya ide or saran, silakan ditulis di kolom komen ya. Makasih banget lo.

Sebenarnya kalau kita kerja sebagai freelancer di freelance marketplace, semacam Sribulancer, Projects.co.id, itu lebih safe, karena kan sistemnya klien akan membayar dulu ke pihak marketplace-nya. Saat kerjaan selesai, kita pun pasti dibayar.
Tapi kok ya kerjaan di sana itu kok murah beneur ya. LOL. Kadang ya kurang ikhlas saja sayanya, meski kalau terpaksa ya ga papalah.


5. Kita harus punya peralatan tempur kita sendiri

Ya, kalau kita kerja di kantor, tentunya hal ini akan jadi kewajiban perusahaan untuk melengkapi infrastruktur yang kita butuhkan untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan baik.

Berbeda kalau kita sudah freelancing. Ya, pastinya kita harus usaha untuk punya peralatan kerja dulu.

Bagusnya, kita bisa menyesuaikan spesifikasi yang dibutuhkan. Nggak bagusnya, kadang nggak punya modal buat punya yang sesuai. Wkwkwkw.

Setop, Mak! Sebelum curcol lagi.


6. Harus selalu siap update dan sigap upgrade

Persaingan freelancer itu bisa dibilang "sunyi" tapi lebih mengerikan. LOL. Karena itu, kita mesti siap dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Misalnya, sekarang zaman-zamannya tulisan listicle ala-ala Buzzfeed. Saya sudah sekitar 2 tahunan nguplek-uplek di zona ini.
Dan, sekarang saya mulai bersiap, akankah model konten baru yang bakalan  ngeheits berikutnya?

Kecepatan saya untuk meng-update pekerjaan dan kemudian meng-upgrade diri saya sendiri menjadi penentu apakah saya masih bisa survive di tren berikutnya.

Begitu juga dengan desain.
Misalnya sekarang lagi musim desain-desain grafis dengan white-space yang dominan, dengan font tipis panjang.
Saya harus terus memantau tren, karena saat tren berganti, maka saya juga harus sigap mengubah dan menyesuaikan diri.

Memang sih, hal ini akan membuat kita jadi kurang khas. Seharusnya kita memang punya signature sendiri. Tapi, ya kadang kita harus realistis. Kita ini siapa? Kita masih pekerja medioker, yang bisanya cuma manut sama klien. Kita yang menawarkan diri pada klien, kan? Belum pada tahap dicari oleh klien?

Ya, kecuali kalau kita sudah sebesar Rob Janoff atau Michael Bierut (yang ga tahu mereka, silakan googling aja ya?). Atau kalau blogger ya, siapa sih kita? Bukan Darren Rowse ini.


7. Makna liburan jadi bergeser


Haha. #MenurutNgana?

Pekerja lepas atau freelancer kebanyakan akan bekerja sesuai dengan passion atau bidang yang benar-benar dikuasai dan dicintainya. Biasanya sih mereka akan sudah cinta duluan dengan apa yang mereka lakukan.

Inilah yang kemudian memberi makna baru pada kata ‘liburan’.

Liburan, apalagi yang tanpa mikirin kerjaan? Sepertinya sulit! Yang banyak kejadian adalah pas sudah mau liburan, ternyata dapat tawaran project yang menarik.

Mau nggak dikerjain, kok sayang. Mau dikerjain, hadeh, masa liburan sambil bawa laptop?

Ya, akhirnya liburan sambil bawa-bawa laptop kerjaan deh.

Konon katanya, kenapa enggak sih liburan sambil kerja. Kan asyik? Hmmm … saya kok bilang, enggak juga ya. Bagusnya ya, kalau liburan ya liburan! Demi keseimbangan jiwa, jangan mikirin kerjaan.

* * *

Demikianlah, beberapa fakta buruk atau ugly truth mengenai kerja sebagai freelancer.

Tapi memang sih ya, segala sesuatu itu kan ada seneng susahnya, plus minusnya. Tapi, saya sih percaya. Saat yang seneng-seneng kita rasakan itu bisa mengalahkan yang susah-susahnya, berarti kita sudah mencintai pekerjaan tersebut.

So, sudah siap beneran kerja sebagai freelancer?
Bon voyage!


Halo. Masih mau baca blog ini ya? Ehe~ Makasih ya, sudah berkunjung lagi, meski si empunya lagi angot-angotan ngupdate. Hehehe. Iya, maaf, malah lebih rajin ngisi blog/web orang yak :P

Anyway, tempo hari (lagi-lagi) di Quora ada yang minta saya untuk menjawab bagaimana supaya bisa sukses menjadi personal blogger.

Well, saya sebenarnya juga bertanya-tanya, memangnya saya sukses? :)) Padahal nulis di sini juga seadanya kok sekarang--seadanya topik dan seadanya waktu. Kayaknya udah nggak bisa disebut sebagai blog junjungan lagi kan ya? =))

Tapi ya, saya berusaha jawab sih. Dan, supaya bisa dibaca juga oleh teman-teman lain--yang pengin sukses menjadi seorang personal blogger, maka saya angkut sekalian ke sini.

Yang akan saya tulis berikut ini adalah tip sukses personal blogger hasil pengamatan sekitar terhadap beberapa orang personal blogger yang berhasil bertahan lebih dari 10 tahun ya, baik dari tanah air maupun bloger luar negeri. Ya, mostly sih bloger luar negeri karena saya banyakan follow-nya yang luar.

Ohiya, jadi ingat, saya sebenarnya pernah menulis tip sukses ngeblog ala para mastah bloger luar negeri. Boleh dilihat lagi, dan yang akan saya bahas berikut ini sepertinya sekadar melengkapi saja.

Well, sebelum membahas tip sukses sebagai personal blogger, saya mau define dulu mengenai istilah "sukses", karena barangkali ukuran "sukses" saya berbeda dengan ukuran orang lain. Iya toh? Sukses itu sebenarnya adalah kata yang amat sangat subjektif.


Ada beberapa kriteria seorang personal blogger saya anggap sukses, di antaranya:

  • Ia punya ciri khas yang tak dipunya oleh bloger yang lain. Ia juga bertahan karena ciri khasnya itu, konsisten dengan gayanya.
  • Tulisannya berbobot, enak dibaca, dan punya sudut pandang yang unik. Mungkin topiknya sih nggak terlalu istimewa, tapi kalau dia yang nulis tuh terasa beda aja gitu pengalaman membaca kita.
  • Ia punya keahlian tertentu, yang ia pergunakan dengan sebaik-baiknya untuk menyajikan konten dalam blognya. 
  • Ia banyak diajak kerja sama oleh pihak ketiga, karena performanya. Bukan sekadar keroyokan dan menyodor-nyodorkan diri.

Punya beberapa dari kriteria di atas saja, menurut saya, bloger itu pastilah seorang personal blogger keren yang sukses. Apalagi kalau punya semua. Pasti sudah sukses buanget jadi blogger. Sudah jadi influencer deh, nggak sekadar troopers lagi.

Ada yang berpendapat berbeda? Ada yang punya kriteria blogger sukses versi sendiri? Misalnya, blogger keren itu adalah blogger yang bisa datengin event setiap hari. Atau, blogger keren itu adalah blogger yang bisa blogwalking ke 100 blog setiap hari.

Ada? Boleh ... Boleh aja~ Sok, ditulis di komen yah, bagaimana sih kriteria blogger sukses dan keren menurutmu.

Kok penghasilan nggak masuk di kriteriamu, Mak?
Jadi begini. Menurut saya nih, karena penghasilan itu termasuk kuantitas. Seperti juga Pageview, adalah sebuah angka. Begitu juga dengan DA, PA, dan sebagainya. Angka biasanya akan mengikuti kualitas. Kalau kualitas bagus, niscaya deh semua kuantitas itu akan mengikuti.

Coba deh saya tanya, bloger semacam Alodita, Amrazing, Diana Rikasari ... apa pernah mereka ditanya DA/PA kalau mau ditawari kerja sama? Enggak kayaknya. Mereka ditawari kerja sama karena mereka sudah punya "kuku". Ditanya, "Pageview berapa per bulan?"-kah? Enggak juga, pasti. Bahkan Diana Rikasari dan Evita Nuh saja masih pakai blogspot gratisan kok.

Klean pada ngapain bela-belain berdomain sendiri? Wkwkwkw.
Saya juga.

Hahaha. Yah, itu sebagai ilustrasi sih. Pada kenyataannya, sekarang kebanyakan juga prefer berdomain sendiri. Jadi nggak salah untuk bermigrasi ke TLD, tapi lihat kan, bahwa sebenarnya dengan domain gratisan pun ga masalah kalau kamu punya "kuku".
If you know what I mean.

Karena apa?
Karena kualitas mereka sudah berbicara. Nggak usah ditanya angka, pastilah pada percaya.

Itu pendapat saya. Nggak tahu kalau Mas Anang, atau kamu punya pendapat yang berbeda. Boleh kok. Bebas. Cuma ya kalau saya sih memang nggak memasukkan blogger yang pageview banyak itu berarti sukses. Enggak, karena pageview itu tergantung niche dan target audience. Bisa saja pageview kalah, tapi secara konversi lebih unggul.

So, angka itu relatif. Jadi, nggak bisa dijadikan ukuran atau pedoman.

Untuk menuju ke situ, pastinya bukan jalan yang pendek dan mudah. Mencari ciri khas diri sebagai personal blogger saja sudah membutuhkan waktu lama kok, apalagi kemudian ia juga punya konten-konten yang matang dan berbobot.
Pasti butuh bertahun-tahun.

Tapi bukan berarti nggak mungkin.

Inilah beberapa hal yang harus kamu lakukan (berdasarkan pengamatan saya) kalau kamu pengin sukses menjadi personal blogger (untuk versi saya, tentunya)




1. Jangan memulai dengan tujuan cari uang


Seperti saya sebutkan di atas, penghasilan (dalam bentuk uang) adalah hanya kuantitas. Kapan pun kamu melakukan sesuatu demi kuantitas, maka yang kamu kejar berikutnya juga berupa kuantitas.

Kalau kuantitasnya tidak tercapai, maka kamu akan cepat merasa lelah.

Berbeda dengan melakukan sesuatu dengan target kualitas. As simple as, “karena ini adalah cara saya bersenang-senang” saja biasanya sudah berbicara ke ranah kualitas.

Karena dengan demikian, kita bakalan enjoy terus ngeblognya. Meskipun semua ukuran kuantitas itu tidak tercapai, kamu akan tetap terus ngeblog karena ada tujuan kualitaslah yang ingin dicapai.


2. Belajar memasak konten dengan benar


Problematika bloger zaman sekarang adalah ide mereka biasanya sudah bagus, tapi eksekusi gelepotan. Belum matang dalam pengolahan, pengin buru-buru femes atau dapat penghasilan dari blog.

Kenapa begitu?

Ya, itulah yang terjadi kalau sedari pertama tujuannya sudah salah, hanya berorientasi pada kuantitas.
Lalu, bagaimana cara meningkatkan kualitas konten? Cobalah:

  • Baca, baca, dan baca. Jangan jatuh cinta pada tulisan sendiri, sampai-sampai malas membaca tulisan orang lain. Baca buku, majalah, koran, tabloid, artikel online, apa pun untuk memperluas wawasan, asal yang positif ya. Dengan banyak membaca, otak akan ternutrisi dengan baik. Jika nutrisinya baik, insyaallah, keluarannya juga baik.
  • Sembari baca, perhatikan bagaimana penulis lain memasak kontennya. Bagaimana cara ia menyampaikan pesan, amati istilah apa saja yang dipergunakannya. Kamu boleh kok meniru cara penulis junjunganmu dalam menyampaikan pesannya, tapi kamu juga harus rajin latihan menulis. Lambat laun, kamu akan menemukan gaya menulismu sendiri dari situ.
  • Menulis dengan gayamu berbicara. Biasanya hal ini bisa menjadi ciri khasmu. Tapi kadang gaya berbicara lisan kita memang tak semuanya baik untuk dituangkan dalam bentuk tulisan, maka ya harus dipilih-pilih.
  • Jangan malas belajar. Belajar apa? Ya editing, belajar membuat foto plus retouchingnya, belajar infografis, vlog, dan lain-lain, yang sekiranya bisa mendukung penyajian kontenmu. Dunia blog itu nggak pernah berhenti. Dia selalu bergerak maju. Begitu meleng sedikit, pasti kamu ketinggalan info. Ya, enggak apa-apa juga sih kalau kamu memutuskan untuk tidak update pada apa yang baru, tapi ya siap-siap saja ketinggalan, dan kamu harus cari jalan lain supaya bisa menyusul kalau masih pengin survive di sini.
Saya kasih contoh diri saya sendiri deh.
Saya ketinggalan banget soal video. Saya kurang tertarik dengan vlogging, padahal itu bisa membantu banget belakangan ini untuk performa kita sebagai blogger.

Maka, ya iya, saya "menyiapkan diri untuk ketinggalan" di vlog dengan memperkuat hal yang lain. Caranya? Ya saya perkuat lagi konten saya yang berupa tulisan. Saya harus datang dengan konten lain--selain video--yang irresistible. Maka, saya perbanyak source. Kalau ada yang follow saya di Twitter, barangkali sering lihat saya bagi font handlettering, font website penyedia image CC0, dan website freebies. Itulah salah satu "usaha" saya supaya tetap bisa maju, meski nggak pakai video :)))

So, misalnya nih, kamu merasa kurang mumpuni di infografis, tapi kamu suka fotografi? Ya sudah, lanjut di fotografi. Cari ilmu sebanyak-banyaknya, latihan sebanyak-banyaknya. Jangan biarkan kelemahanmu di sisi satu menghentikan kekuatanmu di sisi lain.

Gitu aja.
Masih banyak yang bisa dikembangkan kok. Dan lagian, kita nggak pernah rugi kan kalau belajar sesuatu?


3. Temukan ciri khasmu


Ini penting ya. Karena, berapa banyak blogger ada di Indonesia sekarang? Berapa banyak artikel blog di-publish setiap harinya?

BANYAK!

Kalau enggak punya ciri khas, lalu dari mana orang-orang akan mengenalimu?

"Siapa?"
"Budi."
"Budi siapa?"
"Budi yang ... yang itu tuh ..."
"Yang mana?"
"Yang ngeblog itu loh."
"Yeee, yang mana?!"
*nggak selesai sampai tahun depan*
Gaya dan ciri khas itu selayaknya identitas.
Kalau kamu punya gaya dan ciri khas, artinya kamu punya identitas.

Yah, lebih jauh bisa baca artikel saya yang lain di blog ini yang membahas mengenai ciri khas blogger. Di sana juga ada contoh blogger yang berciri khas.
Juga ada langkah-langkah untuk menemukan ciri khasmu sendiri sebagai blogger.

Silakan disimak yes?


4. Belajar dasar-dasar SEO


Mengapa harus? Karena hal ini merupakan cara paling efektif untuk mendapatkan traffic dengan gratis, relatif tanpa usaha yang terlalu ekstra.

Rumit?
Coba lakukan dengan beberapa ceklis berikut dulu deh, sebelum ke hal-hal yang tampak rumit.

  • Lakukan keyword research. Sudah pernah saya bahas ya, silakan disimak lagi.
  • Pastikan keywords ada di paragraf pembuka, maksimal ada di 100 kata pertama.
  • Masukkan keywords yang sudah dipilih ke dalam artikel, jaga supaya tersebar dengan baik ke seluruh artikel ya. Berapa banyak keywords yang harus dimasukkan? Nah, ini nggak ada yang tahu dengan pasti sih. Tapi menurut Yoast, kira-kira ya 2,5% dari jumlah kata keseluruhan. Pikirkan juga beberapa alternatif keywords lain untuk dimasukkan juga, dan juga sinonimnya.
  • Pastikan image-image kamu punya nama file yang mengandung keywords. Optimasi ukurannya supaya pas, sehingga nggak terlalu besar untuk loading pun nggak pecah karena kekecilan resolusinya.
  • Pastikan keywords masuk ke URL, dan akan lebih baik lagi kalau keywords terletak di awal kalimat judul.
Sudah. Itu saja sudah cukup kok.
Iya, saya juga biasanya cuma melakukan 5 hal itu saja sih, pada dasarnya. Hanya memang perlu latihan untuk pengambilan keywords-nya.

Ada yang masih bilang rumit?
Ya iya sih, karena sebenarnya ada banyak hal lain dalam platform blog kamu agar makin teroptimasi. Seperti ngulik template supaya loading cepat, memastikan mobile-friendly, menyiapkan Google Console Search, siapkan Google Analytics, dan lain-lain. Tapi ini bisa dipelajari sambil jalan sebenarnya. Yang penting, lakukan dulu 5 hal di atas dan jadikan "kebiasaan" setiap kali menulis artikel di blog. Sama halnya dengan "kebiasaan" self editing.

Saat satu hal menjadi kebiasaan pasti nggak akan berat dilakukan lagi.



5. Cobalah untuk fokus ke niche tertentu


Yang juga menjadi problematika para bloger zaman now adalah mereka lebih memilih so-called-niche lifestyle, yang berarti tanpa niche.

Konon katanya, supaya lebih mudah dapat ide, bahasan juga nggak habis-habis. Mereka nggak sadar, bahwa topik “lifestyle” itu malah justru membuat mereka terjebak dalam zona nyaman yang sebenarnya nggak nyaman dan nggak berkembang.

Padahal ada banyak sekali keuntungan yang bisa kita dapatkan dengan menentukan niche blog, atau setidaknya fokus pada topik-topik tertentu saja.

Masih bingung bagaimana memilih niche yang cocok? Coba baca lagi artikel saya yang lalu itu.


6. Bergabung dengan komunitas


Komunitas bukan sembarang komunitas. Memang banyak komunitas blogger nongol sekarang ini. Ada yang bisa ngitung?

Saya enggak.

Banyak sekali memang. Dan, mau ikut di semua komunitas itu? Wuih, eman-eman energi kalau saya bilang sih.

Daripada ikut semua komunitas, mendingan pilih saja yang benar-benar berkualitas dan bisa memberikan nilai tambah pada diri kita sendiri. Ya kalau kamu setuju dengan kriteria personal blogger sukses versi saya di atas, pastikan saja komunitas yang kamu ikuti itu nggak sekadar hanya mengejar duit dan mroyek.

Pilihlah komunitas yang bikin kita pintar (meski kalau memang bisa ngasih penghasilan, itu semacam bonus yang tak akan ditolak).

Males berkomunitas? Wah, kek saya dong. Tapi, bersosialisasi itu penting. Maka, meski nggak berkomunitas, ya bergaullah dengan orang yang punya positive vibe. Pilih circle yang bisa bikin kita tambah ilmu, tambah wawasan, … ya, tambah pinterlah.

Sayang energinya kalau nggak tersalurkan dengan baik, kalau kita gabung ke komunitas yang tak memberikan nilai tambah buat kita sendiri. Belum lagi soal waktu.


The bottom line is ...


Quote dari Zig Ziglar ini cocok banget diingat terus kalau kamu mau menjadi seorang personal blogger yang sukses.


Menjadi seorang personal blogger sukses itu pilihan. Sudah kriterianya sangat subjektif, jalannya pun ya nggak mudah dan penuh pilihan.

Kamu mau menempuh cara apa, ya itu menjadi pilihan kamu dan akhirnya akan menjadi tanggung jawabmu juga.

Saya sendiri nggak pernah berpikir, bagaimana ya menjadi seorang blogger sukses? Atau, blogger sukses itu seperti apa sih? Kriteria-kriteria yang saya sebutkan di atas pun juga nggak sevalid itu untuk diamini oleh semua orang kan? Bisa saja orang punya kriteria berbeda, dan itu tuh nggak salah.

Tapi saya akan menganggap diri saya sendiri sukses, saat saya enjoy melakukan apa yang saya kerjakan PLUS mendapatkan nilai tambah pada diri saya sendiri. Entah itu pengetahuan, wawasan, pengalaman, teman, ... dan juga uang, pada akhirnya.

Demikian artikel panjang saya kali ini yang sudah saya tulis selama 2 minggu.
Sampai ketemu di artikel panjang lainnya.
Semoga kamu nggak bosen.