Hae! Well, seharusnya saya posting artikel How to Make a Movie--oleh-oleh lain dari Workshop Content Creator--beberapa waktu yang lalu. Tapi, ya ampun. Ini udah tanggal 31 Desember yak. Hari terakhir di tahun 2018, cyint!

Resolusi kemarin, apa kabar?




Jadi, oleh-olehnya ntar dulu. Kita ke year in review dulu yak. Hedeh. Udah telat pun, mestinya Sabtu kemarin nih saya bikin.

Tapi yasudlah.
Year in review ini sebenarnya (niatnya) mau saya bikin secara tahunan sih. Tapi yah, 2017 udah nggak bikin karena ... biasalah. Malesnya kumat.

Sekarang juga males sih.

So, mari kita lihat beberapa artikel dengan view terbaik di tahun 2018.
Kriteria "terbaik"-nya masih sama sih. Berdasarkan statistik Google Analytics untuk artikel-artikel yang diposting sepanjang tahun 2018 saja.

Okei, so here we go.



7 Artikel terbaik CarolinaRatri.com menurut statistik Google Analytics


1. Perubahan Algoritma Instagram Yang Cukup Ngeselin Tapi Mesti Dipahami


Tahun kemarin, banyak media sosial yang heboh. Facebook terkena kasus Cambridge Analytica, dan Instagram mengubah algoritmanya sampai entah berapa puluh kali. Twitter juga berbenah sih, tapi nggak sedrastis Instagram.

Perubahan algo Instagram di awal tahun 2018 memang yang paling bikin bingung. Mulai dari timeline yang sudah nggak kronologis lagi, sampai hestek-hestek yang dibanned, pun juga kita harus kenalan dengan shadowban.

Tulisan ini sampai dengan hari ini masih banyak mendatangkan pengunjung, terutama yang datang dari search engine. Tulisan ini juga yang paling banyak dijadikan rujukan, bahkan diangkut tanpa kredit.

Sebel iya, bangga pun juga. Hahaha.


2. Resign Dari Kantor Dan Jadi Freelancer, Pastikan Punya Beberapa Hal Ini Dulu!



Ini soal modal untuk jadi freelancer. Artikel ini jarang sih saya lihat dishare, pun saya sendiri juga nggak terlalu banyak ngeshare.

Tapi artikel ini menjadi penyumbang traffic kedua terbesar setelah perubahan algoritma Instagram di atas.

Sepertinya "jadi freelancer" memang menjadi dream job banyak orang ya? Ehe~


3. Shadowban Instagram: Apa Yang Perlu Kamu Tahu


Mostly artikel di blog ini saya tulis lantaran pertanyaan yang teman-teman lontarkan pada saya, ataupun terpicu oleh apa yang saya amati terjadi di sekitar saya.

Begitu juga soal shadowban Instagram ini. Saya tahu soal shadowban ini saat saya sedang melakukan riset untuk artikel perubahan algoritme Instagram di atas, dan kemudian beberapa lama kemudian, ada yang nanya, "Katanya, nggak ada yang namanya shadowban itu. Itu cuma dugaan-dugaan netizen aja."

Benarkah begitu? *zoom in zoom out*
Well, one thing I know. Ada banyak pengguna Instagram yang mengalami postingan mereka "disembunyikan" oleh Instagram selama beberapa hari. Foto mereka nggak muncul di explore, pun nggak muncul saat hesteknya ditap.

Ini artinya apa, saudara-saudara, kalau bukan shadowban?

Shadowban does exist! And so does karma #eh *nggak nyambung*


4. Ini Dia 7 Pekerjaan Freelancer Dengan Bayaran Tertinggi Menurut Situs UpWork


Masih soal freelancer, keknya banyak yang ngintip lantaran mau mengadu nasib di Upwork ya? Boleh, boleh. Silakan lo :D

Barangkali kamu juga bisa menjadi salah satu yang berpenghasilan $1000/jam di Upwork ;) Good luck ya!


5. 3 Jenis Konten Penyelamat Saat Kamu Nggak Mood Nulis Tapi Mesti Update Blog



Apa "musuh utama" saya sebagai penulis? Mentok ide? Alhamdulillah, enggak pernah :)) Nggak bisa bagi waktu? Well, sampai dengan saat ini masih bisa diatur.

Malas. Nggak mood.

Itu dia tuh. Malas, tapi merasa sudah komit dan janji sama diri sendiri. Jadi, kalau nggak ditepati itu berasa utang. Ya, utang sama diri sendiri.

Utang sama diri sendiri aja susah dilunasi, apalagi utang sama temen. Yekan?

Nah, saat itulah, salah satu dari 3 jenis konten ini selalu bisa jadi penyelamat. Dan, hmmmm, sepertinya banyak yang senasib sama saya ya. Wqwqwq.


6. Mengapa Kita Hanya Berakhir Menjadi Blogger Medioker?


Sungguh, saya nggak bermaksud kasar di artikel ini. Tapi kok ya, banyak yang baper, bahkan ada yang ngatain saya kasar :))

Ya maaf. Seperti yang saya bilang.
Saya nulis di blog ini selalu berdasarkan pengamatan. Saya cuma mau jujur aja kok. Nggak salah kan?
Ehe~


7. Menulis Storytelling Agar Menarik Dan Tidak Membosankan



Buat saya, menulis storytelling itu paling susah.
Susah karena strukturnya bias, susah juga karena kita akan lebih berat dalam mengikat pembaca. Jaminan pembaca nggak bosen dan mau baca sampai akhir itu tipis.

Tapi, bisa sebenarnya diusahakan.
Nah, di sini ada catatan saya.




Nah, itu dia 7 artikel terbaik di blog ini tahun 2018 menurut data statistik Google Analytics.
Menurut kamu, mana di antara 7 artikel di atas yang paling useful?
Atau kamu ada ide topik lain untuk dibahas di blog ini? Tulis saja di kolom komentar ya.

Selamat menyambut tahun baru, semua!


Gol A Gong. Saya mengenalnya melalui tulisan serialnya yang muncul di majalah Hai di kisaran tahun 80-an, Balada Si Roy. Seiring waktu, saya pun tahu bahwa beliau juga menulis esai.

Iya, usia nggak bisa bohong. Ya terus kenapa? Saya malah bersyukur, saya pernah menjadi saksi masa-masa jayanya Gol A Gong, Hilman Hariwijaya, dan BuBin lantang di majalah Hai. Benar-benar dimanjakan deh dengan tulisan mereka. Saya masih usia sekitar 8-10 tahunan sih, tapi yah, waktu itu baca Lima Sekawan aja udah enggak cukup. Hahaha.

Memendam rasa kagum, dan saya baru bisa kesampaian bertatapan langsung dengan Gol A Gong sekarang. 30 tahun kemudian. Oh. My. God. Hahahaha.

Asli bengong dan ngeblank saat saya menyadari beliau hadir di Ruang Wibisono Hotel Jayakarta, 19 Desember 2018 lalu, dalam event Workshop Content Creator Sahabat Keluarga Kemendikbud.



"Ini ya Gol A Gong? Iya."

Tapi saya nggak sampai jejeritan layaknya ciwi-ciwi yang fangirling sih. Hahaha. Inget umurlah ya. Lagian saya tipe yang suka mengagumi orang tuh dari jauh. Diem, tapi mengawasi gitu. Tsah.

Tapi bukan karena itu juga saya kurang hebohnya sih. Soalnya pada menit berikutnya, saya bagai diterjang gelombang pasang begitu kelas Menulis Esai ini dimulai. Saya kek nggak dikasih kesempatan untuk sekadar kagum, karena begitu banyaknya hal baru digelontorkan dan dijejalkan ke dalam otak saya.

So, kali ini, saya pengin menuliskan ulang apa-apa saja yang saya pelajari dari kelas Menulis Esai bareng Gol A Gong. Siapa tahu ada teman-teman yang juga pengin tahu cara menulis esai yang bener.

Ready? Kita mulai dulu dari awal.

Apa itu Esai?

Dok. Fuji Rahman Nugroho

Sebelumnya, nanya dulu. Siapa yang berpikir bahwa tulisan esai itu ya pokoknya tulisan dengan format serupa prosa hanya saja bukan fiksi, tapi faktual?

Nah, sama kita.
Ternyata dalam workshop inilah saya benar-benar baru ngeh apa itu definisi esai yang sebenarnya. Ternyata ada beberapa hal yang menjadi unsur utama tulisan esai dan menjadi ciri khasnya--dalam artian tidak ada pada jenis tulisan lainnya.

Tulisan esai itu:

  • Termasuk dalam jenis tulisan jurnalistik. Jadi ada banyak etika jurnalistik yang harus terpenuhi. Salah satunya, unsur 5W 1H harus lengkap tercakup.
  • Mengandung opini atau pendapat penulis, sehingga sifat subjektivitasnya akan sangat dominan. Nah, tapi mesti hati-hati. Karena, meskipun subjektif, tapi penulis harus tetap menulis secara objektif dengan didukung oleh data-data yang akurat. Jadi, ya nggak boleh asal njeplak, apalagi menebar hoaks. Big no no ya.
  • Memberikan solusi. Tulisan esai biasanya memang bermuatan kritik, karena biasanya ditulis lantaran penulisnya merasakan keresahan tertentu akan lingkungannya. Namun, nggak berhenti di situ, penulis harus bisa menyertakan penawaran solusi dalam tulisan esainya juga. Jadi ya, itu deh bedanya dengan sekadar tulisan status Facebook, yang nyinyir doang tanpa memberikan solusi. (Ini beneran disebutkan oleh Kang Gol A Gong lo :)) Bukan cuma saya yang tulis di sini.)
  • Gaya sastra. Nah, ini nih yang menjadi sifat tulisan esai yang paling khas--seenggaknya menurut saya sih. Jadi meski yang ditulis adalah faktual--berdasarkan fakta-fakta yang ada--tapi gaya nulisnya seperti gaya fiksi, lebih khusus lagi; gaya sastra.
Nah, sampai di sini jelas kan, ya, apa yang membedakan tulisan esai itu dengan tulisan biasa? Apalagi dengan tulisan berita. Beda banget deh.


Siapa Saja Penulis Esai yang Mesti Kamu Pelajari Gaya Tulisnya?

Dok. Fuji Rahman Nugroho

Well, Kang Gol A Gong sendiri adalah seorang penulis esai yang yahhh ... nggak perlu kita pertanyakan lagilah ya. Beberapa judul esainya yang pernah dimuat di koran lokal dan nasional antara lain Kematian Literasi, Pesta, Goltiblos, Konveksi Versus Konvensi, Gempa Literasi, Tubagus dan Sir, dan lain sebagainya.

Tokoh penulis esai lain yang wajib dipelajari juga gaya tulisnya adalah:

1. Emha Ainun Najib

Beberapa esainya antara lain Burung Pilkada, Tanah Halal Air Halal, Austranesia, Nabi Membakar Masjid, Harga Diri Ayam (kelimanya ada di buku kumpulan esainya yang berjudul Jejak Tinju Pak Kiai. *aight, sepertinya masuk ke daftar must have nih, karena penasaran juga dengan jenis tulisan esai ini*), dan lain-lain.

2. Goenawan Muhammad

GM sih mempunyai jatah sendiri di rubrik Catatan Pinggir Majalah Tempo.
Beberapa esainya antara lain Origami, Batman, Kakawin, dan lain sebagainya.



Wew, mendengarkan Kang Gol A Gong menjelaskan sampai di sini, saya sih sempat garuk-garuk kepala. Kalau role model yang ditawarkan adalah Emha Ainun Najib atau Goenawan Muhammad apa ya nggak kejauhan ya? :-|
Kejauhanlah, Kang! T__T huhuhu ...
Tapi, baiklah. Kita pikirkan nanti, yang penting kalau kamu mau mulai menulis esai, perbanyaklah mempelajari tulisan mereka bertiga: Gol A Gong, Emha Ainun Najib, dan Goenawan Muhammad.

Eh, tapi kalau tulisan Kalis Mardiasih bisa digolongkan esai juga enggak sih? Apa nyinyir aja? Hahaha. *dikeplak Kalis* Kalau bisa, well, sepertinya Kalis bisa menjadi role model yang paling dekat sih.



Mencari Ide untuk Tulisan Esai

Dilepas di Transmart Jogja, untuk melatih kepekaan kami menangkap masalah yang terjadi di lingkungan. Dok. pribadi.

Seperti yang sudah disebutkan di atas, tulisan esai biasanya ditulis karena penulisnya merasakan keresahan dan kerisauan terhadap lingkungannya. Dengan demikian, sumber ide yang paling banyak bisa digali tentu saja dari lingkungan sekitar kita.

Nah, sampai di sini, saya menemukan (semacam) penguatan teori bahwa menulis memang soal mengolah rasa.

Kita nih mau menulis apa pun, kalau soal rasa dan kepekaan kita belum terasah, yang nggak bakalan jadi tulisan yang bagus. Mau itu novel, cerpen, puisi, tulisan-tulisan features, bahkan berita, semua dihasilkan dari proses kita dalam mengolah rasa.

So, untuk menghasilkan tulisan esai yang baik, berangkatlah dari ide menulis yang dibangkitkan oleh kepekaan rasa kita terhadap apa yang ada di sekeliling kita.

Cobalah untuk setiap kali kita jalan, rasakan apa yang terjadi di sekitar kita. Beberapa hal seperti trotoar yang dijadikan tempat berjualan, jalanan rusak, pejabat korup, pelajar bolos, itu bisa menjadi sumber ide yang bagus untuk tulisan esai.


Langkah-Langkah Menulis Esai


Lagi pada bisik-bisik bukan karena lagi ghibah ya. Dok. pribadi.

1. Riset

Ingat, hal mendasar yang paling membedakan tulisan esai dengan tulisan biasa--apalagi yang cuma nyinyir aja--adalah bahwa tulisan esai ini dibuat berdasarkan fakta.

Jadi, saat kita sedang resah akan kondisi tertentu dan pengin menuliskannya dalam bentuk esai, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah riset.

Riset ini meliputi:

  • Riset lapangan. Misalnya kita mau menulis mengenai fungsi trotoar, maka kita bisa langsung survei ke lokasi. Amati trotoar, beri diri sendiri pengalaman berada di trotoar, lalu lakukan wawancara dengan pejalan kaki, pedagang kakilima, dan pengguna lainnya.
  • Riset pustaka, yang bisa kita lakukan melalui membaca literatur-literatur misalnya buku, majalah, atau gugling juga bisa. Misalnya kita beri pembanding dengan kondisi trotoar di luar negeri. Atau berikan data-data statistik. Pokoknya apa pun yang bisa menguatkan argumentasi kita.


2. Menentukan topik

Temukan angle penulisan yang pas. Mau menulis dari kacamata siapa? Masih dengan contoh ide trotoar tadi, apakah kita hendak menulis dari kacamata pejalan kaki, atau mungkin pedagang kakilima?

Setelah kita menentukan topik, dan juga sudah mewawancarai narasumber (yang boleh saja kita lengkapi lagi), maka selanjutnya kita harus mengolah data-data tersebut dalam kerangka 5W 1H.


3. Menulis

Setelah semua data lengkap, juga sudah ada kerangka dan tesis yang tercakup dalam 5W 1H, maka selanjutnya kita bisa langsung menuliskan esai kita.

Catatan sedikit nih. Untuk tulisan esai, kita bisa menuliskannya dalam point of view orang pertama--yang berarti tokohnya adalah "saya" atau "aku"--atau bisa juga dalam point of view orang ketiga, dengan menyebut nama orang yang fiktif.

Kalau Emha Ainun Najib itu punya tokoh rekaan yang disebutnya Markesot, atau Pak Kiai. Kita bisa juga punya persona yang lain. Nggak selalu harus "saya".


4. Revisi

Kalau kata Kang Gol A Gong sih, "Tidak ada karya yang sukses tanpa melewati revisi."

Jadi ya, setelah tulisan selesai, mintalah beberapa orang untuk membacanya. Siapa tahu mereka menemukan hal-hal yang kurang dan bisa ditambahkan lagi. Atau malahan mereka bisa menemukan antitesis yang bisa "meruntuhkan" opini kita. Dengan demikian, kita bisa merevisinya agar lebih kuat dan lebih baik.

Kalau di media sih biasanya ada editor yang bertugas untuk memoles tulisan kita agar lebih baik. Tapi, sebelum sampai di editor, kita sendiri memang mesti melakukan swasunting terlebih dahulu.


5. Judul = imajinasi

Nah, ini juga hal-lama-yang-ternyata-jadi-baru juga buat saya.

Zaman sekolah dulu memang diajarkan bahwa kalau membuat judul karangan itu haruslah singkat, padat, dan jelas. Tapi semakin ke belakang, saya itu kalau bikin judul selalu panjang bet :)) Kebiasaan nulis buat portal kali ya. Jadi formula judul saya itu selalu ada triggering words, emotional words, dan promise.

Tapi untuk tulisan esai, formula ini tak bisa berlaku.
Kang Gol A Gong sendiri memberikan batasan bahwa judul nggak boleh lebih dari 4 kata. Bahkan Goenawan Muhammad sendiri seringnya menggunakan judul satu kata aja.

Lebih dari itu, judul nggak boleh spoiler dan harus imajinatif--bikin penasaran, singkatnya sih gitu.
Ya coba saja tengok judul-judul esai Cak Nun. Misalnya seperti Nabi Membakar Masjid. Wah, kan ya bikin penasaran banget. Kenapa Nabi sampai membakar masjid?

PR banget nih untuk bikin judul begini mah :))
Siapa hayo yang kalau nulis, tulisannya selesai 1 jam, mikir judulnya seharian?
Ayo, sini, duduk sama saya. Hahaha.


Dalam workshop itu, kita--para peserta--juga diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk langsung mempraktikkan setiap tahapan dalam menulis esai ini. Misalnya, kita diminta untuk mengunjungi Transmart Jogja untuk melakukan survei dan merasakan pengalaman berada di sana.

Tak hanya itu, banyak juga games yang kita lakukan dipandu oleh Kang Gol A Gong, yang kesemuanya tuh bisa banget melatih kepekaan olah rasa kita, yang berguna untuk melatih skill menulis kita.


Kesimpulan

Mamak hepi! ^_^ Dok. Ardian Kusuma

Proses menulis esai sebenarnya tak jauh berbeda dengan proses menulis artikel, yang saya lakukan sehari-hari. Sama-sama harus melalui langkah riset, merumuskan masalah, membuat kerangka, swasunting, dan garnishing.

Tapi, menulis esai memang sesuatu. Beda deh. Saya banyak memperoleh hal baru dalam proses belajar menulis esai ini. Terutama soal kepekaan terhadap lingkungan. Ternyata, saya belum sepeka itu.

Saya mesti belajar lagi, untuk lebih peka terhadap lingkungan saya. The world is not only spinning around me.

Nah, itu sedikit catatan saya saat belajar menulis esai bersama Gol A Gong.

Selesai?
Belum.
Di tulisan selanjutnya saya akan share catatan saya saat mengikuti sesi How to Make a Movie bareng Iqbal Film Maker Muslim.

Iya, karena udah 1600 kata lebih ini. Hahaha. Stay tuned yak. Semoga energi saya masih tersisa untuk menulis.


Disclaimer: Postingan kali ini adalah postingan curcol, panjang, dan kebanyakan kata 'saya'. Please skip, kalau tidak tertarik.


Kemarin di sebuah kelas online, saya agak sedikit kesel. Yah, saya tahu sih, seharusnya saya nggak boleh merasa kek gitu. Apalah saya?

Harusnya ya saat semua peserta sudah melaksanakan kewajibannya--which is membayar uang pendaftaran--maka dalam bentuk dan kondisi apa pun, mereka harus mendapatkan haknya, yaitu materi yang sudah saya siapkan. Memberikan materi seutuhnya dan memfasilitasi mereka belajar adalah kewajiban saya.

Betul enggak sampai di sini?

Sedangkan, apa hak saya? Menerima kompensasi. Tapi, ini urusan saya dengan pihak inisiator. Biarlah tetap menjadi urusan saya, nggak akan saya bahas di sini.

Tapi bukan itu permasalahannya.

Sejak awal, saya sudah semacam "diperingatkan" oleh partner moderator saya yang baik hati itu--yang bisa banget ngademin suasana--bahwa kemungkinan nanti yang aktif ya 4L--loe lagi loe lagi. Saya bilang, baik, saya siap. Berapa pun yang mau serius dengan kelas, saya akan tetap profesional memberikan materi.

Tapi kenyataannya ....



Belajar itu memang hal yang berat ya, cyint.
Saya ngerasain sendiri dulu pas sekolah. Meski 'katanya' saya anak pinter, tapi saya ini bukan tipe anak yang pinter dari lahir. Saya mendapatkan nilai-nilai yang bagus (tapi nggak pernah menjadi yang terbaik)--saya pikir--adalah karena usaha kerja keras belajar setiap malem. Saya banyak bikin rangkuman, saya bikin mindmap (waktu itu sih saya nggak kenal istilah mindmap, tapi saya sudah bikin demi bisa mengingat dan melogika pelajaran yang saya terima), dan saya rajin ngerjain PR.

Pokoknya kalau nilai ulangan, rapor, dan IP saya bagus, itu karena saya kerja keras. Kalau orang lain sih bilangnya saya rajin. Rajin banget. Itu katanya. Kalau saya, saya kerja keras. Saya rasa, rajin dan kerja keras itu beda banget deh. Entahlah. Yang pasti, saya tahu, kalau saya nggak pernah mau punya nilai jelek yang bakalan bikin saya lebih susah lagi.

Ada tuh temen saya, yang kalau ada PR nyalin punya teman, kalau ada ulangan nggak pernah belajar. Tapi dia tuh ulangan nilainya selalu bagus, dan selalu masuk 10 besar. Ada tuh. Dan bikin KZL sumpah! Saya udah ta belain belajar mati-matian, nilai nggak pernah bisa ngalahin dia. KZL ZBLnya masih kerasa sampai sekarang, Ferguso. =))

Hingga hari ini, pemahaman bahwa 'belajar itu berat' juga saya tanamkan ke anak-anak. Bawelin mereka setiap hari, bahwa belajar itu memang susah. Jangan cuma mau belajar hal-hal yang gampang doang, sedangkan yang susah dimalesin. Bagaimanapun, di sekolah kan kita nggak bisa menghindarinya.

Pun nanti, ya masa saat mereka selesai sekolah, mereka akan lari dari kesulitan yang datang sih? Misal ada A dan B yang harus dituntaskan. Masalah A ngeselin, yang B gampang. Terus yang diselesaikan B doang, yang A dihindari? Saya pikir, kalau anak sampai kek gitu ya jadilah dia anak tempe.

Belajar memang berat.
Itu pula yang saya alami beberapa tahun belakangan. Profesi saya sebagai freelancer, mengharuskan saya belajar banyak hal secara mandiri. Mulai dari belajar nulis yang baik, belajar bikin desain grafis yang kekinian, sampai belajar teknis SEO (yang dulu amit-amit jabang bayi, saya nggak mau sentuh saking malesinnya). Saya belajar menaklukkan Instagram, belajar jualan dengan kata-kata tapi secara soft selling. Belajar copywrite biar bisa bikin konten yang enggak bisa ditolak orang.


Kenapa semua harus saya pelajari?
Karena saya yakin dan tahu betul, bahwa di luar sana tuh yang lebih dari saya tuh buanyak! Akhirnya balik lagi ke pemikiran saat saya masih sekolah. Kalau saya nggak belajar dengan keras, saya bisa nggak naik kelas. Maka, kalau saya nggak mau kalah dari semua orang yang udah pinter dari sononya--apalagi mereka diberkahi juga dengan materi yang lebih banyak--ya udah maka saya harus kerja keras.

Dan, karena saya ini nggak punya modal, maka saya hanya bisa belajar secara mandiri. Baca artikel-artikel mereka yang lebih pinter. Nanya-nanya sana-sini.

Dan, sadar betul. Karena saya nggak punya uang buat bayar seseorang untuk menjadi mentor saya, maka saya nanya ke orang lain tuh nggak pernah lengkap. Mengapa? Karena ilmu itu buat saya nggak ada yang gratis. Semua ada "harga"-nya. Apalagi ilmu. Mahal lo, ilmu itu. Pikir saya, kalau saya nanyanya dikit tapi pas, ntar ada clue. Maka clue itu yang kemudian saya telusuri sendiri. Dapet deh yang saya cari :))

Makanya kemarin juga ada yang nanya tip untuk menaikkan PV. Saya jawab, yuk, ikutan kelas online. Lalu dia nanya lagi, gratiskah? Yha! Hahahaha. Kalau mau gratis, kamu mesti siap untuk belajar otodidak, Luis Fernando.



Nah, balik lagi ke saya yang nanya orang. Karena nanya nggak lengkap maka dijawabnya juga nggak lengkap dong. Padahal saya kepoan. Akhirnya telusuri sendiri. Terus ngeh. Oh ini begini jadinya begitu. Oh yang itu tuh karena sebab ini, jadi penyebab ini harus dibikin begono supaya begitu. Dikembangin sendiri. Melalui ribuan trial and error.

Sampai kemudian sampai sekarang ini. Semua hal yang saya dapatkan tuh gratis. Karena ya, saya cuma bisa mencuri ilmu. Saya curi ilmunya Mbak Indah Juli, Mas Febriyan Lukito, Langit Amaravati, Jon Morrow, Gretchen Rubin, Darren Rowse, Neil Patel, ... semuanya. Mereka nggak sadar juga kali, ilmunya saya serap sedemikian rupa :)) Saya ambil ilmu mereka, lalu dipraktikkan. Diutak-atik sendiri, hingga ketemu formulasi yang paling sesuai untuk saya terapkan sendiri.

Hukumnya tuh berlaku. Kamu mau gratis, maka usaha lebih ekstra. Kalau kamu nggak mau usaha ekstra, berarti kamu mesti punya sesuatu untuk "ditukarkan" dengan kemudahan itu.

So, karena pengetahuan yang saya dapatkan itu gratis semua, maka semua juga saya catat di sini. Teman-teman bisa mendapatkannya dengan cara yang sama dengan saya; dibaca, dipraktikkan sendiri, diutak-atik sendiri, disesuaikan, lalu akan ketemu formulasi yang pas. Trial and error itu sudah pasti.

Gratis? Gratis. Catatan saya selama belajar, semua ada di blog ini. Saya catat juga bukan buat apa-apa, tapi saya pelupa! Saya nggak mau nanti terjebak dulu saya nggak bisa-belajar-lalu bisa-sekarang lupa. Ini mah malesin amat :)) Maka, semuanya saya catet di sini. Ada yang mau memanfaatkan, silakan. Tapi ya itu tadi, mandiri.

Makanya, saya selalu angot-angotan sebenarnya saat diminta untuk bikin kelas atau jadi mentor. Coba tanya Mas Ryan, Mas Dani, atau Mbak Indah Juli deh. :)) Maaf, saya nggak sombong, songong etc. Tapi karena semua yang saya tahu itu sudah saya catat di blog ini. Gratis ini. Ya, paling butuh kuota sih buat ngakses ya? Hahaha.

Emang ada orang yang mau bayar saya buat ngasih materi yang sebenarnya sudah saya berikan gratis? Sungguh, saya nih bukan tipe orang yang suka memanfaatkan ketidaktahuan orang lain untuk kemudian diubah menjadi sesuatu yang akuntabel seperti duit. Makanya, mentoring tak pernah ada dalam rencana saya untuk monetasi blog. Karena saya sadar penuh, bahwa yang saya ketahui sekarang itu belum banyak.

Eh lhah, ternyata ada yang mau ya? :))))))


Saya yang tadinya males-malesan mentoring akhirnya ya "termakan" rayuan pihak inisiator kelas online itu. Hahaha. (tapi aku hormat lo, sama sang inisiator ini. Warbiyasak banget!) Akhirnya bikin kelas berbayar. Bikin berbayarnya juga dengan alasan, supaya orang lebih serius mengikuti materi dan praktik langsung.

Saya heran banget. Sampai sekarang.
Ada ya, yang mau bayar saya buat jadi mentor? Ahahaha. Sungguh nggak layak deh. Rasanya masih gamang aja gitu sampai sekarang. Padahal 1 kelas pemula sudah selesai, dan sekarang kelas kedua sedang berlangsung.

Sampai sekarang tuh, saya masih takjub, ini pada beneran mau bayar saya? O_O

Makanya, saat saya menemukan kalau ada yang menyia-nyiakan kesempatan untuk belajar itu saya jadi KZL sendiri. Mungkin juga karena saya baperan sih. Inget, saya dulu susah lo dapetin formulanya. Ini tinggal saya deliver aja, terus pada cobain. Misal nanti ada ketidaksesuaian ya kan logikanya jalannya enggak terlalu panjang.

Hingga kemudian pagi ini, saya menemukan tulisan Mbak Ainun Chomsun di blog Akademi Berbagi ini.




Saya menghela napas. Ternyata ada yang lebih parah.

Ini sih istilahnya sudah disuapin aja nggak mau makan. Padahal ya, udah nggak perlu nyari "makan" sendiri, disediain, disuapin pula. Masih saja ada yang susah untuk belajar. Maunya, disuapin, makanannya enak dan yang kekinian, disuapin sama Raisa, terus pulang dari disuapin masih minta oleh-oleh.

Hvft.
Sungguh, saya miris. Ini sebenarnya yang butuh ilmu siapa sik?

Heran.

Beginikah mindset kita mengenai proses belajar? :( Pantas saja ya cuma begini-begini aja ya? Sedih akutu.

Tapi kemudian saya sendiri tertampar di alinea kedua. Akhirnya saya bertanya pada diri sendiri. ngapain ya, saya kesel sama peserta kelas online-nya? Ya, mungkin saya kesel karena saya merasa mereka menyia-nyiakan kesempatan belajar yang saya rasa lebih mudah ini--yang enggak bisa saya dapatkan.

Tapi, hal tersebut seharusnya enggak boleh menyurutkan semangat saya.




Lihat, yang gratisan aja punya semangat kek gini. Saya? Aduh, saya malu sekali. Seharusnya berapa pun yang terlibat aktif itu nggak mengendurkan semangat saya, bukan? Tapi ya gimana ya, saya hanya merasa, duh sia-sia banget sih, udah bayar.

Saya pribadi mah, mau pada aktif atau enggak, saya menerima jumlah yang sama :)) Ini kalau kita mau itung-itungan materi ya--which is rada malu-maluin sih. Tapi kan, kita harus realistis. Udah investasi lo ini, masa nggak dapat deviden apa-apa? Iya nggak, Mas Dani? Saya mikirinnya dengan berdiri di sepatu para peserta inih.

Tapi saya masih ada harapan sih. Bahwa meski tak semua aktif, tapi semoga pada nyimak. Mereka mau mengunduh materinya, dan kemudian nanti jika memang mereka sudah longgar, mereka bisa memraktikannya sendiri.

Semoga.


Halah. Judulnya. *self-ngakak* Siap-siap! Instagram berbenah lagi! Dan update terbaru Instagram kali ini menyasar para pengguna yang suka memanipulasi.

Instagram--menurut pengamatan saya--memang paling heboh deh acara bebenahnya. Kenapa? Entahlah. Saya juga nggak tahu. Hawong saya bukan pegawe Instagram. Ya kali. Saya juga cuma nebak-nebak, dan hasil membaca berita aja yang berseliweran di mana-mana.

Ndilalah, saya juga pegang beberapa akunnya orang. Jadi mau nggak mau saya mesti tahu update apa saja yang dilakukan Instagram ini. Buat apa? Ya kan kalau tahu mereka ngapain, saya juga jadi tahu mesti ngapain untuk mengantisipasi mereka ngapain itu.
*ngapain-ception*

Anyway, setelah beberapa lama mengubah-ubah algoritma--yang bikin kesel--terus ternyata dibalikin lagi ke chronological (meski tetep nggak fully choronological lagi seperti awal), kali ini Instagram mulai menyentuh para pengguna yang suka akan kepalsuan.

(((suka akan kepalsuan)))

Nggak hanya itu, mereka pun bakalan mengubah tampilan profile pengguna, supaya itu--yang namanya angka--jadi nggak terlalu mengintimidasi.

Maksudnya gimana sih? Ya udah, mari kita lihat aja satu per satu.



Beberapa Update Instagram Terbaru yang Harus Kamu Tahu


1. Penutupan akses dari third party apps ke Instagram

Saya tahu ada beberapa apps ataupun semacam tools yang bisa menolong kita menambah follower, ataupun jumlah like dan komen. Biasanya sih dengan sistem exchange. Tukeran gitu, kita follow berapa orang, dan kita pun mendapatkan follower.

Sebenarnya saya juga nggak ngerti sih, di mana istimewanya. Bukankah "aturan"-nya memang begitu ya? Kita follow orang ya wajar kalau kita difolbek. (Meski ada kasus istimewa, di mana kita follow lalu ga difolbek, lalu karena ga ada folbek juga jadi unfol lagi. Tapi keluarkan ini dari fakta kali ini.) Lalu, kenapa mesti memakai aplikasi third party seperti itu?

Katanya sih, yang follow bisa lebih banyak ketimbang kalau manual.
Entah juga sih, saya nggak tahu. Karena saya nggak pernah pakai :))
Coba yang pernah pakai, sharing dong pengalamannya di sini. Boleh deh ditulis di kolom komen secara anonim, kalau keberatan namanya tertulis. Ntar akan saya loloskan.

Saya lupa sih namanya apa, tapi yakin saya pernah mendengarnya diperbincangkan di antara teman-teman sesirkel.

Nah, sekarang third party apps semacam ini sudah tak bisa lagi dipergunakan. Aksesnya ke Instagram sudah diblock, sehingga tak bisa dipakai lagi. Kamu yang "kedapetan" memakai tools ini akan mendapatkan semacam warning dalam feed kamu.

Sebenarnya perubahan ini bakalan menguntungkan kamu lo.
Untuk memakai third party tools semacam ini tuh, kamu harus menyerahkan password akun Instagram kamu secara sukarela pada si aplikasi kan?
Lalu, kalau terjadi semacam kasus Cambridge Analytica, gimana? Siapa yang marah-marah?

Makanya, kalau kamu memang menggunakan third party tools ini, segeralah untuk merecovery akunmu deh. Putuskan semua aplikasi yang nggak perlu, lalu segera ganti password.
For your own sake.

Lalu, buat kamu yang nggak merasa memakai tools semacam ini, kamu pikir feed kamu nggak akan terpengaruh?

Well, menurut Instagram, meski kamu nggak memakai tools third party seperti ini, tapi mungkin kamu akan mengalami drop jumlah follower dan likes juga. Kenapa? Ya, soalnya bot third party ini memang menyebarkan kepalsuan ke mana-mana. Bahkan pada kamu, yang tak pernah menyentuh aplikasi-aplikasi penambah follower ini.

Acara pembersihan fake followers dan likes dari third party apps ini sudah dimulai sejak minggu ketiga November kemarin, dan masih berlangsung sampai sekarang.

So, jangan kaget kalau kamu mengalami penurunan jumlah follower dan juga likes. Gosah panik, dan tetap lakukan aktivitas seperti biasa.


2. Selain membatasi third party apps-nya, Instagram juga me-remove akun-akun bot

So, buat kamu yang kemarin sempat beli followers demi apa pun--saya nggak mau menyebutkan ya, ntar dibilang julid--maka bersiap-siaplah mengalami penurunan jumlah follower.

Apalagi yang kemarin belinya yang murah meriah--alias follower luar negeri pasif. Terus nama-nama akunnya rada-rada aneh gitu. Bakalan dibabat habis deh sama Instagram.

Hahaha. Iya, bok. Saya tahu. Hawong saya sempat coba gara-gara kepo dan penasaran--tapi bukan di akun utama saya lo. Ya kali saya "mengorbankan" akun kesayangan. Wqwqwq.

Iya, saya beli followers, yang pasif luar negeri pernah, yang aktif Indonesia pernah. Pokoknya pernah semua deh, demi ingin melihat efeknya seperti apa.

Dan, akhirnya saya ngomel. Kenapa? Ngedropnya luar biasa, bok :)) apalagi yang pasif itu. Beugh. Paan, ga jelas =))

Nah, sekarang dengan jadwal pembersihan dari Instagram ini, sebaiknya kamu yang kemarin mau nginfluence-tapi-sadar-diri-pengaruh-sedikit-lalu-beli-aja-biar-cepet mulai siap-siap yah. Instagram sendiri sudah "mengaku" secara publik, bahwa mereka sedang mengembangkan tools untuk mendeteksi adanya bot, fake followers, dan fake likers, serta memperingatkan akun aslinya.


3. Instagram mengubah interface profile

Sekarang pastinya kamu akan melihat profile Instagram seperti ini kan?




Nah, selanjutnya kamu harus siap-siap untuk melihat profile yang seperti ini.



Yang kiri itu untuk akun pribadi, yang kanan untuk akun bisnis.
Apa hayo, yang beda?

Lingkarilah gambar yang berbeda.
*halah*

Yes, angka jumlah followers dan following dikecilin, sehingga nggak terlalu mengintimidasi. Begitu keterangan resmi dari Instagram. Juga, penghapusan jumlah post.

Saya sih paling seneng itu jumlah post ilang. Genggeus soalnya. Entahlah. Hahaha. Nggak tahu kenapa penting dicantumin juga.


4. Instagram menambahkan fitur alt text description

Apa itu alt text description?
Kalau saya menarik kesimpulan sih, alt text description ini fungsinya kayak alt text yang ada di blog ini nih. Yang harus kita isi demi SEO yang baik.

Jadi, bisa membantu rangorang untuk menemukan konten yang paling pas dengan yang mereka butuhkan.

Tapi *CMIIW* sepertinya alt text di Instagram ini agak istimewa sedikit, lantaran ia ditambahkan untuk membantu mereka yang punya kebutuhan khusus di indra penglihatannya. Kalau saya nggak salah mengartikan, mereka yang butuh ini bisa membuat alt text ini terdengar. Jadi mungkin bakalan ada voice search juga seperti Google.

I don't know. Itu hanya sependek saya bisa menyimpulkan. Untuk realisasinya, mari kita tunggu saja. Soalnya ini baru sebatas pemberitahuan aja nih dari Instagram.

Kalau kepo lebih lanjut bisa intip langsung di Instagram Press ini.




Nah, itu dia 4 perubahan paling besar yang sedang dibuat oleh Instagram belakangan ini, dan juga dalam beberapa bulan ke depan.

So, kamu sudah tahu begini, bisa mulai siap-siap ya.
Sebenarnya sih, kalau kamu mempergunakan semua media dengan baik dan benar, serta normal, kamu tak perlu khawatir dengan berbagai perubahan yang terjadi.

Bagaimanapun, Instagram sebagai pebisnis punya kewajiban untuk melindungi para pelanggannya. Hal ini berlaku untuk bisnis apa pun. Jadi, apa pun yang mereka ubah--dengan update Instagram terbaru mereka--sebenarnya adalah untuk kebaikan kita juga.

Kalau kita nyaman dan puas, berarti bisnis mereka juga lancar.
Sama-sama butuh soalnya kan?

Jadi, mari menjadi user yang normal saja.


Guest post Tip Sukses Monetasi Blog dengan Kursus Online ini ditulis oleh Purwanto untuk blog CarolinaRatri.com


Saya mengamati selama ini ada dua monetasi yang menjadi andalan blogger Indonesia, yaitu Adsense dan job dari brand. Masih lumayan jarang yang menerapkan metode monetasi lain seperti affiliate marketing, menjual jasa, dan menjual produk.

Di sini saya akan berbagi sedikit pengalaman saya membuat dan (hampir) menjual kursus online. Semoga bisa menjadi inspirasi bagi kamu untuk memonetasi blog.

Kursus online awalnya sudah saya buat dan saya persiapkan pemasarannya. Sudah dapat calon peserta yang mau ikut kursus berbayar saya. Namun suatu saat hosting website saya bermasalah dan data hilang semua.

Setelah itu saya pun membuat lagi kursus online dari nol, namun sekaranag saya gratiskan, bisa kalian akses di blog saya Pambarep.



Mengapa Kursus Online?

Saya pernah membaca bahwa jenis-jenis monetasi blog yang banyak jumlah itu bisa dikelompokkan menjadi 5 kelompok besar, yaitu iklan, jual jasa, jual produk, affiliate marketing, dan flipping site (jual beli website).

Sejauh ini sudah mempraktikkan monetasi blog dari iklan (Adsense, content placement), jual produk (ebook), affiliate marketing (amazon), dan jual jasa (SEO, web design). Suatu saat saya bertanya-tanya, apa sih metode monetasi yang bisa dibangun dengan cepat dan menghasilkan dengan cepat pula? Dan itu sesuatu yang belum pernah saya coba sebelumnya?

Setelah riset sana-sini jawaban yang saya temukan adalah kursus online. Tapi memang kursus online bisa dibuat dengan cepat? Ya, dan bisa juga dijual dengan cepat pula. Nanti saya tunjukkan caranya.


Persiapan

Mulai dari sini kita akan belajar membuat kursus online. Saya mengambil contoh dari pengalaman saya dulu membuat kursus online SEO.

1. Menentukan Tema

Apa sih bidang yang kamu kuasai yang bisa kamu ajarkan ke orang lain? Kalau saya SEO.

Kamu bisa memilih tema kursus online sesuai bidang yang kamu kuasai misalnya: blogging, memasak, parenting, desain grafis, public speaking, menulis, kesehatan, olahraga, dan banyak lagi.

Setelah menentukan tema, tanyakan:

  • Masalah apa sih yang bisa diselesaikan oleh kursus online-mu?
  • Apa manfaat yang bisa kamu berikan kepada orang lain lewat produkmu?

Kursus online SEO saya akan:

  • Memandu pada orang yang awam agar menguasai dasar SEO secara lengkap dan mudah dipraktikkan.
  • Memperkenalkan metode SEO yang Google friendly dan telah teruji di lapangan.
  • Menghindarkan orang awam dari teknik-teknik SEO tidak berguna (atau bahkan berbahaya).
  • Membantu mereka yang ingin mencari penghasilan sebagai pekerja SEO.
  • Menyediakan sebuah sistem yang nyaman dan sederhana untuk mereka yang ingin mempraktekkan SEO sendiri.


2. Customer Avatar

Setelah itu tentukan target pasarmu, siapa saja yang membutuhkan produkmu?

Ini calon customer saya:

  • Blogger yang awam SEO.
  • Mereka yang ingin mengoptimasi sendiri website mereka dengan SEO.


3. Tentukan Nama Produk

Nama kursus online-mu harus memberi gambaran jelas isi produkmu dan apa hasil yang akan didapatkan oleh peserta kursusmu dalam jangka waktu tertentu.

Misalnya:

  • Belajar & Praktek SEO Dasar Dalam 120 Hari
  • Page One dan Trafik Naik dalam 4 Bulan
  • 100 Hari Menuju Top 10 Google SERP


4. Sub Judul Produk

Sub judul produk ini opsional, fungsinya untuk lebih menjelaskan, menekankan nama, atau judul kursus online-mu. Juga untuk menambah nilai jual produkmu. (semacam tagline, mungkin ya? -Carra)

Contohnya, yang masih nyambung dengan nama produk di atas:

  • Bagaimana Menguasai SEO dan Mendatangkan Trafik Organik Meski Kamu Awam Sekalipun
  • Website Anda Tak Lagi Sepi Pengunjung, Penjualan Naik, Anda Bahagia
  • Panduan SEO dan Penerapannya Langkah Demi Langkah


5. Berikan Bonus

Ini banyak dilakukan oleh para kreator kursus online yang sukses. Fungsinya juga untuk menambah nilai jual.

Contoh bonus:

  • Panduan Menjual Jasa SEO Parsial (Micro Service) pada SEO Agency.
  • Diskon 40% Keywords Research Tools.
  • Panduan Penerapan SEO Untuk Blog, Website Perusahaan, dan Online Shop.
  • Bagaimana Saya Meningkatkan Trafik Organik dan Penjualan Toko Sepatu Hingga 360%.


6. Product Support (After Sales)

Peserta kursus online-mu bisa jadi benar-benar awam akan bidang yang kamu ajarkan. Kenyataannya setelah belajar ada saja yang masih bingung dan butuh bantuan untuk hal-hal tertentu. Jadi, berilah mereka after sales service berupa support sehingga mereka benar-benar bisa memetik manfaat dari apa yang kamu ajarkan.

Support bisa berupa sebuah Facebook Group tertutup, sehingga kamu dan peserta kursusmu bisa berinteraksi dan saling berbagi pengalaman.

Ini juga berguna sekali jika ke depan kamu ingin menjual produk baru lagi. Mereka sudah membeli produkmu, percaya padamu, menganggapmu sebagai “pakar”, merasakan manfaat ajaranmu. Mereka telah menjadi pasarmu, sehingga lebih mudah bagimu untuk menjual lagi sesuatu pada mereka.



eCourse Outline

Sekarang kita akan membuat kerangka kursus online. Ini penting ya, agar kita mempunyai pegangan yang jelas saat mulai membuat materi kursusnya. Kita juga bisa mengecek sejauh mana progress kerja kita.

Ini dulu (sebagian) outline kursus SEO saya:




Worksheet/handout adalah dokumen yang saya lampirkan untuk memudahkan peserta menerapkan apa yang sudah mereka pelajari. Bisa juga berupa tugas yang harus mereka kerjakan.



Membuat Kursus Online (Metode Biasa)

Nah, dalam tutorial ini, kita akan belajar membuat kursus online di website berbasis WordPress. Plugins yang kita gunakan adalah LearnPress.

Metode ini bakalan membutuhkan banyak waktu untuk membuat materinya. Pun, materi harus lengkap dulu sebelum kursus online bisa dijual. (Harus siap kerja keras ya, cyint! -Carra)

Kalau kamu tekun, akan butuh waktu sekitar 1 - 8 minggu untuk menyelesaikan kursus online-mu hingga siap dijual.

Untuk caranya, supaya tulisannya nggak terlalu panjang dan juga lebih jelas, kamu bisa melihatnya langsung di video berikut--mohon maaf audionya banyak gangguan. Silakan saja langsung diklik ya.

1. Membuat Kursus Online di Website Berbasis WordPress Bagian 1

2. Membuat Kursus Online di Website Berbasis WordPress Bagian 2


Menjual Kursus Online

Kursus online-mu sudah jadi, kini saatnya untuk menjualnya. Kamu bisa mulai berpromosi di Facebook, di blog lain dengan cara guest post, juga mulai membangun email list.

Khusus untuk membangun email list, tutorial membuat email list untuk website berbasis WordPress ini bisa kamu cari di Google. Sudah cukup banyak yang membuat tutorial semacam itu. Langkah selanjutnya adalah menarik orang agar mau mendaftar di email list kita. Untuk awalnya pakailah metode “meminta”.

Berikut sedikit tip menarik orang agar mau mendaftar di email list kita

1. Kontak teman-temanmu di WA, Facebook, Forum, dll. Tanya mereka apakah mau dimasukkan ke email list kamu.

Misalnya, “Bro, aku bikin email list nih, nanti aku promo produkku sendiri di situ sama sesekali sharing sesuatu/tulisan. Boleh nggak nama sama emailmu aku masukin?”

Percaya atau tidak, cara ini akan membuatmu mendapatkan cukup banyak email subscriber dengan usaha minimal.

2. Membuat opt-in.

Kaidahnya, kamu membuat sebuah artikel yang di dalamnya ada opt-in yang menawarkan bonus dengan imbalan orang mau subscribe ke email list.

Aturan utamanya adalah tema artikel dan tema bonus haruslah sama, harus. Misalnya:

  • Artikel tentang optimasi on-page, maka bonusnya On-Page SEO Checklist
  • Artikel tentang pembuatan konten, maka bonusnya Kriteria Artikel yang SEO Friendly

Bonus yang diberikan biasanya berupa file PDF yang segera bisa di-download setelah orang subscribe. Tutorial membuat opt-in ini juga sudah banyak yang membuat, silakan cari. Setelah mempunyai subscriber, kamu bisa mulai mempromosikan produkmu.

Nah, kamu pasti bisa mencari cara lain lagi untuk bisa membuat orang mau mendaftarkan emailnya dalam email list. (So, start working on it now! -Carra)




Membuat Kursus Online (Metode Cepat)

Metode ini memungkinkanmu mendapatkan penghasilan bahkan sebelum kursus online-mu jadi.

Saya akan memberi contoh bagaimana menjual dan membuat kurus SEO dalam sebulan.


Langkah Pertama

Persiapkan kerangka materi kursus dan bagi menjadi 4 bagian: Riset Keywords, On-Page SEO, Konten, Link Building.


Langkah Kedua

Promosikan kursusmu, contoh sederhana (nyetatus di Facebook):

“Saya 15 hari lagi akan membuka kursus SEO (live) yang akan saya bagi menjadi 4 tahap. Jadi selama 4 minggu setiap Sabtu jam 8 malam saya berbagi secara langsung materi:
Sabtu I: Riset Keywords
Sabtu II: On-Page SEO
Sabtu III: Konten
Sabtu IV: Link Building
Setiap materi akan memakan waktu 1-1,5 jam. Jadi jangan lupa siapkan camilan dan minuman kesukaanmu.
Ada biayanya nggak? Ya, ada, murah banget cuma Rp 250.000,-!
Setelah kursus selesai saya akan mengundangmu ke secret Facebook Group agar kita bisa saling berbagi lebih lanjut.
Buruan daftar ya, soalnya pesertanya cuma saya batasi maksimal 20 orang saja. Silakan komentar atau inbox untuk pendaftaran.”

Peserta wajib membayar dulu baru nanti bisa “mengakses” kursusmu. Jadi, kamu sudah mendapat penghasilan bahkan sebelum kursusmu dimulai.


Langkah Ketiga

Buatlah kelas online (Google Hangout, webinar, dan sebagainya), lalu undang para peserta kursusmu. Jadi kamu langsung mengajarkan materi secara live. Jangan lupa pula untuk merekam live class-mu agar nanti bisa kamu gunakan kembali.



Alternatif Lain untuk Menjual Kursus Online

Selain cara di atas ada alternatif lain yang bisa juga kamu coba. Yaitu menjadikan workshop offline menjadi kursus online.

Misalnya saya menjadi pemateri sebuah workshop: SEO untuk Lifestyle Blog. Di workshop saya mempresentasikan materi menggunakan PowerPoint. Materi saya terstruktur tahap demi tahap.

Workshop itu saya rekam dengan 1 atau lebih angle. Selanjutnya saya potong-potong sehingga menjadi beberapa materi yang berurutan.

Lalu saya edit dengan menambahkan judul di setiap video. Tak lupa saya persiapkan worksheet ataupun handout yang diperlukan. Kemudian materinya saya masukkan ke LearnPress dan siap dijual.





Catatan Carra:

Nah, gimana nih, teman-teman? Ada yang kepikiran untuk menjual kursus online? Barangkali yang punya niche blog yang spesifik bisa banget nih mulai dipertimbangkan. Misalnya, mereka yang punya craft blog, mau bikin kelas DIY online? Atau food blog--mau bikin kelas masak online, barangkali?

Saya mengamati, kita--para so-called-professional-blogger--ini memang terlalu tergantung pada produk orang untuk mendapatkan penghasilan dari blog. Kalau nggak ada orang yang nitip, bingunglah kita. Selama ini, kita cuma buka lapak titipan, tanpa mau berusaha menciptakan produk sendiri untuk dijual.

Mengapa? Padahal kalau kita punya produk sendiri untuk dijual itu bakalan lebih everlasting lo, dan kita pun bisa menentukan seberapa besar penghasilan kita sendiri--ya, pastinya tetap dengan memperhatikan berbagai hal lain terkait bisnis itu sendiri ya.

Tapi dengan punya produk sendiri, kita kan nggak bakalan disetir orang. Adanya job bayaran sekian ya sudah, take it or leave it.

Itulah, maunya membisniskan blog, tapi cuma setengah-setengah. You would never go anywhere kalau hanya tergantung pada orang lain sih.

Itu menurut saya.
Nggak tahu kalau menurut Mas Anang.

Makasih, Mas Pur, sudah mau menulis guest post untuk blog yang sedang vakum ini. Lumayan juga nih, saya jadi rada entengan bebannya. Bahaha *ditabok*

Ada yang mau mengirim tulisan guest post juga untuk dimuat di blog ini? Sok, tulis dalam format .docx (margin, font, bla bla bla bebas, nggak usah dipikirin), lalu kirimkan sebagai lampiran email ke mommycarra@yahoo.com.
Saya tunggu ya.


Kemarin ada yang nanya ke saya, gimana cara membuat cover highlight Instagram Stories ber-icon seperti ini. Eaaa, sekalian ya bok, promosi profil IG. Wqwqwq.



Saya agak kaget juga sih. Secara saya sering jalan-jalan ke profil Instagram rangorang, dan kayaknya semua udah pakai ini cover highlight Instagram. Kirain semua orang udah tahu caranya. Ternyata ada yang belum.

Baiklah. Karena saya baik hati selo, maka saya akan kasih sedikit tutorial cara membuat cover highlight Instagram dengan icon, yang kalau dibuka highlight-nya langsung ke isi highlight. Covernya nggak kelihatan.

Mmm, nanti di bagian akhir sana, saya juga akan kasih beberapa link menuju koleksi icon-icon yang bisa didownload dengan gratis--bukan bajakan.

So, ikuti artikel ini sampai selesai ya! *BiPer mode on*



Tutorial Cara Membuat Cover Highlight Instagram dengan Icon

1. Download icon

Sebelumnya kamu pastikan dulu, kamu sudah mendownload icon-icon yang mau kamu jadikan sebagai cover highlight Instagram.

Kadang icon ini ada yang didownload sudah dengan bekgron, tapi ada juga yang belum. Nah, lebih baik yang mana?

Saya sih lebih suka ambil icon yang bekgronnya transparan, karena nanti bisa ditaruh bekgron warna yang sesuai dengan mau kita.


2. Buka aplikasi editing foto


Cara Membuat Cover Highlight Instagram

Mau pakai Canva, Adobe Spark, PicsArt, etc, silakan ya.
Saya sih pakai Adobe Spark dan icon bawaannya nih untuk tutorial kali ini.

Kalau kamu biasa pake Canva yang versi desktop, ada sih koleksi iconnya. Itu juga boleh dipakai. Tapi kalau yang versi mobile, entah ya, saya belum nemu. Boleh info kalau ada yang nemu icon-iconnya di sebelah mana.

Kalau Adobe Spark, iconnya ada di bagian editor > Add > Icon

Kalau mau pakai icon lain, ntar tinggal ditambahkan saja iconnya dari yang sudah kamu download.

Pastikan kertasnya kosong ya, jadi pakailah blank template. Lalu kamu boleh atur warna bekgron sesuai keinginan kamu.


3. Tambahkan icon ke dalam kertas


Cara Membuat Cover Highlight Instagram

Di sini saya pakai yang laptop.


4. Export


Cara Membuat Cover Highlight Instagram

Atau save to device.


5. Buka profil Instagram kamu


Cara Membuat Cover Highlight Instagram

Lalu tap icon kamera di bagian atas timeline, tempat biasa kalau kamu bikin Instagram Stories. Lalu munculkan cover highlight yang tadi sudah kamu bikin.


6. Send to Close Friends


Cara Membuat Cover Highlight Instagram

Nah, sebelumnya kamu pastikan dulu, tidak ada friends yang kamu masukkan ke list Close Friends ini ya. Dengan begini, nanti cover highlightmu hanya terlihat di bagian Highlight di profil, tapi kalau dibuka ntar nggak keliatan sama orang-orang.

Kalaupun kamu sudah menambahkan daftar teman-teman ke Close Friends juga enggak apa-apa sih, cuma nanti cover highlight kamu ini akan kelihatan sama dia. Tapi enggak apa-apa juga sih. Makanya dibikin covernya yang bagus juga.


7. Add to Highlight


Cara Membuat Cover Highlight

Selanjutnya, Add to Highlight. Kalau sebelumnya belum pernah bikin Highlight, biasanya sih langsung kelihatan New Highlight.
Kalau sudah ada highlight sebelumnya, ya bikin Highlight baru.

Bikin si icon ini sebagai cover lalu kasih judul deh. Lalu Add.


8. Done!


Cara Membuat Cover Highlight Instagram

Kalau dilihat di profil jadi kayak gini deh.


Gampang kan? Kuncinya ada di send to Close Friend itu, jadi cover highlight kamu tersembunyi, tapi kelihatan di profil.



Nah, kalau kamu enggak puas dengan icon-icon bawaan aplikasi editing-nya, kamu bisa coba cari di Google. However, tetap perhatikan soal Creative Licence-nya ya.

Berikut saya rekomendasikan beberapa icon yang bisa bebas kamu download nih. Silakan. Kalau masih kurang, kapan-kapan saya update lagi.


icon cover Instagram
Download di sini.



icon cover Instagram
Download di sini.



icon cover Instagram
Download di sini



Download di sini




Udah deh. Itu di Iconscout sama Freepik aja udah banyak bet. Pasti juga pusing milihnya. Hahaha.

Nah, gitu deh cara membuat cover highlight Instagram yang nggak kelihatan stories-nya, tapi nongol di profil.

Selamat mempercantik profil Instagram masing-masing deh kalau gitu!
Aplikasi Android Edit Video Terbaik


Hai! Kemarenan kebetulan saya nih lagi ngumpulin beberapa aplikasi Android yang bisa saya pakai untuk Instagram feed, Instagram Stories, pun video untuk berbagai keperluan, termasuk di Youtube.

Buat apa saya ngumpulin dan sampe instal semuanya? Ya buat kerjaanlah bok. Buat apa lagi sih?

Kalau kerjaan kek saya gini mau ga mau mesti update terus sama tools kalau nggak mau kerjaan saya terancam :P Seriyusanlah ini. Wqwqwq.

So, buat kamu yang juga suka ngulik video untuk diposting media sosial--atau seenggaknya kamu terpaksa ngulik video, kek saya--berikut ini ada beberapa aplikasi Android editing video yang paling handy menurut saya dengan fungsi masing-masing.

Cekidot yah!



7 Aplikasi Android Editing Video Terbaik


1. Magisto


Aplikasi Android Edit Video - Magisto

Untuk mengedit video di Magisto ini kamu hanya perlu 3 langkah simpel aja: pilih style video yang kamu pengin, pilih foto atau video yang pengin kamu masukkan, lalu pilih musik backsound-nya.

Gampang banget! Dan stylingnya cukup beragam. Kalau mau fasilitas lebih, coba upgrade aja ke Professional. Konon sih nggak mahal. Kamu bisa bikin video yang lebih panjang lagi.


2. Microsoft Hyperlapse

Aplikasi Android Edit Video - Hyperlapse

Microsoft Hyperlapse ini salah satu yang masih saya pakai terus sampai sekarang, terutama kalau saya lagi bikin video sketsa.

Keunggulannya apa, sampai saya suka banget sama Hyperlapse ini? Karena aplikasi Android ini bisa speed up video sampai 32x. Jadi video 3 - 4 menit bisa dipersingkat jadi sekian belas detik aja. Cocok banget buat bikin video proses gambar.

So, barangkali kamu mau memfilmkan prosesnya sunset? Pake ini deh. Cakep banget pasti.

Ada watermark-nya? Ada kreditnya, tapi mereka taruh di beberapa detik terakhir, yang bisa kamu trim dengan aplikasi Android lain. Hehehe.


3. FilmoraGo

Aplikasi Android Edit Video FilmoraGo
Tadinya bernama Wondershare Video Editor, sekarang jadi FilmoraGo. Filmora ini juga ada software-nya yang kompatibel untuk Windows dan Mac. Tapi saya sendiri juga belum pernah cobain.

Easy Mode-nya gampang banget dipakai bahkan oleh kamu yang masih gaptek. Tinggal drag and drop aja video-video yang mau dikompilasi, edit-edit sana-sini, pakai theme yang pas, lalu tambahin musiknya.

Untuk yang gratisan, ada watermark-nya ya. Kalau mau ngilangin watermark Filmora, ya beli deh apps-nya. Nggak mahal ini.


4. PicPlayPost

Aplikasi Android Edit Video - PicPlayPost
Kadang kita memang hanya butuh ngedit video aja kan ya? Nggak perlu collage, atau splicing. Nah, pake PicPlayPost akan lebih mudah. Kamu bisa nge-trim, speed up, tambah musik dan filter. Jadi deh.

Aplikasi Android ini memang basic, tapi malah justru serbaguna banget. Kamu juga bisa menambahkan background kalau mau.


5. WeVideo

Aplikasi Android Edit Video WeVideo
WeVideo ini punya beberapa fitur unggulan dibanding yang lain, seperti edit audio, koleksi music legal yang bahkan bisa digunakan untuk tujuan komersil, dan resolusi video yang dihasilkan bisa maksimal sampai 4K.

WeVideo punya cloud-storage sebesar 10GB yang bisa kamu isi secara free. Selain itu, yang versi free juga ada watermark-nya. Jadi kalau kamu pengin ngilangin watermark, atau menambah cloud storage ya kamu mesti langganan berbayar.

Aplikasi ini juga tersedia versi software desktopnya. Ada yang gratis ada yang berbayar juga. Kalau tertarik, bisa cek di sebelah sini.



6. Adobe Premiere Clip

Aplikasi Android Edit Video Adobe Premiere Clip
Nah, yang satu ini juga free. Tapi kualitasnya hampir setara dengan Adobe Premiere Pro yang berbayar untuk desktop.

Cara kerjanya hampir sama dengan Magisto. Trim, drag and drop, satu atau lebih video atau foto, lalu kita bisa memilih audio backsound yang pas, dari koleksi Adobe atau punya kita sendiri. Lalu edit deh videonya sebebas mungkin setelah dilakukan sync audio. Kamu juga bisa mengatur brightness atau lighting, menambah speed atau menguranginya, lalu bisa langsung share ke Facebook, Twitter, atau bahkan Youtube.

Handy banget!


7. VideoShow

Aplikasi Android Edit Video VideoShow

Nah, yang satu ini masih terus saya pakai, selain Hyperlapse. Ini hampir sama sih dengan VivaVideo. Cuma Slideshow-nya lebih user friendly, at least buat saya.

Theme-nya juga banyak, musiknya pun. Dan semua legal, boleh dipakai bebas.

Untuk VideoShow, saya kemarin berani beli aplikasi Androidnya. Kalau nggak salah, cuma Rp40.000 dan bisa kita pakai seumur hidup bebas watermark, plus koleksi theme yang lebih banyak itu. Memuaskan deh so far.




So, itu dia 7 aplikasi Android editing video yang sudah saya cobain so far.

Hmmm, barangkali ada yang mau nanya, "Kok anu nggak masuk?" Atau, "Kok inu nggak ada?"
Yah, jawabannya gampang. Cuma berarti 2 aja: aplikasi anu nggak masuk karena memang menurut saya nggak oke. Atau, aplikasi inu nggak ada di dalam daftar karena saya belum cobain.

Jadi, silakan direkomendasikan di komen kalau ada yang lain ya! :D
Have fun!